2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Pengendalian hipertensi tidak hanya dipengaruhi oleh kepatuhan pasien, tetapi juga oleh ketepatan pemilihan dan penggunaan obat. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kerasionalan dan kepatuhan terapi antihipertensi terhadap risiko kardiovaskular pada pasien hipertensi di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan potong lintang. Sampel terdiri atas 46 pasien hipertensi peserta BPJS yang menjalani pengobatan pada periode Januari–Juli 2026 dan dipilih secara purposive sampling. Kerasionalan terapi dinilai dari rekam medis berdasarkan tepat pasien, tepat obat, tepat indikasi, dan tepat dosis. Kepatuhan diukur menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8, sedangkan risiko kardiovaskular dihitung dengan kalkulator risiko Atherosclerotic Cardiovascular Disease. Analisis bivariat menggunakan uji Fisher. Hasil menunjukkan 30 responden (65,2%) memperoleh terapi rasional, 22 responden (47,8%) memiliki kepatuhan sedang, dan 15 responden (32,6%) berada pada risiko kardiovaskular rendah. Kerasionalan terapi berpengaruh signifikan terhadap risiko kardiovaskular (p=0,036), sedangkan kepatuhan terapi tidak berpengaruh signifikan (p=0,796). Hasil ini menunjukkan bahwa pengendalian risiko kardiovaskular pada pasien hipertensi memerlukan penggunaan obat yang rasional disertai pengendalian faktor risiko lainnya.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan tablet hisap ekstrak kulit pisang raja (Musa x paradisiaca L.) dengan variasi konsentrasi ekstrak 20%, 25%, dan 30%, mengevaluasi profil disolusi dan kinetika pelepasannya, serta mengetahui aktivitas antioksidannya menggunakan metode DPPH. Tablet hisap dibuat dengan metode granulasi basah karena ekstrak yang digunakan bersifat kental. Sebelum formulasi, dilakukan determinasi tanaman dan skrining fitokimia ekstrak. Evaluasi yang dilakukan meliputi uji sifat fisik granul (laju alir, sudut diam, kadar air, dan kompresibilitas), uji disolusi dan analisis kinetika pelepasan zat aktif, serta uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dengan parameter nilai IC₅₀. Data aktivitas antioksidan dianalisis menggunakan uji One-way ANOVA dengan taraf signifikansi <0,05.
Hasil determinasi tanaman mengonfirmasi bahwa sampel merupakan kulit buah pisang raja (Musa x paradisiaca L.) famili Musaceae, dan skrining fitokimia menunjukkan ekstrak positif mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memenuhi persyaratan evaluasi granul. Hasil uji disolusi menunjukkan bahwa Formula I mengikuti pola kinetika orde nol, sedangkan Formula II dan Formula III mengikuti pola Korsemeyer-Peppas, dengan nilai %disolusi yang belum menunjukkan pelepasan zat aktif secara optimal. Hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa seluruh formula memiliki aktivitas antioksidan kategori kuat dengan nilai IC₅₀ Formula I sebesar 62,137 ppm, Formula II sebesar 62,013 ppm, dan Formula III sebesar 60,859 ppm. Hasil analisis One-way ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antar formula (p<0,05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak kulit pisang raja berpengaruh terhadap aktivitas antioksidan tablet hisap, dengan Formula III sebagai formula terbaik karena memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Tingginya ketergantungan impor bahan baku obat amoksisilin di Indonesia (90%) serta dampak lingkungan negatif dari metode sintesis kimia konvensional mendorong perlunya pengembangan metode bioproses yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan sintesis amoksisilin secara enzimatis dalam reaktor batch dengan enzim Penisilin G Asilase (PGA) terimobilisai. Metode kuantitatif eksperimental dilakukan menggunakan pemodelan Definitive Screening Design (DSD) untuk mengevaluasi pengaruh konsentrasi gliserol (0–15%), rasio substrat HPGME:6-APA (1–2 mM), dan suhu (20–35°C) terhadap yield amoksisilin (%) dan rasio selektivitas (S/H) menggunakan instrumen HPLC.
Hasil uji ANOVA menunjukkan model regresi yield amoksisilin bersifat signifikan (p = 0,0415; R² = 0,90), di mana konsentrasi gliserol (p = 0,0041) dan suhu (p = 0,0464) menjadi faktor yang berpengaruh nyata. Variasi rasio substrat tidak berpengaruh signifikan karena kondisi kejenuhan substrat, sementara respons selektivitas (S/H) juga tidak dipengaruhi secara nyata (p = 0,5230; R²= 0,65) akibat jalur reaksi sintesis dan hidrolisis yang kompetitif. Peningkatan konsentrasi gliserol menurunkan yield akibat peningkatan viskositas media yang menghambat transfer massa substrat menuju situs aktif enzim. Berdasarkan optimasi fungsi desirability (0,899), kondisi operasi optimum dicapai pada gliserol 0%, rasio substrat 1, dan suhu 34,72°C dengan prediksi yield amoksisilin maksimum sebesar 89,48%. Penelitian ini membuktikan efektivitas metode DSD dalam menyaring faktor dominan dengan jumlah percobaan 15 runs untuk pengembangan bioproses skala industri.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Abstrak: Infeksi saluran kemih merupakan salah satu infeksi bakteri yang memerlukan terapi antibiotik sehingga evaluasi penggunaan antibiotik penting dilakukan untuk memastikan ketepatan terapi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif menggunakan metode Gyssens dan secara kuantitatif menggunakan metode Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose (ATC/DDD), serta menganalisis hubungannya dengan outcome klinis pada pasien anak dengan infeksi saluran kemih di RS X tahun 2025. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan retrospektif terhadap 115 rekam medis pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 73,0% penggunaan antibiotik termasuk kategori rasional berdasarkan metode Gyssens, sedangkan cefixime memiliki nilai Total DDD tertinggi dan bersama ceftriaxone termasuk dalam segmen DU90%. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kualitas penggunaan antibiotik (p=0,018) dan kuantitas penggunaan antibiotik (p=0,004) dengan outcome klinis. Disimpulkan bahwa penggunaan antibiotik yang rasional berhubungan dengan keberhasilan terapi pada pasien anak dengan infeksi saluran kemih.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar belakang: Pemenuhan protein merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung pemulihan dan adaptasi otot setelah latihan beban. Putih telur merupakan sumber protein hewani yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan minuman pasca latihan, sedangkan pisang ambon dapat memberikan karakteristik sensori pada produk. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya terima dan kandungan protein smoothie berbasis putih telur dan pisang ambon sebagai sumber protein pasca latihan beban. Metode: Penelitian ini merupakan eksperimen laboratorium dengan pendekatan kuantitatif menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga formulasi, yaitu F1, F2, dan F3. Uji daya terima dilakukan terhadap 30 panelis semi-terlatih menggunakan uji hedonik dengan skala 1–6 berdasarkan warna, aroma, rasa, dan tekstur. Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney, sedangkan kandungan protein dianalisis menggunakan metode Kjeldahl. Hasil: Terdapat perbedaan daya terima pada warna (p=0,008), aroma (p<0,001), dan rasa (p<0,001), sedangkan tekstur tidak berbeda signifikan (p=0,830). Kandungan protein rata-rata F1 sebesar 5,18%, F2 5,77%, dan F3 6,66%, dengan F3 memiliki kandungan protein tertinggi. Kesimpulan: Variasi formulasi memengaruhi daya terima warna, aroma, dan rasa, tetapi tidak pada tekstur. F3 memiliki kandungan protein tertinggi, namun F1 menunjukkan penerimaan yang lebih baik pada beberapa parameter sensori.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar belakang : Masa remaja merupakan periode pertumbuhan pesat yang meningkatkan kebutuhan gizi, sehingga rentan mengalami masalah status gizi seperti gizi lebih maupun gizi kurang. Perubahan gaya hidup di era digital, khususnya peningkatan screen time dan kebiasaan jajan yang tidak terkendali, diduga berkontribusi terhadap permasalahan tersebut. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik responden, screen time, dan kebiasaan jajan dengan status gizi remaja di MAN 1 Bekasi. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 86 siswa kelas XI yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner karakteristik responden, kuesioner screen time, kuesioner kebiasaan jajan (FFQ), serta pengukuran antropometri (berat dan tinggi badan) untuk menentukan status gizi berdasarkan IMT/U. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (61,6%), memiliki uang saku kategori sedang (51,2%), dan jarang sarapan (45,3%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara screen time dengan status gizi remaja (p = 0,752), sedangkan kebiasaan jajan menunjukkan hubungan yang signifikan dengan status gizi remaja (p = 0,009; OR = 6,487), di mana remaja dengan kebiasaan jajan sering memiliki peluang sekitar 6,5 kali lebih besar mengalami status gizi tidak normal dibandingkan remaja dengan kebiasaan jajan jarang. Kesimpulan : Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kebiasaan jajan merupakan faktor yang berhubungan signifikan dengan status gizi remaja, sedangkan screen time tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar belakang : Konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) yang berlebihan pada remaja merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit tidak menular di masa mendatang. Pengetahuan dan sikap diduga berperan dalam membentuk pola konsumsi remaja, namun hasil penelitian sebelumnya masih menunjukkan temuan yang beragam. Tujuan penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap dengan pola konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) pada remaja MAN 1 Kabupaten Bekasi. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 86 responden yang dipilih menggunakan teknik incidental sampling. Data pengetahuan dan sikap diperoleh melalui kuesioner, sedangkan pola konsumsi gula, garam, dan lemak diukur menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil analisis penelitian, sebagian besar responden berusia 17 tahun, yaitu sebanyak 80 responden (93,0%), sedangkan responden yang berusia 16 tahun sebanyak 6 responden (7,0%). Mayoritas berjenis kelamin perempuan (72,1%) dan memiliki uang saku kategori sedang (91,9%). Sebagian besar responden memiliki pengetahuan kategori baik (70,9%), sikap kategori baik (73,3%), serta pola konsumsi gula (75,6%), garam (73,3%), dan lemak (72,1%) pada kategori cukup. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan pola konsumsi gula (p=0,621), garam (p=0,866), maupun lemak (p=0,588). Selain itu, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap dengan pola konsumsi gula (p=0,433), garam (p=0,640), maupun lemak (p=0,390). Kesimpulan : Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan sikap tidak berhubungan secara signifikan dengan pola konsumsi gula, garam, dan lemak pada remaja MAN 1 Kabupaten Bekasi. Perilaku konsumsi GGL kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain, seperti kebiasaan makan, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, ketersediaan pangan, dan pengaruh teman sebaya. Oleh karena itu, upaya perbaikan pola konsumsi GGL pada remaja perlu dilakukan secara komprehensif melalui edukasi gizi yang didukung oleh lingkungan pangan yang sehat.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar belakang : Remaja Indonesia menghadapi masalah gizi ganda, yaitu gizi kurang dan gizi lebih secara bersamaan. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi remaja putri usia 16–18 tahun di Jawa Barat yang sangat kurus 1,9%, kurus 6,3%, gemuk 8,9%, dan obesitas 4,2%. Di Kabupaten Bekasi, data Riskesdas 2018 mencatat prevalensi sangat kurus 3,80%, kurus 10,45%, gemuk 9,06%, dan obesitas 4,11%. Selain itu, 47,5% penduduk masih rutin mengonsumsi minuman manis dan 96,7% kurang mengonsumsi sayur dan buah sesuai anjuran. Faktor psikologis seperti body image turut meningkatkan risiko masalah gizi ganda pada remaja putri. Tujuan Penelitian : mengetahui hubungan antara body image dengan frekuensi konsumsi minuman manis, sayur, dan buah pada remaja putri di SMAN 1 Cikarang Selatan. Metode Penelitian : penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional menggunakan teknik quota sampling pada 81 siswi kelas XI. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil Penelitian: Responden memiliki body image positif (80,2%) dan negatif (19,8%). Frekuensi konsumsi minuman manis, sayur, dan buah sebagian besar tergolong jarang. Terdapat hubungan signifikan antara body image dengan konsumsi minuman manis (p<0,001) dan sayur (p=0,027), namun tidak dengan konsumsi buah (p=0,869). Kesimpulan dan Saran : Body image berhubungan dengan pola konsumsi minuman manis dan sayur pada remaja putri. Disarankan pihak sekolah dapat mendorong ketersediaan pilihan minuman rendah gula dan menu sayur serta buah yang lebih beragam dan menarik di kantin sekolah
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Prestasi akademik pada remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya kebiasaan sarapan dan kadar hemoglobin (Hb). Sarapan berperan sebagai sumber energi utama bagi otak sehingga mendukung konsentrasi dan kemampuan belajar, sedangkan kadar Hb yang rendah dapat mengurangi suplai oksigen ke otak dan berpotensi mengganggu fungsi kognitif. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebiasaan sarapan dan kadar hemoglobin (Hb) dengan prestasi akademik pada siswi di SMAN 3 Cikarang Utara. Metode Penelitian: Penelitian menggunakan desain kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah 247 siswi kelas XI SMAN 3 Cikarang Utara, dengan sampel sebanyak 71 responden yang dipilih menggunakan teknik kuota sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mengenai kebiasaan sarapan, pengukuran kadar Hb menggunakan alat Easy Touch GCHb, pengukuran status gizi berdasarkan IMT/U, serta pengambilan data prestasi akademik berdasarkan peringkat kelas. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil Penelitian: Mayoritas responden berusia 17 tahun (62,0%), memiliki status gizi baik (66,2%), dan orang tua berpendidikan terakhir SMA (73,2%). Sebagian besar responden memiliki kebiasaan sarapan ≥4x/minggu (62,0%), kadar Hb normal (≥12 g/dl) 87,3%, dan yang belum kategori prestasi akademik (54,9%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan sarapan dengan prestasi akademik (p=0,011; OR=73,4%;95%CI=0,093–0,758). Sebaliknya, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar hemoglobin dengan prestasi akademik (p=0,140; OR=69,5%;95% CI=0,059–1,585). Kesimpulan: Kebiasaan sarapan berhubungan dengan prestasi akademik pada siswi SMAN 3 Cikarang Utara, sedangkan tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara kadar Hb dan prestasi akademik pada sampel penelitian. Saran: Sekolah diharapkan meningkatkan edukasi mengenai pentingnya sarapan bergizi seimbang serta bekerja sama dengan puskesmas dalam pelaksanaan pemeriksaan kadar hemoglobin secara berkala sebagai upaya pencegahan anemia pada remaja putri.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang :Masalah kurang nafsu makan pada anak merupakan salah satu tantangan kesehatan yang sering dihadapi, terutama pada anak dengan sindrom defisiensi Qi Limpa. Menurut teori Pengobatan Tradisional China (TCM), limpa berperan vital dalam proses pencernaan dan transportasi sari makanan. Defisiensi Qi Limpa menyebabkan gangguan fungsi transportasi dan transformasi limpa, yang bermanifestasi sebagai penurunan nafsu makan, rasa cepat kenyang, perut kembung, dan gangguan pertumbuhan. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berdampak pada status gizi, daya tahan tubuh, dan perkembangan anak secara keseluruhan.
Tujuan : Berbagai upaya non-farmakologis telah dikembangkan untuk mengatasi masalah ini, salah satunya adalah terapi pijat Tuina pediatrik. Tuina merupakan teknik pemijatan yang menstimulasi titik-titik meridian untuk melancarkan peredaran darah dan memperbaiki fungsi pencernaan pada limpa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas Tuina pediatrik dalam meningkatkan nafsu makan pada anak dengan sindrom defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental One Group Pretest-Posttest, yaitu mengukur nafsu makan anak sebelum dan sesudah pemberian intervensi Tuina. Sampel penelitian adalah anak-anak yang didiagnosis mengalami sindrom defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi.
Intervensi Tuina pediatrik diberikan selama beberapa sesi dengan durasi 10–15 menit setiap kali perawatan, dengan menstimulasi titik-titik meridian yang berhubungan dengan sistem pencernaan dan limpa, seperti titik limpa), titik lambung, dan titik-titik lainnya yang berfungsi memperkuat limpa dan meningkatkan nafsu makan. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner penilaian nafsu makan yang telah tervalidasi, diisi sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon karena data tidak terdistribusi normal.
Hasil :Penelitian menunjukkan adanya peningkatan nafsu makan yang signifikan pada anak setelah diberikan intervensi Tuina pediatrik. Rata-rata skor nafsu makan meningkat dari kategori cukup pada pretest menjadi kategori baik pada posttest. Hasil uji statistik Wilcoxon menunjukkan nilai *p* = 0,003 (*p* < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan dari pijat Tuina terhadap peningkatan nafsu makan anak. Secara fisiologis, stimulasi titik meridian pada terapi Tuina meningkatkan gerakan peristaltik usus, mempercepat proses pengosongan lambung, serta mengoptimalkan sirkulasi darah dan fungsi organ pencernaan untuk penyerapan nutrisi yang lebih baik.
Kesimpulan: Pijat Tuina pediatrik terbukti efektif secara signifikan dalam meningkatkan nafsu makan pada anak dengan sindrom defisiensi Qi Limpa. Terapi ini mampu menstimulasi titik-titik meridian yang berhubungan dengan sistem pencernaan dan limpa, sehingga memperbaiki fungsi transportasi dan transformasi limpa yang terganggu.
Implikasi: Tuina pediatrik dapat direkomendasikan sebagai terapi non-farmakologis yang aman, efektif, dan tanpa efek samping untuk mengatasi masalah kurang nafsu makan pada anak dengan defisiensi Qi Limpa. Griya Sehat Rauhiyyah dan fasilitas kesehatan lainnya dapat mengadopsi terapi ini sebagai bagian dari pelayanan komprehensif untuk anak-anak dengan gangguan nafsu makan. Penelitian lebih lanjut dengan desain randomized controlled trial (RCT) dan jumlah sampel yang lebih besar disarankan untuk memperkuat bukti ilmiah.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Hipertensi masih menjadi ancaman kesehatan global yang berdampak langsung pada peningkatan angka mortalitas dan morbiditas di berbagai negara. Dikenal sebagai kondisi tanpa gejala awal yang jelas, penyakit ini berpotensi memicu kerusakan organ vital, seperti gagal ginjal, serangan stroke, hingga penyakit jantung koroner. Selain intervensi farmakologis, tata laksana hipertensi membutuhkan pendekatan nonfarmakologis, salah satunya melalui olah tubuh Qigong. Terapi ini memadukan teknik olah napas, olah gerak fisik terstruktur, dan meditasi guna merangsang respons relaksasi, meredakan ketegangan saraf, serta mengoptimalkan sirkulasi darah dalam mengontrol tekanan darah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas latihan Qigong terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen semu (quasi-experiment) melalui rancangan one-group pretest-posttest design. Populasi penelitian mencakup seluruh warga yang terdiagnosis hipertensi di kawasan Villa Japos Blok N1 RW 014, Ciledug, Kota Tangerang, Banten. Pemilihan sampel dilakukan mengacu pada kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan melalui teknik purposive sampling. Intervensi Qigong diterapkan secara berkala dengan durasi 15 hingga 30 menit per sesi dan frekuensi 3 sampai 5 kali seminggu selama periode penelitian. Pengukuran tekanan darah sistolik dan diastolik dilakukan sebelum serta sesudah pemberian intervensi menggunakan alat tensimeter yang telah terkalibrasi dan terstandarisasi.
Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik yang bermakna setelah diberikan intervensi latihan Qigong. Analisis data dilakukan menggunakan uji paired t-test apabila data berdistribusi normal, atau uji Wilcoxon signed-rank test apabila data tidak berdistribusi normal, dengan tingkat signifikansi (α) 0,05. Hasil analisis membuktikan terdapat pengaruh yang signifikan dari latihan Qigong terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah latihan Qigong efektif dalam menurunkan tekanan darah sehingga dapat dimanfaatkan sebagai terapi komplementer dalam pengelolaan hipertensi. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat dalam memanfaatkan terapi nonfarmakologis sebagai upaya pengendalian hipertensi.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Insomnia adalah gangguan tidur tersering dalam praktik klinis yang menurunkan kualitas hidup dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif. Obat sedatif-hipnotik konvensional memiliki efek samping seperti ketergantungan dan gangguan kognitif, sehingga diperlukan terapi alternatif yang aman. Akupunktur titik PC 6 (Nei Guan) dan herbal wedang pala berpotensi memberikan efek sinergis untuk mengatasi insomnia.
Tujuan: Menganalisis pengaruh akupunktur PC 6 kombinasi wedang pala terhadap peningkatan kualitas tidur pasien insomnia.
Metode: Penelitian pretest-posttest control group design dengan pendekatan kuantitatif ini melibatkan 30 pasien insomnia di Klinik Velda, Tanjung Priuk, Jakarta Utara, yang dibagi menjadi dua kelompok: akupunktur PC 6 + wedang pala (n=15) dan akupunktur PC 6 saja (n=15). Intervensi dilakukan 8 kali (2 kali/minggu). Kualitas tidur diukur dengan Insomnia Severity Index (ISI) saat pre-test dan post-test. Analisis menggunakan uji Shapiro-Wilk (normalitas) dan Paired T-Test (hipotesis).
Hasil: Seluruh data berdistribusi normal (p > 0,05). Kelompok kombinasi menunjukkan penurunan skor ISI yang sangat signifikan dari 15,20 ± 4,98 menjadi 7,00 ± 2,72 (t(14) = -17,85; p < 0,001). Kelompok akupunktur saja menurun dari 16,20 ± 4,24 menjadi 8,73 ± 2,60 (t(14) = -18,63; p < 0,001). Kedua kelompok mengalami perbaikan yang sangat signifikan secara statistik (p < 0,001).
Kesimpulan: Akupunktur PC 6, baik tunggal maupun kombinasi dengan wedang pala, efektif menurunkan skor ISI (meningkatkan kualitas tidur) pada pasien insomnia moderat. Kombinasi menunjukkan kecenderungan efek lebih besar, mengindikasikan efek sinergis antara kedua terapi.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Nyeri punggung bawah (low back pain) merupakan keluhan muskuloskeletal yang sering ditemukan, dengan prevalensi global mencapai 619 juta kasus pada 2020. Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi gangguan muskuloskeletal sebesar 7,30%. Penatalaksanaan konvensional menggunakan OAINS bersifat simtomatik dan kurang efektif mengatasi penyebab mendasar nyeri pinggang kronis, sehingga dibutuhkan alternatif terapi komplementer seperti Tuina.
Tujuan: Menganalisis pengaruh terapi Tuina teknik Rou Fa pada titik akupunktur BL 23, BL 25, dan BL 40 terhadap penurunan intensitas nyeri pinggang pada pasien dewasa.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental one-group pretestposttest kuantitatif. Sampel penelitian sebanyak 30 responden di Klinik Velda, Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang memenuhi kriteria inklusi. Intervensi Tuina teknik Rou Fa diberikan sebanyak 8 kali pertemuan (2 kali per minggu selama 4 minggu). Intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) saat pre-test dan post-test. Analisis data menggunakan Shapiro-Wilk dan pairedsamples t-test.
Hasil: Rata-rata skor NRS menurun signifikan dari 4,83 (SD = 1,949) sebelum intervensi menjadi 1,03 (SD = 1,273) setelah intervensi. Penurunan rata-rata sebesar 3,800 poin (SD = 1,064) atau setara dengan 78,7% dari skor awal. Uji statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan (t = -19,571; df = 29; p < 0,001). Kesimpulan: Terapi Tuina teknik Rou Fa pada titik akupunktur BL 23, BL 25, dan BL 40 berpengaruh signifikan terhadap penurunan intensitas nyeri pinggang pada pasien dewasa di Klinik Velda.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Nyeri pinggang banyak dialami pekerja kantor, dengan prevalensi 72% pada durasi duduk ≥4 jam/hari. Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok, kondisi ini diklasifikasikan sebagai sindrom Lembab-Dingin akibat obstruksi meridian. Terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu terbukti efektif mengurangi nyeri, namun penelitian pada populasi pekerja kantor masih terbatas.
Tujuan: Mengetahui pengaruh terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu terhadap penurunan intensitas nyeri pinggang pada pekerja kantor dengan sindrom Lembab-Dingin.
Metode: Penelitian eksperimen kuasi dengan desain interrupted time series pada 20 pekerja kantor Supra Group yang mengalami nyeri pinggang sindrom Lembab-Dingin. Sampel diambil secara purposive sampling (usia 21-45 tahun, nyeri kronis >12 minggu, skor NRS ≥4). Intervensi Tuina Anfa pada titik Shenshu diberikan 2 kali/minggu selama 4 minggu (8 sesi). Pengukuran nyeri menggunakan NRS dilakukan sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test (p<0,05).
Hasil: Sebanyak 20 responden berpartisipasi (55% usia 21-30 tahun, 55% laki-laki, seluruhnya bekerja ≥4 jam/hari). Rata-rata skor NRS menurun dari 4,45 (nyeri sedang) menjadi 1,15 (nyeri ringan) setelah 8 sesi, dengan penurunan rata-rata 3,30 poin (74,2%). Uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan p=0,000 (p<0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara nyeri sebelum dan sesudah intervensi. Seluruh responden (100%) mengalami penurunan skor NRS tanpa efek samping.
Kesimpulan: Terapi Tuina Anfa pada titik Shenshu efektif menurunkan intensitas nyeri pinggang pada pekerja kantor dengan sindrom Lembab-Dingin (p=0,000), aman, dan dapat direkomendasikan sebagai intervensi non-farmakologis.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Anestesi spinal merupakan salah satu teknik anestesi regional yang sering digunakan dalam tindakan pembedahan. Komplikasi yang dapat terjadi setelah anestesi spinal adalah mual dan muntah. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh ketinggin level blok spinal yang menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah sehingga memicu pusat muntah.
Tujuan: Untuk mengetahui korelasi antara ketinggian level blok spinal dengan frekuensi mual muntah pasca anestesi spinal.
Metode: Penelitian kuantitatif analitik observasional dengan pendektan cross-sectional pada 44 responden. Variabel independen yaitu ketinggian level blok spinal sedangkan variabel dependen adalah frekuensi mual muntah pasca anestesi spinal. Data dikumpulkan melalui lembar observasi mengenai ketinggian blok spinal dan kejadian mual muntah. Analisis data dilakukan menggunakan univariat dan bivariat.
Hasil: Menunjukkan adanya korelasi antara ketinggian blok spinal dengan frekuensi mual muntah pada pasien pasca anestesi spinal. Dari 44 responden 7 orang dengan ketinggian blok rendah (15.9%) dan 37 orang dengan ketinggian sedang (84.1%). Lalu sebanyak 15 orang mengalami muntah (34.1%), 10 orang mual (22.7%), 19 orang mual muntah ≥2 kali (43.2%). Diperoleh bahwa nilai koefisien korelasi sebesar 0,402 dengan nilai signifikansi 0,007 (p<0,05).
Kesimpulan: Terdapat korelasi yang signifikan antara ketinggian level blok spinal dengan frekuensi mual muntah pasca anestesi spinal pada pasien pasca anestesi spinal.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Hipotensi merupakan komplikasi yang sering terjadi akibat anestesi spinal dan dapat memicu Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) melalui hipoperfusi pada Chemoreceptor Trigger Zone (CTZ). PONV merupakan komplikasi pasca operasi yang dapat memperlambat pemulihan dan meningkatkan ketidaknyamanan pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hipotensi akibat anestesi spinal dengan kejadian PONV di ruang Recovery Room Rumah Sakit Pinna Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 31 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui observasi tekanan darah dan kejadian PONV dalam 24 jam pasca operasi, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara hipotensi akibat anestesi spinal dengan kejadian PONV p-value = 0.002 (p < 0,05). Kesimpulan: Disimpulkan bahwa pasien yang mengalami hipotensi memiliki risiko lebih tinggi mengalami PONV. Diperlukan deteksi dini dan penatalaksanaan hipotensi secara optimal untuk menurunkan risiko PONV dan meningkatkan kualitas pelayanan pasca operasi.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi setelah tindakan pembedahan dengan anestesi spinal. Kejadian PONV dapat meningkatkan ketidaknyamanan pasien, memperpanjang masa perawatan. Salah satu faktor yang diduga berpengaruh terhadap kejadian PONV adalah lama puasa preoperatif.
Tujuan : Mengetahui hubungan lama puasa dengan kejadian PONV pada pasien dengan spinal anestesi di RSUD RH Satibi Kabupaten Bogor.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 63 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan melalui lembar observasi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α = 0,05.
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian responden menjalani puasa lebih dari 8 jam dan sebagian mengalami kejadian PONV dalam 15 menit pertama pasca operasi. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara lama puasa dengan kejadian PONV (p < 0,05). Pasien dengan durasi puasa lebih dari 8 jam memiliki risiko lebih tinggi mengalami PONV dibandingkan dengan pasien yang menjalani puasa sesuai rekomendasi.
Kesimpulan : Penelitian ini terdapat hubungan antara lama puasa preoperatif dengan kejadian PONV pada pasien spinal anestesi. Disarankan kepada tenaga kesehatan untuk mengoptimalkan manajemen puasa preoperatif sesuai SOP untuk meminimalkan risiko PONV dan meningkatkan kualitas pelayanan perioperative.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar belakang:Hipertensi derajat II merupakan kondisi kronis yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan/atau diastolik ≥90 mmHg. Keadaan ini dapat menyebabkan perubahan fisiologis pada sistem kardiovaskular dan serebral yang berpotensi memengaruhi respons tubuh terhadap obat anestesi. Pada tindakan pembedahan dengan general anestesi, gangguan regulasi hemodinamik pada pasien hipertensi diduga berkontribusi terhadap pemanjangan waktu pulih sadar.Tujuan: Mengetahui hubungan antara riwayat penyakit hipertensi derajat II dengan pemanjangan waktu pulih sadar pasca general anestesi di ruang Instalasi Bedah Sentral RSUD Bayu Asih PurwakartaMetode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang menjalani operasi dengan general anestesi di RSUD Bayu Asih Purwakarta. Sampel berjumlah 50 responden yang ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui lembar observasi dan rekam medis pasien, serta penilaian waktu pulih sadar menggunakan Aldrete Score. Hasil:Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 50 responden, sebagian besar memiliki riwayat hipertensi derajat II. Distribusi waktu pulih sadar menunjukkan terdapat responden dengan pemulihan lambat (>15 menit) dan pemulihan cepat (<15 menit). Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p-value > 0,05. Kesimpulan:Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat penyakit hipertensi derajat II dengan pemanjangan waktu pulih sadar pasca general anestesi di RSUD Bayu Asih Purwakarta. Meskipun demikian, pengelolaan tekanan darah sebelum tindakan operasi tetap penting untuk meminimalkan risiko komplikasi perioperatif dan meningkatkan keselamatan pasien.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya kecemasan pasien pra anestesi yang dapat memengaruhi stabilitas fisiologis dan kesiapan mental sebelum tindakan operasi. Edukasi berbasis self-efficacy dipandang sebagai intervensi non-farmakologis yang mampu memperkuat keyakinan diri pasien dalam menghadapi prosedur anestesi.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi berbasis self-efficacy terhadap kesiapan mental dan tingkat kecemasan pasien pra anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi.
Metode: Penelitian menggunakan desain quasi-eksperimental dengan pendekatan one group pretest–posttest pada 64 responden yang dipilih secara purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Praoperative Self-Efficacy Scale (PSES) untuk mengukur kesiapan mental dan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) untuk mengukur kecemasan, dengan analisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kesiapan mental (Z = -6,971; p < 0,05) dan penurunan signifikan pada tingkat kecemasan (Z = -5,308; p < 0,05) setelah diberikan edukasi.
Kesimpulan: Disimpulkan bahwa edukasi berbasis self-efficacy efektif dalam meningkatkan kesiapan mental dan menurunkan kecemasan pasien sebelum tindakan anestesi.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Shivering merupakan komplikasi yang sering terjadi setelah tindakan anestesi spinal dan dapat meningkatkan konsumsi oksigen, beban metabolik, serta risiko gangguan hemodinamik pada pasien di ruang pemulihan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh regional anestesi subaraknoid blok terhadap terjadinya shivering pada fase pasca anestesi di ruang recovery room RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan observasional analitik dan rancangan cross-sectional. Sampel penelitian adalah pasien yang menjalani anestesi spinal dan diobservasi kejadian shivering dalam 0–30 menit pertama pasca anestesi. Hasil penelitian: menunjukkan adanya pengaruh antara regional anestesi subaraknoid blok dengan kejadian shivering pasca anestesi. Faktor usia, jenis kelamin, serta kondisi fisiologis pasien turut berkontribusi terhadap kejadian tersebut. Kesimpulan: bahwa anestesi spinal berpengaruh terhadap terjadinya shivering pada fase pemulihan. Saran: diperlukan pemantauan suhu tubuh dan manajemen pencegahan yang optimal guna meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pasien di ruang recovery room.