GAMBARAN PENGETAHUAN PASANGAN USIA SUBUR TENTANG AKDR/IUD DI KLINIK UMUM TANJUNG TAHUN 2020
-
Profil penulis
67 karya publik ditemukan.
-
Kesehatan mental ibu hamil trimester III perlu diperhatikan karena perubahan fisik dan psikologis serta persiapan persalinan dapat meningkatkan kecemasan. Studi pendahuluan di Desa Banjarsari menunjukkan 6 dari 10 ibu hamil trimester III mengalami keluhan psikologis berupa kecemasan, kekhawatiran terhadap kondisi janin, dan gangguan tidur. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kesehatan mental ibu hamil trimester III di Desa Banjarsari Tahun 2026. Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional dilakukan pada 50 ibu hamil trimester III menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner tingkat pengetahuan, kondisi ekonomi, dukungan suami dan keluarga, paritas, serta status pernikahan. Kesehatan mental dioperasionalkan melalui tingkat kecemasan yang diukur menggunakan subskala Anxiety DASS-21. Analisis menggunakan uji Chi-Square dengan α = 0,05. Sebanyak 23 responden (46,0%) mengalami kecemasan kategori sedang. Terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan (p = 0,027), kondisi ekonomi (p = 0,001), dukungan suami dan keluarga (p = 0,008), paritas (p < 0,001), serta status pernikahan (p = 0,026) dengan tingkat kecemasan. Kesimpulan: Kelima faktor yang diteliti berhubungan bermakna dengan kesehatan mental ibu hamil trimester III yang dioperasionalkan melalui tingkat kecemasan di Desa Banjarsari Kab. Bekasi Tahun 2026.
Latar Belakang: Penurunan produksi hormon estrogen dan progesteron secara drastis pada masa menopause memicu keluhan fisik, urogenital, dan psikologis yang meningkatkan risiko disfungsi seksual hingga mencapai 50%–78%, sehingga berpotensi menurunkan kualitas hidup pada wanita menopause. Tujuan Penelitian: Penelitian kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan indeks fungsi seksual (Female Sexual Function Index/FSFI) pada 45 wanita menopause di Town House Taman Ayu, Kota Tangerang. Metode Penelitian: Data dikumpulkan menggunakan alat ukur antropometri, kuesioner FSFI, DASS-21, dan IPAQ, serta dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman’s Rho. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan prevalensi disfungsi seksual sangat tinggi, yaitu sebesar 82,2% (37 responden) memiliki skor FSFI ≤ 26,55, dan hanya 17,8% (8 responden) yang normal. Analisis bivariat mengidentifikasi bahwa aktivitas fisik menjadi faktor pelindung utama dengan hubungan positif yang sangat kuat terhadap fungsi seksual (r = 0,759; p = 0,000), sebaliknya, kondisi psikologis memperburuk fungsi seksual di mana kecemasan memiliki korelasi negatif terkuat (r = -0,632; p = 0,000), diikuti depresi (r = -0,505; p = 0,000), dan stres (r = -0,366; p = 0,013), sementara Indeks Massa Tubuh (IMT) tidak berpengaruh nyata terhadap skor FSFI (r = 0,147; p = 0,336). Kesimpulan: Penurunan indeks fungsi seksual pada wanita menopause berhubungan erat dengan tingginya tekanan psikologis dan rendahnya aktivitas fisik, sedangkan IMT bukan merupakan faktor penentu. Saran: Tenaga kesehatan khususnya bidan disarankan mengoptimalkan intervensi non-farmakologis berupa program aktivitas fisik rutin dan pengelolaan stres di komunitas.
Kanker serviks merupakan salah satu masalah kesehatan perempuan yang dapat dicegah melalui deteksi dini, salah satunya pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA). Rendahnya partisipasi Wanita Usia Subur (WUS) dalam pemeriksaan IVA dapat berkaitan dengan pengetahuan, sikap, motivasi, dan perilaku yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh edukasi metode Wish and Drive terhadap pengetahuan, sikap, motivasi, dan perilaku WUS dalam melakukan pemeriksaan IVA di UPTD Puskesmas Pengasinan Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan rancangan one-group pretest-posttest. Sampel sebanyak 30 WUS dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan instrumen pengetahuan, sikap, motivasi, dan lembar observasi perilaku pemeriksaan IVA. Analisis dilakukan menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test, Paired Sample t-Test, dan McNemar Test dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Sebelum intervensi, sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang (63,3%), sikap negatif (63,3%), motivasi negatif (70,0%), dan tidak melakukan pemeriksaan IVA (66,7%). Setelah intervensi, pengetahuan baik meningkat menjadi 73,3%, sikap positif menjadi 73,3%, motivasi positif menjadi 73,3%, dan responden yang melakukan pemeriksaan IVA menjadi 76,7%. Hasil uji statistik menunjukkan p-value = 0,000 (p < 0,05). Edukasi metode Wish and Drive berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan, sikap, motivasi, dan perilaku WUS dalam melakukan pemeriksaan IVA di UPTD Puskesmas Pengasinan Tahun 2026. Metode Wish and Drive dapat dipertimbangkan sebagai salah satu pendekatan edukasi dalam promosi kesehatan untuk meningkatkan partisipasi WUS dalam pemeriksaan IVA
Latar Belakang : Mual dan muntah merupakan keluhan umum pada ibu hamil trimester I akibat perubahan fisiologis selama kehamilan. Di Indonesia, sekitar 50–75% ibu hamil mengalami mual dan muntah pada trimester pertama. Kondisi berlebihan dapat mengganggu aktivitas, menurunkan asupan makanan dan cairan, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan ibu dan janin. Penatalaksanaan dapat dilakukan secara farmakologis dengan vitamin B6 (piridoksin) dan nonfarmakologis dengan aromaterapi lemon. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan penurunan mual dan muntah antara pemberian kombinasi aromaterapi lemon dan vitamin B6 dengan vitamin B6 di TPMB Diana Mardiana, S.Tr.Keb., Bdn. Tahun 2026. Metode: Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi experimental dan rancangan pretest-posttest with control group design. Sampel berjumlah 36 ibu hamil trimester I yang mengalami mual dan muntah, terdiri atas 18 responden kelompok intervensi dan 18 kelompok kontrol, dengan teknik consecutive sampling. Kelompok intervensi diberikan kombinasi aromaterapi lemon dan vitamin B6, sedangkan kelompok kontrol diberikan vitamin B6. Tingkat mual dan muntah diukur menggunakan Pregnancy-Unique Quantification of Emesis and Nausea (PUQE). Analisis data menggunakan Paired Sample T-Test, Wilcoxon Signed Rank Test, dan Mann-Whitney U Test dengan α = 0,05. Hasil: Penelitian menunjukkan rata-rata skor mual dan muntah kelompok intervensi menurun dari 11,28 menjadi 4,94, sedangkan kelompok kontrol dari 11,17 menjadi 8,00. Uji Paired Sample T-Test pada kelompok intervensi dan Wilcoxon Signed Rank Test pada kelompok kontrol masing-masing memperoleh p = 0,000. Uji Mann-Whitney U Test memperoleh p = 0,000 (p < 0,05), menunjukkan terdapat perbedaan penurunan mual dan muntah antara kedua kelompok. Kesimpulan: Kombinasi aromaterapi lemon dan vitamin B6 lebih efektif dibandingkan vitamin B6 saja. Saran: Diharapkan bagi bidan mempertimbangkan aromaterapi lemon sebagai terapi nonfarmakologis pendamping dalam asuhan kebidanan ibu hamil trimester I.
Latar Belakang: Body shaming didefinisikan sebagai tindakan mengejek, mengomentari, atau mengkritik bentuk, ukuran, dan penampilan fisik seseorang secara negatif. Sebanyak 62,2% perempuan di Indonesia mengungkapkan bahwa pernah mengalami body shaming setidaknya sekali dalam seumur hidup. Dalam 966 kasus di Indonesia mayoritas korban adalah perempuan sebanyak (94%), sedangkan sebagian kecil (6%) adalah laki-laki. Body shaming merupakan salah satu penyebab luka psikologis yang serius dan dalam kondisi tertentu dapat berlanjut pada perilaku yang membahayakan atau menyakiti diri secara Fisik. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan body shaming pada remaja putri kelas VIII di SMPN 5 Cikarang Selatan Tahun 2026, meliputi kepercayaan diri, media sosial, dan teman sebaya. Metode: Desain penelitian menggunakan analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penilitian ini adalah seluruh remaja putri kelas VIII yang berjumlah 180 responden. Sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus slovin dengan jumlah 137 remaja putri kelas VIII. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel probability sampling (random) yaitu dengan simple random sampling. Dengan menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi. Instrument dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Analisis penelitian yaitu univariat dan bivariat dengan menggunakan uji statistic chi square. Hasil: hasil menunjukan bahwa variabel yang berhubungan dengan tindakan body shaming pada remaja putri kelas VIII di SMPN 5 Cikarang Selatan adalah kepercayaan diri (p=0.001), media Sosial (p=0.001) dan teman sebaya (p=0.004). Dari 3 variabel yang diteliti hasilnya semua berhubungan dengan tindakan body shaming pada remaja putri kelas VIII di SMPN 5 Cikarang Selatan. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kepercayaan diri, media sosial, dan teman sebaya dengan tindakan body shaming pada remaja putri kelas VIII di SMPN 5 Cikarang Selatan Tahun 2026. Dari ketiga faktor yang diteliti, paparan media sosial merupakan faktor yang memiliki pengaruh paling besar terhadap kecenderungan melakukan tindakan body shaming.
Pruritus vulvae merupakan gangguan pada organ genital eksternal perempuan yang sering dialami remaja putri akibat kurangnya perilaku genital hygiene. Salah satu upaya untuk meningkatkan perilaku tersebut adalah melalui pendidikan kesehatan menggunakan permainan flash card, karena media ini bersifat visual, interaktif, dan mampu meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh permainan flash card terhadap perilaku genital hygiene dalam mencegah pruritus vulvae pada remaja putri di SMP Negeri 5 Cikarang Timur Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi experimental melalui pendekatan One Group Pretest–Posttest Design. Populasi penelitian berjumlah 146 siswi kelas VII dan VIII, dengan sampel sebanyak 107 responden yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner perilaku genital hygiene. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test. Sebelum diberikan intervensi, sebagian besar responden memiliki perilaku genital hygiene kategori baik sebanyak 88 responden (82,2%), kategori cukup 9 responden (8,4%), dan kategori kurang 10 responden (9,3%). Setelah diberikan permainan flash card, jumlah responden dengan kategori baik meningkat menjadi 101 responden (94,4%), sedangkan kategori cukup menjadi 6 responden (5,6%) dan tidak terdapat responden dengan kategori kurang. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai Z = -4,971 dengan p = 0,000 (p < 0,05). Permainan flash card berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan perilaku genital hygiene dalam mencegah pruritus vulvae pada remaja putri di SMP Negeri 5 Cikarang Timur Tahun 2026. Permainan flash card dapat dijadikan media pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah untuk meningkatkan perilaku genital hygiene remaja putri secara berkelanjutan.
Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan kesiapan ibu hamil dan keluarga menghadapi persalinan serta mencegah komplikasi. Keberhasilan pelaksanaan Program P4K dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) pada ibu hamil trimester II dan III di Desa Kertarahayu Tahun 2026. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 59 ibu hamil trimester II dan III yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara penghasilan (p=0,004), pengetahuan (p<0,001), dan pengambilan keputusan (p=0,016) dengan pelaksanaan Program P4K. Sementara itu, usia (p=0,811), pendidikan (p=0,531), paritas (p=0,355), dan kepemilikan BPJS (p=0,355) tidak berhubungan dengan pelaksanaan Program P4K. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penghasilan, pengetahuan, dan pengambilan keputusan merupakan faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan Program P4K pada ibu hamil trimester II dan III di Desa Kertarahayu Tahun 2026.
Perimenopause merupakan fase transisi menuju menopause yang ditandai oleh perubahan hormonal yang dapat memicu sindrom psikosomatik dan berdampak pada kualitas hidup perempuan. Aktivitas fisik dan indeks massa tubuh (IMT) diduga berperan dalam memengaruhi kualitas hidup selama masa perimenopause. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan aktivitas fisik dan IMT terhadap kualitas hidup perempuan yang mengalami sindrom psikosomatik perimenopause di Kampung Rawasentul Tahun 2026. Penelitian menggunakan desain kuantitatif komparatif dengan pendekatan case-control. Sampel terdiri atas 66 responden, yaitu 33 kelompok kasus dan 33 kelompok kontrol yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner International Physical Activity Questionnaire-Short Form (IPAQ-SF), World Health Organization Quality of Life-BREF (WHOQOL-BREF), Menopause Rating Scale (MRS), serta pengukuran IMT. Analisis data dilakukan menggunakan uji One Way ANOVA, Kruskal–Wallis, dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan kualitas hidup berdasarkan kategori aktivitas fisik maupun IMT pada seluruh domain kualitas hidup (p>0,05). Namun, pada kelompok kasus aktivitas fisik dan IMT secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kualitas hidup domain fisik dan psikologis, sedangkan pada kelompok kontrol tidak ditemukan pengaruh signifikan pada seluruh domain kualitas hidup. Disimpulkan bahwa aktivitas fisik dan IMT tidak menunjukkan perbedaan kualitas hidup berdasarkan kategorinya, tetapi secara simultan berpengaruh terhadap kualitas hidup domain fisik dan psikologis pada perempuan yang mengalami sindrom psikosomatik perimenopause. Perempuan disarankan melakukan aktivitas fisik intensitas ringan hingga sedang, seperti berjalan kaki atau senam ringan, selama sekitar 30 menit, 3–5 kali per minggu, secara rutin dan bertahap sesuai kemampuan dan mempertahankan IMT normal dengan menerapkan pola makan bergizi seimbang untuk membantu menjaga kualitas hidup.
Latar Belakang: Insomnia kronis merupakan gangguan tidur yang ditandai dengan kesulitan memulai tidur, mempertahankan tidur, atau bangun terlalu dini yang berlangsung minimal tiga kali dalam seminggu selama lebih dari tiga bulan. Prevalensi insomnia kronis terus meningkat secara global, termasuk di Indonesia, dan berdampak pada kualitas hidup, produktivitas, serta kesehatan fisik dan mental. Pengobatan farmakologis sering menimbulkan efek samping dan ketergantungan, sehingga diperlukan terapi nonfarmakologis yang aman dan efektif. Teknik Tuina dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok pada titik Shenmen (HT7) dan Baihui (GV20) dipercaya dapat menenangkan Shen, melancarkan sirkulasi Qi dan darah, serta meningkatkan kualitas tidur. Tujuan: Mengetahui efektivitas teknik Tuina pada titik Shenmen (HT7) dan Baihui (GV20) terhadap peningkatan kualitas tidur pasien insomnia kronis di Griya Sehat Rauhiyyah. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Sampel penelitian berjumlah 30 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Intervensi berupa teknik Tuina pada titik Shenmen (HT7) dan Baihui (GV20) yang diberikan sebanyak 8 sesi selama 4 minggu dengan frekuensi 2 kali per minggu. Kualitas tidur diukur menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) intervensi. Analisis data menggunakan uji Paired Sample t-test setelah data dinyatakan berdistribusi normal melalui uji Shapiro-Wilk. Hasil: Rata-rata skor PSQI sebelum intervensi adalah 9,17 ± 2,08 dan setelah intervensi menurun menjadi 7,50 ± 1,58. Seluruh 30 responden mengalami penurunan skor PSQI dengan rata-rata penurunan sebesar 1,67 poin. Hasil uji Paired Sample t-test menunjukkan nilai t = 11,378 dengan derajat kebebasan (df) = 29 dan nilai signifikansi p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara skor PSQI sebelum dan sesudah terapi Tuina. Kesimpulan: Teknik Tuina pada titik Shenmen (HT7) dan Baihui (GV20) efektif dalam meningkatkan kualitas tidur pasien insomnia kronis di Griya Sehat Rauhiyyah. Terapi ini dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif terapi nonfarmakologis yang aman dan berbasis bukti dalam penatalaksanaan insomnia kronis.
Latar Belakang: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak balita di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2021, prevalensi ISPA tertinggi terjadi pada kelompok umur 1–4 tahun. Di Klinik Cahaya Medika, kasus ISPA pada bayi dan balita cukup tinggi, sehingga perlu dilakukan analisis faktor yang berhubungan. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada bayi dan balita di Klinik Cahaya Medika Desa Pasirgombong, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian adalah bayi dan balita yang berkunjung ke Klinik Cahaya Medika periode Januari–Desember 2025 sebanyak 300 orang. Sampel sebanyak 70 responden diambil menggunakan simple random sampling dengan rumus Slovin. Analisis data dilakukan secara statistik untuk menguji hubungan variabel independen (usia, status gizi, ASI eksklusif, imunisasi, pendidikan orang tua) dengan kejadian ISPA. Hasil: Prevalensi ISPA sebesar 72,9%. Faktor yang berhubungan signifikan dengan kejadian ISPA adalah usia anak (<12 bulan), status gizi, dan pemberian ASI eksklusif (p<0,05). Sementara itu, pendidikan orang tua dan imunisasi tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Kesimpulan: Faktor dominan yang berhubungan dengan ISPA pada balita adalah usia, status gizi, dan ASI eksklusif. Upaya pencegahan melalui pemantauan gizi, edukasi orang tua, dan perbaikan pola asuh sangat diperlukan.
Latar Belakang: Program triple eliminasi merupakan upaya pemerintah untuk mencegah penularan vertikal penyakit HIV, sifilis, dan hepatitis B dari ibu hamil ke bayinya. Namun, pelaksanaan program ini masih menghadapi tantangan terutama dalam hal kepatuhan ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan. Beberapa faktor seperti usia, pengetahuan, sikap, dukungan suami, dan peran tenaga kesehatan diduga berpengaruh terhadap kepatuhan tersebut. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan ibu hamil dalam menjalani program triple eliminasi di Posyandu Desa Sukamanah tahun 2025. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif analitik melalui metode cross sectional. Sampel berjumlah 83 ibu hamil yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Sebagian besar responden memiliki usia reproduksi sehat (73,5%), pengetahuan baik (61,4%), sikap positif (60,2%), dukungan suami baik (61,4%), dan menilai peran tenaga kesehatan baik (86,7%). Kepatuhan ibu hamil terhadap pemeriksaan triple eliminasi sebesar 72,3%. Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan (p=0,001), sikap (p=0,007), dukungan suami (p=0,020), dan peran tenaga kesehatan (p=0,009) dengan kepatuhan ibu hamil. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia dengan kepatuhan (p=0,059). Kesimpulan: Faktor pengetahuan, sikap, dukungan suami, dan peran tenaga kesehatan memiliki hubungan signifikan terhadap kepatuhan ibu hamil dalam pemeriksaan triple eliminasi. Upaya peningkatan edukasi, dukungan keluarga, dan peran aktif tenaga kesehatan sangat diperlukan untuk meningkatkan cakupan program ini.
Latar Belakang: Nyeri punggung merupakan salah satu keluhan yang paling sering dialami ibu hamil, terutama pada trimester III. Perubahan postur tubuh akibat membesarnya rahim, peningkatan kadar hormon relaksin, serta bertambahnya beban kehamilan menyebabkan peregangan pada otot dan ligamen yang berujung pada rasa tidak nyaman. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan kualitas hidup, serta memengaruhi kesiapan ibu menghadapi persalinan. Upaya penanganan nyeri dapat dilakukan secara farmakologis maupun nonfarmakologis. Salah satu metode nonfarmakologis yang relatif aman, murah, mudah diterapkan, serta tanpa efek samping adalah pijat endorphin. Pijat ini merupakan teknik sentuhan lembut yang berfungsi merangsang pelepasan endorphin. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pijat endorphin terhadap nyeri punggung pada ibu hamil trimester III di TPMB X Kabupaten Bekasi tahun 2025. Metode: Penelitian menggunakan desain pra-eksperimen dengan rancangan one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 30 ibu hamil trimester III yang dipilih dengan teknik total sampling. Tingkat nyeri diukur menggunakan instrumen Visual Analog Scale (VAS) sebelum dan sesudah intervensi pijat endorphin. Analisis data dilakukan secara univariat untuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Sebelum diberikan pijat endorphin, ibu hamil tanpa nyeri sebesar 16,7%, nyeri ringan 43,3%, nyeri sedang 30,0%, dan nyeri berat 10,0%. Setelah intervensi, proporsi tanpa nyeri meningkat menjadi 60,0%, nyeri ringan 30,0%, nyeri sedang 10,0%, dan tidak ditemukan nyeri berat. Uji statistik menunjukkan nilai Z = -4,434 dengan p-value < 0,01, yang menandakan adanya perbedaan signifikan sebelum dan sesudah pijat endorphin. Kesimpulan: Pijat endorphin terbukti efektif menurunkan nyeri punggung pada ibu hamil trimester III, sehingga layak direkomendasikan sebagai salah satu metode terapi nonfarmakologis dalam pelayanan antenatal
Latar Belakang: Kunjungan bayi dan balita ke Posyandu merupakan indikator penting dalam pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak. Namun, masih banyak balita yang tidak memperoleh layanan secara optimal akibat rendahnya tingkat kunjungan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi rendahnya kunjungan bayi dan balita ke Posyandu RW 011 Perumahan Permata Cikarang Timur tahun 2025. Subyek dan Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain analitik cross sectional yang dilaksanakan di Posyandu RW 011. Sampel berjumlah 51 responden dipilih dengan teknik purposive sampling. Variabel dependen adalah kunjungan ke Posyandu, sedangkan variabel independen meliputi pengetahuan ibu, ekonomi, pendidikan, dukungan keluarga, dan pelayanan kesehatan. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji Chi-Square serta perhitungan Odds Ratio (OR). Hasil: Sebagian besar balita (54,9%) tidak melakukan kunjungan teratur ke Posyandu. Pengetahuan ibu berhubungan signifikan dengan kunjungan ke Posyandu (OR=6,70; 95% CI=1,32–34,91; p=0,022). Namun, faktor ekonomi (p=0,620), pendidikan ibu (p=0,683), dukungan keluarga (p=0,538), dan pelayanan kesehatan (p=0,481) tidak berhubungan signifikan. Kesimpulan: Pengetahuan ibu merupakan faktor paling berpengaruh terhadap keteraturan kunjungan balita ke Posyandu
Latar Belakang: Persalinan prematur merupakan persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu, termasuk salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas neonatal di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Pada bulan Januari sampai bulan Desember 2024 angka kejadian kelahiran prematur di RS Sentra Medika Cikarang sebanyak 100 kasus yang di akibatkan ketuban pecah dini (KPD), Preeklamsi/Eklamsi, usia lebih dari 40 tahun, paritas, kurangnya pengetahuan tentang komplikasi dalam kehamilan. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan prematur di RS Sentra Medika Cikarang Tahun 2024. Metode penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif analitik melalui metode cross sectional. Sampel berjumlah 318 ibu hamil yang dipilih menggunakan teknik sampling random sampling. Instrumen penelitian berupa data sekunder. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Terdapat hubungan signifikan antara paritas (p=0,036), pendidikan (p= 0,003), usia (p=0,037), KPD (p=0,014), preeklamsi/eklamsi (p=0,041). Kesimpulan: Faktor paritas, pendidikan, usia, ketuban pecah dini, preeklamsi/eklamsi memiliki hubungan signifikan terhadap persalinan prematur. Upaya untuk meningkatan wawasan tentang faktor yang mempengaruhi persalinan prematur khususnya faktor dari ibu, meningkatan edukasi pemeriksaan hamil rutin, dukungan keluarga dan peran aktif tenaga kesehatan sangat diperlukan untuk mencegah persalinan prematur.
Latar Belakang: Pernikahan dini masih menjadi masalah kesehatan dan sosial di Indonesia, terutama pada remaja putri yang belum siap secara fisik, mental, dan sosial. Salah satu faktor penyebab adalah kurangnya pengetahuan dan akses informasi yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media audiovisual dengan pendekatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) terhadap minat pernikahan dini pada remaja putri di Desa Mulyajaya tahun 2025. Subjek dan Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan rancangan pretest-posttest one group. Populasi penelitian adalah seluruh remaja putri usia 15–18 tahun di Desa Mulyajaya (n=44), dengan sampel sebanyak 31 responden yang dipilih menggunakan purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner skala Likert yang diberikan sebelum dan sesudah intervensi media audiovisual berbasis KIE. Analisis data menggunakan uji Paired T Test. Hasil: Mayoritas responden berusia 13–15 tahun (58,1%) dan berpendidikan SMA (67,7%). Rata-rata skor minat pernikahan dini menurun dari 136,1 sebelum intervensi menjadi 89,5 sesudah intervensi. Paired T Test menunjukkan hasil signifikan (Z = -4,876; p < 0,001). Kesimpulan: Media audiovisual berbasis KIE efektif menurunkan minat pernikahan dini pada remaja putri di Desa Mulyajaya.
Pengetahuan diperoleh melalui proses kognitif dan berperan penting dalam membentuk perilaku terkait kebersihan diri, termasuk saat menstruasi. Remaja putri perlu memahaminya sejak dini sebagai langkah persiapan. Kurangnya pengetahuan dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan reproduksi seperti infeksi saluran kemih dan keputihan. Edukasi menggunakan media yang menarik seperti video dapat membantu meningkatkan pemahaman tentang pentingnya kebersihan menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi personal hygiene menggunakan media video terhadap peningkatan pengetahuan kebersihan menstruasi pada remaja putri di SMP Negeri 1 Muaragembong, Kabupaten Bekasi, tahun 2025. Jenis penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan rancangan one group pretest-posttest design. Sampel terdiri dari 76 remaja putri yang diambil dengan teknik total sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah edukasi personal hygiene menggunakan media video, sedangkan variabel dependen adalah pengetahuan kebersihan menstruasi. Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan. Data dianalisis menggunakan Uji Wilcoxon Signed Ranks Test. Sebelum intervensi edukasi, sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan rendah (75%). Setelah intervensi, tingkat pengetahuan meningkat ke kategori “baik” (84,2%). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai signifikansi p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan edukasi personal hygiene menggunakan video terhadap peningkatan pengetahuan kebersihan menstruasi. Kesimpulan: Edukasi personal hygiene melalui media video secara signifikan meningkatkan pengetahuan kebersihan menstruasi pada remaja putri. Media video dapat digunakan sebagai metode alternatif edukasi kesehatan reproduksi di sekolah, idealnya sebelum remaja mengalami menarce. Sekolah diharapkan rutin memberikan edukasi kesehatan reproduksi, khususnya kebersihan menstruasi, melalui kurikulum, kegiatan ekstrakurikuler, atau kerja sama dengan tenaga kesehatan. Remaja putri juga didorong untuk lebih proaktif mencari informasi serta menerapkan kebersihan menstruasi sejak sebelum menarke guna mencegah infeksi. Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan lebih banyak sekolah, menambahkan kelompok kontrol, serta menilai aspek pengetahuan, sikap, perilaku, dan retensi jangka panjang.