ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hipertensi telah mengakibatkan kematian sekitar 8 juta orang setiap tahun, 1,5 juta
kematian terjadi di Asia Tenggara, yang sepertiga populasinya menderita
hipertensi. Tujuan dari penelitian ini merupakan untuk mengetahui gambaran
penggunaan obat antihipertensi di RS Sentra Medika Cibinong periode JuniNovember 2022. Metode penelitian ini menggunakan data sekunder berupa rekam
medik pasien yang mendapat pengobatan hipertensi yang didapat dari pasien BPJS
rawat jalan RS Sentra Medika Cibinong dengan Periode Juni-November 2022.
Hasil penelitian ini yaitu hipertensi sering dialami oleh kelompok usia 45 - 65 tahun
sebanyak 56 orang (56%) dan berjenis kelamin laki-laki sebanyak 52 orang (52%).
Pada pasien prehipertensi penggunaan obat antihipertensi yang paling banyak
digunakan adalah amlodipin (CCB) sebanyak 12 pasien (12%). Pada pasien
hipertensi stage 1 penggunaan obat antihipertensi yang paling banyak digunakan
adalah amlodipin (CCB) sebanyak 12 pasien (12%). Pada pasien hipertensi stage 2
penggunaan obat antihipertensi yang paling banyak digunakan adalah amlodipin
(CCB) + candesartan (ARB) sebanyak 8 pasien (8%).
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Universitas Medika Suherman (UMS)
PROGRAM STUDI S1 FARMASI
Skripsi, 30 Mei 2023
Nama : Dwi Nur Aliah Putri
NIM : 020719038
POLA PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI DI PUSKESMAS
CIKARANG PERIODE JANUARI-FEBRUARI TAHUN 2023.
ABSTRAK
Hipertensi adalah gangguan yang terjadi pada sistem peredaran darah yang
menyebabkan meningkatnya tekanan darah di atas nilai normal, yaitu tekanan darah
sistolik ≥140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg.Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui pola penggunaan obat antihipertensi di
Puskesmas Cikarang periode Januari-Februari 2023. Penelitian ini merupakan
penelitian non eksperimentak dengan metode deskriptif dan pengambilan data
seraca restrospektif. Data diambil dari rekam medis pasien hipertensi. Hasil
penelitian menggunakan 46 sampel, didapatkan hasil karakteristik pasien hipertensi
berdasarkan usia, tekanan darah dan penyakit penyerta. Pada pola pengobatan
hipertensi berdasarkan usia didapatkan hasil pasien usia 30-60 tahun terbanyak
menggunakan golongan Calium Channel Blocker (CCB) yaitu amlodipine 5mg
sebesar 74%, begitupun usia 61-70 tahun terbanyak menggunakan amlodipine 5mg
sebesar 18%. Pada pola pengobatan hipertensi berdasarkan tekanan darah
didapatkan hasil pasien dengan hipertensi stage II terbanyak menggunakan
golongan Calium Channel Blocker (CCB) yaitu amlodipine 5mg sebesar 61%,
begitupun hipertensi stage I terbanyak menggunakan amlodipine 5mg sebesar 30%.
Pada pola pengobatan hipertensi berdasarkan penyakit penyerta didapatkan hasil
pasien dengan DM terbanyak menggunakan amlodipine 5mg sebesar 9%, namun
tidak terdapat pasien hipertensi dengan gagal ginjal kronis.
Kata Kunci : Amlodipin, Penghambat Saluran Kalsium, Diabetes
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Berdasarkan data Riskesdas 2018, prevalensi hipertensi mencapai 34,1%, meningkat dari hanya 26,5%, pada tahun 2013. Di Jawa Barat, prevalensi hipertensi lebih tinggi dari rerata nasional, yaitu 39,6%, pada tahun 2018. Kota Depok prevalensinya 21,74%. Hipertensi seringkali disebut “silent killer” karena tidak adanya gejala. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui Gambaran Peresepan Obat Antihipertensi di UPTD Puskesmas Tapos periode Juni–November Tahun 2022. Metode penelitian yang digunakan adalah Deskriptif yang bersifat Retrospektif, populasi yang digunakan pada penelitian ini semua resep yang masuk di UPTD Puskesmas Tapos periode Juni – November Tahun 2022. Hasil penelitian persentase peresepan penggunaan obat hipertensi yaitu perempuan sebanyak (64,21%) dari 95 pasien dan pada kelompok usia 45-65 tahun sebanyak (69,47%) dari 95 pasien. Zat aktif yang lebih banyak diresepkan adalah amlodipin sebanyak (51,58%) dari 95 resep. Golongan antihipertensi terbanyak yaitu golongan antagonis kalsium sebanyak (71,42%) dari 95 resep dan berdasarkan kombinasi obat yang paling banyak yaitu amlodipin+hidroklortiazid sebanyak (73,33% ) dari 95 resep.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Pendahuluan: Hipertensi adalah penyakit kronis dengan prevalensi tinggi yang memerlukan terapi jangka panjang. Obat antihipertensi berisiko menimbulkan Efek Samping Obat (ESO) yang dapat memengaruhi kepatuhan dan kualitas terapi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi dugaan ESO pada pasien hipertensi di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang, meliputi obat penyebab, manifestasi, penanganan, riwayat, dan kesudahannya. Metode: Penelitian menggunakan desain non eksperimental deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Populasi penelitian adalah seluruh pasien hipertensi periode Januari–Desember 2024, dengan sampel sebanyak 20 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan dari rekam medis kemudian dianalisis secara deskriptif univariat untuk menggambarkan karakteristik pasien dan distribusi ESO. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan ESO paling banyak dikaitkan dengan Amlodipin (40%), diikuti Ramipril (15%), Spironolactone (15%), Lisinopril (10%), dan Captopril (10%). Manifestasi ESO yang sering muncul adalah pusing dan sakit kepala (35%), diikuti keluhan sesak napas, nyeri dada, batuk, dan reaksi kulit. Sebagian besar pasien (80%) tidak diberikan terapi tambahan untuk mengatasi ESO, sementara sebagian kecil memperoleh Paracetamol (15%) atau Ondansetron (5%). Riwayat ESO sebelumnya hanya ditemukan pada 20% pasien, dan seluruh kasus (100%) dinyatakan sembuh. Simpulan: Amlodipin merupakan obat yang paling sering dikaitkan dengan ESO pada pasien hipertensi di rumah sakit ini. Monitoring efek samping obat perlu ditingkatkan melalui pencatatan.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi adalah salah satu penyakit jangka panjang yang umum di Indonesia dan dapat menyebabkan masalah serius pada jantung dan pembuluh darah. Pengobatan hipertensi biasanya melibatkan penggunaan obat-obatan dalam jangka waktu lama, yang dapat menyebabkan reaksi negatif terhadap obat (ADR). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai kejadian farmakovigilans terkait pengobatan hipertensi pada pasien di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif-analitik melalui accidental sampling pada 61 pasien hipertensi antara Januari hingga April 2025. Informasi diperoleh melalui rekam medis dan lembar Monitoring Efek Samping Obat (MESO). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok obat yang paling banyak digunakan adalah Calcium Channel Blocker (CCB) amlodipin (75%), diikuti oleh kombinasi CCB+CCB (12,5%), CCB+Diuretik (3,13%), ACEI (3,13%), dan ARB (3,13%). Efek samping yang dilaporkan meliputi pusing, mual, dan sesak napas (40,6%), nyeri di dada (25%), kesulitan bernapas (3,1%), serta rasa lelah yang berlebihan (31,2%). Evaluasi farmakovigilans menyatakan bahwa sebagian besar ADR termasuk dalam kategori "kemungkinan besar" menurut skala Naranjo.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi telah mengakibatkan kematian sekitar 8 juta orang setiap tahun, 1,5 juta kematian terjadi di Asia Tenggara, yang sepertiga populasinya menderita hipertensi. Tujuan dari penelitian ini merupakan untuk mengetahui gambaran penggunaan obat antihipertensi di RS Sentra Medika Cibinong periode Juni-November 2022. Metode penelitian ini menggunakan data sekunder berupa rekam medik pasien yang mendapat pengobatan hipertensi yang didapat dari pasien BPJS rawat jalan RS Sentra Medika Cibinong dengan Periode Juni-November 2022. Hasil penelitian ini yaitu hipertensi sering dialami oleh kelompok usia 45 - 65 tahun sebanyak 56 orang (56%) dan berjenis kelamin laki-laki sebanyak 52 orang (52%). Pada pasien prehipertensi penggunaan obat antihipertensi yang paling banyak digunakan adalah amlodipin (CCB) sebanyak 12 pasien (12%). Pada pasien hipertensi stage 1 penggunaan obat antihipertensi yang paling banyak digunakan adalah amlodipin (CCB) sebanyak 12 pasien (12%). Pada pasien hipertensi stage 2 penggunaan obat antihipertensi yang paling banyak digunakan adalah amlodipin (CCB) + candesartan (ARB) sebanyak 8 pasien (8%).
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Berdasarkan data Riskesdas 2018, prevalensi hipertensi mencapai 34,1%, meningkat dari hanya 26,5%, pada tahun 2013. Di Jawa Barat, prevalensi hipertensi lebih tinggi dari rerata nasional, yaitu 39,6%, pada tahun 2018. Kota Depok prevalensinya 21,74%. Hipertensi seringkali disebut “silent killer” karena tidak adanya gejala. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui Gambaran Peresepan Obat Antihipertensi di UPTD Puskesmas Tapos periode Juni–November Tahun 2022. Metode penelitian yang digunakan adalah Deskriptif yang bersifat Retrospektif, populasi yang digunakan pada penelitian ini semua resep yang masuk di UPTD Puskesmas Tapos periode Juni – November Tahun 2022. Hasil penelitian persentase peresepan penggunaan obat hipertensi yaitu perempuan sebanyak (64,21%) dari 95 pasien dan pada kelompok usia 45-65 tahun sebanyak (69,47%) dari 95 pasien. Zat aktif yang lebih banyak diresepkan adalah amlodipin sebanyak (51,58%) dari 95 resep. Golongan antihipertensi terbanyak yaitu golongan antagonis kalsium sebanyak (71,42%) dari 95 resep dan berdasarkan kombinasi obat yang paling banyak yaitu amlodipin+hidroklortiazid sebanyak (73,33% ) dari 95 resep.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi adalah gangguan yang terjadi pada sistem peredaran darah yang menyebabkan meningkatnya tekanan darah di atas nilai normal, yaitu tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Cikarang periode Januari-Februari 2023. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimentak dengan metode deskriptif dan pengambilan data seraca restrospektif. Data diambil dari rekam medis pasien hipertensi. Hasil penelitian menggunakan 46 sampel, didapatkan hasil karakteristik pasien hipertensi berdasarkan usia, tekanan darah dan penyakit penyerta. Pada pola pengobatan hipertensi berdasarkan usia didapatkan hasil pasien usia 30-60 tahun terbanyak menggunakan golongan Calium Channel Blocker (CCB) yaitu amlodipine 5mg sebesar 74%, begitupun usia 61-70 tahun terbanyak menggunakan amlodipine 5mg sebesar 18%. Pada pola pengobatan hipertensi berdasarkan tekanan darah didapatkan hasil pasien dengan hipertensi stage II terbanyak menggunakan golongan Calium Channel Blocker (CCB) yaitu amlodipine 5mg sebesar 61%, begitupun hipertensi stage I terbanyak menggunakan amlodipine 5mg sebesar 30%. Pada pola pengobatan hipertensi berdasarkan penyakit penyerta didapatkan hasil pasien dengan DM terbanyak menggunakan amlodipine 5mg sebesar 9%, namun tidak terdapat pasien hipertensi dengan gagal ginjal kronis.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan salah satu penyakit mematikan di dunia dan saat ini terdaftar sebagai penyakit pembunuh ketiga setelah penyakit jantung dan kanker. Hipertensi tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikendalikan dengan pengobatan untuk mencegah terjadinya komplikasi penyakit. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran peresepan obat antihipertensi (oral ) di Klinik Tiara Periode Juli - Desember 2022 berdasarkan karakteristik pasien dan karakteristik obat. Metode dalam penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yaitu dengan pendekatan retrospektif. Untuk mengetahui gambaran peresepan obat antihipertensi (oral) di klinik Tiara. Adapun populasi pada penelitian ini sebanyak 81 orang dengan menggunakan rumus Slovin dari 102 orang. Hasil dari penelitian ini didapatkan hasil berdasarkan karakteristik pasien, presentase jenis kelamin perempuan 52,43% dan jenis kelamin laki-laki 47,56%, presentase usia remaja 12,19% , dewasa 68,29% dan lansia 19,51% , presentase penyakit penyerta hipertensi dengan diabetes 9,75% dan hipertensi tanpa diabetes 90,24%. Berdasarkan obat yang sering digunakan di klinik tiara yaitu obat amlodipin 80,48% ,kaptropil 1,21%, nifedipin 2,43% , amlodipin+ furosemid 1,21% dan amlodipin+captropil 14,63%.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi atau yang dikenal dengan nama penyakit darah tinggi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah di atas ambang batas normal yaitu 120/80 mmHg. batas tekanan darah yang dianggap normal adalah kurang dari 130/85 mmHg. Bila tekanan darah sudah lebih dari 140/90 mmHg dinyatakan hipertensi (batas tersebut untuk orang dewasa di atas 18 tahun). Tujuan dari penelitian ini merupakan untuk mengetahui karakteristik pasien dan gambaran penggunaan obat anti hipertensi pada pasien hipertensi rawat jalan di puskesmas sukaraya. Metode penelitian ini menggunakan data sekunder berupa rekam medik pasien yang mendapat pengobatan hipertensi yang didapat dari pasien rawat jalan puskesmas sukaraya pada periode November 2022 – Januari 2023 sebanyak 100 sampel . Hasil penelitian ini yaitu hipertensi sering dialami oleh pasien berjenis kelamin Perempuan sebanyak 56 orang (56%) dan yang paling banyak berusia 36 – 55 sebanyak 45 orang (45%). Penggunaan obat antihipertensi yang paling banyak digunakan di puskesmas sukaraya adalah amlodipin (CCB) sebanyak 68 pasien (68%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah berdasarkan karakteristik pasien hipertensi di Puskesmas Sukaraya terbanyak berjenis kelamin perempuan sebesar 45%, dan usia 36 – 55 tahun sebesar 56%, serta tekanan darah yang paling banyak dialami pada tahap hipertensi tingkat 1 sebanyak 57%, dan berdasarkan penggunaan obat anti hipertensi yang paling banyak digunakan golongan Calcium channel blocker sebesar 80% dengan zat aktif yaitu Amlodipin sebesar 68%.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Hipertensi merupakan kondisi yang sering didapatkan pada
pelayanan kesehatan primer dengan memiliki risiko morbiditas serta mortalitas
yang terus meningkat selaras dengan naiknya tingkatan tekanan sistolik dan
diastolik yang diakibatkan oleh gagal jantung, stroke dan gagal ginjal. Tujuan:
untuk mengetahui pola penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Mekarmukti
Januari-Februari 2023. Metode: penelitian deskriptif dengan rancangan penelitian
cross sectional menggunakan metode pengambilan data retrospektif yang diambil
dari penelusuran dokumen rekam medik pada bulan Juni tahun 2023 di Puskesmas
Mekarmukti. Sampel diambil menggunakan metode total sampling yaitu seluruh
pasien hipertensi yang memenuhi kriteria inklusi yaitu sebanyak 46 sampel pasien
hipertensi. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan hasil, pada karakteristik
berdasarkan usia tertinggi <60 tahun sebanyak 27 pasien(58,7%), jenis kelamin
tertinggi yaitu perempuan 29 pasien(54,3%), tekanan darah 140-159/90-99
sebanyak 25 pasien(54,3%) dan tekanan darah ≥160/100 sebanyak 21
pasien(45,6%), dan penyakit penyerta 16 pasien(34,8%). Untuk pola penggunaan
berdasarkan usia dan tekanan darah, untuk usia <60 tahun tekanan darah 140159/90-99
penggunaan obat tertinggi yaitu Amlodipine 5 mg sebanyak 7
pasien(15,2%) sedangkan untuk usia ≥60 tahun penggunaan obat tertinggi yaitu
Amlodipine 10 mg sebanyak 8 pasien(17,4%). Pada tekanan darah ≥160/100
dengan usia <60 tahun penggunaan obat tertinggi yaitu Amlodpine 10 mg sebanyak
12 pasien(26,1%) sedangkan untuk usia ≥60 tahun penggunaan obat tertinggi yaitu
Amlodipine 10 mg sebanyak 4 pasien(8,7%). Pada pasien hipertensi dengan
penyakit penyerta yang diderita yaitu Diabetes Melitus. Kesimpulan: dapat
disimpulkan dari penelitian ini bahwa untuk karakteristik berdasarkan usia dan
tekanan darah sesuai. Pada pola penggunaan obat berdasarkan usia dan tekanan
darah 140-159/90-99 sesuai dengan Pedoman Pelayanan Kefarmasian.