2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Obesitas (Féi Pàng) merupakan salah satu masalah kesehatan yang mengalami peningkatan signifikan di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2023, prevalensi obesitas nasional mencapai 28,7% dan lebih tinggi pada kelompok wanita usia subur. Obesitas berkontribusi pada gangguan metabolisme, risiko penyakit tidak menular, serta disfungsi hormonal dan reproduksi. Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT), obesitas dipandang sebagai akibat ketidakseimbangan fungsi limpa dan lambung, akumulasi kelembaban, serta sindrom panas lambung (Wei Re). Penanganan yang tepat memerlukan pendekatan holistik seperti akupunktur dan herbal. Salah satu herbal yang digunakan adalah Murraya paniculata (Jiǔ lǐ xiāng), yang secara empiris dan farmakologis memiliki efek hipolipidemik dan peluruh panas. Terapi ini diyakini dapat menurunkan Indeks Massa Tubuh (IMT) secara efektif.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur dan seduhan Murraya paniculata (Jiǔ lǐ xiāng) terhadap penurunan IMT pada wanita penderita obesitas dengan sindrom panas lambung.
Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif pre-eksperimental dengan rancangan one group pretest-posttest design. Sampel terdiri dari 20 orang wanita usia 21–36 tahun yang menjalani terapi sebanyak 6 kali selama 2 minggu di Klinik Petos Sehat Jakarta. Data dikumpulkan melalui pengukuran IMT sebelum dan sesudah intervensi. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Data dianalisis menggunakan uji statistik paired t-test.
Hasil: Rerata IMT sebelum terapi menunjukkan nilai 30,19 kg/m² Setelah intervensi, rerata nilai IMT menurun menjadi 29,31 kg/m². Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan (p < 0,05), yang menandakan adanya pengaruh terapi terhadap penurunan indikator obesitas.
Kesimpulan: Terapi akupunktur dan seduhan Murraya paniculata (Jiǔ lǐ xiāng) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan IMT pada penderita obesitas dengan sindrom panas lambung. Pendekatan integratif ini dapat menjadi alternatif terapi non-farmakologis yang efektif dan aman dalam menangani obesitas pada wanita usia subur.
2023 · Book · Koleksi Perpustakaan
Pada penderita penyakit gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis dapat dipastikan mengalami tekanan psikologis yang mengakibatkan gangguan mental emosional pasien, selain itu terapi hemodialisis membawa dampak pada kondisi psikologis pasien berupa perasaan cemas, dan sewaktu-waktu dapat mengalami depresi. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis hubungan frekuensi lamanya menjalani hemodialisa dengan gangguan mental emosional pada pasien gagal ginjal kronik di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang. Jenis penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis pendekatan Cross Sectional. Populasi sebanyak 100 pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisa dan sampel sebanyak 36 responden dengan menggunakan teknik purposive sampling serta pengumpulan data menggunakan kuesioner baku SRQ. Hasil penelitian yang menggunakan uji Spearman-Rho didapatkan hasil nilai p-value 0,037 < 0,05 dengan hasil nilai koefisien korelasi 1.000 pada frekuensi hemodialisa dan (+) 0,349 pada Gangguan Mental Emosional sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang cukup signifikan di antara kedua variabel tersebut.
2021 · Book · Koleksi Perpustakaan
2019 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : penyakit asma berada di urutan 4 dari 10 penyakit. Urutan penyakit
terbanyak di Puskesmas Karang Mulya adalah influenza, gastritis, rematisme, asma,
Demam thypoid, myalgia, diare, karies gigi, hipertensi primer (esensial), migren,
penyakit lainnya. Masyarakat menganggap asma merupakan penyakit yang tidak dapat
disembuhkan, kurangnya upaya untuk melaksanakan pencegahan serangan asma
dirumah, serta belum terlihat adanya usaha yang baik dalam mengontrol dan
menghindari alergen. Hal ini yang mengakibatkan kekambuhan pada pasien asma.
Tujuan : mengidentifikasi dan menjelaskan faktor-faktor perilaku yang berhubungan
dengan kejadian kekambuhan asma.
Metode : Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik
kuantitatif yaitu jenis penelitian yang dilakukan untuk menganalisa hubungan Antara
dua variael. Metode penelitian yang digunakan cross sectional (potong lintang).
Populasi dalam penelitian ini adalah 32 orang dan mengambil sampel penelitian dengan
Total sampling. Teknik sampling yang digunakan adalah dengan cara teknik purposive
sampling.
Hasil : Ada hubungan antara pengetahuan, tingkat pendidikan, sosial ekonomi dan
fasilitas kesehatan dengan kejadian kemabuhan pada penderita asma di Wilayah Kerja
Puskesmas Karang Mulya Kabupaten Bekasi, didapatkan Odds Ratio (OR) dari
variabel pengetahuan adalah 20,000, variabel tingkat pendidikan adalah 12,000,
variabel sosial ekonomi adalah 11,333 dan variabel fasilitas kesehatan adalah 7,000.
Kesimpulan : Penderita asma dengan pengetahuan kurang memiliki resiko 20 kali
dapat terjadi kekambuhan dibandingkan dengan penderita asma dengan pengetahuan
baik. Penderita asma dengan tingkat pendidikan rendah memiliki resiko 12 kali dapat
terjadi kekambuhan dibandingkan dengan penderita asma dengan tingkat pendidikan
tinggi. Penderita asma dengan sosial ekonomi rendah memiliki resiko 11 kali dapat
terjadi kekambuhan dibandingkan dengan penderita asma dengan sosial ekonomi
tinggi. Penderita asma yang tidak memanfaatkan fasilitas kesehatan memiliki resiko 7
kali dapat terjadi kekambuhan dibandingkan dengan penderita asma yang
memanfaatkan fasilitas kesehatan.
Saran : kepada masyarakat khususnya masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Karang
Mulya Kabupaten Bekasi agar dapat menghindari faktor alergen yang berkaitan
dengan penyebab kekambuhan asma sehingga dapat mengurangi kekambuhan asma.
2019 · Book · Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku perawat dalam
menuntaskan pekerjaan tepat waktu di Ruang Anak RS Sentra Medika Cibinong. Penelitian ini dengan
menggunakan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini 30 perawat anak yang diambil dengan
tekhnik Total Sampling. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa perawat anak yang
memiliki perilaku baik sebanyak 25 perawat (83,3%) dari 30 perawat. Hasil analisis univariat
menunjukkan sebagian besar perawat anak memiliki pengetahuan yang baik yaitu 23 perawat (76,7%) p
value 0,006. Kemudian didapatkan informasi sebagian besar perawat anak memiliki sikap baik yaitu 21
perawat (70%) p value 0,019. Selanjutnya sebagian besar perawat anak memiliki keterampilan yang baik
dalam bekerja yaitu 24 perawat (80%) p value 0,041. Kemudian yang terakhir didapatkan informas
sebagian besar perawat anak memiliki motivasi yang kurang dalam bekerja yaitu 21 perawat (70%) p
value 0,019. Dari hasil penelitian sebagian besar perawat anak berperilaku baik dalam bekerja, namun
mereka memiliki motivasi kerja yang kurang baik. Oleh sebab itu disarankan agar pihak manajemen
meningkatkan motivasi kerja perawat dengan adanya pengakuan dan pemebrian penghargaan kepada staf
perawat, serta diadakannya rekreasi atau familly gathering yang melibatkan keluarga staff perawat yang
bertujuan untuk menyegarkan fikiran staf perawat dan mengurangi tingkat stress dalam bekerja.
2019 · Book · Koleksi Perpustakaan