BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
Kasus perilaku seksual remaja di indonesia meningkat setiap tahunnya. Data BKKBN 2011 menemukan sebanyak 51% siswi dijabodetabek pernah melakukan hubungan seksual pranikah, Di Surabaya remaja yang keperawanannya sudah hilang mencapai 54%, di Medan 52%, Bandung 47%, dan Yogyakarta 37%. Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku seksual remaja antara lain: pengetahuan yang kurang, pengaruh media informasi, peran orang tua, dan pengaruh teman sebaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual remaja di SMAN I TAMBELANG Kabupaten Bekasi Tahun 2018.
Jenis penelitian ini menggunakan teknik analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 140 menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji hipotesis dengan rumus uji chi-square dengan bantuan SPSS 24.
Hasil penelitian menunjukan ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku seksual remaja dengan nilai p value = 0,000 dengan nilai pearson chi-square = 17,520. Ada hubungan antara media informasi dengan perilaku seksual remaja dengan nilai p value = 0,000 dengan nilai pearson chi-square = 11,440. Ada hubungan antara peran orang tua dengan perilaku seksual remaja dengan nilai p value = 0,003 dengan nilai pearson chi-square 11,440. Ada hubungan antara pengaruh teman sebaya dengan perilaku seksual remja dengan nilai p value= 0,000 dengan nilai pearson 45,339
Dari hasil penelitian ini diharapkan institusi pendidikan dapat meningkatkan peran edukatif untuk mencegah perilaku seksual remaja, dengan pemberian pendidikan kesehatan dan konseling intensif.
Kata Kunci : perilaku seksual remaja, pengetahuan remaja tentang seksual, sumber informasi, peran orang tua, pengaruh teman sebaya.
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan
kegigihan perilaku. Artinya perilaku yang memiliki motivasi adalah perilaku yang
penuh energi, terarah, dan bertahan lama. Berdasarkan studi pendahuluan yang
dilakukan peneliti pada tanggal 18-20 Mei 2019 di SDN Sukaresmi 06, Cikarang
Selatan, yang dilakukan kepada 12 siswa di dapatkan hasil dari wawancara bahwa
siswa yang memiliki motivasi belajar rendah terdapat sebanyak 7 orang siswa
sedangkan siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi terdapat sebanyak 5 orang
siswa.
Tujuan : Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang
berhubungan dengan motivasi belajar pada siswa kelas VI di SDN Sukaresmi 06
tahun 2019.
Metode : Jenis penelitian ini menggunakan analitik kuantitatif dengan
menggunakan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel
menggunakan simple random sample sebanyak 70 siswa dilaksanakan di SDN
Sukaresmi 06. Instrumen dalam penelitian menggunakan kuesioner, dianalisa
dengan Chi-Square.
Hasil : Hasil penelitian sebagian besar menunjukan siswa motivasi rendah
sebanyak (52.9%), siswa dengan motivasi tinggi ada sebanyak (47,1%). pengaruh
dukungan keluarga rata-rata sebanyak (50%), pengaruh teman sebaya tidak ada
pengaruh sebanyak (54.3%), pengaruh teknologi rata-rata sebanyak (50%), dan
pengaruh dari karakteristik responden (jenis kelamin) rata-rata sebanyak (50%).
Hasil analisa ada hubungan motivasi belajar dengan dukungan keluarga, ada
hubungan motivasi belajar dengan pengaruh teknologi dan ada hubungan motivasi
belajar dengan pengaruh teman sebaya.
Saran : Diharapkan agar siswa mampu dapat meningkatkan motivasi belajarnya
untuk prestasi belajar masa depan dan diharapkan agar dari berbagai faktor yang
mempengaruhi motivasi belajar siswa baik dari dukungan keluarga, pengaruh
teman sebaya dan pengaruh teknologi mampu menjadi acuan siswa dalam
menerapkan dan meningkatkan motivasi belajar.
BookOpen AccessMetadata saja
2019•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Perilaku kekerasan tawuran hingga saat ini semakin meningkat,
Berdasarkan data informasi Kemenpora tahun 2009 kenakalan remaja tertinggi
tercatat di Provinsi Jawa Barat sebesar 10 kejadian, 23 pelajar terlibat tawuran
yang berasal dari dua sekolah, yakni SMKN 1 Kota Cirebon dan SMK Nasional
Kota Cirebon. Di Cirebon Jawa Barat sedikitnya 250 pelajar sekolah menengah
kejuruan (SMK) yang terlibat tawuran dan sekolah yang terlibat tawuran yang
mayoritas siswanya laki-laki.
Tujuan : untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku
kekerasan tawuran pada siswa SMK Dwi Bhakti Ciledug Kabupaten Cirebon
tahun 2018.
Metode : Metode penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan pendekatan
cross sectional. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI SMK Dwi Bhakti
Ciledug Kabupaten Cirebon Tahun 2018. Teknik pengambilan sampel dengan
menggunakan total sampling dengan jumlah responden sebanyak 208 orang. Alat
ukur yang digunakan adalah kuesioner dan uji statistik menggunakan chi square.
Hasil : Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku
kekerasan tawuran (p = 0,021 < α=0,05), sikap (p = 0,043 < α=0,05), pola asuh
orang tua (p = 0,029 < α=0,05), pengaruh teman sebaya (p = 0,021 < α=0,05).
Kesimpulan : remaja dengan pengetahuan baik mempunyai efek proteksi
terhadap perilaku kekerasan tawuran dibandingkan remaja dengan pengetahuan
kurang baik, remaja dengan sikap baik mempunyai efek proteksi terhadap perilaku
kekerasan tawuran dibandingkan remaja dengan sikap kurang baik, remaja dengan
pola asuh orang tua baik mempunyai efek proteksi terhadap perilaku kekerasan
tawuran dibandingkan remaja dengan pola asuh orang tua kurang baik, remaja
dengan tidak terpengaruh teman sebaya mempunyai resiko terhadap perilaku
kekerasan tawuran dibandingkan remaja dengan terpengaruh teman sebaya.
Saran : Diharapkan untuk mengurangi perilaku kekerasan tawuran khususnya
bagi responden disarankan untuk lebih berhati-hati dalam bergaul dengan
siapapun itu, saling menghargai, berperilaku sopan dan menerapkan moral yang
baik, terus mencari tahu dampak dan bahaya dari tawuran serta mengisi waktu
yang senggang dengan kegiatan yang positif seperti belajar kelompok.