2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Masa remaja merupakan masa perkembangan yang rentan terhadap
berbagai tekanan akademik, sosial, dan emosional. Stres yang tidak dikelola dengan baik
dapat memicu munculnya perilaku agresif dan berdampak pada kesehatan mental remaja.
Salah satu faktor penting yang berperan dalam menghadapi stres dan mengendalikan
perilaku agresif adalah strategi koping yang digunakan oleh remaja. Tujuan: Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dan perilaku agresif dengan
strategi koping remaja siswa/I MTs Al-Ichlash Serang Baru. Metode: Penelitian ini
menggunakan metode kuantitatif dengan desain pendekatan cross-sectional. Populasi
dalam penelitian ini adalah siswa/i kelas IX MTs Al-Ichlash Serang Baru dengan jumlah
sampel 145 responden. Teknik sampel menggunakan probability sampling dengan jenis
simple random sampling. Instrumen penelitian yaitu PSS-10, BPAQ, serta Brief COPE.
Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian: Hasil
penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 15 tahun dan berjenis
kelamin laki-laki (53,8%). Mayoritas siswa berada pada kategori stres sedang (74,5%),
perilaku agresif sedang (89,0%), serta menggunakan strategi koping maladaptif (65,5%).
Uji korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara
tingkat stres dan strategi koping (p = 0,389; r = -0,072). Sebaliknya, terdapat hubungan
negatif yang signifikan antara perilaku agresif dan strategi koping (p = 0,000; r = -0,314)
dengan kekuatan hubungan lemah hingga sedang. Kesimpulan: Penelitian ini
menunjukkan bahwa tingkat stres tidak berhubungan signifikan dengan strategi koping
siswa/i. Sebaliknya, perilaku agresif berhubungan signifikan dengan strategi koping, yang
artinya semakin tinggi perilaku agresif maka semakin rendah penggunaan strategi koping
adaptif pada remaja.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Stunting merupakan masalah gizi yang berdampak jangka panjang terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Salah satu faktor yang berperan adalah anemia pada remaja putri sebagai calon ibu di masa depan. Oleh karena itu, diperlukan intervensi non farmakologis untuk mencegah anemia sejak remaja. Intervensi yang dapat dilakukan adalah edukasi kesehatan mengenai stunting, anemia, gizi seimbang, dan kesehatan reproduksi sebagai upaya mempersiapkan remaja putri memasuki masa kehamilan dan peran sebagai ibu, sehingga risiko stunting dapat dicegah. Selain edukasi, intervensi nonfarmakologis lainnya adalah pemberian makanan tambahan berupa HEMOPING yang kaya zat besi, dari buah naga dan daun kelor. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan menggunakan media audiovisual dan buku saku terhadap peningkatan pengetahuan, serta pengaruh pemberian HEMOPING terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMAN 1 Babelan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre-eksperimental one group pre-test post-test dan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 34 responden yang mendapatkan intervensi edukasi kesehatan dan 24 responden yang mendapatkan intervensi HEMOPING, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Sign Rank. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pengetahuan remaja putri setelah diberikan edukasi kesehatan dengan hasil signifikan (0,003 < 0,05). Intervensi HEMOPING juga menunjukkan pengaruh signifikan terhadap peningkatan kadar hemoglobin (0,000 < 0,05). Kesimpulan: Edukasi kesehatan berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan, dan pemberian HEMOPING berpengaruh terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada remaja putri anemia. Program PENERANG yang mengkombinasikan edukasi kesehatan dan pangan lokal berkontribusi dalam upaya mewujudkan Zero New Stunting pada generasi mendatang.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Anemia merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin berada di bawah nilai normal dan menjadi masalah kesehatan yang masih banyak ditemukan pada remaja putri. Kondisi ini dipengaruhi oleh kehilangan darah saat menstruasi, pola makan yang tidak seimbang, serta kebiasaan melewatkan sarapan pagi. Data Puskesmas Cikarang Utara tahun 2025 menunjukkan bahwa 114 dari 482 siswi di MAN 1 Kabupaten Bekasi mengalami anemia. Salah satu upaya nonfarmakologis yang mudah diterapkan adalah pembiasaan sarapan pagi dengan telur ayam rebus yang mengandung protein, zat besi, vitamin B12, dan asam folat yang berperan penting dalam proses pembentukan hemoglobin. Tujuan: Mengetahui pengaruh kebiasaan sarapan pagi telur ayam rebus terhadap kejadian anemia pada siswi di MAN 1 Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretest–posttest. Sampel berjumlah 64 siswi yang memenuhi kriteria inklusi. Intervensi berupa sarapan pagi telur ayam rebus diberikan selama tujuh hari berturut-turut. Pengukuran kadar hemoglobin dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan alat pemeriksaan Hb. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Universitas Medika Suherman dengan Nomor Surat NO.005220/UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN/2025. Hasil: Sebelum intervensi, 41 siswi (64,1%) berada pada kategori anemia dan 23 siswi (35,9%) tidak anemia. Setelah intervensi, jumlah siswi tidak anemia meningkat menjadi 53 orang (82,8%), sedangkan 11 siswi (17,2%) masih anemia. Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan kadar hemoglobin yang bermakna secara statistik (Z = –6,192; p = 0,000). Kesimpulan: Sarapan pagi telur ayam rebus berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kadar hemoglobin dan penurunan kejadian anemia pada siswi di MAN 1 Kabupaten Bekasi.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Anemia merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin berada di bawah batas normal dan sering dialami remaja putri akibat menstruasi, kurangnya asupan zat besi, serta pola makan tidak seimbang. Data Puskesmas Cikarang tahun 2025 menunjukkan bahwa 114 dari 482 siswi di MAN 1 Kabupaten Bekasi mengalami anemia. Upaya penanganan dapat dilakukan melalui intervensi nonfarmakologis berbasis pangan lokal. Bayam merah dan kurma mengandung zat besi, folat, dan vitamin C yang berperan dalam pembentukan hemoglobin. Tujuan: Mengetahui pengaruh konsumsi jus bayam merah dan kurma terhadap kadar hemoglobin pada siswi anemia. Metode: Penelitian menggunakan desain preeksperimental dengan pendekatan one group pretest–posttest. Sampel berjumlah 53 siswi dengan kadar hemoglobin <12 g/dL. Intervensi jus bayam merah dan kurma diberikan sekali sehari selama tujuh hari berturut-turut. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dan penelitian telah memperoleh persetujuan etik. Hasil: Sebelum intervensi seluruh responden (100%) mengalami anemia. Setelah intervensi, 47 siswi (88,7%) mencapai kategori tidak anemia dan 6 siswi (11,3%) masih anemia. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p<0,05 sehingga terdapat peningkatan kadar hemoglobin yang signifikan. Kesimpulan: Konsumsi jus bayam merah dan kurma berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada siswi anemia. Saran: Sekolah dan tenaga kesehatan diharapkan meningkatkan edukasi gizi serta mendorong konsumsi pangan kaya zat besi pada remaja putri.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Penyelenggaraan makanan lauk hewani di rumah sakit berisiko tinggi kontaminasi, sehingga memerlukan sistem preventif seperti Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan meninjau kelayakan penerapan prinsip HACCP pada alur penyelenggaraan makanan lauk hewani di Instalasi Gizi RS Sentra Medika Cibinong. Metode : Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, populasi meliputi proses dan personel instalasi gizi, dengan sampel purposive informan kunci seperti kepala instalasi dan petugas pengolahan. Instrumen mencakup pedoman observasi, wawancara semi-terstruktur, dan checklist dokumen; analisis data tematik dengan triangulasi dan NVivo. Hasil : Hasil menunjukkan kelayakan tinggi HACCP di setiap tahap (penerimaan, penyimpanan, pengolahan, penyajian, distribusi) didukung SOP, fasilitas pendingin, dan pengawasan higiene, meski ada kendala pelatihan personel. Kesimpulan : Kesimpulan menyatakan RS Sentra Medika siap implementasi HACCP untuk tingkatkan keamanan pangan pasien rentan.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Preoperatif adalah proses keperawatan untuk mengembangkan rencana asuhan secara individual dan mengkoordinasikan serta memberikan asuhan pada pasien yang mengalami pembedahan atau prosedur invasif. (AORN, 2013). Caring juga didefinisikan sebagai tindakan yang bertujuan memberikan asuhan fisik dan memperhatikan emosi sambil meningkatkan rasa aman dan keselamatan klien
.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan caring perawat dengan kecemasan pasien pre operasi di kamar bedah RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta tahun 2021, dengan desain penelitian analitik cross sectional. Populasi pada penelitian pasien pre operasi dengan jumlah sampel sebanyak 35 responden, Tehnik sampel acidental sampling, uji statistik dengan menggunakan analisis Chi Square. Hasil uji statistik menunjukan nilai p=0,02 < a=0,05 (OR= 0,154) yang berarti ada hubungan yang bermakna antara caring perawat dengan kecemasan pasien pre operasi di kamar bedah RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta tahun 2021. Kesimpulan melakukan edukasi preoperatif yang terstruktur yang bertujuan untuk menurunkan kecemasan. Saran untuk penelitian lain untuk menambahkan variabel karakteristik responden.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Peningkatan penyakit tidak menular (PTM), khususnya dislipidemia, menjadi tantangan kesehatan serius di Indonesia. Dislipidemia berkontribusi pada risiko penyakit kardiovaskular melalui akumulasi lipid dalam darah. Pengobatan konvensional umumnya menggunakan terapi farmakologis, namun pendekatan komplementer seperti akupunktur dari pengobatan tradisional Tiongkok (TCM) mulai dilirik sebagai alternatif yang efektif. Akupunktur
dipercaya dapat menyeimbangkan energi tubuh dan meningkatkan metabolisme lipid. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas terapi akupunktur terhadap penurunan kadar kolesterol darah pada pasien dislipidemia sebagai upaya pengelolaan PTM yang lebih holistik..
Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Efektivitas Terapi Akupunktur Terhadap Perubahan Kadar Kolesterol Darah Pada Penderita dislipidemia sindrom dahak dan retensi lembab.
Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain preeksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 30 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di klinik akupunktur, Kota Sidoarjo, Jawa Timur. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi Akupunktur dua kali seminggu sebanyak 6 kali dan dilakukan cek total kolesterol darah sebelum dan
setelah di lakukan terapi. Hasil: Rata-rata kadar kolesterol sebelum terapi adalah 255,50 mg/dL dan menurun menjadi 251,37 mg/dL setelah terapi, dengan rata-rata penurunan 4,13 mg/dL. Uji
Paired Sample t-Test menunjukkan p-value < 0,001, menandakan perbedaan signifikan secara statistik. Hasil ini mendukung efektivitas akupunktur dalam membantu menurunkan kadar kolesterol darah sesuai prinsip TCM. Kesimpulan: Terapi akupunktur secara teratur pada titik ST36, ST40, LI4, LI11,
SP6, CV4, CV6, CV12, LV3, dan ST25 efektif membantu menurunkan kadar kolesterol darah pada penderita dislipidemia sindrom dahak dan retensi lembab.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Diabetes Mellitus (DM) termasuk salah satu penyakit tidak menular (PTM). Diabetes Mellitus (DM) menurut American Diabetes Association adalah sutau kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Diabetes dikenal sebagai Xiāo Kĕ dalam pengobatan tradisional tiongkok. Xiāo Kĕ ditandai dengan kondisi peningkatan asupan makanan dan minuman, peningkatan diuresis, penurunan berat badan, dan urin berbau manis keruh. Kondisi ini terjadi karena kekurangan yin, pola makan tidak teratur, serta kegagalan dalam mengatur emosi dan kelelahan
Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes (xiāo kĕ) sindrom panas lambung.
Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Ndalem PUIN Daun Mas, kota Bekasi, Jawab Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi akupunktur setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek kadar gula darah sebelum dan setelah di lakukan terapi.
Hasil: jumlah responden perempuan sebanyak 15 subjek (75 %) dan laki-laki sebanyak 5 subjek (25 %). Mayoritas responden terbanyak adalah perempuan sebanyak 4 subjek (20 %) pada usia 29 tahun. Frekuensi pekerjaan responden 9 karyawan (45 %), 5 wiraswasta (25 %), 5 ibu rumah tangga (25 %), dan 1 mahasiswa (5%). Sebelum dilakukan intervensi mengalami kadar gula darah sebesar 142 mg/dl dan paling rendah sebesar 131 mg/dl dengan rata-rata sebesar 128.00 mg/dl. Setelah dilakukan intervensi mengalami kadar gula darah sebesar 121 mg/dl dan paling rendah sebesar 131 mg/dl dengan rata-rata sebesar 106.00 mg/dl.
Kesimpulan: terapi Akupunktur memberikan pengaruh terhadap kadar gula darah pada penderita diabetes (xiāo kĕ) sindrom panas lambung dengan angka penurunan kadar gula darah sebelum intervensi dengan rata-rata 135 mg/dl dan setelah intervensi rata-rata 114.75 mg/dl dengan perbedaan penurunan sebesar 20.30 mg/dl. Hasil uji Paired Sample T-Test dengan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0.000, yang jauh lebih kecil dari ambang batas 0.005. Artinya, hipotesis nol (H₀) ditolak dan hipotesis alternatif (Hₐ) diterima, menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna secara statistik antara kondisi sebelum dan sesudah intervensi.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Prevalensi hipertensi di Indonesia sangat besar yaitu sebesar 34,1% berdasarkan survei nasional di 2018 dengan perkiraan menderita hipertensi sekitar 70 juta lebih penduduk Indonesia. Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan suatu keadaan patofisiologis tubuh di mana tekanan darah suatu individu melebihi ambang normal yaitu 120 mmHg tekanan sistolik dan 80 mmHg tekanan diastolik. Hipertensi sindrom yang hati terjadi karena manisfestasi tekanan darah tinggi, sakit kepala di pelipis, mata atau sisi lateral kepala, pusing, tinnitus, tuli, tekanan darah sistolik tinggi, penglihatan kabur, mulut dan tenggorokan kering, insomnia, iritabilitas, mudah lelah, mudah emosi marah, pinggang dan lutut lemah, mudah lupa dan leher kaku. Akupunktur dipercaya dapat menurunkan tekanan darah dengan menyeimbangkan energi Yin dan Yang dalam tubuh.
Tujuan: Mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom yang hati naik.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan model one group pre-post test. Sebanyak 30 subjek penderita hipertensi dengan sindrom yang hati naik menjalani terapi akupunktur selama enam hari berturut-turut. Lokasi penelitian di Pusat Kesehatan Devine Healing, Kota Jakarta Pusar selama bulan Januari- Mei 2025.Terapi akupunktur selama 30 menit/sesi selama 6 kali terapi. Titik akupunktur yang digunakan adalah LR 3, GV 20, KI 3, SP 6, dan ST 36. Tekanan darah diukur sebelum dan sesudah terapi.
Hasil: Seluruh responden (30 orang) mengalami penurunan tekanan darah sistolik dengan rata-rata sebesar 30,53 mmHg (19.38 %), dari 157,53 mmHg menjadi 127,00 mmHg. Tekanan darah diastolik menurun rata-rata sebesar 8,5 mmHg (8.68%), dari 97,83 mmHg menjadi 89,33 mmHg. Penurunan tekanan darah sistolik lebih besar terjadi pada laki-laki (36 mmHg) dibandingkan perempuan (25,75 mmHg), sedangkan penurunan diastolik lebih tinggi pada perempuan (9,38 mmHg) dibandingkan laki-laki (7,5 mmHg). Berdasarkan usia, penurunan tekanan darah diastolik tertinggi terjadi pada kelompok usia 30–39 tahun (30 mmHg), sedangkan penurunan tekanan darah sistolik terbesar terjadi pada kelompok usia 40–49 tahun (34,11 mmHg).
Kesimpulan: ada pengaruh terapi akupunktur terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom yang hati naik. Terapi akupunktur bisa dijadikan sebagai pendekatan integratif antara ilmu pengobatan kesehatan modern dan tradisional terutama pada penatalaksanaan pengaruh terapi akupunktur terhadap hipertensi sindrom yang hati naik.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Hipertensi adalah terjadinya peningkatan tekanan darah dalam tubuh. Hipertensi termasuk penyakit tidak menular yang menjadi salah satu penyebab utama kematian prematur di dunia. Penyakit hipertensi menjadi ancaman kesehatan masyarakat karena potensinya yang mampu mengakibatkan berbagai kondisi komplikasi, diantaranya seperti stroke, penyakit jantung koroner, dan gagal ginjal. Hipertensi dalam ilmu Pengobatan Tradisional Tiongkok disebut Gāoxuěyā, pusing (Xuànyūn), sakit kepala (tóutòng) dan angin hati (gānfēng).
Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi tuina terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom retensi dahak lembab.
Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi tuina setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek tekanan darah sebelum dan setelah di lakukan terapi.
Hasil: jumlah responden laki - laki lebih tinggi (12 subjek = 60 %) dibandingkan dengan perempuan (8 subjek =40 %). Usia responden terbanyak 31, 34 dan 37 tahun (3 subjek = 15 %), usia responden terendah pada usia 30 tahun (2 subjek = 10 %). Responden terbanyak bekerja sebagai karyawan (7 subjek = 35 %), wiraswasta (5 subjek = 25 %), Ibu Rumah Tangga (5 subjek = 25 %) dan paling sedikit Guru (3 subjek = 15 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 139 mg/dl (5 subjek = 25 %) dan paling rendah sebesar 130 mg/dl (1 subjek = 5 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 89 mg/dl (2 subjek = 10%) dan paling rendah sebesar 81 mg/dl (2 subjek = 10 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 130 mg/dl (2 subjek = 10 %) dan paling rendah sebesar 120 mg/dl (1 subjek = 5 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 85 mg/dl (1 subjek = 5 %) dan paling rendah sebesar 76 mg/dl (2 subjek = 10 %). Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Paired Sample T-Test diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.000.
Kesimpulan: Terapi tuina memberikan pengaruh terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom retensi dahak lembab. Angka rata-rata tekanan darah sistolik 135.25 mmHg dan diastolik 84.75 mmHg sebelum intervensi. Angka rata-rata setelah intervensi sebesar 125.85 mmHg (sistolik) dan 80.20 mmHg (diastolik). Penurunan sistolik sebesar 9.50 mmHg (7.02%) dan diastolik 4.55 mmHg (5.36%).
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Diabetes mellitus adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah akibat gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Penyakit ini menjadi masalah kesehatan global yang signifikan, termasuk di Indonesia. Dengan meningkatnya prevalensi diabetes, penting untuk memahami faktor-faktor yang berkontribusi dan dampaknya terhadap masyarakat.
Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (xiāo kĕ) sindrom panas paru.
Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi Akupunktur setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek kadar gula darah sebelum dan setelah di lakukan terapi.
Hasil: distribusi frekuensi dari keseluruhan 20 subjek penelitian menunjukkan bahwa jumlah perempuan lebih tinggi (14 subjek = 70 %) dibandingkan dengan laki – laki (6 subjek = 30 %). Subjek penelitian terbanyak berada pada usia 38 tahun (4 subjek = 20 %), terrendah pada usia 30 tahun (1 subjek = 5 %). Subjek penelitian terbanyak adalah buruh pabrik (9 subjek = 45 %), pedagang ( 6 subjek = 30 %) dan IRT (5 subjek = 25 %). Sebelum dilakukan intervensi terdapat subjek penelitian dengan angka tertinggi sebesar 141 mg/dl (1 subjek =5 %) dan paling rendah 127 mg/dl (1 subjek = 5 %) dengan rata-rata 135.60 mg/dl. Kadar gula tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 121 mg/dl (2 subjek =10 %) dan paling rendah 110 mg/dl (2 subjek = 10 %) dengan rata-rata 110.45 mg/dl. Penurunan kadar gula tertinggi di angka 24 mg/dl sebanyak 4 subjek (20 %), sedangkan terendah diangka 19 mg/dl sebanyak 1 subjek (5 %). Hasil dari uji normalitas dengan shapiro-wilk nilai > dari 0.05 sehingga data diatas berdistribusi normal. Oleh karena itu selanjutnya dilakukan uji t-test. Hasil paired sample t-test terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil sebelum dan setelah dilakukan intervensi yaitu nilai sig. (2-tailed) 0.000 < 0.005.
Kesimpulan: Terapi Akupunktur memberikan pengaruh terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (xiāo kĕ) sindrom panas paru dengan angka rata-rata penurunan kadar gula darah sebelum intervensi sebesar 135.60 mg/dl dan setelah intervensi sebesar 110.45 mg/dl dengan perbedaan penurunan sebesar 25.15 mg/dl (18.54 %).
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Luka perineum merupakan salah satu masalah yang sering dialami ibu nifas setelah persalinan pervaginam. Luka ini terjadi akibat adanya robekan jaringan perineum atau tindakan episiotomi, yang dapat menimbulkan nyeri, perdarahan, hingga risiko infeksi bila penyembuhannya tidak optimal. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), hampir 90% persalinan normal mengalami robekan perineum, dengan insiden global sebanyak 2,7 juta kasus pada tahun 2020 dan diperkirakan meningkat menjadi 6,3 juta kasus pada tahun 2050. Di Indonesia, sekitar 75% ibu nifas mengalami luka perineum pascapersalinan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian putih telur ayam terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di TPMB Jayanti, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi Tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimen dengan pendekatan satu kelompok pretest–posttest. Sampel terdiri dari 30 ibu nifas yang dipilih menggunakan purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Instrumen penelitian berupa lembar observasi menggunakan skor REEDA (Redness, Edema, Ecchymosis, Discharge, Approximation) untuk menilai kondisi luka perineum. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan distribusi frekuensi, dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon signed-rank. Uji ini dipilih karena data bersifat berpasangan (skor REEDA sebelum dan sesudah intervensi pada responden yang sama), diukur pada skala ordinal, dan uji normalitas Shapiro–Wilk menunjukkan bahwa data tidak terdistribusi normal (p < 0,05). Oleh karena itu, uji nonparametrik Wilcoxon dianggap sebagai analisis statistik yang paling tepat untuk penelitian ini.Hasil : Hasil uji Wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara skor REEDA sebelum dan sesudah pemberian putih telur ayam, dengan nilai Z = -5,396 dan p-value = 0,000 (p < 0,05). Sebanyak 96,7% responden mengalami penyembuhan luka perineum secara normal (≤ 7 hari). Kesimpulan : Pemberian putih telur ayam secara rutin berpengaruh signifikan dalam mempercepat penyembuhan luka perineum pada ibu nifas. Putih telur dapat menjadi alternatif intervensi nutrisi yang aman dan efektif dalam perawatan pasca persalinan.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak balita di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2021, prevalensi ISPA tertinggi terjadi pada kelompok umur 1–4 tahun. Di Klinik Cahaya Medika, kasus ISPA pada bayi dan balita cukup tinggi, sehingga perlu dilakukan analisis faktor yang berhubungan.
Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada bayi dan balita di Klinik Cahaya Medika Desa Pasirgombong, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian adalah bayi dan balita yang berkunjung ke Klinik Cahaya Medika periode Januari–Desember 2025 sebanyak 300 orang. Sampel sebanyak 70 responden diambil menggunakan simple random sampling dengan rumus Slovin. Analisis data dilakukan secara statistik untuk menguji hubungan variabel independen (usia, status gizi, ASI eksklusif, imunisasi, pendidikan orang tua) dengan kejadian ISPA. Hasil: Prevalensi ISPA sebesar 72,9%. Faktor yang berhubungan signifikan dengan kejadian ISPA adalah usia anak (<12 bulan), status gizi, dan pemberian ASI eksklusif (p<0,05). Sementara itu, pendidikan orang tua dan imunisasi tidak menunjukkan hubungan yang bermakna.
Kesimpulan: Faktor dominan yang berhubungan dengan ISPA pada balita adalah usia, status gizi, dan ASI eksklusif. Upaya pencegahan melalui pemantauan gizi, edukasi orang tua, dan perbaikan pola asuh sangat diperlukan.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Program triple eliminasi merupakan upaya pemerintah untuk mencegah penularan vertikal penyakit HIV, sifilis, dan hepatitis B dari ibu hamil ke bayinya. Namun, pelaksanaan program ini masih menghadapi tantangan terutama dalam hal kepatuhan ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan. Beberapa faktor seperti usia, pengetahuan, sikap, dukungan suami, dan peran tenaga kesehatan diduga berpengaruh terhadap kepatuhan tersebut. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan ibu hamil dalam menjalani program triple eliminasi di Posyandu Desa Sukamanah tahun 2025. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif analitik melalui metode cross sectional. Sampel berjumlah 83 ibu hamil yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Sebagian besar responden memiliki usia reproduksi sehat (73,5%), pengetahuan baik (61,4%), sikap positif (60,2%), dukungan suami baik (61,4%), dan menilai peran tenaga kesehatan baik (86,7%). Kepatuhan ibu hamil terhadap pemeriksaan triple eliminasi sebesar 72,3%. Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan (p=0,001), sikap (p=0,007), dukungan suami (p=0,020), dan peran tenaga kesehatan (p=0,009) dengan kepatuhan ibu hamil. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia dengan kepatuhan (p=0,059). Kesimpulan: Faktor pengetahuan, sikap, dukungan suami, dan peran tenaga kesehatan memiliki hubungan signifikan terhadap kepatuhan ibu hamil dalam pemeriksaan triple eliminasi. Upaya peningkatan edukasi, dukungan keluarga, dan peran aktif tenaga kesehatan sangat diperlukan untuk meningkatkan cakupan program ini.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Nyeri punggung merupakan salah satu keluhan yang paling sering dialami ibu hamil, terutama pada trimester III. Perubahan postur tubuh akibat membesarnya rahim, peningkatan kadar hormon relaksin, serta bertambahnya beban kehamilan menyebabkan peregangan pada otot dan ligamen yang berujung pada rasa tidak nyaman. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan kualitas hidup, serta memengaruhi kesiapan ibu menghadapi persalinan. Upaya penanganan nyeri dapat dilakukan secara farmakologis maupun nonfarmakologis. Salah satu metode nonfarmakologis yang relatif aman, murah, mudah diterapkan, serta tanpa efek samping adalah pijat endorphin. Pijat ini merupakan teknik sentuhan lembut yang berfungsi merangsang pelepasan endorphin. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pijat endorphin terhadap nyeri punggung pada ibu hamil trimester III di TPMB X Kabupaten Bekasi tahun 2025. Metode: Penelitian menggunakan desain pra-eksperimen dengan rancangan one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 30 ibu hamil trimester III yang dipilih dengan teknik total sampling. Tingkat nyeri diukur menggunakan instrumen Visual Analog Scale (VAS) sebelum dan sesudah intervensi pijat endorphin. Analisis data dilakukan secara univariat untuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Sebelum diberikan pijat endorphin, ibu hamil tanpa nyeri sebesar 16,7%, nyeri ringan 43,3%, nyeri sedang 30,0%, dan nyeri berat 10,0%. Setelah intervensi, proporsi tanpa nyeri meningkat menjadi 60,0%, nyeri ringan 30,0%, nyeri sedang 10,0%, dan tidak ditemukan nyeri berat. Uji statistik menunjukkan nilai Z = -4,434 dengan p-value < 0,01, yang menandakan adanya perbedaan signifikan sebelum dan sesudah pijat endorphin. Kesimpulan: Pijat endorphin terbukti efektif menurunkan nyeri punggung pada ibu hamil trimester III, sehingga layak direkomendasikan sebagai salah satu metode terapi nonfarmakologis dalam pelayanan antenatal
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Kunjungan bayi dan balita ke Posyandu merupakan indikator penting dalam pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak. Namun, masih banyak balita yang tidak memperoleh layanan secara optimal akibat rendahnya tingkat kunjungan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi rendahnya kunjungan bayi dan balita ke Posyandu RW 011 Perumahan Permata Cikarang Timur tahun 2025. Subyek dan Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain analitik cross sectional yang dilaksanakan di Posyandu RW 011. Sampel berjumlah 51 responden dipilih dengan teknik purposive sampling. Variabel dependen adalah kunjungan ke Posyandu, sedangkan variabel independen meliputi pengetahuan ibu, ekonomi, pendidikan, dukungan keluarga, dan pelayanan kesehatan. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji Chi-Square serta perhitungan Odds Ratio (OR). Hasil: Sebagian besar balita (54,9%) tidak melakukan kunjungan teratur ke Posyandu. Pengetahuan ibu berhubungan signifikan dengan kunjungan ke Posyandu (OR=6,70; 95% CI=1,32–34,91; p=0,022). Namun, faktor ekonomi (p=0,620), pendidikan ibu (p=0,683), dukungan keluarga (p=0,538), dan pelayanan kesehatan (p=0,481) tidak berhubungan signifikan. Kesimpulan: Pengetahuan ibu merupakan faktor paling berpengaruh terhadap keteraturan kunjungan balita ke Posyandu
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Kecenderungan remaja untuk melakukan seks bebas meningkat dari 53,76% menjadi 72,50% menurut WHO, Berdasarkan hasil survei awal yang dilakukan terhadap 10 siswa di MTS Tarbiyatul Asaas Kabupaten Bekasi, 70% dari mereka kurang mengetahui tentang seks bebas. Sementara itu, 30% siswa lainnya berpengetahuan baik dan pernah belajar, baik dari media sosial maupun konseling sekolah, tetapi hanya sebatas hamil diluar nikah. Tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan siswa dan siswi tentang perilaku seks bebas di Mts Tarbiyatul Asaas Kabupaten Bekasi Tahun 2025. Subyek dan mtode: Populasi dan sampel dalam penelitian ini seluruh siswa dan siswi kelas VII, VIII, dan IX di MTS Tarbiyatul Asaas Kabupaten Bekasi. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling, dimana seluruh populasi dijadikan sampel meliputi 28 orang kelas VII, 22 orang kelas VIII, dan 15 orang kelas IX. Penelitian ini menggunakan metode pra-eksprimental dengan one-group pretest-posttest. Hasil analisis menggunakan Uji Wilcoxon Signed Rank nilai p-value 0,000 yang berarti adanya pengaruh signifikan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan. Diharapkan pihak sekolah dapat terus mengadakan pendidikan kesehatan secara berkala, khususnya mengenai perilaku seks bebas dengan menggunakan media cetak leaflet yang terbukti efektif meningkatkan pengetahuan siswa dan siswi, selain itu keterlibatan guru dan orang tua juga penting dalam memberikan pemahaman yang tepat kepada siswa dan siswi guna mencegah perilaku menyimpang sejak dini.