ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang : Remaja putri mengalami proses pubertas yang ditandai adanya menstruasi. Proses menstruasi adalah perdarahan periodic dari rahim dengan terlepasnya endometrium dengan panjang normal siklus 21-35 hari. Pada saat siklus menstruasi hormone androgen keluar bersaaman hoemon estrogen dan progesterone. Apabila hormon Adrogen lebih dominan menyebabkan gangguan sekresi pada kelenjar sebasea pada kulit sehingga kulit rentan terhadap timbulnya jerawat. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional dan menggunakan teknik pengambilan sampling probability simple random sampling. Kesimpulan dan Saran : Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang mengalami siklus menstruasi tidak teratur sebanyak 74 % dan mengalami jerawat sebanyak 77.6%. Terdapat hubungan siklus menstruasi terhadap kejadian jerawat diwajah yaitu dengan menggunakan uji chisquare (X2) dengan tingkat kemaknaan (α) adalah ≤ 0,05 didapatkan nilai Probabilitas (p) 0,000. Nilai odds ratio = 2,926 (95% CI1,422-15,064) menunjukkan bahwa siklus menstruasi 2x memiliki potensi dalam kejadian jerawat di wajah. Sehingga dapat diambil kesimpulan Ha diterima atau adanya hubungan yang signifikan hubungan siklus menstruasi terhadap kejadian jerawat di wajah. Bahan Bacaan : 37 Kepustakaan (Tahun 2013-2023) Kata kunci :Siklus Menstruasi, Jerawat Di Wajah .
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Jerawat merupakan peradangan kulit yang salah satunya disebabkan oleh Propionibacterium acnes. Alternatif penggunaan bahan alam sebagai antibakteri dinilai lebih aman dibandingkan antibiotik sintetis. Daun jambu air (Syzygium aqueum) dan daun mangga (Mangifera indica) mengandung flavonoid, tanin, saponin, dan alkaloid yang berpotensi antibakteri. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi aktivitas antibakteri ekstrak kombinasi kedua daun dalam bentuk sediaan face mist terhadap P. acnes dengan metode dilusi. Ekstrak diperoleh melalui maserasi etanol 70% kemudian diformulasikan menjadi face mist dengan konsentrasi 3%, 5%, 7%, dan 10%. Uji meliputi Konsentrasi Hambat Minimum (KHM), Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM), serta evaluasi fisik sediaan. Hasil menunjukkan ekstrak kombinasi memiliki KHM pada 5% dan KBM pada 7%. Sediaan face mist memenuhi syarat fisik (pH, homogenitas, viskositas, bobot jenis, daya semprot) dan menunjukkan aktivitas antibakteri optimal pada konsentrasi 7%. Analisis ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan antar kelompok (p<0,05). Kesimpulannya, kombinasi ekstrak daun jambu air dan daun mangga berpotensi dikembangkan sebagai face mist antibakteri alami untuk pencegahan jerawat.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Remaja putri mengalami proses pubertas yang ditandai adanya menstruasi. Proses menstruasi
adalah perdarahan periodic dari rahim dengan terlepasnya endometrium dengan panjang normal siklus 21-35 hari. Pada saat siklus menstruasi hormone androgen keluar bersaaman hoemon estrogen dan progesterone. Apabila hormon adrogen lebih dominan menyebabkan gangguan sekresi pada kelenjar sebasea pada kulit sehingga kulit rentan terhadap timbulnya jerawat. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross sectionaldan menggunakan teknik pengambilan sampling probability simple random sampling. Kesimpulan dan Saran Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang mengalami siklus menstruasi tidak teratur sebanyak 74 % dan mengalami jerawat sebanyak 77.6%. Terdapat hubungan siklus menstruasi terhadap kejadian jerawat diwajah yaitu dengan menggunakan uji chisquare (X2) dengan tingkat kemaknaan (a) adalah ≤ 0,05 didapatkan nilai Probabilitas (p) 0,000. Nilai odds ratio = 2,926 (95% CI1,422-15,064) menunjukkan bahwa siklus menstruasi 2x memiliki potensi dalam kejadian jerawat di wajah. Sehingga dapat diambil kesimpulan Ha diterima atau adanya hubungan yang signifikan hubungan siklus menstruasi terhadap kejadian jerawat di wajah.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Swamedikasi adalah pemilihan dan pemakaian obat yang dilakukan sendiri. Keterbatasan pengetahuan terhadap obat dan penggunaannya dapat menimbulkan kesalahan pengobatan untuk melakukan swamedikasi, khususnya dalam swamedikasi jerawat. Jerawat adalah sistem peradangan kronik kelenjar-kelenjar sebasea.. Jerawat diderita oleh sekitar 80% populasi masyarakat usia 12-25 tahun. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Pengetahuan Sikap Dan Tindakan Swamedikasi Jerawat Pada Mahasiswa di Universitas Medika Suherman. Jenis penelitian ini adalah survey deskriptif yaitu suatu penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan suatu penomena yang terjadi dalam masyarakat. Populasi pada penelitian ini berjumlah 151 orang serta jumlah sampel sebanyak 110 orang responden. Hasil dan kesimpulan pada penelitian ini mahasiswa sarjana farmasi di Universitas Medika Suherman memiliki pengetahuan yang baik sebanyak 91 orang dari 110 responden. Sikap yang cukup baik terdapat 58 orang dari 110 responden, Tindakan yang baik terdapat 88 orang dari 110 responden.