Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

DO

277 karya publik ditemukan.

2026: 182025: 152024: 302023: 1112022: 112021: 612020: 202019: 10

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Gangguan Jiwa di RT/RW 002/04 Desa Sukarahayu Kecamata Tambelang Kabupaten Bekasi Tahun 2019

2020 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Gangguan jiwa merupakan seseorang yang mengalami gangguan pada fungsi mental yang meliputi emosi, pikiran perilaku, perasaan, motivasi, kemauan, keinginan dan persepsi sehingga menggangu dalam proses hidup di masyarakat (Nasir & Muhith, 2011). Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya gangguan jiwa belum diketahui secara pasti akan tetapi faktor yang diduga sebagai penyebab gangguan jiwa yaitu faktor somatik, faktor psikososial, dan faktor sosio-kultural (Direja, 2011). Gangguan jiwa dapat mempengaruhi fungsi kehidupan seseorang. Aktivitas, kehidupan sosial, ritme pekerjaan, serta hubungan dengan keluarga jadi terganggu karena gejala ansietas, depresi, dan psikosis. Seseorang dengan gangguan jiwa apapun harus segera mendapatkan pengobatan. Keterlambatan pengobatan akan semakin merugikan penderita, keluarga dan masyarakat (Yosep, 2011). Berdasarkan hasil studi pendahuluan data dari Humas Puskesmas kecamatan Tambelang terdapat 7 penderita gangguan jiwa di desa Sukarahayu kecamatan Tambelang kabupaten Bekasi tahun 2019. Hasil survey dan wawancara singkat yang dilakukan terhadap 20 orang warga yang tinggal di wilayah RT/RW 002/04 desa Sukarahayu kecamatan Tambelang kabupaten Bekasi tahun 2019 tentang pengetahuan gangguan jiwa diperoleh hasil 15 dari 20 orang warga, tidak mampu menjawab dengan tepat tentang pengertian gangguan jiwa, penyebab gangguan jiwa serta tanda gejala dari gangguan jiwa. Dimana dari 15 warga menjawab penderita gangguan jiwa adalah orang gila yang harus di hindari karena mereka berbahaya bagi orang lain dan bisa mengamuk kapan saja, Penyebab dari gangguan jiwa itu oleh guna-guna dan dari roh-orh jahat sebaiknya di kurung di dalam rumah, serta tanda gejala dari gangguan jiwa itu orang yang sering berteriak-triak sendiri, melamun dan berdiam diri, menangis dan berbicara sendiri. 5 orang warga mengatakan penderita gangguan jiwa merupakan kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak normal, baik yang berhubungan dengan fisik, maupun dengan mental, penyebab gangguan jiwa itu beban hidup yang berat maka menekan pikiran menjadi (depresi), dengan tanda gejala rasa putus asa, murung, gelisah dan cemas. Tujuan : Tujuan oenilitian ini diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat Pengetahuan masyarakat tentang gangguan jiwa di RT/RW 002/004 desa Sukarahayu kecamatan Tambelang kabupaten Bekasi Tahun 2019. Metode : Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan rancangan penelitian Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal di RT/RW 00/04 desa Sukarahayu kecamatan Tambelang kabupaten Bekasi yaitu sebanyak 385 warga. Sampel dalam penelitian adalah 80 responden dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah nonprobability sampling dengan teknik purposive sampling yaitu teknik penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti, sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya (Nursalam, 2003). Instrument yang digunakan dalam pengambilan data adalah kuesioner dan data sekunder. Analisa data yang digunakan adalah analisa univariat dan bivariat berupa uji chi-square dengan nilai signifikan α < 0,05. Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua faktor yang diteliti terdapat hubungan secara bermakna dengan tingkat pengaetahuan masyarakat di di RT/RW 002/004 desa Sukarahayu kecamatan Tambelang kabupaten Bekasi Tahun 2019. Variabel yang berhubungan adalah pendidikan (P value 0,016 < 0,05), pekerjaan (P value 0,047 < 0,05), umur (P value 0,028 < 0,05), lingkungan (P value 0,045 < 0,05), dan sosial budaya (P value 0,024 < 0,05). Kesimpulan : Ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan pendidikan, pekerjaan, umur, lingkungan, dan sosial budaya pada masyarakat di RT/RW 00/04 desa Sukarahayu kecamatan Tambelang kabupaten Bekasi 2019. Saran : Diharapkan bagi masyarakat terutama khususnya warga masyarakat yang di sekirat tempat tinggalnya terdapat penderita gangguan jiwa untuk lebih meningkatkan pengetahuan tentang gangguan jiwa misalnya mengikuti penyuluhan tentang gangguan jiwa, mencari informasi tentang ganguan jiwa melalui media masa (televisi, buku, koran dan majalah) atau mendiskusikannya dengan tenaga kesehatan setempat.

Pengaruh Pembelian Jus Buah Belimbing dan Madu Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi di RT09 RW02 Desa Sindangsari Kecamatan Cabangbungin Bekasi Tahun 2019

2020 · Book · Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Hipertensi adalah keadaan dimana tekanan darah mengalami peningkatan melebihi batas normal. Menurut WHO (2009, dalam Triyanto, 2014). Hipertensi adalah salah satu penyebab utama kematian dini diseluruh dunia. Di tahun 2020 sekitar 1,56 miliar orang dewasa akan hidup dengan hipertensi. Dari hasil survei kasus Hipertensi di Puskesmas Cabangbungin Kabupaten Bekasi pada urutan ke tiga dari sepuluh penyakit terbesar pada tahun 2018. Dari data diperoleh bahwa yang datang ke kepuskesmas pada tahun 2018 penderita hipertensi pada jumlah penduduk usia >18 tahun berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah di puskesmas Cabangbungin sebanyak 499. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di Rt 09 Rw 02 Desa Sindangsari Kecamatan Cabangbungin Kabupaten Bekasi Tahun 2019 mengatakan penduduk usia >18 tahun yang menderita hipertensi sebanyak 56 orang. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Pemberian Jus Buah Belimbing dan Madu Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi di Rt 09 RW 02 Desa Sindangsari Kecamatan Cabangbungin Bekasi tahun 2019”. 1 Metode : Jenis Penelitian ini menggunakan quasi eksperimental design dengan rancangan one group pre test post test. Sampel penelitian ini sebanyak 15 responden. Uji statistic yang digunakan yaitu uji T-test (paired sample). Teknik Paired t-Test digunakan untuk melihat pengaruh pemberian jus buah belimbing dan madu terhadap penurunan tekanan darah sebelum dilakukan tindakan (Pre - test) dan mengukur tekanan darah sesudah dilakukan tindakan (Post - test), maka teknik analisa bivariat yang digunakan adalah dengan uji Paired t-Test untuk mengetahui perubahan tekanan darah sesudah diberikan jus buah belimbing dan madu. Hasil ; Berdasarkan data yang diperoleh, hasil penelitian bahwa rata-rata proses penurunan tekanan darah pada pasien penderita hipertensi yang mengkonsumsi jus buah belimbing dan madu 142,67. Hasil uji statistik dengan uji beda dua mean dependent (paired sample T test) diperoleh P value =0,002 dengan nilai α = < α 0,05. Kesimpulan : Kesimpulan dari penelitian ini bahwa adanya perbedaan rata-rata tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum mengkonsumsi jus buah belimbing dan madu, dan setelah mengkonsumsi jus buah belimbing dan madu di RT 09 RW 02 Desa Setialaksana Kecamatan Cabangbungin Kabupaten Bekasi tahun 2019. Saran : Dengan hasil penelitian ini penderita hipertensi agar lebih meningkatkan pengetahuan tentang obat tradisional untuk mempercepat proses penurunan tekanan darah tinggi sebagai tindakan tambahan selain mengkonsumsi obat-obatan.

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Preeklamsia Pada Ibu Hamil di RSUD Kabupaten Bekasi Tahun 2018

2020 · Book · Koleksi Perpustakaan

Indikator yang umum digunakan dalam kematian ibu adalah AKI yaitu jumlah kematian ibu dalam 100.000 kelahiran hidup. AKI melonjak drastis dari 228 menjadi 359/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2012. Berdasarkan kemenkes 2015 di Indonesia 309/100.000 kelahiran hidup. Dikarenakan preeklamsia di RSUD Kabupaten Bekasi tahun 2018 (17,9%) ibu hamil yang mengalami preeklamsia. tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian preeklamsia pada ibu hamil di RSUD Kabupaten Bekasi tahun 2018. Metode penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Populasinya seluruh ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya melalui ruangan bersalin (VK) di RSUD Kabupaten Bekasi pada bulan juli-desember Tahun 2018 yang berjumlah 476 orang. Sampel yang diteliti adalah ibu hamil yang mengalami preeklamsia sebanyak 85 orang. Instrument penelitian menggunakan rekam medis, analisis data univariat menggunakan presentase dan analisis data bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian bivariat menunjukan ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian preeklamsia. nilai P=0,045, hasil OR 1,701. Ada hubungan paritas dengan kejadian preeklamsia nilai P=0,037, hasil OR 1,789. Ada hubungan pekerjaan dengan kejadian preeklamsia nilai P=0,009, hasil OR 2,069. Ada hubungan riwayat hipertensi dengan kejadian preeklamsia nilai P=0,047, hasil OR 0,603. Ada hubungan pendidikan dengan kejadian preeklamsia nilai P=0,025, hasil OR 2,381. Ada hubungan signifikan antara umur, paritas, pekerjaan, riwayat hipertensi, pendidikan dan tidak ada kesenjangan. Kesimpulan dari hasil penelitian dari 5 variabel yang diteliti memiliki hubungan antara umur, paritas, pekerjaan, riwayat hipertensi, dan pendidikan dengan kejadian preeklamsia pada ibu hamil di RSUD Kabupaten Bekasi tahun 2018 dan sesuai dengan teori-teori yang sudah dikemukakan. Diharapka kesadaran masyarakat khususnya ibu hamil agar lebih meningkatkan dan memelihara kesehatan untuk mencegah terjadinya preeklamsia dengan cara mencari informasi tentang tanda bahaya ibu hamil.

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Atonia Uteri di RSUD Kabupaten Bekasi Tahun 2018

2019 · Book · Koleksi Perpustakaan

Antonia Uteri adalah keadaan lemahnya tonus/kontraksi yang menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari tempat implantasi plasenta setalah bayi dan plasenta lahir (Maryunan, 2014). Berdasarkan data Depkes RI, 2014 terdapat 10% kejadian atonia uteri pada ibu bersalin diseluruh indonesia. Berdasarkan angka kematian ibu (AKI) di jawa barat pada tahun 2014 adalah 31/100.000 kelahiran hidup yang disebabkan pendarahan karena atonia uteri sebanyak 1 orang. Seorang ibu dapat mengalami kematian karena pendarahan pasca persalinan dalam waktu yang terjadi dalam 24 jam setelah kelahiran bayi (Departemen Kesehatan RI, 2014). Berdasarkan data rekam medik yang diambil di RSUD Kabupaten Bekasi tahun 2017 jumlah kejadian atonia uteri pada ibu bersalin ada seabnyak 14 orang dari 263 ibu bersalin atau sekitar 5,3%. Sedangkan pada tahun 2018 jumlah ibu bersalin dengan atonia uteri mencapai 17 orang dari 226 ibu bersalin atau 6,3%. Jumlah kasus atonia uteri meningkat 1% pada tahun 2018. Tujuan dari penelitian ini dalah utntuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian atonia uteri di RSUD Kabupaten Bekasi Tahun 2018. Penelitian ini menggunakan metode analitik kuantitatif dengan pendekatan cross secsional, dengan populasi 266 ibu bersalin normal dan sampel 17 ibu bersalin yang mengalami Atonia Uteri di ruang VK RSUD Kabupaten Bekasi Tahun 2018. Dimana variabel independen dan dependen diukur secara bersamaan dengan menggunakan data rekam medik. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa dari 226 ibu bersalin yang mengalami atonia uteri sebanyak 17 orang (7,5%), sedangkan yang tidak mengalami atonia uteri sebanyak 209 orang (92,5%). Hasil penelitian ini membuktikan adanya hubungan signifikan antara umur ibu P Value 0,020 < a 0,05 dan OR 4,133, paritas P Value 0,007 < a 0,005 dan OR 4,934, interval persalinan P Value 0,004 < a 0,05 dan OR -, dan anemia P Value 0,019 < a 0,05 dan OR 3,870. Kesimpulannya ada hubungan signifikat antara umur, paritas, anemia, dan interval persalinan dengan kejadian atonia uteri dan tidak terdapat kesenjangan. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah ada hubungan yang bermakna antara umur ibu, paritas, interval persalinan, dan anemia dengan kejadian atonia uteri di RSUD Kabupaten Bekasi Tahun 2018 dan sesuai dengan teori-teori yang sudah dikemukakan. Diharapkan kesadaran masyarakat khususnya ibu bersalin agar lebih meningkatkan dan memelihara kesehatan untuk mencegah kejadian atonia uteri dengan cara informasi tentang tanda bahaya pad aibu hamil dan bersalin.

Gambaran Tingkat Kecemasan Orang Tua Terhadap Anak yang Dirawat Diruang Perawatan Anak Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang Tahun 2018

2019 · Book · Koleksi Perpustakaan

Hospitalisasi adalah pengalaman penuh cemas baik bagi anak maupun keluarganya. Kecemasan yang utama yang dialami dapat berupa perpisahan dengan keluarga, kehilangan kontrol, lingkungan yang asing, kehilangan kemandirian dan kebebasan. Diagnosa penyakit, sistem pendukung & koping terhadap cemas. (SUSENAS) tahun 2014 jumlah anak usia prasekolah di Indonesia sebesar 20,72% dari jumlah total penduduk Indonesia, berdasarkan data tersebut diperkirakan 35 per 100 anak menjalani hospitalisasi, sedangkan pada tahun 2015 (SUSENAS) di daerah perkotaan menurut kelompok usia 0-4 tahun sebesar 25,8%, usia 5-12 tahun sebanyak 14,91%, usia 13-15 tahun sekitar 9,1%, usia 16-21 tahun sebesar 8,13%. Angka kesakitan anak usia 0-21 tahun apabila dihitung dari keseluruhan jumlah penduduk adalah 14,44%. Data studi pendahuluan yang diperoleh dari 10 reponden, 2 diantaranya mengalami cemas berat, 5 orang mengalami cemas sedang, dan 3 diantaranya mengalami cemas ringan. Tujuan penelitian ini diketahui gambaran tingkat kecemasan orang tua terhadap anak yang dirawat diruang perawatan anak Rumah Sakit Sentra Mendika Cikarang tahun 2018. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Teknik sampling yang digunakan accidental sampling Populasi dalam penelitian ini adalah 137 responden dan sampel penelitian 62 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner, analisis data hasil menggunakan analisis univariat. Hasil penelitian : gambaran tingkat kecemasan orang tua terhadap anak yang dirawat diruang perawatan anak Rumah Sakit Sentra Mendika Cikarang tahun 2018 dalam distribusi frekuensi dengan prosentase kecemasan ringan 24 responden dengan prosentase 38,7%, responden yang mengalami kecemasan sedang 33 responden dengan 53,2%, responden yang mengalami kecemasan berat 4 responden dengan prosentase 6,4% sedangkan yang mengalami kecemasan panik sebanyak 1 responden dengan presentase 1,6% dari total 62 responden. Kesimpulan : hasil penelitian didapatkan gambaran tingkat kecemasan orang tua terhadap anak yang dirawat diruang perawatan anak Rumah Sakit Sentra Mendika Cikarang tahun 2018 memiliki kecemasan sedang. Saran : Hendaknya tetap melibatkan orang tua dalam perawatan untuk meminimalkan dampak hospitalisasi, perlu pendidikan kesehatan kepada orang tua dalam menjaga anak yang sedang dirawat.