2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Hipertensi memerlukan terapi jangka panjang untuk mengendalikan tekanan darah dan mencegah komplikasi kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan distribusi nilai risiko kardiovaskular antara kelompok kerasionalan terapi dan kelompok kepatuhan terapi antihipertensi pada pasien hipertensi di Rumah Sakit X. Penelitian observasional analitik berdesain retrospektif ini menggunakan data sekunder dari 40 rekam medis pasien hipertensi rawat jalan BPJS berusia 40–74 tahun periode Januari–Juni 2026 yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Kerasionalan terapi dinilai berdasarkan ketepatan indikasi, pasien, obat, dan dosis dengan JNC 8 dan PNPK Tata Laksana Hipertensi Dewasa 2026 sebagai acuan utama, serta Formularium Nasional dan informasi resmi BPOM sebagai acuan pendukung untuk bentuk dan kekuatan sediaan tertentu. Kepatuhan dinilai menggunakan Medication Possession Ratio (MPR), sedangkan risiko kardiovaskular 10 tahun dihitung menggunakan ASCVD Risk Calculator. Nilai risiko ASCVD antarkelompok kerasionalan dan kepatuhan dianalisis secara terpisah menggunakan uji Mann–Whitney U dengan exact significance dua arah. Hasil menunjukkan bahwa 26 pasien (65,0%) menerima terapi rasional dan 14 pasien (35,0%) menerima terapi tidak rasional; 37 pasien (92,5%) patuh dan 3 pasien (7,5%) tidak patuh. Terdapat perbedaan distribusi nilai risiko ASCVD yang bermakna antara kelompok terapi rasional dan tidak rasional (p-value =0,004), dengan peringkat risiko lebih tinggi pada kelompok tidak rasional. Tidak ditemukan perbedaan distribusi nilai risiko ASCVD antara kelompok patuh dan tidak patuh (p-value=0,996). Dengan demikian, perbedaan distribusi nilai risiko ASCVD ditemukan pada pengelompokan kerasionalan terapi, tetapi tidak ditemukan pada pengelompokan kepatuhan terapi.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Pengendalian hipertensi tidak hanya dipengaruhi oleh kepatuhan pasien, tetapi juga oleh ketepatan pemilihan dan penggunaan obat. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kerasionalan dan kepatuhan terapi antihipertensi terhadap risiko kardiovaskular pada pasien hipertensi di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan potong lintang. Sampel terdiri atas 46 pasien hipertensi peserta BPJS yang menjalani pengobatan pada periode Januari–Juli 2026 dan dipilih secara purposive sampling. Kerasionalan terapi dinilai dari rekam medis berdasarkan tepat pasien, tepat obat, tepat indikasi, dan tepat dosis. Kepatuhan diukur menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8, sedangkan risiko kardiovaskular dihitung dengan kalkulator risiko Atherosclerotic Cardiovascular Disease. Analisis bivariat menggunakan uji Fisher. Hasil menunjukkan 30 responden (65,2%) memperoleh terapi rasional, 22 responden (47,8%) memiliki kepatuhan sedang, dan 15 responden (32,6%) berada pada risiko kardiovaskular rendah. Kerasionalan terapi berpengaruh signifikan terhadap risiko kardiovaskular (p=0,036), sedangkan kepatuhan terapi tidak berpengaruh signifikan (p=0,796). Hasil ini menunjukkan bahwa pengendalian risiko kardiovaskular pada pasien hipertensi memerlukan penggunaan obat yang rasional disertai pengendalian faktor risiko lainnya.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular yang prevalensinya terus meningkat. Kepatuhan terhadap terapi antihipertensi sangat penting untuk mencegah komplikasi.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara kepatuhan terapi antihipertensi dengan risiko kardiovaskular pada pasien hipertensi.
Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional pada 85 pasien hipertensi di Puskesmas Telaga Murni. Instrumen yang digunakan yaitu MARS-5 dan MPR untuk menilai kepatuhan, serta ASCVD Risk Estimator untuk menilai risiko kardiovaskular. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square.
Hasil: Mayoritas responden memiliki kepatuhan baik (MARS-5: 91,8%; MPR: 75,3%) dan risiko ASCVD rendah (52,9%). Uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara kepatuhan MPR dan risiko ASCVD (p=0,049), sedangkan kepatuhan MARS-5 juga menunjukkan nilai p=0,041. Namun, pada kedua pengukuran tidak ditemukan pola hubungan linier antara tingkat kepatuhan dan kategori risiko ASCVD.
Kesimpulan: Kepatuhan pasien terhadap terapi antihipertensi belum terbukti berhubungan secara signifikan dengan risiko kardiovaskular. Diperlukan edukasi dan pemantauan berkala untuk menurunkan risiko secara menyeluruh.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia, khususnya di wilayah industri seperti Kabupaten Bekasi. Pengetahuan pasien terhadap penyakit hipertensi memengaruhi kepatuhan dalam menjalani pengobatan dan keberhasilan terapi yang diukur melalui luaran klinis berupa ketercapaian tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum obat dan luaran klinis pada pasien hipertensi di Puskesmas Setu 1 Kabupaten Bekasi. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 91 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner HK-LS untuk menilai pengetahuan, MMAS-8 untuk kepatuhan, serta data rekam medis untuk luaran klinis. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum obat (p = 0,009) dan luaran klinis tekanan darah (p = 0,003). Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan pasien, maka semakin tinggi pula kepatuhan terhadap pengobatan dan keberhasilan pencapaian tekanan darah sesuai target.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar belakang: Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular yang dapat dicegah melalui pengelolaan tekanan darah dan kepatuhan terapi. Namun, hubungan keduanya belum konsisten. Tujuan: Mengetahui hubungan kepatuhan terapi antihipertensi dengan risiko kardiovaskular pada pasien hipertensi di Puskesmas Cikarang. Metode: Penelitian analitik kuantitatif cross-sectional pada 85 pasien hipertensi usia 40-79 tahun yang dipilih secara purposive. Kepatuhan diukur dengan kuesioner MARS-5 dan MPR, sedangkan risiko kardiovaskular dihitung dengan skor ASCVD. Analisis menggunakan uji Chi-Square dan uji linearitas. Hasil: Mayoritas pasien memiliki kepatuhan tinggi (MARS-5 = 91,8%; MPR = 76,5%) dan risiko kardiovaskular rendah (64,7%). Terdapat hubungan signifikan antara kepatuhan dengan risiko kardiovaskular (MARS-5 p = 0,041; MPR p = 0,049). Kesimpulan: Kepatuhan tinggi berhubungan dengan risiko kardiovaskular lebih rendah, terutama berdasarkan MARS-5. Edukasi berkelanjutan dan pemantauan rutin diperlukan untuk menjaga kepatuhan serta mencegah komplikasi.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat di Indonesia. Pengetahuan pasien tentang penyakit dan pengobatannya diyakini berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan minum obat serta luaran klinis. Tujuan: Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum obat dan luaran klinis pada pasien hipertensi di Puskesmas Cikarang. Metode: Penelitian kuantitatif observasional analitik dengan desain potong lintang (Cross-sectional) pada 51 pasien hipertensi yang menjalani terapi minimal 3 bulan, menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen meliputi kuesioner HK-LS untuk pengetahuan, MMAS-8 untuk kepatuhan, serta rekam medis untuk luaran klinis. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan Correlation Pearson. Hasil: Sebagian besar responden memiliki pengetahuan tinggi (70,59%), namun kepatuhan rendah (47,06%). Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dan kepatuhan (p=0,039), tetapi tidak dengan luaran klinis (p=0,733). Kesimpulan: Pengetahuan tinggi berhubungan dengan kepatuhan, namun tidak selalu menghasilkan luaran klinis optimal, sehingga faktor lain perlu dipertimbangkan dalam manajemen hipertensi.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : penyakit Hipertensi merupakan penyakit yang paling banyak
menimbulkan permasalahan Kesehatan. Salah satu permasalahan Kesehatan yang
ditimbulkan oleh hipertensi yaitu dispepsia. Penggunaan obat antihipertensi dan obat
dispepsia yang rasional dibutuhkan untuk mencapai luaran klinis untuk meningkatkan
kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kerasionalan
pengobatan dan luaran klinis pasien rawat inap hipertensi dengan dispepsia di Rumah Sakit
Umum “X”. Subyek dan Metode : penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif
analitik. Pengambilan data secara retrospektif dengan metode total sampling untuk data
periode Januari 2022 – Juli 2024 dengan jumlah sampel sebanyak 37 rekam medis pasien.
Analisis data menggunakan uji statistic chi-square, yang mana nilai p < 0.05 dinyatakan
signifikan secara statistik. Hasil : hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang
mendapatkan pengobatan rasional dengan terkontrol sebanyak 15 pasien (78.9%), yang
mendapatkan pengobatan rasional tetapi tidak terkontrol sebanyak 4 pasien (21.1%), yang
mendapatkan pengobatan tidak rasional dengan terkontrol sebanyak 18 pasien (100%), dan
yang mendapatkan pengobatan tidak rasional dengan tidak terkontrol sebanyak 0 pasien
(0%). Kesimpulan : terdapat hubungan signifikan rasionalitas penggunaan obat dan luaran
klinis pasien berupa tercapainya target tekanan darah dan gejala dispepsia di Rumah Sakit
Umum “X”.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar belakang : Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Departemen Kesehatan (Riskesdas), prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 34,1%. Mengingat peningkatan hipertensi dan permasalahannya setiap tahun serta penggunaan obat antihipertensi seumur hidup, pemilihan obat merupakan bagian penting untuk mencapai luaran klinis yang berkualitas. Tujuan : Untuk mengetahui hubungan kerasionalan pengobatan dengan luaran klinis pasien rawat inap hipertensi dengan diabetes melitus tipe II di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode Penelitian : Metode penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian pasien rawat inap hipertensi dengan diabetes melitus tipe II di RSUD Kabupaten Bekasi pada bulan Januari sampai dengan Desember 2023, dengan pemilihan sampel menggunakan rumus total sampling. Pengumpulan data secara sekunder menggunakan rekam medis. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Chi Square. Hasil dan Kesimpulan : Berdasarkan hasil uji Chi Square diperoleh (p-value 0,004 <0,05). Apabila p<0,005 maka dapat disimpulkan terdapat hubungan antara kerasionalan pengobatan dengan luaran klinis pada pasien hipertensi dengan diabetes melitus tipe II di RSUD Kota Bekasi.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Diabetes melitus Tipe 2 merupakan penyakit kronik yang membutuhkan pengobatan jangka panjang pada obat antidiabetes oral atau insulin. DM tipe 2 sering ditemukan pada kalangan masyarakat terutama pada pasien diatas 50 tahun. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik pasien DM lansia, mengetahui golongan obat serta jenis obat apa saja yang digunakan pada pasien DM, mengetahui jumlah obat yang digunakan dan mengetahui aturan pakai obat pada pasien DM lansia. Di puskesmas Mekarmukti sendiri penyakit DM yaitu penyakit yang cukup tinggi dikalangan masyarakat. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, pengambilan data nya dengan cara retrospektif dengan teknik total sampling yang dilakukan pada 45 data rekam medis pasien rawat jalan di Puskesmas Mekarmukti. Instrumen yang digunakan berupa rekam medis dan form. Hasil dari penelitian ini yaitu pola penggunaan antidiabetes di bulan Januari-Februari terdiri dari monoterapi serta kombinasi. Penggunaan obat DM yang paling banyak digunakan adalah golongan biguanid dan sulfonilurea dengan persentase 54%. Berdasarkan jenis obat yang paling banyak digunakan adalah metformin dan glimepirid dengan persentase 54%. Berdasarkan usia yang paling banyak usia 55-65 tahun dengan persentase 47%. Berdasarkan jenis kelamin didominasi oleh perempuan dengan persentase 60%. Berdasarkan jumlah obat yang paling banyak digunakan adalah >2 obat dengan persentase 53%.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Kepuasan pasien merupakan suatu perasaan pasien setelah membandingkan kinerja yang didapat dengan harapan pasien, salah satu faktornya yaitu karakteristik pasien. Setiap pasien memiliki karakteristik yang berbeda-beda, hal itu akan berakibat pada penilaian atau tingkat kepuasan yang berbeda pula pada pelayanan kesehatan yang diberikan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara karakteristik pasien berdasarkan usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, pekerjaan, dan frekuensi kunjungan dengan tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di Puskesmas Mekarmukti periode April – Mei 2023. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan metode survei. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel 96 responden yang diperoleh berdasarkan rumus slovin. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, kemudian diolah menggunakan SPSS 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada uji chi square analisis hubungan pada karakteristik berdasarkan usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan frekuensi kunjungan dengan tingkat kepuasan mendapatkan hasil tidak terdapat hubungan yang signifikan, karena p value > 0,1. Sedangkan pada karakteristik berdasarkan pendidikan terakhir memiliki hubungan yang signifikan, yaitu nilai p value 0,078 < 0,1. Tingkat kepuasan pasien di Puskesmas Mekarmukti secara keseluruhan didapatkan hasil bahwa pasien merasa sangat puas terhadap pelayanan kefarmasian yang diberikan.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Hipertensi adalah gangguan yang terjadi pada sistem peredaran darah yang menyebabkan meningkatnya tekanan darah di atas nilai normal, yaitu tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Cikarang periode Januari-Februari 2023. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimentak dengan metode deskriptif dan pengambilan data seraca restrospektif. Data diambil dari rekam medis pasien hipertensi. Hasil penelitian menggunakan 46 sampel, didapatkan hasil karakteristik pasien hipertensi berdasarkan usia, tekanan darah dan penyakit penyerta. Pada pola pengobatan hipertensi berdasarkan usia didapatkan hasil pasien usia 30-60 tahun terbanyak menggunakan golongan Calium Channel Blocker (CCB) yaitu amlodipine 5mg sebesar 74%, begitupun usia 61-70 tahun terbanyak menggunakan amlodipine 5mg sebesar 18%. Pada pola pengobatan hipertensi berdasarkan tekanan darah didapatkan hasil pasien dengan hipertensi stage II terbanyak menggunakan golongan Calium Channel Blocker (CCB) yaitu amlodipine 5mg sebesar 61%, begitupun hipertensi stage I terbanyak menggunakan amlodipine 5mg sebesar 30%. Pada pola pengobatan hipertensi berdasarkan penyakit penyerta didapatkan hasil pasien dengan DM terbanyak menggunakan amlodipine 5mg sebesar 9%, namun tidak terdapat pasien hipertensi dengan gagal ginjal kronis.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri atau bersifat bakteriostatik yaitu menghambat terjadinya perkembangbiakan bakteri. Antibiotik Amoxicillin merupakan antibiotik yang paling banyak dikenal sekaligus dipergunakan oleh masyarakat tanpa resep dokter. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dengan sikap terhadap penggunaan antibiotik Amoxicillin. Menggunakan penelitian kuantitatif yang dilakukan pada 58 responden di kampung Wangunjaya RT 11/03 Kab. Purwakarta. Menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, Diuji menggunakan SPSS analisis univariat dan bivariat serta uji chi-square kuadrat. Dari penelitian ini didapatkan hasil dengan nilai (p = 0,000) yang artinya terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan dengan sikap terhadap penggunaan antibiotik Amoxicillin. Responden yang tingkat pengetahuannya kurang baik dan memiliki sikap yang kurang baik berisiko menggunakan antibiotik Amoxicillin yang tidak sesuai dengan aturan pakai. Tingkat pengetahuan yang baik dapat mengurangi dampak negatif penggunaan antibiotik Amoxicillin yang tidak sesuai aturan pakai.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang Analgetik termasuk obat yang digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri tanpa mempengaruhi kesadaran seseorang. Swamedikasi merupakan sumber utama pilihan kesehatan dan menjadi bagian upaya masyarakat untuk memperoleh kesehatan atas usahanya sendiri sesuai kemampuan serta pengetahuan yang dimiliki. Adapun tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui bagaimana hubungan karakteristik dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki masyarakat Dusun Krasak Desa Tegalsari terhadap swamedikasi analgetik. Metode penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan kuesioner. Populasi pada penelitian ini sebanyak 300 jiwa. Dengan teknik purposive sampling dan menentukan jumlah sampel menggunakan rumus slovin sehingga didapatkan sampel pada penelitian sebanyak 75 sampel. Alat ukur yang digunakan berupa kuesioner dan analisis data menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan tentang swamedikasi analgetik tergolong baik sebanyak 62 responden (82,7%). Karakteristik masyarakat meliputi usia, pendidikan, tempat memperoleh obat, keluhan penyakit dan jenis obat yang digunakan mempunyai hubungan yang signifikan dengan tingkat pengetahuan terhadap swamedikasi analgetik, karena nilai p value yang diperoleh kurang dari nilai signifikan α yang digunakan yaitu 0,1. Nilai p value usia ( p = 0,082), pendidikan (p = 0,001), tempat memperoleh obat (p = 0,000), keluhan penyakit (p = 0,022) dan p value dari jenis obat yang digunakan sebesar (p = 0,000). Kesimpulan karakteristik masyarakat yang mempunyai hubungan signifikan dengan tingkat pengetahuan pada swamedikasi analgetik diantaranya usia, pendidikan, tempat memperoleh obat, keluhan penyakit dan jenis obat yang digunakan.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Asma saat ini telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di berbagai negara yang dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup. Asma merupakan penyakit saluran napas kronis dengan gejala dan dapat bervariasi mulai dari mengi, rasa berat di dada, sesak napas dan batuk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengatahui pola penggunaan obat asma berdasarkan derajat asma pada pasien di Puskesmas Cikarang Kabupaten Bekasi pada periode Januari-Maret 2023. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Populasi pada penelitian ini sebanyak 25 rekam medis. cara pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data menggunakan analisis univariat secara deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif kemudian di pindahkan ke lembar pengumpulan data penelitian. Data penelitian yang di peroleh dari rekam medis Puskesmas Cikarang Kabupaten Bekasi periode Januari-Maret 2023. Data hasil penelitian penderita asma berdasarkan karakteristik pasien asma yang paling banyak diderita oleh perempuan sebanyak 52%. Pada pasien dengan rentang usia 46-65 tahun (lansia) sebanyak 28% dan penggunaan obat asma berdasarkan derajat asma yang paling banyak adalah persisten ringan sebanyak 40% menggunakan obat salbutamol sebanyak 12%.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Kepatuhan (obedience) adalah suatu tindakan, perbuatan atau perubahan sikap dan tingkah laku seseorang untuk menerima, mematuhi, dan mengikuti permintaan atau perintah orang lain dengan penuh kesadaran. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan karakteristik dengan tingkat kepatuhan penggunaan obat pada pasien hipertensi di Puskesmas Cikarang.
Jenis penelitian ini adalah penelitian yang menggunakan metode deskriptif analitik yang bersifat observasional. Populasi pada penelitian ini sebanyak 3.627 pasien. Cara pengambilan sampel menggunakan Teknik accidental sampling dan menentukan jumlah sampel dengan menggunakan rumus slovin sehingga didapatkan sampel pada penelitian ini sebanyak 98 pasien. Alat ukur yang digunakan adalah berupa kuesioner dan analisis data menggunakan uji korelasi Rank Spearman.
Pada penelitian ini dari karakteristik pasien menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan yang signifikan antara karakteristik tingkat pendidikan dengan nilai Sig = 0,688 (<0,1), dan pekerjaan diperoleh nilai Sig = 0,191 (<0,1) dengan tingkat kepatuhan penggunaan obat pada pasien hipertensi di Puskesmas Cikarang. Sementara, karakteristik jenis kelamin dengan nilai Sig = 0,005 (<0,1), usia dengan nilai Sig = 0,003 (<0,1), dan penyakit penyerta diperoleh nilai Sig = 0,037 (<0,1) menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara karakteristik dengan tingkat kepatuhan penggunaan obat pada pasien hipertensi di Puskesmas Cikarang.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Sebanyak 90% dari seluruh diabetes di dunia yang paling umum terjadi terdapat dikategori kedua yaitu diabetes mellitus tipe 2. Keberhasilan terapi diabetes mellitus sangat dipengaruhi dari kepatuhan pasien dalam menjalankan pengobatan. Tingkat kepatuhan pada pasien diabetes mellitus tipe 2 dalam penggunaan obat antidiabetes oral masih rendah berkisar antara 30-70%, yang dapat memberikan efek negatif pada pasien penderita diabetes mellitus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan karakteristik dengan kepatuhan penggunaan obat antidiabetes oral pada pasien diabetes mellitus tipe 2 rawat jalan di Puskesmas Cikarang.
Jenis penelitian ini adalah penelitian yang menggunakan metode deskriptif analitik dengan desain penelitian yang bersifat observasional. Populasi pada penelitian ini sebanyak 2.238. Cara pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling dan menentukan jumlah sampel menggunakan rumus slovin sehingga didapatkan sampel pada penelitian ini sebanyak 96 responden. Alat ukur yang digunakan adalah berupa kuesioner dan analisis data menggunakan uji korelasi spearman.
Pada karakteristik tingkat pendidikan sig 0,209 (sig >0,1) menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan serta memiliki hubungan yang sangat lemah dan bersifat searah (+0,129) dengan kepatuhan penggunaan obat pada pasien diabetes mellitus tipe 2 rawat jalan di Puskesmas Cikarang. Sementara pada karakteristik yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan yaitu pada usia sig 0,000 (sig <0,1) yang memiliki hubungan sedang dan bersifat berlawanan (-0,408), jenis kelamin sig 0,011 (sig <0,1) yang memiliki hubungan lemah dan bersifat searah (+0,260), pekerjaan sig sebesar 0,016 (sig <0,1) yang memiliki hubungan lemah dan bersifat searah (+0,246), lama menderita sig 0,040 (sig <0,1) yang memiliki hubungan sangat lemah dan bersifat berlawanan (-0,210) dengan kepatuhan penggunaan obat pada pasien diabetes mellitus tipe 2 rawat jalan di Puskesmas Cikarang.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Hipertensi merupakan kondisi yang sering didapatkan pada
pelayanan kesehatan primer dengan memiliki risiko morbiditas serta mortalitas
yang terus meningkat selaras dengan naiknya tingkatan tekanan sistolik dan
diastolik yang diakibatkan oleh gagal jantung, stroke dan gagal ginjal. Tujuan:
untuk mengetahui pola penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Mekarmukti
Januari-Februari 2023. Metode: penelitian deskriptif dengan rancangan penelitian
cross sectional menggunakan metode pengambilan data retrospektif yang diambil
dari penelusuran dokumen rekam medik pada bulan Juni tahun 2023 di Puskesmas
Mekarmukti. Sampel diambil menggunakan metode total sampling yaitu seluruh
pasien hipertensi yang memenuhi kriteria inklusi yaitu sebanyak 46 sampel pasien
hipertensi. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan hasil, pada karakteristik
berdasarkan usia tertinggi <60 tahun sebanyak 27 pasien(58,7%), jenis kelamin
tertinggi yaitu perempuan 29 pasien(54,3%), tekanan darah 140-159/90-99
sebanyak 25 pasien(54,3%) dan tekanan darah ≥160/100 sebanyak 21
pasien(45,6%), dan penyakit penyerta 16 pasien(34,8%). Untuk pola penggunaan
berdasarkan usia dan tekanan darah, untuk usia <60 tahun tekanan darah 140159/90-99
penggunaan obat tertinggi yaitu Amlodipine 5 mg sebanyak 7
pasien(15,2%) sedangkan untuk usia ≥60 tahun penggunaan obat tertinggi yaitu
Amlodipine 10 mg sebanyak 8 pasien(17,4%). Pada tekanan darah ≥160/100
dengan usia <60 tahun penggunaan obat tertinggi yaitu Amlodpine 10 mg sebanyak
12 pasien(26,1%) sedangkan untuk usia ≥60 tahun penggunaan obat tertinggi yaitu
Amlodipine 10 mg sebanyak 4 pasien(8,7%). Pada pasien hipertensi dengan
penyakit penyerta yang diderita yaitu Diabetes Melitus. Kesimpulan: dapat
disimpulkan dari penelitian ini bahwa untuk karakteristik berdasarkan usia dan
tekanan darah sesuai. Pada pola penggunaan obat berdasarkan usia dan tekanan
darah 140-159/90-99 sesuai dengan Pedoman Pelayanan Kefarmasian.
2023 · Book · Koleksi Perpustakaan
2023 · Book · Koleksi Perpustakaan
Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) merupakan penyakit jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Virus penyebab Covid-19 ini dinamakan Sars-CoV-2. Penyakit Covid-19 paling berisiko bagi yang pernah menderita penyakit sebelumnya (dalam istilah medis disebut komorbid). Penyakit penyerta (Komorbid) terbanyak adalah hipertensi. Dengan jumlah presentase penyakit hipertensi sebanyak 50,5%, lalu diikuti diabetes melitus 34,5%. (Kemenkes, 2020). Di masa pandemi saat ini terkait terapi pengobatan untuk pasien Covid-19, sangat diperlukan. Namun, belum ada pengobatan atau terapi khusus untuk Covid-19 saat ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui presentase rata-rata kesesuaian pola pengobatan pasien Covid-19 yang memiliki komorbid dengan Pedoman Tatalaksana Covid-19 Edisi 3 tahun 2020 di Rumah Sakit “X” periode Juni 2021 – November 2021. Pada penelitian ini dilakukan dengan metode analisis deskriptif yang menggunakan data retrospektif. Pengambilan data di ambil dengan penggunaan data sekunder dari rekam medis Pasien Covid-19 yang dirawat dengan komorbid Hipertensi dan atau Diabetes di RS “X” periode Juni 2021 - November 2021. Hasil dari penelitian didapatkan pasien perempuan 50% dan laki-laki 50%. Klasifikasi Komorbid terbanyak hipertensi sebanyak 44,4% di ikuti dengan diabetes sebanyak 27,8% dan yang memiliki komorbid keduanya sebanyak 27,8%. Pola kesesuaian pengobatan pasien kormorbid dengan Pedoman Tatalaksana Covid Edisi 3 tahun 2020 didapat nilai rata-rata sebesar 85%. Dimana hasil tersebut menunjukkan bahwa banyak pasien Covid-19 dengan komorbid di Rumah Sakit “X” yang pemberian obatnya sudah sesuai dengan rekomendasi pedoman tatalaksana Covid-19 edisi 3 2020.