Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

MA

1.876 karya publik ditemukan.

2026: 1692025: 1672024: 2742023: 5102022: 1482021: 3172020: 782019: 154

Hubungan Tingkat Nyeri Pasca Anestesi Terhadap Stabilitas Hemodinamik pada Pasien Sectio Caesarea dengan Teknik Anestesi Spinal di RSUD Bayu Asih Purwakarta Tahun 2026

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar belakang: Nyeri pasca operasi sectio caesarea merupakan respons fisiologis akibat kerusakan jaringan yang dapat mengaktivasi sistem saraf simpatis sehingga memengaruhi stabilitas hemodinamik, seperti peningkatan tekanan darah dan frekuensi nadi. Pengendalian nyeri yang tidak optimal berpotensi menyebabkan ketidakstabilan kondisi pasien pada periode pasca anestesi spinal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat nyeri pasca anestesi terhadap stabilitas hemodinamik pada pasien sectio caesarea dengan teknik anestesi spinal di RSUD Bayu Asih Purwakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan desain Cross-Sectional. Sampel penelitian berjumlah 35 responden yang diambil menggunakan teknik total sampling. Tingkat nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), sedangkan stabilitas hemodinamik dinilai berdasarkan tekanan darah dan frekuensi nadi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Sebagian besar responden mengalami nyeri sedang (80%). Hasil uji korelasi menunjukkan hubungan positif dan signifikan antara tingkat nyeri dengan tekanan darah (r = 0,612; p = 0,000) dengan kekuatan hubungan kuat, serta hubungan positif signifikan antara tingkat nyeri dengan frekuensi nadi (r = 0,492; p = 0,003) dengan kekuatan hubungan sedang. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara tingkat nyeri pasca anestesi terhadap stabilitas hemodinamik pada pasien sectio caesarea dengan anestesi spinal. Manajemen nyeri yang adekuat diperlukan untuk menjaga kestabilan hemodinamik pasien pasca anestesi.

Pengaruh Edukasi Pre-Anestesi Menggunakan Video Terhadap Tingkat Kecemasan dan Kepuasan Pasien dengan Anestesi Spinal di Ruang Isntalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Bayu Asih Purwakarta

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Kecemasan preoperatif merupakan respons emosional yang sering dialami pasien sebelum menjalani tindakan anestesi spinal. Kurangnya pemahaman mengenai prosedur anestesi dapat meningkatkan kecemasan dan menurunkan kepuasan pasien terhadap pelayanan. Edukasi berbasis video menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan pemahaman pasien sebelum tindakan anestesi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi pre-anestesi menggunakan media video terhadap tingkat kecemasan dan kepuasan pasien dengan anestesi spinal di Ruang Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Bayu Asih Purwakarta.Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang menjalani anestesi spinal di IBS RSUD Bayu Asih Purwakarta pada periode 2 Desember 2025 sampai 23 Desember 2025. Sampel penelitian berjumlah 70 responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner skala kecemasan, sedangkan kepuasan pasien diukur menggunakan kuesioner kepuasan pasien yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah pemberian edukasi video. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan signifikan tingkat kecemasan setelah diberikan edukasi video (p < 0,001) serta peningkatan signifikan tingkat kepuasan pasien (p = 0,001).Kesimpulan: Edukasi preanestesi menggunakan media video berpengaruh signifikan terhadap penurunan kecemasan dan peningkatan kepuasan pasien dengan anestesi spinal.

Pengaruh Guided Imagery Terhadap Penurunan Kecemasan pada Pasien Pre Operasi dengan Teknik General Anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Cemas merupakan respons psikologis yang umum dialami pasien pada fase pre operasi, terutama pada pasien yang akan menjalani pembedahan dengan teknik general anestesi. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk menurunkan kecemasan teknik relaksasi guided imagery. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh guided imagery terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik general anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre experiment melalui pendekatan one group pretest–posttest. Sampel penelitian berjumlah 47 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS) sebelum dan sesudah diberikan intervensi guided imagery. Intervensi dilakukan selama 10 menit dengan tiga kali pengulangan. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik bivariat. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tingkat kecemasan pasien setelah diberikan intervensi guided imagery. Hasil uji statistik n nilai p-value < 0,05, yang berarti terdapat pengaruh signifikan guided imagery terhadap penurunan kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik general anestesi. Kesimpulan: Bahwa ada pengaruh setelah diberikan intervensi guided imagery terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik general anestesi.

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Terjadinya Post Dural Puncture Headache (PDPH) pada Pasien Post Sectio Caesarea di RSIA Aisyah Qurratu'ain Bekasi Timur, Jawa Barat

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Tindakan Sectio Caesarea terus bertambah dan sebagian besar dilaksanakan dengan anestesi spinal. Salah satu komplikasi tersering adalah Post Dural Puncture Headache (PDPH) dampak kebocoran cairan serebrospinal setelah pungsi duramater. Faktor yang diduga berkaitan dengan PDPH meliputi usia, ukuran jarum spinal, sejarah PDPH, dan usaha pungsi lumbal. Tujuan : Mengetahui unsur-unsur yang berkaitan dengan kejadian PDPH pada pasien post Sectio Caesarea di RSIA Aisyah Qurratu’ain Bekasi Timur. Metode : Penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional dilaksanakan pada 73 responden menerapkan metode total sampling. Variabel independen meliputi usia, ukuran jarum, sejarah PDPH, dan usaha pungsi lumbal, sedangkan variabel dependen adalah kejadian PDPH yang diukur menerapkan Numeric Rating Scale (NRS). Analisis data dilaksanakan secara univariat dan bivariat menerapkan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil Penelitian : Hasil riset menandakan sebagian besar responden menempuh nyeri ringan (49,3%). Usia terbanyak adalah 26–35 tahun (61,6%). Penggunaan jarum 25G lebih dominan (74,0%). Responden tanpa sejarah PDPH sebanyak 82,2% dan sebagian besar menempuh satu kali pungsi lumbal (78,1%). Hasil uji Chi-Square menandakan terdapat kaitan signifikan antara usia (p=0,000), ukuran jarum (p<0,05), sejarah PDPH (p<0,05), dan usaha pungsi lumbal (p=0,001) dengan kejadian PDPH. Kesimpulan : Terdapat kaitan signifikan antara usia, ukuran jarum, sejarah Post Dural Puncture Headache (PDPH), dan jumlah pungsi lumbal dengan kejadian PDPH pada pasien post Sectio Caesarea. Saran : Disarankan penggunaan jarum dengan ukuran lebih kecil serta meminimalkan jumlah pungsi lumbal untuk menurunkan bahaya PDPH, serta bertambahkan kewaspadaan pada pasien dengan sejarah PDPH.

Korelasi Rasio Lingkar Leher, Jarak Thyromental, dan Indeks Massa Tubuh Terhadap Derajat Kesulitasn Intubasi pada Pasien Dewasa dengan General Anestesi RSUD Kabupaten Bekasi

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Kesulitan intubasi merupakan tantangan utama anestesi yang meningkatkan risiko morbiditas. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi rasio lingkar leher (NC/TMD), jarak thyromental (TMD), dan Indeks Massa Tubuh (IMT) terhadap derajat kesulitan intubasi (skala Cormack-Lehane) di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Studi analitik observasional cross-sectional dilakukan pada pasien dewasa yang menjalani anestesi umum elektif periode 1–31 Desember 2025. Data antropometri dikumpulkan dan dianalisis menggunakan uji bivariat, regresi logistik, serta evaluasi kurva ROC/AUC untuk mengukur akurasi prediktor. Hasil: Terdapat korelasi signifikan (P < 0,05) antara rasio NC/TMD, TMD, dan IMT dengan tingkat kesulitan intubasi. Rasio NC/TMD menunjukkan akurasi tertinggi (AUC 0,912) dibandingkan IMT (0,818) dan TMD (0,817). Temuan ini menegaskan bahwa rasio NC/TMD adalah alat skrining non-invasif yang paling komprehensif dalam memprediksi penyulit jalan napas. Kesimpulan: Rasio lingkar leher merupakan prediktor paling akurat untuk menilai risiko kesulitan intubasi pada pasien dewasa. Hasil ini diharapkan dapat memperkuat penilaian praoperatif penata anestesi dan menjadi dasar pengembangan pedoman manajemen jalan napas di Indonesia.

Peran Dasi (Duke Activity Status Index) sebagai Prediktor Risiko Hipotensi Intraoperatif pasa Pasien dengan Anestesi Spinal di IBS RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipotensi intraoperatif adalah komplikasi yang kerap terjadi pada pasien yang menjalani anestesi spinal, yang disebabkan oleh blokade sistem simpatis sehingga menimbulkan vasodilatasi dan penurunan tekanan arteri ratarata (MAP). Identifikasi risiko sejak fase preoperatif penting untuk mencegah gangguan perfusi organ. DASI merupakan instrumen sederhana yang menilai kapasitas fungsional kardiopulmoner dan berpotensi digunakan sebagai indikator risiko hemodinamik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran DASI sebagai prediktor risiko hipotensi intraoperatif pada pasien yang menjalani anestesi spinal di IBS RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 36 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Skor DASI diklasifikasikan ke dalam kategori rendah, sedang, dan tinggi. Kejadian hipotensi ditetapkan berdasarkan nilai MAP <70 mmHg. Analisis bivariat dilakukan dengan uji Chi-Square pada tingkat signifikansi 0,03. Hasil Penelitian: Sebagian besar responden termasuk dalam kategori skor DASI rendah. Kejadian hipotensi intraoperatif ditemukan pada 22,2% responden. Hasil uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara skor DASI dengan kejadian hipotensi intraoperatif dengan nilai p = 0,03 (p < 0,05). Kesimpulan: Skor DASI berhubungan signifikan dengan kejadian hipotensi intraoperatif pada pasien dengan anestesi spinal. Pasien dengan skor DASI rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipotensi. Saran: DASI dapat dimanfaatkan sebagai alat skrining preoperatif untuk mendukung perencanaan manajemen hemodinamik pada anestesi spinal.

Pengaruh Terapi Akupunktur Nei Guan Kombinasi Herbal Wedang Pala untuk Pasien Insomnia Berbagai Sindrom

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar Belakang: Insomnia adalah gangguan tidur tersering dalam praktik klinis yang menurunkan kualitas hidup dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif. Obat sedatif-hipnotik konvensional memiliki efek samping seperti ketergantungan dan gangguan kognitif, sehingga diperlukan terapi alternatif yang aman. Akupunktur titik PC 6 (Nei Guan) dan herbal wedang pala berpotensi memberikan efek sinergis untuk mengatasi insomnia. Tujuan: Menganalisis pengaruh akupunktur PC 6 kombinasi wedang pala terhadap peningkatan kualitas tidur pasien insomnia. Metode: Penelitian pretest-posttest control group design dengan pendekatan kuantitatif ini melibatkan 30 pasien insomnia di Klinik Velda, Tanjung Priuk, Jakarta Utara, yang dibagi menjadi dua kelompok: akupunktur PC 6 + wedang pala (n=15) dan akupunktur PC 6 saja (n=15). Intervensi dilakukan 8 kali (2 kali/minggu). Kualitas tidur diukur dengan Insomnia Severity Index (ISI) saat pre-test dan post-test. Analisis menggunakan uji Shapiro-Wilk (normalitas) dan Paired T-Test (hipotesis). Hasil: Seluruh data berdistribusi normal (p > 0,05). Kelompok kombinasi menunjukkan penurunan skor ISI yang sangat signifikan dari 15,20 ± 4,98 menjadi 7,00 ± 2,72 (t(14) = -17,85; p 0,001). Kelompok akupunktur saja menurun dari 16,20 ± 4,24 menjadi 8,73 ± 2,60 (t(14) = -18,63; p 0,001). Kedua kelompok mengalami perbaikan yang sangat signifikan secara statistik (p 0,001). Kesimpulan: Akupunktur PC 6, baik tunggal maupun kombinasi dengan wedang pala, efektif menurunkan skor ISI (meningkatkan kualitas tidur) pada pasien insomnia moderat. Kombinasi menunjukkan kecenderungan efek lebih besar, mengindikasikan efek sinergis antara kedua terapi.

EFEKTIVITAS TUINA PEDIATRIK UNTUK MENINGKATKAN NAFSU MAKAN PADA ANAK DENGAN SINDROM DEFISIENSI QI LIMPA DI GRIYA SEHAT RAUHIYYAH

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Efektivitas Tuina Pediatrik Untuk Meningkatkan Nafsu Makan Pada Anak Dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa Di Griya Sehat Rauhiyyah Oleh :Wabusima Gangguan nafsu makan pada anak dapat menyebabkan asupan nutrisi tidak optimal. Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa (Pi Qi Xu). Tuina Pediatrik merupakan salah satu terapi komplementer yang dapat digunakan untuk membantu meningkatkan fungsi Limpa dan nafsu makan. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas Tuina Pediatrik terhadap peningkatan pola makan anak dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah. Penelitian menggunakan desain Pre-Experimental One Group Pretest-Posttest dengan 30 responden. Intervensi diberikan selama 4 minggu, sebanyak 8 sesi. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah terapi. Analisis menggunakan Paired Sample t-test. Hasil menunjukkan bahwa sebelum terapi, 29 responden (96,7%) berada pada kategori sedang dan 1 responden (3,3%) pada kategori kurang. Setelah terapi, 22 responden (73,3%) berada pada kategori sedang dan 8 responden (26,7%) pada kategori baik. Rata-rata skor meningkat dari 33,97 menjadi 36,67, dengan selisih rata-rata 2,70. Hasil uji Paired Sample t-test menunjukkan t = 5,85; df = 29; p 0,001. Dengan demikian, terdapat perbedaan yang signifikan antara pola makan sebelum dan sesudah terapi. Tuina Pediatrik efektif meningkatkan pola makan anak dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah. Kata kunci: Tuina Pediatrik, pola makan, anak, Sindrom Defisiensi Qi Limpa. ABSTRACT The Effectiveness of Pediatric Tuina in Increasing Appetite in Children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah By: Wabusima Appetite disorders in children may result in inadequate nutritional intake. In Traditional Chinese Medicine, this condition may be associated with Spleen Qi Deficiency Syndrome (Pi Qi Xu). Pediatric Tuina is a complementary therapy that may help improve Spleen function and appetite. This study aimed to determine the effectiveness of Pediatric Tuina in improving eating patterns among children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah. This study used a Pre-Experimental One Group Pretest-Posttest Design involving 30 respondents. The intervention was administered for 4 weeks in 8 sessions. Measurements were taken before and after the intervention. Data were analyzed using the Paired Sample t-test. Before the intervention, 29 respondents (96.7%) were in the moderate category and 1 respondent (3.3%) was in the low category. After the intervention, 22 respondents (73.3%) were in the moderate category and 8 respondents (26.7%) were in the good category. The mean score increased from 33.97 to 36.67, with a mean difference of 2.70. The Paired Sample t-test showed t = 5.85; df = 29; p 0.001. Therefore, there was a significant difference in eating patterns before and after the intervention. Pediatric Tuina was effective in improving eating patterns among children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah. ABSTRAK Efektivitas Tuina Pediatrik Untuk Meningkatkan Nafsu Makan Pada Anak Dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa Di Griya Sehat Rauhiyyah Oleh :Wabusima Gangguan nafsu makan pada anak dapat menyebabkan asupan nutrisi tidak optimal. Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa (Pi Qi Xu). Tuina Pediatrik merupakan salah satu terapi komplementer yang dapat digunakan untuk membantu meningkatkan fungsi Limpa dan nafsu makan. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas Tuina Pediatrik terhadap peningkatan pola makan anak dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah. Penelitian menggunakan desain Pre-Experimental One Group Pretest-Posttest dengan 30 responden. Intervensi diberikan selama 4 minggu, sebanyak 8 sesi. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah terapi. Analisis menggunakan Paired Sample t-test. Hasil menunjukkan bahwa sebelum terapi, 29 responden (96,7%) berada pada kategori sedang dan 1 responden (3,3%) pada kategori kurang. Setelah terapi, 22 responden (73,3%) berada pada kategori sedang dan 8 responden (26,7%) pada kategori baik. Rata-rata skor meningkat dari 33,97 menjadi 36,67, dengan selisih rata-rata 2,70. Hasil uji Paired Sample t-test menunjukkan t = 5,85; df = 29; p 0,001. Dengan demikian, terdapat perbedaan yang signifikan antara pola makan sebelum dan sesudah terapi. Tuina Pediatrik efektif meningkatkan pola makan anak dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah. Kata kunci: Tuina Pediatrik, pola makan, anak, Sindrom Defisiensi Qi Limpa. ABSTRACT The Effectiveness of Pediatric Tuina in Increasing Appetite in Children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah By: Wabusima Appetite disorders in children may result in inadequate nutritional intake. In Traditional Chinese Medicine, this condition may be associated with Spleen Qi Deficiency Syndrome (Pi Qi Xu). Pediatric Tuina is a complementary therapy that may help improve Spleen function and appetite. This study aimed to determine the effectiveness of Pediatric Tuina in improving eating patterns among children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah. This study used a Pre-Experimental One Group Pretest-Posttest Design involving 30 respondents. The intervention was administered for 4 weeks in 8 sessions. Measurements were taken before and after the intervention. Data were analyzed using the Paired Sample t-test. Before the intervention, 29 respondents (96.7%) were in the moderate category and 1 respondent (3.3%) was in the low category. After the intervention, 22 respondents (73.3%) were in the moderate category and 8 respondents (26.7%) were in the good category. The mean score increased from 33.97 to 36.67, with a mean difference of 2.70. The Paired Sample t-test showed t = 5.85; df = 29; p 0.001. Therefore, there was a significant difference in eating patterns before and after the intervention. Pediatric Tuina was effective in improving eating patterns among children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah. Keywords: Pediatric Tuina, eating pattern, children, Spleen Qi Deficiency Syndrome.