SYLVA RANXENA
2026 · Thesis · Open Access
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Viral Marketing dan Flash
Sale terhadap minat beli konsumen Shopee Generasi Z di Kota Depok. Namun,
terdapat inkonsistensi dari penelitian sebelumnya (research gap) terkait efektivitas
kedua strategi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan
pendekatan asosiatif kausal. Pengumpulan data primer dilakukan dengan
menggunakan kuesioner online (Google Form). Populasi dalam penelitian ini yaitu
Generasi Z di Kota Depok. Teknik pengambilan sampel menggunakan Non
Probability Sampling melalui metode Quota Sampling sebanyak 60 responden yang
diolah menggunakan IBM SPSS 26. Teknik analisis data menggunakan uji validitas,
uji reliabilitas, uji asumsi klasik, analisis regresi linear berganda, koefisien
determinasi, uji t dan uji F. Hasil penelitian uji t Viral Marketing (X1) menunjukkan
thitung 3,397 > ttabel 2,002 dengan nilai signifikansi p = 0,001 < 0,05, dan Flash Sale
(X2) thitung 3,338 > ttabel 2,002 dengan nilai signifikansi p = 0,001 < 0,05, secara
parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen (Y). Uji F
menunjukkan Viral Marketing (X1) dan Flash Sale (X2) secara simultan
berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen (Y), dengan nilai
Fhitung 40,749 > Ftabel 3,16 dan nilai signifikansi p < 0,001 < 0,05. Hasil uji koefisien
determinasi menunjukkan variabel Viral Marketing (X1) dan Flash Sale (X2)
mampu menjelaskan variasi minat beli konsumen (Y) sebesar 58,8% sedangkan
selebihnya 41,2% sisanya dijelaskan oleh variabel lain.
SISKA PARADILA
2026 · Thesis · Open Access
DOMINGO AMADEUS SALVATORE
2026 · Thesis · Open Access
Latar Belakang: Insomnia adalah gangguan tidur tersering dalam praktik klinis yang menurunkan kualitas hidup dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif. Obat sedatif-hipnotik konvensional memiliki efek samping seperti ketergantungan dan gangguan kognitif, sehingga diperlukan terapi alternatif yang aman. Akupunktur titik PC 6 (Nei Guan) dan herbal wedang pala berpotensi memberikan efek sinergis untuk mengatasi insomnia. Tujuan: Menganalisis pengaruh akupunktur PC 6 kombinasi wedang pala terhadap peningkatan kualitas tidur pasien insomnia. Metode: Penelitian pretest-posttest control group design dengan pendekatan kuantitatif ini melibatkan 30 pasien insomnia di Klinik Velda, Tanjung Priuk, Jakarta Utara, yang dibagi menjadi dua kelompok: akupunktur PC 6 + wedang pala (n=15) dan akupunktur PC 6 saja (n=15). Intervensi dilakukan 8 kali (2 kali/minggu). Kualitas tidur diukur dengan Insomnia Severity Index (ISI) saat pre-test dan post-test. Analisis menggunakan uji Shapiro-Wilk (normalitas) dan Paired T-Test (hipotesis). Hasil: Seluruh data berdistribusi normal (p > 0,05). Kelompok kombinasi menunjukkan penurunan skor ISI yang sangat signifikan dari 15,20 ± 4,98 menjadi 7,00 ± 2,72 (t(14) = -17,85; p 0,001). Kelompok akupunktur saja menurun dari 16,20 ± 4,24 menjadi 8,73 ± 2,60 (t(14) = -18,63; p 0,001). Kedua kelompok mengalami perbaikan yang sangat signifikan secara statistik (p 0,001). Kesimpulan: Akupunktur PC 6, baik tunggal maupun kombinasi dengan wedang pala, efektif menurunkan skor ISI (meningkatkan kualitas tidur) pada pasien insomnia moderat. Kombinasi menunjukkan kecenderungan efek lebih besar, mengindikasikan efek sinergis antara kedua terapi.
WA BUSIMA
2026 · Thesis · Open Access
ABSTRAK Efektivitas Tuina Pediatrik Untuk Meningkatkan Nafsu Makan Pada Anak Dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa Di Griya Sehat Rauhiyyah Oleh :Wabusima Gangguan nafsu makan pada anak dapat menyebabkan asupan nutrisi tidak optimal. Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa (Pi Qi Xu). Tuina Pediatrik merupakan salah satu terapi komplementer yang dapat digunakan untuk membantu meningkatkan fungsi Limpa dan nafsu makan. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas Tuina Pediatrik terhadap peningkatan pola makan anak dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah. Penelitian menggunakan desain Pre-Experimental One Group Pretest-Posttest dengan 30 responden. Intervensi diberikan selama 4 minggu, sebanyak 8 sesi. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah terapi. Analisis menggunakan Paired Sample t-test. Hasil menunjukkan bahwa sebelum terapi, 29 responden (96,7%) berada pada kategori sedang dan 1 responden (3,3%) pada kategori kurang. Setelah terapi, 22 responden (73,3%) berada pada kategori sedang dan 8 responden (26,7%) pada kategori baik. Rata-rata skor meningkat dari 33,97 menjadi 36,67, dengan selisih rata-rata 2,70. Hasil uji Paired Sample t-test menunjukkan t = 5,85; df = 29; p 0,001. Dengan demikian, terdapat perbedaan yang signifikan antara pola makan sebelum dan sesudah terapi. Tuina Pediatrik efektif meningkatkan pola makan anak dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah. Kata kunci: Tuina Pediatrik, pola makan, anak, Sindrom Defisiensi Qi Limpa. ABSTRACT The Effectiveness of Pediatric Tuina in Increasing Appetite in Children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah By: Wabusima Appetite disorders in children may result in inadequate nutritional intake. In Traditional Chinese Medicine, this condition may be associated with Spleen Qi Deficiency Syndrome (Pi Qi Xu). Pediatric Tuina is a complementary therapy that may help improve Spleen function and appetite. This study aimed to determine the effectiveness of Pediatric Tuina in improving eating patterns among children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah. This study used a Pre-Experimental One Group Pretest-Posttest Design involving 30 respondents. The intervention was administered for 4 weeks in 8 sessions. Measurements were taken before and after the intervention. Data were analyzed using the Paired Sample t-test. Before the intervention, 29 respondents (96.7%) were in the moderate category and 1 respondent (3.3%) was in the low category. After the intervention, 22 respondents (73.3%) were in the moderate category and 8 respondents (26.7%) were in the good category. The mean score increased from 33.97 to 36.67, with a mean difference of 2.70. The Paired Sample t-test showed t = 5.85; df = 29; p 0.001. Therefore, there was a significant difference in eating patterns before and after the intervention. Pediatric Tuina was effective in improving eating patterns among children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah. ABSTRAK Efektivitas Tuina Pediatrik Untuk Meningkatkan Nafsu Makan Pada Anak Dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa Di Griya Sehat Rauhiyyah Oleh :Wabusima Gangguan nafsu makan pada anak dapat menyebabkan asupan nutrisi tidak optimal. Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa (Pi Qi Xu). Tuina Pediatrik merupakan salah satu terapi komplementer yang dapat digunakan untuk membantu meningkatkan fungsi Limpa dan nafsu makan. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas Tuina Pediatrik terhadap peningkatan pola makan anak dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah. Penelitian menggunakan desain Pre-Experimental One Group Pretest-Posttest dengan 30 responden. Intervensi diberikan selama 4 minggu, sebanyak 8 sesi. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah terapi. Analisis menggunakan Paired Sample t-test. Hasil menunjukkan bahwa sebelum terapi, 29 responden (96,7%) berada pada kategori sedang dan 1 responden (3,3%) pada kategori kurang. Setelah terapi, 22 responden (73,3%) berada pada kategori sedang dan 8 responden (26,7%) pada kategori baik. Rata-rata skor meningkat dari 33,97 menjadi 36,67, dengan selisih rata-rata 2,70. Hasil uji Paired Sample t-test menunjukkan t = 5,85; df = 29; p 0,001. Dengan demikian, terdapat perbedaan yang signifikan antara pola makan sebelum dan sesudah terapi. Tuina Pediatrik efektif meningkatkan pola makan anak dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah. Kata kunci: Tuina Pediatrik, pola makan, anak, Sindrom Defisiensi Qi Limpa. ABSTRACT The Effectiveness of Pediatric Tuina in Increasing Appetite in Children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah By: Wabusima Appetite disorders in children may result in inadequate nutritional intake. In Traditional Chinese Medicine, this condition may be associated with Spleen Qi Deficiency Syndrome (Pi Qi Xu). Pediatric Tuina is a complementary therapy that may help improve Spleen function and appetite. This study aimed to determine the effectiveness of Pediatric Tuina in improving eating patterns among children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah. This study used a Pre-Experimental One Group Pretest-Posttest Design involving 30 respondents. The intervention was administered for 4 weeks in 8 sessions. Measurements were taken before and after the intervention. Data were analyzed using the Paired Sample t-test. Before the intervention, 29 respondents (96.7%) were in the moderate category and 1 respondent (3.3%) was in the low category. After the intervention, 22 respondents (73.3%) were in the moderate category and 8 respondents (26.7%) were in the good category. The mean score increased from 33.97 to 36.67, with a mean difference of 2.70. The Paired Sample t-test showed t = 5.85; df = 29; p 0.001. Therefore, there was a significant difference in eating patterns before and after the intervention. Pediatric Tuina was effective in improving eating patterns among children with Spleen Qi Deficiency Syndrome at Griya Sehat Rauhiyyah. Keywords: Pediatric Tuina, eating pattern, children, Spleen Qi Deficiency Syndrome.
SYAELA NURFAUZIAH SUKNA
2026 · Thesis · Open Access
Latar Belakang: General anestesi merupakan teknik anestesi yang sering digunakan dalam tindakan pembedahan. Setelah anestesi, pasien menjalani masa pemulihan di ruang Post Anesthesia Care Unit (PACU). Kecepatan pemulihan pasien dipengaruhi kondisi fisik sebelum operasi yang dinilai menggunakan klasifikasi American Society of Anesthesiologists (ASA). Perbedaan status fisik ASA dapat memengaruhi respons tubuh terhadap anestesi sehingga berdampak pada waktu pencapaian Aldrete Score. Tujuan: Mengetahui hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pencapaian Aldrete Score pada pasien pasca general anestesi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain asosiatif dan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 95 pasien general anestesi di RSUD Sekarwangi Sukabumi. Sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin diperoleh 49 pasien. Data status fisik ASA diperoleh melalui telaah rekam medis dan anamnesis pra anestesi, sedangkan waktu pencapaian Aldrete Score diperoleh melalui observasi pasien di ruang PACU. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. .Hasil: pasien dengan ASA I mencapai Aldrete Score ≥9 dalam waktu ≤15 menit, sedangkan pasien dengan ASA II lebih banyak menunjukkan waktu pemulihan lebih lama. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,005 (p 0,05), yang berarti terdapat hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pencapaian Aldrete Score pada pasien pasca general anestesi. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pencapaian Aldrete Score pada pasien pasca general anestesi. Saran : Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan variabel lain yang berpotensi memengaruhi waktu pencapaian Aldrete Score serta menggunakan jumlah sampel dan desain penelitian yang lebih luas
DEDE ANDRI STEPANY
2026 · Thesis · Open Access
Latar Belakang: Anestesi spinal merupakan salah satu teknik anestesi regional yang sering digunakan pada berbagai prosedur pembedahan karena memiliki onset kerja yang cepat, memberikan analgesia yang adekuat, serta risiko sistemik yang relatif lebih rendah dibandingkan anestesi umum. Namun demikian, anestesi spinal dapat menimbulkan beberapa efek samping, salah satunya adalah shivering. Shivering terjadi akibat gangguan mekanisme termoregulasi yang disebabkan oleh blokade simpatis sehingga terjadi vasodilatasi dan redistribusi panas dari inti tubuh ke perifer. Kondisi ini dapat meningkatkan konsumsi oksigen, menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien, serta berpotensi memengaruhi proses pemulihan pascaoperasi. Pemulihan motorik setelah anestesi spinal umumnya dinilai menggunakan Bromage Score yang menggambarkan kemampuan pasien dalam menggerakkan ekstremitas bawah.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kejadian shivering dengan pemulihan Bromage Score pada pasien anestesi spinal di Recovery Room RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 51 responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Kejadian shivering diukur menggunakan Crossley & Mahajan Shivering Scale, sedangkan pemulihan motorik dinilai menggunakan Bromage Score. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak mengalami shivering dan mayoritas pasien mencapai pemulihan Bromage Score ≤ 2 jam. Analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian shivering dengan pemulihan Bromage Score pada pasien pasca anestesi spinal dengan nilai p = 0,433 (p > 0,05). Kesimpulan: Kejadian shivering tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan pemulihan Bromage Score pada pasien anestesi spinal di RSUD Kabupaten Bekasi. Saran: untuk peneliti selanjutnya menambah jumlah sampel serta mempertimbangkan variabel lain seperti suhu tubuh, durasi operasi, jenis obat anestesi, dan status fisik pasien untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor yang memengaruhi pemulihan motorik setelah anestesi spinal.
TARISHAH DEWI JAYALAKSANA
2026 · Thesis · Open Access
Latar Belakang: Ketidakidakstabilan hemodinamik selama periode perianestesi, khususnya perubahan Mean Arterial Pressure (MAP), berpotensi memengaruhi perfusi serebral dan berdampak pada waktu pulih sadar setelah anestesi umum. Fluktuasi MAP intra dan pasca anestesi diduga memiliki kontribusi berbeda terhadap durasi pemulihan kesadaran. Tujuan: Mengetahui hubungan MAP intra dan pasca anestesi dengan waktu pulih sadar pada pasien yang menjalani anestesi umum di Instalasi Bedah Sentral Sentra Medika Hospital Cibinong. Metode: Penelitian kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional korelasi. Populasi berjumlah 70 pasien yang menjalani anestesi umum dengan teknik awake extubation, dengan sampel 66 responden yang dipilih menggunakan probability sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data MAP intra dan pasca anestesi diperoleh dari lembar monitoring anestesi yang dicatat setiap 5 menit dan dihitung menggunakan metode Time Weighted Average Mean Arterial Pressure (TWA-MAP). Waktu pulih sadar diukur menggunakan Aldrete Score, dengan durasi dihitung menggunakan stopwatch sejak pasien tiba di ruang pemulihan hingga mencapai skor ≥8. Analisis data meliputi univariat, bivariat (uji korelasi Pearson dan paired t-test), serta multivariat (regresi linear berganda). Hasil: Sebagian besar pasien mencapai waktu pulih sadar 30 menit. Terdapat hubungan signifikan antara MAP intraoperatif dan waktu pulih sadar dengan p-value 0,000 (p0,05), sedangkan MAP pasca anestesi tidak menunjukkan hubungan bermakna. Analisis multivariat menunjukkan MAP intraoperatif sebagai faktor dominan dengan p-value 0,000 (p0,05). Kesimpulan: MAP intraoperatif memiliki hubungan lebih kuat dengan waktu pulih sadar dibandingkan MAP pasca anestesi dengan nilai signifikansi. Saran: Stabilisasi MAP intraoperatif perlu diprioritaskan melalui pemantauan kontinu dan intervensi dini terhadap hipotensi guna menjaga perfusi serebral serta mempercepat pemulihan kesadaran pasien
NENG TITA NOVITA
2026 · Thesis · Open Access
Latar Belakang : Kecemasan merupakan kondisi psikologis tidak menyenangkan yang sering dialami oleh pasien ketika menghadapi prosedur pembedahan dengan anestesi spinal yang berdampak pada peningkatan tekanan darah serta kebutuhan tambahan obat sedatif. Upaya penanganan non-farmakologis Eye mask terbukti dapat menciptakan kondisi relaksasi dan menurunkan kecemasan. Tujuan : untuk mengetahui pengaruh eye mask terhadap tingkat kecemasan pasien anestesi spinal di ruang intraoperasi menggunakan skor visual analog scale for anxeity (VAS-A) di RS Sentra Medika cikarang. Metode : Penelitian ini menggunkan metode kuantitatif dengan pre experimental design tipe one group pretest–posttest design dan consecutive sampling sebagai teknik pengabilan sampel yang melibatkan 32 responden. Instrumen penelitian berupa kuesioner Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A) dan data dianalisis menggunakan uji wilcoxon. Hasil : Analisis data perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi menggunakan uji wilcoxon menghasilkan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,000 ( 0,05). Kesimpulan : terdapat pengaruh eye mask terhadap tingkat kecemasan pasien anestesi spinal di ruang intraoperasi menggunakan skor Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A).
AMIRAH RAUDHATUL JANNAH
2026 · Thesis · Open Access
Latar Belakang: HIPOTENSI INTRAOPERATIF merupakan komplikasi yang sering terjadi pada pasien dengan anestesi spinal akibat blokade simpatis yang menyebabkan vasodilatasi dan penurunan tekanan arteri rata-rata (MAP). Identifikasi risiko sejak fase preoperatif penting untuk mencegah gangguan perfusi organ. DASI merupakan instrumen sederhana yang menilai kapasitas fungsional kardiopulmoner dan berpotensi digunakan sebagai indikator risiko hemodinamik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran DASI sebagai prediktor risiko HIPOTENSI INTRAOPERATIF pada pasien dengan anestesi spinal di IBS RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode: Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Sampel sebanyak 36 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Skor DASI dikategorikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi. Kejadian hipotensi ditentukan berdasarkan MAP 70 mmHg. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,03. Hasil Penelitian: Sebagian besar responden memiliki skor DASI kategori rendah. Kejadian hipotensi intraoperatif ditemukan pada 22,2% responden. Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara skor DASI dan kejadian HIPOTENSI INTRAOPERATIF dengan nilai signifikansi p = 0,03 (p 0,05). Kesimpulan: Skor DASI berhubungan signifikan dengan kejadian hipotensi intraoperatif pada pasien dengan anestesi spinal. Pasien dengan skor DASI rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipotensi. Saran: DASI dapat digunakan sebagai alat skrining preoperatif untuk membantu perencanaan manajemen hemodinamik pada anestesi spinal.
TRI NUR WAHYUNI
2026 · Thesis · Open Access
Latar Belakang: Kecemasan pre operasi merupakan respon psikologis yang sering dialami pasien sebelum menjalani tindakan pembedahan, termasuk pada prosedur dengan teknik anestesi spinal. Kecemasan yang tidak terkontrol dapat mempengaruhi kondisi fisiologis pasien seperti peningkatan tekanan darah, denyut jantung, serta mempengaruhi jalannya tindakan anestesi dan proses pemulihan. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam menurunkan kecemasan adalah dukungan keluarga. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre anestesi dengan teknik anestesi spinal di RSUD Sekarwangi Sukabumi Tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 39 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dukungan keluarga dengan skala Likert dan kuesioner tingkat kecemasan APAIS (Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memperoleh dukungan keluarga dalam kategori baik (79,2%) dan mengalami tingkat kecemasan ringan(87,3%( hingga sedang. Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p = 0,000 (p 0,05), yang menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre anestesi spinal. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre anestesi dengan teknik anestesi spinal. Dukungan keluarga yang baik berperan dalam membantu menurunkan tingkat kecemasan pasien sebelum menjalani tindakan pembedahan.
TRI NUR WAHYUNI
2025 · Thesis · Open Access
Latar Belakang: Kecemasan pre operasi merupakan respon psikologis yang sering dialami pasien sebelum menjalani tindakan pembedahan, termasuk pada prosedur dengan teknik anestesi spinal. Kecemasan yang tidak terkontrol dapat mempengaruhi kondisi fisiologis pasien seperti peningkatan tekanan darah, denyut jantung, serta mempengaruhi jalannya tindakan anestesi dan proses pemulihan. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam menurunkan kecemasan adalah dukungan keluarga. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre anestesi dengan teknik anestesi spinal di RSUD Sekarwangi Sukabumi Tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 39 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dukungan keluarga dengan skala Likert dan kuesioner tingkat kecemasan APAIS (Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memperoleh dukungan keluarga dalam kategori baik (79,2%) dan mengalami tingkat kecemasan ringan(87,3%( hingga sedang. Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p = 0,000 (p 0,05), yang menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre anestesi spinal. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre anestesi dengan teknik anestesi spinal. Dukungan keluarga yang baik berperan dalam membantu menurunkan tingkat kecemasan pasien sebelum menjalani tindakan pembedahan.
KAMILUDIN
2025 · Thesis · Open Access
Latar Belakang: Hipotensi merupakan komplikasi yang sering terjadi akibat anestesi spinal dan dapat memicu Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) melalui hipoperfusi pada Chemoreceptor Trigger Zone (CTZ). PONV merupakan komplikasi pasca operasi yang dapat memperlambat pemulihan dan meningkatkan ketidaknyamanan pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hipotensi akibat anestesi spinal dengan kejadian PONV di ruang Recovery Room Rumah Sakit Pinna Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 31 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui observasi tekanan darah dan kejadian PONV dalam 24 jam pasca operasi, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara hipotensi akibat anestesi spinal dengan kejadian PONV p-value = 0.002 (p 0,05). Kesimpulan: Disimpulkan bahwa pasien yang mengalami hipotensi memiliki risiko lebih tinggi mengalami PONV. Diperlukan deteksi dini dan penatalaksanaan hipotensi secara optimal untuk menurunkan risiko PONV dan meningkatkan kualitas pelayanan pasca operasi.
TARISHAH DEWI JAYALAKSANA
2025 · Thesis · Open Access
Latar Belakang: Ketidakidakstabilan hemodinamik selama periode perianestesi, khususnya perubahan Mean Arterial Pressure (MAP), berpotensi memengaruhi perfusi serebral dan berdampak pada waktu pulih sadar setelah anestesi umum. Fluktuasi MAP intra dan pasca anestesi diduga memiliki kontribusi berbeda terhadap durasi pemulihan kesadaran. Tujuan: Mengetahui hubungan MAP intra dan pasca anestesi dengan waktu pulih sadar pada pasien yang menjalani anestesi umum di Instalasi Bedah Sentral Sentra Medika Hospital Cibinong. Metode: Penelitian kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional korelasi. Populasi berjumlah 70 pasien yang menjalani anestesi umum dengan teknik awake extubation, dengan sampel 66 responden yang dipilih menggunakan probability sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data MAP intra dan pasca anestesi diperoleh dari lembar monitoring anestesi yang dicatat setiap 5 menit dan dihitung menggunakan metode Time Weighted Average Mean Arterial Pressure (TWA-MAP). Waktu pulih sadar diukur menggunakan Aldrete Score, dengan durasi dihitung menggunakan stopwatch sejak pasien tiba di ruang pemulihan hingga mencapai skor ≥8. Analisis data meliputi univariat, bivariat (uji korelasi Pearson dan paired t-test), serta multivariat (regresi linear berganda). Hasil: Sebagian besar pasien mencapai waktu pulih sadar 30 menit. Terdapat hubungan signifikan antara MAP intraoperatif dan waktu pulih sadar p-value 0,000 (p0,05), sedangkan MAP pasca anestesi tidak menunjukkan hubungan bermakna. Analisis multivariat menunjukkan MAP intraoperatif sebagai faktor dominan p-value 0,000 (p0,05). Kesimpulan: MAP intraoperatif memiliki hubungan lebih kuat dengan waktu pulih sadar dibandingkan MAP pasca anestesi dengan nilai signifikansi. Saran: Stabilisasi MAP intraoperatif perlu diprioritaskan melalui pemantauan kontinu dan intervensi dini terhadap hipotensi guna menjaga perfusi serebral serta mempercepat pemulihan kesadaran pasien.
SUHAYATI
2025 · Thesis · Open Access
Data dari Dinas Kesehatan Jawa Barat jumlah kematian ibu di di Jawa Barat pada tahun 2024 mencapai 749 kasus dengan Kabupaten Bogor, Garut, dan Kabupaten Bandung menjadi daerah dengan angka kematian ibu tertinggi, sedangkan kabupaten Bekasi mencatat 46 kematian ibu. Upaya menurunkan angka kematian dan kesakitan pada ibu hamil yaitu dengan cara meningkatkan pelayanan antenatal care terpadu Pemeriksaan kehamilan dengan 10T adalah standar pelayanan antenatal care (ANC) yang bertujuan untuk memastikan ibu hamil mendapatkan asuhan yang komprehensif dan berkualitas. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Quasi eksperimental Pretest-Posttest One Group Design Pengambilan sampel dengan total sampling sebanyak 30 orang. Analisa data menggunakan distribusi frekuensi dan uji Wilcoxon. Penelitian ini melakukan intervensi berupa edukasi kesehatan melalui video dan mengevaluai dalam kuesioner. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juli 2025 di Desa Mangunjaya Kabupaten Bekasi. Hasil uji wilcoxon pada sampel didapatkan hasil bahwa mayoritas responden atau 25 orang (83,3%) mengalami peningkatan pengetahuan dengan mean rank 16,38. Nilai p dengan tingkat kepercayaan 95% sebesar 0,000 0,05 kesimpulannya adalah Ha diterima atau Ho ditolak artinya ada pengaruh yang signifikan pada pemberian edukasi terhadap pengetahuan ibu hamil tentang 10T di Desa Mangunjaya Kabupaten Bekasi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan yang dapat mendukung perilaku sehat selama kehamilan, meningkatkan pemahaman serta kewaspadaan terhadap berbagai tanda bahaya yang dapat terjadi selama kehamilan. Mampu menurunkan risiko komplikasi dan meningkatkan kesiapan menghadapi persalinan. Saran Bidan diharapkan meningkatkan frekuensi serta kualitas edukasi melalui kelas ibu hamil dengan metode interaktif, khususnya terkait pemeriksaan antenatal 10T. Ibu hamil perlu lebih aktif mengikuti kelas serta mencari informasi dari sumber terpercaya agar pengetahuan mengenai kehamilan dan pemeriksaan 10T semakin meningkat. Puskesmas diharapkan memperkuat kegiatan edukasi kesehatan dan sosialisasi pemeriksaan antenatal untuk mendorong pemahaman serta kesadaran ibu hamil melakukan pemeriksaan rutin. Sementara itu, penelitian selanjutnya disarankan menggunakan jumlah sampel lebih besar dengan metode berbeda, seperti desain eksperimen, agar hasil lebih representatif dan mendalam.
SALSA BHATARY AMADHEA
2025 · Thesis · Open Access
Latar belakang: GGK adalah kondisi progresif yang menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara permanen. Hemodialisis menjadi terapi utama bagi pasien GGK, namun dapat berdampak pada kualitas hidup mereka. Aktivitas fisik berperan dalam meningkatkan kualitas hidup pasien hemodialisis, tetapi banyak pasien mengalami keterbatasan fisik dan kelelahan sehingga memiliki tingkat aktivitas fisik yang rendah. Tujuan: Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat aktivitas fisik dengan kualitas hidup pasien GGK yang menjalani hemodialisis di RS Sentra Medika Cikarang. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, dengan sampel 65 pasien yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) dan Kidney Disease Quality of Life (KDQOL), kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil: Penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki tingkat aktivitas fisik ringan hingga sedang. Uji statistik menunjukkan hubungan signifikan antara tingkat aktivitas fisik dan kualitas hidup pasien dengan nilai p = 0,000. Pasien dengan aktivitas fisik lebih tinggi cenderung memiliki kualitas hidup lebih baik. Kesimpulan: Aktivitas fisik berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien hemodialisis. Saran: Diperlukan edukasi dan intervensi untuk mendorong pasien agar lebih aktif guna meningkatkan kesejahteraan mereka.
AHSAN FILLAH EL FAIZ
2025 · Thesis · Open Access
UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN (UMS) PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN PENDIDIKAN PROFESI NERS Skripsi, Januari 2025 Nama : Ahsan Fillah El Faiz & Nadia Luthfi Rahman Nim : 121070001 & 122070160 HUBUNGAN STUNTING DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR, MOTORIK HALUS, BAHASA DAN BICARA, SOSIALISASI DAN KEMANDIRIAN ANAK USIA BATITA DI PUSKESMAS CIKARANG UTARA ABSTRAK Latar Belakang: Stunting merupakan gangguan pertumbuhan anak di karenakan kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang di tandai dengan tinggi badan di bawah standar pada umur nya dan Stunting merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang utama di masyarakat Indonesia. Stunting menjadi masalah yang serius di karenakan berhubungan dengan perkembangan dengan resiko sakit dan kematian yang lebih besar yang akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia di kemudian hari. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Stunting dengan Perkembangan Motorik Kasar, Motorik Halus, Bahasa dan Bicara, Sosialisasi dan Kemandirian Di Puskesmas Cikarang Utara Kabupaten Bekasi. Metode Penelitian: Jenis penelitian kuantitatif dengan desain Korelasional dan pendekatan cross-sectional. Populasi pada penelitan ini yaitu anak batita yang berjumlah 1.945 batita, setelah di masukan ke rumus slovin jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 96 batita dengan menggunakan metode Non probality dengan jenis purposive sampling. Pengambilan data menggunakan lembar kuesioner KPSP. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-square. Hasil Penelitian: Dari hasil analisis uji statistik chi-square variabel perkembangan motorik kasar dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,028, PR 1483, CI 1,042-2.109, CC 0.240. Variabel perkembangan morotik halus dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,020, PR 1.580. CI 1.070-2.335, CC 0,251. Variabel perkembangan bahasa dan bicara dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,022, PR 1.435. CI 1.048-1.996, CC 0,248. Variabel perkembangan sosialisasi dan kemandirian dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,044, PR 1.448. CI 1.015-2.066, CC 0,222 Kesimpulan: Berdasarkan hasil di atas dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara variabel stunting dengan perkembangan motorik halus, motorik kasar, bicara dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian. MEDIKA SUHERMAN UNIVERSITY (UMS) BACHELOR OF NURSING EDUCATION STUDY PROGRAM NERS PROFESSION Thesis, January 2025 Name: Ahsan Fillah El Faiz & Nadia Luthfi Rahman Nim: 121070001 & 122070160 HSTUNTING CLUSTER WITH THE DEVELOPMENT OF GROSS MOTOR SKILLS, FINE MOTOR, LANGUAGE AND SPEECH, SOCIALIZATION AND INDEPENDENCE OF TODDLERS AT THE NORTH CIKARANG HEALTH CENTER ABSTRACT Background: Stunting is a child's growth disorder due to chronic malnutrition and recurrent infections that are characterized by substandard height at their age and stunting is one of the main health problems in Indonesian society. Stunting is a serious problem because it is related to development with a greater risk of illness and death which will affect the quality of human resources in the future. Objective: This study aims to determine the relationship between stunting and gross motor development, fine motor, language and speech, socialization and independence in the North Cikarang Health Center, Bekasi Regency. Research Methods: A type of quantitative research with a Correlational design and a cross-sectional approach. The population in this research is 1,945 toddlers, after being entered into the slovin formula, the number of samples in this study is 96 toddlers using the Non-probality method with a type of purposive sampling. Data collection uses KPSP questionnaire sheets. Data analysis uses the Chi-square statistical test. Research Results: From the results of the analysis of the chi-square statistical test of gross motor development and stunting variables read from Continuity Correction, a value (p-value) of 0.028, PR 1483, CI 1.042-2.109, CC 0.240 was obtained. The variables of subtle morothic development and stunting read from Continuity Correction were found to have a value (p-value) of 0.020, PR 1,580. CI 1,070-2,335, CC 0.251. The variables of language and speech development and stunting read from Continuity Correction were found to have a value (p-value) of 0.022, PR 1,435. CI 1,048-1,996, CC 0.248. The variables of socialization and independence and stunting development read from Continuity Correction were found to have a value (p-value) of 0.044, PR 1,448. CI 1.015-2.066, CC 0.222. Conclusion: Based on the above results, it can be concluded that there is a significant relationship between stunting variables and fine motor development, gross motor, speech and language, socialization and independence.
LETI TRIYANI
2025 · Thesis · Open Access
Latar Belakang : Anak yang mengalami sakit dan harus melakukan perawatan di rumah sakit dapat menimbulkan hospitalisasi. Hospitalisasi dapat terjadi akibat anak yang belum terbiasa berinteraksi dengan lingkungan rumah sakit. Hospitalisasi pada anak dapat menimbulkan kecemasan pada orang tua. Hal ini disebabkan karena orang tua melihat anaknya sedang terbaring sakit. Selain itu kecemasan pada orang tua dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan, semakin rendah tingkat pengetahuannya maka akan semakin tinggi kecemasannya. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasan orang tua terhadap hospitalisasi pada pasien anak usia prasekolah. Metode: Kuantitatif deskriptif analitik melalui pendekatan cross-sectional, pengambilan sampel menggunakan metode non-probability sampling. Hasil: Uji chi-square menunjukan nilai P = 0,010 (0,05) maka terdapat adanya hubungan tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasan orang tua terhadap hospitalisasi pada pasien anak usia prasekolah. Kesimpulan: Adanya hubungan tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasan orang tua terhadap hospitalisasi pada pasien anak usia prasekolah. Kata Kunci: Hospitalisasi, Orang Tua, Pasien Anak Prasekolah, Tingkat Kecemasan Orang Tua, Tingkat Pengetahuan.
RIZMA ANGGRAENI DELIANA PUTRI
2025 · Thesis · Open Access
Periode pemulihan setelah operasi dikenal sebagai waktu dengan resiko tinggi untuk terjadinya komplikasi di recovery room. Hipotermi adalah komplikasi pasca anestesi yang sering ditemukan di ruang recovery room, baik general anestesi maupun spinal anestesi. Hipotermi pasca operasi memiliki dampak signifikan pada hemodinamik, terutama terkait perubahan tekanan darah dan respons kardiovaskular pasien. Tujuan: Mengetahui hubungan kejadian hipotermi dengan nadi dan tekanan darah pasca operasi di recovery room RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan kuantitatif non exsperimental dengan metode korelasi dan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling melibatkan 50 responden. Data dianalisis menggunakan spearman rank. Instrument penelitian berupa pendekatan studi observational analytic dengan pendekatan (cross sectional). Hasil: Berdasarkan klasifikasi ASA kategori ASA II 38 orang (76%), berdasarkan lama operasi sebagian besar responden menjalankan operasi dengan durasi sedang 1-3 jam sebanyak 44 orang (88%), berdasarkan suhu ruangan kamar operasi sebagian besar responden menjalani operasi dengan suhu ruangan normal 18-24 18-24°C yaitu 36 orang (72%), berdasarkan jenis anestesi sebagian besar responden menjalani pembedahan dengan General anestesi yaitu dilakukan sebanyak 33orang (66%), berdasarkan jenis kelamin sebagian besar responden adalah berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 32 orang (64%), brdasarkan sebagian besar usia responden dewasa awal sebanyak 12 orang (24%). Pada uji statistic spearman rank diperoleh nilai Signifikansi 0.000. Kesimpulan: Ada hubungan kejadian hipotermi dengan nadi dan tekanan darah di recovery room pasca operasi RSUD Kabupaten Bekasi.
STELLA MARIE DEGRACIA IGVA
2025 · Thesis · Open Access
HUBUNGAN KEJADIAN HIPOTERMI DENGAN NADI DAN TEKANAN DARAH PASCA OPERASI DI RECOVERY ROOM RSUD KABUPATEN BEKASI Rizma Anggraeni Deliana Putri1, Stella Marie Degracia Igva2 Sarjana Terapan Keperawatan Anestesiologi Universitas Medika Suherman Jalan Raya Industri Pasir Gombong, Jababeka, Pasirgombong, Kec. Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat 17530 Email : [email protected] [email protected] ABSTRAK Periode pemulihan setelah operasi dikenal sebagai waktu dengan resiko tinggi untuk terjadinya komplikasi di recovery room. Hipotermi adalah komplikasi pasca anestesi yang sering ditemukan di ruang recovery room, baik general anestesi maupun spinal anestesi. Hipotermi pasca operasi memiliki dampak signifikan pada hemodinamik, terutama terkait perubahan tekanan darah dan respons kardiovaskular pasien. Tujuan: Mengetahui hubungan kejadian hipotermi dengan nadi dan tekanan darah pasca operasi di recovery room RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan kuantitatif non exsperimental dengan metode korelasi dan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling melibatkan 50 responden. Data dianalisis menggunakan spearman rank. Instrument penelitian berupa pendekatan studi observational analytic dengan pendekatan (cross sectional). Hasil: Berdasarkan klasifikasi ASA kategori ASA II 38 orang (76%), berdasarkan lama operasi sebagian besar responden menjalankan operasi dengan durasi sedang 1-3 jam sebanyak 44 orang (88%), berdasarkan suhu ruangan kamar operasi sebagian besar responden menjalani operasi dengan suhu ruangan normal 18-24 18-24°C yaitu 36 orang (72%), berdasarkan jenis anestesi sebagian besar responden menjalani pembedahan dengan General anestesi yaitu dilakukan sebanyak 33orang (66%), berdasarkan jenis kelamin sebagian besar responden adalah berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 32 orang (64%), brdasarkan sebagian besar usia responden dewasa awal sebanyak 12 orang (24%). Pada uji statistic spearman rank diperoleh nilai Signifikansi 0.000. Kesimpulan: Ada hubungan kejadian hipotermi dengan nadi dan tekanan darah di recovery room pasca operasi RSUD Kabupaten Bekasi. Kata kunci : Hipotemi, Nadi, Tekanan darah (MAP), Recovery room, Pasca operasi Mahasiswa Sarjana Terapan Keperawatan Anestesiologi Universitas Medika Suherman Referensi : Jurnal : 2012-2024 (35) Buku : 2019 (1)
AMELIA WULANDARI
2025 · Thesis · Open Access
Latar belakang: Keadaan seseorang yang mengalami kecemasan pre operasi dapat diartikan sebagai perasaan takut atau gelisah yang ditandai dengan peningkatan detak jantung, tekanan darah, pernapasan cepat, sesak dada, serta ketegangan otot. Kecemasan pre operasi yang tidak dikelola dengan baik dapat berdampak pada gangguan hemodinamik. Salah satu metode non-farmakologis yang dapat membantu mengurangi kecemasan adalah teknik relaksasi otot progresif. Teknik ini bekerja dengan mengendurkan otot-otot yang tegang secara sistematis, sehingga dapat memberikan efek menenangkan dan kenyamanan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik anestesi umum. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian Quasy eksperiment dengan desain pre and post test without control. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yang melibatkan 33 responden dengan kriteria inklusi dan eklusi yang telah ditentukan oleh peneliti. Data dianalisis menggunakan uji paired t-test. Instrumen penelitian berupa kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety And Information Scale (APAIS). Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik responden sebagian besar berusia 26 – 35 (33,3%) dengan jumlah 11 responden, jenis kelamin dengan jumlah 22 responden (66,7%) sebagian besar adalah perempuan, pengalaman pembedahan menunjukkan karakteristik responden sebagian besar belum pernah operasi sebanyak 20 responden (60,6%), dan berdasarkan tingkat kecemasan sebelum dilakukan teknik relaksasi otot progresif lebih banyak responden mengalami cemas sedang (48,5%) dengan jumlah 16 responden, sedangkan sesudah dilakukan teknik relaksasi otot progresif didapatkan hasil tingkat kecemasan responden sebagian besar menurun menjadi cemas ringan dengan jumlah 24 responden (72.7%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya penurunan tingkat kecemasan setelah dilakukan teknik relaksasi otot progresif dengan nilai p-value 0,000. Kesimpulan: Maka disimpulkan bahwa ada pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik anestesi umum di RS Amanda Cikarang Selatan.