Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Koleksi Perpustakaan

Koleksi otomatis dari Perpustakaan

10.659 item publik

Publikasi

Halaman 484 dari 533

Faktor Risiko Terjadinya Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan di Wilayah Desa Karang Satu Kecamatan Karang Bahagia Tahun 2019

Rizqa Aulia Prasiwi; Triseu Setianingsih
2020 · Book · Open Access

Stunting adalah tinggi Badan dibawah persentil-ketiga, yang sesuai dengan nilai 1,9 atau dibulatkan menjadi 2 Standar Deviasi. Stunting dapat dilihat dari tinggi badan menurut umur serta dapat menyebabkan gangguan Intelligence Quotient, perkembangan psikomotor, kemampuan motorik, dan integrasi neurosensori. Desain dalam penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan rancangan case control. Populasi dalam penelitian ini yaitu ibu di Desa Karang Satu yang memiliki balita usia 24-59 bulan sebanyak 36 responden. Jumlah sampel sebanyak 36 responden dengan teknik pengambilan sampel Total Sampling, menggunakan data primer, data diolah dengan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian didapatkan variabel pendidikan (P.value=0,041), pendapatan (P.value=0,018), asupan makanan (P.value=0,007), riwayat BBLR (P.value=0,018), riwayat penyakit (P.value=0,037), riayat ASI Eksklusif (P.value=0,000), yang kurang dari nilai alpha (0,05). Kesimpulannya ada hubungan antara pendidikan, pendapatan, asupan makanan, riwayat BBLR, riwayat penyakit, riwayat ASI Eksklusif terhadap kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di Desa Karang Satu tahun 2019. Saran diharapkan ibu menambah wawasan maupun pengetahuan tentang kebutuhan anak dalam proses tumbuh kembang, serta dapat menentukan sikap dan perilaku yang tepat dalam merawat anak sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian HIV/AID di RSUD Kabupaten Bekasi Tahun 2016

Ika Kania Fatdo Wardani; Novita Yunior
2020 · Book · Open Access

Perkembangan kasus di Indonesia pun memperhatikan peningkatan yang semakin pesat, kasus HIV/AIDS di Indonesia, di temukan pertama kali pada tahun 1987 hingga saat ini menyebar 1987 hingga saat ini menyebar di 386 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Menurut penelitian, risiko paling tinggi untuk terinfeksi HIV/AIDS yaitu perempuan pekerja seks. Hasil penelitian di Moscow menemukan 79 % dari perempuan pengidap HIV berasal dari kelompok pekerja seks ( Vilasis –keener A dkk, 2001). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor – faktor yang berhubungan dengan kejadian HIV/AIDS di RSUD Kabupaten Bekasitahun 2016. Penelitian ini menggunaakan metode analitik kuantitatif dengan pendekatan cross secsional dan yaitu sebuah rancangan penelitian dengan melakukan pengukur atau pengamatan pada saat bersamaan atau sekali waktu untuk mengetahui Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian HIV/AIDS di RSUD Kabupaten Bekasi Tahun 2016, dan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Jumlah sampel 323 responden dan populasi 169 responden. Hasil analisis bvariat menunjukan bahwa hasil penelitian ini membuktikan adanya hubungan yang signifkan antara Usia P-Value = 0,039 (P<a 0,05), dan OR 1,812 dan jenis kelamin P-Value = 0,017 (P<a 0,05) dan OR 1,773 pendidikan P-Value = 0,009 (P<a 0,05), dan OR 1,872 heteroseksual P-Value = 0,002 (P<a 0,05), dan OR 2,043 homoseksual P-Value = 0,044 (P<a 0,05), dan OR 1,816 dan biseksual P-Value = 0,012 (P<a 0,05), dan OR 2,087. Tidak ada kesenjangan antara teori dengan peneliti. Kesimpulasn dari peneliti ini ada hubungan antara usia, jenis kelamin, pendidikan, heteroseksual, homoseksual dn biseksual dengan kejadian HIV/AIDS di RSUD Kabupaten Bekasi Saran bagi tenaga kesehatan agar lebih meningkatkan komunikasi, informasi, dan edukasi berupa konseling yang lebih spesifik bagi masyarakat dan terutama bagi yang terinfeksi HIV/AIDS. Meningkatkan kualitas pelayanan khusus dan konseling bagi penderita HIV/AIDS agar psikologis penderita tidak terganggu dan mencegah komplikasi dini sehingga dapat menurunkan angka kejadian HIV/AIDS di Indonesia.

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Diare Pada Balita di Puskesmas Tambelang Tahun 2018

Ida Widaningsih; Novi Ulfiyah
2020 · Book · Open Access

Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak, dengan konsisten feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah. Hal ini karena secara fisiologis sistem pencernaan pada balita belum cukup matur (organ-organnya belum matang), sehingga rentan sekali terkena penyakit saluran pencernaan. Penyakit saluran pencernaan ini dapat disebabkan oleh virus, bakteri dan amoeba atau parasit melalui makanan yang masuk ke dalam tubuh dan juga mal absorpsi serta alergi zat makanan tertentu. Gejala penyerta lain dari diare pada anak balita biasanya ditandai dengan anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan menurun sampai tidak ada nafsu makan. Muntah dapat timbul sebelum atau sesudah diare karena lambung turut meradang akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan utama pada anak khususnya terjadi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2013 menyebutkan angka kematian akibat diare 23 per 100 ribu penduduk dan pada balita 75 per 100 ribu balita. Jumlah kasus diare yang dilaporkan sebanyak 10.980 dan 277 diantaranya menyebabkan kematian. Selama tahun 2010, Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat mencatat angka penderita diare 168.072 orang. Jumlah kematian akibat penyakit diare enam orang. Penderita diare di Kabupaten Bekasi dengan jumlah 38.012 orang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik desain Cross Sectional. Penelitian dilaksanankan di Puskesmas Tambelang, sedangkan proses pengumpulan data dilaksanakan selama bulan Januari – oktober 2017, populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita yang datang ke Puskesmas Tambelang dan sampelnya dihitung dengan cara mengambil seluruh populasi. Sumber data yang diambil dari hasil kuesioner, dimana data tersebut didapat dengan menemui seluruh balita yang datang ke Puskesmas Tambelang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan pendekatan Accidental Sampling Hasil penelitian ini menyimpulkan hal-hal sebagai berikut: ada hubungan antara variabel umur dengan PV: 0,001 dan OR 6,417, status gizi dengan PV: 0,015 dan OR 4,047,cara pemberian makan dengan PV: 0,001 dan OR 6,182 kebiasaan orang tua mencuci tangan dengan PV: 0,008 dan OR 4,971, penghasilan dengan PV: 0,031 dan OR 3,537, sumber air dengan PV: 0,018 dan OR 4,333 Kesimpulan dalam penelitian ini adalah semua variabel independen yang meliputi umur, status gizi, penghasilan, kebiasaan orang tua mencuci tangan, sumber air ada hubungan yang signifikan dengan kejadian diare. Saran dalam penelitian ini adalah agar menambah pengetahuan dengan cara mencari informasi yang tidak didapatkan dari sekolah melalui internet maupun buku referensi. Meningkatkan pola hidup sehat dan menjaga kesehatan dengan cara lebih membiasakan mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Periksa Payudara Sendiri (Sadari) Pada Remaja Putri di SMA/MA Yapink Tambun Selatan

Heru Turdjai; Nurul Syifa
2020 · Book · Open Access

Menurut data WHO (World Health Organization) menunjukkan bahwa 548.000 mortalitas pertahun kanker payudara terjadi pada wanita. Angka penderita penyakit kanker payudara di Kabupaten Bekasi, lebih sedikit pada wanita yang melakukan SADARI di bandingkan yang tidak melakukannya, Perempuan yang terdiagnosa kanker payudara di perkirakan hanya 25% sampai 30% wanita melakukan pemeriksaan payudara sendiri dengan baik dan teratur setiap bulan (Foster dan Constanta Cit Adi 2012). Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku SADARI pada remaja putri di SMA YAPINK Tambun Bekasi tahuyn 2018, yang distribusi frekuensi variabel independen (sikap,pengetahuan,sumber informasi,perhatian orang tua).Jenis penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional. Adapun variabel yang diukur adalah sikap,pengetahuan,sumbewr informasi, perhatian orang tua) Hasil analisis bivariat yaitu sikap sebanyak P Value = 0,015 (P<0,05),pengetahuan sebanyak P Vulue = 0,038 (P<0,05),Sumber informasi sebanyak P Vulue = 0,009 (P<0,05), perhatian orang tua sebanyak P Vulue =0,00 (P<0,05).Kesimpulan penelitian Perilaku Remaja putri tentang SADARI inilah yang akan berpengaruh dalam deteksi dini dan penanggulangan kanker payudara melalui advokasi, sosialisasi termasuk komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) terdapat hubungan anatara Sikap,pengetahuan,sumber informasi,perhatian orang tua di SMA YAPINK Tambun Bekasi dengan nilai P Value = 0,015 (P<0,05), P Vulue = 0,038 (P<0,05), P Vulue = 0,009 (P<0,05),Vulue =0,00 (P<0,05). Saran penelitian yaitu penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan untuk memasukan kurikulum kesehatan reproduksi, siswa lebih dapat meningkatkan sikap terhadap kesehatan alat reproduksi, meningkatkan pengetahuan, dengan cara mencari sumber informasi yang baik dan akurat serta dapat menerima perhatian yang baik dari orang tua, Agar penelitian yang akan datang melakukan penelitian pada variabel-variabel lain yang berkaitan dengan perilaku Sadari pada remaja yang belum diteliti oleh peneliti, meningkatkan mutu pendidikan bagi mahasiswa kebidanan khususnya tentang kesehatan reproduksi, dan bermanfaat bagi tenagakesehatan.

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Pernikahan Dini Pada Remaja Putri di Dusun III Desa Karang Baru Kab. Bekasi Tahun 2018

Neneng Julianti; Resti Amalia
2020 · Book · Open Access

Berdasarkan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bahwa tingkat pernikahan dini di Jawa Barat tahun 2014 jumlah pasangan usia perkawinan mencapai 50% dari total pasangan usia subur (PUS) yakni sekitar 9 juta pasangan. Dari Studi Pendahuluan yang di lakukan di Dusun III Desa Karang Baru pada 110 Remaja putri ternyata 67 orang telah melakukan pernikahan dini . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian pernikahan dini pada remaja puteri di Dusun III Desa Karang Baru Kabupaten Bekasi 2018. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Dengan jumlah populasi 110 orang remaja putri di dusun III Desa Karang Baru dan didapatkan hasil 67 orang remaja puteri yang menikah dini. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner. Analisis yang dilakukan analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji chi-square. Hasil Penelitian ini menyimpulkan bahwa ada hubungan bermakna Antara Pengetahuan (P-Value = 0,022), Pendidikan (P-Value = 0,003), Status Ekonomi(P-Value = 0,001), Lingkungan (P-Value=0,032), Teman Sebaya (P-Value=0,014), Sumber Informasi (P-Value 0,020) dengan kejadian pernikahan dini di Dusun III Desa Karang Baru Kab.Bekasi tahun 2018. Dari 6 Variabel yang di teliti (Pengetahuan, Pendidikan,Status Ekonomi,Lingkungan,Teman Sebaya, Sumber Informasi) hasilnya berhubungan dengan kejadian pernikahan dini pada remaja putri di Dusun III Desa Karang Baru.Saran dengan Adanya kerja sama antara remaja, pihak desa sarimukti dan pihak dari luar seperti Institusi diharapkan kejadian pernikahan dini tidak akan terjadi lagi atau angka kejadiannya dapat menurun drastis.

Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Ketuban Pecah Dini Pada Ibu Hamil di RSUD Kabupaten Bekasi

Eviana Yatiningsih; Rosnia Hari Santi
2020 · Book · Open Access

Kejadian ketuban pecah dini dapat menimbulkan beberapa masalah bagi ibu maupun janin, misalnya pada ibu dapat menyebabkan infeksi puerperalis/masa nifas, dry labour/partus lama, dapat pula menimbulkan perdarahan post partum, morbiditas dan mortalitas maternal, bahkan kematian. Kasus Ketuban Pecah Dini (KPD) di RSUD Kabupaten Bekasi pada tahun 2016 sebanyak 120 kasus dari 488 persalinan (24%) pada tahun 2017 dari bulan januari sampai bulan juni angka kejadian ketuban pecah dini sebanyak 187 kasus dari 506 persalinan (36%). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara kejadian ketuban pecah dini dengan usia ibu, paritas, pekerjaan, infeksi di RSUD Kabupaten Bekasi tahun 2018. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin di RSUD Kabupaten Bekasi tahun 2017 yaitu 506 ibu bersalin. Sampel yang digunakan adalah seluruh ibu bersalin dengan ketuban pecah dini pada tahun 2017 dengan jumlah 187 kejadian. Didapatkan 187 sampel total yang mengalami KPD sehingga ditemukan pembanding atau non sampelnya 187 ibu bersalin. Sumber data didapat dari rekam medik (data sekunder). Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan analisis bivariat. Hasil penelitian Uji Statistic Chi-Square berdasarkan analisis univariat didapatkan bahwa sebagian kecil ibu bersalin di RSUD Kabupaten Bekasi mengalami ketuban pecah dini yaitu sebanyak 187 orang (50%) termasuk dalam kategori usia ibu beresiko sebanyak 183 (48,9), mengalami paritas primi dan grande sebanyak 165 orang (44,1%), bekerja sebanyak 165 (44,1), mengalami infeksi sebanyak 144 (38,5). Berdasarkan analisis bivariat didapatkan hasil bahwa variabel yang berhubungan dengan kejadian ketuban pecah dini adalah usia ibu (p value:0,007;OR:1,789), paritas (p value:0,000;OR:2,157), pekerjaan (p value:0,001;OR:2,063), infeksi (p value:0,000;OR:11,340). Kesimpulan dari 4 variabel yang diteliti (usia ibu, paritas, pekerjaan, infeksi) hasilnya berhubungan dengan kejadian ketuban pecah dini pada ibu hamil di RSUD Kabupaten Bekasi. Saran yang diharapkan dapat meningkatkan frekuensi dan kualitas promosi kesehatan tentang penanggulangan ketuban pecah dini pada ibu bersalin.

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Jadwal Kunjungan Ulang Kontrasepsi Suntik DMPA di RB Rhaudatunnadya

Herlina Simanjuntak; Siti Nurhabibah
2020 · Book · Open Access

DMPA (Depo Medroxy Progesterone Asetat) merupakan kontrasepsi suntik yang hanya mengandung progestin diberikan setiap 3 bulan. Kontrasepsi suntik DMPA sangat efektif, aman, dapat dipakai oleh semua perempuan dalam usia reprodksi tetapi jika jadwal yang ditentukan tidak dipatuhi maka risiko kegagalan akan meningkat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan jadwal kunjungan ulang kontrasepsi suntik DMPA di RB Rhaudatunnadya Cikarang tahun 2018. Penelitian ini menggunakan desain analitik kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang melakukan kunjungan ulang kontrasepsi suntik DMPA di RB Rhaudatunnadya, menggunakan metode pengambilan sample acidental sampling dengan jumlah sampel 145 responden. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data berupa analisis univariat dan bivariat, dengan uji chi-square. Hasil penelitian di dapatkan ada hubungan antara pengetahuan dengan P Value 0,009<a 0,05 dan OR 3,762, pendidikan dengan P Value 0,039<a 0,05 dan OR 2,560, sikap dengan P Value 0,002 dan OR 4,018 dan dukungan suami dengan P Value 0,000 dan OR 22,239 dengan kepatuhan kunjungan ulang kontrasepsi suntik DMPA di RB Rhaudatunnadya 2018. Kesimpulan : dari 4 variabel yang diteliti diantaranya pengetahuan, pendidikan, sikap dan dukungan suami memiliki hubungan yang signifikan terhadap faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan jadwal kunjungan ulang. Saran tenaga kesehatan harus menekankan dampak yang akan terjadi yaitu kegagalan dari kontrasepsi jika akseptor KB tidak mematuhi jadwal suntik KB yang telah ditentukan serta dukungan suami juga memiliki andil besar agar ibu patuh dalam melakukan kunjungan ulang kontrasepsi suntik DMPA.

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI Eksklusif Pada Bayi Usia >6-12 Bulan di Desa Sukarapih Kecamatan Tambelang Kabupaten Bekasi

Hajar Nur Fathur Rohmah; Soliha
2020 · Book · Open Access

ASI ekslusif atau lebih tepat pemberian ASI (Air susu ibu) secara ekslusif adalah bayi hanya diberi ASI saja, sejak lahir (post natal) sampai usia 6 bulan, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, sari buah, air putih, madu, air teh, dan tanpa tambahan makanan seperti buah-buahan, biskuit, bubur susu, bubur nasi, nasi tim, dan sebaginya ( Depkes RI, 1992 ). Dampak bayi yang tidak diberikan ASI secara penuh sampai pada usia 6 bulan pertama kehidupan memiliki resiko diare yang parah dan fatal. Resiko tersebut 30 kali lebih besar dari pada bayi yang diberi ASI secara penuh. Dan bayi tidak diberikan ASI eksklusif, memiliki risiko kematian lebih besar karena terjadinya malnutrisi (Kemenkes, 2010). Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2016 masih menunjukkan rata-rata angka pemberian ASI eksklusif di dunia baru berkisar 38 persen. Di Indonesia pemberian ASI Eksklusif mencapai 29,5% khususnya di Provinsi Jawa Barat. (Kemenkes RI, 2016). Di puskesmas Tambelang pada tahun 2017 mencapai 22,7% dan di desa sukarapih pada bulan Februari mencapai 15%, bulan Agustus mencapai 12% (Rekam Medis Puskesmas Tambelang,2017). Capaian ini belum mencapai target seperti yang di harapkan yaitu 50% menurut WHO dan menurut departemen kesehatan yaitu sebesar 80%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif di Desa Sukarapih Kecamatan Tambelang Kabupaten Bekasi Jawa Barat Tahun 2018 yang ditinjau dari variabel pengetahuan, pekerjaan, paritas, promosi susu formula, manajemen laktasi, dukungan suami, dukungan keluarga, dukungan tenaga kesehatan. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional data primer dengan menggunakan kuesioner sebanyak 115 responden. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji chi-Square dengan α =0.05 dan penentuan Odds Rasio (OR). Hasil penelitian didapatkan bahwa faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif adalah pengetahuan ( Pvalue=0,001, OR=4,067). pekerjaan (Pvalue = 0,001,OR=3,880), paritas (Pvalue = 0,016, OR=2,732), promosi susu formula (P value = 0,002,OR=3,619).,Manajeman laktasi (P Value = 0,002. OR=3,475). Dukungan suami (PValue =0,001, OR=4,153). Dukungan keluarga (Pvalue =0,001, OR=3,880), dukungan tenaga kesehatan (Pvalue =0,002, OR=3,475). Kesimpulan bahwa sebagian besar para suami tidak memberikan dukungan terhadap pemberian ASI eksklusif. perlu meningkatkan kesadaran serta pengetahuan tentang ASI ekslusif, yang memiliki pekerjaan baik pekerjaan rumah maupun pekerjaan kantor ASI eksklusif masi dapat diberikan dengan cara pemberian ASI yang telah diperah sebelumnya. Kata Kunci : ASI Eksklusif, Pengetahuan, Pekerjaan, Paritas, Promosi susu formula, Manajemen laktasi, Dukungan suami, Dukungan keluarga, Dukungan tenaga kesehatan

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Perilaku Seksual Remaja Di SMAN 1 Tambelang Kabupaten Bekasi Tahun 2018

Hajar Nur Fathur Rohmah; Sri Devi
2020 · Book · Open Access

Kasus perilaku seksual remaja di indonesia meningkat setiap tahunnya. Data BKKBN 2011 menemukan sebanyak 51% siswi dijabodetabek pernah melakukan hubungan seksual pranikah, Di Surabaya remaja yang keperawanannya sudah hilang mencapai 54%, di Medan 52%, Bandung 47%, dan Yogyakarta 37%. Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku seksual remaja antara lain: pengetahuan yang kurang, pengaruh media informasi, peran orang tua, dan pengaruh teman sebaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual remaja di SMAN I TAMBELANG Kabupaten Bekasi Tahun 2018. Jenis penelitian ini menggunakan teknik analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 140 menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji hipotesis dengan rumus uji chi-square dengan bantuan SPSS 24. Hasil penelitian menunjukan ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku seksual remaja dengan nilai p value = 0,000 dengan nilai pearson chi-square = 17,520. Ada hubungan antara media informasi dengan perilaku seksual remaja dengan nilai p value = 0,000 dengan nilai pearson chi-square = 11,440. Ada hubungan antara peran orang tua dengan perilaku seksual remaja dengan nilai p value = 0,003 dengan nilai pearson chi-square 11,440. Ada hubungan antara pengaruh teman sebaya dengan perilaku seksual remja dengan nilai p value= 0,000 dengan nilai pearson 45,339 Dari hasil penelitian ini diharapkan institusi pendidikan dapat meningkatkan peran edukatif untuk mencegah perilaku seksual remaja, dengan pemberian pendidikan kesehatan dan konseling intensif. Kata Kunci : perilaku seksual remaja, pengetahuan remaja tentang seksual, sumber informasi, peran orang tua, pengaruh teman sebaya.

Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kanker Leher Rahim di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi Tahun 2018

Neneng Julianti; Sri Lestari
2020 · Book · Open Access

Kanker merupakan penyakit yang tidak menular.Penyakit ini timbul akibat kondisi fisik yang tidak normal dan pola hidup yang tidak sehat. Di Indonesia kanker rahim menempati urutan ke 2 terbesar yang menyerang perempuan sebanyak (10,3%) setelah kanker payudara (18,4%).Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kanker leher rahim pada pasangan usia subur di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi tahun 2018. Desain dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik kuantitatif dengan rancangan cross sectional.Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh pasangan usia subur yang datang memeriksakan atau mengobati keadaannya ke poli kebidanan di RSUD dr.Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi sebanyak 889 pasangan usia subur.Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 268 responden dengan teknik pengambilan sampel simple random sampling cara lotre.Penelitian ini menggunakan data sekunder,sedangkan data diolah dengan analisis univariat dan analisis bivariat data dengan menggunakan uji chi square. Hasil penelitian ada hubungan antara usia (P.value= 0,001),paritas (P.value= 0,001),kelebihan berat badan (P.value= 0,02),infeksi klamidia (P.value= 0,039),merokok (P.value= 0,000),riwayat kanker leher rahim pada keluarga (P.value= 0,000).Tidak ada kesenjangan antara factor-faktor yang berhubungan (usia,paritas,kelebihan berat badan,infeksi klamidia,merokok & riwayat kanker leher rahim pada keluarga) dengan teori. Saran diharapkan pasangan usia subur dapat memeriksakan keadaannya dan melakukan skrining sedini mungkin dan bagi RSUD dr.Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi dapat mengadakan poli gynekologi khusus kanker leher rahim agar pasangan usia subur mendapatan pelayanan yang prima sehingga dapat diberikan pengobatan yang tepat demi terwujudnya keluarga yang sehar dan sejahtera.

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Pemilihan Alat Kontrasepsi Suntik 3 Bulan di RB Rhaudatunnadya Tahuun 2018

Eviana Yatiningsih; Tri Rahmawati
2020 · Book · Open Access

Pertumbuhan penduduk yang pesat merupakan suatu masalah yang dihadapi oleh Negara berkembang termasuk negara Indonesia. Pemerintah memalui BKKBN menganjurkan alat kontrasepsi yang baik digunakan untuk menjarangkan kehamilan dan untuk mewujudkan NKKBS adalah alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR), tetapi pada kenyataanya di masyarakat alat kontrasepsi yang paling banyak digunakan adalah kontrasepsi suntik. Penelitian ini bertujuan untuk menegetahui Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemilihan Alat Kontrasepsi Suntik 3 Bulan Depoprogestrin di RB Rhaudatunndya Tahun 2018. Metode penelitian ini bersifat analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional dan pengambilan sampel menggunakan tekhnik accidental sampling. Jumlah populasi dalam penelitian ini seluruh akseptor KB sebanyak 1108 responden dengan besar sampel sebanyak 285 responden. Penelitin ini dilakukan pada bulan maret dan data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner. Analisi data berupa analisis univariat dan bivariat, dengan uji statistik menggunakan rumus chi-square. Hasil univariat menunjukan faktor yang berhubungan pemilihan KB suntik 3 bulan depoprogestrin adalah pengetahuan (p-value = 0,000) < p=0,05) dan OR 3,048, usia ibu (p –value = 0,003) < p=0,05 dan OR 5,071, sumber informasi (p-value=0,043) <P=0,05 dan OR 2,612, status ekonomi (p-value = 0,022) < P=0,05 dan OR 2,217, dukungan suami (p-value = 0,035) dan OR 2,489, dan pengalaman (p-value = 0,002) < p=0,005 dan OR 17,829, dan pendidikan (p-value = 0, 039) < p= 0,05 dan OR 2,051. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah ada hubungan antara pengetahuan,usia,pendidikan, sumber informasi, status ekonomi, dukungan suami, dan pengalaman dengan pemilihan alat kontrasepsi suntik 3 bulan depoprogestrin. Saran dari peneliti diharapkan bagi petugas kesehatan di RB Rhaudatunnadya untuk memberikan informasi kesehatan guna meningkatkan pengetahuan terhadap pasang suami istri yang ingin ber-KB melalui sosialisasi tentang program KB dan pemberian paket edukasi tentang KB

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Lamanya Penyembuhan Luka Jahitan Perineum Pada Ibu Nifas di BPS Hj. Wiwin Wulandari, SST., M.Si Tahun 2018

Hajar Nur Fathur Rohmah; Rika Muzrika
2020 · Book · Open Access

Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara berkembang. Kematian saat melahirkan menjadi faktor utama mortalitas usia muda pada masa puncak produktivitas. Di Indonesia masalah kesehatan ibu dan anak (KIA) masih menjadi suatu masalah kesehatan. Hal ini dikarenakan masih tingginya angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Indonesia. Beberapa faktor penyebab langsung kematian ibu di Indonesia masih di dominasi oleh perdarahan (42%), eklamsia/preeklamsia (13%), abortus (11%), infeksi (10%), partus lama/persalinan macet (9%), dan penyebab lain (15%). Dalam persalinan akan terjadi perlukaan pada perineum baik itu karena robekan spontan maupun episiotomi. Di Indonesia luka perineum di alami oleh 75% ibu melahirkan pervaginam. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka perineum antara lain adalah ibu tidak mengalami kelainan misalnya anemia dan diabetes melitus, kebutuhan gizi ibu tercukupi dilihat dari IMT ibu, pengetahuan ibu mengenai perawatan luka perineum ibu baik, vulva hygiene ibu baik selama masa nifas, ibu melakukan mobilisasi dini 2 jam setelah persalinan pada ibu tidak ada komplikasi (Wiknjosastro, 2007). Penelitian ini menggunakan metode pendekatan Cross sectional. Penelitian dilaksanakan di BPS Hj. Wiwin Wulandari Cikarang Utara Kabupaten Bekasi selama bulan Mei sampai dengan Juni 2018, populasi dalam penelitian ini seluruh ibu nifas yang memiliki luka jahitan perineum di BPS Hj. Wiwin Wulandari Cikarang Utara Kabupaten Bekasi dan jumlah sampel sebanyak 77 responden. Hasil analisa bivariat didapatkan hasil hubungan lama luka perineum dengan pengetahuan ibu nifas statistik diperoleh nilai p = 0,000 P < a 0,05. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan antara pengetahuan, mobilisasi, vulva hygien dan pantang makanan dengan lamanya waktu penyembuhan luka perineum. Saran dalam penelitian ini perlunya peningkatan pengetahuan tentang luka jahitan perineum, pentingnya mobilisasi pada saat masa nifas, pentingnya vulva hygien yang baik dan asupan nutrisi yang baik.

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Keputihan Pada Remaja Putri Kelas XI di SMA Negeri 1 Tambelang

Ari Komariah; Ida Widaningsih
2020 · Book · Open Access

Keputihan merupakan salah satu gangguan klinis yang sering dikeluhkan oleh semua wanita. Bagi remaja putri yang baru memasuki masa pubertas dengan segala bentuk fenomena perubahan pada diri mereka, bila masalah ini tidak ditangani sejak dini akan berdampak negatif dikemudian hari. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sumber informasi, personal hygiene, pembinaan tenaga kesehatan dan dukungan keluarga dengan kejadian keputihan pada remaja putri kelas XI di SMAN 1 Tambelang. Jenis penelitian ini bersifat analitik kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja putri kelas XI di SMAN 1 Tambelang dengan sampel sebanyak 80 orang dengan menggunakan teknik pengambilan sampel proportionate stratified random sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Hasil penelitian di dapatkan ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian keputihan p value = 0,000 dan nilai OR di dapatkan 9,750, sumber informasi p value = 0,001 dan nilai OR 5,667, dukungan keluarga p value = 0,001 dan nilai OR 9,750, personal hygiene p value = 0,001 dan nilai OR 7,000 dan pembinaan tenaga kesehatan p value = 0,000 dan nilai OR 9,750 Kesimpulan dari hasil penelitian 5 variabel yang diteliti (tingkat pengetahuan, sumber informasi, dukungan keluarga, personal hygiene dan pembinaan tenaga kesehatan) 5 variabel mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian keputihan pada remaja putri di SMAN 1 Tambelang. Saran dalam penelitian ini adalah dapat memberikan sumber informasi dan menambah pengetahuan kepada responden tentang pentingnya menjaga kebersihan personal hygiene serta meningkatkan pengetahuan pada remaja tentang kejadian keputihan.