2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Penyakit stroke merupakan masalah kesehatan yang utama bagi masyarakat modern saat ini. Pada pasien dengan disfungsi neurologis, akan ada kerusakan sistem yang menghasilkan presentasi yang berbeda. Gangguan kontrol postural yang mengikuti lesi neurologis biasanya dapat menurunkan kemandirian, meningkatnya resiko jatuh, dan penurunan produksi gerakan yang terkoordinasi. Kontrol dan keseimbangan kaki sangat penting dalam meningkatkan kemampuan kontrol postural dan menjaga keseimbangan fungsional tubuh. Intervensi fisioterapi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan kontrol postural adalah foot core stability exercise dengan pendekatan new bobath concept. Tujuan: Mengetahui pengaruh foot core stability exercise dengan pendekatan new bobath concept terhadap kemampuan kontrol postural pasien pasca stroke di RS. Hermina Arcamanik Kota Bandung. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain quasi experiment. Desain penelitian yang digunakan adalah pretest–posttest control group design, dengan melibatkan dua kelompok penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah berjumlah 36 pasien. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian adalah total sampling, dengan semua populasi digunakan sebagai sampel. Pengukuran kontrol postural menggunakan Postural Assessment Scale for Stroke (PASS). Analisis data dilakukan dengan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji hipotesis Wilcoxon. Hasil: Pada kelompok intervensi, hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p < 0,0001 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan yang sangat bermakna secara statistik antara nilai pre-test dan post-test. Kesimpulan : Foot core stability exercise dengan pendekatan new bobath concept memiliki pengaruh signifikan terhadap kemampuan kontrol postural pada pasien pasca di RS. Hermina Arcamanik Kota Bandung.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Pendahuluan : Penyakit stroke masih menjadi salah satu masalah utama
kesehatan, bukan hanya di Indonesia namun di dunia. Stroke juga merupakan
penyebabkan kematian kedua dan penyebab disabilitas ketiga di dunia. Fisioterapi
sangat berperan dalam penanganan pasien pasca stroke sesuai yang di sampaikan .
Salah satu intervensi Fisioterapi adalah Pemberian Latihan ergocycle dan active
exercise. Latihan ergocycle dan active exercise merupakan tindakan rehabilitasi
yang digunakan untuk mengoptimalkan kemandirian fungsional seseorang dengan
gangguan neurologi. Tujuan : Untuk mengetahui pemberian Latihan ergocycle
dan active exercise terhadap peningkatan kekuatan otot pada pasien lansia pasca
stroke. Sampel : : Terdiri dari 32 orang pasien Fisioterapi di Instalasi Rehabilitasi
Medik RSUD Kota Bandung dipilih berdasarkan purpose sampling dengan
menggunakan tabel assessmen yang tersedia dan kriteria yang sudah ditetapkan.
Metode : Penelitian ini merupakan jenis penelitian quasi eksperimental untuk
mengetahui suatu intervensi yang dilakukan terhadap suatu objek penelitian.
Setelah semua data terkumpul, maka dilakukan analisis data penelitian. Proses ini
menggunakan sistem komputerisasi program Graphpad Prism 8, dengan tingkat
signifikan p<0,05. Langkah awal pengolahan data yang dilakukan yaitu
melakukan uji normalitas data. Uji normalitas data menggunakan uji Saphiro-Wilk
karena jumlah sample kurang dari 50. Selanjutnya dilakukan uji paired T-test
berpasangan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh yang bermakna. Hasil :
Pada kelompok kontrol hasil uji paired t-test menunjukkan nilai p = 0,3332 (p >
0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang
bermakna secara statistik antara nilai pre-test dan post-test pada kelompok
kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan signifikan pada
kekuatan otot tanpa intervensi. Sedangkan pada kelompok perlakuan . Hasil uji
paired t-test menunjukkan nilai p = 0,0005 (p < 0,05), yang berarti terdapat
perbedaan yang sangat bermakna secara statistik antara nilai pre-test dan post-test.
Kesimpulan : perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh signifikan
terhadap peningkatan kekuatan otot berdasarkan skor MMT, sedangkan pada
kelompok kontrol tidak ditemukan perubahan yang bermakna.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Proses penuaan menyebabkan penurunan fungsi sistem muskuloskeletal dan neuromuskular yang berdampak pada menurunnya kemampuan keseimbangan serta meningkatnya risiko jatuh pada lansia. Sistem yang berperan dalam keseimbangan meliputi sistem visual, vestibular, dan proprioseptif yang bekerja secara terintegrasi dengan sistem muskuloskeletal. Otot core memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas trunk dan mempertahankan pusat gravitasi tubuh. Intervensi fisioterapi yang dapat digunakan untuk meningkatkan stabilitas postural adalah core strengthening exercise. Tujuan: Mengetahui pengaruh core strengthening exercise terhadap keseimbangan pada lansia dengan gangguan keseimbangan di Fit Factory Bandung. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan pendekatan one group pretest–posttest. Sampel penelitian berjumlah 30 lansia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran keseimbangan menggunakan Berg Balance Scale (BBS). Analisis data dilakukan dengan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji hipotesis Wilcoxon. Hasil: Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai Z = -4,810 dengan p = 0,000 (p<0,05) yang menunjukkan adanya peningkatan keseimbangan yang signifikan setelah pemberian intervensi. Kesimpulan : Core strengthening exercise memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan keseimbangan pada lansia dengan gangguan keseimbangan di Fit Factory Bandung
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Peningkatan populasi lansia di Indonesia berbanding lurus dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan, salah satunya neuropati perifer yang menyebabkan penurunan kontrol postural dan kemampuan proprioseptif. Kondisi ini secara signifikan meningkatkan risiko jatuh pada lansia. Latihan core stability merupakan intervensi fisioterapi yang difokuskan pada penguatan otot-otot inti untuk meningkatkan stabilitas tubuh dan mobilitas fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas program latihan berbasis core stability dalam menurunkan risiko jatuh pada lansia dengan gangguan neuropati perifer di RSAD Wira Bhakti Mataram. Jenis penelitian ini adalah quasi-experimental dengan rancangan one group pre-test and post-test design. Sampel penelitian berjumlah 40 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi dilakukan selama 4 minggu dengan frekuensi latihan 3 kali seminggu. Instrumen pengukuran yang digunakan untuk menilai risiko jatuh adalah Timed Up and Go (TUG) Test. Data dianalisis menggunakan uji statistik untuk melihat perbedaan skor sebelum dan sesudah intervensi. Karakteristik responden didominasi oleh perempuan (67,5%) dan kelompok usia di atas 60 tahun (77,5%). Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan durasi waktu yang signifikan pada skor TUG test setelah pemberian intervensi latihan core stability. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan stabilitas dinamis dan penurunan kategori risiko jatuh pada responden. Program latihan berbasis core stability efektif dalam menurunkan risiko jatuh pada lansia dengan gangguan neuropati perifer. Disarankan bagi praktisi fisioterapi untuk menerapkan latihan ini sebagai bagian dari program rehabilitasi lansia.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Radikulopati lumbal merupakan gangguan saraf akibat kompresi atau iritasi akar saraf lumbal yang sering terjadi pada lansia dan menyebabkan nyeri serta keterbatasan rentang gerak (ROM). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan pengaruh William Flexion Exercise serta Manual Therapy yang dikombinasikan dengan Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) terhadap penurunan nyeri dan peningkatan ROM lumbal. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan pendekatan pre-test dan post-test two group design. Sampel penelitian berjumlah 20 responden yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu William Flexion Exercise (n=10) dan Manual Therapy + TENS (n=10). Intensitas nyeri diukur menggunakan Visual Analog Scale (VAS) dan ROM diukur menggunakan goniometer. Analisis data menggunakan uji Paired Sample T-Test dan Independent Sample T-Test dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua intervensi secara signifikan menurunkan nyeri dan meningkatkan ROM (p<0,05). Tidak terdapat perbedaan signifikan dalam penurunan nyeri antar kelompok (p=0,337), namun terdapat perbedaan signifikan pada peningkatan ROM (p<0,05), dimana kelompok Manual Therapy + TENS menunjukkan peningkatan yang lebih besar. Dapat disimpulkan bahwa kedua intervensi efektif dalam menurunkan nyeri dan meningkatkan ROM, namun Manual Therapy + TENS lebih efektif dalam meningkatkan rentang gerak lumbal.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Dismenore merupakan gangguan menstruasi yang sering dialami
remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari maupun proses belajar.
Faktor yang diduga berhubungan dengan kejadian dismenore antara lain pola
makan dan aktivitas fisik. Pola makan yang tidak seimbang serta aktivitas fisik yang
rendah dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan meningkatkan produksi
prostaglandin sehingga memicu nyeri menstruasi. Tujuan: Mengetahui hubungan
pola makan dan aktivitas fisik dengan kejadian dismenore pada remaja putri kelas
X di SMAN 2 Sukatani Tahun 2025. Metode Penelitian: Penelitian ini
menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Teknik
pengambilan sampel menggunakan total sampling. Data dikumpulkan melalui
kuesioner pola makan, aktivitas fisik, dan kejadian dismenore. Analisis data
dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan
tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian: Hasil uji statistik menunjukkan terdapat
hubungan yang signifikan antara pola makan dengan kejadian dismenore dengan
nilai p-value = 0,032 (p < 0,05), sehingga Ha diterima dan H0 ditolak. Selain itu,
hasil uji statistik juga menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara
aktivitas fisik dengan kejadian dismenore dengan nilai p-value = 0,028 (p < 0,05),
sehingga Ha diterima dan H0 ditolak. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang
signifikan antara pola makan dan aktivitas fisik dengan kejadian dismenore pada
remaja putri kelas X di SMAN 2 Sukatani Tahun 2025.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Masalah kesehatan gigi dan mulut pada anak usia sekolah dasar masih
cukup tinggi, terutama disebabkan oleh rendahnya pengetahuan dan keterampilan dalam
menjaga oral hygiene. Anak usia sekolah berada pada tahap operasional konkret sehingga
membutuhkan metode edukasi yang menarik, mudah dipahami, serta melibatkan
pengalaman langsung. Edukasi berbasis audio visual yang dikombinasikan dengan praktik
menyikat gigi dinilai mampu meningkatkan pemahaman dan keterampilan anak secara
optimal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas edukasi berbasis
audio visual dan praktik menyikat gigi terhadap peningkatan pengetahuan dan
keterampilan oral hygiene siswa SDIT Ajimutu Global Insani Tahun 2026. Metode:
Penelitian menggunakan desain pre-eksperimental one group pretest–posttest. Sampel
berjumlah 55 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen
penelitian berupa kuesioner pengetahuan dan lembar observasi keterampilan menyikat gigi.
Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan
adanya peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan dan keterampilan oral hygiene
siswa setelah diberikan edukasi berbasis audio visual dan praktik menyikat gigi dengan
nilai signifikansi p < 0,05. Kesimpulan: Edukasi berbasis audio visual yang disertai
praktik menyikat gigi terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
oral hygiene siswa sekolah dasar. Metode ini direkomendasikan sebagai alternatif edukasi
kesehatan gigi di lingkungan sekolah.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Remaja usia pertengahan termasuk kelompok yang rentan mengalami gangguan
tidur karena adanya perubahan gaya hidup. Salah satunya yaitu kebiasaan yang
sering terjadi adalah penggunaan waktu layar (screen time) sebelum tidur. Paparan
cahaya dari layar gadget pada malam hari menghambat produksi hormon
melatonin, sehingga berpotensi menurunkan kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui hubungan antara screen time sebelum tidur dengan kualitas tidur
pada remaja usia pertengahan di SMA Negeri 2 Cikarang Utara. Penelitian ini
menggunakan metode kuantitatif dengan pendektan cross-sectional. Sampel
penelitian terdiri dari remaja berusia 14-16 tahun yang dipilih menggunakan teknik
stratified random sampling, dengan jumlah responden sebanyak 80 siswa.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner screen time
sebelum tidur dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis data dilakukan
secara univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian
menunjukan bahwa sebagian besar responden memiliki kebiasaan menggunakan
gadget sebelum tidur serta mengalami kualitas tidur yang kurang baik. Hasil uji chisquare
menunjukan nilai p-value sebesar 0.012 (p <0,05), yang berarti terdapat
hubungan yang signifikan antara screen time sebelum tidur dengan kualitas tidur
pada remaja usia pertengahan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa screen
time sebelum tidur berhubungan dengan kualitas tidur remaja di SMA Negeri 2
Cikarang Utara. Oleh karena itu, remaja diharapkan dapat membatasi screen time
sebelum tidur agar kualitas tidurnya menjadi lebih baik.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Prevalensi DBD di Jonggol hingga Juni 2024 tercatat sebanyak 145 kasus dengan 1 kematian. Sementara itu, Puskesmas Balekambang mencatat 20 kasus dengue pada periode Januari–November 2025, dengan 2 orang dirawat di RSUD Cileungsi pada bulan Mei dan 1 orang dirawat di RS Permata Jonggol pada bulan Juni. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pemberantasan sarang nyamuk (PSN) pada masyarakat di Balekambang Kecamatan Jonggol 2025. Metode : Penelitian ini menggunakan kuantitatif deskriptif korelasional dengan menggunakan desain cross sectional. Populasi penelitian masyarakat Desa Balekambang Kecamatan Jonggol dengan jumlah sampel sebanyak 85 orang yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan, sikap dan perilaku PSN. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistik nonparametrik Chi-Square. No Layak Etik 000322/Universitas Medika Suherman/2026 Hasil : Hasil penelitian ini menunjukan analisi bivariat Jenis kelamin nilai p-value = 0,659 > 0,05, Usia nilai p-value = 0,546 > 0,05, Pendidikan nilai p-value = 0,001 <0,05, Pekerjaan nilai p-value = 0,158 > 0,05, Tingkat pengetahuan nilai p-value = 0,018 <0,05, Sikap nilai p-value = 0,001 <0,05. Kesimpulan : Tidak ada hubungan yang signifikan antara faktor jenis kelamin, usia, pekerjaan dengan perilaku PSN, Ada hubungan yang signifikan antara faktor pendidikan, tingkat pengetahuan dan sikap dengan perilaku PSN. Diharapkan masyarakat dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi dalam melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), mengingat masih terdapat responden dengan perilaku PSN yang kurang baik.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Masa remaja merupakan periode kritis dalam pembentukan pola hidup mandiri. Rendahnya pengetahuan dan perilaku hidup tidak sehat, seperti konsumsi minuman tinggi gula, meningkatkan kerentanan remaja terhadap gangguan kesehatan jangka panjang, termasuk gagal ginjal. Edukasi kesehatan diperlukan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan pencegahan sejak dini. Tujuan penelitian: Mengetahui pengaruh edukasi kesehatan tentang pencegahan gagal ginjal melalui media audiovisual terhadap tingkat pengetahuan remaja di SMP Negeri 1 Cabangbungin. Metode penelitian: Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimen dengan one-group pre-test post-test design. Sampel berjumlah 77 siswa kelas VIII yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Data pengetahuan diukur menggunakan kuesioner pre-test dan post-test, kemudian dianalisis dengan Uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian: Hasil analisis data sebelum edukasi, mayoritas responden (61%) memiliki pengetahuan kategori cukup. Setelah edukasi, terjadi peningkatan signifikan dimana mayoritas responden (61%) beralih ke kategori baik. Uji statistik menunjukkan peningkatan yang signifikan dengan nilai p-value = 0,000 (p < 0,05) yang artinya terdapat pengaruh edukasi kesehatan terhadap tingkat pengetahuan remaja. Kesimpulan: Edukasi kesehatan berbasis audiovisual terbukti efektif secara signifikan dalam meningkatkan pengetahuan remaja. Media ini direkomendasikan sebagai strategi promosi kesehatan untuk meningkatkan literasi kesehatan ginjal pada kelompok remaja.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Syncope merupakan kondisi hilangnya kesadaran secara tiba-tiba dan sementara akibat penurunan aliran darah ke otak, yang sering terjadi pada remaja di lingkungan sekolah. Kurangnya pengetahuan mengenai penanganan awal syncope berpotensi meningkatkan risiko cedera sekunder. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi pertolongan pertama pada syncope berbasis audiovisual terhadap tingkat pengetahuan siswa di SMK Kesehatan Tambun Islamic School. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental dengan one group pretest-posttest. Populasi sekaligus sampel berjumlah 86 siswa yang dipilih menggunakan tenik total sampling. Instrumen Penelitian berupa kuesioner pilihan ganda sebanyak 10 butir yang telah diuji validitas (r hitung 0,517-0,786; p <0,05) dan reliabilitas (Cronbach’s Alpha = 0,812). Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dengan tingkal signifikansi 0,05. Hasil: Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa sebelum intervensi, sebagian besar siswa berada pada kategori pengetahuan baik (57,0%), cukup (34,9%), dan kurang (8,1%). Setelah diberikan edukasi audiovisual, seluruh siswa (100%) berada pada kategori baik. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai Z = -8,109 dengan Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,000 (p <0,05), sehingga pengaruh yang signifikan dari edukasi pertolongan pertama pada syncope berbasis audiovisual terhadap peningkatan tingkat pengetahuan siswa.
Kesimpulan: Pada Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa edukasi pertolongan pertama pada syncope berbasis audiovisual efektif meningkatkan tingkat pengetahuan siswa secara bermakna. Rekomendasi: Pihak sekolah diharapkan agar metode ini dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kurikulum sekolah serta dikembangkan pada Penelitian selanjutnya dengan desain kontrol dan evaluasi retensi jangka panjang.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Kekerasan seksual merupakan permasalahan kesehatan dan sosial yang
masih sering terjadi pada remaja serta dapat menimbulkan dampak fisik, psikologis, dan
sosial. Remaja merupakan kelompok yang rentan terhadap kekerasan seksual, terutama
dengan meningkatnya penggunaan media digital yang selain memberi kemudahan akses
informasi juga meningkatkan risiko kekerasan seksual berbasis digital. Kurangnya
pengetahuan remaja mengenai kekerasan seksual dan cara pencegahannya dapat memengaruhi
perilaku pencegahan yang dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini diperlukan untuk
mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan pencegahan kekerasan seksual
berbasis media digital pada remaja.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan
dengan pencegahan kekerasan seksual berbasis media digital pada remaja.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional.
Sampel berjumlah 84 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling.
Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan dan pencegahan kekerasan seksual
berbasis media digital. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan remaja sebagian besar
berada dalam kategori baik, yaitu sebesar 50,0%. Selain itu, pencegahan kekerasan seksual
berbasis media digital pada remaja juga menunjukkan bahwa mayoritas berada dalam kategori
baik, dengan persentase 77,4%. Berdasarkan hasil uji statistik, terdapat hubungan yang
bermakna antara tingkat pengetahuan dengan pencegahan kekerasan seksual berbasis media
digital pada remaja, dengan nilai p value = 0,011 (p < 0,05).
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan pencegahan kekerasan
seksual berbasis media digital pada remaja.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Pemberian ASI optimal sangat penting bagi tumbuh kembang bayi, namun masih banyak ibu mengalami produksi ASI tidak lancar. Daun kelor (Moringa oleifera) diketahui mengandung senyawa galaktagog yang berpotensi meningkatkan produksi ASI. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian rebusan daun kelor terhadap produksi ASI pada ibu menyusui bayi usia 0–6 bulan di Desa Tanahbaru Tahun 2025. Penelitian menggunakan desain pre-eksperimental one group pretest–posttest dengan total sampling sebanyak 20 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner produksi ASI sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil menunjukkan terdapat peningkatan produksi ASI setelah pemberian rebusan daun kelor dengan p-value = 0,001 (p < 0,05). Disimpulkan bahwa rebusan daun kelor berpengaruh signifikan terhadap peningkatan produksi ASI. Temuan ini diharapkan dapat menjadi alternatif intervensi nonfarmakologis dan bahan edukasi bagi tenaga kesehatan dalam mendukung keberhasilan ASI eksklusif.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Sakit gigi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang
sering dialami anak usia sekolah dan dapat memengaruhi aktivitas belajar, konsentrasi, serta
kesejahteraan fisik dan emosional anak. Pemahaman mengenai pengalaman anak terhadap
sakit gigi penting untuk mengetahui bagaimana anak memaknai penyebab, dampak, serta cara
mereka mengatasi kondisi tersebut. Tujuan Penelitian: Menggali pengalaman siswa/i kelas V
dan VI terhadap penyebab sakit gigi di SD Negeri Sukarapih 01. Metode Penelitian: Penelitian
ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Partisipan penelitian
adalah siswa/i kelas V dan VI yang pernah mengalami sakit gigi dan dipilih menggunakan
teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam
menggunakan pedoman wawancara semi terstruktur. Analisis data dilakukan menggunakan
analisis tematik untuk mengidentifikasi tema-tema yang muncul dari pengalaman partisipan.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan enam tema utama, yaitu pengalaman sakit gigi
pada anak, pemahaman anak tentang penyebab sakit gigi, dampak sakit gigi terhadap aktivitas
sehari-hari, respon anak terhadap sakit gigi, upaya penanganan terhadap sakit gigi, dukungan
sosial terhadap harapan anak terkait kesehatan gigi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa
sakit gigi tidak hanya menimbulkan rasa nyeri secara fisik, tetapi juga berdampak pada
aktivitas belajar, kondisi emosional, serta kehidupan sehari-hari anak. Kesimpulan:
Pengalaman sakit gigi pada anak tidak hanya berdampak secara fisik tetapi juga memengaruhi
kondisi emosional, sosial, dan aktivitas belajar. Oleh karena itu, diperlukan upaya promotif dan
preventif melalui pendidikan kesehatan gigi di sekolah serta dukungan keluarga dalam
membentuk kebiasaan menjaga kesehatan gigi sejak dini
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang:Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan utama karena berisiko menyebabkan komplikasi seperti stroke, penyakit jantung, dan gangguan ginjal. Salah satu faktor yang memengaruhi peningkatan tekanan darah adalah pola makan dengan konsumsi natrium berlebih. Penerapan pola makan rendah natrium menjadi upaya nonfarmakologis yang dapat membantu mengendalikan tekanan darah pada pasien hipertensi. Tujuan: Mengetahui hubungan pola makan rendah natrium dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di Puskesmas Tambelang. Metode:Penelitian menggunakan metode kuantitatif analitik dengan desain deskriptif korelasional dan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 95 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data pola makan rendah natrium diperoleh melalui kuesioner Food Frequency Questionnaire-Sodium (FFQ-Na), sedangkan tekanan darah diukur menggunakan sphygmomanometer. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Responden dengan pola makan rendah natrium kategori baik sebagian besar berada pada hipertensi derajat 1 sebanyak 35 responden (63,6%). Responden dengan kategori tidak baik sebagian besar berada pada hipertensi derajat 2 sebanyak 25 responden (62,5%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan p-value = 0,012 (p < 0,05), sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan rendah natrium dengan tekanan darah. Kesimpulan:
Terdapat hubungan signifikan antara pola makan rendah natrium dengan tekanan darah pada pasien hipertensi. Saran: Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penerapan pengelolaan diet rendah natrium serta pemantauan tekanan darah secara rutin pada pasien hipertensi.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Gastritis merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada remaja dan umumnya ditangani melalui tindakan swamedikasi. Kurangnya pengetahuan remaja mengenai penggunaan obat secara rasional dapat meningkatkan risiko terjadinya kesalahan pengobatan. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi kesehatan untuk meningkatkan pemahaman remaja terkait tindakan swamedikasi yang tepat. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan menggunakan media PowerPoint terhadap tingkat pengetahuan tindakan swamedikasi penyakit gastritis pada remaja usia 10–19 tahun di Desa Sukahurip, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi experiment tipe one group pretest–posttest. Sampel penelitian berjumlah 95 remaja yang diambil menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan swamedikasi gastritis yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. sedangkan analisis bivariat dilakukan dengan uji Wilcoxon. Hasil Penelitian : adanya peningkatan tingkat pengetahuan dan tindakan swamedikasi setelah diberikan edukasi. Hasil uji Wilcoxon diperoleh nilai Z sebesar -8,512 dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara edukasi menggunakan media PowerPoint terhadap peningkatan tingkat pengetahuan dan tindakan swamedikasi gastritis pada remaja. Kesimpulan : Dapat disimpulkan bahwa edukasi kesehatan menggunakan media PowerPoint efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja mengenai tindakan swamedikasi gastritis yang rasional. Media PowerPoint dapat direkomendasikan sebagai sarana edukasi kesehatan bagi remaja dalam upaya pencegahan dan pengelolaan gastritis.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Stres akademik dapat memengaruhi perilaku merokok, di mana semakin tinggi tingkat stres akademik, semakin besar pula kecenderungan mahasiswa untuk merokok. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat stres dengan perilaku merokok pada mahasiswa Fakultas Kesehatan Universitas Medika Suherman tahun 2025. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif analitik yang menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel terdiri dari 62 dengan teknik total sampling merupakan mahasiswa perokok di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Medika Suherman tahun 2025. Hasil Penelitian: Pada penelitian ini diperoleh Analisa menggunakan uji Chi-square bahwa hasil menunjukkan stres separuh remaja siswa kategori perilaku merokok sedang (44,9%) dengan kategori tingkat stress sedang (46,2%) yang merupakan terdapat hubungan tingkat stress dengan perilaku merokok pada remaja dengan nilai p=value = 0,001 (<0,05). Kesimpulan: Pada penelitian adanya hubungan tingkat stres dengan perilaku merokok pada mahasiswa di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Medika Suherman tahun 2025. dapat membantu memberikan pembaharuan berdasarkan tingkat stres dan perilaku merokok, yang dapat membantu dalam memberikan masukan yang lebih efektif untuk masalah merokok terkait stres.