BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Manajemen jalan napas merupakan aspek krusial dalam praktik anestesi, terutama pada tindakan intubasi endotrakeal saat general anesthesia. Kegagalan intubasi dapat menyebabkan komplikasi serius seperti hipoksia, aspirasi, hingga henti jantung. Oleh karena itu, diperlukan metode prediksi yang akurat untuk mengidentifikasi kemungkinan kesulitan intubasi sebelum tindakan dilakukan. Salah satu metode yang digunakan adalah Lemon Score, yang terdiri dari lima komponen penilaian yaitu Look, Evaluate (3-3-2), Mallampati, Obstruction, dan Neck mobility.
Tujuan: untuk mengetahui hubungan prediksi Lemon Score dengan keberhasilan intubasi pada pasien anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi
Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 47 responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Data dikumpulkan melalui lembar observasi Lemon Score dan penilaian keberhasilan intubasi berdasarkan waktu tindakan dan jumlah percobaan intubasi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistik yang sesuai. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki prediksi intubasi mudah berdasarkan Lemon Score, dan mayoritas tindakan intubasi berhasil dalam satu kali percobaan dengan durasi kurang dari 60 detik. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara prediksi Lemon Score dengan keberhasilan intubasi.
Kesimpulan: Lemon Score dapat digunakan sebagai alat prediksi yang efektif dalam menilai kemungkinan keberhasilan intubasi pada pasien anestesi. Penggunaan Lemon Score dalam penilaian pra-anestesi diharapkan dapat meningkatkan keselamatan pasien serta meminimalkan risiko komplikasi selama tindakan anestesi.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang: Radikulopati lumbal merupakan gangguan muskuloskeletal yang sering terjadi pada lansia dan ditandai dengan nyeri menjalar akibat kompresi atau iritasi akar saraf lumbal, diperlukan intervensi nonfarmakologis seperti William Flexion Exercise yang berfokus pada gerakan fleksi untuk meningkatkan stabilitas otot trunk dan mengurangi tekanan saraf. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh William Flexion Exercise terhadap intensitas nyeri pada pasien lansia dengan radikulopati lumbal di Poli Rehabilitasi Medik RSU Pindad Bandung tahun 2025. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi experiment pretest–posttest control group design dengan 36 responden menjadi kelompok intervensi (William Flexion Exercise) dan kelompok kontrol (Isometric Back Muscle Exercise), dengan durasi intervensi 4 minggu (3 kali per minggu), serta pengukuran nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) dan analisis data menggunakan uji paired sample t-test dan Mann–Whitney. Hasil: Kelompok kontrol tidak menunjukkan perbedaan signifikan antara pre-test dan post-test (p = 0,2940), sedangkan kelompok intervensi mengalami penurunan nyeri yang signifikan (p = 0,0017), serta terdapat perbedaan signifikan antar kelompok (p = 0,0469). Kesimpulan: William Flexion Exercise terbukti berpengaruh signifikan dalam menurunkan intensitas nyeri pada lansia dengan radikulopati lumbal dan dapat menjadi intervensi fisioterapi yang efektif dan aman.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Obesitas (Féi Pàng) merupakan salah satu masalah kesehatan yang mengalami peningkatan signifikan di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2023, prevalensi obesitas nasional mencapai 28,7% dan lebih tinggi pada kelompok wanita usia subur. Obesitas berkontribusi pada gangguan metabolisme, risiko penyakit tidak menular, serta disfungsi hormonal dan reproduksi. Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT), obesitas dipandang sebagai akibat ketidakseimbangan fungsi limpa dan lambung, akumulasi kelembaban, serta sindrom panas lambung (Wei Re). Penanganan yang tepat memerlukan pendekatan holistik seperti akupunktur dan herbal. Salah satu herbal yang digunakan adalah Murraya paniculata (Jiǔ lǐ xiāng), yang secara empiris dan farmakologis memiliki efek hipolipidemik dan peluruh panas. Terapi ini diyakini dapat menurunkan Indeks Massa Tubuh (IMT) secara efektif.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur dan seduhan Murraya paniculata (Jiǔ lǐ xiāng) terhadap penurunan IMT pada wanita penderita obesitas dengan sindrom panas lambung.
Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif pre-eksperimental dengan rancangan one group pretest-posttest design. Sampel terdiri dari 20 orang wanita usia 21–36 tahun yang menjalani terapi sebanyak 6 kali selama 2 minggu di Klinik Petos Sehat Jakarta. Data dikumpulkan melalui pengukuran IMT sebelum dan sesudah intervensi. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Data dianalisis menggunakan uji statistik paired t-test.
Hasil: Rerata IMT sebelum terapi menunjukkan nilai 30,19 kg/m² Setelah intervensi, rerata nilai IMT menurun menjadi 29,31 kg/m². Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan (p < 0,05), yang menandakan adanya pengaruh terapi terhadap penurunan indikator obesitas.
Kesimpulan: Terapi akupunktur dan seduhan Murraya paniculata (Jiǔ lǐ xiāng) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan IMT pada penderita obesitas dengan sindrom panas lambung. Pendekatan integratif ini dapat menjadi alternatif terapi non-farmakologis yang efektif dan aman dalam menangani obesitas pada wanita usia subur.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan global yang ditandai oleh rendahnya kadar hemoglobin dalam darah. Penanganan anemia umumnya menggunakan suplementasi zat besi, namun konsumsi makanan fungsional seperti kombinasi serbuk umbi bit dan apel hijau juga berpotensi sebagai alternatif alami. Umbi bit kaya akan zat besi dan senyawa betasianin, sedangkan apel hijau mengandung vitamin C yang berperan meningkatkan penyerapan zat besi. Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan desain pretest-posttest control group design. Sebanyak 25 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) diinduksi anemia menggunakan phenylhidrazine 60 mg/KgBB lalu dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kontrol negatif, kelompok positif dan tiga kelompok perlakuan yang diberi kombinasi serbuk umbi bit dan apel hijau dengan dosis 200 mg/KgBB dengan konsentrasi masing-masing 10%, 15%, dan 20% selama 7 hari. Kadar hemoglobin diukur sebelum dan sesudah perlakuan menggunakan. Sampel dipilih berdasarkan kriteria inklusi yaitu tikus putih betina, sehat, berusia 2-3 bulan, berat badan 150-200 g. Hasil analisis data menggunakan one-way ANOVA. Hasil menunjukkan peningkatan kadar hemoglobin secara signifikan pada semua kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol negatif. Kombinasi serbuk pada konsentrasi 20% menunjukkan efek paling optimal dalam meningkatkan kadar hemoglobin, disusul konsentrasi 15% dan 10%. Kombinasi serbuk umbi bit mengandung kadar zat besi (Fe) 48,392 mg/20 g dan apel hijau mengandung persen kadar vitamin C sebanyak 61,4052 mg/10 g pada pola linier kuat (R² = 0,9674) yang efektif dalam meningkatkan kadar hemoglobin pada tikus anemia. Konsentrasi 20% merupakan dosis yang paling optimal dengan nilai P-Value < 0,05 yaitu 0,0081. Pemberian kombinasi serbuk umbi bit dengan apel hijau kepada tikus putih betina yang menderita anemia dinilai dapat meningkatkan kadar hemoglobin.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Stres kerja adalah sebuah faktor yang bisa sangat berdampak pada kinerja perawat, terutama di lingkungan dengan tingkat stres tinggi seperti IGD, ICU, dan ruang rawat inap anak. Karena perawat mempunyai peran krusial dalam pelayanan kesehatan, performa mereka menjadi sangat penting untuk dikaji guna menjaga hingga meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara stres kerja dengan kinerja perawat yang bertugas di IGD, ICU, dan ruang rawat inap anak. Studi ini menerapkan metode korelasional melalui pendekatan cross-sectional yang dilaksanakan tanggal Desember 2024. Sekitar 41 perawat yang bekerja di ketiga unit ini dipilih sebagai sampel menggunakan teknik purposive sampling. Lalu dsta dikumpulkan melalui kuesioner stres kerja dan kinerja perawat, kemudian dianalisis dengan uji Gamma. Dari penelitian memperlihatkan bahwa mayoritas perawat mengalami stres kerja dalam kategori ringan, yakni sejumlah 22 orang (53,7%). Sedangkan, kinerja perawat sebagian besar tergolong baik, sejumlah 30 responden (73,2%). Analisis statistik menghasilkan nilai Gamma senilai -0,649, mengindikasikan hubungan sedang hingga kuat. Selain itu, nilai p-value senilai 0,030, lebih rendah dari tingkat signifikansi 0,05, memperlihatkan bahwa hubungan tersebut signifikan secara statistik. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa stres kerja terdapat hubungan signifikan dengan kinerja perawat di IGD, ICU, dan ruang rawat inap anak.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Stres kerja merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja perawat, terutama di lingkungan kerja dengan tekanan tinggi seperti Instalasi Gawat Darurat (IGD), Intensive Care Unit (ICU), dan ruang anak. Penelitian korelasi dengan pendekatan cross-sectional ini dilaksanakan pada Desember 2024. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 41 orang perawat yang bekerja di ruang IGD, ICU dan ruang anak RS Sentra Medika Cikarang, yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner stres kerja dan kusioner kinerja perawat dan dianalisis menggunakan uji Gamma. Stres kerja perawat terbesar pada kategori ringan yaitu 22 responden (53,7%) dan kinerja perawat terbesar pada kategori baik yaitu 30 responden (73,2%). Nilai Gamma sebesar -0,649 berada pada kategori hubungan sedang hingga kuat. Nilai pvalue sebesar 0,030, yang lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05, menunjukkan bahwa hubungan tersebut signifikan secara statistik. Ada hubungan yang signifikan antara stres kerja dengan kinerja perawat. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab stres pada perawat agar dapat mempertahankan kinerja mereka, khususnya di RS Sentra Medika Cikarang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Stres kerja merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja perawat, terutama di lingkungan kerja dengan tekanan tinggi seperti Instalasi Gawat Darurat (IGD), Intensive Care Unit (ICU), dan ruang anak. Metode: Penelitian korelasi dengan pendekatan cross-sectional ini dilaksanakan pada Desember 2024. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 41 orang perawat yang bekerja di ruang IGD, ICU dan ruang anak RS Sentra Medika Cikarang, yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner stres kerja dan kusioner kinerja perawat dan dianalisis menggunakan uji Gamma. Hasil: Stres kerja perawat terbesar pada kategori ringan yaitu 22 responden (53,7%) dan kinerja perawat terbesar pada kategori baik yaitu 30 responden (73,2%). Nilai Gamma sebesar -0,649 berada pada kategori hubungan sedang hingga kuat. Nilai p-value sebesar 0,030, yang lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05, menunjukkan bahwa hubungan tersebut signifikan secara statistik. Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan antara stres kerja dengan kinerja perawat. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab stres pada perawat agar dapat mempertahankan kinerja mereka, khususnya di RS Sentra Medika Cikarang.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Pendahuluan: Oral Hygiene merupakan tindakan keperawatan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya Ventilator Associated Pneumonia (VAP) pada pasien. Berdasarkan data laporan VAP menunjukkan angka kejadian VAP diruang ICU pada bulan Maret 2020 adalah 2,2% dan terjadi kenaikan menjadi 6,8% dibulan April 2020, pada bulan Mei 2020 menjadi 10,9% kasus, dan terjadi kenaikan kembali pada bulan Juni 18,8%, pada bulan Juli turun menjadi 16,3% kasus VAP. Penelitian ini menggunakan metode preexperimental one grup (pretest – posttest) design. Sampel yang digunakan adalah yang sesuai kriteria inklusi dan ekslusi dengan tehnik total sampling sejumlah 30 sampel. Untuk memperoleh data peneliti menggunakan instrument berupa lembar observasi, SOP Oral Hygiene dan lembar CPIS. Sedangkan alat uji yang di gunakan adalah uji wilcoxon. Penelitian dilakukan pada bulan November sampai Januari 2022. Berdasarkan hasil uji statistic Wilcoxon diperoleh hasil p-value kejadian VAP sebesar 0,000 ≤0.05 yang artinya ada perbedaan yang signifikan pada kejadian VAP sebelum dan setelah diberikan perlakuan Oral Hygiene. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ada Pengaruh Oral Hygiene Menggunakan Chlorhexidine 0,2% Terhadap Kejadian Ventilator Associated Pneumonia (VAP) di Intensive Care Unit Rumah Sakit Sentra Medika Cisalak Tahun 2021. Sehingga peneliti menyarankan agar perawat mampu memberikan intervensi Oral Hygiene sesuai SOP untuk membantu menangani masalah kejadian VAP.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Penyakit infeksi ialah penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen yang bersifat dinamis. Dengan meningkatnya obat-obatan pada masa kini, mikroorganisme menjadi resisten terhadap banyak antibiotik, sehingga mengurangi efektivitas obat-obatan. Tujuan penelitian ini untuk menguji adanya aktivitas antibakteri pada minyak atsiri cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap bakteri Escherichia coli, Propinibacterium acne, dan Staphylococcus aureus. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan metode difusi cakram. Analisis data yang digunakan adalah Uji statistik One Way ANOVA. Pengamatan menunjukkan daya hambat terhadap ketiga bakteri tersebut memperlihatkan adanya pengaruh minyak atsiri yang diberikan. Hasil Uji statistik One Way ANOVA menunjukkan nilai signifikansi P>0,05 yang dapat disimpulkan bahwa rata-rata tersebut tidak berbeda signifikan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa minyak atsiri cengkeh (Syzygium aromaticum) mampu menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli, Propionibacterium acne, dan Staphylococcus aureus dengan besar zona hambat yang berbeda-beda tergantung dengan besarnya konsentrasi. Bagi mahasiswa/i disarankan untuk mempelajari lebih lanjut mengenai Uji Antibakteri dengan menggunakan metode dan bahan lain.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Diabetes Melitus (DM) merupakan gangguan metabolisme yang disebabkan oleh pankreasyang tidak cukup memproduksi insulin. Di puskemas sukajaya dari 2 bulan terakhir pasien diabetes melitus berjumlah 74 orang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan motivasi dengan perilaku pencegahan komplikasi Diabeticum Peripheral Neuropathy pada penderita Diabetes Melitus. Jenis penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dengan kuesioner. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dimana besar sampel sama dengan pupulasi, dengan populasi 74 responden. Intrumen yang digunakan adalah kuesioner. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji chi-square. Hasil pengolahan data menggunakan uji Chi square menunjukan bahwa p value 0.00 <0,05. Maka dapat diambil kesimpulan secara statistic bahwa ada hubungan antara motivasi dengan perilaku pencegahan komplikasi Diabeticum Peripheral Neuropathy, dengan nilai OR 2.357 (1.584-3.508) yang artinya H0 di tolak dan Ha diterima. Sebagian besar 55,4% memiliki motivasi yang kurang baik sedangkan, Sebagian besar 74,3% memiliki perilaku pencegahan komplikasi dpn yang kurang baik. Di harapkan dapatmelakukan pencegahan secara teratur dan menerapkan Gaya hidup yang sehat dengan cara menigkatkan motivasi dan mengecek gula darah agar tetap normal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang : Diabetes Melitus (DM) merupakan gangguan metabolisme yang disebabkan oleh pankreasyang tidak cukup memproduksi insulin. Di puskemas sukajaya dari 2 bulan terakhir pasien diabetes melitus berjumlah 74 orang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan motivasi dengan perilaku pencegahan komplikasi Diabeticum Peripheral Neuropathy pada penderita Diabetes Melitus. Metode : Jenis penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dengan kuesioner. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dimana besar sampel sama dengan pupulasi, dengan populasi 74 responden. Intrumen yang digunakan adalah kuesioner. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji chi-square. Hasil : Hasil pengolahan data menggunakan uji Chi square menunjukan bahwa p value 0.00 0,05. Maka dapat diambil kesimpulan secara statistic bahwa ada hubungan antara motivasi dengan perilaku pencegahan komplikasi Diabeticum Peripheral Neuropathy, dengan nilai OR 2.357 (1.584-3.508) yang artinya H0 di tolak dan Ha diterima. Kesimpulan : Sebagian besar 55,4% memiliki motivasi yang kurang baik sedangkan, Sebagian besar 74,3% memiliki perilaku pencegahan komplikasi dpn yang kurang baik. Di harapkan dapatmelakukan pencegahan secara teratur dan menerapkan Gaya hidup yang sehat dengan cara menigkatkan motivasi dan mengecek gula darah agar tetap normal.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Pada pasien ICU (Intensive Care Unit) perlu dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya yang mendukung kesembuhan
pasien. Pemeriksaan penunjang tersebut seperti laboratorium mengenai kadar albumin. Menurut beberapa penelitian
hipoalbumin berpengaruh terhadap morbiditas dan mortalitas. Tapi disatu sisi belum ada juga penelitian yang mengangkat
bahwa albumin normal juga mempunyai hubungan dengan perbaikan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
kadar albumin dengan kesembuhan pasien. Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah analitik kuantitatif dengan desain
studi retrospektif karena menggunakan data sekunder. Analisis hasil uji statistik menggunakan Chi Square. Analisis erat
hubungannya antara dua variabel dengan melihat nilai Odd Ratio (OR) dan uji alternatif Fisher’t Exact Test. Sampel
dalam penelitian ini adalah seluruh pasien ICU (Intensive Care Unit) yang dilakukan pemeriksaan kadar albumin dari
bulan Januari sampai Desember tahun 2020, yaitu sebanyak 74 pasien. Berdasarkan hasil seleksi yang memenuhi kriteria
inklusi dan eklusi adalah 57 pasien. Dari hasil univariat bahwa pasien yang dilakukan pemeriksaan albumin berdasarkan
kadar albumin di Ruang ICU (Intensive Care Unit) RS Dokter Adam Talib, dari 57 pasien diperoleh hasil normal sebanyak
84,2% (48 pasien ) dan pasien yang dilakukan pemeriksaan albumin berdasarkan kesembuhan pasien di Ruang ICU
(Intensive Care Unit) RS Dokter Adam Talib, dari 57 pasien diperoleh hasil sembuh sebanyak 73,7% (42 sembuh ).
Sedangkan dari hasil uji bivariat didapatkan adanya hubungan yang signfikan antara kadar albumin dengan kesembuhan
pasien dengan p-value 0.044. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan adanya hubungan yang
signifikan antara kadar albumin dengan kesembuhan pasien
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Monitoring haemodinamik menjadi komponen yang sangat penting dalam perawatan pasien di ruang ICU, pada penatalaksaan perubahan haemodinamik yaitu hate rate di ruang ICU ada 2 cara yaitu farmakologis dan non farmakologis. Terapi murrotal al-qur’an menjadi salah satu terapi non farmakologis. Lantunan Al-qur’an dapat menurunkan hormon-hormon stress, meningkatkan relaksasi dan membuat denyut jantung menjadi teratur.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh murrotal Al-qur’an terhadap peningkatan hate rate pada pasien yang dirawat di Ruang ICU Rs. X tahun 2021. Metode penelitian ini adalah Quasi eksperiment dengan pendekatan One Grup Pretest-Post test Design. Dengan jumlah sampel sebanyak 30 responden dengan teknik total sampling. Alat pengumpulan data menggunakan SOP terapi murrotal al-qur’an surat Ar Rahman berjumlah 78 ayat, Bedsite monitor dan Formulir pemantauan hate rate dengan uji statistik Kolmogrov-Smirnov dan Paired T test. menunjukkan bahwa nilai rata-rata hate rate pre tindakan adalah 0,079 dan post tindakan 0,054 dan hasil Paired T test menunjukkan nilai Asym.Sig. (2-tailed) adalah 0,000.
Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh terapi Murrotal Al-Qur’an terhadap peningkatan hate rate pasien di ruang ICU tahun 2021”. Diharapkan terapi murrotal Al-qur’an menjadi salah satu pilihan terapi komplementer dalam menaikkan hate rate pada pasien ICU.
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Pediculosis capitis adalah proses masuknya ektoparasit,
pediculosis capitis ini termasuk parasit yang menghisap darah di kepala manusia.
Pediculosis capitis tersebut dapat berdampak gatal-gatal, bintik-bintik kemerahan,
infeksi bakteri sekunder akibat garukan. Selain fisik pediculosis capitis juga akan
dapat memberikan dampak berupa gangguan tidur persisten, gangguan
konsentrasi, dan efek psikis. Data dari study pendahuluan dengan melakukan
wawancara kepada santri wati didapatkan 80% mengalami pediculosis capitis.
Dan menurut keterangan pengurus pondok pesantren mengatakan bahwa setiap
kamar dihuni 25 sampai dengan 30 santri. Serta kurangnya kesadaran diri para
santri untuk menjemur tempat tidur/bantal dan juga untuk menjaga kebersihan
kamar, kesehatan diri seperti kurangnya membersihkan rambut. Adapun faktorfaktornya
yaitu usia, personal hygiene, menggunakan sisir/aksesoris secara
bersama, menggunakan tempat tidur secara bersama, dan pengetahuan.
Tujuan : Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan
dengan kejadian pediculosis capitis pada santri wati di Pondok Pesantren
Daruttakwien Kecamatan Sukatani Kabupatem Bekasi 2019.
Metode : Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analitik kuantitatif
dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasi pada penelitian ini yaitu
santri wati sebanyak 178. Sampel yang diambil sebanyak 117 responden dengan
menggunakan teknik acidental sample. instrumen yang digunakan dalam
pengambilan data yaitu dengan kuesioner yang di isi oleh responden. Analisa
yang digunakan yaitu analisa univariat dan analisis bivariat berupa uji chi square
dalam nilai signifikan α <0,05.
Hasil : Hasil penelitian dari kelima faktor terdapat satu yang tidak berhubungan
terhadap kejadian pediculosis capitis pada santri wati Di Pondok Pesantren
Daruttakwien Kecamatan Sukatani Kabupaten Bekasi Tahun 2019. Variabel yang
tidak berhubungan yaitu usia ( P value = 0,235), sedangkan yang berhubungan
yaitu personal hygiene (P value = 0,002) menggunakan sisir/aksesoris secara
bersama (P value = 0,003), menggunakan tempat tidur secara bersama (P value =
0,001), dan pengetahuan (P value = 0,009).
Kesimpulan : kesimpulan pada penelitian ini adalah ada hubungan dan tidak
hubungan antara faktor dengan kejadian pediculosis capitis pada santri wati di
Pondok Pesantren Daruttakwien Kecamatan Sukatani Kabupaten Bekasi Tahun
2019.
Saran : Dari penelitian ini diharapkan para santri dan pengurus Pondok Pesantren
agar memperhatikan perawatan diri dan kebersihan diri guna mengurangi angka
kejadian pedikulosis capitis yang di alami di Pondok Pesantren Darutakwien
Kecamatan Sukatani Kabupaten Bekasi tahun 2019.