2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar belakang : Aktivitas fisik dengan nyeri kepala pada hipertensi yang menyebabkan pembuluh darah menyempit akibatnya jaringan mengalami penurunan kadar oksigen (O2) dan peningkatan karbon dioksida (CO2) terjadinya proses metabolisme anaerob. Tujuan : Mengetahui Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Nyeri Kepala Pada Pasien Lansia Hipertensi Di Puskesmas Kecamatan Kedungwaringin. Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik sampling yang digunakan teknik total sampling dengan jumlah 91 responden pada lansia 55-90 tahun. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner aktivitas dengan nyeri pada pasien lansia. Hasil Penelitian : Berdasarkan aktivitas fisik dan intensitas nyeri paling banyak yaitu aktivitas fisik sedang 31 responden (88,6%) mengalami nyeri sedang. Tidak ada aktivitas fisik sedang mengalami nyeri berat. Selanjutnya aktivitas fisik berat yakni 25 responden (100%) mengalami nyeri ringan. Hasil penelitian dari uji Chi-Square didapatkan adanya Hubungan Aktivitas Fisik Terhadap Nyeri Kepala Pada Pasien Lansia dengan nilai p-value 0,000 (p<0,05). Kesimpulan : Adanya Hubungan Aktivitas Fisik Terhadap Nyeri kepala Pada Pasien Lansia di Puskesmas Kecamatan Kedungwaringin.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar belakang: Mahasiswa tingkat akhir sering mengalami stres saat mengerjakan tugas akhir. Berbagai faktor internal maupun faktor internal mampu mempengaruhi tingkat stres salah satunya ialah dukungan sosial orang tua. Dalam hal menekan tingkat stres akademik mahasiswa salah satu yang berperan penting yaitu dukungan sosial orang tua. Tujuan dari penelitian ini: Untuk menganalisis hubungan antara dukungan sosial orang tua dengan tingkat stres mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Medika Suherman. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif melalui pendekatan deskriptif korelasi serta desain cross-sectional. Tingkat stres diukur menggunakan instrumen DASS-21. Menggunakan probability sampling dengan sampel 70 mahasiswa tahun terakhir di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Medika Suherman. Hasil penelitian: Menandakan adanya hubungan yang signifikan terkait dukungan sosial orang tua dan tingkat stres mahasiswa memiliki nilai p-value 0,001, di mana mahasiswa dengan dukungan sosial tinggi memiliki risiko lebih kecil mengalami stres berat (PR 0,480, CI 0,306–0,753) dan hubungan berada pada kategori sedang (CC 0,382). Kesimpulan: Adanya hubungan antara dukungan sosial orang tua dengan tingkat stres pada mahasiswa yang tengah menyelesaikan tugas akhir pada Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Medika Suherman dan berada pada kategori sedang dengan arah hubungan yang berbanding terbalik, yang berarti apabila dukungan sosial orang tua semakin tinggi, maka makin rendah tingkat stres yang dialami mahasiswa semakin rendah. Diharapkan mahasiswa lebih terbuka kepada orang tua untuk mendapatkan dukungan yang dapat membantu mengurangi stres.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Bakteri Mycobacterium Tuberculosis menyebabkan
Tuberkulosis (Tb), yang merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh
bakteri. Bakteri ini berukuran 0,5–4 milimeter x 0,3–0,6 milimeter dan memiliki
lapisan luar tebal yang terdiri dari lipoid yang sulit ditembus oleh zat kimia.
Tuberkulosis adalah penyakit yang dapat menyerang banyak bagian tubuh, seperti
otak, ginjal, dan tulang belakang. Target penyakit Tb yang paling umum adalah paru-paru. Agen infeksius utama dari penyakit ini adalah Mycobacterium
Tuberculosis sehingga bakteri Tb yang masuk ke paru-paru akan merusak dan bisa
menular dari orang ke orang melalui transmisi udara. Tujuan utama dari peneliti ini
untuk mengidentifikasi dan menganalisis apakah ada Hubungan Dukungan
Keluarga Dan Tingkat Self Awareness Dengan Penularan Penyakit Pada Pasien
Tuberkulosis Paru di RSUD Kab. Bekasi. Subyek dan Metode: Jenis penelitian
ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode analitik korelasional dengan
desain penelitian Cross Sectional. Lokasi penelitian RSUD Kab. Bekasi. Populasi
sasaran dalam penelitian ini yaitu seluruh pasien Tuberkulosis Paru dengan total
100 pasien. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Dalam
penelitian ini variabel independen adalah hubungan dukungan keluarga (X1), Self
awareness (X2) dan variabel dependen adalah penularan penyakit tuberkulosis
paru (Y) metode pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil: Terdapat
hubungan dukungan keluarga dengan penularan penyakit tuberkulosis di RSUD
Kab. Bekasi. Hasil uji Chi-square p=0,000<0,05. Berdasarkan analisis koreasional
didapatkan dukungan keluarga 85,22 di RSUD Kab. Bekasi. Kesimpulan:
Sebagian keluarga sangat membantu dalam meningkatkan pengetahuan atau
kepatuhan pasien Tb Paru serta memberikan dukungan dan motivasi
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak didunia yang disebabkan oleh bakteri tuberculosis, pengobatan TB Paru perlu waktu yang lama serta pengobatan yang kompleks sehingga dapat menimbulkan terjadinya gejala depresi, salah satu cara mencegah depresi adalah dengan dukungan keluarga sebagai bentuk dukungan bagi pasien TB Paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan gejala depresi pada pasien TB Paru dipuskesmas Tambelang. Jenis penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan crosssectional, sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling yaitu seluruh populasi dapat dijadikan sampel dengan jumlah sebanyak 58 pasien TB Paru rawat jalan di Puskesmas Tambelang. Analisis yang digunakan univariate dan bivariate dengan uji statistik menggunakan chi square. Hasil penelitian bivariat ada hubungan dukungan keluarga dengan gejala depresi pada pasien TB Paru dipuskesmas Tambelang dengan keluarga yang mendukung dan tidak mengalami depresi sebanyak 23 responden (57,5%), responden yang dapat dukungan keluarga dan mengalami depresi ringan 17 responden (42,5%), dan nilai p value 0,004 (a=0,05). Diharapkan bagi tenaga kesehatan dapat memberikan informasi kepada keluarga pasien pentingnya support sistem dari keluarga bagi pasien yang sakit.