Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

10 hasil
Subjek: lansia.
DaftarKartu
BookOpen AccessMetadata saja

Perbandingan Efektivitas Latihan Aerobik Low Impact dan Sepeda Statis Terhadap Tekanan Darah Pada Komunitas Pra-Lansia

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Pra-lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami peningkatan parameter kardiovaskular, terutama tekanan darah yang menjadi salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Latihan aerobik low-impact dan latihan sepeda statis sama-sama terbukti dapat menurunkan tekanan darah melalui mekanisme peningkatan fungsi endotel dan penurunan resistensi vaskular. Namun, penelitian yang secara langsung membandingkan efektivitas kedua jenis latihan ini pada kelompok pra-lansia masih terbatas. Tujuan: Membandingkan efektivitas latihan aerobik low-impact dan latihan sepeda statis terhadap tekanan darah sistolik dan diastolik pada pra-lansia. Metode: Studi ini mengadopsi desain eksperimental semu (quasi-experimental) dengan pendekatan two-group pretest-posttest. Partisipan penelitian berjumlah 28 individu pra-lansia berusia 45-59 tahun yang telah lolos seleksi berdasarkan kriteria inklusi yang ditetapkan. Mereka kemudian dibagi secara acak ke dalam dua kelompok perlakuan, yaitu kelompok senam aerobik low impact (14 orang) dan kelompok latihan sepeda statis (14 orang). Intervensi diberikan selama 4 minggu dengan frekuensi 1 kali per minggu, durasi 60 menit per sesi. Tekanan darah diukur sebelum dan setelah intervensi. Analisis data menggunakan uji paired t-test atau Wilcoxon untuk melihat perubahan dalam kelompok, serta independent t-test atau Mann-Whitney untuk membandingkan perbedaan antar kelompok (p<0,05). Hasil: Pada kelompok aerobik low impact terjadi penurunan rerata tekanan darah sistolik yang bermakna secara statistik, yaitu dari 145,86 mmHg menjadi 132,29 mmHg dengan selisih -13,57 mmHg (p = 0,014), dengan effect size large (d = 1,30). Tekanan darah diastolik menurun signifikan dari 89,86 mmHg menjadi 83,43 mmHg (Δ = -6,43 mmHg; p = 0,005; d = 1,63). Pada kelompok sepeda statis, tekanan darah sistolik menurun signifikan dari 140,29 mmHg menjadi 129,43 mmHg (Δ = -10,86 mmHg; p = 0,015; d = 1,27), sedangkan tekanan darah diastolik menurun tidak signifikan dari 89,29 mmHg menjadi 85,14 mmHg (Δ = -4,14 mmHg; p = 0,137; d = 0,65). Tidak terdapat perbedaan signifikan antar kelompok pada penurunan tekanan darah sistolik (p = 0,605) maupun diastolik (p = 0,436). Kesimpulan: Latihan aerobik low impact efektif menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik secara signifikan pada pra-lansia. Latihan sepeda statis efektif menurunkan tekanan darah sistolik secara signifikan, namun tidak signifikan pada tekanan darah diastolik. Meskipun tidak terdapat perbedaan bermakna antar kelompok, kedua jenis latihan memberikan efek klinis yang besar (large effect size) pada tekanan darah sistolik, dengan latihan aerobik low impact memberikan gambaran keunggulan pada penurunan diastolik. Kedua latihan direkomendasikan sebagai intervensi non-farmakologis untuk pengendalian tekanan darah pada komunitas pra-lansia.

13 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Pemberian Jus Tomat Merah Dalam Menurunkan Tekanan Darah Pada Lansia Dengan Hipertensi di Puskesmas Tambelang

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan seperti stroke, penyakit jantung, dan gangguan ginjal. Lansia mengalami hipertensi akibat perubahan fisiologis pada sistem kardiovaskular. Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat dilakukan untuk membantu mengontrol tekanan darah adalah pemberian jus tomat yang mengandung kalium dan likopen sebagai antioksidan yang berperan dalam menurunkan tekanan darah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jus tomat terhadap penurunan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi di Puskesmas Tambelang. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain true experimental dengan pendekatan pretest-posttest with control group design. Sampel penelitian berjumlah 24 responden lansia dengan hipertensi yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan masing-masing 12 responden. Kelompok intervensi diberikan jus tomat selama 7 hari, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan intervensi. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan sphygmomanometer. Analisis data univariat dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok intervensi seluruh responden mengalami penurunan tekanan darah setelah pemberian jus tomat. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,002 (p < 0,05) yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara tekanan darah sebelum dan sesudah pemberian jus tomat. Sementara itu pada kelompok kontrol diperoleh nilai p = 0,414 (p > 0,05) yang menunjukkan tidak terdapat perubahan tekanan darah yang signifikan. Kesimpulan: Pemberian jus tomat berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi di Puskesmas Tambelang sehingga dapat dijadikan sebagai terapi komplementer nonfarmakologis dalam pengendalian hipertensi.

16 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Frekuensi Reminiscence Dengan Tingkat Kesejahteraan Emosional Lansia Dengan Demensia di Posyandu Lansia Wilayah RW 01 Ciriung Kecamatan Cibinong

2026•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami penurunan kesejahteraan emosional akibat perubahan psikososial yang terjadi selama proses penuaan. Upaya promotif dan preventif diperlukan untuk menjaga kondisi emosional lansia, salah satunya melalui terapi reminiscence yang berfokus pada pengingatan pengalaman hidup masa lalu yang bermakna. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara frekuensi terapi reminiscence dengan kesejahteraan emosional pada lansia di Posyandu RW 01.Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pra- eksperimental. Jumlah responden sebanyak 56 lansia. Pengukuran frekuensi reminiscence dilakukan menggunakan Reminiscence Functions Scale (RFS), sedangkan kesejahteraan emosional diukur menggunakan kuesioner kesejahteraan emosional. Analisis univariat digunakan untuk melihat distribusi frekuensi, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji SpearmanRank. Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar lansia memiliki frekuensi terapi reminiscence pada kategori sedang (48,2%), diikuti kategori tinggi (30,4%) dan kategori rendah (21,4%). Pada variabel kesejahteraan emosional, mayoritas responden berada pada kategori sangat sejahtera (78,6%), sedangkan 21,4% berada pada kategori tidak sejahtera. Uji statistik Spearman Rank menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara frekuensi terapi reminiscence dengan kesejahteraan emosional lansia dengan nilai p-value = 0,000(p<0,05). Kesimpulan: Frekuensi terapi reminiscence memiliki hubungan yang signifikan dengan kesejahteraan emosional lansia. Lansia yang lebih sering melakukan reminiscence cenderung memiliki kesejahteraan emosional yang lebih baik.

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Jalan Kaki Terhadap Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik Pada Pasien Lansia Penderita Hipertensi di Sentra Terpadu Pangudi Luhur Bekasi Tahun 2025

2025•Koleksi Perpustakaan

Hipertensi merupakan kondisi kronis yang umum terjadi pada kelompok lanjut usia dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius seperti gangguan jantung, stroke, penyakit pembuluh darah tepi, serta kerusakan retina mata yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan (Kemenkes, 2022). Aktivitas jalan kaki secara rutin terbukti mampu membantu mencegah, mengontrol, dan menstabilkan tekanan darah, baik sistolik maupun diastolik, pada lansia pengidap hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh aktivitas jalan kaki terhadap tekanan darah lansia penderita hipertensi di Sentra Terpadu Pangudi Luhur, Bekasi, pada tahun 2025. Pendekatan penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan quasi experimental model one group pre-test and post-test. Sampel terdiri dari 80 orang lansia yang memiliki riwayat hipertensi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon, yang menampilkan adanya perbedaan signifikan antara nilai tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi, dengan hasil p = 0,002 untuk sistolik dan p = 0,000 untuk diastolik (p < 0,05), sehingga hipotesis dinyatakan diterima. Dari temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa jalan kaki secara teratur memberikan dampak positif terhadap penurunan tekanan darah pada lansia. Disarankan agar lansia melakukan jalan kaki minimal tiga kali seminggu selama 30 menit untuk membantu menjaga kestabilan tekanan darah mereka.

15 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN POLA MAKAN DAN AKTIVITAS GISIK DENGAN KEJADIAN OBESITAS PADA LANSIA DI PUSKESMAS TAMBELANG

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar belakang : Obesitas merupakan masalah kesehatan yang disebabkan oleh ketidakseimbangan energi akibat pola makan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik. Prevalensi obesitas pada kelompok pra lansia (usia 45-59 tahun) di Desa Sukawijaya Wilayah Puskesmas Tambelang, cukup tinggi yaitu sebanyak 72 pra lansia. Prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas di Kota Bekasi mencapai 17,41%, sementara di Kabupaten Bekasi angkanya sebesar 10,17% (Kemenkes, 2019). Obesitas pada pra lansia dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola makan dan aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada pra lansia di Desa Sukawijaya. Metode Penelitian : Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan total sampling, melibatkan 72 responden. Status obesitas ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT), pola makan diukur menggunakan kuesioner tentang jenis, frekuensi, dan jumlah makan, sedangkan aktivitas fisik diukur menggunakan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pola makan dengan obesitas (p-value 0,002) dan aktivitas fisik dengan obesitas (p-value 0,011). Kesimpulan : Hasil menujukan adanya hubungan pola makan dan aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada pra lansia di Desa Sukawijaya. Saran : Pra lansia di Desa Sukawijaya disarankan untuk menerapkan pola makan sehat dengan makanan bergizi seimbang dan tinggi serat, serta meningkatkan aktivitas fisik melalui olahraga ringan seperti jalan kaki atau senam untuk menjaga keseimbangan energi dan mencegah obesitas.

11 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN POLA MAKAN DAN AKTIVITAS GISIK DENGAN KEJADIAN OBESITAS PADA LANSIA DI PUSKESMAS TAMBELANG

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar belakang : Obesitas merupakan masalah kesehatan yang disebabkan oleh ketidakseimbangan energi akibat pola makan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik. Prevalensi obesitas pada kelompok pra lansia (usia 45-59 tahun) di Desa Sukawijaya Wilayah Puskesmas Tambelang, cukup tinggi yaitu sebanyak 72 pra lansia. Prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas di Kota Bekasi mencapai 17,41%, sementara di Kabupaten Bekasi angkanya sebesar 10,17% (Kemenkes, 2019). Obesitas pada pra lansia dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola makan dan aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada pra lansia di Desa Sukawijaya. Metode Penelitian : Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan total sampling, melibatkan 72 responden. Status obesitas ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT), pola makan diukur menggunakan kuesioner tentang jenis, frekuensi, dan jumlah makan, sedangkan aktivitas fisik diukur menggunakan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pola makan dengan obesitas (p-value 0,002) dan aktivitas fisik dengan obesitas (p-value 0,011). Kesimpulan : Hasil menujukan adanya hubungan pola makan dan aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada pra lansia di Desa Sukawijaya. Saran : Pra lansia di Desa Sukawijaya disarankan untuk menerapkan pola makan sehat dengan makanan bergizi seimbang dan tinggi serat, serta meningkatkan aktivitas fisik melalui olahraga ringan seperti jalan kaki atau senam untuk menjaga keseimbangan energi dan mencegah obesitas.

9 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kejadian Penyakit Diabetes Mellitus Tipe II Pada Pasien Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Pebayuran Kabupaten Bekasi

2024•Koleksi Perpustakaan

Latar belakang: Kurangnya dukungan keluarga dapat mengakibatkan kejadian penyakit diabetes militus tipe 2 dimana diabetes melitus akan merusak tubuh dan organ penderitanya hingga menimbulkan komplikasi serta gangguan lain. komplikasi akibat diabetes militus di bagi menjadi dua (mikrovaskular dan makrovaskular). Berdasarkan peneliti pada tahun 2021. Prevalensi diabetes militus meningkat seiring pertambahan umur penduduk menjadi 19.9% jiwa pada umur 65-79 tahun, diprediksikan akan terus meningkat. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kejadian diabetes militus tipe 2 di wilayah kerja puskesmas pebayuran kabupaten bekasi. Metode Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan pendeketan cross-sctional Pengumpulan data menggunakan kuesioner Dukungan Keluarga Hensarling Diabetes Family Support Scale (HDFSS) Subjek penelitian adalah pasien DM tipe 2 di puskesmas pebayuran yang berjumlah 80 responden. Tujuan penelitian: Ini adalah untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kejadian penyakit diabetes militus tipe 2 pada pasien lansia di wilayah kerja puskesmas pebayuran kabupaten bekasi. Hasil: Didapatkan ada hubungan dukungan keluarga dengan kejadian diabetes militus tipe 2 dengan nilai P-value 0,002 (a<0,005) dan memiliki hubungan yang sangat kuat ditunjukan dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0.324. Kesimpulan: Adanya hubungan dukungan keluarga dengan kejadian diabetes militus tipe 2 pada pasien lansia di wilayah kerja puskesmas pebayuran kabupaten bekasi.

12 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PEMBERIAN AEROBIC EXERCISE TERHADAP KEMAMPUAN AKTIFITAS FUNGSIONAL PADA LANSIA STROKE

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Proses penuaan adalah hal yang normal, namun bisa saja diiringi dengan masalah medis seperti terkenanya stroke salah satu masalah stroke yaitu terganggunya aktifitas fungsional pada lansia stroke. Faktor-faktor utama stroke pada lansia adalah usia semakin menua akan semakin rentan terkena hipertensi, penyakit jantung, obesitas, diabetes mellitus, stress emosional, merokok, peminum alcohol dan kurangnya berolahraga. Gangguan aktifitas fungsional pada lansia disebabkan oleh lamanya menderita stroke transisi dari ketergantungan aktivitas hidup sehari-hari menjadi independen terjadi terutama pada tahun pertama pacsa stroke sampai 5 tahun pasca stroke dan gangguan kognisi menunjukkan gangguan kognisi termasuk gangguan memori kerja memiliki korelasi yang signifikan dengan kemandirian aktivitas hidup sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aerobic exercise terhadap kemampuan aktifitas fungsioanal pada lansia stroke. Metode penelitian quasi experiment menggunakan desain penelitian one group pre-test and post-test. Jumlah responden 20 orang lansia yang berusia 60 tahun keatas yang di kunjungi ke rumah – rumah di pasien nya di bawah Yayasan Senyum Sehat Home Care yang dipilih dengan satu kelompok perlakuan dengan di berikan aerobic exercise selama 4 minggu, Teknik pengumpulan data dengan melakukan pengukuran menggunakan indexs barther pre-test dan post-test. Hasil: satu kelompok pengujian menggunakan unpaired t-test didapatkan hasil p value = 0,0314* pada pasca lansia stroke.

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Edu-Kinesiologi Terhadap Peningkatan Daya Ingat Pada Dementia

2024•Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Saat ini kita mulai memasuki periode aging population, dimana terjadi peningkatan umur harapan hidup yang diikuti dengan peningkatan jumlah lansia. Demensia merupakan penyakit degeneratif yang sering menyerang pada orang yang berusia diatas 60 tahun. Salah satu model aktivitas fisik yang didesain untuk lansia dengan dementia adalah senam vitalisasi otak. Dari beberapa model aktivitas fisik, salah satunya adalah cross lateral movement yang dapat meningkatkan kebugaran otak. Cros Lateral Movement adalah gerakan yang melintasi dari sisi tubuh satu ke sisi tubuh yang lain atau melintasi garis tengah tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari Edukasi Kinesiologi (Cross Lateral Movement) pada sistem daya ingat pada lansia dengan Dementia. Metode Penelitian: Penelitian ini bersifat eksperimental dengan rancangan yang digunakan Randomized Pre and Post Control Group Design. Jumlah responden 25 orang lansia dari 2 kelompok yang berbeda yang dipilih menggunakan purposive sampling. Dibagi menjadi 2 group yaitu 20 org diberikan perlakuan Cross Lateral Movement dengan 2x per minggu selama 30 menit dalam 8 minggu dan 5 orang tidak diberikan perlakuan. Kemudian dilakukan pengukuran dengan menggunakan Short Portable Mental Status Quesionaire. Hasil: Kelompok perlakuan diuji dengan un-paired T-test didapatkan hasil dengan nilai P-Value <0,0001, sedangkan pada kelompok kontrol menunjukan tidak terdapat perubahan yang signifikan dengan p value sebesar 0,6996. Simpulan: ada pengaruh Cross Lateral Movement terhadap peningkatan daya ingat pada demensia.

10 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Sikap Dalam Pencegahan Komplikasi Diabetes Pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Sukaindah Kabupaten Bekasi 2021

2022•Koleksi Perpustakaan

Diabetes Melitus adalah penyakit kronis yang terjadi baik ketika pancreas tidak menghasilkan cukup insulin yang dihasilkan (Komariah & Rahayu, 2020). studi pendahuluan yang dilakukan di puskesmas Sukaindah Kabupaten hasil wawancara pada 10 responden diperoleh 4 responden memiliki pengetahuan dan sikap yang baik dalam pencegahan komnplikasi diabetes melitus sedangkan 6 responden lainnya mengatakan bahwa kurang mengetahui terkait pencegahan komplikasi diabetes. Tujuannya untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan sikap dalam pencegahan komplikasi diabetes pada lansia dengan desain penelitian korelasional. Populasi penelitian adalah pasien diabetes berjumlah 35 orang. Sampelnya sebanyak 35 orang menggunakan teknik sampel jenuh yaitu semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Analisa data bivariat yang digunakan adalah uji chi square dengan hasil p value = 0,000 dapat dismpulkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan sikap dalam pencegahan komplikasi diabetes. Dari hasil analisis diperoleh OR sebesar 73,333 artinya kelompok dengan tingkat pengetahuan yang baik mempunyai efek proteksi atau perlindungan sebesar 73,333 kali dibandingkan dengan yang tidak memiliki tingkat pengetahuan baik dalam pencegahan komplikasi diabetes.

11 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail