ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang Perilaku emosional remaja menjadi isu yang semakin penting karena masa ini ditandai dengan perubahan fisik, sosial, dan emosional yang signifikan untuk membentuk karakter dan kepribadian remaja di masa depan. Menurut data WHO (2019), 8% anak – anak dan 15% usia remaja mengalami gangguan mental, dengan kelompok usia 15 – 29 tahun, ditemukan kasus bunuh diri sebagai penyebab ketiga kematian. Sedangkan menurut data Riskesdas (2021), 40% remaja yang mengalami gangguan kesehatan mental, berpengaruh terhadap hasil belajarnya. Masalah kesehatan mental remaja yang tidak ditangani sedari dini menjadi penyebab masalah mental yang berawal dari gangguan belajar, juga dapat menjadi berkelanjutan terhadap masalah mental yang mempengaruhi keberlangsungan kehidupan sehari-hari. Maka dari itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini, dengan menghubungkan faktor-faktor yang memengaruhi perilaku emosional remaja, seperti usia, jenis kelamin, pola asuh orang tua, dan lingkungan social. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, menggunakan kuesioner Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) dan kuesioner pola asuh orang tua, dengan jumlah responden sebanyak 81 siswa/i kelas 7.dimana uji validitas dan reliabilitas sudah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai P- Value 0.031, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara usia dan perilaku emosional. Uji Chi-Square menunjukkan nilai P- Value 0.012, untuk jenis kelamin yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan perilaku emosional. Uji Chi-Square menunjukkan nilai P- Value 0.004 pada pola asuh, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara Pola Asuh dan perilaku emosional. Uji Chi-Square juga menunjukkan nilai P- Value 0.032 untuk lingkungan sosial, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara Lingkungan Sosial dan perilaku emosional. Kesimpulan Perilaku emosional remaja dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Maka diperlukan pendekatan holistik dalam memahami dan mengelola perkembangan emosional remaja. Studi lanjutan diperlukan untuk mengeksplorasi lebih dalam faktor faktor lain yang bisa mempengaruhi perilaku emosional pada usia remaja.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar belakang kesulitan anak saat berbicara, kerap dikaitkan terhadap pola pengasuhan yang diterapkan orang tuanya sebagai pendukung utama tumbuh kembang anak, orang tua yang konsisten berkomunikasi menciptakan peluang belajar bagi anak melalui interaksi yang penuh perhatian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara pola asuh serta pola komunikasi verbal orang tua dengan risiko keterlambatan perkembangan bahasa pada anak prasekolah berusia 3-6 tahun di RA Bustanul Aulad Bekasi. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Teknik pengambilan sampel yang diterapkan yakni total sampling, sejumlah 39 responden. Adapun populasi penelitian ini meliputi seluruh orang tua di RA Bustanul Aulad. Hasil penelitian dari uji Chi-Square untuk variabel pola asuh dengan nilai p-value 0.019 (p<0.05) dan variabel pola komunikasi verbal dengan nilai p-value 0.000 (p<0.05). Hasil penelitian ini memperlihatkan keterkaitan antara pola asuh serta pola komunikasi verbal orang tua dengan risiko keterlambatan perkembangan bahasa pada anak prasekolah berusia 3-6 tahun di RA Bustanul Aulad Bekasi. Saran dari penelitian ini yaitu pentingnya stimulasi bahasa anak melalui interaksi sehari-hari, penggunaan materi visual, dan metode bermain dalam pembelajaran. Pendekatan ini dapat membantu meningkatkan perkembangan bahasa anak secara lebih efektif dan menyenangkan.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar belakang keterlambatan bicara pada anak sering terkait dengan pola asuh orang tua, sebagai pendukung utama tumbuh kembang anak, orang tua yang konsisten berkomunikasi menciptakan peluang belajar bagi anak melalui interaksi yang penuh perhatian. Tujuan Penelitian untuk mengetahui hubungan pola asuh dan pola komunikasi verbal orang tua dengan risiko keterlambatan perkembangan bahasa pada anak prasekolah usia 3-6 tahun di RA Bustanul Aulad Bekasi. Metode Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik total sampling dengan jumlah 39 responden. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu seluruh orang tua di RA Bustanul Aulad. Hasil penelitian dari uji Chi-Square untuk variabel pola asuh dengan nilai p-value 0.019 (p0.05) dan variabel pola komunikasi verbal dengan nilai p-value 0.000 (p0.05). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ada hubungan pola asuh dan pola komunikasi verbal orang tua dengan risiko keterlambatan perkembangan bahasa pada anak prasekolah usia 3-6 tahun di RA Bustanul Aulad Bekasi. Saran dari penelitian ini yaitu pentingnya stimulasi bahasa anak melalui interaksi sehari-hari, penggunaan materi visual, dan metode bermain dalam pembelajaran. Pendekatan ini dapat membantu meningkatkan perkembangan bahasa anak secara lebih efektif dan menyenangkan.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar belakang keterlambatan bicara pada anak sering terkait dengan pola asuh orang tua, sebagai pendukung utama tumbuh kembang anak, orang tua yang konsisten berkomunikasi menciptakan peluang belajar bagi anak melalui interaksi yang penuh perhatian. Tujuan Penelitian untuk mengetahui hubungan pola asuh dan pola komunikasi verbal orang tua dengan risiko keterlambatan perkembangan bahasa pada anak prasekolah usia 3-6 tahun di RA Bustanul Aulad Bekasi. Metode Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik total sampling dengan jumlah 39 responden. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu seluruh orang tua di RA Bustanul Aulad. Hasil penelitian dari uji Chi-Square untuk variabel pola asuh dengan nilai p-value 0.019 (p0.05) dan variabel pola komunikasi verbal dengan nilai p-value 0.000 (p0.05). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ada hubungan pola asuh dan pola komunikasi verbal orang tua dengan risiko keterlambatan perkembangan bahasa pada anak prasekolah usia 3-6 tahun di RA Bustanul Aulad Bekasi. Saran dari penelitian ini yaitu pentingnya stimulasi bahasa anak melalui interaksi sehari-hari, penggunaan materi visual, dan metode bermain dalam pembelajaran. Pendekatan ini dapat membantu meningkatkan perkembangan bahasa anak secara lebih efektif dan menyenangkan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Masa batita dalam masa emas, atau “golden age” mengalami masalah perkembangan dalam hal emosi, sosial, mental, intelektual, dan moral. Di masa depan, gangguan ini dapat memengaruhi sikap dan perilakunya. Pertumbuhan dan perkembangan anak sangat penting untuk perkembangan kecerdasan, dimulai sejak usia 0 hingga 5 tahun. selain itu, kondisi keuangan keluarga dan cara orang tua membesarkan anak sangat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Batita membutuhkan pengawasan penuh selama masa usianya, terutama dalam hal memenuhi kebutuhan gizinya untuk pertumbuhan dan perkembangan yang ideal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Faktor faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang batita usia 1-3 tahun di wilayah puskesmas tambelang. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif analitik observasional, desain penelitian yang digunakan cross sectional, Menggunakan metode consecutive sampling, Populasi dalam penelitian ini yaitu batita yang berusia 1-3 tahun berjumlah 823. Sampel dalam penelitian ini adalah berjumlah 265 responden. Analisis data yang digunakan adalah analisa univariat dan bivariat berupa Chi-Square dengan nilai signifikan a < 0,05. Hasil: Mayoritas dari mereka berusia 3 tahun 96 orang (36,2%), status gizi kurang 109 orang (41,1%), pola asuh negatif 134 orang (50,6%), imunisasi Mr/campak pada batita usia 3 tahun 96 orang (36,2%). Kesimpulan: dari penelitian ini hanya faktor pola asuh dengan kpsp yang memiliki hubungan dengan nilai chi square P = 0,001 < a 0,05. Sedangkan, umur, status gizi,imunisasi tidak terdapat hubungan dengan tumbuh kembang pada batita usia 1-3 tahun di wilayah puskesmas tambelang.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang : Infeksi menular seksual di Indonesia perlu dilakukan pendekatan edukatif dan partisipatif, seperti pengenalan terhadap penyakit-penyakit yang tergolong kelompok IMS dan upaya pencegahan guna mencapai derajat kesehatan reproduksi yang paripurna karna angka ims masih cukup tinggi yaitu sekitar 23.301 kasus. Tujuan Penelitian : Mengetahui distribusi frekuensi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan infeksi menular seksual pada remaja di SMAN 2 Cikarang selatan Tahun 2023. Metode Penelitian : Jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain cross sectional, penggunaan sampel menggunakan metode total sampling. Sampel pada penelitian ini adalah Sebagian remaja SMAN 2 Cikarang Selatan Tahun 2023 yaitu sebanyak 142. Pengolahan data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji statistic chi-square. Hasil dan Pembahasan : Hasil penelitian terdapat hubungan yang signifikan perilaku dengan pengetahuan dengan (p-value= 0.002), sikap (p-value= 0.011), sumber informasi (p-value= 0.011), dan pola asuh (p-value= 0.003) pada remaja di SMAN 2 Cikarang Selatan. Kesimpulan : Terdapat hubungan pengetahuan, sikap, sumber informasi, dan pola asuh orang tua terhadap perilaku pencegahan infeksi menular seksual pada remaja di SMAN 2 Cikarang Selatan Tahun 2023. Saran dalam penelitian ini untuk remaja, untuk lahan penelitian dan peneliti selanjutnya.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang : Proses pertumbuhan dan perkembangan dan proses
perkembangan pada anak terjadi sejak dalam intra uterine hingga dewasa. Namun
tak jarang dalam proses tersebut terjadi penyimpangan-penyimpangan tertentu.
Masalah penyimpangan tumbuh kembang anak yang terjadi di masyarakat memang
sangatlah bervariasi, diantaranya terjadi gangguan perkembangan, gangguan
bicara, gangguan perkembangan motorik, gangguan mental dan lain-lain. Hasil
studi pendahuluan peneliti yang dilakukan pada tanggal 20 Mei 2019 di TK Tunas
Bangsa Kampung Cicau Desa Cicau Kecamatan Cikarang pusat Kabupaten Bekasi,
terdapat 35 jumlah murid. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan
mengunakan KPSP (Kuesioner Praskrining Perkembangan) di TK Tunas Bangsa
didapatkan 8 dari 10 responden berada dalam kategori meragukan dimana kategori
meragukan ini diambil bila jawaban yang diujikan hanya terdapat “YA” 8 butir dan
maka hasilnya bisa di simpulkan yaitu “meragukan” (meragukan terjadinya
penyimpangan dalam tumbuh kembang).
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang
berhubungan dengan pola asuh dalam tumbuh kembang anak di TK Tunas Bangsa
Kampung Cicau Desa cicau Kecamatan Cikarang pusat kabupaten Bekasi Tahun
2019.
Metode : Metode yang digunakan dalam penelitian adalah Analitik Kuantitatif
dengan rancangan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
orang tua yang mengantar anaknya di TK Tunas Bangsa Kampung Cicau Desa
Cicau Kecamatan Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi Tahun 2019 dimana jumlah
seluruh responden adalah 35 orang tua. Penelitian ini akan di lakukan selama dua
hari di TK Tunas Bangsa. Sampel yang diambil sebanyak 35 responden dengan
menggunakan teknik Total Sampling. Instrument yang digunakan dalam
pengambilan data adalah kuesioner. Analisa data yang digunakan adalah analisa
univariat dan bivariate berupa uji Chi-square dengan nilai signifikan α < 0,05.
Hasil : Hasil penelitian ini menunjukan bahwa semua faktor yang diteliti memiliki
pengaruh bermakna dengan pola asuh dalam tumbuh kembang anak. Variable yang
mempengaruhi adalah usia (p = 0,018 < α = 0,05), pendidikan (p = 0,032 < α =
0,05), status ekonomi (p = 0,039 < α = 0,05) dan Lingkungan (p = 0,030 < α = 0,05).
Terdapat hubungan signifikan antara usia, pendidikan, status ekonomi dan
lingkungan dengan pola asuh dalam tumbuh kembang anak di TK tunas bangsa.
Kesimpulan : Ada hubungan antara usia, pendidikan, status ekonomi, dan
lingkungan dengan pola asuh dalam tumbuh kembang anak di taman kanak-kanak
tunas bangsa kampung cicau desa cicau kecamatan cikarang pusat kabupaten
bekasi tahun 2019.
Saran : Hasil penelitian ini diketahui bahwa terbukti berhubungan secara
signifikan. Oleh karena itu penulis menyarankan agar peneliti selanjutnya bisa
meneliti dengan variable yang lebih banyak lagi.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2019•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang : Perilaku kekerasan tawuran hingga saat ini semakin meningkat,
Berdasarkan data informasi Kemenpora tahun 2009 kenakalan remaja tertinggi
tercatat di Provinsi Jawa Barat sebesar 10 kejadian, 23 pelajar terlibat tawuran
yang berasal dari dua sekolah, yakni SMKN 1 Kota Cirebon dan SMK Nasional
Kota Cirebon. Di Cirebon Jawa Barat sedikitnya 250 pelajar sekolah menengah
kejuruan (SMK) yang terlibat tawuran dan sekolah yang terlibat tawuran yang
mayoritas siswanya laki-laki.
Tujuan : untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku
kekerasan tawuran pada siswa SMK Dwi Bhakti Ciledug Kabupaten Cirebon
tahun 2018.
Metode : Metode penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan pendekatan
cross sectional. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI SMK Dwi Bhakti
Ciledug Kabupaten Cirebon Tahun 2018. Teknik pengambilan sampel dengan
menggunakan total sampling dengan jumlah responden sebanyak 208 orang. Alat
ukur yang digunakan adalah kuesioner dan uji statistik menggunakan chi square.
Hasil : Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku
kekerasan tawuran (p = 0,021 < α=0,05), sikap (p = 0,043 < α=0,05), pola asuh
orang tua (p = 0,029 < α=0,05), pengaruh teman sebaya (p = 0,021 < α=0,05).
Kesimpulan : remaja dengan pengetahuan baik mempunyai efek proteksi
terhadap perilaku kekerasan tawuran dibandingkan remaja dengan pengetahuan
kurang baik, remaja dengan sikap baik mempunyai efek proteksi terhadap perilaku
kekerasan tawuran dibandingkan remaja dengan sikap kurang baik, remaja dengan
pola asuh orang tua baik mempunyai efek proteksi terhadap perilaku kekerasan
tawuran dibandingkan remaja dengan pola asuh orang tua kurang baik, remaja
dengan tidak terpengaruh teman sebaya mempunyai resiko terhadap perilaku
kekerasan tawuran dibandingkan remaja dengan terpengaruh teman sebaya.
Saran : Diharapkan untuk mengurangi perilaku kekerasan tawuran khususnya
bagi responden disarankan untuk lebih berhati-hati dalam bergaul dengan
siapapun itu, saling menghargai, berperilaku sopan dan menerapkan moral yang
baik, terus mencari tahu dampak dan bahaya dari tawuran serta mengisi waktu
yang senggang dengan kegiatan yang positif seperti belajar kelompok.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2019•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang : Sibling rivalry adalah kecemburuan, persaingan dan pertengkaran
antara saudara laki-laki dan saudara perempuan. Hubungan tidak harmonis antar
saudara kandung khususnya masa usia sekolah akan mengalami kesulitan melakukan
penyesuaian sosial seperti hubungan yang buruk dengan teman sebaya, perilaku
antisosial, kesulitan belajar dan menunjukkan tanda psikopatologi seperti cemas,
depresi dan ketakutan.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan
dengan perilaku sibling rivalry di Desa Sukaraya Kecamatan Karang Bahagia
Kabupaten Bekasi Tahun 2018.
Metode : Penelitian ini termasuk kedalam analitik kuantitaitf, dengan menggunakan
metode Cross Sectional, yaitu faktor resiko dengan efek dilakukan pengukuran
dengan cara, observasi ataupun pengumpulan data sekaligus suatu saat. Adapun
sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh orang tua yang
mempunyai anak usia sekolah (6-12 tahun) di Desa Sukaraya Kecamatan Karang
Bahagia Kabupaten Bekasi, jumlah sampel dengan menggunakan tingkat kesalahan
0,05. Populasi penelitian ini sebanyak 72 anak dan jumlah responden yang akan
diteliti sebanyak 72 responden.
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara jenis
kelamin (P value = 0,002 < α (0,05) ; OR 5,133), perbedaan usia (P value = 0,001 <
α (0,05) ; OR 6,250), pola asuh orang tua (P value = 0,009 < α (0,05) ; OR 4,114),
dan jumlah saudara kandung (P value = 0,002 < α (0,05) ; OR 6,600) dengan
perilaku sibling rivalry.
Saran : Diharapkan bagi orang tua yang memiliki anak usia sekolah (6-12 tahun) dan
memiliki saudara kandung dapat membangun komunikasi dan perlakuan yang baik
kepada anak. Selain itu, diharapkan bagi orang tua untuk dapat memberikan
perhatian, waktu, cinta dan kasih sayang yang setara sesuai porsinya kepada masingmasing
anak.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2019•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Toilet Training pada anak merupakan suatu usaha untuk melatih anak agar mampu mengontrol dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar di toilet pada waktu yang tepat. Toilet Training dapat berlangsung pada fase kehidupan anak yaitu umur 18 bulan sampai 24 bulan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam Toilet Training pada anak usia Toddler yaitu faktor pendidikan, pekerjaan, pola asuh orang tua, pengetahuan, dan lingkungan. Faktor tersebut mempengaruhi dalam penerapan Toilet Training karena pada dasarnya peran serta ibu sangat penting di dalam membimbing, memberikan pengertian, mengingatkan dan menyediakan fasilitas agar anak merasa nyaman dalam menjalani proses perkembangannya. Penelitian ini bertjuan untuk mengetahui faktor – faktor yang berhubungan dengan tingkat keberhasilan Toilet Training pada anak usia Toddler di Poliklinik Anak Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong tahun 2018.
Penelitian ini termasuk analitik kuantitatif, dengan menggunakan metode Cross Sectional. Adapun sampel yang di gunakan dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak usia Toddler di Poliklinik Anak Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong, jumlah responden yang akan di teliti sebanyak 63 responden.
Hasil penelitian ini menunjukan terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dengan tingkat keberhasilan Toilet training dengan nilai P- Value 0.000 < (0.05) dan nilai OR 12.500. Hubungan antara pengetahuan dengan tingkat keberhasilan Toilet training dengan nilai P Value 0.000 < (0.05) dan nilai OR 19.883. Hubungan antara lingkungan dengan tingkat keberhasilan Toilet training dengan nilai P Value 0.000 < (0.05) dan nilai OR 12.089.Sedangkan hasil penelitian yang menunjukan tidak terdapat hubungan adalah pendidikan dan pekerjaan terhadap tingkat keberhasilan Toilet Training pada anak usia Toddler di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong dengan nilai P -Value 1.000 dan 0.158.
Peneliti menyarankan kepada institusi kesehatan khusunya rumah sakit adanya peningkatan penyuluhan dengan metode yang mudah di pahami oleh masyarakat khususnya ibu sehingga penyuluhan tersebut efektif dan dapat meningkatkan peran dalam penerapan Toilet Training.