ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kepuasan pasien adalah suatu perasaan pasien yang muncul akibat kinerja pelayanan kesehatan yang didapatkan setelah pasien membandingkan yang dirasakannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa Tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di Puskesmas Tambun Kabupaten Bekasi dilihat dari parameter pengukurannya yaitu Berwujud, kehandalan, daya tanggap, kepastian, kepedulian. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian non eksperimental dengan perancangan desain deskriptif dengan pendekatan kuantitatif Pengambilan sampel penelitian tersebut dengan cara mempergunakan metode Purposive Sampling. Populasi pada penelitian ini ialah semua pasien dan keluarga pasien yang berkunjung ke Puskesmas Tambun dan mendapatkan resep dokter serta menebus obat di Instalasi Farmasi Puskesmas Tambun Kabupaten Bekasi yang telah berkunjung paling sedikit satu kali dengan sampel 95. Hasil penelitian tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di Puskesmas Tambun Kabupaten Bekasi dilihat dari parameter pengukuran berdasarkan dimensi yaitu tangible sebesar 72.57%, reliability sebesar 67.57%, responsiveness sebesar 68.22%, assurance sebesar 70.68%, dan emphaty sebesar 66.17%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang Secara garis besar hipertensi merupakan masalah kesehatan universal di seluruh dunia dan merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskular yang paling sering terjadi, serta belum terkendali secara optimal di seluruh dunia. Hipertensi adalah suatu keadaan tubuh seseorang mengalami tekanan darah (TD) meningkat di atas normal 140/90 mmHg. Tujuan penelitian mengetahui gambaran karakteristik pasien hipertensi berdasarkan jenis kelamin, usia, penyakit penyerta, kategori tekanan darah dan penggunaan obat antihipertensi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan observasional dengan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan data sekunder yang di ambil dari Puskesmas Cipayung Kota Depok Tahun 2022. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif yaitu diambil dari rekam medis pasien dalam periode bulan Juni – November tahun 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik berdasarkan jenis kelamin yang tertinggi perempuan sebanyak 79 (79,80%), karakteristik berdasarkan usia yang tertinggi usia 40 – 59 tahun sebanyak 51 (51,51%), penyakit penyerta hipertensi sebanyak 71 (71,72%), tekanan darah pasien meliputi tekanan darah awal dan akhir. Tekanan darah yang tertinggi yaitu hipertensi stage 1 sebanyak 52 (55,91%), penggunaan obat hipertensi yang sering digunakan adalah amolidipin sebanyak 91 obat (91,92%). Kesimpulan berdasarkan hasil gambaran penggunaan obat antihipertensi bahwa obat amlodipin yang paling banyak digunakan sebanyak 89 (91,75%).
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Asma saat ini telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di berbagai negara yang dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup. Asma merupakan penyakit saluran napas kronis dengan gejala dan dapat bervariasi mulai dari mengi, rasa berat di dada, sesak napas dan batuk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengatahui pola penggunaan obat asma berdasarkan derajat asma pada pasien di Puskesmas Cikarang Kabupaten Bekasi pada periode Januari – Maret 2023. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Populasi pada penelitian ini sebanyak 25 rekam medis. cara pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data menggunakan analisis univariat secara deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif kemudian di pindahkan ke lembar pengumpulan data penelitian. Data penelitian yang di peroleh dari rekam medis Puskesmas Cikarang Kabupaten Bekasi periode Januari-Maret 2023. Data hasil penelitian penderita asma berdasarkan karakteristik pasien asma yang paling banyak diderita oleh perempuan sebanyak 52%. Pada pasien dengan rentang usia 46-65 tahun (lansia) sebanyak 28% dan penggunaan obat asma berdasarkan derajat asma yang paling banyak adalah persisten ringan sebanyak 40% menggunakan obat salbutamol sebanyak 12%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang : Hipertensi menjadi masalah kesehatan masyarakat yang terjadi di negara maju maupun berkembang Menurut World Health Organization (WHO) Indonesia merupakan negara ke tiga penderita hipertensi setelah india. Tujuan: Mengetahui karakteristik pasien hipertensi di puskesmas karang bahagia dan mengetahui ada atau tidaknya perbedaan skor pada pasien hipertensi sebelum dan setelah dilakukan edukasi. Metode : Penelitian ini bersifat observasional menggunakan metode pretest dan posttest bersifat prospektif kepada pasien hipertensi di Puskesmas Karang Bahagia periode April-Juni 2023. Hasil : Hasil uji validitas pretest pengetahuan dinyatakan valid karena rHitung lebih besar dari rTabel (0,463) dengan taraf signifikan <0,05. Hasil uji releabilitas didapatkan nilai Cronbach’s alpha sebesar 0,698 maka pretest dinyatakan reliabel. Karakteristik pasien hipertensi di Puskesmas Karang Bahagia berdasarkan usia yang paling banyak yaitu usia 36-64 tahun sebanyak 52 pasien (71%), berdasarkan jenis kelamin paling banyak yaitu perenpuan berjumlah 57 pasien (79%), dan hasil posttest terdapat peningkatan skor atau nilai dengan frekuensi 64. Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian edukasi menggunakan leaflet pada pasien hipertensi di Puskesmas Karang Bahagia periode April-Juni 2023, dan didapat hasil pretest dan posttest terdapat perubahan skor sebanyak 64 (88%) dan tidak terdapat peningkatan skor 9 (12%) dan tidak ada penurunan skor pada hasil posttest.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Berdasarkan data Riskesdas 2018, prevalensi hipertensi mencapai 34,1%, meningkat dari hanya 26,5%, pada tahun 2013. Di Jawa Barat, prevalensi hipertensi lebih tinggi dari rerata nasional, yaitu 39,6%, pada tahun 2018. Kota Depok prevalensinya 21,74%. Hipertensi seringkali disebut “silent killer” karena tidak adanya gejala. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui Gambaran Peresepan Obat Antihipertensi di UPTD Puskesmas Tapos periode Juni–November Tahun 2022. Metode penelitian yang digunakan adalah Deskriptif yang bersifat Retrospektif, populasi yang digunakan pada penelitian ini semua resep yang masuk di UPTD Puskesmas Tapos periode Juni – November Tahun 2022. Hasil penelitian persentase peresepan penggunaan obat hipertensi yaitu perempuan sebanyak (64,21%) dari 95 pasien dan pada kelompok usia 45-65 tahun sebanyak (69,47%) dari 95 pasien. Zat aktif yang lebih banyak diresepkan adalah amlodipin sebanyak (51,58%) dari 95 resep. Golongan antihipertensi terbanyak yaitu golongan antagonis kalsium sebanyak (71,42%) dari 95 resep dan berdasarkan kombinasi obat yang paling banyak yaitu amlodipin+hidroklortiazid sebanyak (73,33% ) dari 95 resep.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Produksi ASI yang tidak optimal merupakan salah satu kendala dalam keberhasilan pemberian ASI eksklusif pada ibu nifas. Teknik Marmet merupakan metode nonfarmakologis berupa kombinasi pijatan dan pemerahan payudara secara manual yang dapat membantu merangsang pengeluaran ASI. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh teknik Marmet terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu nifas di Puskesmas Sukatenang Tahun 2026. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan one-group pretest-posttest. Sampel berjumlah 30 ibu nifas yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Produksi ASI diukur sebelum dan sesudah pemberian teknik Marmet. Intervensi dilakukan dua kali sehari selama tiga hari dengan durasi 15 menit. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Sebelum intervensi, sebanyak 24 responden (80,0%) memiliki produksi ASI tidak lancar dan 6 responden (20,0%) lancar. Setelah intervensi, 27 responden (90,0%) memiliki produksi ASI lancar dan 3 responden (10,0%) tidak lancar. Rata-rata produksi ASI meningkat dari 18,67 ± 5,026 mL menjadi 42,50 ± 7,873 mL. Hasil Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan seluruh responden mengalami peningkatan produksi ASI dengan p-value = 0,001 (p < 0,05). Kesimpulan: Teknik Marmet berpengaruh signifikan terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu nifas di Puskesmas Sukatenang Tahun 2026 dan dapat menjadi salah satu intervensi nonfarmakologis dalam asuhan kebidanan untuk mendukung optimalisasi produksi ASI.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Kepuasan pasien merupakan indikator penting dalam menilai mutu pelayanan kesehatan, dan pelayanan kefarmasian yang berorientasi pada pasien menjadi salah satu faktor penentu utamanya di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas. Meskipun standar pelayanan kefarmasian telah diatur melalui regulasi pemerintah, pelaksanaannya di lapangan masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan informasi obat hingga waktu tunggu pelayanan, sehingga evaluasi terhadap hubungan antara kualitas pelayanan kefarmasian dan kepuasan pasien menjadi penting, khususnya di Puskesmas Cikarang Kabupaten Bekasi yang belum pernah diteliti sebelumnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis kualitas pelayanan kefarmasian, tingkat kepuasan pasien, serta hubungan keduanya berdasarkan lima dimensi SERVQUAL, guna menjawab pertanyaan apakah kualitas pelayanan kefarmasian berhubungan signifikan dengan kepuasan pasien di puskesmas tersebut. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif cross-sectional dengan teknik accidental sampling terhadap 254 responden yang memenuhi kriteria inklusi, data dikumpulkan melalui kuesioner tervalidasi, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher's Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan kefarmasian dan tingkat kepuasan pasien secara umum berada pada kategori baik dan puas. Uji bivariat mengungkapkan hubungan yang signifikan antara pelayanan kefarmasian secara keseluruhan dengan kepuasan pasien (p=0,004), serta pada seluruh dimensi SERVQUAL yaitu tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy (masing-masing p=0,000), yang memperkuat pemahaman bahwa kelima dimensi tersebut secara konsisten berkontribusi terhadap kepuasan pasien pada layanan kefarmasian di puskesmas. Dengan demikian, peningkatan mutu pelayanan kefarmasian perlu dilakukan secara berkelanjutan pada seluruh dimensi tersebut untuk mempertahankan kepuasan pasien, dan penelitian selanjutnya disarankan menjangkau fasilitas kesehatan yang lebih beragam serta mempertimbangkan faktor lain yang turut memengaruhi kepuasan pasien
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Aplikasi Mobile JKN merupakan salah satu bentuk digitalisasi pelayanan kesehatan yang dapat mempermudah peserta JKN dalam mengakses layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan aplikasi Mobile JKN oleh pasien rawat jalan peserta JKN di Puskesmas Sukaraya Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 97 responden yang dipilih menggunakan purposive sampling. Variabel independen meliputi ekspektasi kinerja (Performance Expectancy), ekspektasi usaha (Effort Expectancy), pengaruh sosial (Social Influence), dan kondisi yang memfasilitasi (Facilitating Conditions), sedangkan variabel dependen adalah pemanfaatan aplikasi Mobile JKN. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62 responden (63.9%) memanfaatkan aplikasi Mobile JKN dan 35 responden (36.1%) tidak memanfaatkan. Terdapat hubungan yang signifikan antara ekspektasi kinerja (p < 0.001), ekspektasi usaha (p < 0.001), pengaruh sosial (p=0.007), dan kondisi yang memfasilitasi (p < 0.001) dengan pemanfaatan aplikasi Mobile JKN. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa keempat variabel yang diteliti berhubungan signifikan dengan pemanfaatan aplikasi Mobile JKN pada pasien rawat jalan peserta JKN di Puskesmas Sukaraya Tahun 2026.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Anak usia sekolah merupakan kelompok yang berada pada tahap
perkembangan penting, baik secara kognitif, sosial maupun emosional.
Perkembangan teknologi yang pesat telah mendorong meningkatnya penggunaan
smartphone pada anak usia sekolah. Smartphone tidak hanya digunakan sebagai
sarana komunikasi, tetapi juga sebagai media pembelajaran dan hiburan. Namun,
penggunaan smartphone yang tidak terkontrol dikhawatirkan dapat menimbulkan
risiko kecanduan yang berpotensi berdampak pada kesehatan mental anak,
khususnya pada aspek psikososial seperti emosi, perilaku, dan interaksi sosial.
Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik
responden, tingkat kecanduan penggunaan smartphone, kondisi kesehatan mental,
serta menganalisis hubungan antara kecanduan penggunaan smartphone dengan
kesehatan mental pada anak usia sekolah di SDIT Al-Kamiliyyah. Metode
Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan
cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa/i kelas VI di SDIT AlKamiliyyah
dengan jumlah sampel 71 responden yang diambil menggunakan
teknik Total Sampling. Instrumen penelitian menggunakan Smartphone Addiction
Scale-Short Version (SAS-SV) untuk mengukur kecanduan penggunaan
smartphone dan Strenghts and Difficulties Questionnaire (SDQ) untuk menilai
kesehatan mental anak. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan analisis
hubungan menggunakan uji Chi-Square. Hasil Penelitian: Hasil penelitian
menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 10 tahun (83,1%) dan berjenis
kelamin perempuan (50,7%). Tingkat kecanduan penggunaan smartphone sebagian
besar berada pada kategori rendah (59,2%). Kondisi kesehatan mental responden
yang paling banyak berada pada kategori borderline (56,3%) yang menunjukkan
adanya gejala emosional yang ringan hingga sedang. Uji Chi-Square menunjukkan
nilai p-value = 0,031 (p > 0,05) , sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara
kecanduan penggunaan smartphone dengan kesehatan mental anak. Kesimpulan:
kecanduan pengunaan smartphone memiliki hubungan yang signifikan dengan
kesehatan mental pada anak usia sekolah di SDIT Al-Kamiliyyah.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Smartphone addiction adalah ketergantungan akibat penggunaan smartphone berlebihan yang dapat menyebabkan nyeri pergelangan tangan karena gerakan berulang dan postur tidak ergonomis. Mahasiswa profesi ners termasuk kelompok remaja akhir yang berisiko tinggi mengalami kondisi ini akibat tuntutan akademik dan intensitas penggunaan smartphone yang tinggi dalam proses pembelajaran,komunikasi maupun hiburan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat smartphone addiction dengan tingkat nyeri pergelangan tangan pada mahasiswa Profesi Ners di Universitas Medika Suherman. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dan desain analitik korelasional. Sampel penelitian sebanyak 42 mahasiswa Profesi Ners di Universitas Medika Suherman yang diambil menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Smartphone Addiction Scale–Short Version (SAS-SV) dan Numerical Rating Scale (NRS). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Universitas Medika Suherman (No: 005146/UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN/2026). Hasil: Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,002 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat smartphone addiction dengan tingkat nyeri pergelangan tangan pada mahasiswa Profesi Ners di Universitas Medika Suherman. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat smartphone addiction dengan tingkat nyeri pergelangan tangan pada mahasiswa Profesi Ners di Universitas Medika Suherman. Saran: Mahasiswa diharapkan membatasi durasi penggunaan smartphone dan menerapkan postur ergonomis untuk mencegah nyeri pergelangan tangan melalui kebiasaan penggunaan yang sehat dan bijak dengan melakukan istirahat berskala dalam penggunaan smartphone . Peneliti selanjutnya disarankan mempertimbangkan faktor lain serta mengembangkan penelitian dengan variabel dan metode yang lebih beragam.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : penggunaan smartphone yang semakin meningkat pada remaja
berpotensi menimbulkan ketergantungan yang berdampak pada aspek akademik,
sosial, dan kesehatan mental. Remaja merupakan kelompok yang rentan karena
masih berada dalam tahap perkembangan psikologis dan kontrol diri yang belum
matang. Tujuan Penelitian : penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktorfaktor
yang berhubungan dengan ketergantungan smartphone pada remaja di SMP 3 Cibitung. Metode : penelitian ini mengunakan desain kuantitatif deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel terdiri dari 92 siswa yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian meliputi Smartphone Addiction Scalle-Short Version (SAS-SV), kuesioner
Kontrol Diri, Parental Authority Questionnaire (PAQ), dan kuesioner Prokrastinasi Akademik. Dan dianalisis menggunakan uji univariat dan bivariat dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil Penelitian : hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara usia (p-value = 0,035 dan OR = 2,838), kontrol diri (pvalue= 0,024 dan OR= 0,341), dan prokrastinasi akademik (p-value = 0,002 dan OR = 4,457) dengan ketergantungan smartphone pada remaja. Dan menunjukkan tidak adanya hubungan antara jenis kelamin (p-value = 0,541 dengan OR = 1,424) dan pola asuh orang tua
(p-value = 0,052 dan OR = 2,533) dengan ketergantungan smartphone
pada remaja. Kontrol diri yan rendah dan tingkat prokrastinasi
akademik yang tingggi menjadi faktor yang paling dominan dalam meningkatkan
risiko ketergantungan smartphone. Kesimpulan : ketergantungan smartphone
pada remaja dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Upaya pencegahan
perlu melibatkan peran sekolah, orang tua, dan tenaga kesehatan dalam
meningkatkan kontrol diri serta penggunaan smartphone yang sehat.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular yang prevalensinya terus meningkat. Kepatuhan terhadap terapi antihipertensi sangat penting untuk mencegah komplikasi.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara kepatuhan terapi antihipertensi dengan risiko kardiovaskular pada pasien hipertensi.
Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional pada 85 pasien hipertensi di Puskesmas Telaga Murni. Instrumen yang digunakan yaitu MARS-5 dan MPR untuk menilai kepatuhan, serta ASCVD Risk Estimator untuk menilai risiko kardiovaskular. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square.
Hasil: Mayoritas responden memiliki kepatuhan baik (MARS-5: 91,8%; MPR: 75,3%) dan risiko ASCVD rendah (52,9%). Uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara kepatuhan MPR dan risiko ASCVD (p=0,049), sedangkan kepatuhan MARS-5 juga menunjukkan nilai p=0,041. Namun, pada kedua pengukuran tidak ditemukan pola hubungan linier antara tingkat kepatuhan dan kategori risiko ASCVD.
Kesimpulan: Kepatuhan pasien terhadap terapi antihipertensi belum terbukti berhubungan secara signifikan dengan risiko kardiovaskular. Diperlukan edukasi dan pemantauan berkala untuk menurunkan risiko secara menyeluruh.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Kinerja pegawai merupakan faktor penting dalam menentukan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas, di mana rendahnya kinerja dapat berdampak pada kepercayaan masyarakat dan pencapaian program kesehatan. Namun, di Puskesmas Sirnajaya masih ditemukan beberapa masalah seperti keterbatasan jumlah pegawai, kedisiplinan yang belum optimal, serta beban kerja yang tidak seimbang, sehingga dikhawatirkan dapat memengaruhi mutu pelayanan. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja pegawai di Puskesmas Sirnajaya. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional pada 41 responden (PNS dan PTT) yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner skala Likert dan data dianalisis dengan uji Chi-Square pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pegawai memiliki kinerja baik (75,6%), sikap positif (70,7%), motivasi tinggi (80,5%), serta kepemimpinan mendukung (82,9%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara sikap (p=0,047), motivasi (p=0,047), dan kepemimpinan (p=0,031) dengan kinerja pegawai, sedangkan kemampuan (p=0,059) tidak berhubungan secara signifikan. Disimpulkan bahwa kinerja pegawai lebih banyak berhubungan dengan faktor sikap, motivasi, dan kepemimpinan, sehingga diperlukan pembinaan berkelanjutan, kepemimpinan partisipatif, serta evaluasi untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Balita dengan berat badan kurang (underweight) masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia, termasuk di Kabupaten Bekasi. Berdasarkan data Puskesmas Wanasari tahun 2024 terdapat 321 balita (6,1%) mengalami berat badan kurang, angka ini termasuk tertinggi ke-3 di Kabupaten Bekasi. Kader posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di masyarakat berperan penting dalam upaya deteksi dini, edukasi gizi, dan pemantauan tumbuh kembang anak. Optimalisasi peran kader dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi optimalisasi peran kader posyandu dalam penanganan balita dengan berat badan kurang di wilayah kerja Puskesmas Wanasari Cibitung tahun 2025.Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah 206 kader posyandu, dengan sampel 127 responden yang dipilih menggunakan proportional random sampling. Variabel independen meliputi pendidikan, pengetahuan, motivasi, sikap, dan dukungan petugas kesehatan, sedangkan variabel dependen adalah peran kader. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95%.Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel sikap (p = 0,023; OR = 2,789) dan dukungan petugas kesehatan (p = 0,027; OR = 0,371) berhubungan signifikan dengan peran kader. Sedangkan variabel pendidikan (p = 0,530), pengetahuan (p = 0,633), dan motivasi (p = 0,041; OR = 0,479) menunjukkan hasil yang tidak sejalan dengan teori namun tetap signifikan secara statistik pada motivasi. Kesimpulan: Optimalisasi peran kader dalam penanganan balita berat badan kurang dipengaruhi oleh faktor sikap dan dukungan petugas kesehatan, sementara pendidikan, pengetahuan, dan motivasi tidak berhubungan secara signifikan atau menunjukkan arah yang berlawanan dengan teori. Upaya peningkatan peran kader perlu difokuskan pada pembentukan sikap positif, pemberian dukungan yang tepat, serta pelatihan berkelanjutan agar kader lebih mandiri dan percaya diri dalam menjalankan tugasnya.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
prevalensi kebiasaan merokok perhatian serius pada perokok laki – laki dewasa didunia
sebesar 35,7% didunia, sedangkan di Indonesia mencapai 62,9%. Penelitian ini bertujuan
untuk mengidentifikasi hubungan pengetahuan dan perilaku remaja terhadap kejadian
merokok pada siswa SMA Negeri 3 Tambun Selatan 2025. Penelitian ini berjenis
kuantitatif dengan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan coss sectional. Populasi
penelitian ini adalah seluruh siswa Laki – laki SMAN 3 Tambun Selatan yang berjumlah
452 siswa, ditentukan sampel siswa sebanyak 440 responden. Penelitian ini
dilaksanakan tanggal 31 Januari 2025. Hasil penelitian ini dianalisis menggunakan uji Chi
square dengan menunjukan terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kejadian
merokok dengan p-value = 0,005 (<0,05), dan terdapat hubungan antara Perilaku dengan
kejadian merokok dengan p-value = 0,000 (<0,05). Kesimpulannya, pengetahuan dan
perilaku remaja berpengaruh terhadap kebiasaan merokok. Oleh karena itu, edukasi
mengenai bahaya merokok perlu ditingkatkan di sekolah guna menekan angka merokok
di kalangan remaja.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Bagi negara miskin seperti Indonesia, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
menempati peringkat tinggi di antara penyebab utama penyakit dan kematian pada anak-anak.
Variabel lingkungan kritis yang memengaruhi kejadian ISPA meliputi ventilasi rumah, kepadatan
hunian, dan paparan asap rokok. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji variabel-variabel
ini karena berkaitan dengan ISPA pada anak-anak yang datang ke Puskesmas Pilar Cikarang untuk
balita. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain crosssectional,
melibatkan 30 balita yang berobat di Puskesmas Pilar Cikarang. Data dikumpulkan
melalui wawancara terstruktur dan kuesioner yang telah divalidasi. Analisis statistik deskriptif
dan uji Chi-Square digunakan untuk menganalisis hubungan antar variabel. Hasil: Mayoritas
balita yang diteliti berada dalam kelompok usia 0-12 bulan (63,3%) yang menunjukkan
kerentanan lebih tinggi terhadap ISPA. Tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam kejadian
ISPA berdasarkan jenis kelamin (p > 0,05). Namun, terdapat hubungan signifikan antara
kepadatan hunian (p < 0,05) dan paparan asap rokok (p < 0,05) dengan kejadian ISPA. Ventilasi
rumah tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan ISPA (p > 0,05). Kesimpulan:
Penelitian ini menemukan bahwa kepadatan hunian dan paparan asap rokok merupakan faktor
risiko signifikan untuk kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Pilar Cikarang. Intervensi
kesehatan masyarakat yang fokus pada perbaikan kondisi lingkungan rumah disarankan untuk
menurunkan kejadian ISPA pada populasi ini.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang
menyebabkan kematian terbanyak di dunia. Penyakit ini menyebar ketika
penderita tuberkulosis paru mengeluarkan droplet yang mengandung bakteri ke
udara, seperti saat batuk. Infeksi dapat terjadi jika droplet tersebut terhirup ke
dalam saluran pernafasan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola
penggunaan obat antituberkulosis (OAT), menggambarkan kesesuaian
penggunaan OAT berdasarkan Pedoman Penanggulangan Nasional Tuberkulosis
tahun 2016 dari Kementrian Kesehatan RI, dan uji hubungan antara hasil
pengobatan dengan umur, jenis kelamin, lama pengobatan, dan banyaknya
penyakit kronik. Metode penelitian ini dilakukan dengan cara pengambilan data
secara retrospektif yang dapat dilihat dari data rekam medis pasien pada periode
Januari-Desember 2022 di Puskesmas Cipayung Kota Depok. Hasil penelitian
berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa jumlah penderita laki-laki lebih
banyak dari pada perempuan yaitu laki-laki sebesar 53,2% dan perempuan 46,8%.
Berdasarkan usia, jumlah terbanyak berada pada rentang usia 21-59 tahun yaitu
sebesar 74,0%. Berdasarkan lama pengobatan menunjukkan bahwa pasien
terbanyak yang menjalani pengobatan tepat 6 bulan yaitu sebesar 94,8%.
Berdasarkan pemberian jenis KDT (Kombinasi Dosis Tetap) yaitu sebesar 100%.
Berdasarkan kesesuaian penggunaan obat yaitu kesesuaian dosis, indikasi, dan
pemilihan kombinasi OAT telah memenuhi standar pedoman penanggulangan TB.
Kesimpulan berdasarkan analisis hubungan antara usia, lama pengobatan, jenis
kelamin, dan penyakit penyerta kronik terhadap hasil pengobatan pasien diperoleh
hasil bahwa usia dan lama pengobatan memiliki hubungan yang signifikan dengan
hasil pengobatan pasien. Sedangkan jenis kelamin dan penyakit penyerta kronik
tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan hasil pengobatan pasien.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Tuberkulosis merupakan penyakit yang ditularkan lewat udara atau droplet
yang disebabkan,oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Kepatuhan adalah
tingkat perilaku penderita dalam mengambil suatu tindakan pengobatan yang
disarankan oleh penyedia layanan kesehatan, misalnya kebiasaan hidup sehat dan
ketentuan berobat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan faktor –
faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan pasien pengguna obat anti
tuberkulosis (OAT) seperti jenis kelamin, umur, pendidikan, pengetahuan,
dukungan keluarga dan pekerjaan di Puskesmas Sukadami. Jenis penelitian ini
merupakan deskriptif kualitatif dengan pendekatan kuantitatif.. Cara pengambilan
sampel menggunakan kuesioner yang dibuat berdasarkan MMAS – 8 (Morisky
Medication Adherence Scale). Sampel yang diperoleh berdasarkan perhitungan
slovin sebanyak 63 sampel. Analisis data univariat yaitu persentase karakteristik
demografi responden, bivariat dengan bantuan SPSS versi 26 uji chi square. Hasil
penelitian pada uji chi square dari karakteristik pasien TB dengan tingkat kepatuhan
didapatkan hasil tidak terdapat hubungan yang signifikan adalah karakteristik
berdasarkan jenis kelamin P value 0,627, pendidikan P value 0,206 dan pekerjaan
P value 0,385. Sedangkan yang terdapat hubungan adalah karakteristik umur
dengan nilai P value 0,024, pengetahuan dengan nilai P value 0,009 dan dukungan
keluarga P value 0,001. Hasil tingkat kepatuhan pasien TB terhadap penggunaan
Obat Anti Tuberkulosis (OAT) secara keseluruhan pasien TB kepatuhannya dalam
kategori sedang 71,4% (46 orang).
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat. Upaya pelayanan kesehatan yang dilakukan di Puskesmas salah satunya adalah pelayanan kefarmasian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian dengan menggunakan Customer Satisfaction Index (CSI) dan lima parameter untuk mengetahui hubungan antara karakteristik pasien dengan tingkat kepuasan. Jenis penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental secara prospektif yang bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini dilakukan dengan instrument kuesioner. Cara pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Sampel yang diperoleh sebanyak 95 sampel. Hasil penelitian di Puskesmas Cilamaya Kabupaten Karawang dengan total 95 responden disimpulkan bahwa responden terbanyak yaitu perempuan umur 21-30 tahun, pendidikan SD, dan pekerjaan ibu rumah tangga. Hasil Customer Satisfaction Index (CSI) tertinggi adalah parameter bukti langsung (tangible) sebesar 89,34% dan nilai Customer Satisfaction Index (CSI) terendah adalah parameter jaminan (assurance) sebesar 79,65%. Terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik pasien yaitu umur, pendidikan, dan pekerjaan dengan tingkat kepuasan dan tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di Puskesmas Cilamaya.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Tingkat kepatuhan pasien dalam meminum obat anti tuberkulosis secara teratur sampai tuntas dan patuh merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam pengobatan Tuberkulosis paru. Tujuan untuk mengetahui karakteristik dan hubungan tingkat kepatuhan pasien terhadap Tingkat kepatuhan penggunaan obat anti tuberkulosis di Puskesmas Cilamaya Metode jenis yang penelitian ini merupakan Deskriptif Kuantitatif dengan pendekatan kuantitatif alat yang digunakan untuk pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Hasil dari penelitian berdasarkan jenis kelamin jumlah penderita laki-laki sebesar 54,0%, umur pada rentang usia 15-34 tahun yaitu sebesar 63,5%, pendidikan tingkat SMA 34,9%, pekerjaan pegawai swasta sebanyak 25,9%, lama pengobatan pasien 2 sebanyak 47,6%, pengetahuan baik sebanyak 79,4%. Kesimpulan karakteristik pasien meliputi pekerjaan dan pengetahuan mempunyai hubungan yang signifikan dengan tingkat kepatuhan pasien Obat Anti Tuberkulosis (OAT) karena nilai p value yang diperoleh kurang dari nilai signifikan yang digunakan yaitu 0,005. Nilai pekerjaan (p = 0,001) dan pengetahuan (p = 0,030).