Hubungan Anestesi dengan Kejadian Hipotermia pada Pasien Post Operative di Ruang Recovery Room Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Bekasi
Latar Belakang: Hipotermia merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi pada pasien setelah tindakan pembedahan akibat pengaruh anestesi dan faktor lingkungan di ruang operasi maupun ruang pemulihan. Hipotermia dapat menimbulkan berbagai dampak seperti gangguan metabolisme, peningkatan risiko infeksi luka operasi, serta memperlambat proses pemulihan pasien. Jenis anestesi yang digunakan dalam tindakan operasi diduga berhubungan dengan kejadian hipotermia pada pasien post operative.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jenis anestesi dengan kejadian hipotermia pada pasien post operative di ruang Recovery Room RSUD Kabupaten Bekasi.Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 65 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui observasi dan pengukuran suhu tubuh pasien di ruang recovery room, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α = 0,05.Hasil: Dari 65 responden, sebanyak 43 responden (66,2%) menggunakan anestesi spinal dan 22 responden (33,8%) menggunakan anestesi general. Sebanyak 49 responden (75,4%) mengalami hipotermia. Pada kelompok anestesi spinal, 93,0% pasien mengalami hipotermia, sedangkan pada kelompok anestesi general sebesar 40,9%. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p-value < 0,001 (p < 0,05), sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara jenis anestesi dengan kejadian hipotermia. Nilai koefisien Phi sebesar 0,572 menunjukkan kekuatan hubungan sedang hingga kuat.Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara anestesi dengan kejadian hipotermia, dimana anestesi spinal memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan anestesi general. Saran: tenaga kesehatan melakukan pemantauan suhu tubuh secara rutin serta menerapkan tindakan pencegahan hipotermia pada pasien pasca operasi.