BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Gaya pacaran remaja di zaman sekarang mengarah pada perilaku seks untuk mengisi waktu senggang mereka. SDKI-R 2017, kelompok umur 15-17 tahun menjadi kelompok umur mulai pacaran pertama kali, remaja mulai berhubungan seksual pertama kali pada umur 15-19 tahun. Tujuan untuk mengidentifikasikan faktor-faktor yang berhubungan dengan gaya berpacaran pada remaja. Metode analitik kuanitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi berjumlah 420 remaja dengan sampel penelitian sebanyak 214 responden. Teknik pengambilan besaran sampel menggunakan rumus slovin dengan stratified random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Analisa univariat dan analisa bivariat dengan uji chi-square. Hasil analisis bivariat yaitu pengetahuan (p=0,000), paparan pornografi (p=0,083), peran orang tua (p=0,001), peran teman sebaya (p=0,013), peran guru (0,179). Kesimpulan penelitian ini, terdapat hubungan antara pengetahuan, peran orang tua, dan peran teman sebaya dengan gaya berpacaran remaja, serta tidak terdapat hubungan antara paparan pornograti, dan peran guru dengan gaya berpacaran remaja.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Berdasarkan SDKI-R 2017, kelompok umur 15-17 tahun menjadi kelompok umur mulai pacaran pertama kali, dilaporkan remaja mulai berhubungan seksual pertama kali pada umur 15-19 tahun dengan persentase paling tinggi pada umur 17 tahun (19%). Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasikan faktor-faktor yang mendorong perilaku pacaran remaja kelas XI di SMA Negeri 6 Tambun Selatan tahun 2023. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik kuanitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi berjumlah 420 remaja dengan sampel penelitian sebanyak 214 responden. Teknik pengambilan besaran sampel menggunakan rumus solvin dengan stratified random sampling. Instrument penelitian menggunakan kuesioner. Analisa univariat dan analisa bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukan sebanyak 149 (69,6%) memiliki gaya berpacaran tidak sehat, dengan pengetahuan kurang baik 100 (85,5%), 85 (75,2%) terpapar pornografi, 105 (78,4%) memiliki peran orang tua yang kurang berperan, 79 (62,7%) memiliki peran teman sebaya kurang baik, dan 44 (62,9%) memiliki peran guru kurang berperan. Disimpulkan ada hubungan antara pengetahuan (p-value=0,000), peran orang tua (p-value=0,001), peran teman sebaya (p=value=0,013) dengan gaya berpacaran remaja kelas XI di SMA Negeri 6 Tambun Selatan. Serta tidak ada hubungan antara paparan pornografi (p-value=0,083) dan peran guru (p-value=0,179) dengan gaya berpacaran remaja kelas XI di SMA Negeri 6 Tambun Selatan. Kesimpulan dalam penelitian ini, terdapat hubungan antara pengetahuan, peran orang tua, dan peran teman sebaya dengan gaya berpacaran remaja di kelas XI SMA Negeri 6 Tambun Selatan. Serta tidak terdapat hubungan antara paparan pornograti, dan peran guru dengan gaya berpacaran remaja di kelas XI SMA Negeri 6 Tambun Selatan. Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan remaja untuk lebih berhati-hati dalam bergaul agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif dan dapat merusak kehidupan dan masa depan.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Penyakit gigi dan mulut yang paling umum terjadi pada anak usia sekolah dasar adalah karies gigi dan
radang gusi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku
pemeliharaan kesehatan gigiidan mulut di SDN Pasirangin 05 Kabupaten Bogor. Metode penelitian secara
kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi sebanyak 144 siswa kelas IV dan V. sampel sebanyak
104 dengan teknik simple random sampling. Penelitian ini diuji dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian
menunjukan bahwa ada hubungan antara sikap (p value = 0,013), peran guru (p value = 0,044) dengan perilaku
pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Sedangkan variabel yang tidak memiliki hubungan antara pengetahuan
(p value = 0,308) dan peran orang tua (p value = 0,180) dengan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut.
Untuk mencapai kesehatan gigi dan mulut yang baik bagi siswa, peran guru perlu lebih ditingkatkan, misalnya
dengan memberikan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pemeliharaan kesehatan gigiidan mulut merupakan salah satu bentuk perilaku kesehatan. Pemeliharaan kesehatan gigii dan mulut yang dilakukan dengan baik sejak dini akan menjadi dasar untuk terciptanya perilaku positif pada anak dalam perawatan gigi dan mulutnya. Penyakit gigi dan mulut yang paling umum terjadi pada anak usia sekolah dasar adalah karies gigi dan radang gusi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pemeliharaan kesehatan gigiidan mulut pada siswa kelas IV dan V di SDN Pasirangin 05 Kabupaten Bogor. Jenis penelitian ini penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan desain Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 144 siswa kelas IV dan V. Jumlah sampel sebanyak 104 siswa kelas IV dan V yang diambil dengan teknik simple random sampling. Instrument penelitian ini berupa kuesioner. Penelitian ini diuji secara statistic dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan antara sikap (p value = 0,013), peran guru (p value = 0,044) dengan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Sedangkan variabel yang tidak memiliki hubungan antara pengetahuan (p value = 0,308) dan peran orang tua (p value = 0,180) dengan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Untuk mencapai kesehatan gigi dan mulut yang baik bagi siswa, peran guru perlu lebih ditingkatkan, misalnya dengan memberikan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut agar siswa sewaktu sekolah sudah menyikat gigi sesudah sarapan. Selain itu, perlu ditingkatkan program kampanye sikat gigi bagi siswa melalui program UKGS yang dipimpin guru, termasuk pelaksanaan sikat gigi massal.
BookOpen AccessMetadata saja
2019•Koleksi Perpustakaan
Jajan sembarangan adalah perilaku membeli makanan atau minuman yang tidak memilih-milih jenis makan dan minuman yang akan di konsumsi. Sekitar 40-45% pangan jajan anak sekolah di Indonesia tidak memenuhi syarat kesehatan. Jajan sembarangan yang bisa mengakibatkan diare, resiko kanker karena makanan yang bersifat karsinogenik, terinfeksi bakteri dan cacing, gangguan pencernaan, keracunan makanan, tifus, muntah berulang, tidak nafsu makan, kembung, perlukaan pada lambung, kerusakan hati, amandel (tonsillitis), dan sebagainya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara perilaku jajan sembarangan dengan pengetahuan, sikap, peran orangtua, peran teman, dan peran guru pada siswa-siswi SDN Sindangsari 02 Kabupaten Bekasi tahun 2018.
Penelitian ini menggunakan desain analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi kelas IV dan V SDN Sindangsari 02, menggunakan total sampling dengan jumlah sampel 113 responden. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data berupa analisis univariate dan bivariate, dengan uji statistik menggunakan Kai Kuadrat.
Dari hasil penelitian ini di dapatkan ada hubungan antara pengetahuan dengan P Value 0,012 <α 0,05 dan OR 2,907, sikap dengan P Value 0,012 dan OR 2,836, peran orangtua dengan P Value 0,036 dan OR 2,426, peran teman dengan P Value 0,004 dan OR 3,321, peran guru dengan P Value 0,022 dan OR 2,597, dengan perilaku jajan sembarangan pasa siswa-siswi SDN Sindangsari 02. Hasil penelitian menunjukan adanya kesesuaianantara teori dengan apa yang terjadi dilapangan.
Diharapkan bagi para siswa dan siswi setelah mengetahui bahaya atau dampak buruk dari jajan sembarangan diharapkan para siswa dan siswi yang jajan sembarangan (tidak memilih-milih makanan yang dibeli) setidaknya dapat dikurangi dan dapat memilih jajanan yang sehat.