BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang: Keadaan seseorang yang mengalami kecemasan pre operasi dapat diartikan sebagai perasaan takut atau gelisah yang ditandai dengan peningkatan detak jantung, tekanan darah, pernapasan cepat, sesak dada, serta ketegangan otot. Kecemasan pre operasi yang tidak dikelola dengan baik dapat berdampak pada gangguan hemodinamik. Salah satu metode non-farmakologis yang dapat membantu mengurangi kecemasan adalah teknik relaksasi otot progresif. Teknik ini bekerja dengan mengendurkan otot-otot yang tegang secara sistematis, sehingga dapat memberikan efek menenangkan dan kenyamanan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik anestesi umum. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian Quasy eksperiment dengan desain pre and post test without control. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yang melibatkan 33 responden dengan kriteria inklusi dan eklusi yang telah ditentukan oleh peneliti. Data dianalisis menggunakan uji paired t-test. Instrumen penelitian berupa kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety And Information Scale (APAIS). Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik responden sebagian besar berusia 26 – 35 (33,3%) dengan jumlah 11 responden, jenis kelamin dengan jumlah 22 responden (66,7%) sebagian besar adalah perempuan, pengalaman pembedahan menunjukkan karakteristik responden sebagian besar belum pernah operasi sebanyak 20 responden (60,6%), dan berdasarkan tingkat kecemasan sebelum dilakukan teknik relaksasi otot progresif lebih banyak responden mengalami cemas sedang (48,5%) dengan jumlah 16 responden, sedangkan sesudah dilakukan teknik relaksasi otot progresif didapatkan hasil tingkat kecemasan responden sebagian besar menurun menjadi cemas ringan dengan jumlah 24 responden (72.7%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya penurunan tingkat kecemasan setelah dilakukan teknik relaksasi otot progresif dengan nilai p-value 0,000. Kesimpulan: Maka disimpulkan bahwa ada pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik anestesi umum di RS Amanda Cikarang Selatan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar belakang: Keadaan seseorang yang mengalami kecemasan pre operasi dapat diartikan sebagai perasaan takut atau gelisah yang ditandai dengan peningkatan detak jantung, tekanan darah, pernapasan cepat, sesak dada, serta ketegangan otot. Kecemasan pre operasi yang tidak dikelola dengan baik dapat berdampak pada gangguan hemodinamik. Salah satu metode non-farmakologis yang dapat membantu mengurangi kecemasan adalah teknik relaksasi otot progresif. Teknik ini bekerja dengan mengendurkan otot-otot yang tegang secara sistematis, sehingga dapat memberikan efek menenangkan dan kenyamanan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik anestesi umum. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian Quasy eksperiment dengan desain pre and post test without control. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yang melibatkan 33 responden dengan kriteria inklusi dan eklusi yang telah ditentukan oleh peneliti. Data dianalisis menggunakan uji paired t-test. Instrumen penelitian berupa kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety And Information Scale (APAIS). Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik responden sebagian besar berusia 26 – 35 (33,3%) dengan jumlah 11 responden, jenis kelamin dengan jumlah 22 responden (66,7%) sebagian besar adalah perempuan, pengalaman pembedahan menunjukkan karakteristik responden sebagian besar belum pernah operasi sebanyak 20 responden (60,6%), dan berdasarkan tingkat kecemasan sebelum dilakukan teknik relaksasi otot progresif lebih banyak responden mengalami cemas sedang (48,5%) dengan jumlah 16 responden, sedangkan sesudah dilakukan teknik relaksasi otot progresif didapatkan hasil tingkat kecemasan responden sebagian besar menurun menjadi cemas ringan dengan jumlah 24 responden (72.7%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya penurunan tingkat kecemasan setelah dilakukan teknik relaksasi otot progresif dengan nilai p-value 0,000. Kesimpulan: Maka disimpulkan bahwa ada pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik anestesi umum di RS Amanda Cikarang Selatan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar belakang: Keadaan seseorang yang mengalami kecemasan pre operasi dapat diartikan sebagai perasaan takut atau gelisah yang ditandai dengan peningkatan detak jantung, tekanan darah, pernapasan cepat, sesak dada, serta ketegangan otot. Kecemasan pre operasi yang tidak dikelola dengan baik dapat berdampak pada gangguan hemodinamik. Salah satu metode non-farmakologis yang dapat membantu mengurangi kecemasan adalah teknik relaksasi otot progresif. Teknik ini bekerja dengan mengendurkan otot-otot yang tegang secara sistematis, sehingga dapat memberikan efek menenangkan dan kenyamanan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik anestesi umum. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian Quasy eksperiment dengan desain pre and post test without control. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yang melibatkan 33 responden dengan kriteria inklusi dan eklusi yang telah ditentukan oleh peneliti. Data dianalisis menggunakan uji paired t-test. Instrumen penelitian berupa kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety And Information Scale (APAIS). Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik responden sebagian besar berusia 26 – 35 (33,3%) dengan jumlah 11 responden, jenis kelamin dengan jumlah 22 responden (66,7%) sebagian besar adalah perempuan, pengalaman pembedahan menunjukkan karakteristik responden sebagian besar belum pernah operasi sebanyak 20 responden (60,6%), dan berdasarkan tingkat kecemasan sebelum dilakukan teknik relaksasi otot progresif lebih banyak responden mengalami cemas sedang (48,5%) dengan jumlah 16 responden, sedangkan sesudah dilakukan teknik relaksasi otot progresif didapatkan hasil tingkat kecemasan responden sebagian besar menurun menjadi cemas ringan dengan jumlah 24 responden (72.7%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya penurunan tingkat kecemasan setelah dilakukan teknik relaksasi otot progresif dengan nilai p-value 0,000. Kesimpulan: Maka disimpulkan bahwa ada pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik anestesi umum di RS Amanda Cikarang Selatan.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit ditandai dengan adanya hiperglikemia akibat sekresi insulin yang tidak
memadai, ketidaknormalan kadar gula darah diatas 200 mg/dL. Terapi yang diberikan adalah kombinasi farmakologi dengan non farmakologi yaitu terapi relaksasi otot progresif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Terapi Relaksasi Otot Progresif Terhadap Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RS Harapan Bunda Jakarta. Jenis penelitian quasy eksperiment dengan desain penelitian one grup pre test – post test design kelompok intervensi kadar gula darah. Populasi 30 orang, sample 30. Rata-rata nilai kadar gula darah pada pre test adalah 1,37 dengan standar deviasi
,490. Pada posttest nilai rata-rata adalah 1,00 dengan standar deviasi ,000. Hasil uji statistik didapatkan nilai ,000 maka dapat disimpulkan ada pengaruh terapi relaksasi otot progresif terhadap kadar gula darah pasien diabetes melitus tipe 2 di RS Harapan Bunda Jakarta. Kesimpulan dan Saran tehnik relaksasi otot progresif terbukti memiliki pengaruh terhadap kadar gula darah, dan disarankan bagi institusi RS selain memberikan terapi farmakologi bisa dikombinasikan menggunakan terapi non farmakologi relaksasi otot progresif.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan penyakit yang tidak menular yang saat ini menjadi prioritas dalam dunia kesehatan
secara global (Sugiyanto & Budiati, 2012). Terapi non farmakologis terbukti dapat mengontrol dan mempertahankan
tekanan darah agar tidak semakin meningkat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah pengaruh
relaksasi otot progresif terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi di RS Annisa Bogor 2021. Penelitian
ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pre eksperimental dengan desain penelitian one group preposttest.
Total sampel pasien hipertensi sebanyak 35 sampel. Data demogfrafi responden dan data observasi yang telah
terkumpul akan dianalisa menggunakan uji paired sample t-test dan Uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil analisis
univariat yaitu menunjukkan bahwa yang terkena hipertensi paling banyak kisaran umur 41 – 50 tahun (42,8 %),
dengan jenis kelamin laki-laki (54,3 %), tingkat pendidikan yang dimiliki responden yaitu SMA (60 %) dan pekerjaan
sebagai buruh (34,3 %). Hasil analisis bivariat didapatkan hasil tekanan darah sistole sebelum dan sesudah relaksasi
otot progresif nilai P Value 0,000 (≤ 0,05) dan tekanan darah diastole sebelum dan sesudah relaksasi otot progresif
nilai P Value 0,016 (≤ 0,05). Penelitian yang dilakukan menunjukkan hasil terdapat perbedaan yang signifikan
terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik setelah melakukan relaksasi otot progresif karena hasilnya
menunjukkan nilai ≤ 0,05.