ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS Skripsi, Oktober 2023 Nama : Imas Nim : 020319620 HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE II DI PUSKESMAS CIKARANG viii + 51 Hal + 4 Tabel + 2 Gambar + 8 Lampiran ABSTRAK Latar Belakang: Diabetes Mellitus (DM) atau disebut kencing manis merupakan gangguan metabolik menahun akibat prankeas tidak memproduksi cukup insulin dalam tubuh, yang dimana diabetes suatu penyakit yang tidak bisa disembuhkan tetapi dapat mengontrol kadar gula darah dalam tubuh. Dukungan keluarga mengacu pada cara anggota keluarga bertindak, merasakan, dan menerima orang yang sakit. Dukungan dapat datang dari orang lain atau orang terdekat yang menderita (orang tua, anak, pasangan, atau anggota keluarga lainnya), dimana dukungan keluarga berupa pengetahuan, perilaku tertentu, atau hal-hal yang dapat membuat orang merasa dihargai, diperhatikan, dan dicintai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya Hubungan antara Dukungan Keluarga Dengan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II di Puskesmas Cikarang. Metodelogi: Metode jenis penelitian ini menggunakan desain pendekatan “cross sectional” Merupakan suatu penelitian yang mempelajarin kolerasi antara paparan atau faktor risiko (independent) dengan akibat atau efek (dependen), dengan Pengumpulan data dilakukan secara bersamaan. Hasil : Hasil Dukungan Keluarga pada penderita Diabetes Mellitus Tipe II yang baik sebanyak 27 responden dengan presentase (31.8%) dan tidak baik sebanyak 58 responden dengan presentase (68.2%) responden. Kadar Gula Darah menggunakan GDS di Puskesmas Cikarang bahwa pasien yang gula darahnya normal sebanyak 17 responden dengan presentase (20.0%), pasien yang Kadar Gula Darah nya masuk dalam kategori kurang normal (prediabetes) sebanyak 32 responden dengan presentase (37.6%) dan pasien yang Kadar Gula Darah tidak normal (Diabetes) sebanyak 36 responden dengan presentase (42.4%) responden. Kesimpulan: Ada Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II di Puskesmas Cikarang, dengan nilai p-vlue 0,019 (p0,05), maka dapat diartikan bahwa Ha ditolak yang berarti terdapat adanya hubungan antara Dukungan Keluarga dengan Kadar Gula Darah. Daftar Pustaka: 25 Jurnal (2018-2022) MEDIKA SUHERMAN UNIVERSITY
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Paparan asap rokok menghasilkan radikal bebas yang dapat memicu stres oksidatif dan menyebabkan kerusakan jaringan paru. Kulit pisang raja (Musa × paradisiaca L.) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, alkaloid, dan saponin yang berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak kulit pisang raja menjadi sediaan tablet hisap nutraseutikal, mengevaluasi mutu fisik dan tingkat penerimaan sediaan, serta mengetahui efek protektifnya terhadap histopatologi paru mencit yang dipapar asap rokok. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental in vivo dengan desain post-test only control group design. Ekstrak kulit pisang raja diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 96% dan diformulasikan menjadi tiga formula tablet hisap dengan konsentrasi ekstrak 20%, 25%, dan 30%. Evaluasi yang dilakukan meliputi uji sifat fisik tablet, uji hedonik, serta pengamatan histopatologi paru berdasarkan skor hemoragi, infiltrasi sel radang, dan penebalan septa alveoli. Data dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA yang dilanjutkan dengan Post Hoc Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit pisang raja mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin dengan rendemen sebesar 14,47%. Seluruh formula memenuhi persyaratan evaluasi sifat fisik, kecuali Formula III pada uji kekerasan. Uji hedonik menunjukkan bahwa seluruh formula dapat diterima oleh panelis dan Formula II memperoleh tingkat penerimaan terbaik. Pengamatan histopatologi menunjukkan bahwa Formula III memberikan skor kerusakan paru terendah dibandingkan kelompok perlakuan lainnya. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan bermakna antar kelompok (p=0,000), dan uji Tukey HSD menunjukkan bahwa Formula III memberikan efek protektif yang lebih baik dibandingkan Formula I serta tidak berbeda bermakna dengan kelompok kontrol positif dan kelompok normal.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Hipotensi merupakan komplikasi yang sering terjadi akibat anestesi spinal dan dapat memicu Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) melalui hipoperfusi pada Chemoreceptor Trigger Zone (CTZ). PONV merupakan komplikasi pasca operasi yang dapat memperlambat pemulihan dan meningkatkan ketidaknyamanan pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hipotensi akibat anestesi spinal dengan kejadian PONV di ruang Recovery Room Rumah Sakit Pinna Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 31 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui observasi tekanan darah dan kejadian PONV dalam 24 jam pasca operasi, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara hipotensi akibat anestesi spinal dengan kejadian PONV p-value = 0.002 (p < 0,05). Kesimpulan: Disimpulkan bahwa pasien yang mengalami hipotensi memiliki risiko lebih tinggi mengalami PONV. Diperlukan deteksi dini dan penatalaksanaan hipotensi secara optimal untuk menurunkan risiko PONV dan meningkatkan kualitas pelayanan pasca operasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Shivering merupakan komplikasi yang sering terjadi setelah tindakan anestesi spinal dan dapat meningkatkan konsumsi oksigen, beban metabolik, serta risiko gangguan hemodinamik pada pasien di ruang pemulihan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh regional anestesi subaraknoid blok terhadap terjadinya shivering pada fase pasca anestesi di ruang recovery room RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan observasional analitik dan rancangan cross-sectional. Sampel penelitian adalah pasien yang menjalani anestesi spinal dan diobservasi kejadian shivering dalam 0–30 menit pertama pasca anestesi. Hasil penelitian: menunjukkan adanya pengaruh antara regional anestesi subaraknoid blok dengan kejadian shivering pasca anestesi. Faktor usia, jenis kelamin, serta kondisi fisiologis pasien turut berkontribusi terhadap kejadian tersebut. Kesimpulan: bahwa anestesi spinal berpengaruh terhadap terjadinya shivering pada fase pemulihan. Saran: diperlukan pemantauan suhu tubuh dan manajemen pencegahan yang optimal guna meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pasien di ruang recovery room.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Hipotensi intraoperatif adalah komplikasi yang kerap terjadi pada
pasien yang menjalani anestesi spinal, yang disebabkan oleh blokade sistem
simpatis sehingga menimbulkan vasodilatasi dan penurunan tekanan arteri ratarata
(MAP).
Identifikasi
risiko
sejak
fase
preoperatif
penting
untuk
mencegah
gangguan
perfusi
organ.
DASI
merupakan
instrumen
sederhana
yang
menilai
kapasitas
fungsional
kardiopulmoner
dan berpotensi digunakan sebagai indikator risiko hemodinamik.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran DASI sebagai
prediktor risiko hipotensi intraoperatif pada pasien yang menjalani anestesi spinal
di IBS RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode: Penelitian ini
merupakan penelitian kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional.
Jumlah sampel sebanyak 36 responden yang dipilih menggunakan teknik
purposive sampling. Skor DASI diklasifikasikan ke dalam kategori rendah,
sedang, dan tinggi. Kejadian hipotensi ditetapkan berdasarkan nilai MAP <70
mmHg. Analisis bivariat dilakukan dengan uji Chi-Square pada tingkat
signifikansi 0,03. Hasil Penelitian: Sebagian besar responden termasuk dalam
kategori skor DASI rendah. Kejadian hipotensi intraoperatif ditemukan pada
22,2% responden. Hasil uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang
signifikan antara skor DASI dengan kejadian hipotensi intraoperatif dengan nilai
p = 0,03 (p < 0,05). Kesimpulan: Skor DASI berhubungan signifikan dengan
kejadian hipotensi intraoperatif pada pasien dengan anestesi spinal. Pasien dengan
skor DASI rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipotensi. Saran: DASI
dapat dimanfaatkan sebagai alat skrining preoperatif untuk mendukung
perencanaan manajemen hemodinamik pada anestesi spinal.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang: Keadaan seseorang yang mengalami kecemasan pre operasi dapat diartikan sebagai perasaan takut atau gelisah yang ditandai dengan peningkatan detak jantung, tekanan darah, pernapasan cepat, sesak dada, serta ketegangan otot. Kecemasan pre operasi yang tidak dikelola dengan baik dapat berdampak pada gangguan hemodinamik. Salah satu metode non-farmakologis yang dapat membantu mengurangi kecemasan adalah teknik relaksasi otot progresif. Teknik ini bekerja dengan mengendurkan otot-otot yang tegang secara sistematis, sehingga dapat memberikan efek menenangkan dan kenyamanan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik anestesi umum. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian Quasy eksperiment dengan desain pre and post test without control. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yang melibatkan 33 responden dengan kriteria inklusi dan eklusi yang telah ditentukan oleh peneliti. Data dianalisis menggunakan uji paired t-test. Instrumen penelitian berupa kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety And Information Scale (APAIS). Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik responden sebagian besar berusia 26 – 35 (33,3%) dengan jumlah 11 responden, jenis kelamin dengan jumlah 22 responden (66,7%) sebagian besar adalah perempuan, pengalaman pembedahan menunjukkan karakteristik responden sebagian besar belum pernah operasi sebanyak 20 responden (60,6%), dan berdasarkan tingkat kecemasan sebelum dilakukan teknik relaksasi otot progresif lebih banyak responden mengalami cemas sedang (48,5%) dengan jumlah 16 responden, sedangkan sesudah dilakukan teknik relaksasi otot progresif didapatkan hasil tingkat kecemasan responden sebagian besar menurun menjadi cemas ringan dengan jumlah 24 responden (72.7%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya penurunan tingkat kecemasan setelah dilakukan teknik relaksasi otot progresif dengan nilai p-value 0,000. Kesimpulan: Maka disimpulkan bahwa ada pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik anestesi umum di RS Amanda Cikarang Selatan.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Periode pemulihan setelah operasi dikenal sebagai waktu dengan resiko tinggi untuk terjadinya komplikasi di recovery room. Hipotermi adalah komplikasi pasca anestesi yang sering ditemukan di ruang recovery room, baik general anestesi maupun spinal anestesi. Hipotermi pasca operasi memiliki dampak signifikan pada hemodinamik, terutama terkait perubahan tekanan darah dan respons kardiovaskular pasien. Tujuan: Mengetahui hubungan kejadian hipotermi dengan nadi dan tekanan darah pasca operasi di recovery room RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan kuantitatif non exsperimental dengan metode korelasi dan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling melibatkan 50 responden. Data dianalisis menggunakan spearman rank. Instrument penelitian berupa pendekatan studi observational analytic dengan pendekatan (cross sectional). Hasil: Berdasarkan klasifikasi ASA kategori ASA II 38 orang (76%), berdasarkan lama operasi sebagian besar responden menjalankan operasi dengan durasi sedang 1-3 jam sebanyak 44 orang (88%), berdasarkan suhu ruangan kamar operasi sebagian besar responden menjalani operasi dengan suhu ruangan normal 18-24 18-24°C yaitu 36 orang (72%), berdasarkan jenis anestesi sebagian besar responden menjalani pembedahan dengan General anestesi yaitu dilakukan sebanyak 33orang (66%), berdasarkan jenis kelamin sebagian besar responden adalah berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 32 orang (64%), brdasarkan sebagian besar usia responden dewasa awal sebanyak 12 orang (24%). Pada uji statistic spearman rank diperoleh nilai Signifikansi 0.000. Kesimpulan: Ada hubungan kejadian hipotermi dengan nadi dan tekanan darah di recovery room pasca operasi RSUD Kabupaten Bekasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Tindakan pembedahan dengan spinal anestesi dapat menimbulkan ancaman tubuh, integritas serta
jiwa seseorang. Kecemasan yang dialami pasien yang direncanakan pembedahan dapat terjadi karena
kurang pengetahuan tentang prosedur pembiusan yang akan dijalani. Kecemasan yang dialami pasien
dapat memberikan efek kegelisahan dan mempengaruhi kardiovaskular yang dapat mengganggu
proses pembedahan. Kecemasan adalah suatu perasaan subyektif yang dialami seseorang terutama
oleh karena adanya pengalaman baru, termasuk pada pasien yang mengalami tindakan invasif seperti
pembedahan. Kecemasan pre operasi merupakan suatu respon antisipasi terhadap suatu pengalaman yang dapat dianggap pasien sebagai suatu ancaman terhadap perannya dalam hidup, integeritas tubuh,
atau bahkan kehidupan itu sendiri. Pendampingan layanan spiritual pada pasien pre operasi
merupakan sebuah intervensi dari layanan spiritual yang di tujukan pada pasien yang mengalami
kecemasan yang bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan emosi, pasien mampu memaknai
kondisinya, Tujuan Penelitian : Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi
pengaruh pendampingan layanan spiritual: Do'a terhadap tingkat kecemasan pasien muslim pre
operasi anestesi spinal di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode Penelitian : Desain penelitian yang
dipakai pada penelitian ini adalah kuantitatif dengan pre experimental design yang diperluas dengan
rancangan one grup pretest-posttest. Jumlah sampel 30 Responden dengan Teknik kuesioner APAIS
(Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale) dan menggunakan uji statistik Wilcoxon.
Hasil Penelitian : didapatkan P-Value 0,001 (P-Value<0,05). Sehingga hasil ini menunjukan bahwa
terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat kecemasan pasien sebelum dan sesudah pemberian
pendampingan layanan spiritual pasien muslim pre operasi. Berdasarkan hasil penelitian pengaruh
pendampingan layanan spiritual doa terhadap tingkat kecemasan pasien muslim pre operasi dengan anestesi spinal di RSUD Kabupaten Bekasi terhadap 30 responden dapat disimpulkan sebagai berikut: Karakteristik responden pre operasi yang mengalami kecemasan menurut kategori usia, lebih tinggi pada usia lansia, sedangkan menurut kategori tingkat jenis kelamin pasien yang mengalami
kecemasan lebih tinggi pada pasien laki-laki daripada perempuan. Ada perbedaan tingkat kecemasan pada pasien muslim pre operasi sebelum dan sesudah diberikan intervensi spiritual do’a. Kesimpulan: Ada pengaruh pemberian pendampingan layanan spiritual doa terhadap tingkat kecemasan pasien muslim pre operasi dengan anestesi spinal.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Anestesi spinal (subaraknoid) adalah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan
obat anestetik lokal ke dalam cairan serebrospinal di dalam ruang subaraknoid di daerah
vertebra L2-L3 atau L3-L4 dengan tujuan untuk mendapatkan anelgesi setinggi dermatom
tertentu dan relaksasi otot rangka. Hipotensi merupakan salah satu efek samping anestesia
spinal yang dilakukan pada wanita hamil dengan angka kejadian sekitar 80%. Efek
kardiovaskular akibat tindakan anestesia spinal berhubungan erat dengan level blockade
simpatis yang mencapai persarafan setinggi torakal 1 sampai lumbal 2 (T1–L2). Blokade
simpati akibat anestesia spinal menyebabkan dilatasi pembuluh darah sehingga menurunkan
resistensi pembuluh darah sistemik yang akan menyebabkan hipotensi. Tujuan Penelitian:
Untuk mengetahui pengaruh anestesi spinal terhadap kejadian hipotensi intra operasi pada pembedahan sectio caesarea di ruang maternal RSUD Kabupaten Bekasi. Metode
Penelitian: Penelitian kuantitatif menggunakan survei analitik dengan pendekatan cross
sectional dan desain penelitian eksperimen semu (Quasi Experiment Design) dengan
rancangan Separate Sample Pretest-Posttest atau One Group Pretest Posttest. Jumlah
sampel 30 responden dengan teknik pengambilan sampel non probability sampling dengan
teknik accidental sampling (convenience sampling). Uji statistik menggunakan uji Chi
Square. Hasil Penelitian: Berdasarkan tekanan darah pasien sebelum tindakan anestesi
spinal didapatkan hasil bahwa 21 responden dengan tekanan darah normal (70,0%), 9
responden mengalami hipertensi (30,0%), berdasarkan kategori usia didapatkan hasil bahwa
pasien kategori remaja akhir sebanyak 8 (26,7%), usia dewasa awal sebanyak 18 (60,0%),
dan usia dewasa akhir sebanyak 4 (13,3%), berdasarkan klasifikasi ASA didapatkan hasil
bahwa pasien kategori ASA II sebanyak 23 (76,7%) dan ASA III sebanyak 7 (23,3%).
Berdasarkan hasil uji Chi Square, diperoleh nilai probabilitas (p-value) tekanan darah
sebelum tindakan anestesi spinal (0,035), usia (0,061), ASA (0,176). Artinya pada alpha 5%
terdapat pengaruh yang bermakna antara tekanan darah sebelum tindakan anestesi spinal
dengan tekanan darah setelah tindakan anestesi spinal di ruang maternal RSUD Kabupaten
Bekasi. Kesimpulan: Ada pengaruh anestesi spinal terhadap kejadian hipotensi pada pasien
intra operasi sectio caesarea di ruang maternal RSUD Kabupaten Bekasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Pada periode post operatif sectio caesarea, tubuh pasien mengalami pemulihan dari anestesi dan paparan lingkungan dingin sehingga membuat sebagian besar pasien mengalami hipotermia. Hipotermia merupakan suatu kedaruratan medis yang muncul ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada produksi panas (suhu inti tubuh <36C) akibat respon dari induksi anestesi serta prosedur pembedahan yang harus ditangani sebagai prioritas. Pemberian blanket warmer merupakan terapi non farmakologis yang dilakukan penata anestesi di PACU untuk memberikan penghangatan dari luar tubuh guna mengurangi kehilangan panas. Tujuan: mengetahui pengaruh pemberian blanket warmer terhadap hipotermia pada pasien post operatif sectio caesarea dengan spinal anestesi di PACU RS. Sentra Medika Cikarang. Metode: penelitian kuantitatif menggunakan survei analitik dengan pendekatan cross sectional dan desain penelitian Quasi Experiment dengan rancangan One Group Pretest Posttest. Jumlah sampel 30 responden dengan teknik purposive sampling. Uji statistik menggunakan uji Chi Square dan binary logistic regressio. Hasil Penelitian: berdasarkan suhu tubuh pasien sebelum diberikan blanket warmer mangalami hipotermia kategori ringan 17 responden (56,7%), sedang 13 responden (43,3%), berdasarkan usia kategori remaja akhir 6 (20,0%), dewasa awal 14 (46,7%), dewasa akhir 10 (33,3%), berdasarkan lama operasi kategori cepat 17 (56,7%), sedang 13 (43,3%), berdasarkan klasifikasi ASA kategori ASA II 22 (73,3%), ASA III 8 (26,7%). Hasil uji chi square, p-value suhu sebelum diberikan blanket warmer (0,042), usia (0,002), lama operasi (0,003), ASA (1,000), artinya pada alpha 5% terdapat perbedaan bermakna antara suhu tubuh sebelum dan sesudah diberikan blanket warmer dipengaruhi usia dan lama operasi. Hasil akhir OR uji binary logistic regression bernilai 12,675 maka pemberian blanket warmer berpengaruh untuk mengatasi hipotermia pasien post operatif sectio caesarea setelah dikontrol oleh variabel lama operasi. Kesimpulan: ada pengaruh pemberian blanket warmer terhadap hipotermia pada pasien post operatif sectio caesarea di PACU RS Sentra Medika Cikarang.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Diabetes Mellitus (DM) atau disebut kencing manis merupakan gangguan metabolik menahun akibat prankeas tidak memproduksi cukup insulin dalam tubuh, yang dimana diabetes suatu penyakit yang tidak bisa disembuhkan tetapi dapat mengontrol kadar gula darah dalam tubuh. Dukungan keluarga mengacu pada cara anggota keluarga bertindak, merasakan, dan menerima orang yang sakit. Dukungan dapat datang dari orang lain atau orang terdekat yang menderita (orang tua, anak, pasangan, atau anggota keluarga lainnya), dimana dukungan keluarga berupa pengetahuan, perilaku tertentu, atau hal-hal yang dapat membuat orang merasa dihargai, diperhatikan, dan dicintai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya Hubungan antara Dukungan Keluarga Dengan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II di Puskesmas Cikarang.
Metodelogi: Metode jenis penelitian ini menggunakan desain pendekatan “cross sectional” Merupakan suatu penelitian yang mempelajarin kolerasi antara paparan atau faktor risiko (independent) dengan akibat atau efek (dependen), dengan Pengumpulan data dilakukan secara bersamaan.
Hasil : Hasil Dukungan Keluarga pada penderita Diabetes Mellitus Tipe II yang baik sebanyak 27 responden dengan presentase (31.8%) dan tidak baik sebanyak 58 responden
dengan presentase (68.2%) responden. Kadar Gula Darah menggunakan GDS di
Puskesmas Cikarang bahwa pasien yang gula darahnya normal sebanyak 17 responden dengan presentase (20.0%), pasien yang Kadar Gula Darah nya masuk dalam kategori kurang normal (prediabetes) sebanyak 32 responden dengan presentase (37.6%) dan pasien yang Kadar Gula Darah tidak normal (Diabetes) sebanyak 36 responden dengan presentase (42.4%) responden.
Kesimpulan: Ada Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II di Puskesmas Cikarang, dengan nilai p-vlue 0,019 (p<0,05), maka dapat diartikan bahwa Ha ditolak yang berarti terdapat adanya hubungan antara Dukungan Keluarga dengan Kadar Gula Darah.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Berdasarkan data yang diperoleh dari organisasi kesehatan dunia atau WHO, prevalensi hipertensi
secara global sebesar 22% dari total penduduk dunia. Dari sejumlah penderita tersebut hanya kurang
dari seperlima yang melakukan upaya pengendalian terhadap tekanan darah yang dimiliki. Hipertensi
juga menjadi salah satu penyakit tidak menular yang paling banyak di derita masyarakat Indonesia
(57,6%). kejadian hipertensi karena pengaruh stres dapat terjadi melalui aktivitas saraf simpatis
dimana peningkatan saraf dapat menaikkan tekanan darah secara intermiten (tidak menentu). Tujuan:
Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui hubungan tingkat stres dengan kejadian
hipertensi pada penderita hipertensi di desa Banjarsari Kabupaten Bekasi. Jenis penelitian ini adalah
deskriptif observasional dengan teknik pengambilan sampel menggunakan simple random samplingi
sebanyak 89 responden. Pengumpulan data dilaksanakan sejak Juli-Agustus 2022 dengan
menggunakan kuesioner Depression Anxiety Stress Scales (DASS 42). Analisis data dilakukan secara
univariat dan bivariate. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa adanya hubungan yang bermakna
dengan p-value 0,000 < 0,05 sehingga H0 gagal ditolak.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Prevalensi diabetes melitus di indonesia terdapat 1,017,290 orang, pada kelompok semua umur.
Sedangkan prevalensi penderita diabetes melitus berdasarkan provinsi jawa barat sebanyak 186.809
orang, pada daerah kabupaten bekasi terdiri 5.434 jiwa penderita diabetes melitus yang tertinggi ke 1
diantara kota atau kabupaten yang berada di provinsi jawa barat, Angka penderita diabetes melitus di
Puskesmas Sriamur Tambun Utara terdapat 544 jiwa. Tujuan untuk Menganalisis hubungan tingkat
pengetahuan diet dengan Self-Management pada pesien diabetes melitus di Puakesmas Sriamur
Tambun Utara. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif
dengan pendekatan cross sectional. Penelitian cross sectional merupakan jenis penelitian yang
menekankan waktu pengukuran atau observasi data variabel independen dan dependen hanya satu
kali pada suatu saat. Variabel dinilai secara simultan pada satu saat, jadi tidak ada tindak lanjut Dalam
penelitian ini peneliti menganalisis hubungan antara variabel tingkat pengetahuan diet dengan self
management pada penderita Diabetes Melitus.Hasil uji statistik nilai p value =0,000 ≤ a (0,05) yang
menunjukan bahwa ada hubungan antara Tingkat Pengetahuan Diet dengan Self Management pada
pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Sriamur Tambun Utara kabupaten Bekasi.Penelitian ini
menyimpulkan ada hubungan antara Tingkat pengetahuan diet dengan Self Management pada Pasien
Diabeteus.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Prevalensi diabetes melitus di indonesia terdapat 1,017,290 orang, pada kelompok semua umur. Sedangkan prevalensi penderita diabetes melitus berdasarkan provinsi jawa barat sebanyak 186.809 orang, pada daerah kabupaten bekasi terdiri 5.434 jiwa penderita diabetes melitus yang tertinggi ke 1 diantara kota
atau kabupaten yang berada di provinsi jawa barat, Angka penderita diabetes
melitus di Puskesmas Sriamur Tambun Utara terdapat 544 jiwa. Tujuan untuk
Menganalisis hubungan tingkat pengetahuan diet dengan SelfManagement pada pesien diabetes melitus di Puakesmas Sriamur Tambun Utara. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian cross sectional merupakan jenis penelitian
yang menekankan waktu pengukuran atau observasi data variabel independen dan dependen hanya satu kali pada suatu saat. Variabel dinilai secara simultan pada satu saat, jadi tidak ada tindak lanjut Dalam penelitian ini peneliti menganalisis hubungan antara variabel tingkat pengetahuan diet dengan self management pada penderita Diabetes Melitus.Hasil uji statistik nilai p value =0,000 ≤ α (0,05) yang menunjukan bahwa ada hubungan antara Tingkat Pengetahuan Diet dengan Self
Management pada pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Sriamur Tambun Utara kabupaten Bekasi.Penelitian ini menyimpulkan ada hubungan antara Tingkat pengetahuan diet dengan Self Management pada Pasien Diabetes Melitus.
BookOpen AccessMetadata saja
2021•Koleksi Perpustakaan