ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang : Remaja putri mengalami proses pubertas yang ditandai adanya menstruasi. Proses menstruasi adalah perdarahan periodic dari rahim dengan terlepasnya endometrium dengan panjang normal siklus 21-35 hari. Pada saat siklus menstruasi hormone androgen keluar bersaaman hoemon estrogen dan progesterone. Apabila hormon Adrogen lebih dominan menyebabkan gangguan sekresi pada kelenjar sebasea pada kulit sehingga kulit rentan terhadap timbulnya jerawat. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional dan menggunakan teknik pengambilan sampling probability simple random sampling. Kesimpulan dan Saran : Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang mengalami siklus menstruasi tidak teratur sebanyak 74 % dan mengalami jerawat sebanyak 77.6%. Terdapat hubungan siklus menstruasi terhadap kejadian jerawat diwajah yaitu dengan menggunakan uji chisquare (X2) dengan tingkat kemaknaan (α) adalah ≤ 0,05 didapatkan nilai Probabilitas (p) 0,000. Nilai odds ratio = 2,926 (95% CI1,422-15,064) menunjukkan bahwa siklus menstruasi 2x memiliki potensi dalam kejadian jerawat di wajah. Sehingga dapat diambil kesimpulan Ha diterima atau adanya hubungan yang signifikan hubungan siklus menstruasi terhadap kejadian jerawat di wajah. Bahan Bacaan : 37 Kepustakaan (Tahun 2013-2023) Kata kunci :Siklus Menstruasi, Jerawat Di Wajah .
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS Skripsi, September 2023 Nama : Lisa jamilatul Lael Nim : 020319624 HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PERILAKU PERSONAL HYGIENE TENTANG KEBERSIHAN ORGAN REPRODUKSI SAAT MENSTRUASI PADA REMAJA PUTRI KELAS VIII DI SMPN 2 CILAMAYA WETAN TAHUN 2023 ABSTRAK Pendidikan dini tentang personal hygiene reproduksi pada remaja putri yaitu langkah awal untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi terutama pada saat menstruasi. Dukungan keluarga dapat ditimbulkan karena tingkat pendidikan orang tua yang rendah dan kurangnya pengetahuan remaja sering dikira bahwa kesehatan reproduksi merupakan suatu perbincangan paling tabu untuk diulas dengan mendalam. Perilaku personal hygiene yang sehat saat menstruasi adalah sikap yang mendukung terhadap perilaku tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga dengan prilaku personal hygiene tentang kebersihan organ reproduksi saat menstruasi pada remaja putri kelas VIII di SMPN 2 Cilamaya Wetan tahun 2023. Metode penelitian ini menggunakan penelitian survey analitik, dengan rancangan penelitian desain crossmsectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 112 siswi SMP kelas VIII di SMPN 2 Cilamaya Wetan, sampel yang digunakan sebanyak 88 siswi, menggunakan 10 pertanyaan di kuesioner pengetahuan, 10 pertanyaan di kuesioner dukungan keluarga, 10 pertanyaan di kuesioner prilaku yang telah di uji validitas dan reliabilitas. Hasil penelitian menunjukkan 52 responden (59,1%) memiliki pengetahuan kurang baik, 24 responden (27,3%) memiliki pengetahuan cukup baik, dan 12 responden (13,6%) memiliki pengetahuan baik. Sejumlah 55 responden (62,5%) memiliki dukungan keluarga yang buruk, dan 33 responden (37,5%) memiliki dukungan keluarga yang baik. Dan 45 responden (51,1%) memiliki perilaku yang buruk dan 43 responden (48,9%) memiliki perilaku yang baik. Uji bivariat pada pengetahuan dengan perilaku memiliki nilai P-value= 0,0040,05 maka dapat diartikan bahwa ditolak, dan pada dukungan keluarga dengan perilaku memiliki nilai P-value 0,0180,05 maka dapat diartikan bahwa ditolak. Kesimpulannya maka ada hubungan antara pengetahuan dan dukungan keluarga dengan perilaku personal hygiene tentang kebersihan organ reproduksi saat menstruasi pada remaja putri kelas VIII di SMPN 2 Cilamaya Wetan tahun 2023. Dan diharapkan siswi mampu menambah informasi tentang pengetahuan dan dukungan keluarga dengan perilaku personal hygiene.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN (UMS) PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS Skripsi, September 2023 Nama : Dewanti Utami Putri NIM : 020319607 HUBUNGAN STRESS DENGAN DISMENORE HARI PERTAMA MENSTRUASI PADA MAHASISWI TINGKAT AKHIR DI UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN TAHUN 2023 ABSTRAK Latar Belakang: Dismenore primer sering terjadi pada lebih dari 50% wanita sudah masuk usia menstruasi dan 15% diantaranya mengalami nyeri yang hebat. Dismenore primer dialami oleh 60-75% perempuan muda. Tiga perempat jumlah tersebut mengalami dismenore dengan intensitas ringan dan sedang, sedangkan seperempat lainnya mengalami dismenore dengan tingkat berat. Di Indonesia, kejadian dismenore primer mencapai 54,89%. Beberapa studi menyatakan bahwa dismenore dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Sekitar 10-15% perempuan dapat absen dari sekolah dan kehilangan waktu bekerja karena dismenore. Angka kejadian dismenore di indonesia sangat tinggi dibandingan dinegara lain Menurut Proverawati & Misaroh (2012) di Indonesia angka kejadian dismenore terdiri dari 72,89% dismenore primer dan 21,11% dismenore sekunder dan angka kejadian dismenore berkisar 45-95% di kalangan perempuan umur produktif. Status gizi merupakan salah satu penyebab kajadian dismenore, status gizi yang mengalami berat badan berlebih merupakan faktor resiko dari dismenore, didapatkan 68,25% yang dismenore dengan status gizi overweight (Danielle, 2011 dalam Beddu, 2015) Oleh karena itu penulis tertarik meneliti “Hubungan Stres Dengan Dismenore Hari Pertama Menstruasi Pada Mahasiswi Di Universitas Medika Suherman” Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan stress dengan dismenore hari pertama menstruasi pada mahasiswi tingkat akhir di Universitas Medika Suherman. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan stres dengan dismenore pre menstruasi pada mahasiswi Menurut sigiyono (2017:215) adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek tertentu yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang di tetapkan oleh peneliti ini untuk di pelajari dan kemudian di tarik kesimpulanya. Populasi dan sampel menggunakan total sampling dimana teknik pengambilan sampel yaitu mahasiswi Universitas Medika Suherman tingkat akhir yang berjumlah 40 orang. Hasil: Hasil penelitian ini menggunakan chi square didapatkan ada hubungan tingkat stress dengan dismenore pada hari pertama dengan p-value 0,000 Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat hubungan tingkat stress dengan dismenore pada hari pertama menstruasi pada mahasiswi tingkat akhir di Universitas Medika Suherman. Kata Kunci: Hari Pertama Menstruasi, Disminore, Stress Daftar Pustaka: 11 Jurnal (2010-2023)
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Siklus menstruasi jika dilihat dari ideal teratur setiap bulannya yaitu dalam rentang waktu 22-35 hari setiap kali periode mesntruasi. Siklus menstruasi sendiri 75% dapat dipengaruhi oleh banyak hal, yang dimana salah satunya yaitu tingkat stress dan indeks massa tubuh yang tidak sesuai. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui hubungan tingkat stress dan indeks massa tubuh dengan siklus menstruasi pada mahasiswi mahasiswi Fakultas Ilmu Kesehatan Semester VIII Universitas Medika Suherman. Metode Penelitian: Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode analitik kuantitatif dengan desain cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli hingga Agustus 2023. Populasi dalam penelitian ini yaitu mahasiswi Fakultas Ilmu Kesehatan Semester VIII Universitas Medika Suherman. Sampel penelitian sejumlah 113 mahasiswi. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan sejumlah 36 mahasiswi (31,9%) dari responden tergolong pada kategori tidak stress, sedangkan yang tergolong kategori stress sejumlah 77 mahasiswi (68,1%). Sejumlah 5 mahasiswi (4,4%) dari responden Indeks massa tubuhnya normal, sedangkan yang Indeks massa tubuhnya gemuk sejumlah 48 mahasiswi (42,5%) dan yang indeks massa tubuhnya obesitas sejumlah 60 mahasiswi (53,1%). Responden yang siklus menstruasinya normal sejumlah 10 mahasiswi (8,8%), sedangkan yang siklus menstruasi pendek sejumlah 19 mahasiswi (16,8%), dan yang siklus menstruasi panjang sejumlah 84 mahasiswi (74,3%). Hasil uji bivariat menunjukkan adanya hubungan antara tingkat stress dan indeks massa tubuh (IMT) dengan siklus menstruasi pada mahasiswi fakultas ilmu Kesehatan semester VIII Universitas Medika Suherman. Kesimpulan: Adanya Hubungan antara tingkat stress dan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan siklus menstruasi pada mahasiswi Fakultas Ilmu Kesehatan Semester VIII di Universitas Medika Suherman.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Perubahan siklus menstruasi harus lebih diperhatikan oleh setiap wanita karena dapat mempengaruhi kualitas hidup wanita kedepannya. Ketidakteraturan siklus menstruasi ini juga merupakan suatu indikator penting dalam menunjukkan adanya gangguan sistem reproduksi yang nantinya dapat dikaitkan dengan peningkatan resiko berbagai penyakit dalam sistem reproduksi, salah satunya kanker rahim dan infertilitas.
Jenis penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswi Sarjana Kebidanan Reguler di Universitas Medika Suherman dengan jumlah populasi sebesar 120 responden dan pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling, jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 120 responden. Penelitian ini menggunakan instrumen kuesioner. Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-Square.
Hasil penelitian dengan variabel dependen didapatkan responden yang siklus menstruasinya tidak teratur sebanyak 63 responden (52,5%), sedangkan siklus menstruasi teratur yaitu sebanyak 57 responden (47,5%) dan hasil penelitian dengan variabel independen didapatkan responden yang mengalami stress 88 responden (73,3%) dan tidak mengalami stress sebanyak 32 responden (26,7%), responden yang mengalami aktifitas fisik tidak baik sebanyak 67 responden (55,8%), dan aktivitas fisik baik sebanyak 53 responden (44,2%), responden yang mengalami status gizi tidak normal sebanyak 56 responden (46,7%) dan status gizinya normal sebanyak 64 responden (53,3%) serta responden yang mengalami pola tidur kurang sebanyak 69 responden (57,5%) dan pola tidur cukup sebanyak 51 responden (42,5%). Hasil analisa menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara ketidakteraturan siklus menstruasi dengan stress dengan nilai p value = 0,003 dan nilai OR = 4,059, aktivitas fisik dengan nilai p value = 0,020 dan nilai OR = 2,560, status gizi dengan nilai p value = 0,003 dan nilai OR = 3,293 serta pola tidur dengan nilai p value = 0,001 dan nilai OR = 4,000.
Dapat disimpulkan dari keempat variabel yang diteliti terdapat hubungan yang signifikan antara stress, aktivitas fisik, status gizi dan pola tidur terhadap ketidakteraturan siklus menstruasi. Saran yang disampaikan semoga hasil penelitian ini dapat menjadi bahan acuan atau materi pembelajaran agar dapat melakukan pencegahan terjadinya ketidakteraturan siklus menstruasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Nyeri menstruasi merupakan keluhan yang sering dialami wanita usia subur dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian jus nanas terhadap penurunan nyeri menstruasi pada wanita usia subur di Desa Banjarsari Tahun 2026. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi experimental one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 30 wanita usia subur yang mengalami dismenore primer dan dipilih menggunakan purposive sampling. Intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) 0–10 sebelum dan sesudah pemberian jus nanas selama dua hari pertama menstruasi. Hasil penelitian menunjukkan sebelum intervensi sebagian besar responden mengalami nyeri sedang, yaitu 27 orang (90,0%), dengan rata-rata skor nyeri 5,40 (SD 0,968). Setelah intervensi, 19 orang (63,3%) mengalami nyeri ringan, 7 orang (23,3%) tidak mengalami nyeri, dan 4 orang (13,3%) mengalami nyeri sedang, dengan rata-rata skor 1,90 (SD 1,373). Uji Shapiro-Wilk menunjukkan data tidak berdistribusi normal sehingga digunakan Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil uji memperoleh Z = -4,839 dan p = 0,000 (p < 0,05), serta seluruh 30 responden mengalami penurunan skor nyeri. Dengan demikian, pemberian jus nanas berpengaruh terhadap penurunan nyeri menstruasi pada wanita usia subur. Jus nanas dapat dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif nonfarmakologis pendamping dalam membantu mengurangi nyeri menstruasi
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Siklus menstruasi merupakan indikator penting kesehatan reproduksi remaja putri, di mana ketidakteraturannya dapat memicu kecemasan dan menjadi tanda awal gangguan kesehatan. Di Indonesia, 63% remaja putri mengalami gangguan kesehatan reproduksi termasuk masalah menstruasi (BKKBN, 2023), namun hanya 35,3% remaja usia 15–19 tahun yang memiliki pengetahuan benar terkait kesehatan tersebut (SDKI, 2022). Kestabilan siklus pada usia remaja ini sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor internal maupun eksternal yang saling berkaitan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan siklus menstruasi pada remaja putri kelas VII di SMP Plus Al-Burhaniyah tahun 2026. Jenis penelitian ini menggunakan analitik kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswi kelas VII di SMP Plus Al-Burhaniyah tahun 2026 dengan jumlah sampel responden yang telah ditentukan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan pengukuran antropometri untuk status gizi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p = 0,001), status gizi (p = 0,001), dan pola hidup (kualitas tidur) (p = 0,013) dengan siklus menstruasi pada remaja putri. Sebaliknya, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sumber informasi (p = 0,564) dengan siklus menstruasi. Pengetahuan, status gizi, dan pola hidup (kualitas tidur) merupakan faktor spesifik yang berhubungan langsung dengan siklus menstruasi siswi di SMP Plus Al-Burhaniyah. Pihak sekolah dan pelayanan kesehatan disarankan meningkatkan edukasi kesehatan reproduksi, pemantauan gizi seimbang, serta manajemen waktu tidur remaja
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius karena berdampak pada penurunan imunitas, konsentrasi belajar, dan prestasi akademik. Remaja putri memiliki risiko lebih tinggi karena mengalami siklus menstruasi setiap bulan dan sering kali memiliki perilaku makan yang kurang memperhatikan asupan gizi seimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada remaja putri kelas X di SMAN 2 Cikarang Selatan Tahun 2026. Metode : Jenis penelitian ini menggunakan analitik kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswi kelas X SMAN 2 Cikarang Selatan yang berjumlah 338 orang. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik Random sampling dengan rumus slovin dan diperoleh jumlah responden sebanyak 85 siswi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan pemeriksaan kadar hemoglobin menggunakan alat haemometer easy touch. Analisis data dilakukan secara presentase univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil : Analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p = 0,001), lama menstruasi (p = 0,004), dan pendapatan orang tua (p = 0,001) dengan kejadian anemia pada remaja putri. Pengetahuan, lama menstruasi, dan pendapatan orang tua merupakan faktor yang berhubungan langsung dengan kejadian anemia pada siswi kelas X di SMAN 2 Cikarang Selatan. Sekolah disarankan mengadakan edukasi berkala mengenai gizi seimbang dan manajemen menstruasi guna meningkatkan pengetahuan siswi dalam mengantisipasi risiko kehilangan darah yang lama. Selain itu, sekolah perlu menyediakan pilihan jajanan kaya zat besi yang murah di kantin untuk menyiasati keterbatasan daya beli akibat faktor ekonomi orang tua
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat terjadi pada remaja putri. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain status gizi, kondisi menstruasi, serta kebiasaan mengonsumsi makanan yang menjadi sumber zat besi dan protein. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis keterkaitan status gizi, riwayat menstruasi, frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi, dan frekuensi konsumsi makanan sumber protein dengan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMAN 3 Cikarang Utara. Metode: Penelitian menggunakan rancangan observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah responden yang terlibat sebanyak 71 remaja putri. Penilaian status gizi dilakukan berdasarkan IMT/U, sedangkan informasi mengenai riwayat menstruasi diperoleh melalui kuesioner. Frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi dan protein dikumpulkan menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ). Pemeriksaan kadar hemoglobin dilakukan dengan alat Hb digital. Analisis data mencakup analisis univariat dan bivariat dengan uji statistik yang disesuaikan dengan karakteristik data. Hasil: Dari 71 responden, sebanyak 47 orang (66,2%) mempunyai status gizi normal. Frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi paling banyak termasuk kategori cukup, yaitu 32 orang (45,1%), sedangkan konsumsi makanan sumber protein kategori cukup berjumlah 34 orang (47,9%). Berdasarkan pemeriksaan hemoglobin, 62 responden (87,3%) berada pada kategori normal dan 9 responden (12,7%) mengalami anemia. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kadar hemoglobin (p=0,975), riwayat menstruasi dengan kadar hemoglobin (p=0,193), frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi dengan kadar hemoglobin (Fisher’s Exact p=1,000), serta frekuensi konsumsi makanan sumber protein dengan kadar hemoglobin (Fisher’s Exact p=1,000). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa status gizi, riwayat menstruasi, frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi, dan frekuensi konsumsi makanan sumber protein tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMAN 3 Cikarang Utara.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Remaja perempuan usia 9-14 tahun berada pada masa pubertas dan
menstruasi, sehingga kebersihan diri penting untuk mencegah Infeksi Saluran
Reproduksi, yang secara global paling tinggi terjadi pada remaja. Kurangnya
pengetahuan, seperti jarang mencuci tangan atau mengganti pembalut jarang,
meningkatkan risiko infeksi. Semakin baik pengetahuan mengenai kebersihan diri,
semakin positif perilaku menjaga personal hygiene, sehingga edukasi kesehatan
penting untuk meningkatkan pemahaman dan praktik kebersihan diri remaja selama
menstruasi. Tujuan: Mengetahui pengaruh edukasi mengenai personal hygiene saat
menstruasi dengan menggunakan media kartu kuartet terhadap peningkatan
pengetahuan siswi Sekolah Menengah Pertama di SMP Segar. Metode: Penelitian
kuantitatif pre-eksperimen ini menggunakan desain one-group pretest-posttest
dengan total sampling terhadap 78 responden, instrumen berupa soal pilihan ganda,
dan analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil: Nilai p =
0,000 (<0,05), menunjukkan adanya pengaruh edukasi kartu kuartet terhadap
pengetahuan remaja. Kesimpulan: Edukasi kesehatan melalui kartu kuartet efektif
meningkatkan pengetahuan personal hygiene saat menstruasi pada remaja putri.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Menstruasi merupakan proses fisiologis alami yang dialami oleh
setiap wanita sebagai tanda kematangan seksual. Namun, gangguan menstruasi seperti
siklus tidak teratur, perdarahan berlebihan, atau nyeri haid sering terjadi dan dapat
memengaruhi kualitas hidup wanita secara fisik, psikologis, dan sosial. Dalam
pendekatan TCM, gangguan menstruasi dipandang sebagai ketidakseimbangan Qi dan
darah, yang salah satunya dapat disebabkan oleh sindrom defisiensi Qi (Qi Xu). Salah
satu terapi yang digunakan dalam TCM untuk mengatasi gangguan ini adalah
akupunktur. Dimana akupunktur bekerja dengan menstimulasi titik-titik tertentu untuk
menyeimbangkan aliran energi tubuh, meningkatkan sirkulasi darah, dan mengatur
fungsi hormonal.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas terapi akupunktur pada
penderita gangguan menstruasi dengan sindroma Qi Xu di Klinik Akupunktur Darma
Bakti, Bandung.
Metode: penelitian menggunakan metode penelitian eksperimen, jenis kuantitatif
dengan populasi sebanyak 40 dan sampling sebanyak 30 dengan kriteria inklusi dan
ekslusi. Subjek penelitian dari bulan april-juni 2025 di Klinik Akupunktur Darma Bakti,
Bandung, Jawa Barat. Sampel Wanita berusia 17-55 tahun dengan terapi akupunktur
sebanyak 10x dengan periode 2x minggu.
Hasil: Hasil Uji-t Berpasangan menunjukkan nilai t-statistik adalah 7,097 dengan
derajat kebebasan (df) 29. Nilai p (two-tailed) yang diperoleh adalah 0,0000000828.
jauh lebih kecil dari tingkat signifikansi yang ditetapkan, yakni α=0.05.
Kesimpulan: terapi akupunktur efektif dalam mengurangi volume perdarahan
menstruasi pada penderita gangguan menstruasi dengan sindrom Qi Xu.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Pengetahuan diperoleh melalui proses kognitif dan berperan penting dalam membentuk perilaku terkait kebersihan diri, termasuk saat menstruasi. Remaja putri perlu memahaminya sejak dini sebagai langkah persiapan. Kurangnya pengetahuan dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan reproduksi seperti infeksi saluran kemih dan keputihan. Edukasi menggunakan media yang menarik seperti video dapat membantu meningkatkan pemahaman tentang pentingnya kebersihan menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi personal hygiene menggunakan media video terhadap peningkatan pengetahuan kebersihan menstruasi pada remaja putri di SMP Negeri 1 Muaragembong, Kabupaten Bekasi, tahun 2025. Jenis penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan rancangan one group pretest-posttest design. Sampel terdiri dari 76 remaja putri yang diambil dengan teknik total sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah edukasi personal hygiene menggunakan media video, sedangkan variabel dependen adalah pengetahuan kebersihan menstruasi. Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan. Data dianalisis menggunakan Uji Wilcoxon Signed Ranks Test. Sebelum intervensi edukasi, sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan rendah (75%). Setelah intervensi, tingkat pengetahuan meningkat ke kategori “baik” (84,2%). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai signifikansi p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan edukasi personal hygiene menggunakan video terhadap peningkatan pengetahuan kebersihan menstruasi. Kesimpulan: Edukasi personal hygiene melalui media video secara signifikan meningkatkan pengetahuan kebersihan menstruasi pada remaja putri. Media video dapat digunakan sebagai metode alternatif edukasi kesehatan reproduksi di sekolah, idealnya sebelum remaja mengalami menarce. Sekolah diharapkan rutin memberikan edukasi kesehatan reproduksi, khususnya kebersihan menstruasi, melalui kurikulum, kegiatan ekstrakurikuler, atau kerja sama dengan tenaga kesehatan. Remaja putri juga didorong untuk lebih proaktif mencari informasi serta menerapkan kebersihan menstruasi sejak sebelum menarke guna mencegah infeksi.
Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan lebih banyak sekolah, menambahkan kelompok kontrol, serta menilai aspek pengetahuan, sikap, perilaku, dan retensi jangka panjang.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Kecemasan yang terkait dengan menarche menjadi salah satu masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami oleh remaja perempuan, terutama disebabkan oleh kurangnya akses pada informasi yang akurat dan menyeluruh mengenai menstruasi pertamanya. Menarche yang terjadi tanpa adanya persiapan dapat menjadi sumber rasa cemas dan takut yang berpengaruh langsung pada kesiapan mental serta emosional remaja putri saat menghadapi perubahan fisik yang muncul. Di Indonesia, sekitar 50% remaja putri belum mendapatkan pendidikan yang cukup mengenai menarche, sehingga tingkat kecemasan pada tahap ini cukup tinggi. Salah satu cara untuk mengatasi masalah ini adalah melalui pendidikan kesehatan yang memanfaatkan media cetak, seperti booklet, yang dianggap praktis dan mudah dipahami Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pendidikan kesehatan menggunakan booklet terhadap tingkat kecemasan menarche pada remaja putri. Metode : Desain penelitian yang digunakan adalah pre-experimental dengan pendekatan one group pre-post test. Terdapat 109 responden yang diambil sebagai sampel melalui teknik random sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang diberikan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi. Uji normalitas dilaksanakan dengan Kolmogorov-Smirnov, sedangkan analisis data menggunakan Uji T-parametik. Hasil : Penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi, sebagian besar responden mengalami tingkat kecemasan sedang (62,4%) dan berat (30,3%). Setelah dilakukan intervensi, sebagian besar responden mengalami kecemasan ringan (56,9%) dan sebagian kecil tidak mengalami kecemasan (9,2%). Uji statistik menunjukkan nilai p = 0,000 < 0,05) yang berarti terdapat pengaruh signifikan pendidikan kesehatan terhadap penurunan kecemasan menarche. Kesimpulan : Pendidikan kesehatan dengan media booklet terbukti efektif dan direkomendasikan untuk diterapkan di sekolah dasar agar remaja putri lebih siap menghadapi menstruasi dengan pemahaman yang benar dan sikap yang positif.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Dampak dari siklus menstruasi yang tidak teratur yaitu infertile, endometriosis, dan gangguan psikologis. Infertile dapat terjadi jika siklus menstruasi tidak teratur sehingga mengakibatkan ovulasi terganggu dan dapat terjadinya ketidakseimbangan hormonal yang punya pengaruh besar terhadap ovulasi. Tujuan : Untuk mengetahui faktor – faktor yang berhubungan dengan gangguan siklus menstruasi pada remaja putri di SMPN 1 Muara Gembong. Metode : Penelitian ini mengadopsi metode analitik kuantitatif dengan Rancangan penelitian ini adalah crossectional, Populasi penelitian ini sebanyak 76, sampel penelitian sebanyak 76 responden remaja putri tingkat VIII dan IX, yang dipilih dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data Univariat dan Bivariat dilakukan menggunakan uji chi square, Hasil : Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan anatara faktor usia, tingkat stress dan aktivitas fisik terhadap gangguan siklus menstruasi yang di dapatkan nilai untuk faktor usia : p-value = 0,001, tingkat stress : p-value = 0,003, aktivitas fisik : p-value = 0,005 yang berarti ada hubungan yang signifikan dari ketiga faktor tersebut, Kesimpulan : Faktor usia, tingkat stress dan aktivitas fisik termasuk dalam faktor-faktor yang menyebabkan gangguan siklus menstruasi, yang Dimana para remaja putri di harapakan untuk menjaga stabilitas dari segi tingkat stress dan aktivitas fisik agar mengurangi potensi mengalami gangguan siklus menstruasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Pendahuluan: Anemia dikenal sebagai adanya penurunan massa eritrosity atau massa sel darah merah yang mengakibatkan terganggunya fungsi dan ketidakmampuan hemoglobin untuk membawa oksigen secara memadai ke organ-organ. Alasan dilakukan penelitian ini adalah tingginya pravelensi anemia pada remaja putri di SMKN 1 Pebayuran. Dari survei terhadap 50 responden, peneliti menemukan bahwa 84% siswi mengalami anemia dan 16% tidak anemia. Menurut pengakuan sisiwi, mereka tidak pernah meminum tablet tambah darah selama menstruasi Tujuan : untuk mengidentifikasi faktor yang terkait dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMKN 1 Pebayuran. Metode: Penelitian ini memakai desain Analitik Kuantitatif, pendekatan Cross Sectional. Populasi penelitian ini sejumlah 139 responden. Pengambilan sampel dengan metode stratified random sampling sejumlah 67 remaja. Intrumen penelitian ini memakai kuesioner. Analisis data memakai Univariat serta bivariat. Hasil memperlihatkan bahwasanya terdapat korelasi antara pengetahuan dengan anemia pada remaja putri (p- value 0,028 <0,05) OR 3.339. Terdapat korelasi antara konsumsi TTD dengan anemia (p-value 0,000
<0,05) OR 13.417. Terdapat korelasi antara lama menstruasi dengan anemia (p-value 0,003<0,05) OR
6.255. Terdapat korelasi antara status ekonomi orang tua dengan anemia (p-value 0,000 < 0,05) OR
8.054. Terdapat korelasi antara pola istirahat dengan anemia, (p-value 0,011 < 0,05) OR 5.017. Kesimpulan: penelitian ini dapat disimpulkan bahwasanya terdapat korelasi antara pengetahuan, konsumsi TTD, lama menstruasi, pola istirahat dan status ekonomi orang tua
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Polycystic Ovarium Syndrom (PCOS) yakni gangguan sistem endokrin yang
mempengaruhi sekitar 5-10% wanita, dikarenakan mempunyai produksi androgen yang berlebihan
oleh ovarium, sehingga bisa menyebabkan resistensi insulin, dan mempengaruhi kondisi fisiologis
lain. Metode : Penelitian menggunakan desain analitik observasional kuantitatif melalui pendekatan
cross-sectional, yang dilakukan di RS Sentra Medika Cikarang, populasi penelitian Wanita usia subur
dengan usia 19 - 45 tahun, Jumlah sampel sebanyak 92 respoden dan teknik sampling menggunakan purposive sampling, variabel dependen adalah Polycystic Ovarium syndrom dan independen seperti gangguan mentruasi, obesitas, riwayat diabetes melitus, aktivitas fisik. Instrumen yang digunakan kuisioner tentang kejadian gangguan mentruasi, riwayat diabetes melitus, modifikasi dari GPAQ dan pengukuran IMT. Uji analisis statistik berupa univariat dan bivariat dengan chi square. Hasil: uji statistik menunjukan adanya pengaruh gangguan menstruasi dengan PCOS dengan nilai P=0,001 (p value < 0,05), adanya pengaruh riwayat diabetes melitus dengan nilai P=0,036, adanya pengaruh aktivitas fisik dengan didapat P=0,000 dan adanya pengaruh Obesitas dengan PCOS diperoleh nilai P=0,005. Kesimpulan: Terdapat pengaruh antara gangguan menstruasi, riwayat diabetes, aktivitas fisik dan obesitas terhadap PCOS. Di harapkan menjaga pola makan, menjaga berat badan tetap ideal,
rajin berolahraga.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Pengetahuan personal hygiene menstruasi yang buruk jika dibiarkan maka akan menyebabkan berbagai masalah kesehatan yang berkaitan dengan reproduksi. Untuk menghindari dari berbagai masalah kesehatan reproduksi maka diperlukan adanya pendidikan kesehatan tentang pengetahuan personal hygiene saat menghadapi menstruasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan media buku saku terhadap pengetahuan personal hygiene saat menghadapi menstruasi pada siswi SMP Negeri 1 Cikarang Timur tahun 2024. Subjek dan Metode : Jenis penelitian ini adalah penelitian quasi experimental dengan rancangan one group pre test-post test design. Populasi dalam penelitian adalah seluruh siswi kelas VII di SMP Negeri 1 Cikarang Timur yang berjumlah 132 siswi. Besar sampel yang digunakan berjumlah 99 siswi. Teknik sampling yang digunakan adalah stratified random sampling. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara membagikan kuesioner pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan. Uji analisis menggunakan Uji Wilcoxon. Hasil Penelitian : Diketahui bahwa terdapat peningkatan pengetahuan personal hygiene saat menghadapi menstruasi sesudah diberikan pendidikan kesehatan. Hasil analisa Uji Wilcoxon diperoleh nilai signifikan p-value = 0,001 (p <0,05). Kesimpulan : Ada pengaruh pendidikan kesehatan dengan media buku saku terhadap pengetahuan personal hygiene saat menghadapi menstruasi pada siswi SMP Negeri 1 Cikarang Timur tahun 2024.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Dampak perineal hygiene yang kurang baik yang sering terjadi adalah keputihan (Fluor
Albus), karena tidak memperhatikan kelembaban serta kurangnya menjaga kebersihan area
genitalia dan kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan setelah BAB dan BAK juga hal ini
dikarenakan kurangnya menjaga kebersihan tangan. Tujuan penelitian ini untuk Mengetahui
pengaruh media audio visual terhadap pengetahuan remaja putri tentang perineal hygiene saat
menstruasi. Pada penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan rancangan pra-eksperimental.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswi kelas X, XI, dan kelas XII. Metode
pengumpulan sampel menggunakan simple random sampling yaitu peneliti mengambil responden
yang memenuhi kriteria, secara acak yaitu jumlah sampel yaitu 321 responden. Instrument
pengumpulan data dengan data primer, analisis data menggunakan analisa univariat dan bivariate
dengan uji Wilcoxon test. Hasil uji uji Wilcoxon yang diperoleh yaitu P value 0,000, dimana nilai P
< 0,05, yang berarti adanya pengaruh pemberian media audio visual tentang perineal hygiene saat
menstruasi pada remaja. Diharapkan dari pihak sekolah adanya mata pelajaran tentang kesehatan
reproduksi perineal hygiene saat menstruasi, yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan
remaja purti tentang menjaga Kesehatan reproduksi Wanita.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Dismenore adalah nyeri perut bagian bawah yang dialami ketika sedang menstruasi. Dismenore tidak berbahaya tetapi dapat mengganggu dan menghambat remaja dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan dapat menurunkan produktvitas remaja. Penelitian ini dilakukan di SMKN 3 Cikarang Barat yang bertujuan untuk mengetahui fakto-faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian dismenore pada siswi di SMKN 3 Cikarang Barat tahun 2023.
Penelitian menggunakan analisis kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Tehnik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuisioner berupa G-form, analisis data yang digunakan adalah univariat dengan menghitung distribusi frekuensi variabel dan analisa bivariat berupa uji chi-square dengan nilai signifikan p<0,005.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa analisis univariat diperoleh 49 (46,7%) siswi yang mengalami dismenore, Sebanyak 61 (58,1%) siswi yang usia mensarche <12 tahun, Berdasarkan lama menstruasi sebanyak 84 (80,0%) siswi yang lama menstruasinya <7, 15 (14,3%) siswi yang mempunyai riwayat menstruasi, 84 (80,0%) siswi yang status gizi normal, hasil analisis bivariat diperoleh usia menarche (p=0,00), lama menstruasi (p=0,005), riwayat mesntruasi (p=0,005), status gizi (p=0,005) yang artinya ada hubungan antara variabel independent dan variabel dependent.
Kesimpulan penelitian ini adalah dari keempat variabel tersebut memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian dismenore pada siswi di SMKN 3 Cikarang Barat. Dengan adanya hubungan dari keempat variabel ini maka pihak sekolah dan tenaga kesehatan mampu melakukan penyediaan informasi serta memberikan edukasi mengenai apa saja yang berhubungan dengan kejadian dismenore pada para siswi.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Infeksi genitalia diakibatkan perilaku vulva hygiene yang buruk. Indonesia terdapat 20.783 kasus gangguan reproduksi diakibatkan buruknya perilaku vulva hygiene. Tujuan penelitian mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku vulva hygiene saat menstruasi pada remaja putri di Madrasah Tsanawiyah Mathla’ul Anwar Karawang tahun 2023. Metode penelitian analitik kuantitatif dengan cross sectional. Sampel penelitian 260 siswi dengan total sampling. Instrumen menggunakan kuesioner. Analisa data univariat, bivariat dan uji chi square. Hasil Analisa bivariat variabel pengetahuan p value= 0.00, OR= 109.61, sarana prasarana p value= 0.00, OR= 18.86, sumber infromasi p value= 0.00, OR=100.5, dukungan keluarga p value=0.00, OR= 61.72, peran teman sebaya p value=0.00 , OR= 32.4. Kesimpulan penelitian ini ada hubungan antara pengetahuan, sarana prasarana, sumber informasi, dukungan keluarga, dan peran teman sebaya dengan perilaku vulva hygiene saat menstruasi pada remaja putri. Diharapkan remaja putri menjalankan perilaku vulva hygiene yang baik saat menstruasi.