ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Antibiotik berfungsi untuk membunuh ataupun menghambat pertumbuhan patogen dan pada umumnya digunakan untuk terapi penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Masyarakat Indonesia sebanyak 92% salah dalam penggunaan antibiotik. Penggunaan antibiotik pada anak berbeda degan orang dewasa. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu tentang antibiotik dengan rasionalitas penggunaan antibiotik pada balita di Desa Taringgul Tonggoh. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional cross sectional. Populasi pada penelitian ini sebanyak 207. Cara pengambilan sampel menggunakan teknik pursosive sampling dan menentukan jumlah sampel menggunakan rumus slovin sehingga didapatkan sampel pada penelitian sebanyak 137. Alat ukur yang digunakan adalah berupa kuesioner dan analisis data menggunakan uji korelasi spearman. Mayoritas responden memiliki pengetahuan tentang antibotik tergolong kurang sebanyak 85 atau 62.0% responden dan mayoritas responden memiliki tingkat rasionalitas tergolong kurang sebanyak 80 atau 58.4%. Hasil uji didapatkan nilai p yaitu 0.000 dan koefisiensi korelasi sebesar 0.507. hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif (searah) dan kuat. Pada penelitian ini terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang antibiotik dengan rasionalitas penggunaan antibiotik pada balita di Desa Taringgul Tonggoh. Saran untuk responden yaitu lebih meningkatkan pengetahuan tentang obat terutama tentang antibiotik dan untuk Desa Taringgul Tonggoh diharapkan sering mengadakan kegiatan yang mengedukasi masyarakat tentang obat terutama antibiotik dengan cara bekerjasama dengan bagian kesehatan wilayah.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Rasionalitas terapi berperan penting dalam menunjang keberhasilan pengobatan gastroenteritis akut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan rasionalitas pengobatan dengan lama rawat inap pasien gastroenteritis akut di Rumah Sakit Kartika Husada Setu. Penelitian menggunakan desain observasional analitik retrospektif terhadap 65 rekam medis pasien rawat inap periode Januari–Juni 2026 dengan teknik total sampling. Rasionalitas dinilai berdasarkan tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, tepat rute pemberian, dan tepat lama pemberian. Data yang didapat kemudian dievaluasi kerasionalannya. Hubungan antara kerasionalan terapi dengan lama rawat inap diuji menggunakan uji Fisher’s Exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 45 pasien (69,2%) menerima terapi rasional dan 20 pasien (30,8%) menerima terapi tidak rasional. Ketidakrasionalan ditemukan pada aspek ketepatan indikasi, ketepatan dosis, dan ketepatan lama pemberian. Uji Fisher’s Exact menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara rasionalitas terapi dan lama rawat inap (p=0,741). Kesimpulannya, sebagian besar pasien memperoleh terapi yang rasional (69,2%), dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara rasionalitas terapi dengan lama rawat inap.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi memerlukan terapi jangka panjang untuk mengendalikan tekanan darah dan mencegah komplikasi kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan distribusi nilai risiko kardiovaskular antara kelompok kerasionalan terapi dan kelompok kepatuhan terapi antihipertensi pada pasien hipertensi di Rumah Sakit X. Penelitian observasional analitik berdesain retrospektif ini menggunakan data sekunder dari 40 rekam medis pasien hipertensi rawat jalan BPJS berusia 40–74 tahun periode Januari–Juni 2026 yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Kerasionalan terapi dinilai berdasarkan ketepatan indikasi, pasien, obat, dan dosis dengan JNC 8 dan PNPK Tata Laksana Hipertensi Dewasa 2026 sebagai acuan utama, serta Formularium Nasional dan informasi resmi BPOM sebagai acuan pendukung untuk bentuk dan kekuatan sediaan tertentu. Kepatuhan dinilai menggunakan Medication Possession Ratio (MPR), sedangkan risiko kardiovaskular 10 tahun dihitung menggunakan ASCVD Risk Calculator. Nilai risiko ASCVD antarkelompok kerasionalan dan kepatuhan dianalisis secara terpisah menggunakan uji Mann–Whitney U dengan exact significance dua arah. Hasil menunjukkan bahwa 26 pasien (65,0%) menerima terapi rasional dan 14 pasien (35,0%) menerima terapi tidak rasional; 37 pasien (92,5%) patuh dan 3 pasien (7,5%) tidak patuh. Terdapat perbedaan distribusi nilai risiko ASCVD yang bermakna antara kelompok terapi rasional dan tidak rasional (p-value =0,004), dengan peringkat risiko lebih tinggi pada kelompok tidak rasional. Tidak ditemukan perbedaan distribusi nilai risiko ASCVD antara kelompok patuh dan tidak patuh (p-value=0,996). Dengan demikian, perbedaan distribusi nilai risiko ASCVD ditemukan pada pengelompokan kerasionalan terapi, tetapi tidak ditemukan pada pengelompokan kepatuhan terapi.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Pengendalian hipertensi tidak hanya dipengaruhi oleh kepatuhan pasien, tetapi juga oleh ketepatan pemilihan dan penggunaan obat. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kerasionalan dan kepatuhan terapi antihipertensi terhadap risiko kardiovaskular pada pasien hipertensi di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan potong lintang. Sampel terdiri atas 46 pasien hipertensi peserta BPJS yang menjalani pengobatan pada periode Januari–Juli 2026 dan dipilih secara purposive sampling. Kerasionalan terapi dinilai dari rekam medis berdasarkan tepat pasien, tepat obat, tepat indikasi, dan tepat dosis. Kepatuhan diukur menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8, sedangkan risiko kardiovaskular dihitung dengan kalkulator risiko Atherosclerotic Cardiovascular Disease. Analisis bivariat menggunakan uji Fisher. Hasil menunjukkan 30 responden (65,2%) memperoleh terapi rasional, 22 responden (47,8%) memiliki kepatuhan sedang, dan 15 responden (32,6%) berada pada risiko kardiovaskular rendah. Kerasionalan terapi berpengaruh signifikan terhadap risiko kardiovaskular (p=0,036), sedangkan kepatuhan terapi tidak berpengaruh signifikan (p=0,796). Hasil ini menunjukkan bahwa pengendalian risiko kardiovaskular pada pasien hipertensi memerlukan penggunaan obat yang rasional disertai pengendalian faktor risiko lainnya.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Berdasarkan data World Health Organization (WHO), pneumonia menyerang sekitar 450 juta orang setiap tahun, dengan 9,2 juta kasus secara global. Penyakit ini menempati peringkat ketiga sebagai penyebab kematian tertinggi, dengan 92% kasus berasal dari Asia dan Afrika. Tujuan penelitian : Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik pasien dewasa pneumonia dan mengevaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik di instalasi rawat inap RS Sentra Medika Cikarang tahun 2024. Metode : Penelitian ini merupakan studi non-eksperimental dengan desain deskriptif yang menggunakan pendekatan retrospektif melalui data rekam medis. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Hasil : Berdasarkan data rekam medis pasien pneumonia dewasa yang memenuhi kriteria inklusi di RS Sentra Medika Cikarang, mayoritas pasien berusia 56–65 tahun (69%) dan didominasi oleh laki-laki (54%). Penyakit penyerta terbanyak adalah TB Paru (23%). Terapi antibiotik yang paling banyak digunakan adalah terapi tunggal Levofloxacin (38%). Evaluasi dengan Metode Gyssens menunjukkan bahwa 77% penggunaan antibiotik tergolong tidak rasional. Kesimpulan : Evaluasi menggunakan Metode Gyssens di RS Sentra Medika Cikarang menunjukkan bahwa mayoritas penggunaan antibiotik tergolong tidak rasional.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : penyakit Hipertensi merupakan penyakit yang paling banyak
menimbulkan permasalahan Kesehatan. Salah satu permasalahan Kesehatan yang
ditimbulkan oleh hipertensi yaitu dispepsia. Penggunaan obat antihipertensi dan obat
dispepsia yang rasional dibutuhkan untuk mencapai luaran klinis untuk meningkatkan
kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kerasionalan
pengobatan dan luaran klinis pasien rawat inap hipertensi dengan dispepsia di Rumah Sakit
Umum “X”. Subyek dan Metode : penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif
analitik. Pengambilan data secara retrospektif dengan metode total sampling untuk data
periode Januari 2022 – Juli 2024 dengan jumlah sampel sebanyak 37 rekam medis pasien.
Analisis data menggunakan uji statistic chi-square, yang mana nilai p < 0.05 dinyatakan
signifikan secara statistik. Hasil : hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang
mendapatkan pengobatan rasional dengan terkontrol sebanyak 15 pasien (78.9%), yang
mendapatkan pengobatan rasional tetapi tidak terkontrol sebanyak 4 pasien (21.1%), yang
mendapatkan pengobatan tidak rasional dengan terkontrol sebanyak 18 pasien (100%), dan
yang mendapatkan pengobatan tidak rasional dengan tidak terkontrol sebanyak 0 pasien
(0%). Kesimpulan : terdapat hubungan signifikan rasionalitas penggunaan obat dan luaran
klinis pasien berupa tercapainya target tekanan darah dan gejala dispepsia di Rumah Sakit
Umum “X”.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang : Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Departemen Kesehatan (Riskesdas), prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 34,1%. Mengingat peningkatan hipertensi dan permasalahannya setiap tahun serta penggunaan obat antihipertensi seumur hidup, pemilihan obat merupakan bagian penting untuk mencapai luaran klinis yang berkualitas. Tujuan : Untuk mengetahui hubungan kerasionalan pengobatan dengan luaran klinis pasien rawat inap hipertensi dengan diabetes melitus tipe II di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode Penelitian : Metode penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian pasien rawat inap hipertensi dengan diabetes melitus tipe II di RSUD Kabupaten Bekasi pada bulan Januari sampai dengan Desember 2023, dengan pemilihan sampel menggunakan rumus total sampling. Pengumpulan data secara sekunder menggunakan rekam medis. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Chi Square. Hasil dan Kesimpulan : Berdasarkan hasil uji Chi Square diperoleh (p-value 0,004 <0,05). Apabila p<0,005 maka dapat disimpulkan terdapat hubungan antara kerasionalan pengobatan dengan luaran klinis pada pasien hipertensi dengan diabetes melitus tipe II di RSUD Kota Bekasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Antibiotik berfungsi untuk membunuh ataupun menghambat pertumbuhan patogen dan pada umumnya digunakan untuk terapi penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Masyarakat Indonesia sebanyak 92% salah dalam penggunaan antibiotik. Penggunaan antibiotik pada anak berbeda degan orang dewasa. Pada penelitian ini penulis mengangkat dari hubungan antara pengetahuan ibu tentang antibiotik dengan rasionalitas penggunaan antibiotik pada balita di Desa Taringgul Tonggoh. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional cross sectional. Cara pengambilan sampel menggunakan teknik pursosive sampling dan menentukan jumlah sampel menggunakan rumus slovin sehingga didapatkan sampel pada penelitian sebanyak 137. Alat ukur yang digunakan adalah berupa kuesioner dan analisis data menggunakan uji korelasi spearman dengan aplikasi SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang antibiotik dengan rasionalitas penggunaan antibiotik pada balita di Desa Taringgul Tonggoh dengan nilai p yaitu 0.000 dan koefisiensi korelasi sebesar 0.507. hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif (searah) dan kuat.