BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Pendahuluan: Masa nifas merupakan periode penting dalam pemulihan ibu setelah persalinan. Salah satu proses fisiologis yang perlu dipantau adalah involusi uterus, yang ditandai dengan penurunan Tinggi Fundus Uteri (TFU). Mobilisasi dini merupakan salah satu upaya yang dapat membantu mempercepat proses involusi uterus dan mencegah komplikasi masa nifas. Tujuan: Mengetahui pengaruh mobilisasi dini terhadap proses involusi uterus pada ibu nifas 6 jam di Praktik Mandiri Bidan Sanih Wilayah Kecamatan Kutawaluya Kabupaten Karawang Tahun 2026. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain Quasy Experiment dan pendekatan One-Group Pretest-Posttest. Populasi dan sampel penelitian berjumlah 30 ibu nifas 6 jam yang memenuhi kriteria inklusi. Pengambilan sampel menggunakan teknik quota sampling. Pengukuran TFU dilakukan sebelum dan sesudah intervensi mobilisasi dini menggunakan metline. Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat menggunakan Paired Sample t-Test dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil: Rata-rata TFU sebelum dilakukan mobilisasi dini adalah 13,057 cm (SD ± 0,8332 cm), dengan nilai minimum 11,2 cm dan maksimum 14,8 cm. Setelah dilakukan mobilisasi dini, rata-rata TFU menurun menjadi 11,167 cm (SD ± 0,8860 cm), dengan nilai minimum 9,7 cm dan maksimum 12,8 cm. Terjadi penurunan rata-rata TFU sebesar 1,89 cm (SD ± 0,4037 cm). Hasil uji Paired Sample t-Test menunjukkan nilai t-hitung = 25,641 dan p-value = 0,001 (p < 0,05), sehingga H₀ ditolak dan Hₐ diterima. Dengan demikian, terdapat pengaruh yang signifikan antara mobilisasi dini terhadap proses involusi uterus pada ibu nifas 6 jam. Simpulan: Mobilisasi dini terbukti mempercepat involusi uterus, sehingga disarankan menjadi asuhan rutin ibu nifas
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Praktik budaya pantang makan pada ibu nifas masih sangat prevalent di Indonesia akibat kepercayaan tradisional, yang berisiko menghambat pemulihan luka perineum dan menurunkan kualitas ASI secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik tersebut di Desa Sukabakti, Kecamatan Tambelang tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 30 ibu nifas yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Chi-Square dan Odds Ratio (OR) dengan tingkat kepercayaan 95%.
Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan (p=0,003; OR=16,000), dukungan keluarga (p=0,010; OR=0,091), dan peran paraji (p=0,028; OR=0,132) dengan praktik pantang makan. Pengetahuan merupakan faktor risiko paling dominan, di mana ibu dengan pengetahuan kurang baik berpeluang 16 kali lebih besar melakukan pantang makan. Sebaliknya, dukungan keluarga dan peran paraji yang positif bertindak sebagai faktor protektif. Namun, variabel akses informasi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p=0,067). Disimpulkan bahwa faktor sosial-budaya sangat memengaruhi praktik ini. Oleh karena itu, tenaga kesehatan disarankan meningkatkan edukasi gizi yang secara aktif melibatkan keluarga dan paraji untuk mengubah norma sosial serta mencegah risiko stunting pada bayi secara menyeluruh dan berkelanjutan.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Keterbatasan produksi dan pengeluaran Air Susu Ibu (ASI) pada hari-hari pertama pascapersalinan menjadi hambatan utama dalam pencapaian cakupan ASI eksklusif. Hambatan ini memicu risiko gangguan pertumbuhan anak hingga meningkatnya angka kejadian stunting. Intervensi nonfarmakologis berupa pijat oksitosin di area vertebra torakalis dinilai efektif merangsang refleks pancaran (let-down reflex) melalui stimulasi hormon prolaktin dan oksitosin. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemijatan oksitosin terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu nifas di Puskesmas Mekar Mukti Tahun 2026. Metode: Penelitian pra-eksperimental ini mengadopsi rancangan one group pretest-posttest design. Populasi penelitian mencakup seluruh ibu nifas di Puskesmas Mekar Mukti pada bulan Juli 2026. Pengambilan sampel dilakukan melalui teknik total sampling sehingga didapatkan 30 ibu nifas. Intervensi pijat oksitosin diberikan dua kali sehari selama tiga hari berturut-turut. Instrumen pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan gelas ukur laktasi. Analisis data bivariat diuji menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test karena distribusi data tidak normal. Hasil: Karakteristik responden menunjukkan seluruh ibu berada pada usia reproduksi sehat (100%), mayoritas berstatus multipara (60%), dan tidak bekerja (86,7%). Sebelum intervensi, seluruh responden (100%) memiliki produksi ASI kategori kurang (<250 ml). Paschaintervensi, terjadi peningkatan signifikan di mana 15 responden (50%) mencapai kategori cukup dan 10 responden (33,3%) kategori lebih. Uji statistik menunjukkan nilai Z = -4,796 dengan signifikansi p = 0,000 (p < 0,05). Kesimpulan: Terdapat pengaruh yang signifikan dari pelaksanaan pijat oksitosin terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu nifas. Intervensi ini direkomendasikan sebagai asuhan kebidanan komplementer rutin di puskesmas serta dimaksimalkan melalui pemberdayaan keluarga.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber nutrisi utama bagi bayi, sehingga kelancaran produksi dan pengeluarannya penting dalam keberhasilan pemberian ASI. Produksi ASI yang optimal mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi bayi serta keberlanjutan proses menyusui. Pijat oksitosin merupakan salah satu intervensi nonfarmakologis yang membantu relaksasi ibu dan mendukung refleks pengeluaran ASI, sedangkan teknik Marmet memberikan stimulasi mekanis secara langsung pada payudara untuk membantu pengeluaran ASI. Kombinasi kedua teknik tersebut diharapkan dapat memberikan stimulasi yang lebih optimal dalam mendukung produksi dan pengeluaran ASI. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan peningkatan produksi ASI antara pemberian pijat oksitosin dan kombinasi pijat oksitosin dengan teknik Marmet pada ibu nifas di Desa Ciantra, Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi Tahun 2026.
Penelitian menggunakan desain quasi-experimental pretest-posttest two-group dengan 30 responden yang dipilih secara purposive sampling dan dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing 15 responden. Kelompok pertama diberikan pijat oksitosin, sedangkan kelompok kedua diberikan kombinasi pijat oksitosin dan teknik Marmet. Produksi ASI diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan satuan mL. Analisis data dilakukan menggunakan paired sample t-test dan independent sample t-test pada tingkat kemaknaan α = 0,05.
Hasil menunjukkan rata-rata produksi ASI pada kelompok pijat oksitosin meningkat dari 19,92 mL menjadi 30,89 mL, sedangkan kelompok kombinasi meningkat dari 20,94 mL menjadi 42,81 mL. Peningkatan masing-masing sebesar 10,97 mL dan 21,87 mL, dengan p < 0,001. Uji independent sample t-test menunjukkan terdapat perbedaan peningkatan yang signifikan antara kedua kelompok (p < 0,001), dengan selisih rata-rata peningkatan sebesar 10,91 mL. Kesimpulan pada kedua intervensi didapatkan peningkatan produksi ASI, namun kombinasi pijat oksitosin dan teknik Marmet menunjukkan peningkatan yang lebih besar dibandingkan pijat oksitosin saja. Kombinasi kedua teknik tersebut dapat dipertimbangkan sebagai salah satu pendekatan nonfarmakologis dalam mendukung produksi dan pengeluaran ASI pada ibu nifas.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Masalah pada payudara merupakan salah satu pemicu hambatan dalam proses menyusui, dimana nyeri akibat bendungan ASI menjadi keluhan yang paling sering ditemukan. Meskipun kondisi ini bersifat fisiologis, penanganan yang tidak tepat berisiko memicu komplikasi yang lebih parah seperti mastitis hingga abses payudara. Munculnya nyeri bendungan ASI ini sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor, meliputi tingkat usia, status pekerjaan, dan jumlah paritas ibu. Sebagai solusi non-farmakologis.Daun kubis memberikan kenyamanan bagi ibu nifas karena mampu memperlebar pembuluh darah kapiler dan melepaskan efek dingin yang menyerap panas tubuh. Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kompres daun kubis terhadap nyeri bendungan asi pada ibu nifas di wilayah TPMB Yuliyanah karawang Tahun 2026.
Penelitian ini menggunakan metode pra-eksperimen melalui rancangan one group pretest-posttest design. Populasi ibu nifas sebanyak 30 responden yang dilakukan pada bulan mei – juli. Pengumpulan data tingkat pembendungan ASI diukur menggunakan Six Point Engorgement Scale dan kuesioner, dengan menggunakan Uji Wilcoxon Range List.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sebelum intervensi dilakukan, mayoritas ibu menyusui 24 orang (80,0%) mengeluhkan nyeri bendungan ASI tingkat berat, dan 6 orang (20,0%). Namun setelah intervensi, intensitas nyeri menurun drastis sebanyak 23 orang (76,7%) mengalami nyeri ringan, 6 orang (20,0%) tingkat sedang dan hanya 1 orang (3,3%) kategori berat. Hasil analisis bivariat lewat uji Wilcoxon memperkuat temuan ini dengan perolehan nilai p = 0,000 (p < 0,05) yang menandakan adanya penurunan nyeri secara signifikan. Selain itu, penurunan rata-rata skor nyeri dari 2,80 menjadi 1,27 membuktikan bahwa aplikasi kompres daun kubis sangat efektif dalam meredakan nyeri akibat bendungan ASI pada ibu nifas.
Kesimpulan penelitian adanya pengaruh kompres daun kubis terhadap nyeri bendungan asi pada ibu nifas di wilayah TPMB Yuliyanah Karawang. penelitian ini bertujuan meningkatkan wawasan dan pengalaman peneliti dalam menerapkan terapi alami kompres daun kubis guna meredakan nyeri akibat bendungan ASI pada ibu nifas.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Luka perineum merupakan salah satu masalah yang sering dialami ibu nifas setelah persalinan pervaginam. Luka ini terjadi akibat adanya robekan jaringan perineum atau tindakan episiotomi, yang dapat menimbulkan nyeri, perdarahan, hingga risiko infeksi bila penyembuhannya tidak optimal. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), hampir 90% persalinan normal mengalami robekan perineum, dengan insiden global sebanyak 2,7 juta kasus pada tahun 2020 dan diperkirakan meningkat menjadi 6,3 juta kasus pada tahun 2050. Di Indonesia, sekitar 75% ibu nifas mengalami luka perineum pascapersalinan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian putih telur ayam terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di TPMB Jayanti, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi Tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimen dengan pendekatan satu kelompok pretest–posttest. Sampel terdiri dari 30 ibu nifas yang dipilih menggunakan purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Instrumen penelitian berupa lembar observasi menggunakan skor REEDA (Redness, Edema, Ecchymosis, Discharge, Approximation) untuk menilai kondisi luka perineum. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan distribusi frekuensi, dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon signed-rank. Uji ini dipilih karena data bersifat berpasangan (skor REEDA sebelum dan sesudah intervensi pada responden yang sama), diukur pada skala ordinal, dan uji normalitas Shapiro–Wilk menunjukkan bahwa data tidak terdistribusi normal (p < 0,05). Oleh karena itu, uji nonparametrik Wilcoxon dianggap sebagai analisis statistik yang paling tepat untuk penelitian ini.Hasil : Hasil uji Wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara skor REEDA sebelum dan sesudah pemberian putih telur ayam, dengan nilai Z = -5,396 dan p-value = 0,000 (p < 0,05). Sebanyak 96,7% responden mengalami penyembuhan luka perineum secara normal (≤ 7 hari). Kesimpulan : Pemberian putih telur ayam secara rutin berpengaruh signifikan dalam mempercepat penyembuhan luka perineum pada ibu nifas. Putih telur dapat menjadi alternatif intervensi nutrisi yang aman dan efektif dalam perawatan pasca persalinan.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Penyembuhan luka pasca operasi sectio caesarea (SC) merupakan proses penting dalam masa nifas yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti usia, status gizi, mobilisasi, pendidikan, dan adanya penyakit penyerta. Penyembuhan luka yang tidak optimal dapat meningkatkan risiko infeksi maupun komplikasi lain. Subyek dan Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross sectional. Lokasi penelitian di RS Sentra Medika Cikarang pada bulan Juli-Agustus 2025. Populasi adalah seluruh ibu nifas pasca operasi SC, dengan sampel sebanyak 59 responden yang diperoleh menggunakan teknik purposive sampling. Variabel independen meliputi usia, pendidikan, status gizi, mobilisasi, dan penyakit penyerta. Variabel dependen adalah penyembuhan luka pasca operasi SC. Instrumen penelitian berupa lembar observasi dan kuesioner. Analisis data menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% (α=0,05). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara status gizi (p=0,000), mobilisasi (p=0,004), pendidikan (p=0,011) dan sumber informasi(p=0,000) dengan penyembuhan luka pasca operasi SC. Sementara itu, usia (p=0,261) tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Kesimpulan: Faktor-faktor yang berhubungan dengan penyembuhan luka pasca operasi SC pada ibu nifas di RS Sentra Medika Cikarang adalah status gizi, mobilisasi, dan pendidikan dan sumber informasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Di Indonesia, jumlah kematian ibu yang dihimpun dari pencatatan program
kesehatan keluarga di Kementerian Kesehatan pada tahun 2020 menunjukkan 4.627
kematian. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun 2019 yang mencatat 4.221
kematian. Berdasarkan penyebab, sebagian besar kematian ibu pada tahun 2020 disebabkan
oleh perdarahan sebanyak 1.330 kasus, hipertensi dalam kehamilan sebanyak 1.110 kasus,
dan gangguan sistem peredaran darah sebanyak 230 kasus. (Kemenkes RI, 2020).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan
pengetahuan ibu nifas tentang tanda bahaya masa nifas di TPMB Rosita Medika Babelan
Tahun 2023.
Penelitian ini menggunakan uji chi-square, dan bersifat kuantitatif, menggunakan
metode cross sectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 50 responden dengan
jumlah sampel 50 ibu nifas. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan
teknik total sampling. Instrumen dalam penelitian ini yaitu menggunakan kuesioner dan di
analisa menggunakan analisa univariat dan analisa bivariat.
Hasil dari penelitian yang menunjukan variabel yang berhubungan dengan
pengetahuan ibu nifas tentang tanda bahaya masa nifas yaitu usia dengan p value 0,045 dan
nilai OR 8,33, paritas dengan p value = 0,044 dan nilai OR=3,800, dan dukungan nakes
dengan p value = 0,045 dan nilai OR 8,3. Sedangkan variabel yang tidak berhubungan yaitu
pendidikan dengan p value = 0,132 dan nilai OR 4,000
Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ada hubungan antara usia, paritas, dan
dukungan tenaga kesehatan dengan tanda bahaya masa nifas. Sedangkan pada pendidikan
tidak ada hubungan antara tanda bahaya masa nifas tentang tanda bahaya masa nifas di
TPMB Rosita Medika Babelan. Disarankan bagi masyarakat khususnya ibu nifas agar lebih
memahami tanda bahaya pada masa nifas (pasca bersalin).
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Persalinan dan nifas yaitu dapat mengakibatkan abortus (keguguran) partus prematur,kelahiran bayi prematur,berat bayi lahir rendah,perdarahan post partum,atonia uteri,syok,infeksi intra partum maupun post partum. Tujuan penelitian ini untuk Mengetahui Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Infeksi nifas pada ibu post partum. Pada penelitian ini menggunakan desain penelitian analisisi dengan jenis case control. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu nifas Tahun 2019-2022 dengan jumlah 1.120 orang di Rumah Bersalin Wijaya Kusuma Serpong.
Metode pengumpulan sampel menggunakan total sampling, yaitu sebanyak 80 orang. Instrument
pengumpulan data dengan rekam medik, analisa data menggunakan analisa univariat dan bivariate dengan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel umur (0,000), paritas (0,000), pendidikan (0,000), pekerjaan (0,000 memiliki hubungan bermakna, dengan infeksi nifas pada ibu post partum. Terdapat hubungan bermakna antara umur, paritas, Pendidikan dan pekerjaan dengan infeksi nifas pada ibu post partum. Diharapkan petugas kesehatan dapat lebih aktif melakukan kegiatan seperti penyuluhan atau pemberian informasi kepada masyarakat umum baik melalui media cetak, media sosial, ataupun metode lain dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat terkait pentingnya menjaga kebersihan setelah melahirkan.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Putih telur mengandung protein yang sangat tinggi, mutu protein, nilai cerna dan mutu cerna
telur paling baik di antara bahan-bahan makanan lainnya. Putih telur mengandung albumin 95%
yang berfungsi untuk penyembuhan luka operasi. Tujuan penelitian ini untuk Mengetahui
pengaruh putih telur terhadap proses penyembuhan luka operasi sectio caesarea. Pada penelitian
ini menggunakan desain penelitian Quasi experiment dengan Posttest only with control group
Design Populasi dalam penelitian ini adalah pasien inpartu yang rujukan dari Puskesmas
Tambelang yang mendapatkan Tindakan operasi sectio caesaria pada bulan November 2023
sebanyak 40 orang yang terdiri dari 20 ibu post sc yang mendapat perlakuan dan 20 ibu nifas post
sc yang tidak mendapatkan perlakuan. Metode pengumpulan sampel menggunakan total sampling,
yaitu jumlah sampel sama dengan populasi sebanyak 40 orang. Instrument pengumpulan data
dengan data primer, analisa data menggunakan analisa univariat dan bivariate dengan uji Shapiro
wilk. Hasil Uji statistic dengan menggunakan uji non parametrik test Mann Whitney yaitu dengan
nilai Asymp Sig P=0,006 (<a=0,05), maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima.
Diharapkan petugas PONED berkoordinasi dengan Bidan Desa lebih meningkatkan pemantauan
kepada ibu nifas post Sectio caesarea dalam proses penyembuhan luka operasinya khususnya pola
nutrisi tinggi protein.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Air Susu Ibu ( ASI ) merupakan makanan yang ideal bagi pertumbuhan neonates. Upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produksi Asi dengan berupa pemijatan dan mengonsumsi makanan bergizi berbagai macam tumbuhan yang dapat membantu pengeluaran dan produksi Asi antara lain jamu Temulawak dan daun katuk. Kandungan Temulawak merupakan jamu tradisional yang dapat membantu melancarkan produksi Asi bagi ibu nifas.Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsumsi temulawak terhadap kelancaran produksi Asi pada ibu nifas di TPMB Emi Yunita Tahun 2023.Metode penelitian yang digunakan adalah metode One Group Pretest Posttest.Pengambilan sampel dengan purposive sampling sebanyak 30 orang.Analisa data menggunakan distribusi frekuensi dan uji statistic Wilcoxon. Penelitian ini menggunakan data primer yang di ukur menggunakan lembar observasi.Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata mengalami kenaikan produksi Asi setelah diberikan Temulawak pada kelompok intervensi lebih tinggi dibandingkan pada kelompok kontrol. Hasil analisis menggunakan Uji statistic Wilcoxson dengan P-value 0,000< 0,05 artinya Ho di tolak dan Ha diterima artinya ada pengaruh yang signifikan pemberian Temulawak terhadap kelancaran produksi Asi pada ibu nifas di TPMB Emi Yunita, Tahun 2023. Penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan terapi non invasif yang dapat ditawarkan kepada ibu menyusui dalam rangka meningkatkan produksi ASI sehingga dapat mencapai target ASI eksklusif.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi masalah serius di Indonesia. AKB di Indonesia pada tahun 2022 sebanyak 18,6% /1.000 kelahiran hidup. Penyebab kematian pada bayi diantaranya yaitu BBLR (29,21%), Asfiksia (27,44%), dan Infeksi sebanyak (5,4%). Kematian bayi baru lahir dapat dicegah dengan deteksi dini pada bayi yang beresiko. Tujuan penelitian untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan pendidikan, umur, sumber informasi, pekerjaan dan pengetahuan ibu nifas tentang tanda bahaya pada bayi baru lahir. Metode penelitian menggunakan analitik
kuantitatif dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional. Populasi seluruh ibu nifas 1-7 hari yang datang ke TPMB Ernih Tahun 2023. Sampel total sampling sebanyak 80 responden. Analisis yang digunakan univariat dan bivariat dengan uji statistik Chi-Square. Hasil penelitian pendidikan Pvalue =0,000, usia Pvalue= 0,000, pekerjaan Pvalue =0,043, sumber informasi nilai P= 0,602 Saran: Tenaga Kesehatan hendaknya memberikan informasi dan edukasi pada ibu nifas tentang tanda bahaya pada bayi baru lahir, untuk mencegah terjadinya kematian dan kesakitan pada bayi baru lahir.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan Di Kabupaten Bekasi tahun 2021 sebesar 72,59%. Hasil studi pendahuluan berdasarkan hasil wawancara, belum ada penanganan meningkatkan produksi volume ASI dengan teknik marmet. Tujuan penelitian unu untuk mengetahui pengaruh teknik marmet terhadap produksi ASI pada ibu post partum di TPMB R, Cibitung tahun 2023. Metode penlitian pre eksperimen, one group pretest posttest. Populasi berjumlah 30 ibu post partum dengan sampel penelitian sebanyak 30 responden, dengan total sampling. Instrumen penelitian lembar
observasi volume ASI. Analisa univariat dan Analisa bivariat dengan uji Wilcoxon. Hasil penelitian didapatkan produksi ASI ibu post partum sebelum diberikan intervensi teknik marmet, produksi ASI dengan kategori kurang sebanyak 73,3%, sedangkan setelah diberikan intervensi teknik marmet produksi ASI dengan kategori kurang sebanyak 40%. Hasil uji Wilcoxon diperoleh p-value 0,002 < a 0,05. Kesimpulan penelitian ini, terdapat pengaruh pemberian teknik marmet terhadap produksi ASI ibu post partum.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang proses persalinan bisa mengakibatkan robekan atau luka pada perineum atau bahkan dibuat (episiotomy). Luka perineum menurut Winkjosastro,(2008) adalah robekan yang terjadi saat bayi lahir, baik secara spontan atau dengan alat (tindakan). Menurut penelitian sekitar 91% persen wanita dengan persalinan pervaginam meningkatkan trauma perineum dan sekitar 1% beresiko terjadi cedera pada spincter ani, menurut pendapat Djakovic, et al, 2018 (Kurniawati, E.M., 2022). Dalam proses penyembuhan pada luka perineum normalnya adalah 6-7 hari postpartum, dan dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu status gizi, pengetahuan yang cukup tentang perawatan luka perineum dan personal hygiene yang baik.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa faktor apa saja yang memiliki hubungan dengan penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di PMB Listiyowati Tahun 2022.
Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan cross-sectional dengan desain penelitian deskriptif. Populasi seluruh ibu paska salin di TPMB Listiyowati yang mengalami luka perineum sebanyak 32 responden, teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling, dan analisis data menggunakan uji Chi-square dan dilanjutkan dengan Odd ratio dengan menggunakan derajat kepercayaan sebesar 95%.
Hasil uji statsistik bahwa pengetahuan, memiliki hubungan dengan penyembuhan luka perineum ibu nifas dengan nilai signifikan P value 0,00 (< 0,05), Gizi dengan P value 0,383 (> 0,05) dengan nilai OR 2,727, personal hygiene nilai P value sebesar 0,625 (>0,05) dengan nilai OR 0,519.
Kesimpulan dari hasil penelitian 4 variabel yaitu tidak terdapat hubungan yang signifikan antara gizi dan personal hygiene dengan penyembuhan luka perineum, namun terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan penyembuhan luka perineum ibu nifas di TPMB Listiyowati Tahun 2022. Saran dalam penelitian ini adalah dapat menambah pengetahuan yang mendukung proses penyembuhan luka perineum dan menjadi sumber informasi kepada responden bahwa menjaga kebersihan, nutrisi yang baik, pengetahuan yang cukup dan personal hygiene yang baik untuk mendukung penyembuhan luka perineum dengan baik.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Data WHO menunjukan bahwa angka yang sangat memperihatinkan terhadap kematian bayi yang dikenal dengan fenomena 2/3. Berdasarkan data yang dilaporkan kepada direktorat kesehatan
keluarga tahun 2019 dari 29.322 kematian balita 69% (20.244 kematian) diantaranya terjadi pada masa neonatus. Pengetahuan ibu tentang tanda bahaya bayi baru lahir merupakan salah satu faktor
penting agar dapat mengantisipasi masalah tersebut lebih awal. Metode penelitian ini bersifat analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling yaitu seluruh populasi dapat dijadikan sampel dengan jumlah sebanyak 70 orang responden ibu nifas yang berada di PMB Rohaya tahun 2023. Analisis yang digunakan univariat dan bivariat dengan uji statistik menggunakan Chi-square. Hasil analisis bivariat ada hubungan antara pengetahuan dengan usia dengan nilai P-Value 0,005, pendidikan = 0,036, paritas = 0,009, sumber informasi = 0,001 dan dukungan tenaga kesehatan = 0,015 dengan semua nilai P-Value yang didapatkan P<a 0,05. Kesimpulan hasil dari 5 variabel yang diteliti mempunyai hubungan dengan pengetahuan ibu nifas tentang tanda-tanda bahaya pada bayi baru lahir. Hendaknya tenaga kesehatan dapat memberikan edukasi serta informasi khususnya terkait dalam masa nifas pada tanda-tanda bahaya pada bayi baru lahir agar dapat mencegah hal-hal patologis yang dapat terjadi.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Kolostrum merupakan cairan yang pertama kali di sekresi oleh kelenjar payudara, pemberian awal
kolostrum merupakan sebagai tindakan penyelamatan awal kehidupan bayi. Di Indonesia pemberian
kolostrum pada bayi masih 37,3%, Jawa Barat 35,1%, dan Cirebon 57,1%. Tujuan dilakukannya penelitian
ini yaitu untuk mengetahui faktor apa saja yang berhubungan dengan pengetahuan ibu nifas dalam
pemberian kolostrum pada bayi di RSUD Arjawinangun Cirebon.
Metode penelitian ini bersifat desain korelasional dengan pendekatan Cross-Sectional. Jumlah
populasi seluruh ibu nifas di ruang nifas RSUD Arjawinangun yang berjumlah 584 ibu nifas dengan
menggunakan teknik Accidental sampling. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat, uji statistik
dengan uji Chi-square.
Hasil univariat dalam penelitian ini yaitu terdapat 45 responden (52.9%) yang berpengetahuan rendah
dan 40 responden (47.1%) yang berpengetahuan tinggi. Analisis statistik chi square yaitu ada hubungan
antara pendidikan (p-value 0,001), media informasi (p-value 0,000), dukungan keluarga (p-value 0,000),
dengan pengetahuan tentang kolostrum.
Saran penelitian untuk ibu nifas diharapkan dapat memperluas wawasan dan ilmu pengetahuannya
tentang kolostrum dan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kolostrum untuk memenuhi hak anak
dalam mendapatkan asuhan terbaik setelah baru lahir. Dan diharapkan pihak RSUD Arjawinangun lebih
mengedukasi kepada setiap ibu nifas tentang pentingnya kolostrum.