ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menunda, memperlambat dan mencegah terjadinya reaksi oksidasi dari radikal bebas. Daun sirih (Piper betle L.) dan senyawa kurkumin merupakan antioksidan non-enzimatik dengan aktivitas antioksidan yang tinggi (kurang dari 50 ppm). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi aktivitas antioksidan dari kombinasi kurkumin β-siklodekstrin dan ekstrak daun sirih (Piper betle L.) dengan metode DPPH. Metode yang digunakan untuk uji aktivitas antioksidan adalah metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Pengujian dilakukan dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis diukur absorbansinya pada panjang gelombang 517 nm yang merupakan panjang gelombang sinar tampak. Hasil dari penelitian ini di dapatkan nilai IC50 senyawa tunggal kurkumin β–siklodekstrin yang di dapat adalah 5,01 ppm dan nilai IC50 ekstrak daun sirih yaitu 7,50 ppm. Untuk nilai IC50 senyawa uji kombinasi kurkumin β–siklodekstrin dan ekstrak daun sirih 1:1 1:2 2:1 berturut-turut adalah sebesar 6,44 ppm, 13,11 ppm, dan 5,66 ppm. Nilai IC50 yang diperoleh pada penelitian ini masuk ke dalam kategori sangat kuat yaitu 50 ppm. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kombinasi kurkumin β–siklodekstrin dan ekstrak daun sirih memiliki potensi antioksidan yang tidak lebih baik dari senyawa tunggalnya.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Paparan asap rokok memicu produksi radikal bebas berlebih yang menimbulkan stres oksidatif dan kerusakan jaringan paru, sejalan dengan tingginya insiden kanker paru di Indonesia menurut data World Cancer Research Fund. Kulit pisang raja (Musa × paradisiaca L.), yang selama ini hanya menjadi limbah organik, dilaporkan mengandung senyawa bioaktif antioksidan seperti flavonoid, tanin, dan saponin dengan aktivitas antioksidan kuat sebagaimana ditunjukkan pada kajian terdahulu terhadap ekstrak etanol kulit pisang raja. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol 96% kulit pisang raja terhadap gambaran histopatologi paru mencit putih (Mus musculus) yang dipapar asap rokok pada tiga variasi dosis, yaitu 42, 63, dan 84 mg/kg bb. Penelitian bersifat eksperimental in vivo menggunakan mencit jantan yang dibagi menjadi kelompok kontrol normal, kontrol negatif, kontrol positif (vitamin C), dan tiga kelompok perlakuan dosis, dengan parameter histopatologi berupa hemoragi, infiltrasi sel radang, dan penebalan septa alveoli. Ekstrak diperoleh melalui maserasi dengan rendemen 14,67% serta telah memenuhi sebagian besar parameter standarisasi, dan skrining fitokimia menunjukkan adanya alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Hasil skoring histopatologi menunjukkan skor kerusakan paru pada kelompok perlakuan (rata-rata 1,0-1,7) secara konsisten lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol negatif (2,3), dengan pola dose-response yang jelas, di mana dosis 84 mg/kg bb memberikan efek protektif paling optimal (skor rata-rata 1,0) dan mendekati kelompok kontrol positif (0,5). Disimpulkan bahwa ekstrak etanol 96% kulit pisang raja memiliki efek protektif terhadap kerusakan histopatologi paru mencit akibat paparan asap rokok secara dose-dependent, dengan dosis 84 mg/kg bb sebagai dosis paling optimal.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Kulit pisang raja (Musa x paradisiaca L.) merupakan limbah pertanian yang mengandung senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik ekstrak etanol 96% kulit pisang raja serta aktivitas antioksidannya menggunakan metode DPPH dan ABTS, dan membandingkan nilai IC50 yang diperoleh dari kedua metode. Simplisia diperoleh melalui liofilisasi, kemudian diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Ekstrak memiliki rendemen 14,67%, berbentuk kental, berwarna hijau kecoklatan, berbau khas, dan mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin, sedangkan steroid tidak terdeteksi. Parameter mutu ekstrak memenuhi persyaratan kadar sari larut etanol (60%) dan kadar abu (1,5%), namun susut pengeringan (48%) tidak memenuhi persyaratan. Hasil kromatografi lapis tipis menunjukkan nilai Rf ekstrak yang mendekati standar kuersetin. Nilai IC50 metode DPPH sebesar 58,522±0,016 ppm dan metode ABTS sebesar 59,300±0,169 ppm, keduanya termasuk kategori antioksidan kuat. Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua metode (p=0,109). Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 96% kulit pisang raja memiliki aktivitas antioksidan kuat dengan hasil pengukuran yang sebanding antara metode DPPH dan ABTS.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Paparan asap rokok menghasilkan radikal bebas yang dapat memicu stres oksidatif dan menyebabkan kerusakan jaringan paru. Kulit pisang raja (Musa × paradisiaca L.) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, alkaloid, dan saponin yang berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak kulit pisang raja menjadi sediaan tablet hisap nutraseutikal, mengevaluasi mutu fisik dan tingkat penerimaan sediaan, serta mengetahui efek protektifnya terhadap histopatologi paru mencit yang dipapar asap rokok. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental in vivo dengan desain post-test only control group design. Ekstrak kulit pisang raja diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 96% dan diformulasikan menjadi tiga formula tablet hisap dengan konsentrasi ekstrak 20%, 25%, dan 30%. Evaluasi yang dilakukan meliputi uji sifat fisik tablet, uji hedonik, serta pengamatan histopatologi paru berdasarkan skor hemoragi, infiltrasi sel radang, dan penebalan septa alveoli. Data dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA yang dilanjutkan dengan Post Hoc Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit pisang raja mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin dengan rendemen sebesar 14,47%. Seluruh formula memenuhi persyaratan evaluasi sifat fisik, kecuali Formula III pada uji kekerasan. Uji hedonik menunjukkan bahwa seluruh formula dapat diterima oleh panelis dan Formula II memperoleh tingkat penerimaan terbaik. Pengamatan histopatologi menunjukkan bahwa Formula III memberikan skor kerusakan paru terendah dibandingkan kelompok perlakuan lainnya. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan bermakna antar kelompok (p=0,000), dan uji Tukey HSD menunjukkan bahwa Formula III memberikan efek protektif yang lebih baik dibandingkan Formula I serta tidak berbeda bermakna dengan kelompok kontrol positif dan kelompok normal.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan tablet hisap ekstrak kulit pisang raja (Musa x paradisiaca L.) dengan variasi konsentrasi ekstrak 20%, 25%, dan 30%, mengevaluasi profil disolusi dan kinetika pelepasannya, serta mengetahui aktivitas antioksidannya menggunakan metode DPPH. Tablet hisap dibuat dengan metode granulasi basah karena ekstrak yang digunakan bersifat kental. Sebelum formulasi, dilakukan determinasi tanaman dan skrining fitokimia ekstrak. Evaluasi yang dilakukan meliputi uji sifat fisik granul (laju alir, sudut diam, kadar air, dan kompresibilitas), uji disolusi dan analisis kinetika pelepasan zat aktif, serta uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dengan parameter nilai IC₅₀. Data aktivitas antioksidan dianalisis menggunakan uji One-way ANOVA dengan taraf signifikansi <0,05.
Hasil determinasi tanaman mengonfirmasi bahwa sampel merupakan kulit buah pisang raja (Musa x paradisiaca L.) famili Musaceae, dan skrining fitokimia menunjukkan ekstrak positif mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memenuhi persyaratan evaluasi granul. Hasil uji disolusi menunjukkan bahwa Formula I mengikuti pola kinetika orde nol, sedangkan Formula II dan Formula III mengikuti pola Korsemeyer-Peppas, dengan nilai %disolusi yang belum menunjukkan pelepasan zat aktif secara optimal. Hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa seluruh formula memiliki aktivitas antioksidan kategori kuat dengan nilai IC₅₀ Formula I sebesar 62,137 ppm, Formula II sebesar 62,013 ppm, dan Formula III sebesar 60,859 ppm. Hasil analisis One-way ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antar formula (p<0,05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak kulit pisang raja berpengaruh terhadap aktivitas antioksidan tablet hisap, dengan Formula III sebagai formula terbaik karena memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Perubahan iklim global dan meningkatnya tingkat polusi di kawasan industri seperti Cikarang telah memperparah paparan radikal bebas dan sinar ultraviolet (UV) yang dapat membahayakan kesehatan kulit. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pemanfaatan bahan alam yang memiliki kandungan antioksidan serta efek fotoprotektif menjadi solusi potensial. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antioksidan dan nilai Sun Protection Factor (SPF) antara ekstrak dan ekstrak terpurifikasi daun mangga (Mangifera indica L.). Ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%, kemudian dilanjutkan dengan proses pemurnian menggunakan pelarut n-heksana. Aktivitas antioksidan dianalisis menggunakan metode DPPH untuk memperoleh nilai IC₅₀, sedangkan pengujian SPF dilakukan secara in vitro dengan spektrofotometer UV-Vis melalui metode Mansur.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak terpurifikasi memiliki nilai IC₅₀ sebesar 23,11 ± 0,39 ppm, lebih rendah dibandingkan ekstrak tanpa pemurnian yang mencapai 48,28 ± 0,61 ppm, yang keduanya termasuk dalam kategori aktivitas antioksidan sangat kuat. Nilai SPF tertinggi juga diperoleh pada ekstrak terpurifikasi, yaitu 44,89 ± 0,063 pada konsentrasi 12000 ppm, dan tergolong sebagai proteksi tinggi, sedangkan ekstrak biasa memiliki nilai SPF sebesar 30,23 ± 0,056. Berdasarkan hasil tersebut, pemurnian ekstrak terbukti mampu meningkatkan efektivitas antioksidan dan kemampuan perlindungan terhadap sinar UV. Dengan demikian, ekstrak terpurifikasi daun mangga berpotensi dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan aktif alami dalam formulasi produk kosmetik dan farmasi yang berfungsi sebagai antioksidan sekaligus tabir surya.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Paparan sinar ultraviolet yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan kulit seperti penuaan dini dan kanker kulit. Tanaman jambu air (Syzygium aqueum (Burm.f) Alston) diketahui mengandung senyawa aktif seperti flavonoid dan vitamin C yang berpotensi sebagai fotoprotektor dan antioksidan alami. Proses purifikasi ekstrak dilakukan untuk meningkatkan kadar senyawa aktif yang berkontribusi terhadap efektivitas perlindungan tersebut. Tujuan: Mengetahui perbedaan nilai Sun Protection Factor (SPF) dan aktivitas antioksidan (IC₅₀) antara ekstrak terpurifikasi dan ekstrak kental daun jambu air. Metode: Penelitian ini bersifat eksperimental in vitro dengan pendekatan kuantitatif. Pengujian nilai SPF dilakukan dengan metode Mansur menggunakan spektrofotometer UV-Vis, sedangkan aktivitas antioksidan diuji menggunakan metode DPPH. Data dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA melalui SPSS. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa pada konsentrasi 10.000 ppm, ekstrak terpurifikasi memiliki nilai SPF 43,98 ± 0,559, sedangkan ekstrak kental 28,00 ± 0,409. Aktivitas antioksidan keduanya tergolong sangat kuat, dengan nilai IC₅₀ masing-masing 1,518 µg/mL dan 3,893 µg/mL.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Paparan sinar matahari secara terus menerus tanpa perlindungan dapat mengakibatkan kulit
menjadi kemerahan, kusam atau hiperpigmentasi, hingga dapat menyebabkan resiko kanker
kulit. Salah satu nilai ukur efektivitas fotoproteksi dari sediaan losio berupa nilai SPF (Sun
Protection Factor) dan aktivitas antioksidan yang dimanfaatkan sebagai tabir surya. Salah satu
pemanfaatan bahan alami yang akan digunakan dalam sediaan losio yaitu ekstrak etanol daun
kersen (Muntingia calabura L.) dan ekstrak etanol daun pegagan (Centella asiatica). Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui nilai SPF (Sun Protection Factor) dan nilai antioksidan sediaan
losio kombinasi ekstrak etanol daun kersen (Muntingia calabura L.) dan ekstrak etanol daun
pegagan (Centella asiatica). Jenis penelitian ini kuantitatif dan kualitatif dengan metode
eksperimental secara in vitro, populasi daun kersen (Muntingia calabura L) tua dan daun
pegagan (Centella asiatica) muda yang terdapat di daerah Cikarang Timur, kabupaten Bekasi,
Jawa barat. Nilai SPF (Sun Protection Factor) sediaan losio kombinasi ekstrak etanol daun
kersen (Muntingia calabura L.) dan ekstrak etanol daun pegagan (Centella asiatica) terbaik
pada formula F3 sebesar 14,23+-0.5001 dan Nilai antioksidan sediaan losio kombinasi ekstrak
etanol daun kersen (Muntingia calabura L.) dan ekstrak etanol daun pegagan (Centella
asiatica) terbaik pada formula F3 sebesar 3,866 ng/mL.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menunda, memperlambat dan mencegah terjadinya reaksi oksidasi dari radikal bebas. Daun sirih (Piper betle L.) dan senyawa kurkumin merupakan antioksidan non-enzimatik dengan aktivitas antioksidan yang tinggi (kurang dari 50 ppm). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi aktivitas antioksidan dari kombinasi kurkumin b-siklodekstrin dan ekstrak daun sirih (Piper betle L.) dengan metode DPPH. Metode yang digunakan untuk uji aktivitas antioksidan adalah metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Pengujian dilakukan dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis diukur absorbansinya pada panjang gelombang
517 nm yang merupakan panjang gelombang sinar tampak. Hasil dari penelitian ini di dapatkan nilai IC 50 senyawa tunggal kurkumin b- siklodekstrin yang di dapat adalah 5,01 ppm dan nilai IC50 ekstrak daun sirih yaitu 7,50 ppm. Untuk nilai IC50 senyawa uji kombinasi kurkumin b- siklodekstrin dan ekstrak daun sirih 1:1 1:2 2:1 berturut-turut adalah sebesar 6,44 ppm, 13,11 ppm, dan 5,66 ppm. Nilai IC50 yang diperoleh pada penelitian ini masuk ke dalam kategori sangat kuat yaitu <50 ppm. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kombinasi kurkumin b- siklodekstrin dan ekstrak daun sirih memiliki potensi antioksidan yang tidak lebih baik dari senyawa tunggalnya.