Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

32 hasil
Subjek: Tekanan Darah
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh senam kaki terhadap kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 di Puskesmas Lemahduhur

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar belakang: Hipertensi adalah salah satu penyakit dengan angka kematian tertinggi di dunia dengan total jumlah penderita lebih dari satu miliar. Sepertiga dari jumlah penderita itu tinggal di negara maju dan dua pertiga hidup di negara berkembang. Tekanan darah tinggi diperkirakan menyebabkan 7,1 juta kematian atau kira-kira 13% dari seluruh kematian di dunia. Hasil penelitian World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa hampir setengah dari kasus serangan jantung dipicu oleh tekanan darah tinggi (Yahya, 2019). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh senam lansia terhadap tekanan darah lansia penderita hipertensi di Puskesmas Lemahduhur Kabupaten Karawang. Metode: Desain Penelitian yang digunakandalam penelitian ini menggunakan bentuk rancangan non andomized pre-test post-test ekperimen , yaitu tekanan darah dilakukan sebelum dan setelah dilakukannya intervensi berupa senam lansia intervensi selanjutnya di cari perbedaan penurunan rata-rata tekanan darah. Sebelum diberi treatmen bagi kelompok subjek eksperimen di beri test yaitu pre-test dengan maksud untuk mengetahui keadaan kelompok sebelum treatment. Kemudian setelah diberi treatment kelompok eksperimen diberikan test yaitu post-test untuk mengetahui keadaan kelompok setelah treatment. Populasi dan sampel pada penelitian ini adalah lansia di Puskesmas Lemahduhur Kabupaten Karawang. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan total sampling. Total sempling adalah pengambilan sempel yang sama dengan jumlah populasi yang ada dengan jumlah responden sebanyak 30 orang. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan analisis data menggunakan Paired Sample T-Test. Hasil: Hasil penelitian Uji wilcoxon didapatkan ada pengaruh senam lansia terhadap tekanan darah dengan p-value 0,000. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh senam lansia terhadap tekanan darah lansia di Puskesmas Lemahduhur Karawang Tahun 2023.

12 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Pumpkin Seed Oil (Cucurbita Pepo) Terhadap Penurunan Tekanan Darah Diastolik Ibu Perimenopause Dengan Hipertensi Derajat 1 di Klinik Salsabila Husada Tahun 2026

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipertensi pada perempuan perimenopause berkaitan dengan perubahan hormonal dan fungsi vaskular. Pumpkin seed oil (PSO) berpotensi mendukung fungsi pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah, tetapi bukti penggunaannya sebagai terapi komplementer pada perempuan perimenopause dengan hipertensi derajat 1 masih terbatas. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian PSO (Cucurbita pepo) terhadap penurunan tekanan darah diastolik pada ibu perimenopause dengan hipertensi derajat 1. Metode: Penelitian quasi-experimental dengan desain two-group pretest-posttest melibatkan 38 responden yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol. Kedua kelompok mendapat amlodipine 5 mg, sedangkan kelompok intervensi mendapat tambahan PSO 1.000 mg/hari selama 14 hari. Analisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test dan Mann-Whitney U Test. Hasil: Rerata tekanan darah diastolik kelompok intervensi menurun dari 97,00 ± 1,886 menjadi 83.58 ± 2.293 mmHg, sedangkan kelompok kontrol dari 94.58 ± 2.116 menjadi 88.42 ± 1.305 mmHg. Perbedaan selisih penurunan tekanan darah diastolik antarkelompok bermakna (p < 0,001). Selama intervensi tidak ditemukan keluhan atau reaksi yang tidak diharapkan. Kesimpulan: Pemberian PSO 1.000 mg/hari sebagai terapi komplementer bersama amlodipine 5 mg berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah diastolik pada ibu perimenopause dengan hipertensi derajat 1.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Tingkat Kepatuhan Penggunaan Obat Terhadap Pengendalian Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi Lanjut Usia di Puskesmas Sukaraya

2026•Koleksi Perpustakaan

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi tertinggi kedua sebagai penyebab kematian di Indonesia, dan kepatuhan minum obat menjadi faktor penting dalam pengendalian tekanan darah, terutama pada pasien lanjut usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan penggunaan obat antihipertensi, tekanan darah pasien setelah pengobatan, serta hubungan antara tingkat kepatuhan penggunaan obat dengan pengendalian tekanan darah pada pasien hipertensi lanjut usia di Puskesmas Sukaraya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif analitik. Sampel penelitian berjumlah 104 pasien lansia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dari populasi 140 pasien hipertensi lansia yang berobat di Puskesmas Sukaraya Cikarang. Tingkat kepatuhan diukur menggunakan kuesioner MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale), sedangkan tekanan darah diukur menggunakan sphygmomanometer. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (60,0%), berusia 60–63 tahun, berpendidikan SMA, bekerja sebagai wiraswasta, dan telah menderita hipertensi selama 3–5 tahun. Sebagian besar responden memiliki tekanan darah tidak terkontrol (55,0%) dan tingkat kepatuhan minum obat yang rendah (80,0%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, lama menderita hipertensi, dan status pengendalian tekanan darah tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kepatuhan minum obat (p > 0,05). Simpulan penelitian ini adalah tingkat kepatuhan penggunaan obat pada pasien hipertensi lanjut usia di Puskesmas Sukaraya masih tergolong rendah, serta tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara faktor-faktor karakteristik responden dengan tingkat kepatuhan tersebut. Diperlukan upaya edukasi dan konseling berkelanjutan dari fasilitas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan hipertensi.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Perbandingan Efektivitas Latihan Aerobik Low Impact dan Sepeda Statis Terhadap Tekanan Darah Pada Komunitas Pra-Lansia

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Pra-lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami peningkatan parameter kardiovaskular, terutama tekanan darah yang menjadi salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Latihan aerobik low-impact dan latihan sepeda statis sama-sama terbukti dapat menurunkan tekanan darah melalui mekanisme peningkatan fungsi endotel dan penurunan resistensi vaskular. Namun, penelitian yang secara langsung membandingkan efektivitas kedua jenis latihan ini pada kelompok pra-lansia masih terbatas. Tujuan: Membandingkan efektivitas latihan aerobik low-impact dan latihan sepeda statis terhadap tekanan darah sistolik dan diastolik pada pra-lansia. Metode: Studi ini mengadopsi desain eksperimental semu (quasi-experimental) dengan pendekatan two-group pretest-posttest. Partisipan penelitian berjumlah 28 individu pra-lansia berusia 45-59 tahun yang telah lolos seleksi berdasarkan kriteria inklusi yang ditetapkan. Mereka kemudian dibagi secara acak ke dalam dua kelompok perlakuan, yaitu kelompok senam aerobik low impact (14 orang) dan kelompok latihan sepeda statis (14 orang). Intervensi diberikan selama 4 minggu dengan frekuensi 1 kali per minggu, durasi 60 menit per sesi. Tekanan darah diukur sebelum dan setelah intervensi. Analisis data menggunakan uji paired t-test atau Wilcoxon untuk melihat perubahan dalam kelompok, serta independent t-test atau Mann-Whitney untuk membandingkan perbedaan antar kelompok (p<0,05). Hasil: Pada kelompok aerobik low impact terjadi penurunan rerata tekanan darah sistolik yang bermakna secara statistik, yaitu dari 145,86 mmHg menjadi 132,29 mmHg dengan selisih -13,57 mmHg (p = 0,014), dengan effect size large (d = 1,30). Tekanan darah diastolik menurun signifikan dari 89,86 mmHg menjadi 83,43 mmHg (Δ = -6,43 mmHg; p = 0,005; d = 1,63). Pada kelompok sepeda statis, tekanan darah sistolik menurun signifikan dari 140,29 mmHg menjadi 129,43 mmHg (Δ = -10,86 mmHg; p = 0,015; d = 1,27), sedangkan tekanan darah diastolik menurun tidak signifikan dari 89,29 mmHg menjadi 85,14 mmHg (Δ = -4,14 mmHg; p = 0,137; d = 0,65). Tidak terdapat perbedaan signifikan antar kelompok pada penurunan tekanan darah sistolik (p = 0,605) maupun diastolik (p = 0,436). Kesimpulan: Latihan aerobik low impact efektif menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik secara signifikan pada pra-lansia. Latihan sepeda statis efektif menurunkan tekanan darah sistolik secara signifikan, namun tidak signifikan pada tekanan darah diastolik. Meskipun tidak terdapat perbedaan bermakna antar kelompok, kedua jenis latihan memberikan efek klinis yang besar (large effect size) pada tekanan darah sistolik, dengan latihan aerobik low impact memberikan gambaran keunggulan pada penurunan diastolik. Kedua latihan direkomendasikan sebagai intervensi non-farmakologis untuk pengendalian tekanan darah pada komunitas pra-lansia.

13 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akupunktur Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Sindrom Akumulasi Phlegma Lembab Jiao Tengah di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat Bandung

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipertensi tergolong Penyakit Tidak Menular (PTM) dan merupakan salah satu penyebab utama kematian prematur di dunia. Kasus tekanan darah tinggi secara global cukup tinggi, yaitu satu dari tiga orang penduduk di dunia mengalami Hipertensi. Sekitar dua pertiga dari populasi tersebut tinggal di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Perbandingan empat dari lima orang penderita hipertensi tidak mendapatkan pengobatan yang layak. Namun jika negara – negara mendapatkan pengobatan yang memadai, 76 juta kematian dapat dicegah antara tahun 2023 – 2050 (WHO, 2023). Tujuan: Mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi dengan sindrom akumulasi phlegma lembab di Jiao Tengah. Metode: Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre- eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling , melibatkan 20 subjek penelitian dari bulan Maret-Juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi akupunktur setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek tekanan darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: Kadar tekanan darah sistolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 139 mg/dl (5 subjek = 25%) dan paling rendah sebesar 130 mg/dl (1 subjek = 5%). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 89 mg/dl (2 subjek = 10%) dan paling rendah sebesar 81 mg/dl (2 subjek = 10%). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 130 mg/dl (2 subjek = 10%) dan paling rendah sebesar 120 mg/dl (1 subjek = 5%). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 85 mg/dl (1 subjek = 5%) dan paling rendah sebesar 76 mg/dl (2 subjek = 10%). Kesimpulan: Terapi akupunktur memberikan pengaruh terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom akumulasi phlegma lembab di jiao tengah, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi.

15 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Pemberian Jus Tomat Merah Dalam Menurunkan Tekanan Darah Pada Lansia Dengan Hipertensi di Puskesmas Tambelang

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan seperti stroke, penyakit jantung, dan gangguan ginjal. Lansia mengalami hipertensi akibat perubahan fisiologis pada sistem kardiovaskular. Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat dilakukan untuk membantu mengontrol tekanan darah adalah pemberian jus tomat yang mengandung kalium dan likopen sebagai antioksidan yang berperan dalam menurunkan tekanan darah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jus tomat terhadap penurunan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi di Puskesmas Tambelang. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain true experimental dengan pendekatan pretest-posttest with control group design. Sampel penelitian berjumlah 24 responden lansia dengan hipertensi yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan masing-masing 12 responden. Kelompok intervensi diberikan jus tomat selama 7 hari, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan intervensi. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan sphygmomanometer. Analisis data univariat dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok intervensi seluruh responden mengalami penurunan tekanan darah setelah pemberian jus tomat. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,002 (p < 0,05) yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara tekanan darah sebelum dan sesudah pemberian jus tomat. Sementara itu pada kelompok kontrol diperoleh nilai p = 0,414 (p > 0,05) yang menunjukkan tidak terdapat perubahan tekanan darah yang signifikan. Kesimpulan: Pemberian jus tomat berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi di Puskesmas Tambelang sehingga dapat dijadikan sebagai terapi komplementer nonfarmakologis dalam pengendalian hipertensi.

16 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Pola Makan Rendah Natrium Dengan Tekanan Darah Pasien Hipertensi di Puskesmas Tambelang Sukatani Kabupaten Bekasi

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang:Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan utama karena berisiko menyebabkan komplikasi seperti stroke, penyakit jantung, dan gangguan ginjal. Salah satu faktor yang memengaruhi peningkatan tekanan darah adalah pola makan dengan konsumsi natrium berlebih. Penerapan pola makan rendah natrium menjadi upaya nonfarmakologis yang dapat membantu mengendalikan tekanan darah pada pasien hipertensi. Tujuan: Mengetahui hubungan pola makan rendah natrium dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di Puskesmas Tambelang. Metode:Penelitian menggunakan metode kuantitatif analitik dengan desain deskriptif korelasional dan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 95 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data pola makan rendah natrium diperoleh melalui kuesioner Food Frequency Questionnaire-Sodium (FFQ-Na), sedangkan tekanan darah diukur menggunakan sphygmomanometer. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Responden dengan pola makan rendah natrium kategori baik sebagian besar berada pada hipertensi derajat 1 sebanyak 35 responden (63,6%). Responden dengan kategori tidak baik sebagian besar berada pada hipertensi derajat 2 sebanyak 25 responden (62,5%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan p-value = 0,012 (p < 0,05), sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan rendah natrium dengan tekanan darah. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara pola makan rendah natrium dengan tekanan darah pada pasien hipertensi. Saran: Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penerapan pengelolaan diet rendah natrium serta pemantauan tekanan darah secara rutin pada pasien hipertensi.

11 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Efektivitas Isometric Handgrip Exercise Terhadap Penurunan Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik Pada Lansia Dengan Hipertensi di Posyandu Lansia Kemuning Desa Sukahati

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Lanjut usia merupakan tahap akhir kehidupan yang ditandai dengan penurunan fungsi fisiologis tubuh yang meningkatkan risiko hipertensi akibat berkurangnya elastisitas pembuluh darah. Hipertensi sering kali tidak bergejala, namun berisiko menyebabkan komplikasi serius. Penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan melalui terapi farmakologis dan nonfarmakologis. Namun, terapi farmakologis dalam jangka panjang berisiko menimbulkan efek samping, sehingga diperlukan alternatif terapi nonfarmakologis. Isometrik Handgrip Exercise merupakan salah satu jenis terapi nonfarmakologis yang bekerja melalui kontraksi otot statis untuk meningkatkan shear stress dan merangsang pelepasan nitric oxide (NO), sehingga menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah dan penurunan tekanan darah. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas Isometrik Handgrip Exercise terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik pada lansia dengan hipertensi di Posyandu Lansia Kemuning Desa Sukahati. Metode: Penelitian ini menggunakan Quasi eksperimental designs dengan rancangan one group pre-post pada 20 lansia hipertensi berusia 60–74 tahun (lansia awal). Hasil: Uji Wilcoxon menunjukan nilai (p = 0,001 < 0,05) baik tekanan darah sistolik maupun diastolik. Kesimpulan: Isometrik Handgrip Exercise efektif dalam menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada lansia dengan hipertensi di Posyandu Lansia Kemuning Desa Sukahati.

13 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Akupunktur Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Sindrom Yang Hati Naik

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Prevalensi hipertensi di Indonesia sangat besar yaitu sebesar 34,1% berdasarkan survei nasional di 2018 dengan perkiraan menderita hipertensi sekitar 70 juta lebih penduduk Indonesia. Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan suatu keadaan patofisiologis tubuh di mana tekanan darah suatu individu melebihi ambang normal yaitu 120 mmHg tekanan sistolik dan 80 mmHg tekanan diastolik. Hipertensi sindrom yang hati terjadi karena manisfestasi tekanan darah tinggi, sakit kepala di pelipis, mata atau sisi lateral kepala, pusing, tinnitus, tuli, tekanan darah sistolik tinggi, penglihatan kabur, mulut dan tenggorokan kering, insomnia, iritabilitas, mudah lelah, mudah emosi marah, pinggang dan lutut lemah, mudah lupa dan leher kaku. Akupunktur dipercaya dapat menurunkan tekanan darah dengan menyeimbangkan energi Yin dan Yang dalam tubuh. Tujuan: Mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom yang hati naik. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan model one group pre-post test. Sebanyak 30 subjek penderita hipertensi dengan sindrom yang hati naik menjalani terapi akupunktur selama enam hari berturut-turut. Lokasi penelitian di Pusat Kesehatan Devine Healing, Kota Jakarta Pusar selama bulan Januari- Mei 2025.Terapi akupunktur selama 30 menit/sesi selama 6 kali terapi. Titik akupunktur yang digunakan adalah LR 3, GV 20, KI 3, SP 6, dan ST 36. Tekanan darah diukur sebelum dan sesudah terapi. Hasil: Seluruh responden (30 orang) mengalami penurunan tekanan darah sistolik dengan rata-rata sebesar 30,53 mmHg (19.38 %), dari 157,53 mmHg menjadi 127,00 mmHg. Tekanan darah diastolik menurun rata-rata sebesar 8,5 mmHg (8.68%), dari 97,83 mmHg menjadi 89,33 mmHg. Penurunan tekanan darah sistolik lebih besar terjadi pada laki-laki (36 mmHg) dibandingkan perempuan (25,75 mmHg), sedangkan penurunan diastolik lebih tinggi pada perempuan (9,38 mmHg) dibandingkan laki-laki (7,5 mmHg). Berdasarkan usia, penurunan tekanan darah diastolik tertinggi terjadi pada kelompok usia 30–39 tahun (30 mmHg), sedangkan penurunan tekanan darah sistolik terbesar terjadi pada kelompok usia 40–49 tahun (34,11 mmHg). Kesimpulan: ada pengaruh terapi akupunktur terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom yang hati naik. Terapi akupunktur bisa dijadikan sebagai pendekatan integratif antara ilmu pengobatan kesehatan modern dan tradisional terutama pada penatalaksanaan pengaruh terapi akupunktur terhadap hipertensi sindrom yang hati naik.

20 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Tui Na Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Sindrom Hiperaktivitas Yang Hati

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipertensi atau yang biasa dikenal dengan darah tinggi sangat perlu mendapatkan perhatian dari setiap individu karena merupakan salah satu penyakit yang cukup berbahaya hingga mendapatkan julukan The Silent Killer. Hal ini dikarenakan hipertensi dapat menyerang setiap orang tanpa adanya tanda yang muncul pada tubuh. Hipertensi diklasifikasikan penyakit tidak menular (PTM) yang dapat disebabkan gaya hidup tidak sehat maupun faktor keturunan. Hipertensi dalam ilmu Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT) disebut Gāoxuěyā, Ganfeng (Liver Wind), Ganyang (Liver Yang), Taotong (headache), Xuangyu (dizziness), Zhongfeng (Stroke). Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi tui na terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom hiperaktivitas yang hati. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Griya Pahri, Kota Depok, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi Tuina setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek tekanan darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: Frekuensi dari keseluruhan 20 subjek penelitian menunjukkan bahwa jumlah laki-laki lebih tinggi (12 subjek = 60 %) dibandingkan dengan perempuan (8 subjek = 40 %). Subjek penelitian terbanyak berada pada usia 33 tahun (3 subjek = 15 %), terrendah pada usia 30 tahun (2 subjek = 10 %). Pekerjaan subjek penelitian terbanyak adalah karyawan (10 subjek = 50 %), wiraswasta (7 subjek = 35 %) dan IRT (3 subjek = 15 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 139 mmHg (1 subjek = 5 %) dan paling rendah sebesar 130 mmHg (1 subjek = 5 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 89 mmHg (2 subjek = 10%) dan paling rendah sebesar 80 mmHg (1 subjek = 5 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 123 mmHg (1 subjek = 5 %) dan paling rendah sebesar 112 mmHg (2 subjek = 10 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 84 mmHg (1 subjek = 5 %) dan paling rendah sebesar 72 mmHg (1 subjek = 5 %). Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Paired Sample T-Test diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.000. Kesimpulan: Terapi tui na memberikan pengaruh terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom hiperaktivitas yang hati dengan rata-rata angka penurunan tekanan darah sistolik 135.00 mmHg dan diastolik 84.80 mmHg sebelum intervensi. Angka rata-rata setelah intervensi sebesar 116.45 mmHg (sistolik) dan 77.75 mmHg (diastolik). Perbedaan penurunan sistolik sebesar 18.65 mmHg (13.79%) dan diastolik 7.05 mmHg (8.31%).

34 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Tui Na Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Sindrom Retensi Dahak Lembab

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipertensi adalah terjadinya peningkatan tekanan darah dalam tubuh. Hipertensi termasuk penyakit tidak menular yang menjadi salah satu penyebab utama kematian prematur di dunia. Penyakit hipertensi menjadi ancaman kesehatan masyarakat karena potensinya yang mampu mengakibatkan berbagai kondisi komplikasi, diantaranya seperti stroke, penyakit jantung koroner, dan gagal ginjal. Hipertensi dalam ilmu Pengobatan Tradisional Tiongkok disebut Gāoxuěyā, pusing (Xuànyūn), sakit kepala (tóutòng) dan angin hati (gānfēng). Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi tuina terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom retensi dahak lembab. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi tuina setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek tekanan darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: jumlah responden laki - laki lebih tinggi (12 subjek = 60 %) dibandingkan dengan perempuan (8 subjek =40 %). Usia responden terbanyak 31, 34 dan 37 tahun (3 subjek = 15 %), usia responden terendah pada usia 30 tahun (2 subjek = 10 %). Responden terbanyak bekerja sebagai karyawan (7 subjek = 35 %), wiraswasta (5 subjek = 25 %), Ibu Rumah Tangga (5 subjek = 25 %) dan paling sedikit Guru (3 subjek = 15 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 139 mg/dl (5 subjek = 25 %) dan paling rendah sebesar 130 mg/dl (1 subjek = 5 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 89 mg/dl (2 subjek = 10%) dan paling rendah sebesar 81 mg/dl (2 subjek = 10 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 130 mg/dl (2 subjek = 10 %) dan paling rendah sebesar 120 mg/dl (1 subjek = 5 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 85 mg/dl (1 subjek = 5 %) dan paling rendah sebesar 76 mg/dl (2 subjek = 10 %). Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Paired Sample T-Test diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.000. Kesimpulan: Terapi tuina memberikan pengaruh terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom retensi dahak lembab. Angka rata-rata tekanan darah sistolik 135.25 mmHg dan diastolik 84.75 mmHg sebelum intervensi. Angka rata-rata setelah intervensi sebesar 125.85 mmHg (sistolik) dan 80.20 mmHg (diastolik). Penurunan sistolik sebesar 9.50 mmHg (7.02%) dan diastolik 4.55 mmHg (5.36%).

35 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Terapi Tui Na Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Sindrom Defisiensi Yin dan Hiperaktivitas Yang

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipertensi merupakan Penyakit Tidak Menular (PTM) yang menjadi salah satu penyebab utama kematian prematur di dunia. Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, adalah kondisi medis di mana tekanan darah dalam arteri meningkat secara abnormal. Ini diukur dengan dua angka: tekanan sistolik (tekanan saat jantung berkontraksi) dan tekanan diastolik (tekanan saat jantung beristirahat antara detak). Ilmu Pengobatan Tradisioinal Tiongkok (PTT) menyebut Gāoxuěyā, pusing (Xuànyūn), sakit kepala (tóutòng) dan angin hati (gānfēng) sebagai penyakit yang mirip dengan gejala hipertensi. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi tui na terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom defisiensi yin hiperaktivitas yang. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi tui na setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek tekanan darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: jumlah responden laki - laki lebih tinggi (11 subjek = 55 %) dibandingkan dengan perempuan (9 subjek =45 %). Usia responden terbanyak 33, dan 37 tahun (@3 subjek = 15 %), usia responden terendah pada usia 30 tahun (1 subjek = 5 %). Responden terbanyak bekerja sebagai pedagang (8 subjek = 40 %), karyawan (5 subjek = 25 %), IRT (4 subjek = 20 %) dan paling sedikit Guru (3 subjek = 15 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 139 mmHg (2 subjek = 10 %) dan paling rendah sebesar 130 mmHg (1 subjek = 5 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 89 mmHg (3 subjek = 15 %) dan paling rendah sebesar 81 mmHg (3 subjek = 15 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 126 mmHg (1 subjek = 5 %) dan paling rendah sebesar 115 mmHg (1 subjek = 5 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 83 mmHg (3 subjek = 15 %) dan paling rendah sebesar 75 mmHg (3 subjek = 15 %). Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Paired Sample T-Test diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.000. Kesimpulan: Terapi tui na memberikan pengaruh terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom defisiensi yin hiperaktivitas yang. Angka rata-rata tekanan darah sistolik 135.15 mmHg dan diastolik 85.55 mmHg sebelum intervensi. Angka rata-rata setelah intervensi sebesar 120.75 mmHg (sistolik) dan 79.45 mmHg (diastolik). Penurunan sistolik sebesar 14.40 mmHg (10.65%) dan diastolik 6.10 mmHg (7.13%).

34 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Peningkatan Tekanan Darah Pada Pasien Pre Operasi yang Akan Menjalani General Anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Kecemasan adalah reaksi psikologis yang umum terjadi pada pasien pre operasi, terutama sebelum menjalani general anestesi. Kecemasan yang berlebihan dapat memengaruhi kondisi fisiologis pasien, salah satunya adalah peningkatan tekanan darah. Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan peningkatan tekanan darah pada pasien pre operasi yang akan menjalani general anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan teknik purposive sampling yang melibatkan 36 responden. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS), dan data dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Hasil menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kecemasan dengan tekanan darah sistolik (P- Value 0,002) dan diastolik (P-Value 0,003). Sebagian besar responden mengalami peningkatan tekanan darah sistolik (69,4%) dan diastolik (58,3%). Kesimpulan: bahwa adanya korelasi¹ atau hubungan tingkat kecemasan dengan peningkatan tekanan darah pada Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan peningkatan tekanan darah pada pasien pre operasi yang menjalani general anestesi. Penatalaksanaan kecemasan pre operasi menjadi penting untuk menjaga kestabilan kondisi hemodinamik pasien demi keberhasilan tindakan operasi.

21 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Kejadian Hipotermi Dengan Nadi dan Tekanan Darah Pasca Operasi di Recovery Room RSUD Kabupaten Bekasi

2025•Koleksi Perpustakaan

Periode pemulihan setelah operasi dikenal sebagai waktu dengan resiko tinggi untuk terjadinya komplikasi di recovery room. Hipotermi adalah komplikasi pasca anestesi yang sering ditemukan di ruang recovery room, baik general anestesi maupun spinal anestesi. Hipotermi pasca operasi memiliki dampak signifikan pada hemodinamik, terutama terkait perubahan tekanan darah dan respons kardiovaskular pasien. Tujuan: Mengetahui hubungan kejadian hipotermi dengan nadi dan tekanan darah pasca operasi di recovery room RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan kuantitatif non exsperimental dengan metode korelasi dan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling melibatkan 50 responden. Data dianalisis menggunakan spearman rank. Instrument penelitian berupa pendekatan studi observational analytic dengan pendekatan (cross sectional). Hasil: Berdasarkan klasifikasi ASA kategori ASA II 38 orang (76%), berdasarkan lama operasi sebagian besar responden menjalankan operasi dengan durasi sedang 1-3 jam sebanyak 44 orang (88%), berdasarkan suhu ruangan kamar operasi sebagian besar responden menjalani operasi dengan suhu ruangan normal 18-24 18-24°C yaitu 36 orang (72%), berdasarkan jenis anestesi sebagian besar responden menjalani pembedahan dengan General anestesi yaitu dilakukan sebanyak 33orang (66%), berdasarkan jenis kelamin sebagian besar responden adalah berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 32 orang (64%), brdasarkan sebagian besar usia responden dewasa awal sebanyak 12 orang (24%). Pada uji statistic spearman rank diperoleh nilai Signifikansi 0.000. Kesimpulan: Ada hubungan kejadian hipotermi dengan nadi dan tekanan darah di recovery room pasca operasi RSUD Kabupaten Bekasi.

8 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Kepatuhan Minum Obat dan Luaran Klinis Pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Setu 1 Kabupaten Bekasi

2025•Koleksi Perpustakaan

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia, khususnya di wilayah industri seperti Kabupaten Bekasi. Pengetahuan pasien terhadap penyakit hipertensi memengaruhi kepatuhan dalam menjalani pengobatan dan keberhasilan terapi yang diukur melalui luaran klinis berupa ketercapaian tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum obat dan luaran klinis pada pasien hipertensi di Puskesmas Setu 1 Kabupaten Bekasi. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 91 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner HK-LS untuk menilai pengetahuan, MMAS-8 untuk kepatuhan, serta data rekam medis untuk luaran klinis. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum obat (p = 0,009) dan luaran klinis tekanan darah (p = 0,003). Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan pasien, maka semakin tinggi pula kepatuhan terhadap pengobatan dan keberhasilan pencapaian tekanan darah sesuai target.

46 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Tingkat Kecemasan Terhadap Tekanan Darah Pada Pasien Intra Sectio Caesaria di Kamar Operasi RS Sentra Medika Cisalak

2025•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang:Kecemasan merupakan respon emosional yang umum terjadi pada pasien yang akan menjalani tindakan operasi, termasuk Sectio Caesarea. Kecemasan dapat memicu aktivasi sistem saraf simpatis, menyebabkan perubahan fisiologis seperti peningkatan tekanan darah, yang berpotensi memperburuk kondisi intraoperatif. Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan tekanan darah pada pasien intraoperatif Sectio Caesarea di kamar operasi RS Sentra Medika Cisalak.Metode:Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan observasional analitik berbentuk cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 30 pasien yang diambil menggunakan teknik total sampling. Tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner Zung Self Rating Anxienty Scale (SAS) , sedangkan data tekanan darah diperoleh dari pengukuran tekanan darah intraoperatif. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil:Sebanyak 33,3% pasien tidak mengalami kecemasan, 33,3% mengalami kecemasan ringan, dan 33,3% mengalami kecemasan sedang. Tekanan darah normal ditemukan pada 50% pasien, sedangkan tekanan darah tidak normal pada 50% pasien. Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan tekanan darah intraoperatif (p = 0,006).Kesimpulan:Terdapat hubungan bermakna antara tingkat kecemasan dan tekanan darah pada pasien intraoperatif Sectio Caesarea. Semakin tinggi tingkat kecemasan, semakin besar kemungkinan tekanan darah menjadi tidak normal. Intervensi manajemen kecemasan perlu dilakukan untuk menjaga kestabilan hemodinamik pasien selama tindakan operasi.

14 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Jalan Kaki Terhadap Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik Pada Pasien Lansia Penderita Hipertensi di Sentra Terpadu Pangudi Luhur Bekasi Tahun 2025

2025•Koleksi Perpustakaan

Hipertensi merupakan kondisi kronis yang umum terjadi pada kelompok lanjut usia dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius seperti gangguan jantung, stroke, penyakit pembuluh darah tepi, serta kerusakan retina mata yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan (Kemenkes, 2022). Aktivitas jalan kaki secara rutin terbukti mampu membantu mencegah, mengontrol, dan menstabilkan tekanan darah, baik sistolik maupun diastolik, pada lansia pengidap hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh aktivitas jalan kaki terhadap tekanan darah lansia penderita hipertensi di Sentra Terpadu Pangudi Luhur, Bekasi, pada tahun 2025. Pendekatan penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan quasi experimental model one group pre-test and post-test. Sampel terdiri dari 80 orang lansia yang memiliki riwayat hipertensi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon, yang menampilkan adanya perbedaan signifikan antara nilai tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi, dengan hasil p = 0,002 untuk sistolik dan p = 0,000 untuk diastolik (p < 0,05), sehingga hipotesis dinyatakan diterima. Dari temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa jalan kaki secara teratur memberikan dampak positif terhadap penurunan tekanan darah pada lansia. Disarankan agar lansia melakukan jalan kaki minimal tiga kali seminggu selama 30 menit untuk membantu menjaga kestabilan tekanan darah mereka.

15 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN KEJADIAN HIPOTERMI DENGAN NADI DAN TEKANAN DARAH PASCA OPERASI DI RECOVERY ROOM RSUD KABUPATEN BEKASI

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Periode pemulihan setelah operasi dikenal sebagai waktu dengan resiko tinggi untuk terjadinya komplikasi di recovery room. Hipotermi adalah komplikasi pasca anestesi yang sering ditemukan di ruang recovery room, baik general anestesi maupun spinal anestesi. Hipotermi pasca operasi memiliki dampak signifikan pada hemodinamik, terutama terkait perubahan tekanan darah dan respons kardiovaskular pasien. Tujuan: Mengetahui hubungan kejadian hipotermi dengan nadi dan tekanan darah pasca operasi di recovery room RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan kuantitatif non exsperimental dengan metode korelasi dan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling melibatkan 50 responden. Data dianalisis menggunakan spearman rank. Instrument penelitian berupa pendekatan studi observational analytic dengan pendekatan (cross sectional). Hasil: Berdasarkan klasifikasi ASA kategori ASA II 38 orang (76%), berdasarkan lama operasi sebagian besar responden menjalankan operasi dengan durasi sedang 1-3 jam sebanyak 44 orang (88%), berdasarkan suhu ruangan kamar operasi sebagian besar responden menjalani operasi dengan suhu ruangan normal 18-24 18-24°C yaitu 36 orang (72%), berdasarkan jenis anestesi sebagian besar responden menjalani pembedahan dengan General anestesi yaitu dilakukan sebanyak 33orang (66%), berdasarkan jenis kelamin sebagian besar responden adalah berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 32 orang (64%), brdasarkan sebagian besar usia responden dewasa awal sebanyak 12 orang (24%). Pada uji statistic spearman rank diperoleh nilai Signifikansi 0.000. Kesimpulan: Ada hubungan kejadian hipotermi dengan nadi dan tekanan darah di recovery room pasca operasi RSUD Kabupaten Bekasi.

8 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN KEJADIAN HIPOTERMI DENGAN NADI DAN TEKANAN DARAH PASCA OPERASI DI RECOVERY ROOM RSUD KABUPATEN BEKASI

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

HUBUNGAN KEJADIAN HIPOTERMI DENGAN NADI DAN TEKANAN DARAH PASCA OPERASI DI RECOVERY ROOM RSUD KABUPATEN BEKASI Rizma Anggraeni Deliana Putri1, Stella Marie Degracia Igva2 Sarjana Terapan Keperawatan Anestesiologi Universitas Medika Suherman Jalan Raya Industri Pasir Gombong, Jababeka, Pasirgombong, Kec. Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat 17530 Email : [email protected] [email protected] ABSTRAK Periode pemulihan setelah operasi dikenal sebagai waktu dengan resiko tinggi untuk terjadinya komplikasi di recovery room. Hipotermi adalah komplikasi pasca anestesi yang sering ditemukan di ruang recovery room, baik general anestesi maupun spinal anestesi. Hipotermi pasca operasi memiliki dampak signifikan pada hemodinamik, terutama terkait perubahan tekanan darah dan respons kardiovaskular pasien. Tujuan: Mengetahui hubungan kejadian hipotermi dengan nadi dan tekanan darah pasca operasi di recovery room RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan kuantitatif non exsperimental dengan metode korelasi dan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling melibatkan 50 responden. Data dianalisis menggunakan spearman rank. Instrument penelitian berupa pendekatan studi observational analytic dengan pendekatan (cross sectional). Hasil: Berdasarkan klasifikasi ASA kategori ASA II 38 orang (76%), berdasarkan lama operasi sebagian besar responden menjalankan operasi dengan durasi sedang 1-3 jam sebanyak 44 orang (88%), berdasarkan suhu ruangan kamar operasi sebagian besar responden menjalani operasi dengan suhu ruangan normal 18-24 18-24°C yaitu 36 orang (72%), berdasarkan jenis anestesi sebagian besar responden menjalani pembedahan dengan General anestesi yaitu dilakukan sebanyak 33orang (66%), berdasarkan jenis kelamin sebagian besar responden adalah berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 32 orang (64%), brdasarkan sebagian besar usia responden dewasa awal sebanyak 12 orang (24%). Pada uji statistic spearman rank diperoleh nilai Signifikansi 0.000. Kesimpulan: Ada hubungan kejadian hipotermi dengan nadi dan tekanan darah di recovery room pasca operasi RSUD Kabupaten Bekasi. Kata kunci : Hipotemi, Nadi, Tekanan darah (MAP), Recovery room, Pasca operasi Mahasiswa Sarjana Terapan Keperawatan Anestesiologi Universitas Medika Suherman Referensi : Jurnal : 2012-2024 (35) Buku : 2019 (1)

8 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Sosialisasi Dan Edukasi Pemberian Anestesi Spinal Terhadap Tekanan Darah Pasien Sectio Caesarea Di RS Sentra Medika Cibinong Tahun 2022

2024•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Sectio caesarea (SC) merupakan operasi yang umum dan luas dilakukan pada wanita hamil dan prevalensi meningkat setiap tahun. Tekhnik anestesi spinal ataupun epidural merupakan tekhnik anestesi yang lebih banyak digunakan pada operasi sectio caesarea. Anestesi spinal memiliki potensi menyebabkan hipotensi pada ibu yang menjalani operasi sectio caesarea akibat blokade saraf simpatis tonus otot polos pembuluh darah yang berdampak terjadinya hipoksia dan acidosis fetus serta depresi neonatus. Tujuan: Tujuan dari pengabdian Masyarakat ini adalah turut memberikan pelayanan secara profesional dalam tindakan pembedahan Sectio Caesarea dan memberikan edukasi kepada pasien terkait tindakan operasi Sectio Caesarea menggunakan tehnik spinal. Metode: Pengabdian Masyarakat yang digunakan adalah memberikan edukasi melalui sosialisasi pemberian pemberian anestesi spinal terhadap tekanan darah pasien sectio caesarea. Hasil: Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik tentang pemberian anestesi spinal terhadap tekanan darah pasien sectio caesarea. Kesimpulan Berdasarkan hasil pre-test dan post-test yang telah diberikan ada peningkatan pemahaman pasien mengenai pemberian anestesi spinal terhadap tekanan darah pasien sectio caesarea.

11 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail