BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Paparan asap rokok memicu produksi radikal bebas berlebih yang menimbulkan stres oksidatif dan kerusakan jaringan paru, sejalan dengan tingginya insiden kanker paru di Indonesia menurut data World Cancer Research Fund. Kulit pisang raja (Musa × paradisiaca L.), yang selama ini hanya menjadi limbah organik, dilaporkan mengandung senyawa bioaktif antioksidan seperti flavonoid, tanin, dan saponin dengan aktivitas antioksidan kuat sebagaimana ditunjukkan pada kajian terdahulu terhadap ekstrak etanol kulit pisang raja. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol 96% kulit pisang raja terhadap gambaran histopatologi paru mencit putih (Mus musculus) yang dipapar asap rokok pada tiga variasi dosis, yaitu 42, 63, dan 84 mg/kg bb. Penelitian bersifat eksperimental in vivo menggunakan mencit jantan yang dibagi menjadi kelompok kontrol normal, kontrol negatif, kontrol positif (vitamin C), dan tiga kelompok perlakuan dosis, dengan parameter histopatologi berupa hemoragi, infiltrasi sel radang, dan penebalan septa alveoli. Ekstrak diperoleh melalui maserasi dengan rendemen 14,67% serta telah memenuhi sebagian besar parameter standarisasi, dan skrining fitokimia menunjukkan adanya alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Hasil skoring histopatologi menunjukkan skor kerusakan paru pada kelompok perlakuan (rata-rata 1,0-1,7) secara konsisten lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol negatif (2,3), dengan pola dose-response yang jelas, di mana dosis 84 mg/kg bb memberikan efek protektif paling optimal (skor rata-rata 1,0) dan mendekati kelompok kontrol positif (0,5). Disimpulkan bahwa ekstrak etanol 96% kulit pisang raja memiliki efek protektif terhadap kerusakan histopatologi paru mencit akibat paparan asap rokok secara dose-dependent, dengan dosis 84 mg/kg bb sebagai dosis paling optimal.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Kulit pisang raja (Musa x paradisiaca L.) merupakan limbah pertanian yang mengandung senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik ekstrak etanol 96% kulit pisang raja serta aktivitas antioksidannya menggunakan metode DPPH dan ABTS, dan membandingkan nilai IC50 yang diperoleh dari kedua metode. Simplisia diperoleh melalui liofilisasi, kemudian diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Ekstrak memiliki rendemen 14,67%, berbentuk kental, berwarna hijau kecoklatan, berbau khas, dan mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin, sedangkan steroid tidak terdeteksi. Parameter mutu ekstrak memenuhi persyaratan kadar sari larut etanol (60%) dan kadar abu (1,5%), namun susut pengeringan (48%) tidak memenuhi persyaratan. Hasil kromatografi lapis tipis menunjukkan nilai Rf ekstrak yang mendekati standar kuersetin. Nilai IC50 metode DPPH sebesar 58,522±0,016 ppm dan metode ABTS sebesar 59,300±0,169 ppm, keduanya termasuk kategori antioksidan kuat. Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua metode (p=0,109). Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 96% kulit pisang raja memiliki aktivitas antioksidan kuat dengan hasil pengukuran yang sebanding antara metode DPPH dan ABTS.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Paparan asap rokok menghasilkan radikal bebas yang dapat memicu stres oksidatif dan menyebabkan kerusakan jaringan paru. Kulit pisang raja (Musa × paradisiaca L.) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, alkaloid, dan saponin yang berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak kulit pisang raja menjadi sediaan tablet hisap nutraseutikal, mengevaluasi mutu fisik dan tingkat penerimaan sediaan, serta mengetahui efek protektifnya terhadap histopatologi paru mencit yang dipapar asap rokok. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental in vivo dengan desain post-test only control group design. Ekstrak kulit pisang raja diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 96% dan diformulasikan menjadi tiga formula tablet hisap dengan konsentrasi ekstrak 20%, 25%, dan 30%. Evaluasi yang dilakukan meliputi uji sifat fisik tablet, uji hedonik, serta pengamatan histopatologi paru berdasarkan skor hemoragi, infiltrasi sel radang, dan penebalan septa alveoli. Data dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA yang dilanjutkan dengan Post Hoc Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit pisang raja mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin dengan rendemen sebesar 14,47%. Seluruh formula memenuhi persyaratan evaluasi sifat fisik, kecuali Formula III pada uji kekerasan. Uji hedonik menunjukkan bahwa seluruh formula dapat diterima oleh panelis dan Formula II memperoleh tingkat penerimaan terbaik. Pengamatan histopatologi menunjukkan bahwa Formula III memberikan skor kerusakan paru terendah dibandingkan kelompok perlakuan lainnya. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan bermakna antar kelompok (p=0,000), dan uji Tukey HSD menunjukkan bahwa Formula III memberikan efek protektif yang lebih baik dibandingkan Formula I serta tidak berbeda bermakna dengan kelompok kontrol positif dan kelompok normal.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan tablet hisap ekstrak kulit pisang raja (Musa x paradisiaca L.) dengan variasi konsentrasi ekstrak 20%, 25%, dan 30%, mengevaluasi profil disolusi dan kinetika pelepasannya, serta mengetahui aktivitas antioksidannya menggunakan metode DPPH. Tablet hisap dibuat dengan metode granulasi basah karena ekstrak yang digunakan bersifat kental. Sebelum formulasi, dilakukan determinasi tanaman dan skrining fitokimia ekstrak. Evaluasi yang dilakukan meliputi uji sifat fisik granul (laju alir, sudut diam, kadar air, dan kompresibilitas), uji disolusi dan analisis kinetika pelepasan zat aktif, serta uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dengan parameter nilai IC₅₀. Data aktivitas antioksidan dianalisis menggunakan uji One-way ANOVA dengan taraf signifikansi <0,05.
Hasil determinasi tanaman mengonfirmasi bahwa sampel merupakan kulit buah pisang raja (Musa x paradisiaca L.) famili Musaceae, dan skrining fitokimia menunjukkan ekstrak positif mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memenuhi persyaratan evaluasi granul. Hasil uji disolusi menunjukkan bahwa Formula I mengikuti pola kinetika orde nol, sedangkan Formula II dan Formula III mengikuti pola Korsemeyer-Peppas, dengan nilai %disolusi yang belum menunjukkan pelepasan zat aktif secara optimal. Hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa seluruh formula memiliki aktivitas antioksidan kategori kuat dengan nilai IC₅₀ Formula I sebesar 62,137 ppm, Formula II sebesar 62,013 ppm, dan Formula III sebesar 60,859 ppm. Hasil analisis One-way ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antar formula (p<0,05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak kulit pisang raja berpengaruh terhadap aktivitas antioksidan tablet hisap, dengan Formula III sebagai formula terbaik karena memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi