Abstrak
Latar Belakang: Penurunan produksi hormon estrogen dan progesteron secara drastis pada masa menopause memicu keluhan fisik, urogenital, dan psikologis yang meningkatkan risiko disfungsi seksual hingga mencapai 50%–78%, sehingga berpotensi menurunkan kualitas hidup pada wanita menopause. Tujuan Penelitian: Penelitian kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan indeks fungsi seksual (Female Sexual Function Index/FSFI) pada 45 wanita menopause di Town House Taman Ayu, Kota Tangerang. Metode Penelitian: Data dikumpulkan menggunakan alat ukur antropometri, kuesioner FSFI, DASS-21, dan IPAQ, serta dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman’s Rho. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan prevalensi disfungsi seksual sangat tinggi, yaitu sebesar 82,2% (37 responden) memiliki skor FSFI ≤ 26,55, dan hanya 17,8% (8 responden) yang normal. Analisis bivariat mengidentifikasi bahwa aktivitas fisik menjadi faktor pelindung utama dengan hubungan positif yang sangat kuat terhadap fungsi seksual (r = 0,759; p = 0,000), sebaliknya, kondisi psikologis memperburuk fungsi seksual di mana kecemasan memiliki korelasi negatif terkuat (r = -0,632; p = 0,000), diikuti depresi (r = -0,505; p = 0,000), dan stres (r = -0,366; p = 0,013), sementara Indeks Massa Tubuh (IMT) tidak berpengaruh nyata terhadap skor FSFI (r = 0,147; p = 0,336). Kesimpulan: Penurunan indeks fungsi seksual pada wanita menopause berhubungan erat dengan tingginya tekanan psikologis dan rendahnya aktivitas fisik, sedangkan IMT bukan merupakan faktor penentu. Saran: Tenaga kesehatan khususnya bidan disarankan mengoptimalkan intervensi non-farmakologis berupa program aktivitas fisik rutin dan pengelolaan stres di komunitas.