Linda Wahyuni; Syaefunnuril Anwar Huda
2019 · Book · Open Access
Menurut data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018 anak usia 6 – 24 bulan yang mengkonsumsi makanan beragam di Indonsia sebesar 46,6%, di Jawa Barat sebesar 58%. Pengukuran Status Gizi balita 0 – 23 bulan dengan indeks TB/BB mendapatkan persentase yang sangat kurus 3,7%, kurus sebesar 8,9% dan gemuk sebesar 4,3. Tujuan penelitian ini yaitu dapat diketahuinya gambaran perilaku ibu dengan anak usia 6-24 bulan dalam pemberian makanan pendamping air susu ibu di RW 02 dan RW 03 Desa Sukahurip Kabupaten Bekasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah 73 ibu dan sampel penelitian 42 responden dengan cara random sampling, analisis yang digunakan adalah univariat.
Hasil penelitian gambaran perilaku ibu dengan anak usia 6 – 24 bulan dalam pemberian makanan pendamping air susu ibu di Desa Sukahurip Kabupaten Bekasi. Yang berperilaku tidak memberikan makanan pendamping air susu ibu pada bayi usia mulai dai 6 bulan sebanyak 19 responden (45.2%) sedangkan yang melakukan pemberian makanan pendamping air susu ibu pada bayi usia mulai dai 6 bulan sebanyak 23 responden (54.8%), responden yang pengetahuannya cukup yaitu sebanyak 16 responden (35,7%), responden yang pendidikannya tinggi sebanyak 30 responden (71.4%), responden yang ekonomi terbanyak yaitu ekonomi kurang sebanyak 25 responden (59.9%), responden yang tidak ada pengalaman dalam pemberian makanan pendamping air susu ibu sebanyak 22 responden (52.4%), responden yang tidak ada dukungan orang lain yaitu 36 responden (85.7%).
Kesimpulan: Dari hasil penelitian didapatkan gambaran perilaku ibu dengan anak usia 6 – 24 bulan dalam pemberian makanan pendamping air susu ibu didesa sukahurip kabupaten bekasi memiliki perilaku baik dalam pemberian makanan pendamping air susu ibu. Saran untuk ibu sebaiknya perilakunya ditingkatkan lagi supaya tidak ada lagi bayi yang mengalami masalah gizi kurang atau gizi berlebih
Putri Mahardika; Yulia Rahmadianti
2019 · Book · Open Access
Sayur dan buah merupakan bahan pangan yang sangat memberi manfaat bagi tubuh tarutama untuk sumber berbagai vitamin, mineral, dan serat pangan. Hasil Riskesdas tahun 2018 pada penduduk yang berusia ≥5 tahun sebanyak 95,5% kurang mengonsumsi sayur dan buah (Riskesdas, 2018). Selain itu, dari hasil Riskesdas tahun 2018 di Jawa Barat sebanyak 98,2% kurang mengonsumsi sayur dan buah (Riskesdas, 2018). Tujuan penelitian : Diketahuinya gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumsi sayur dan buah pada anak usia sekolah di TPQ Ar-Rahman Perumahan The Green Residence tahun 2019.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner pada 47 responden dengan cara total sampling. Berikut hasil dari distribusi frekuensi perilaku konsumsi sayur dan buah kurang sebanyak 47 responden (62.7%), perilaku konsumsi sayur dan buah cukup sebanyak 28 responden (37.3%). Dari beberapa hasil penelitian, sikap responden memiliki hasil penelitian yang baik, dimana 44 responden memiliki sikap baik dengan presentase 93.6%, sedangkan pada 3 responden dengan presentase 6.4% memiliki sikap kurang baik.
Berdasarkan hasil penelitian secara keseluruhan, gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumsi sayur dan buah pada anak usia sekolah di TPQ Ar-Rahman Perumahan The Green Residence tahun 2019 masih banyak anak yang kurang memiliki perilaku konsumsi sayur dan buah. Hal ini dikarenakan lingkungan yang kurang mendukung dan jarang tersedianya sayur dan buah dirumah.
Paulus Ola L; Purnama Wati Siregar
2019 · Book · Open Access
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN EFEKTIFITAS PELAKSANAAN PERAWATAN METODE KANGURU (PMK)
PADA IBU DENGAN BBLR DI RUMAH SAKIT SENTRA MEDIKA CIBINONG
TAHUN 2018
Purnama Wati Siregar STIKes Medika Cikarang
ABSTRAK: Salah satu indikator untuk mengetahui derajat kesehatan masyarakat adalah Angka Kematian Bayi (AKB). Menurut Global Nutrition Targets (2014), secara keseluruhan diperkirakan bahwa 15-20% AKB dari semua kelahiran di seluruh dunia adalah dikarenakan bayi berat lahir rendah (BBLR) mewakili lebih dari 20 juta kelahiran per tahun. Kematian bayi baru lahir dapat dicegah dengan menggunakan perawatan yang tidak mahal yaitu Perawatan Metode Kanguru (PMK). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan efektifitas pelaksanaan PMK di RS Sentra Medika Cibinong tahun 2018. Penelitian ini bersifat analitik kuantitatif dengan menggunakan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah perawat/bidan ruang Perina dan Kamar Bayi Sehat RSSM Cibinong yang diambil dengan tehnik Total Sampling berjumlah 34 orang. Data yang didapat menggunakan kuisioner. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di RS Sentra Medika Cibinong bahwa sebagian besar responden tidak efektif dalam pelaksanaan PMK 19 orang (55,9%) dari 34 responden. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa sebagian besar responden dengan pendidikan DIII Bidan yaitu 24 orang (70,6%) p value 0,010. Diketahui pula responden dengan masa kerja > 2 tahun yaitu 32 orang (94,1%) p value 0,492. Selanjutnya, didapat hasil sebagian besar responden yaitu 24 orang (70,6%) tidak pernah mengikuti pelatihan PMK p value 0,001. Selanjutnya sebagian responden yaitu 17 orang (50%) p value 0,037 kebijakan SPO tidak mendukung terhadap efektifitas pelaksanaan PMK. Kemudian sebagian besar responden yaitu 19 orang (55,9%) p value 0,005 sarana dan prasarana tidak mendukung dalam efektifitas pelaksanaan PMK. Dari hasil penelitian sebagian besar responden tidak efektif terhadap pelaksanaan PMK. Oleh sebab itu disarankan agar pihak manajemen meningkatkan kinerja program dalam upaya perbaikan pelayanan dengan mengikutsertakan tenaga pelaksana dalam pelatihan PMK, memfasilitasi kelengkapan sarana dan prasarana, serta melakukan evaluasi lebih lanjut terhadap pelaksanaan PMK.
Kata Kunci : BBLR, Perawatan Metode Kanguru (PMK), Pendidikan, Masa Kerja,
Pelatihan, Kebijakan SPO, Sarana dan Prasarana, dan Efektifitas Pelaksanaan PMK
Moh. Omardani
2019 · Book · Open Access
Luluna Sheilamita; Syaefunnuril Anwar Huda
2019 · Book · Open Access
Latar Belakang : Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit tropis yang masih menjadi suatu masalah kesehatan di dunia, khususnya di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Untuk mencapai kesembuhan penyakit kusta diperlukan keteraturan atau kepatuhan berobat bagi setiap penderita. Mengetahui gambaran tingkat kepatuhan penderita kusta dalam berobat di Puskesmas Sukatani dan Puskesmas Tambelang Kabupaten. Metode penelitian yang digunakan deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien kusta yang menjalani pengobatan diPuskesmas Sukatani dan Puskesmas Tambelang dan sampel penelitian 35 klien dengan cara total sampling. Analisis yang digunakan adalah univariat.
Hasil Penelitian : berdasarkan tingkat kepatuhan yang terbanyak adalah responden patuh sebanyak 25 klien (71,4 %), berdasarkan pengetahuan yang terbanyak adalah responden dengan pengetahuan yang terbanyak adalah responden dengan pengetahuan baik sebanyak 25 klien (71,4 %),berdasarkan pendidikan yang paling banyak adalah responden dengan tingkat pendidikan rendah sebanyak 22 klien (62,8 %),dan berdasarkan dukungan keluarga paling banyak responden dengan dukungan keluarga baik sebanyak 26 klien (74,3 %).
Kesimpulan : Dari hasil penelitian didapatkan gambaran tingkat kepatuhan pasien kusta dalam berobat di Puskesmas Sukatani dan Puskesmas Tambelang memiliki kepatuhan yang ptuh dengan pendidikan yang rendah.
Saran : untuk dinas pendidikan meningkatkan edukasi mengenai pentingngnya pendidikan tinggi untuk mendapat kesejahteraan dan mencapai kesehatan yang optimal.
Intan Paniadiningsih; Putri Mahardika
2019 · Book · Open Access
Pendahuluan : Data Kementrian Kesehatan (2015), menunjukkan bahwa masih tingginya angka kecacingan di Indonesia 28,12 % dan di Jawa Barat 6,7 % mengalami kecacingan. Dampak infeksi kecacingan menimbulkan malnutrisi, diare, stunting dan anemia. Pencegahan kecacingan dapat dilakukan dengan cara menjaga perilaku hidup sehat dan bersih. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tingkat pengetahuan ibu pada anak umur 6-12 tahun tentang pencegahan kecacingan.
Hasil Penelitian : Jenis penelitian ini menggunakan Deskriptif. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 59 dan sampel yang diambil 40 dengan cara accidental sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil distribusi frekuensi pengetahuan paling banyak pengetahuan baik 29 (72,5%), berdasarkan pendidikan semua memiliki pendidikan rendah <SLTA 40 (100%), berdasarkan usianya paling banyak usia 18-32 tahun 29 (17,5%), berdasarkan informasi lebih banyak dari non tenaga kesehatan 36 (90,0%), berdasarkan pengalaman paling banyak belum pernah 39 (97,50%), berdasarkan status ekonomi semua pendapatan rendah <4.100.000 ada 40 (100%), berdasarkan lingkungan mayoritas baik 29 (72,50%)
Kesimpulan : Hasil penelitian didapatkan gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang pencegahan kecacingan di desa ridogalih rt 001 dan 002 rw 006 kecamatan cibarusah kabupaten bekasi tahun 2019 memiliki pengetahuan yang baik.
Saran : Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi mengenai gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang pencegahan kecacingan.
Ripki Hidayat; Suanda Saputra
2019 · Book · Open Access
Hipertensi adalah penyakit dengan tanda adanya gangguan tekanan darah sistolik maupun diastolik yang naik diatas tekanan darah normal (Marsiadi, 2016). Hipertensi telah mengakibatkan kematian sekitar 8 juta orang setiap tahun, dimana 1,5 juta kematianterjadi di Asia Tenggara (Kemkes, 2017). Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi gambaran tingkat pengetahuan masyarakat tentang pencegahan hipertensi berdasarkan usia, pendidikan, pengalaman, dan paparan informasi.
Jenis dan desain penelitian yang digunakan jenis penelitian desktiptif kuantitatif. Sampel yang digunakan berjumlah 69 responden.
Hasil penelitian menunjukan responden yang berpengetahuan terbanyak adalah berpengetahuan kurang sebanyak 36 orang responden (52,2%). Usia yang terbanyak adalah dewasa awal 54 responden (78,3%), Pendidikan yang terbanyak adalah berpendidikan rendah 53 responden (76,8%), Berdasarkan pengalaman yang terbanyak adalah berpengalaman pernah sebanyak 38 responden (55,1%). Paparan informasi yang terbanyak adalah paparan non tenaga kesehatan sebanyak 31 responden (44,9%).
Kesimpulan : dari hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti yang terbanyak adalah responden dengan tingkat pengetahuan yang kurang yaitu sebanyak 36 orang responden dengan presentase 52,2%.
Saran : masyarakat sebaiknya lebih memperkaya informasi mengenai pencegahan hipertensi, sehingga masyarakat dapat memahami lebih dalam tentang pencegahan hipertensi dan dapat mengaplikasikannya. Informasi dapat diperoleh dari tempat pelayanan kesehatan, berbagai media dan berbagai pengalaman.
Putri Mahardika; Sri Ratnasari
2019 · Book · Open Access
Imunisasi Measles dan Rubelladiberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD/sederajat. Di Indonesiarata-rata cakupan vaksinasi baru mencapai sekitar 66%, secara nasional realisasi vaksinasi juga belum mencapai 70% padahal target aman untuk mencapai kekebalan di masyarakat adalah 95% anak terimunisasi.Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran pengetahuan orang tua siswa kelas I tentang imunisasi Measles dan Rubella di Sekolah Dasar Negeri Banjarsari 03 dan Sekolah Dasar Negeri Sukahurip 05 Kecamatan Sukatani Kabupaten Bekasi Tahun 2019.Jenis Penelitian ini menggunakan Deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner pada 41 responden dengan cara accidental sampling.
Hasil penelitian gambaran pengetahuan orang tua siswa kelas I tentang imunisasi measles dan rubella didapatkan bahwa pengetahuan baik sebanyak 51,2%, berdasarkan pendidikan orang tua sebanyak 53,7% memiliki pendidikan tinggi, berdasarkan usiaorang tua sebanyak 56,1% yaitu usia 31-40 tahun.Orang tua yang memiliki banyak pengalaman baik yaitu85,4%, keyakinannya orang tua paling banyak yakin, yaitu 100%. Sumber informasi paling banyak melalui tenaga kesehatan sebanyak 82,9%.
Kesimpulan dari hasil penelitian didapatkan Gambaran pengetahuan orang tua siswa kelas I tentang imunisasi Measles dan Rubella di Sekolah Dasar Negeri Banjarsari 03 dan Sekolah Dasar Negeri Sukahurip 05 memiliki pengetahuan yang baik. Sehingga disarankan orang tua untuk mempertahankan pengetahuan atau lebih meningkatkan pengetahuan tentang imunisasi Measles dan Rubella.
Angga Saeful Rahmat; Haryanti
2019 · Book · Open Access
Radial Artery Occlusion (RAO) atau disebut juga oklusi arteri radialis merupakan komplikasi
paska prosedur kateterisasi jantung melalui akses arteri radialis. Tujuan penelitian ini untuk
mengidentifikasi keefektifan metode barbeau test dan metode pengamatan klinik terhadap
kejadian RAO pada pasien post prosedur kateterisasi jantung di ruang angiografi dan HCCU
Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong Tahun 2018. Penelitian ini menggunakan metode
penelitian kuantitatif analitik dengan desain penelitian study comparativ melalui pendekatan
rancangan penelitian Quasi-eksperimental, Adapun sampel dalam penelitian ini
menggunakan kuota sampling sebanyak 30 responden yang di bagi menjadi 2 kelompok,
yaitu 15 metode Barbeau Test dan 15 metode pemantauan klinis. Berdasarkan uji statistik
Independen sample T-test diperoleh nilai untuk Metode Barbeu test P-value = 0,000
(<α=0,05) dan Metode Pengamatan Klinis Dengan P-value = 0,043 (<α=0,05). Hasil
penelitian ini menunjukan adanya perbedaan yang signifikan antara metode Barbeau test dan
metode pengamatan klinis dalam menilai kejadian RAO. Diharapkan bagi Rumah Sakit perlu
mengkombinasikan 2 metode yang paling sering digunakan dan dapat memilih metode yang
terbaik untuk menilai kejadian RAO pada pasien post tindakan kateterisasi jantung
Fiqi Heriawan; Putri Mahardika
2019 · Book · Open Access
Latar Belakang: berdasarkan data World Health Organization (WHO) tahun 2010 bahwa 3%-10% pasien anak yang dirawat di Amerika Serikat mengalami stress. Sedangkan di Indonesia menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia bahwa 35 anak dari 420 anak yang di rawat rumah sakit sepanjang tahun 2010 mengalami stress selama hospitalisasi.
Metode: penelitian dengan deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah 45 responden dan sampel penelitian 45 responden dengan total sampling.
Hasil Penelitian: pengetahuan baik sebanyak 93,3%, pengetahuan cukup 6,7%, responden dengan tingkat pendidikan Ners sebanyak 17,8%, responden dengan tingkat pendidikan D3 Keperawatan sebanyak 82,2%, responden dengan pengalaman bekerja >5 tahun sebanyak46,7%, responden dengan pengalaman bekerja <5 tahun sebnayak53,3%, responden yang memperoleh informasi dari media massa sebanyak93,3%, responden yang memperoleh informasi dari tenaga kesehatan 6,7%, responden yang melakukan pelaksanaan bermain terapeutik sebanyak93,7% dan yang tidak sebanyak 6,7%.
Kesimpulan dan Saran:tingkat pengetahuan perawat yang baik lebih banyak dibandingkan dengan cukup atau kurang, untuk peneliti selanjutnya agar lebih mengetahui tentang bermain terapeutik peneliti menyarankan mencari tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan bermain terapeutik.
Nike Kardilah; Yuli Erlina
2019 · Book · Open Access
Latar Belakang : Anemia adalah suatu kondisi medis dimana jumlah sel darah merah atau
hemoglobin kurang dari normal, kadar hemoglobin normal umumnya berbeda pada laki-laki dan
perempuan, untuk pria, anemia biasanya didefinisikan sebagai hemoglobin kurang dari 13,5
gram/100ml dan pada wanita sebagai hemoglobin kurang dari 12,0 gram/100 ml.
Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi “Faktor – faktor yang
berhubungan dengan tingkat pengetahuan remaja putri tentang anemia pada siswi di SMP Negeri
Satu Atap 2 Batujaya Kabupaten Karawang tahun 2018”.
Metode : menggunakan cross sectional (potong lintang). Desain penelitian ini digunakan untuk
meneliti suatu kejadian pada waktu yang bersamaan (sekali waktu). Sehingga variabel dependen
dan variabel independen diteliti secara bersamaan. Populasi dalam penelitian ini adalah semua
siswi SMP Negeri Satu Atap 2 Batujaya Kab. Karawang tahun 2018 sebanyak 100 siswi. Sempel
dalam penelitian ini menggunakan teknik Accidental sampling. Pengambilan data dilakukan
dengan menggunakan kuesioner kepada responden yang sesuai dengan ketentuan. Analisa data
yang digunakan adalah analisa univariat dan bivariat menggunakan uji statistik.
Hasil Penelitian : Hasil Penelitian ini menunujukan ada hubungan yang signifikan antara
sumber informasi nilai p-value = 0,015 (p<0,05), sosial budaya nilai p-value =0,032 (p<0,05),
dan lingkungan nilai p-value = 0,014 (p<0,05), dengan tingkat pengetahuan tentang anemia.
Kesimpulan : Berdasarkan hasil yang ditemukan dalam penelitian ini dapat disimpulkan adanya
hubungan antara faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan tentang anemia
pada remaja putri di SMP Negeri Satu Atap 2 Batujaya Kab.Karawang. Penulis menyarankan
kepada remaja putri khususnya di SMP Negeri Satu Atap 2 Batujaya Kab.Karawang untuk lebih
memahami dan menerapkan pemahaman tentang anemia dan asupan gizi sehingga mengurangi
angka kejadian anemia.
Hendra Gunawan Samosir
2019 · Book · Open Access
Nining Nuraida; Syaefunnuril Anwar Huda
2019 · Book · Open Access
Masalah penyakit demam berdarah dengue (DBD) jika terlambat ditangani akan menyebabkan kematian. Berdasarkan data Pusat Kesehatan Masyarakat Sukatani Kecamatan Sukatani pada tahun 2016 mengemukakan bahwa kasus demam berdarah dengue (DBD) pada tahun 2016 sebanyak 92 orang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran perilaku masyarakat dalam pencegahan penyakit demam berdarah dengue.
Metode penelitian ini menggunakan deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang terdiri dari ibu dan ayah yang tinggal di RW 02 Desa Sukahurip Kecamatan Sukatani. Metode penelitian ini menggunakan Acidental sampling. Dimana jumlah populasi terdapat sebanyak 69 responden.
Hasil penelitian ini didapatkan dari 69 responden yang berperilaku tidak pernah melakukan pencegahan penyakit demam berdarah dengue (DBD) sebanyak 22 responden (31,9%), sedangkan yang berperilaku pernah melakukan pencegahan penyakit demam berdarah dengue (DBD) sebanyak 47 responden (68,1%), responden yang bersikap tidak baik sebanyak 17 responden (24,6%), sedangkan responden yang bersikap baik sebanyak 52 responden (75,4%), didapatkan responden yang berpendidikan rendah sebanyak 23 responden (33,3%), responden yang berpendidikan tinggi sebanyak 46 responden (66,7%), dan responden yang berpengetahuan kurang sebanyak 23 responden (33,3%), responden yang berpengetahuan cukup sebanyak 44 responden (63,8%), dan responden yang berpengetahuan baik sebanyak 2 responden (2,9%).
Rina Dwi Kristanti
2019 · Book · Open Access
Faradhita Shafira Hilman; Syaefunnuril Anwar Huda
2019 · Book · Open Access
Latar Belakang : Survey Demografi Kesehatan Indonesia (2017) memaparkan sekitar 2% remaja pria dan 8% remaja telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah dan sebanyak 12% diantaranya mengalami Kehamilan yang Tidak Diinginkan, jumlah kasus aborsi di Indonesia mencapai 2,3 juta dan 30% diantarannya dilakukan remaja. Tujuan penelitian ini mengetahui gambaran tingkat pengetahuan remaja tentang bahaya seks pranikah di SMA X Kabupaten Bekasi Tahun 2019.
Metode Penelitian : menggunakan penelitian deskriptif, populasi yang diambil adalah siswa kelas XI di SMA X Kabupaten Bekasi sebanyak 360 siswa, sampel : sebanyak 83 siswa, dengan teknik simpel random sampling. Instrumen penelitian kueisioner. Uji statistik yang digunakan uji univariat.
Hasil Penelitian : Tingkat pengetahuan responden yang paling banyak adalah kurang sebanyak 33 responden (39,8%) berdasarkan jenis kelamin : laki-laki sebanyak 19 responden (22,9%), sumber informasi : informasi dari non tenaga kesehatan sebanyak 15 responden (18,1%), faktor lingkungan : ada orang disekelilingnya yang merasakan dampak seks pranikah sebanyak 20 responden (24,1%), pengalaman : remaja yang tidak pernah sebanyak 23 responden (27,7%).
Kesimpulan : Remaja dengan tingkat pengetahuan kurang paling banyak yaitu sebanyak 33 responden (39,8%)
Saran : diharapkan menjadi informasi mengenai gambaran tingkat pengetahuan remaja tentang bahaya seks pranikah sehingga remaja dapat mengetahui bahaya seks pranikah dan menghindari perilaku seks pranikah.
Ruli Rusmana Nurhamdan; Syaefunnuril Anwar Huda
2019 · Book · Open Access
Angga Ramadhan Sulaeman; Demak Agustina P
2019 · Book · Open Access
PHBS di sekolah adalah sekumpulan perilaku yang di praktikan oleh peserta didik, guru dan
masysrakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran atas hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri
mampu mencegah penyakit. Menurut World Health Organation (WHO), setiap tahunnya sekitar 2,2
juta orang di negara berkembang terutama anak-anak meninggal dunia akibat berbagai penyakit yang
disebabkan oleh kurangnya air minum yang aman, sanitasi dan hygiene yang buruk.
Tujuan Penelitian Untuk Mengetahui Tingkat Pengetahuan Siswa Sekolah Dasar Kelas IV, V, dan
VI Tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di SDIT Al-hikmah Kecamatan Pebayuran Kabupaten
Bekasi Tahun 2018.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskritif kuantitatif, populasi dalam penelitian ini ada 98
orang dan 77 responden, pengambilan sampel dengan total sampling, instrument penelitian
menggunakan kuesioner. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat.
Hasil penelitian : gambaran tingkat pengetahuan siswa sekolah dasar kelas VI, V, dan VI tentang
perilaku hidup bersih dan sehat di SDIT Al-hikmah Kecamatan Pebayuran Kabupaten Bekasi Tahun
2018 berpengetahuan kurang 36 siswa (47%), berpengetahuan cukup 25 siswa (32%), dan
berpengetahuan kurang 16 siswa (21%). gambaran karakteristik umur siswa sekolah dasar kelas tinggi
umur 10/11 tahun 30 siswa (39%), dan siswa sekolah dasar kelas tinggi umur 11/12 tahun 47 siswa
(61%), gambaran karakteristik siswa berdasarkan informasi siswa mendapat informasi kurang 42
siswa (55%), dan murid mendapat informasi baik 35 murid (45%). gambaran karakteristik siswa yang
tidak pernah berpengalaman melakukan PHBS 46 murid (60%), dan siswa yang pernah
berpengalaman melakukan PHBS 31 siswa (40%). gambaran karakteristik berdasarkan lingkungan
siswa yang tidak baik 57 siswa (74%), dan siswa dengan lingkungan baik 20 (26%).
Kesimpulan : gambaran tingkat pengetahuan siswa sekolah dasar kelas V dan VI tentang perilaku
hidup bersih dan sehat di SDIT Al-hikmah Kecamatan Pebayuran Kabupaten Bekasi Tahun 2018
masih kurang. Saran : untuk itu diharapkan agar diadakan penyuluhan tentang PHBS, agar
pengetahuan siswa kelas V dan VI di SDIT Al-hikmah dapat meningkat pengetahuan baik tentang
PHBS.
Nurul Izzatul Khasanah; Suanda Saputra
2019 · Book · Open Access
Penyakit kardiovaskuler merupakan salah satu jenis penyaki penyebab kematian
nomor satu di dunia data yang di dapatkan menunjukkan bahwa sebanyak 17,3 miliar orang
di dunia meninggal karena penyakit kardiovaskuler WHO (2016). Salah satu permasalahan
psikologis yang muncul pada penyakit gagal jantung adalah kecemasan. Tujuan penelitian
Diketahui gambaran tingkat kecemasan pada pasien denngan gagal jantung kongestif di
Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Bekasi Tahun 2018.
Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Populasi dalam penelitian ini
adalah 160 responden sampel penelitian 67 responden dengan cara metode pengambilan
dengan accidental sampling. Instrumen yang di gunakan adalah kuesioner.. Analisa data hasil
menggunakan analisis univariat.
Hasil penelitian : gambaran tingkat kecemasan pada pasien dengan gagal jantung
kongestif di Rumah sakit umum daerah kabupaten bekasi tahun 2018 dalam distribusi
frekuensi dengan persentase terbanyak ialah klien dengan kecemasan sedang sebanyak 26
dengan presentase (38,8%), kecemasan ringan 36 dengan presntase (53,7%), kecemasan berat
sebanyak 4 dengan presentase (6%) dan kecemasan panik 1 responden dengan presentase
(1,5%) dari 67 responden .
Kesimpulan : Dari hasil penellitian di dapatkan gambaran tingkat kecemasan pada
pasien dengan gagal jantung kongestif di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Bekasi
tahun 2018 memiliki kecemasan sedang. Saran:bagi instansi Rumah Sakit Umum Daerah
Kabupaten Bekasi dapat meningkatkan komunikasi intrapersonal antara perawat dan klien
yang akan mengalami penyakit gagal jantung kongestif (CHF)
Demak Agustina P; Rifki Herlambang
2019 · Book · Open Access
Bullying merupakan kekerasan fisik dan psikologis berjangka panjang di mana ada
hasrat untuk melukai, membuat tertekan, depresi dan tidak berdaya. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui Gambaran perilaku bullying pada siswa kelas VII dan VII di
Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Tambun selatan Kabupaten Bekasi Tahun 2018.
Metode penelitian yang digunakan deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah
527 orang dan sampel penelitian 89 orang responden dengan cara proportional stratified
random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis yang
digunakan adalah univariat.
Hasil penelitian : gambaran perilaku bullying pada siswa kelas VII dan VIII di Sekolah
Menegah Pertama Negeri 2 Tambun Selatan perilaku bullying sebanyak 71 siswa/siswi (80%),
perilaku bullying fisik 11 (12%), bullying verbal 34 (39%), Bullying relasional 10 (11%), Cyber
bullying 9 (10%) dan bullying tidak langsung 7 (8%), jenis kelamin laki-laki yang melakukan
bullying 29 siswa (78%) dan perempuan melakukan bullying 42 siswi (81%), pola asuh orang
tua demokratis 46 (52%), pola asuh otoriter 31 (35%), pola asuh permisif 12 (13%). pernah
mengalami bullying 55 (62%), dan tidak pernah mengalami bullying 34 (38%), pengaruh teman
sebaya positif sebanyak 31 (35%), dan pengaruh negatif 58 (65%).
Kesimpulan : Gambaran perilaku bullying pada siswa kelas VII dan VIII di Sekolah
Menegah Pertama Negeri 2 Tambun Selatan memiliki tingkat perilaku bullying yang tinggi.
Untuk siswa/siswi sebaiknya lebih meningkatkan pengetahuan mengenai dampak dari
perilaku bullying.
Kiki Hikmayati; Rosita Sari
2019 · Book · Open Access
Kebersihan ini memang tidak bisa dilepaskan dari kebersihan dan banyak hadist
yang menjelaskan bahwa kebersihan itu sebagaian dari iman. Tujuan penelitian ini
untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Anak Sekolah Dasar Kelas V dan VI
Tentang Personal Hygiene di SDN Karang Asih 01.
Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian deksriptif. Populasi dalam
penelitian ini 160 responden, teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total
sampling yaitu 66 responden. Instrumen yang digunakan adalah keusioner. Analisa data
hasil menggunakan analisis univariat.
Gambaran pengetahuan personal hygiene pada anak sekolah dasar kelas V dan
VI di SDN Karang Asih 01.Berdasarkan pengetahuan,kurang sebanyak 30 siswa
(46%),cukup sebanyak 24 siswa (36%),baik sebanyak 12 siswa (18%).Berdasarkan
sumber informasi,media massa sebanyak 14 siswa (21%),tenaga kesehatan sebanyak 33
siswa (50%),non tenaga kesehatan sebanyak 19 siswa (29%).Berdasarkan lingkungan
rumah,bersih sebanyak 13 siswa (20%),cukup bersih sebanyak 20 siswa (30%),kotor 33
siswa (50%).Berdasarkan kebiasaan,baik sebanyak 7 siswa (11%),cukup sebanyak 29
siswa (44%),buruk sebanyak 30 siswa (49%).
Gambaran pengetahuan tentang personal hygienen pada anak sekolah dasar
kelas v dan vi tentang personal hygiene di SDN Karang Asih 01. Seharusnya siswa
siswi sekolah dasar bisa membantu merawat fasilitas yang telah disediakan untuk bisa
menambah wawasan tentang kebersihan perseorangan.