BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Body shaming didefinisikan sebagai tindakan mengejek, mengomentari, atau mengkritik bentuk, ukuran, dan penampilan fisik seseorang secara negatif. Sebanyak 62,2% perempuan di Indonesia mengungkapkan bahwa pernah mengalami body shaming setidaknya sekali dalam seumur hidup. Dalam 966 kasus di Indonesia mayoritas korban adalah perempuan sebanyak (94%), sedangkan sebagian kecil (6%) adalah laki-laki. Body shaming merupakan salah satu penyebab luka psikologis yang serius dan dalam kondisi tertentu dapat berlanjut pada perilaku yang membahayakan atau menyakiti diri secara Fisik. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan body shaming pada remaja putri kelas VIII di SMPN 5 Cikarang Selatan Tahun 2026, meliputi kepercayaan diri, media sosial, dan teman sebaya. Metode: Desain penelitian menggunakan analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penilitian ini adalah seluruh remaja putri kelas VIII yang berjumlah 180 responden. Sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus slovin dengan jumlah 137 remaja putri kelas VIII. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel probability sampling (random) yaitu dengan simple random sampling. Dengan menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi. Instrument dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Analisis penelitian yaitu univariat dan bivariat dengan menggunakan uji statistic chi square. Hasil: hasil menunjukan bahwa variabel yang berhubungan dengan tindakan body shaming pada remaja putri kelas VIII di SMPN 5 Cikarang Selatan adalah kepercayaan diri (p=0.001), media Sosial (p=0.001) dan teman sebaya (p=0.004). Dari 3 variabel yang diteliti hasilnya semua berhubungan dengan tindakan body shaming pada remaja putri kelas VIII di SMPN 5 Cikarang Selatan. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kepercayaan diri, media sosial, dan teman sebaya dengan tindakan body shaming pada remaja putri kelas VIII di SMPN 5 Cikarang Selatan Tahun 2026. Dari ketiga faktor yang diteliti, paparan media sosial merupakan faktor yang memiliki pengaruh paling besar terhadap kecenderungan melakukan tindakan body shaming.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Penggunaan media sosial yang semakin meningkat dan pola konsumsi yang kurang sesuai dapat menjadi bagian dari gaya hidup mahasiswa dan berpotensi berkaitan dengan status gizi. Mahasiswa memiliki berbagai aktivitas akademik dan sosial yang dapat memengaruhi kebiasaan penggunaan media sosial serta pola makan sehari-hari. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas penggunaan media sosial dan kualitas diet dengan status gizi pada mahasiswa Program Studi Sarjana Gizi Universitas Medika Suherman. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian terdiri dari 33 mahasiswa dan seluruh populasi dijadikan responden menggunakan teknik total sampling. Intensitas penggunaan media sosial diukur menggunakan Social Networking Time Use Scale (SONTUS), kualitas diet diperoleh melalui Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) dan dinilai menggunakan Diet Quality Index-International (DQI-I), sedangkan status gizi ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher Exact dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil: Sebanyak 18 mahasiswa (54,5%) memiliki intensitas penggunaan media sosial kategori rendah dan 15 mahasiswa (45,5%) kategori tinggi. Sebanyak 27 mahasiswa (81,8%) memiliki kualitas diet rendah dan 6 mahasiswa (18,2%) memiliki kualitas diet tinggi. Berdasarkan status gizi, 21 mahasiswa (63,6%) tergolong kurus, 5 mahasiswa (15,2%) normal, dan 7 mahasiswa (21,2%) gemuk. Hasil uji Fisher Exact menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan media sosial dengan status gizi (p = 0,540) dan antara kualitas diet dengan status gizi (p = 0,556).Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan media sosial maupun kualitas diet dengan status gizi pada mahasiswa Program Studi Sarjana Gizi Universitas Medika Suherman. Status gizi kemungkinan dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti aktivitas fisik, pola makan, pola tidur, lingkungan, dan faktor gaya hidup lainnya.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Kesehatan mental remaja merupakan kondisi penting yang menentukan
kemampuan mereka untuk menghadapi tekanan hidup, berinteraksi sosial, dan mengembangkan
potensi diri secara optimal. Remaja yang mengalami gangguan kesehatan mental cenderung
menunjukkan gejala depresi, kecemasan, dan stres, yang dapat mengganggu kehidupan sehari-hari
dan prestasi akademik. Salah satu faktor risiko yang signifikan adalah fatherless, yaitu
ketidakhadiran peran ayah secara fisik maupun emosional, yang berpotensi menurunkan rasa
percaya diri, meningkatkan kecemasan, serta memengaruhi regulasi emosi remaja. Selain itu,
kemampuan remaja dalam mengatasi tekanan dipengaruhi oleh mekanisme koping yang mereka
gunakan. Strategi koping adaptif dapat memperkuat kesehatan mental, sementara koping maladaptif
dapat memperburuk kondisi psikologis. Penggunaan media sosial yang cenderung negatif juga
berdampak pada kesehatan mental, karena dapat memicu perbandingan sosial, kecemasan, dan stres.
Di sisi lain, pengalaman bullying yang sering, baik di dunia nyata maupun melalui dunia maya,
meningkatkan risiko gangguan psikologis dan menurunkan kesejahteraan emosional remaja. Dengan
memahami faktor-faktor ini secara simultan, penelitian ini bertujuan memberikan gambaran
komprehensif tentang determinan kesehatan mental remaja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan fatherless, mekanisme koping, media sosial, dan bullying dengan kesehatan
mental remaja di SMAN X tahun 2026. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif
dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner fatherless, mekanisme koping, media sosial,
bullying dan DASS-Y yang disebarkan kepada seluruh populasi (purposive sampling) sebanyak 72
responden berusia 15–16 tahun. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi spearman karena data
tidak terdistribusi normal. Hasil: Penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara
fatherless dengan kesehatan mental (r= 0,505; p= 0,000) dengan kekuatan hubungan sedang.
Mekanisme koping memiliki hubungan paling kuat dengan kesehatan mental (r= 0,619; p= 0,000),
diikuti oleh pengalaman bullying (r= 0,551; p= 0,000) dan dampak negatif penggunaan media sosial
(r= 0,523; p= 0,000).Kesimpulan: Kondisi fatherless, mekanisme koping, penggunaan media sosial,
dan pengalaman bullying secara signifikan berhubungan dengan kesehatan mental remaja. Strategi
koping adaptif dapat menjadi faktor protektif, sedangkan ketidakhadiran ayah, paparan media sosial
negatif, dan bullying meningkatkan risiko gangguan psikologis. Temuan ini menegaskan pentingnya
dukungan keluarga, pendidikan koping yang sehat, pengawasan penggunaan media sosial, serta
pencegahan bullying untuk menjaga kesehatan mental remaja
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Kesehatan mental bukan sekadar ketiadaan gangguan psikologis, melainkan juga kemampuan individu mengenali potensi diri, mengatasi tekanan hidup, produktif, dan berkontribusi pada komunitas. Remaja putri sangat rentan terhadap gangguan mental akibat paparan media social termasuk cyberbullying, konten negatif, dan fenomena fear of missing out (FoMO). Di Indonesia, tren gangguan mental remaja meningkat bersamaan dengan intensitas penggunaan media sosial, namun studi lokal khusus di MTsN 3 Karawang masih terbatas. Tujuan: Menilai hubungan antara penggunaan media sosial dengan kesehatan mental remaja putri di MTsN 3 Karawang tahun 2025. Metode: Studi kuantitatif cross sectional dengan total sampel 85 siswi kelas VIII berusia 12–15 tahun. Data dikumpulkan melalui kuesioner pada Mei–Juni 2025. Analisis dilakukan secara deskriptif (frekuensi), chi-square, dan Odds Ratio (OR). Hasil: Instagram merupakan platform paling sering digunakan (24,7 %), disusul Facebook dan WhatsApp (masing-masing 23,5 %), TikTok (10,6 %), dan lainnya (YouTube, Telegram, LINE, Twitter/X, Pinterest) sebesar 17,6 %. Sebanyak 50,6 % responden tergolong pengguna media sosial berisiko, sementara 98,8 % menunjukkan gejala risiko gangguan kesehatan mental. Chi-square menunjukkan p = 0,042 (< 0,05), bermakna terdapat hubungan signifikan. OR sebesar 3,0 mengindikasikan remaja putri dengan penggunaan media sosial berisiko memiliki peluang tiga kali lebih tinggi mengalami gangguan mental dibanding yang tidak berisiko. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara penggunaan media sosial dengan gangguan kesehatan mental pada remaja putri MTsN 3 Karawang tahun 2025. Remaja dalam kategori berisiko memiliki peluang tiga kali lebih besar mengalami gangguan mental.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang: Remaja merupakan pengguna media sosial tertinggi. Media sosial yang sering digunakan remaja yaitu Whatsapp, Instagram dan Tiktok. Pada tahap perkembangan ini remaja ingin mencoba hal baru. Penggunaan medsos menjadi insomnia merupakan gangguan kondisi tidur yang tidak berkualitas sehingga tidur menjadi tidak lelap. Tujuan: Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan durasi penggunaan media sosial dengan kejadian insomnia pada remaja SMA di Tambun Selatam. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian ini yaitu deskriptif korelatif melalui penggunaan metode cross sectional. Populasi remaja tengah yang berusia (16-17 tahun). Sebanyak 108 remaja menjadi responden dengan teknik sampling total sampling. Instrumen yang digunakan kuesioner. Hasil: Uji statistik Pearson Chi Square dengan tingkat kemaknaan a = 0,05 atau 95%.uji statistik didapatkan nilai p = 0,000 < a = 0,05. Kesimpulan: Dari penelitian ini yaitu ada hubungan durasi penggunaan media sosial dengan kejadian insomnia pada remaja SMA di Tambun Selatan. Saran mengurangi waktu penggunaan media sosial dan mampu untuk memenejemen waktu tidur .
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa media online adalah media paling populer bagi anak muda untuk
mengakses pornografi. Dampak yang ditimbulkan dari seringnya menonton pornografi yaitu semakin banyak hormon
dopamine yang terus muncul hingga membanjiri korteks prefontal, efeknya dapat mencakup kesulitan membedakan
antara sesuatu yang benar dan yang salah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui paparan pornografi melalui media
sosial dengan perilaku seksual pada remaja tengah.
Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan rancangan cross
sectional. Populasi pada penelitian ini adalah remaja di RT 005 RW 003 Desa Sukasari Kecamatan Serang Baru sebanyak
59 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Alat ukur menggunakan kuesioner.
Analisa data yang digunakan adalah uji univariat untuk mengetahui karakteristik responden dan uji bivariat dengan uji
chi square.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 35 orang
(59,3%), usia 17 tahun sebanyak 28 orang (47,5%), dan berstatus pelajar sebanyak 35 orang (59,3%). Hasil statistik
dengan uji chi square diperoleh adanya hubungan bermakna antara paparan pornografi melalui media sosial dengan
perilaku seksual remaja (p = 0,001) dengan OR 9,159.
Disarankan kepada orangtua untuk meningkatkan komunikasi kepada anak dan untuk remaja diharapkan
menggunakan media sosial dan internet secara sehat dan bijak serta meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan
reproduksi.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Seiring perkembangan zaman teknologi diciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia.
Teknologi digital (media sosial) banyak dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam berkomunikasi
dengan orang lain namun tidak dapat dipungkiri dalam penggunaannya dapat menimbulkan
dampak terhadap kesehatan mental penggunanya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
hubungan penggunaan media sosial Tik Tok dengan kesehatan mental remaja di MAN 4
Karawang. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross
sactional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purvosive sampling, dengan populasi 133
dan didapatkan besar sampel 100 responden. Pengumpulan data dengan instrumen kuesioner. Uji
analisis univariat didapatkan distribusi frekuensi penggunaan media sosial Tik Tok yaitu kurang
aktif 46 (46%) responden, aktif 54 (54%) responden dan distribusi frekuensi kesehatan mental
yaitu kurang baik 56 (56%) responden, baik 44 (44%) responden dan uji analisis bivariat
menggunakan uji chi square didapatkan p value 0.033<0.05 yang diartikan Ha diterima.
Kesimpulan: adanya hubungan antara penggunaan media sosial Tik Tok dengan kesehatan mental
remaja di MAN 4 Karawang. Saran diharapkan dapat menjaga kesehatan mental dengan lebih
mengontrol diri atau membatasi diri dalam menggunakan media sosial terkhusus Tik Tok.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Latar Belakang : Seiring perkembangan zaman teknologi diciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia. Teknologi digital atau lebih sering disebut media sosial banyak dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam berkomunikasi dengan orang lain namun tidak dapat dipungkiri dalam penggunaannya dapat menimbulkan dampak terhadap kesehatan mental penggunanya. Tujuan : untuk meneliti tentang hubungan penggunaan media sosial Tik Tok dengan kesehatan mental remaja di MAN 4 Karawang. Metode : penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan pendekatan cross sactional. Pengumpulan data dengan kuesioner. Teknik pengambilan sampel menggunakan purvosive sampling, dengan populasi 133 dan didapatkan besar sampel 100 responden. Analisis penelitian dengan uji univariat didapatkan distribusi frekuensi penggunaan media sosial Tik Tok yaitu kurang aktif 46 responden, aktif 54 responden dan distribusi frekuensi kesehatan mental yaitu kurang baik 56 responden, baik 44 responden dan uji bivariat yaitu uji chi square untuk melihat hubungan antar variabel. Hasil : penelitian uji Chi square didapatkan p value 0.0330.05 yang diartikan H0 ditolak dan Ha diterima. Kesimpulan: adanya hubungan antara penggunaan media sosial Tik Tok dengan kesehatan mental remaja di MAN 4 Karawang. Saran : diharapkan dapat menjaga kesehatan mental dengan lebih mengontrol diri atau membatasi diri dalam menggunakan media sosial terkhusus Tik Tok.