BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Period After Opening dan Expired Date merupakan informasi penting yang perlu dipahami masyarakat untuk menjamin keamanan, mutu, serta khasiat penggunaan Kosmetik Perawatan Kulit. Kurangnya pengetahuan mengenai Period After Opening dan Expired Date dapat memengaruhi sikap dalam menggunakan kosmetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan sikap mengenai Period After Opening dan Expired Date Kosmetik Perawatan Kulit di Toko Kosmetik Beauty Cikarang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain analitik menggunakan pendekatan pendekatan asosiatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 86 orang. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik (72 responden; 82,6%), sedangkan 46 responden (52,0%) memiliki sikap positif. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p-value sebesar 0,306 (p>0,05), sehingga tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan sikap mengenai Period After Opening dan Expired Date pada Kosmetik Perawatan Kulit di Toko Kosmetik Beauty Cikarang.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Tingginya minat penggunaan masyarakat terhadap kosmetik mendorong para produsen untuk bersaing dalam menciptakan produk kecantikan dengan berbagai variasi dan keunggulan. Balai POM Bogor memiliki tugas melakukan pengawasan post-market guna menjamin bahwa produk kosmetik yang beredar aman digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengawasan yang selama ini diterapkan Balai POM Bogor dan merumuskan strategi pengembangan berdasarkan faktor internal dan eksternal. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik analisis yang digunakan SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) untuk memetakan posisi strategis Balai POM Bogor, serta matriks QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) untuk menentukan prioritas strategi pengembangan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pegawai Balai POM, dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Balai POM Bogor berada di kuadran I (agresif), yaitu situasi yang mendukung penerapan strategi pengembangan dengan memanfaatkan kekuatan yang dimiliki dan peluang eksternal yang tersedia. Tiga strategi prioritas berdasarkan analisis QSPM yaitu menambah kompetensi SDM melalui pelatihan, serta meningkatkan fasilitas laboratorium untuk mendukung efektivitas pengawasan kosmetik secara cepat, mendorong pengesahan RUU BPOM terkait penindakan guna memperkuat kepastian hukum dan efektivitas penindakan, melakukan sosialisasi ke sekolah kerja sama dengan influencer lokal untuk kegiatan edukasi penggunaan kosmetik aman yang lebih masif. Kesimpulannya, Balai POM Bogor menerapkan pengawasan berbasis risiko secara menyeluruh. Analisis SWOT menunjukkan posisi Balai POM Bogor berada di kuadran I dengan strategi agresif. Strategi pengembangan yang diusulkan meliputi menambah kompetensi SDM dan fasilitas laboratorium, mendorong pengesahan RUU BPOM, serta memperluas edukasi melalui sekolah dan influencer.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Peredaran kosmetik mengandung bahan berbahaya seperti merkuri dan hidrokuinon masih menjadi tantangan serius di Indonesia, terutama di era digital yang mempermudah distribusi ilegal. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memiliki peran strategis dalam menjamin keamanan produk, namun dihadapkan pada kendala seperti terbatasnya jangkauan wilayah, keterbatasan sumber daya, serta rendahnya kesadaran masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengembangkan strategi pengawasan BPOM terhadap peredaran kosmetik berbahaya merkuri dan hidrokuinon melalui pendekatan SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats), serta menentukan strategi prioritas menggunakan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan kuantitatif, menggunakan data primer dari wawancara dengan BPOM dan pelaku usaha kosmetik. Hasil analisis menunjukkan BPOM memiliki kekuatan berupa SDM profesional, sistem pengawasan digital (SIPT dan EWAS), serta dukungan regulasi yang kuat. Sementara itu, kelemahan seperti keterbatasan SDM dan jangkauan edukasi masih perlu diperbaiki. Posisi strategi BPOM berada pada Kuadran I (agresif) dengan titik koordinat (0,86 ; 0,64), yang menunjukkan lembaga ini berada pada posisi kuat dan memiliki peluang besar. Strategi prioritas melalui QSPM adalah kolaborasi dengan influencer (skor 13), pendirian laboratorium forensik digital (skor 12,8), dan pengembangan chatbot AI untuk edukasi dan pelaporan cepat (skor 11,7). Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar penguatan sistem pengawasan BPOM yang adaptif dan kolaboratif di tengah pesatnya dinamika industri kosmetik digital.