Annisa Esabita Afriyani; La Ode Muhammad Anwar
2026 · Book · Open Access
Sistem imun adaptif berperan penting dalam mempertahankan tubuh melalui aktivitas limfosit T CD4+ dan CD8+, serta keseimbangan keduanya yang tercermin pada rasio CD4+/CD8+. Gandaria (Bouea macrophylla) mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antioksidan dan imunomodulator, sedangkan fermentasi kombucha diperkirakan dapat meningkatkan ketersediaan biologis senyawa tersebut. Namun, informasi mengenai pengaruh gandaria fermentasi kombucha terhadap profil limfosit T masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi potensi produk fermentasi serta mengetahui pengaruh pemberian nutrasetikal gandaria fermentasi kombucha terhadap persentase limfosit T CD4+, CD8+, dan rasio CD4+/CD8+ pada mencit. Penelitian kuantitatif eksperimental in vivo ini menggunakan desain post-test only control group. Sebanyak 25 ekor mencit jantan galur BALB/c berumur 6–8 minggu dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kontrol negatif akuades, kontrol positif Stimuno® 0,08 mL/20 g BB, serta kelompok perlakuan gandaria fermentasi kombucha dosis 0,36; 0,55; dan 0,73 mL/20 g BB yang diberikan secara oral selama 14 hari. Profil limfosit T diperiksa menggunakan antibodi anti-CD4 dan anti-CD8 dengan metode flow cytometry, kemudian dianalisis secara deskriptif. Fermentasi selama 14 hari menurunkan pH dari 4,0 menjadi 3,0. Dosis 0,73 mL/20 g BB menghasilkan persentase CD4+ dan CD8+ tertinggi, masing-masing sebesar 21,82% dan 7,76%, dengan rasio CD4+/CD8+ sebesar 2,81. Namun, respons antardosis tidak menunjukkan pola linear dan perbedaannya belum dapat dibuktikan secara statistik karena data pemeriksaan belum tersedia secara individual. Penelitian ini menunjukkan bahwa gandaria fermentasi kombucha dosis 0,73 mL/20 g BB memiliki potensi paling besar dalam memengaruhi profil limfosit T secara deskriptif dan dapat dikembangkan sebagai kandidat nutrasetikal imunomodulator berbasis bahan alam. Penelitian selanjutnya perlu menggunakan sampel yang lebih besar, data individual, analisis statistik inferensial, rentang dosis yang lebih luas, serta pemeriksaan parameter imunologi, senyawa bioaktif, dan keamanan produk secara lebih lengkap.
Dea Natalia; Errol Rakhmad Noordam
2026 · Book · Open Access
Kulit pisang raja (Musa x paradisiaca L.) merupakan limbah pertanian yang mengandung senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik ekstrak etanol 96% kulit pisang raja serta aktivitas antioksidannya menggunakan metode DPPH dan ABTS, dan membandingkan nilai IC50 yang diperoleh dari kedua metode. Simplisia diperoleh melalui liofilisasi, kemudian diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Ekstrak memiliki rendemen 14,67%, berbentuk kental, berwarna hijau kecoklatan, berbau khas, dan mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin, sedangkan steroid tidak terdeteksi. Parameter mutu ekstrak memenuhi persyaratan kadar sari larut etanol (60%) dan kadar abu (1,5%), namun susut pengeringan (48%) tidak memenuhi persyaratan. Hasil kromatografi lapis tipis menunjukkan nilai Rf ekstrak yang mendekati standar kuersetin. Nilai IC50 metode DPPH sebesar 58,522±0,016 ppm dan metode ABTS sebesar 59,300±0,169 ppm, keduanya termasuk kategori antioksidan kuat. Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua metode (p=0,109). Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 96% kulit pisang raja memiliki aktivitas antioksidan kuat dengan hasil pengukuran yang sebanding antara metode DPPH dan ABTS.
Carina Yulia Putri; Ignasius Agyo Palmado
2026 · Book · Open Access
Gandaria (Bouea macrophylla) mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi dikembangkan sebagai nutrasetikal imunomodulator, tetapi bukti mengenai efek fermentasi kombucha gandaria terhadap respons imun dan profil farmakokinetiknya masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh nutrasetikal fermentasi kombucha gandaria terhadap kadar serum imunoglobulin G (IgG) serta memprediksi profil ADMET senyawa bioaktifnya. Penelitian kuantitatif eksperimental ini mengombinasikan pendekatan in vivo dan in silico. Mencit jantan galur Balb/c dibagi menjadi kelompok kontrol negatif, kontrol positif Stimuno®, serta kelompok perlakuan dosis 0,36; 0,55; dan 0,73 mL/20 gBB selama 14 hari. Kadar IgG diukur menggunakan ELISA Reader, sedangkan senyawa hasil LC-MS dianalisis menggunakan PubChem, pkCSM, dan Lipinski Rule of Five. Hasil LC-MS mendeteksi 15 senyawa secara tentatif. Isoliquiritigenin, fargesin, dan (+)-carvone memenuhi seluruh kriteria Lipinski serta diprediksi tidak hepatotoksik. Rerata kadar IgG kelompok kontrol negatif, kontrol positif, dosis 0,36, 0,55, dan 0,73 mL/20 gBB berturut-turut sebesar 17,58; 30,75; 17,81; 25,05; dan 25,27 ng/mL. Kombucha gandaria menunjukkan kecenderungan meningkatkan IgG pada dosis sedang dan tinggi, meskipun belum setara Stimuno®. Penelitian lanjutan diperlukan untuk konfirmasi senyawa, pengujian toksisitas, bioaktivitas, dan parameter imun lainnya. Temuan ini memberikan dasar awal bagi pemanfaatan buah lokal Indonesia sebagai minuman fungsional berbasis fermentasi yang berpotensi mendukung respons imun humoral secara aman, terstandar, dan berkelanjutan.
La Ode Muhammad Anwar; Zahra Maheswari Nissa
2026 · Book · Open Access
Gandaria (Bouea macrophylla) merupakan buah yang kaya senyawa bioaktif dan berpotensi dikembangkan sebagai sumber nutrasetikal melalui fermentasi kombucha. Penelitian ini bertujuan menganalisis profil farmakodinamik dan farmakokinetik senyawa gandaria fermentasi kombucha menggunakan SwissTargetPrediction dan SwissADME. Penelitian menggunakan desain non-eksperimental deskriptif-eksploratif melalui analisis laboratorium dan pendekatan in silico. Sampel gandaria difermentasi menggunakan SCOBY, kemudian senyawanya diidentifikasi secara tentatif dengan Liquid Chromatography–Mass Spectrometry (LC-MS). Struktur senyawa dalam format SMILES diperoleh dari PubChem, lalu dianalisis menggunakan SwissTargetPrediction untuk memprediksi target protein, kelas target, probabilitas interaksi, dan jalur biologis. Profil fisikokimia, absorpsi, distribusi, metabolisme, bioavailabilitas, PAINS, dan drug-likeness dianalisis menggunakan SwissADME serta aturan Lipinski. Hasil penelitian mengidentifikasi 15 kandidat senyawa dengan mekanisme multisenyawa dan multitarget pada probabilitas 0,002–1,00. Kandidat nutrasetikal utama meliputi isoliquiritigenin, fargesin, procyanidin B1, dan 8-HETE. Procyanidin B1 diprediksi berinteraksi dengan matrix metalloproteinase-9, sedangkan 8-HETE berinteraksi dengan arachidonate 5-lipoxygenase dengan probabilitas 0,90. Isoliquiritigenin, fargesin, dan (+)-carvone menunjukkan absorpsi gastrointestinal tinggi, mampu menembus sawar darah otak, tidak memiliki peringatan PAINS, memiliki bioavailability score 0,55, serta memenuhi aturan Lipinski. Senyawa 8-HETE memiliki bioavailability score tertinggi, yaitu 0,85, tetapi nilai WLogP 5,19 sedikit melebihi batas Lipinski. Safflor yellow A dan procyanidin B1 menunjukkan absorpsi rendah dan tidak memenuhi aturan Lipinski. Data metabolisme CYP3A4 dan CYP2D6 belum tersedia lengkap. Isoliquiritigenin memiliki profil paling seimbang. Penelitian menyimpulkan bahwa gandaria fermentasi kombucha berpotensi sebagai sumber nutrasetikal, namun memerlukan konfirmasi melalui molecular docking serta pengujian in vitro dan in vivo.
Elda Novriyanti; Nirmala Manik
2026 · Book · Open Access
Rasionalitas terapi berperan penting dalam menunjang keberhasilan pengobatan gastroenteritis akut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan rasionalitas pengobatan dengan lama rawat inap pasien gastroenteritis akut di Rumah Sakit Kartika Husada Setu. Penelitian menggunakan desain observasional analitik retrospektif terhadap 65 rekam medis pasien rawat inap periode Januari–Juni 2026 dengan teknik total sampling. Rasionalitas dinilai berdasarkan tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, tepat rute pemberian, dan tepat lama pemberian. Data yang didapat kemudian dievaluasi kerasionalannya. Hubungan antara kerasionalan terapi dengan lama rawat inap diuji menggunakan uji Fisher’s Exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 45 pasien (69,2%) menerima terapi rasional dan 20 pasien (30,8%) menerima terapi tidak rasional. Ketidakrasionalan ditemukan pada aspek ketepatan indikasi, ketepatan dosis, dan ketepatan lama pemberian. Uji Fisher’s Exact menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara rasionalitas terapi dan lama rawat inap (p=0,741). Kesimpulannya, sebagian besar pasien memperoleh terapi yang rasional (69,2%), dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara rasionalitas terapi dengan lama rawat inap.
Abdul Rozak; Sinta Bella
2026 · Book · Open Access
Diabetes Melitus Tipe 2 merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengobatan jangka panjang, sehingga kepatuhan penggunaan obat menjadi faktor penting dalam keberhasilan terapi. Pemberian informasi obat oleh tenaga kefarmasian berperan dalam meningkatkan pemahaman pasien terhadap pengobatan yang dijalani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pemberian informasi obat dengan tingkat pemahaman dan tingkat kepatuhan penggunaan obat pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Sukatani. Penelitian menggunakan metode kuantitatif observasional dengan desain cross-sectional pada 52 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Guttman untuk pemberian informasi obat dan pemahaman, serta MMAS-8 untuk kepatuhan, kemudian dianalisis menggunakan uji Fisher's Exact Test (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan 71,2% responden menerima pemberian informasi obat dalam kategori baik, 84,6% memiliki tingkat pemahaman yang baik, sedangkan 55,8% memiliki tingkat kepatuhan yang rendah. Terdapat hubungan bermakna antara pemberian informasi obat dengan tingkat pemahaman (p = 0,011), tetapi tidak dengan tingkat kepatuhan penggunaan obat (p = 0,682). Pemberian informasi obat efektif meningkatkan pemahaman pasien, namun belum mampu meningkatkan kepatuhan secara signifikan.
Lina Komalasari; Nirmala Manik
2026 · Book · Open Access
Mutu pelayanan kefarmasian di rumah sakit dapat dinilai melalui waktu tunggu pelayanan obat dan ketersediaan obat. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan waktu tunggu pelayanan obat dan ketersediaan obat terhadap kepuasan pasien penyakit degeneratif di poli penyakit dalam Rumah Sakit Kartika Husada Setu. Penelitian menggunakan metode kuantitatif observasional dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 74 responden menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 87,83% responden memperoleh waktu tunggu pelayanan obat sesuai standar dan 95,95% memperoleh obat yang tersedia. Tingkat kepuasan pasien terdiri atas 39,2% sangat puas, 36,5% puas, dan 24,3% tidak puas. Uji Statistik menggunakan uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan antara waktu tunggu pelayanan obat dengan tingkat kepuasan pasien (p-value= 0,004), sedangkan ketersediaan obat tidak berhubungan dengan tingkat kepuasan pasien (p-value= 0,130). Dapat disimpulkan bahwa waktu tunggu pelayanan obat berhubungan dengan kepuasan pasien rawat jalan, sedangkan ketersediaan obat tidak terdapat hubungan dengan kepuasan pasien.
Dimas Alfi Ananda; Nuzul Gyanata Adiwisastra
2026 · Book · Open Access
Paparan asap rokok menghasilkan radikal bebas yang dapat memicu stres oksidatif dan menyebabkan kerusakan jaringan paru. Kulit pisang raja (Musa × paradisiaca L.) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, alkaloid, dan saponin yang berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak kulit pisang raja menjadi sediaan tablet hisap nutraseutikal, mengevaluasi mutu fisik dan tingkat penerimaan sediaan, serta mengetahui efek protektifnya terhadap histopatologi paru mencit yang dipapar asap rokok. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental in vivo dengan desain post-test only control group design. Ekstrak kulit pisang raja diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 96% dan diformulasikan menjadi tiga formula tablet hisap dengan konsentrasi ekstrak 20%, 25%, dan 30%. Evaluasi yang dilakukan meliputi uji sifat fisik tablet, uji hedonik, serta pengamatan histopatologi paru berdasarkan skor hemoragi, infiltrasi sel radang, dan penebalan septa alveoli. Data dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA yang dilanjutkan dengan Post Hoc Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit pisang raja mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin dengan rendemen sebesar 14,47%. Seluruh formula memenuhi persyaratan evaluasi sifat fisik, kecuali Formula III pada uji kekerasan. Uji hedonik menunjukkan bahwa seluruh formula dapat diterima oleh panelis dan Formula II memperoleh tingkat penerimaan terbaik. Pengamatan histopatologi menunjukkan bahwa Formula III memberikan skor kerusakan paru terendah dibandingkan kelompok perlakuan lainnya. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan bermakna antar kelompok (p=0,000), dan uji Tukey HSD menunjukkan bahwa Formula III memberikan efek protektif yang lebih baik dibandingkan Formula I serta tidak berbeda bermakna dengan kelompok kontrol positif dan kelompok normal.
Nasyah Suhartini; Ulyati Ulfah
2026 · Book · Open Access
Diabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit kronis dengan beban biaya pengobatan yang terus meningkat sehingga diperlukan analisis efektivitas biaya untuk menentukan terapi antidiabetik oral (ADO) yang paling efisien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas biaya terapi ADO pada pasien DM tipe 2 rawat inap di RSUD Kabupaten Bekasi periode Januari–Mei 2026. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan deskriptif non-eksperimental menggunakan desain retrospektif. Sampel diambil secara purposive sampling sebanyak 77 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis farmakoekonomi dilakukan menggunakan metode Cost Effectiveness Analysis (CEA) melalui perhitungan Average Cost-Effectiveness Ratio (ACER) dan Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER), serta uji Mann–Whitney untuk membandingkan efektivitas klinis dan biaya antar kelompok terapi. Hasil: Mayoritas pasien berusia <60 tahun (69%), berjenis kelamin perempuan (66%), dengan komorbid hipertensi (56%) dan rata-rata lama rawat inap 4,27±2,85 hari. Sulfonilurea merupakan golongan ADO yang paling banyak digunakan (49,4%), diikuti Biguanida (41,6%) dan Acarbose (9,1%). Tidak terdapat perbedaan bermakna pada efektivitas klinis (p=0,313) maupun biaya medis langsung (p=0,144) antara kelompok Biguanida dan Sulfonilurea. Namun, berdasarkan analisis ACER dan ICER, Biguanida memiliki nilai ACER terendah sebesar Rp2.952,28/mg/dL dan berada pada posisi dominan (Kuadran II), sehingga menjadi terapi yang paling cost-effective.
Kartika Permana Sari; Ulyati Ulfah
2026 · Book · Open Access
Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit metabolik kronis yang prevalensinya terus meningkat, termasuk di Kabupaten Bekasi, dan sebagian pasien memerlukan terapi insulin untuk mencapai kendali glikemik optimal. Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional ini bertujuan mengetahui tingkat kepatuhan penggunaan insulin, capaian target glikemik (HbA1c), serta hubungan antara keduanya pada 53 pasien diabetes melitus tipe 2 di Poli Penyakit Dalam RSUD Kabupaten Bekasi yang dipilih secara purposive sampling selama Juni–Juli 2026, menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8) yang telah teruji valid dan reliabel (Cronbach's Alpha = 0,652) serta data HbA1c dari rekam medis, dianalisis secara univariat dan bivariat yaitu uji Chi-Square dan korelasi Spearman. Hasil menunjukkan tingkat kepatuhan sebagian besar berada pada kategori sedang (51,9%), rendah (32,7%), dan tinggi (15,4%), sementara HbA1c terkontrol (<7%) hanya dicapai 9,4% responden. Terdapat hubungan signifikan antara kepatuhan penggunaan insulin dan capaian HbA1c (p = 0,001; rs = -0,432), sehingga diperlukan intervensi edukasi dan pemantauan kepatuhan berkelanjutan.
Cindy Fauziah; Nurvidian Khasanah
2026 · Book · Open Access
Fraktur tulang non-union memerlukan scaffold biomaterial sebagai alternatif. Hidroksiapatit (HAp) dari limbah tulang ikan kakap putih (Lates calcarifer) berpotensi sebagai bahan scaffold osteokonduktif, namun bersifat kaku dan rapuh sehingga dikombinasikan dengan polyvinyl alcohol (PVA) untuk meningkatkan sifat fungsionalnya. Penelitian ini bertujuan mengoptimasi dan mengkarakterisasi scaffold HAp-PVA pada variasi konsentrasi PVA 2,5%, 3%, dan 5% melalui uji viskositas, uji makroskopik-mikroskopik, dan analisis FTIR. HAp disintesis melalui kalsinasi tulang ikan pada suhu 700°C, kemudian dibuat scaffold dengan metode polyurethane (PU) sponge replication, dan data viskositas dianalisis menggunakan One-Way ANOVA dilanjutkan Post Hoc Tukey HSD. Hasil menunjukkan viskositas scaffold meningkat seiring bertambahnya konsentrasi PVA, yaitu 35.093,33 mPa.s (2,5%), 47.323,33 mPa.s (3%), dan 54.780,00 mPa.s (5%), dengan pengaruh signifikan (F=27,369; p=0,001); Post Hoc menunjukkan perbedaan signifikan antara 2,5% dengan 3% dan 5% (p<0,05), namun tidak signifikan antara 3% dengan 5% (p=0,072). Pengamatan makroskopik-mikroskopik menunjukkan scaffold pada seluruh konsentrasi berwarna putih, berbentuk bulat mengikuti cetakan spons, dan berhasil membentuk struktur berpori, namun konsentrasi 2,5% kurang kokoh dan mudah hancur sedangkan 3% dan 5% lebih kokoh. Analisis FTIR menunjukkan gugus fosfat (PO₄³⁻) khas HAp serta gugus O–H dan C–O khas PVA tetap teridentifikasi tanpa gugus fungsi baru, menandakan interaksi fisik HAp-PVA melalui ikatan hidrogen tanpa membentuk senyawa kimia baru. Secara keseluruhan, variasi konsentrasi PVA memengaruhi viskositas scaffold HAp-PVA dari tulang ikan kakap putih yang berpotensi dikembangkan sebagai material pendukung rekayasa jaringan tulang.
Alifa Lammima Adinda Riyadi; Nuzul Gyanata Adiwisastra
2026 · Book · Open Access
Penggunaan antibiotik yang rasional pada pasien anak dengan diare perlu diperhatikan untuk memastikan terapi sesuai indikasi dan mencegah penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif menggunakan metode Gyssens dan secara kuantitatif menggunakan metode Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose (ATC/DDD), serta menganalisis hubungannya dengan lama rawat inap dan outcome klinis pasien anak dengan diare di RS Permata Bekasi periode 2025. Penelitian ini menggunakan desain observasional retrospektif dengan data rekam medis pasien anak rawat inap dengan diare. Evaluasi kualitatif dilakukan menggunakan metode Gyssens, sedangkan evaluasi kuantitatif menggunakan metode ATC/DDD. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan antibiotik paling banyak termasuk kategori 0 sebanyak 65 pasien (56,5%), sedangkan kategori I sebanyak 37 pasien (32,2%), IIA sebanyak 3 pasien (2,6%), dan IVA sebanyak 10 pasien (8,7%). Ceftriaxone merupakan antibiotik dengan konsumsi tertinggi sebesar 34,88 DDD/100 patient-days. Sebanyak 82 pasien (71,3%) sembuh dan 33 pasien (28,7%) membutuhkan perawatan lebih lama. Tidak terdapat hubungan bermakna antara Gyssens, jumlah antibiotik, maupun ATC/DDD dengan lama rawat inap maupun outcome klinis (p>0,05). Disimpulkan bahwa sebagian besar penggunaan antibiotik telah rasional, dengan ceftriaxone sebagai antibiotik yang paling banyak digunakan, namun tidak ditemukan hubungan bermakna antara penggunaan antibiotik dengan lama rawat inap maupun outcome klinis.
Dewi Fatmawati; Masita Sari Dewi
2026 · Book · Open Access
Hipertensi merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengobatan jangka panjang untuk mengendalikan tekanan darah dan mencegah komplikasi. Obat antihipertensi golongan ACE-Inhibitor dan Calcium Channel Blocker banyak digunakan, tetapi dapat menimbulkan efek samping yang berpotensi memengaruhi kepatuhan pasien. Tujuannya untuk mengetahui hubungan efek samping penggunaan obat antihipertensi golongan ACE-Inhibitor dan Calcium Channel Blocker dengan tingkat kepatuhan pasien di Apotek Kaffah Farma. Penelitian ini menggunakan desain correlational study dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 55 responden yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner efek samping obat dan Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8), kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dan Fisher's Exact Test. Hasil dari penelitian ini diketahui mayoritas responden menggunakan Calcium Channel Blocker (74,5%), mengalami efek samping kategori sedang (40,0%), dan memiliki kepatuhan kategori sedang (67,3%). Hasil uji Fisher's Exact Test menunjukkan nilai p = 1,00. Kesimpulan dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara efek samping penggunaan obat antihipertensi golongan ACE-Inhibitor dan Calcium Channel Blocker dengan tingkat kepatuhan pasien hipertensi di Apotek Kaffah Farma.
Marselina; Muhammad Farhan Satya Baskoro
2026 · Book · Open Access
Hipertensi memerlukan terapi jangka panjang untuk mengendalikan tekanan darah dan mencegah komplikasi kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan distribusi nilai risiko kardiovaskular antara kelompok kerasionalan terapi dan kelompok kepatuhan terapi antihipertensi pada pasien hipertensi di Rumah Sakit X. Penelitian observasional analitik berdesain retrospektif ini menggunakan data sekunder dari 40 rekam medis pasien hipertensi rawat jalan BPJS berusia 40–74 tahun periode Januari–Juni 2026 yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Kerasionalan terapi dinilai berdasarkan ketepatan indikasi, pasien, obat, dan dosis dengan JNC 8 dan PNPK Tata Laksana Hipertensi Dewasa 2026 sebagai acuan utama, serta Formularium Nasional dan informasi resmi BPOM sebagai acuan pendukung untuk bentuk dan kekuatan sediaan tertentu. Kepatuhan dinilai menggunakan Medication Possession Ratio (MPR), sedangkan risiko kardiovaskular 10 tahun dihitung menggunakan ASCVD Risk Calculator. Nilai risiko ASCVD antarkelompok kerasionalan dan kepatuhan dianalisis secara terpisah menggunakan uji Mann–Whitney U dengan exact significance dua arah. Hasil menunjukkan bahwa 26 pasien (65,0%) menerima terapi rasional dan 14 pasien (35,0%) menerima terapi tidak rasional; 37 pasien (92,5%) patuh dan 3 pasien (7,5%) tidak patuh. Terdapat perbedaan distribusi nilai risiko ASCVD yang bermakna antara kelompok terapi rasional dan tidak rasional (p-value =0,004), dengan peringkat risiko lebih tinggi pada kelompok tidak rasional. Tidak ditemukan perbedaan distribusi nilai risiko ASCVD antara kelompok patuh dan tidak patuh (p-value=0,996). Dengan demikian, perbedaan distribusi nilai risiko ASCVD ditemukan pada pengelompokan kerasionalan terapi, tetapi tidak ditemukan pada pengelompokan kepatuhan terapi.
Naela Intan Fitriyani; Ulyati Ulfah
2026 · Book · Open Access
Diabetes melitus tipe 2 pada pasien geriatri memerlukan perhatian khusus karena perubahan farmakokinetik akibat penuaan, sehingga meningkatkan risiko Potentially Inappropriate Medication (PIM). Kriteria Beers digunakan untuk mengidentifikasi obat yang risikonya lebih besar daripada manfaatnya pada lansia. Penelitian ini bertujuan menganalisis rasionalitas penggunaan obat antidiabetik oral (OAD) pada pasien geriatri diabetes melitus tipe 2 berdasarkan Kriteria Beers 2023 di RSUD Kabupaten Bekasi. Penelitian ini bersifat deskriptif observasional dengan pendekatan retrospektif, menggunakan data rekam medis pasien di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Kabupaten Bekasi periode Januari–Mei 2026, dengan sampel 62 pasien yang dipilih secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas pasien berusia 60–69 tahun (66,1%) dan perempuan (71,0%), dengan median usia 68 tahun (65–81 tahun). Dari 62 resep OAD, Metformin paling banyak digunakan (43,4%), diikuti Glimepiride (25,0%), Gliclazide (17,4%), Acarbose (12,0%), dan Gliquidon (2,2%). Evaluasi Kriteria
Beers 2023 menunjukkan 81 dari 62 total resep (130,65%) tergolong PIM, terdiri atas Metformin (kategori 5; dosis disesuaikan fungsi ginjal) 40 resep (49,38%) serta golongan sulfonilurea (kategori 3; perlu kehati-hatian) yaitu Glimepiride (28,4%), Gliclazide (19,75%), dan Gliquidon (2,47%). Sebanyak 34 pasien (54,84%)
menerima 1 resep PIM, 26 pasien (41,94%) menerima 2 resep PIM, dan 2 pasien (3,23%) menerima 3 resep PIM. Tingginya persentase PIM ini menunjukkan perlunya evaluasi dan optimalisasi terapi guna meningkatkan keamanan pasien geriatri.
Marselina; Rini Afifah Puspitawati
2026 · Book · Open Access
Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Pengendalian hipertensi tidak hanya dipengaruhi oleh kepatuhan pasien, tetapi juga oleh ketepatan pemilihan dan penggunaan obat. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kerasionalan dan kepatuhan terapi antihipertensi terhadap risiko kardiovaskular pada pasien hipertensi di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan potong lintang. Sampel terdiri atas 46 pasien hipertensi peserta BPJS yang menjalani pengobatan pada periode Januari–Juli 2026 dan dipilih secara purposive sampling. Kerasionalan terapi dinilai dari rekam medis berdasarkan tepat pasien, tepat obat, tepat indikasi, dan tepat dosis. Kepatuhan diukur menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8, sedangkan risiko kardiovaskular dihitung dengan kalkulator risiko Atherosclerotic Cardiovascular Disease. Analisis bivariat menggunakan uji Fisher. Hasil menunjukkan 30 responden (65,2%) memperoleh terapi rasional, 22 responden (47,8%) memiliki kepatuhan sedang, dan 15 responden (32,6%) berada pada risiko kardiovaskular rendah. Kerasionalan terapi berpengaruh signifikan terhadap risiko kardiovaskular (p=0,036), sedangkan kepatuhan terapi tidak berpengaruh signifikan (p=0,796). Hasil ini menunjukkan bahwa pengendalian risiko kardiovaskular pada pasien hipertensi memerlukan penggunaan obat yang rasional disertai pengendalian faktor risiko lainnya.
Nurvidian Khasanah; Retno Tri Anjani
2026 · Book · Open Access
Osteomielitis merupakan peradangan tulang dan sumsum tulang akibat infeksi bakteri yang membutuhkan sistem penghantaran obat lokal secara terkontrol untuk mencapai konsentrasi terapi optimal pada lokasi target. Scaffold hidroksiapatit (HAp) berpotensi digunakan sebagai sistem penghantaran antibiotik lokal. Penelitian ini bertujuan mengembangkan scaffold HAp tulang ikan kakap putih (Lates calcarifer) bermuatan ampisilin-sulbaktam serta mengevaluasi karakteristik dan profil pelepasan obat. Penelitian dilakukan secara eksperimental in vitro dengan variasi ampisilin-sulbaktam 1,5 g, 2 g, dan 2,5 g. Karakterisasi meliputi pengamatan makroskopis, mikroskopis, FTIR, dan uji pelepasan obat menggunakan PBS selama 24 jam. Hasil menunjukkan seluruh formula membentuk scaffold berpori dan memiliki gugus fungsi khas HAp serta ampisilin-sulbaktam. Persentase pelepasan kumulatif pada jam ke-24 masing-masing sebesar 57,81%, 68,70%, dan 74,20%. Profil pelepasan lebih sesuai dengan model higuchi dengan nilai R² berturut-turut 0,6133; 0,9347; dan 0,9679. Uji One Way ANOVA menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antarformula (p=0,497). Dengan demikian, tulang ikan kakap putih dapat diformulasikan menjadi scaffold HAp bermuatan ampisilin-sulbaktam dan berpotensi sebagai sistem penghantaran antibiotik lokal.
Della Threa Pratiwi; Errol Rakhmad Noordam
2026 · Book · Open Access
Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan tablet hisap ekstrak kulit pisang raja (Musa x paradisiaca L.) dengan variasi konsentrasi ekstrak 20%, 25%, dan 30%, mengevaluasi profil disolusi dan kinetika pelepasannya, serta mengetahui aktivitas antioksidannya menggunakan metode DPPH. Tablet hisap dibuat dengan metode granulasi basah karena ekstrak yang digunakan bersifat kental. Sebelum formulasi, dilakukan determinasi tanaman dan skrining fitokimia ekstrak. Evaluasi yang dilakukan meliputi uji sifat fisik granul (laju alir, sudut diam, kadar air, dan kompresibilitas), uji disolusi dan analisis kinetika pelepasan zat aktif, serta uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dengan parameter nilai IC₅₀. Data aktivitas antioksidan dianalisis menggunakan uji One-way ANOVA dengan taraf signifikansi <0,05.
Hasil determinasi tanaman mengonfirmasi bahwa sampel merupakan kulit buah pisang raja (Musa x paradisiaca L.) famili Musaceae, dan skrining fitokimia menunjukkan ekstrak positif mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memenuhi persyaratan evaluasi granul. Hasil uji disolusi menunjukkan bahwa Formula I mengikuti pola kinetika orde nol, sedangkan Formula II dan Formula III mengikuti pola Korsemeyer-Peppas, dengan nilai %disolusi yang belum menunjukkan pelepasan zat aktif secara optimal. Hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa seluruh formula memiliki aktivitas antioksidan kategori kuat dengan nilai IC₅₀ Formula I sebesar 62,137 ppm, Formula II sebesar 62,013 ppm, dan Formula III sebesar 60,859 ppm. Hasil analisis One-way ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antar formula (p<0,05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak kulit pisang raja berpengaruh terhadap aktivitas antioksidan tablet hisap, dengan Formula III sebagai formula terbaik karena memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi
Asyafa Nursyahada; Ignasius Agyo Palmado
2026 · Book · Open Access
Tingginya ketergantungan impor bahan baku obat amoksisilin di Indonesia (90%) serta dampak lingkungan negatif dari metode sintesis kimia konvensional mendorong perlunya pengembangan metode bioproses yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan sintesis amoksisilin secara enzimatis dalam reaktor batch dengan enzim Penisilin G Asilase (PGA) terimobilisai. Metode kuantitatif eksperimental dilakukan menggunakan pemodelan Definitive Screening Design (DSD) untuk mengevaluasi pengaruh konsentrasi gliserol (0–15%), rasio substrat HPGME:6-APA (1–2 mM), dan suhu (20–35°C) terhadap yield amoksisilin (%) dan rasio selektivitas (S/H) menggunakan instrumen HPLC.
Hasil uji ANOVA menunjukkan model regresi yield amoksisilin bersifat signifikan (p = 0,0415; R² = 0,90), di mana konsentrasi gliserol (p = 0,0041) dan suhu (p = 0,0464) menjadi faktor yang berpengaruh nyata. Variasi rasio substrat tidak berpengaruh signifikan karena kondisi kejenuhan substrat, sementara respons selektivitas (S/H) juga tidak dipengaruhi secara nyata (p = 0,5230; R²= 0,65) akibat jalur reaksi sintesis dan hidrolisis yang kompetitif. Peningkatan konsentrasi gliserol menurunkan yield akibat peningkatan viskositas media yang menghambat transfer massa substrat menuju situs aktif enzim. Berdasarkan optimasi fungsi desirability (0,899), kondisi operasi optimum dicapai pada gliserol 0%, rasio substrat 1, dan suhu 34,72°C dengan prediksi yield amoksisilin maksimum sebesar 89,48%. Penelitian ini membuktikan efektivitas metode DSD dalam menyaring faktor dominan dengan jumlah percobaan 15 runs untuk pengembangan bioproses skala industri.
Nuzul Gyanata Adiwisastra; Salma Nabila
2026 · Book · Open Access
Abstrak: Infeksi saluran kemih merupakan salah satu infeksi bakteri yang memerlukan terapi antibiotik sehingga evaluasi penggunaan antibiotik penting dilakukan untuk memastikan ketepatan terapi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif menggunakan metode Gyssens dan secara kuantitatif menggunakan metode Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose (ATC/DDD), serta menganalisis hubungannya dengan outcome klinis pada pasien anak dengan infeksi saluran kemih di RS X tahun 2025. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan retrospektif terhadap 115 rekam medis pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 73,0% penggunaan antibiotik termasuk kategori rasional berdasarkan metode Gyssens, sedangkan cefixime memiliki nilai Total DDD tertinggi dan bersama ceftriaxone termasuk dalam segmen DU90%. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kualitas penggunaan antibiotik (p=0,018) dan kuantitas penggunaan antibiotik (p=0,004) dengan outcome klinis. Disimpulkan bahwa penggunaan antibiotik yang rasional berhubungan dengan keberhasilan terapi pada pasien anak dengan infeksi saluran kemih.