Dita Ayu Lestari; Hajar Nur Fathur Rohmah
2026 · Book · Open Access
Menarche merupakan menstruasi pertama yang dialami remaja putri sebagai tanda dimulainya masa pubertas. Pengetahuan yang baik mengenai menarche sangat diperlukan agar remaja putri memahami perubahan yang terjadi pada dirinya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan remaja adalah melalui pendidikan kesehatan menggunakan media audiovisual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan menggunakan media audiovisual terhadap peningkatan pengetahuan remaja tentang menarche di SDN Ciledug 03 Kabupaten Bekasi Tahun 2026. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre-experimental one group pre-test post-test. Sampel penelitian berjumlah 42 siswi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan tentang menarche. Analisis data menggunakan uji Paired Sample T-Test. Sebelum diberikan pendidikan kesehatan, sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang sebanyak 24 responden (57,1%), pengetahuan cukup 11 responden (26,2%), dan pengetahuan baik 7 responden (16,7%). Setelah diberikan pendidikan kesehatan menggunakan media audiovisual, sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik sebanyak 35 responden (83,3%), pengetahuan cukup 6 responden (14,3%), dan pengetahuan kurang 1 responden (2,4%). Hasil uji Paired Sample T-Test menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05), sehingga pendidikan kesehatan menggunakan media audiovisual berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan remaja tentang menarche. Pendidikan kesehatan menggunakan media audiovisual berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan remaja tentang menarche di SDN Ciledug 03 Kabupaten Bekasi Tahun 2026. Media audiovisual dapat dijadikan salah satu alternatif media pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah utamanya terkait dengan persiapan menghadapi menarche
Arsih; Hajar Nur Fathur Rohmah
2026 · Book · Open Access
Pengetahuan remaja putri tentang seks bebas masih tergolong rendah sehingga diperlukan pendidikan kesehatan untuk meningkatkan pemahaman mengenai risiko dan dampak seks bebas serta kesehatan reproduksi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah pemberian pendidikan kesehatan menggunakan media leaflet yang praktis, ringkas, dan mudah dipahami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan menggunakan media leaflet terhadap pengetahuan remaja putri tentang seks bebas di SMKN 1 Pebayuran Tahun 2026. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain one group pretest-posttest. Populasi penelitian berjumlah 445 siswi dengan sampel sebanyak 112 responden yang dipilih menggunakan teknik Proportionate Stratified Random Sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan tentang seks bebas. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test karena hasil uji normalitas Kolmogorov-Smirnov menunjukkan data pretest dan posttest tidak berdistribusi normal. Sebelum diberikan pendidikan kesehatan, sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang sebanyak 62 responden (55,4%), pengetahuan cukup sebanyak 34 responden (30,36%), dan pengetahuan baik sebanyak 16 responden (14,3%). Setelah diberikan pendidikan kesehatan menggunakan media leaflet, sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik sebanyak 95 responden (84,82%), pengetahuan cukup sebanyak 14 responden (12,50%), dan pengetahuan kurang sebanyak 3 responden (2,68%). Persentase pengetahuan baik meningkat sebesar 70,53%. Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) <0,001 (p<0,05), dengan Positive Rank sebanyak 112 responden dan Negative Rank serta Ties sebanyak 0, sehingga terdapat pengaruh yang signifikan antara pendidikan kesehatan menggunakan media leaflet terhadap peningkatan pengetahuan remaja putri tentang seks bebas. Pendidikan kesehatan menggunakan media leaflet berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan remaja putri tentang seks bebas di SMKN 1 Pebayuran Tahun 2026. Media leaflet dapat dijadikan salah satu alternatif media pendidikan kesehatan reproduksi yang diterapkan secara berkelanjutan di sekolah.
Yulianti; Yuliyanah
2026 · Book · Open Access
Masalah pada payudara merupakan salah satu pemicu hambatan dalam proses menyusui, dimana nyeri akibat bendungan ASI menjadi keluhan yang paling sering ditemukan. Meskipun kondisi ini bersifat fisiologis, penanganan yang tidak tepat berisiko memicu komplikasi yang lebih parah seperti mastitis hingga abses payudara. Munculnya nyeri bendungan ASI ini sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor, meliputi tingkat usia, status pekerjaan, dan jumlah paritas ibu. Sebagai solusi non-farmakologis.Daun kubis memberikan kenyamanan bagi ibu nifas karena mampu memperlebar pembuluh darah kapiler dan melepaskan efek dingin yang menyerap panas tubuh. Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kompres daun kubis terhadap nyeri bendungan asi pada ibu nifas di wilayah TPMB Yuliyanah karawang Tahun 2026.
Penelitian ini menggunakan metode pra-eksperimen melalui rancangan one group pretest-posttest design. Populasi ibu nifas sebanyak 30 responden yang dilakukan pada bulan mei – juli. Pengumpulan data tingkat pembendungan ASI diukur menggunakan Six Point Engorgement Scale dan kuesioner, dengan menggunakan Uji Wilcoxon Range List.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sebelum intervensi dilakukan, mayoritas ibu menyusui 24 orang (80,0%) mengeluhkan nyeri bendungan ASI tingkat berat, dan 6 orang (20,0%). Namun setelah intervensi, intensitas nyeri menurun drastis sebanyak 23 orang (76,7%) mengalami nyeri ringan, 6 orang (20,0%) tingkat sedang dan hanya 1 orang (3,3%) kategori berat. Hasil analisis bivariat lewat uji Wilcoxon memperkuat temuan ini dengan perolehan nilai p = 0,000 (p < 0,05) yang menandakan adanya penurunan nyeri secara signifikan. Selain itu, penurunan rata-rata skor nyeri dari 2,80 menjadi 1,27 membuktikan bahwa aplikasi kompres daun kubis sangat efektif dalam meredakan nyeri akibat bendungan ASI pada ibu nifas.
Kesimpulan penelitian adanya pengaruh kompres daun kubis terhadap nyeri bendungan asi pada ibu nifas di wilayah TPMB Yuliyanah Karawang. penelitian ini bertujuan meningkatkan wawasan dan pengalaman peneliti dalam menerapkan terapi alami kompres daun kubis guna meredakan nyeri akibat bendungan ASI pada ibu nifas.
Lismayanti Agustini; Musmundiroh
2026 · Book · Open Access
Latar Belakang: Kelahiran prematur merupakan salah satu masalah kesehatan yang berkontribusi terhadap meningkatnya morbiditas dan mortalitas neonatal. Kelahiran prematur dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor maternal dan obstetri, antara lain usia ibu, pendidikan, paritas, indeks massa tubuh (IMT), riwayat keguguran, riwayat penyakit, dan riwayat kehamilan dengan preeklamsia.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kelahiran prematur pada ibu hamil di RSU Amanda Mitra Keluarga Karawang Tahun 2026.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 444 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh dari rekam medis pasien. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Besarnya risiko dinilai menggunakan Odds Ratio (OR).
Hasil: Dari 444 responden, sebanyak 124 responden (27,9%) mengalami kelahiran prematur dan 320 responden (72,1%) tidak mengalami kelahiran prematur. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara usia ibu dengan kelahiran prematur (p=0,000; OR=2,215; 95% CI: 1,452–3,381), riwayat keguguran (p=0,013; OR=1,829), riwayat penyakit (p=0,029; OR=1,665; 95% CI: 1,076–2,577), serta riwayat kehamilan dengan preeklamsia (p=0,000; OR=3,142). Sementara itu, pendidikan, paritas, dan IMT tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kelahiran prematur.
Kesimpulan: Usia ibu, riwayat keguguran, riwayat penyakit, dan riwayat kehamilan dengan preeklamsia berhubungan dengan kejadian kelahiran prematur. Riwayat kehamilan dengan preeklamsia merupakan faktor yang memiliki hubungan paling kuat.
Musmundiroh; Naya Ainun Aprilia
2026 · Book · Open Access
Persalinan adalah proses keluar janin, plasenta, dan selaput ketuban dari dalam rahim melalui jalan lahir. Persalinan dapat menyebabkan nyeri yang dipicu oleh kontraksi. Oleh karna itu dilakukannya pemijatan oksitoksin karna memiliki keunggulan, efek samping minimal, mudah di lakukan, serta dapat membantu mengurangi nyeri dan mempercepat proses pembukaan serviks. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pijatan oksitosin terhadap frekuensi nyeri dalam proses persalinan normal di TPMB Ida Farida tahun 2026.
Peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pre-eksprerimen dengan desain One Group Pretest-Posttest Design. Populasi ibu hamil 30 responden yang di lakukan pada bulan Juli - Agustus dengan menggunakan Uji Wilcoxon Range List.
Hasil Uji Wilcoxon Range diperoleh p=0.000 < 0.05, sehingga dapat di simpulkan bahwa terdapat adanya pengaruh pijatan oksitosin terhadap intensitas nyeri pada proses persalinan normal di TPMB Ida Farida Tahun 2026.
Dapat simpulkan adanya pengaruh pijatan oksitosin terhadap frekuensi nyeri pada proses persalinan normal di TPMB Ida Farida. Peneliti mengucapkan terimakasih kepada Universitas Medika Suherman, dosen pembimbing, TPMB Ida Farida dan seluruh responden yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini.
Iin Hardiyati; Wiwin Try Ayu Rombe
2026 · Book · Open Access
Sintesis enzimatis amoksisilin menggunakan penicillin G acylase (PGA) terimobilisasi merupakan alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan sintesis kimia. Efisiensinya dapat ditingkatkan melalui kristalisasi reaktif, yaitu pengambilan produk secara in situ dengan penambahan benih kristal (seeding). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh konsentrasi dan waktu penambahan seed amoksisilin trihidrat terhadap kinerja sintesis enzimatis dalam reaktor batch dengan biokatalis AMK-218. Penelitian eksperimental laboratorium ini dilakukan di BRIN KST BJ Habibie, Serpong, pada volume reaksi 200 mL dengan 6-APA 50 mM dan HPGME 75 mM, pH 6,2, suhu 27,5±2 °C, selama 240 menit. Perlakuan terdiri atas variasi konsentrasi seed (0%, 1%, 2%, 3%, dan 5% b/b) pada waktu penambahan menit ke-30, serta variasi waktu penambahan seed (menit ke-0, 15, 20, 25, dan 30) pada konsentrasi 5%. Setiap perlakuan diukur satu kali tanpa replikasi. Konsentrasi komponen reaksi dianalisis dengan HPLC dan kadar air kristal dengan moisture analyzer. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan two-way ANOVA dengan waktu reaksi atau jenis yield sebagai faktor blok, dilanjutkan uji Tukey pada taraf signifikansi 0,05.
Secara univariat, seeding 2% menghasilkan yield kristal tertinggi (83,59%; tanpa seeding 31,89%), selektivitas tertinggi (0,8204), dan konversi 6-APA 99,3%, sedangkan seeding 3% menghasilkan konversi HPGME (88,8%) dan recovery kristal (32,75%) tertinggi. Pada variasi waktu, penambahan seed menit ke-30 memberikan yield kristal (69,55%), konversi 6-APA (99,03%), dan konversi HPGME (83,3%) tertinggi, serta satu-satunya kadar air kristal (12,72%) yang memenuhi syarat Farmakope Indonesia Edisi VI. Secara bivariat, konsentrasi seeding berpengaruh signifikan terhadap selektivitas (p = 0,001), konversi 6-APA (p < 0,001), dan konversi HPGME (p < 0,001), sedangkan waktu seeding berpengaruh signifikan terhadap konversi HPGME (p < 0,001) dan rasio panjang/lebar kristal (p = 0,012). Konsentrasi maupun waktu seeding tidak berpengaruh signifikan terhadap yield (p = 0,109 dan 0,203), sehingga peningkatan yield hanya berupa kecenderungan.
Kondisi terbaik secara umum diperoleh pada konsentrasi seeding 2–3% dengan waktu penambahan menit ke-25–30. Kondisi ini menjaga keseimbangan antara laju sintesis enzimatis dan laju kristalisasi tanpa menimbulkan overcrowding nukleasi maupun clogging pada enzim terimobilisasi.
Kusno Haryanto; Mukhlish Kuthfi Khoiruddin
2026 · Book · Open Access
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi tertinggi kedua sebagai penyebab kematian di Indonesia, dan kepatuhan minum obat menjadi faktor penting dalam pengendalian tekanan darah, terutama pada pasien lanjut usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan penggunaan obat antihipertensi, tekanan darah pasien setelah pengobatan, serta hubungan antara tingkat kepatuhan penggunaan obat dengan pengendalian tekanan darah pada pasien hipertensi lanjut usia di Puskesmas Sukaraya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif analitik. Sampel penelitian berjumlah 104 pasien lansia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dari populasi 140 pasien hipertensi lansia yang berobat di Puskesmas Sukaraya Cikarang. Tingkat kepatuhan diukur menggunakan kuesioner MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale), sedangkan tekanan darah diukur menggunakan sphygmomanometer. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (60,0%), berusia 60–63 tahun, berpendidikan SMA, bekerja sebagai wiraswasta, dan telah menderita hipertensi selama 3–5 tahun. Sebagian besar responden memiliki tekanan darah tidak terkontrol (55,0%) dan tingkat kepatuhan minum obat yang rendah (80,0%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, lama menderita hipertensi, dan status pengendalian tekanan darah tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kepatuhan minum obat (p > 0,05). Simpulan penelitian ini adalah tingkat kepatuhan penggunaan obat pada pasien hipertensi lanjut usia di Puskesmas Sukaraya masih tergolong rendah, serta tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara faktor-faktor karakteristik responden dengan tingkat kepatuhan tersebut. Diperlukan upaya edukasi dan konseling berkelanjutan dari fasilitas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan hipertensi.
Ahmad Shulaiq Alghatfany; Masita Sari Dewi
2026 · Book · Open Access
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, dan keberhasilan pengobatannya sangat dipengaruhi oleh kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat antituberkulosis (OAT). Tingkat pengetahuan pasien dan kejadian Drug Related Problem (DRP) diduga menjadi faktor yang memengaruhi kepatuhan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan kejadian Drug Related Problem (DRP) terhadap kepatuhan pengobatan pasien tuberkulosis di Puskesmas Sukaraya. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 68 pasien tuberkulosis yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pengetahuan, kuesioner DRP, dan kuesioner kepatuhan, sedangkan analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik (61,8%), tidak mengalami DRP (86,8%), dan memiliki kepatuhan pengobatan rendah (80,9%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan pengobatan (p = 0,000), sedangkan kejadian DRP tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kepatuhan pengobatan (p = 0,759). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan berhubungan dengan kepatuhan pengobatan pasien tuberkulosis, sedangkan kejadian Drug Related Problem (DRP) tidak berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan pengobatan. Oleh karena itu, diperlukan optimalisasi pelayanan kefarmasian melalui edukasi, konseling, dan pemantauan terapi secara berkala untuk meningkatkan kepatuhan pasien serta mendukung keberhasilan pengobatan tuberkulosis.
Lifia Putri Zahrotul Zannati Al-Gojali; Salma Hilmy Rusydi Hashim
2026 · Book · Open Access
Period After Opening dan Expired Date merupakan informasi penting yang perlu dipahami masyarakat untuk menjamin keamanan, mutu, serta khasiat penggunaan Kosmetik Perawatan Kulit. Kurangnya pengetahuan mengenai Period After Opening dan Expired Date dapat memengaruhi sikap dalam menggunakan kosmetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan sikap mengenai Period After Opening dan Expired Date Kosmetik Perawatan Kulit di Toko Kosmetik Beauty Cikarang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain analitik menggunakan pendekatan pendekatan asosiatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 86 orang. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik (72 responden; 82,6%), sedangkan 46 responden (52,0%) memiliki sikap positif. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p-value sebesar 0,306 (p>0,05), sehingga tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan sikap mengenai Period After Opening dan Expired Date pada Kosmetik Perawatan Kulit di Toko Kosmetik Beauty Cikarang.
Resti Hanifah; Salma Hilmy Rusydi Hashim
2026 · Book · Open Access
Dispepsia yang disertai gejala mual merupakan gangguan pencernaan dengan jumlah kasus yang terus meningkat, sehingga diperlukan alternatif nonfarmakologis berbahan alami untuk membantu meredakannya. Minyak atsiri jahe (Zingiber officinale) memiliki aktivitas antiemetik, sedangkan minyak atsiri cendana (Santalum album L.) berpotensi memberikan efek relaksasi dan antidepresan. Penelitian ini bertujuan memformulasikan kombinasi kedua minyak atsiri tersebut ke dalam sediaan aromaterapi roll-on serta mengevaluasi karakteristik fisik dan tingkat kesukaan sediaan yang dihasilkan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif yang dilaksanakan pada tiga formula dengan total konsentrasi minyak atsiri 30%, yaitu Formula I (20%:10%), Formula II (15%:15%), dan Formula III (10%:20%) minyak jahe : minyak cendana. Evaluasi meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, bobot jenis, volume terpindahkan, iritasi, dan hedonik terhadap 30 responden, dengan data dianalisis menggunakan IBM SPSS Statistics versi 24. Hasil menunjukkan seluruh formula homogen, berwarna kuning pucat, memiliki pH 5, daya sebar 5,433-5,500 cm, bobot jenis 0,925-0,935 g/ml, dan volume terpindahkan 9,730-9,750 ml yang memenuhi persyaratan serta tidak menimbulkan iritasi, namun nilai viskositas 1,231-1,950 cps belum memenuhi persyaratan 2,3-6,0 cps. Uji hedonik menunjukkan variasi konsentrasi memengaruhi tingkat kesukaan pada parameter tekstur (p=0,015) dan bau (p=0,029), dengan Formula III memperoleh tingkat kesukaan tertinggi. Kombinasi minyak atsiri jahe dan cendana dapat diformulasikan menjadi sediaan aromaterapi roll-on dengan karakteristik fisik yang cukup baik, dan Formula III berpotensi dikembangkan lebih lanjut sebagai sediaan aromaterapi untuk membantu meredakan mual.
Abdul Rozak; Muhammad Andika Pandu Pambudi
2026 · Book · Open Access
Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan yang berperan penting
dalam menjaga loyalitas pelanggan melalui kualitas sarana prasarana dan pelayanan
kefarmasian yang diberikan. Persaingan antarapotek yang semakin ketat menuntut
pengelola apotek untuk memperhatikan kedua aspek tersebut secara bersamaan agar
mampu mempertahankan pelanggan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh kualitas sarana prasarana dan pelayanan kefarmasian, baik secara parsial
maupun simultan, terhadap loyalitas pelanggan di Apotek Sehati Jababeka.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain survei analitik
korelasional dan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian ditentukan
menggunakan rumus Slovin dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan
melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis
menggunakan uji asumsi klasik berupa normalitas, multikolinearitas, dan
heteroskedastisitas serta analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kualitas sarana prasarana secara parsial tidak berpengaruh
signifikan terhadap loyalitas pelanggan (Sig. = 0,090), sedangkan pelayanan
kefarmasian berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap loyalitas
pelanggan (Sig. = 0,000). Secara simultan, kualitas sarana prasarana dan pelayanan
kefarmasian berpengaruh signifikan terhadap loyalitas pelanggan (Sig. = 0,000)
dengan kontribusi sebesar 36,7% (R² = 0,367), sedangkan sisanya dipengaruhi oleh
faktor lain di luar model penelitian ini. Dapat disimpulkan bahwa pelayanan
kefarmasian merupakan faktor yang lebih dominan dibandingkan sarana prasarana
dalam membentuk loyalitas pelanggan di Apotek Sehati Jababeka. Apotek
disarankan untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian sebagai
strategi utama dalam mempertahankan loyalitas pelanggan, tanpa mengabaikan
pemeliharaan sarana prasarana sebagai faktor pendukung.
Friska Amalia; Sri Rachmi Firdausi
2026 · Book · Open Access
Penyakit alergi merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dijumpai sehingga penggunaan antihistamin terus meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan penjualan antihistamin generasi pertama dan generasi kedua serta hubungan faktor harga, efektivitas, efek samping, rekomendasi dokter atau apoteker dan ketersediaan obat dengan pemilihan antihistamin di Apotek Haka Farma. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 64 konsumen yang membeli antihistamin di Apotek Haka Farma periode 18 Juni – 7 Juli 2026. Data dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Chi-Square dan Fisher's Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penjualan antihistamin generasi kedua lebih tinggi dibandingkan generasi pertama, yaitu 59 strip (71,1%) dan 24 strip (28,9%). Cetirizine merupakan antihistamin yang paling banyak terjual sebanyak 32 strip. Hasil analisis menunjukkan bahwa hanya faktor efek samping yang berhubungan signifikan dengan pemilihan antihistamin (p = 0,001), sedangkan faktor harga, efektivitas, rekomendasi dokter atau apoteker, dan ketersediaan obat tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p > 0,05). Fisher's Exact Test digunakan pada variabel yang tidak memenuhi asumsi uji Chi-Square. Kesimpulannya, antihistamin generasi kedua lebih banyak dipilih dibandingkan generasi pertama, dan hanya faktor efek samping yang berhubungan signifikan dengan pemilihan antihistamin.
Iin Hardiyati; Rizki Adira Sumama
2026 · Book · Open Access
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Keberhasilan pengobatan hipertensi sangat dipengaruhi oleh kepatuhan pasien dalam menggunakan obat antihipertensi secara teratur. Namun, tingkat kepatuhan pasien masih menjadi tantangan karena dipengaruhi oleh berbagai karakteristik individu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan karakteristik pasien dengan tingkat kepatuhan penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi di Puskesmas Kedungwaringin Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif analitik melalui pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 149 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data karakteristik pasien meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan pekerjaan diperoleh melalui kuesioner karakteristik responden, sedangkan tingkat kepatuhan penggunaan obat diukur menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan, memiliki rata-rata usia n52,47 tahun, berpendidikan Sekolah Dasar (SD), dan bekerja sebagai ibu rumah tangga. Analisis bivariat menunjukkan bahwa usia (p = 0,006) dan tingkat pendidikan (p = 0,000) berhubungan secara signifikan dengan tingkat kepatuhan penggunaan obat antihipertensi, sedangkan jenis kelamin (p = 0,529) dan pekerjaan (p = 0,584) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Disimpulkan bahwa usia dan tingkat pendidikan merupakan karakteristik pasien yang berhubungan dengan tingkat kepatuhan penggunaan obat antihipertensi, sedangkan jenis kelamin dan pekerjaan tidak berhubungan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan strategi edukasi dan intervensi untuk meningkatkan kepatuhan penggunaan obat antihipertensi di pelayanan kesehatan primer.
Masita Sari Dewi; Sekar Widyawati Ningrum
2026 · Book · Open Access
Hipertensi merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang masih tinggi di dunia dan Indonesia, tingkat pengetahuan diduga berperan dalam meningkatkan kepatuhan penggunaan obat antihipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap kepatuhan penggunaan obat antihipertensi pada pasien di Apotek Kaffah Farma. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 55 pasien hipertensi yang diperoleh menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner HK-LS dan MMAS-8, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan baik (47,3%), namun kepatuhan penggunaan obat antihipertensi masih rendah (61,8%). Analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan terhadap kepatuhan penggunaan obat antihipertensi (p = 0,551). Disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan tidak berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan penggunaan obat antihipertensi pada pasien di Apotek Kaffah Farma. Hasil ini menunjukkan bahwa kepatuhan kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain seperti dukungan keluarga, peran petugas kesehatan, akses layanan kesehatan, serta motivasi yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Nirmala Manik; Rosiana Putri
2026 · Book · Open Access
Kepuasan pasien merupakan salah satu bagian penting dalam pelayanan kefarmasian. Tingkat Kepuasan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk karakteristik pasien. Penelitian bertujuan untuk mengetahui Hubungan karakteristik Pasien Rawat Jalan Terhadap Tingkat Kepuasan Pada Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Cikarang Penelitian menggunakan metode penelitian kuantitatif, dengan desain cross-sectional dengan sampel berjumlah 94 pasien rawat jalan yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dilakukan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya dan dianalisis menggunakan uji Chi Square. Hasil menunjukkan bahwa sebagaian besar responden berjenis kelamin perempuan, berpendidikan SD dan SMA, berusia 30-39, bekerja sebagai Ibu Rumah tangga dan merupakan menggunakan layanan PBI dengan frekuensi kunjungan 1 kali. Hasil Uji Chi Square menunjukkan bahwa umur yang memiliki hubungan signifikan terhadap tingkat kepuasan, (P-Value 0,03) sedangkan jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan frekuensi kunjungan tidak memiliki hubungan yang signifikan. Kesimpulan penelitian menunjukan dapat disimpulkan bahwa usia merupakan satu-satunya karakteristik pasien yang berhubungan secara signifikan dengan tingkat kepuasan pada pelayanan kefarmasian di Puskesmas Cikarang. Sementara itu, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan frekuensi kunjungan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap tingkat kepuasan pasien. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi Puskesmas untuk terus meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian dengan memperhatikan kebutuhan pasien pada berbagai kelompok usia.
Gilang Aditia Perdiansyah; Kusno Haryanto
2026 · Book · Open Access
Kepuasan pasien merupakan indikator penting dalam menilai mutu pelayanan kesehatan, dan pelayanan kefarmasian yang berorientasi pada pasien menjadi salah satu faktor penentu utamanya di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas. Meskipun standar pelayanan kefarmasian telah diatur melalui regulasi pemerintah, pelaksanaannya di lapangan masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan informasi obat hingga waktu tunggu pelayanan, sehingga evaluasi terhadap hubungan antara kualitas pelayanan kefarmasian dan kepuasan pasien menjadi penting, khususnya di Puskesmas Cikarang Kabupaten Bekasi yang belum pernah diteliti sebelumnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis kualitas pelayanan kefarmasian, tingkat kepuasan pasien, serta hubungan keduanya berdasarkan lima dimensi SERVQUAL, guna menjawab pertanyaan apakah kualitas pelayanan kefarmasian berhubungan signifikan dengan kepuasan pasien di puskesmas tersebut. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif cross-sectional dengan teknik accidental sampling terhadap 254 responden yang memenuhi kriteria inklusi, data dikumpulkan melalui kuesioner tervalidasi, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher's Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan kefarmasian dan tingkat kepuasan pasien secara umum berada pada kategori baik dan puas. Uji bivariat mengungkapkan hubungan yang signifikan antara pelayanan kefarmasian secara keseluruhan dengan kepuasan pasien (p=0,004), serta pada seluruh dimensi SERVQUAL yaitu tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy (masing-masing p=0,000), yang memperkuat pemahaman bahwa kelima dimensi tersebut secara konsisten berkontribusi terhadap kepuasan pasien pada layanan kefarmasian di puskesmas. Dengan demikian, peningkatan mutu pelayanan kefarmasian perlu dilakukan secara berkelanjutan pada seluruh dimensi tersebut untuk mempertahankan kepuasan pasien, dan penelitian selanjutnya disarankan menjangkau fasilitas kesehatan yang lebih beragam serta mempertimbangkan faktor lain yang turut memengaruhi kepuasan pasien
Errol Rakhmad Noordam; Galih Muhamad Faqih
2026 · Book · Open Access
Paparan asap rokok memicu produksi radikal bebas berlebih yang menimbulkan stres oksidatif dan kerusakan jaringan paru, sejalan dengan tingginya insiden kanker paru di Indonesia menurut data World Cancer Research Fund. Kulit pisang raja (Musa × paradisiaca L.), yang selama ini hanya menjadi limbah organik, dilaporkan mengandung senyawa bioaktif antioksidan seperti flavonoid, tanin, dan saponin dengan aktivitas antioksidan kuat sebagaimana ditunjukkan pada kajian terdahulu terhadap ekstrak etanol kulit pisang raja. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol 96% kulit pisang raja terhadap gambaran histopatologi paru mencit putih (Mus musculus) yang dipapar asap rokok pada tiga variasi dosis, yaitu 42, 63, dan 84 mg/kg bb. Penelitian bersifat eksperimental in vivo menggunakan mencit jantan yang dibagi menjadi kelompok kontrol normal, kontrol negatif, kontrol positif (vitamin C), dan tiga kelompok perlakuan dosis, dengan parameter histopatologi berupa hemoragi, infiltrasi sel radang, dan penebalan septa alveoli. Ekstrak diperoleh melalui maserasi dengan rendemen 14,67% serta telah memenuhi sebagian besar parameter standarisasi, dan skrining fitokimia menunjukkan adanya alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Hasil skoring histopatologi menunjukkan skor kerusakan paru pada kelompok perlakuan (rata-rata 1,0-1,7) secara konsisten lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol negatif (2,3), dengan pola dose-response yang jelas, di mana dosis 84 mg/kg bb memberikan efek protektif paling optimal (skor rata-rata 1,0) dan mendekati kelompok kontrol positif (0,5). Disimpulkan bahwa ekstrak etanol 96% kulit pisang raja memiliki efek protektif terhadap kerusakan histopatologi paru mencit akibat paparan asap rokok secara dose-dependent, dengan dosis 84 mg/kg bb sebagai dosis paling optimal.
Mutiah; Sri Rachmi Firdausi
2026 · Book · Open Access
Talasemia mayor merupakan kelainan hemolitik herediter berat yang membutuhkan transfusi darah rutin, sehingga menimbulkan penumpukan zat besi yang harus diatasi dengan terapi kelasi besi. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas biaya terapi transfusi darah dan kelasi besi (Deferasirox dan Deferipron) terhadap outcome klinis pasien talasemia mayor rawat jalan BPJS di RS Sentra Medika Cibinong periode Januari–Desember 2025. Penelitian ini merupakan penelitian farmakoekonomi dengan metode Cost Effectiveness Analysis (CEA), desain observasional analitik non-eksperimental, pendekatan retrospektif menggunakan data sekunder rekam medis dan klaim BPJS/INA-CBG's. Sampel sebanyak 55 pasien dipilih dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan outcome klinis (pencapaian target kadar hemoglobin disertai penurunan kadar feritin) lebih tinggi pada kelompok transfusi darah dan Deferasirox (30%) dibandingkan kelompok transfusi darah dan Deferipron (27%). Rata-rata biaya medis langsung kelompok Deferasirox (Rp1.367.580) lebih rendah dibandingkan kelompok Deferipron (Rp2.708.515). Nilai Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) kelompok Deferasirox (Rp45.586) lebih rendah dibandingkan kelompok Deferipron (Rp100.315), dengan nilai Incremental Cost Effectiveness Ratio (ICER) sebesar -Rp446.978. Terapi transfusi darah dan Deferasirox berada pada kuadran dominan (efektivitas lebih tinggi, biaya lebih rendah). Dapat disimpulkan bahwa terapi transfusi darah dan Deferasirox lebih cost-effective dibandingkan terapi transfusi darah dan Deferipron terhadap outcome klinis pasien talasemia mayor.
Kusno Haryanto; Mohammad Fadly
2026 · Book · Open Access
Obat generik sering dianggap kurang berkualitas dibandingkan obat generik bermerek meskipun keduanya memiliki kandungan zat aktif yang sama, sehingga pengetahuan pasien turut memengaruhi persepsi dan preferensi dalam pemilihan obat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan pasien terhadap persepsi dan preferensi pemilihan obat generik dan obat generik bermerek di Apotek Altha Farma. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik dan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 100 responden yang diperoleh melalui teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden (46%) memiliki tingkat pengetahuan kurang, sedangkan sebagian besar responden (74%) memiliki persepsi positif terhadap obat generik. Preferensi responden relatif seimbang antara obat generik (42%) dan obat generik bermerek (41%), dengan 17% memilih kombinasi keduanya. Hasil uji bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan persepsi (p=0,181) maupun antara tingkat pengetahuan dengan preferensi pemilihan obat (p=0,130). Dapat disimpulkan bahwa persepsi dan preferensi pasien terhadap obat generik lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman, harga, dan peran tenaga kefarmasian dibandingkan tingkat pengetahuan semata.
Awanda Pramudita Okhanza; La Ode Muhammad Anwar
2026 · Book · Open Access
Gandaria (Bouea macrophylla) merupakan buah lokal Indonesia yang kaya senyawa bioaktif, tetapi pemanfaatannya sebagai bahan nutrasetikal fermentasi masih terbatas sehingga diperlukan pemetaan metabolit untuk mendukung pengembangan pangan fungsional berbasis sumber daya lokal. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder dalam gandaria fermentasi kombucha menggunakan Liquid Chromatography–Mass Spectrometry (LC-MS), menentukan golongan senyawa yang berpotensi sebagai komponen nutrasetikal, serta menjawab senyawa apa saja yang terbentuk dan aktivitas biologis apa yang mungkin dimilikinya. Penelitian menggunakan desain eksperimental laboratorium dengan pendekatan deskriptif eksploratif. Buah gandaria dideterminasi, diolah menjadi sari buah, kemudian difermentasi menggunakan gula, starter kombucha, dan SCOBY selama tujuh hari. Sampel disentrifugasi, difiltrasi, diencerkan, lalu dianalisis menggunakan LC-MS dengan kolom C18. Data berupa waktu retensi, massa terhadap muatan, dan luas area puncak dicocokkan dengan basis data NIST serta divisualisasikan menggunakan Cytoscape. Hasil penelitian memperoleh 14 kandidat senyawa yang teridentifikasi secara tentatif. Lima senyawa paling berpotensi sebagai komponen nutrasetikal ialah isoliquiritigenin, Safflor yellow A, fargesin, procyanidin B1, dan (+)-carvone, yang mewakili golongan kalkon atau flavonoid, polifenol, lignan, proantosianidin, dan monoterpen serta berpotensi memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan antimikroba. Fargesin menunjukkan respons ion relatif terbesar, yaitu sekitar 60,22%, sehingga berpotensi menjadi penanda kimia. Beberapa kandidat lain diduga merupakan metabolit primer, kontaminan preparasi, atau senyawa yang masih memerlukan verifikasi lebih lanjut. Penelitian ini menunjukkan bahwa fermentasi kombucha gandaria menghasilkan profil metabolit beragam dan memberikan dasar ilmiah awal bagi pengembangan nutrasetikal lokal. Penelitian selanjutnya disarankan melakukan konfirmasi MS/MS dengan standar autentik, menyediakan blanko, membandingkan sampel sebelum dan sesudah fermentasi, serta menguji aktivitas biologis dan keamanan secara langsung.