Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

Kusno Haryanto

3 karya publik ditemukan.

2026: 3

Hubungan Tingkat Kepatuhan Penggunaan Obat Terhadap Pengendalian Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi Lanjut Usia di Puskesmas Sukaraya

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi tertinggi kedua sebagai penyebab kematian di Indonesia, dan kepatuhan minum obat menjadi faktor penting dalam pengendalian tekanan darah, terutama pada pasien lanjut usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan penggunaan obat antihipertensi, tekanan darah pasien setelah pengobatan, serta hubungan antara tingkat kepatuhan penggunaan obat dengan pengendalian tekanan darah pada pasien hipertensi lanjut usia di Puskesmas Sukaraya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif analitik. Sampel penelitian berjumlah 104 pasien lansia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dari populasi 140 pasien hipertensi lansia yang berobat di Puskesmas Sukaraya Cikarang. Tingkat kepatuhan diukur menggunakan kuesioner MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale), sedangkan tekanan darah diukur menggunakan sphygmomanometer. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (60,0%), berusia 60–63 tahun, berpendidikan SMA, bekerja sebagai wiraswasta, dan telah menderita hipertensi selama 3–5 tahun. Sebagian besar responden memiliki tekanan darah tidak terkontrol (55,0%) dan tingkat kepatuhan minum obat yang rendah (80,0%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, lama menderita hipertensi, dan status pengendalian tekanan darah tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kepatuhan minum obat (p > 0,05). Simpulan penelitian ini adalah tingkat kepatuhan penggunaan obat pada pasien hipertensi lanjut usia di Puskesmas Sukaraya masih tergolong rendah, serta tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara faktor-faktor karakteristik responden dengan tingkat kepatuhan tersebut. Diperlukan upaya edukasi dan konseling berkelanjutan dari fasilitas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan hipertensi.

Analisis Hubungan Kualitas Pelayanan Kefarmasian dengan Tingkat Kepuasan Pasien di Puskesmas Cikarang Kabupaten Bekasi

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Kepuasan pasien merupakan indikator penting dalam menilai mutu pelayanan kesehatan, dan pelayanan kefarmasian yang berorientasi pada pasien menjadi salah satu faktor penentu utamanya di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas. Meskipun standar pelayanan kefarmasian telah diatur melalui regulasi pemerintah, pelaksanaannya di lapangan masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan informasi obat hingga waktu tunggu pelayanan, sehingga evaluasi terhadap hubungan antara kualitas pelayanan kefarmasian dan kepuasan pasien menjadi penting, khususnya di Puskesmas Cikarang Kabupaten Bekasi yang belum pernah diteliti sebelumnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis kualitas pelayanan kefarmasian, tingkat kepuasan pasien, serta hubungan keduanya berdasarkan lima dimensi SERVQUAL, guna menjawab pertanyaan apakah kualitas pelayanan kefarmasian berhubungan signifikan dengan kepuasan pasien di puskesmas tersebut. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif cross-sectional dengan teknik accidental sampling terhadap 254 responden yang memenuhi kriteria inklusi, data dikumpulkan melalui kuesioner tervalidasi, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher's Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan kefarmasian dan tingkat kepuasan pasien secara umum berada pada kategori baik dan puas. Uji bivariat mengungkapkan hubungan yang signifikan antara pelayanan kefarmasian secara keseluruhan dengan kepuasan pasien (p=0,004), serta pada seluruh dimensi SERVQUAL yaitu tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy (masing-masing p=0,000), yang memperkuat pemahaman bahwa kelima dimensi tersebut secara konsisten berkontribusi terhadap kepuasan pasien pada layanan kefarmasian di puskesmas. Dengan demikian, peningkatan mutu pelayanan kefarmasian perlu dilakukan secara berkelanjutan pada seluruh dimensi tersebut untuk mempertahankan kepuasan pasien, dan penelitian selanjutnya disarankan menjangkau fasilitas kesehatan yang lebih beragam serta mempertimbangkan faktor lain yang turut memengaruhi kepuasan pasien

Analsisi Hubungan Tingkat Pengetahuan Pasien Terhadap Persepsi dan Preferensi Pemilihan Obat Generik dan Obat Generik Bermerek di Apotek Altha Farma

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Obat generik sering dianggap kurang berkualitas dibandingkan obat generik bermerek meskipun keduanya memiliki kandungan zat aktif yang sama, sehingga pengetahuan pasien turut memengaruhi persepsi dan preferensi dalam pemilihan obat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan pasien terhadap persepsi dan preferensi pemilihan obat generik dan obat generik bermerek di Apotek Altha Farma. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik dan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 100 responden yang diperoleh melalui teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden (46%) memiliki tingkat pengetahuan kurang, sedangkan sebagian besar responden (74%) memiliki persepsi positif terhadap obat generik. Preferensi responden relatif seimbang antara obat generik (42%) dan obat generik bermerek (41%), dengan 17% memilih kombinasi keduanya. Hasil uji bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan persepsi (p=0,181) maupun antara tingkat pengetahuan dengan preferensi pemilihan obat (p=0,130). Dapat disimpulkan bahwa persepsi dan preferensi pasien terhadap obat generik lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman, harga, dan peran tenaga kefarmasian dibandingkan tingkat pengetahuan semata.