COLLECTION
Koleksi Perpustakaan
Koleksi otomatis dari Perpustakaan
Publikasi
Penerapan Terapi Jus Kombinasi Tomat dan Jambu Biji Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Melitus di Desa Pantai Sederhana Wilayah Kerja Puskesmas Muaragembong Kabupaten Bekasi
Perbandingan Pemberian Single Leg Stand Exercise dan Ankle Strategy Exercise Terhadap Peningkatan Keseimbangan Dinamis Pada Lansian Pasca Stroke
Stroke merupakan salah satu penyebab utama disabilitas pada lansia yang sering menimbulkan gangguan keseimbangan, khususnya keseimbangan dinamis. Gangguan keseimbangan pada lansia pasca stroke meningkatkan risiko jatuh yang dapat berdampak pada penurunan kemandirian dan kualitas hidup. Fisioterapi memiliki peran penting dalam rehabilitasi keseimbangan, salah satunya melalui latihan keseimbangan seperti Single Leg Stand Exercise dan Ankle Strategy Exercise. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Single Leg Stand Exercise dan Ankle Strategy Exercise terhadap peningkatan keseimbangan dinamis pada lansia pasca stroke serta membandingkan efektivitas kedua latihan tersebut. Penelitian ini menggunakan desain two group pre-test and post-test quasi experimental design. Subjek penelitian berjumlah 20 lansia pasca stroke yang dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing terdiri dari 10 subjek. Kelompok I diberikan intervensi Single Leg Stand Exercise, sedangkan Kelompok II diberikan Ankle Strategy Exercise. Pengukuran keseimbangan dinamis dilakukan menggunakan Timed Up and Go Test (TUG) sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Paired Sample T-Test dan Independent Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan pada kedua kelompok. Kelompok I mengalami penurunan nilai TUG dari 34,99 ± 4,17 detik menjadi 34,08 ± 4,12 detik (p < 0,05). Kelompok II mengalami penurunan nilai TUG dari 40,39 ± 5,75 detik menjadi 39,28 ± 5,59 detik (p < 0,05). Uji perbandingan antar kelompok menunjukkan perbedaan yang bermakna (p = 0,029), dengan nilai TUG post-test Kelompok I lebih rendah dibandingkan Kelompok II. Kesimpulan penelitian ini adalah Single Leg Stand Exercise dan Ankle Strategy Exercise sama - sama berpengaruh terhadap peningkatan keseimbangan dinamis pada lansia pasca stroke, namun Single Leg Stand Exercise menunjukkan efektivitas yang lebih baik dalam meningkatkan keseimbangan fungsional.
Pengaruh William Flexi Exercise Terhadap Intensitas Nyeri Pada Pasien Lansian Dengan Radiculopati Lumbal di Poli Rehabilitasi Medik RSU Pindad Bandung Tahun 2025
Latar belakang: Radikulopati lumbal merupakan gangguan muskuloskeletal yang sering terjadi pada lansia dan ditandai dengan nyeri menjalar akibat kompresi atau iritasi akar saraf lumbal, diperlukan intervensi nonfarmakologis seperti William Flexion Exercise yang berfokus pada gerakan fleksi untuk meningkatkan stabilitas otot trunk dan mengurangi tekanan saraf. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh William Flexion Exercise terhadap intensitas nyeri pada pasien lansia dengan radikulopati lumbal di Poli Rehabilitasi Medik RSU Pindad Bandung tahun 2025. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi experiment pretest–posttest control group design dengan 36 responden menjadi kelompok intervensi (William Flexion Exercise) dan kelompok kontrol (Isometric Back Muscle Exercise), dengan durasi intervensi 4 minggu (3 kali per minggu), serta pengukuran nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) dan analisis data menggunakan uji paired sample t-test dan Mann–Whitney. Hasil: Kelompok kontrol tidak menunjukkan perbedaan signifikan antara pre-test dan post-test (p = 0,2940), sedangkan kelompok intervensi mengalami penurunan nyeri yang signifikan (p = 0,0017), serta terdapat perbedaan signifikan antar kelompok (p = 0,0469). Kesimpulan: William Flexion Exercise terbukti berpengaruh signifikan dalam menurunkan intensitas nyeri pada lansia dengan radikulopati lumbal dan dapat menjadi intervensi fisioterapi yang efektif dan aman.
Analisis Berbasis Bukti Penerapan Slimber Ice Terhadap Intensitas Rasa Haus Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Dengan Hipervolemia yang Menjalani Hemodialisis di RS Bayu Asih Tahun 2025
Pengaruh Pemberian Foot Core Stability Exercise Dengan Pendekatan New Bobath Concept Terhadap Kemampuan Kontrol Postural Pada Pasien Pasca Stroke di RS Hermina Arcamanik Kota Bandung
Latar Belakang: Penyakit stroke merupakan masalah kesehatan yang utama bagi masyarakat modern saat ini. Pada pasien dengan disfungsi neurologis, akan ada kerusakan sistem yang menghasilkan presentasi yang berbeda. Gangguan kontrol postural yang mengikuti lesi neurologis biasanya dapat menurunkan kemandirian, meningkatnya resiko jatuh, dan penurunan produksi gerakan yang terkoordinasi. Kontrol dan keseimbangan kaki sangat penting dalam meningkatkan kemampuan kontrol postural dan menjaga keseimbangan fungsional tubuh. Intervensi fisioterapi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan kontrol postural adalah foot core stability exercise dengan pendekatan new bobath concept. Tujuan: Mengetahui pengaruh foot core stability exercise dengan pendekatan new bobath concept terhadap kemampuan kontrol postural pasien pasca stroke di RS. Hermina Arcamanik Kota Bandung. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain quasi experiment. Desain penelitian yang digunakan adalah pretest–posttest control group design, dengan melibatkan dua kelompok penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah berjumlah 36 pasien. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian adalah total sampling, dengan semua populasi digunakan sebagai sampel. Pengukuran kontrol postural menggunakan Postural Assessment Scale for Stroke (PASS). Analisis data dilakukan dengan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji hipotesis Wilcoxon. Hasil: Pada kelompok intervensi, hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p < 0,0001 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan yang sangat bermakna secara statistik antara nilai pre-test dan post-test. Kesimpulan : Foot core stability exercise dengan pendekatan new bobath concept memiliki pengaruh signifikan terhadap kemampuan kontrol postural pada pasien pasca di RS. Hermina Arcamanik Kota Bandung.
Pemberian Latihan Latihan Ergocycle dan Active Exercise Terhadap Kekuatan Otot Ekstremitas Bawah Pada Pasien Lansia Pasca Stroke
Pendahuluan : Penyakit stroke masih menjadi salah satu masalah utama kesehatan, bukan hanya di Indonesia namun di dunia. Stroke juga merupakan penyebabkan kematian kedua dan penyebab disabilitas ketiga di dunia. Fisioterapi sangat berperan dalam penanganan pasien pasca stroke sesuai yang di sampaikan . Salah satu intervensi Fisioterapi adalah Pemberian Latihan ergocycle dan active exercise. Latihan ergocycle dan active exercise merupakan tindakan rehabilitasi yang digunakan untuk mengoptimalkan kemandirian fungsional seseorang dengan gangguan neurologi. Tujuan : Untuk mengetahui pemberian Latihan ergocycle dan active exercise terhadap peningkatan kekuatan otot pada pasien lansia pasca stroke. Sampel : : Terdiri dari 32 orang pasien Fisioterapi di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUD Kota Bandung dipilih berdasarkan purpose sampling dengan menggunakan tabel assessmen yang tersedia dan kriteria yang sudah ditetapkan. Metode : Penelitian ini merupakan jenis penelitian quasi eksperimental untuk mengetahui suatu intervensi yang dilakukan terhadap suatu objek penelitian. Setelah semua data terkumpul, maka dilakukan analisis data penelitian. Proses ini menggunakan sistem komputerisasi program Graphpad Prism 8, dengan tingkat signifikan p<0,05. Langkah awal pengolahan data yang dilakukan yaitu melakukan uji normalitas data. Uji normalitas data menggunakan uji Saphiro-Wilk karena jumlah sample kurang dari 50. Selanjutnya dilakukan uji paired T-test berpasangan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh yang bermakna. Hasil : Pada kelompok kontrol hasil uji paired t-test menunjukkan nilai p = 0,3332 (p > 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara nilai pre-test dan post-test pada kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan signifikan pada kekuatan otot tanpa intervensi. Sedangkan pada kelompok perlakuan . Hasil uji paired t-test menunjukkan nilai p = 0,0005 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan yang sangat bermakna secara statistik antara nilai pre-test dan post-test. Kesimpulan : perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan kekuatan otot berdasarkan skor MMT, sedangkan pada kelompok kontrol tidak ditemukan perubahan yang bermakna.
Pengaruh Reaching Movement Terhadap Peningkatan Kemampuan Aktivitas Sehari-hari Pada Pasien Pasca Stroke Dengan Disfungsi Upper Limb di Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi Timur
Latar belakang : Stroke merupakan salah satu penyebab utama disabilitas jangka panjang pada populasi dewasa dan sering menimbulkan disfungsi ekstremitas atas (upper limb dysfunction) yang berdampak pada keterbatasan aktivitas sehari-hari. Gangguan fungsi ekstremitas atas menyebabkan kesulitan dalam melakukan aktivitas fungsional seperti meraih, memegang, dan memanipulasi objek. Latihan reaching movement sebagai latihan berbasis tugas (task-specific training) diyakini dapat menstimulasi neuroplastisitas melalui aktivitas gerak yang berulang dan bermakna secara fungsional. Tujuan : untuk mengetahui pengaruh latihan reaching movement terhadap peningkatan kemampuan aktivitas sehari-hari pada pasien pasca stroke dengan disfungsi upper limb. Penelitian ini menggunakan Metode : Eksperimen dengan pendekatan pre-test dan post-test. Subjek penelitian adalah pasien pasca stroke dengan disfungsi ekstremitas atas yang menjalani fisioterapi di RS Mitra Keluarga Bekasi Timur. Pengukuran fungsi motorik upper limb menggunakan Fugl-Meyer Assessment of Upper Extremity (FMA-UE), sedangkan tingkat kemandirian aktivitas sehari-hari diukur menggunakan Barthel Index sebelum dan sesudah intervensi. Hasil : penelitian menunjukkan adanya peningkatan fungsi motorik ekstremitas atas dan kemampuan aktivitas sehari-hari setelah pemberian latihan reaching movement. Kesimpulan : Dengan demikian, latihan reaching movement efektif dalam meningkatkan fungsi motorik upper limb dan kemandirian aktivitas sehari-hari pada pasien pasca stroke.
Pengaurh Core Strengthening Exercise Terhadap Keseimbangan Pada Lansia Dengan Gangguan Keseimbangan di FIT Factory Bandung
Latar Belakang: Proses penuaan menyebabkan penurunan fungsi sistem muskuloskeletal dan neuromuskular yang berdampak pada menurunnya kemampuan keseimbangan serta meningkatnya risiko jatuh pada lansia. Sistem yang berperan dalam keseimbangan meliputi sistem visual, vestibular, dan proprioseptif yang bekerja secara terintegrasi dengan sistem muskuloskeletal. Otot core memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas trunk dan mempertahankan pusat gravitasi tubuh. Intervensi fisioterapi yang dapat digunakan untuk meningkatkan stabilitas postural adalah core strengthening exercise. Tujuan: Mengetahui pengaruh core strengthening exercise terhadap keseimbangan pada lansia dengan gangguan keseimbangan di Fit Factory Bandung. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan pendekatan one group pretest–posttest. Sampel penelitian berjumlah 30 lansia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran keseimbangan menggunakan Berg Balance Scale (BBS). Analisis data dilakukan dengan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji hipotesis Wilcoxon. Hasil: Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai Z = -4,810 dengan p = 0,000 (p<0,05) yang menunjukkan adanya peningkatan keseimbangan yang signifikan setelah pemberian intervensi. Kesimpulan : Core strengthening exercise memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan keseimbangan pada lansia dengan gangguan keseimbangan di Fit Factory Bandung
Penerapan Pemberian Sayur Daun Pepaya Terhadap Peningkatan Produksi ASI Pada Ibu Nifas di Klinik Bidan Hj. Uum Sumiati, S.ST
Penerapan Asuhan Keperawatan Dengan Intervensi Terapi Murottal Al-Quran Pada Ibu Hamil Trimester III Dengan Ansietas di Klinik X
Perbandingan Efektivitas Latihan Aerobik Low Impact dan Sepeda Statis Terhadap Tekanan Darah Pada Komunitas Pra-Lansia
Latar Belakang: Pra-lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami peningkatan parameter kardiovaskular, terutama tekanan darah yang menjadi salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Latihan aerobik low-impact dan latihan sepeda statis sama-sama terbukti dapat menurunkan tekanan darah melalui mekanisme peningkatan fungsi endotel dan penurunan resistensi vaskular. Namun, penelitian yang secara langsung membandingkan efektivitas kedua jenis latihan ini pada kelompok pra-lansia masih terbatas. Tujuan: Membandingkan efektivitas latihan aerobik low-impact dan latihan sepeda statis terhadap tekanan darah sistolik dan diastolik pada pra-lansia. Metode: Studi ini mengadopsi desain eksperimental semu (quasi-experimental) dengan pendekatan two-group pretest-posttest. Partisipan penelitian berjumlah 28 individu pra-lansia berusia 45-59 tahun yang telah lolos seleksi berdasarkan kriteria inklusi yang ditetapkan. Mereka kemudian dibagi secara acak ke dalam dua kelompok perlakuan, yaitu kelompok senam aerobik low impact (14 orang) dan kelompok latihan sepeda statis (14 orang). Intervensi diberikan selama 4 minggu dengan frekuensi 1 kali per minggu, durasi 60 menit per sesi. Tekanan darah diukur sebelum dan setelah intervensi. Analisis data menggunakan uji paired t-test atau Wilcoxon untuk melihat perubahan dalam kelompok, serta independent t-test atau Mann-Whitney untuk membandingkan perbedaan antar kelompok (p<0,05). Hasil: Pada kelompok aerobik low impact terjadi penurunan rerata tekanan darah sistolik yang bermakna secara statistik, yaitu dari 145,86 mmHg menjadi 132,29 mmHg dengan selisih -13,57 mmHg (p = 0,014), dengan effect size large (d = 1,30). Tekanan darah diastolik menurun signifikan dari 89,86 mmHg menjadi 83,43 mmHg (Δ = -6,43 mmHg; p = 0,005; d = 1,63). Pada kelompok sepeda statis, tekanan darah sistolik menurun signifikan dari 140,29 mmHg menjadi 129,43 mmHg (Δ = -10,86 mmHg; p = 0,015; d = 1,27), sedangkan tekanan darah diastolik menurun tidak signifikan dari 89,29 mmHg menjadi 85,14 mmHg (Δ = -4,14 mmHg; p = 0,137; d = 0,65). Tidak terdapat perbedaan signifikan antar kelompok pada penurunan tekanan darah sistolik (p = 0,605) maupun diastolik (p = 0,436). Kesimpulan: Latihan aerobik low impact efektif menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik secara signifikan pada pra-lansia. Latihan sepeda statis efektif menurunkan tekanan darah sistolik secara signifikan, namun tidak signifikan pada tekanan darah diastolik. Meskipun tidak terdapat perbedaan bermakna antar kelompok, kedua jenis latihan memberikan efek klinis yang besar (large effect size) pada tekanan darah sistolik, dengan latihan aerobik low impact memberikan gambaran keunggulan pada penurunan diastolik. Kedua latihan direkomendasikan sebagai intervensi non-farmakologis untuk pengendalian tekanan darah pada komunitas pra-lansia.
Efektivitas Program Latihan Berbasis Core Stability Terhadap Pencegahan Risiko Jatuh Pada Lansia Dengan Gangguan Neuropati Perifer di RSAD Wira Bhakti Mataram
Peningkatan populasi lansia di Indonesia berbanding lurus dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan, salah satunya neuropati perifer yang menyebabkan penurunan kontrol postural dan kemampuan proprioseptif. Kondisi ini secara signifikan meningkatkan risiko jatuh pada lansia. Latihan core stability merupakan intervensi fisioterapi yang difokuskan pada penguatan otot-otot inti untuk meningkatkan stabilitas tubuh dan mobilitas fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas program latihan berbasis core stability dalam menurunkan risiko jatuh pada lansia dengan gangguan neuropati perifer di RSAD Wira Bhakti Mataram. Jenis penelitian ini adalah quasi-experimental dengan rancangan one group pre-test and post-test design. Sampel penelitian berjumlah 40 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi dilakukan selama 4 minggu dengan frekuensi latihan 3 kali seminggu. Instrumen pengukuran yang digunakan untuk menilai risiko jatuh adalah Timed Up and Go (TUG) Test. Data dianalisis menggunakan uji statistik untuk melihat perbedaan skor sebelum dan sesudah intervensi. Karakteristik responden didominasi oleh perempuan (67,5%) dan kelompok usia di atas 60 tahun (77,5%). Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan durasi waktu yang signifikan pada skor TUG test setelah pemberian intervensi latihan core stability. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan stabilitas dinamis dan penurunan kategori risiko jatuh pada responden. Program latihan berbasis core stability efektif dalam menurunkan risiko jatuh pada lansia dengan gangguan neuropati perifer. Disarankan bagi praktisi fisioterapi untuk menerapkan latihan ini sebagai bagian dari program rehabilitasi lansia.
Pengaruh William Flexi, Manual Terapi dan Tens Terhadap Penurunan Nyeri dan Peningkatan Gerakan Pada Lansia Dengan Radiculopati Lumbal di Rumah Sakit Sariningsih Bandung
Radikulopati lumbal merupakan gangguan saraf akibat kompresi atau iritasi akar saraf lumbal yang sering terjadi pada lansia dan menyebabkan nyeri serta keterbatasan rentang gerak (ROM). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan pengaruh William Flexion Exercise serta Manual Therapy yang dikombinasikan dengan Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) terhadap penurunan nyeri dan peningkatan ROM lumbal. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan pendekatan pre-test dan post-test two group design. Sampel penelitian berjumlah 20 responden yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu William Flexion Exercise (n=10) dan Manual Therapy + TENS (n=10). Intensitas nyeri diukur menggunakan Visual Analog Scale (VAS) dan ROM diukur menggunakan goniometer. Analisis data menggunakan uji Paired Sample T-Test dan Independent Sample T-Test dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua intervensi secara signifikan menurunkan nyeri dan meningkatkan ROM (p<0,05). Tidak terdapat perbedaan signifikan dalam penurunan nyeri antar kelompok (p=0,337), namun terdapat perbedaan signifikan pada peningkatan ROM (p<0,05), dimana kelompok Manual Therapy + TENS menunjukkan peningkatan yang lebih besar. Dapat disimpulkan bahwa kedua intervensi efektif dalam menurunkan nyeri dan meningkatkan ROM, namun Manual Therapy + TENS lebih efektif dalam meningkatkan rentang gerak lumbal.
Penerapan Terapi Herbal Rebusan Daun Salam (Syzygium Polyanthum Wight) dan Daun Kemangi (Cimum Basilicum) Terhadap Penurunan Nyeri Pada Lansia Dengan Asam Urat di Desa Sukamaju
Penerapan Asuhan Keperawatan Dalam Pemberian Air Rebusan Rambut Jagung Terhadap Penurunan Tekanan Darah Penderita Hipertensi Lansia di RT 008 Desa Sukaringin Wilayah Kerja Puskesmas Sukatenang Bekasi 2026
Perbedaan Efektivitas Penambahan Tens Pada MC Kenzie Exercise dan Neuralmobilization Terhadap Penurunan Nyeri Pada Lansia Dengan Ischialgia di Rumah Sakit Husada
Ischialgia merupakan kondisi nyeri radikuler yang sering dialami oleh lansia akibat iritasi atau penekanan pada saraf ischiadicus. Kondisi ini dapat menyebabkan keterbatasan aktivitas fungsional serta penurunan kualitas hidup pada lansia. Berbagai intervensi fisioterapi digunakan untuk mengurangi nyeri pada kondisi ini, di antaranya McKenzie Exercise dan Neural Mobilization yang sering dikombinasikan dengan Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) untuk meningkatkan efek analgesik melalui mekanisme biomekanik dan neurofisiologis. Namun demikian, perbandingan efektivitas penambahan TENS pada kedua metode latihan tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas penambahan TENS pada McKenzie Exercise dan Neural Mobilization terhadap penurunan intensitas nyeri pada lansia dengan ischialgia di Rumah Sakit Husada. Jenis Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan metode quasi- eksperimental komparatif. Sampel penelitian dibagi menjadi dua kelompok intervensi, yaitu kelompok yang mendapatkan TENS dengan McKenzie Exercise dan kelompok yang mendapatkan TENS dengan Neural Mobilization. Pengukuran intensitas nyeri dilakukan menggunakan Visual Analog Scale (VAS) sebelum dan sesudah pemberian intervensi. Data dianalisis menggunakan uji statistik untuk melihat perubahan dalam kelompok dan perbedaan antar kelompok perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan intensitas nyeri yang signifikan pada masing-masing kelompok setelah pemberian intervensi (p < 0,05). Selain itu, hasil uji komparatif antar kelompok menunjukkan adanya perbedaan besarnya penurunan nyeri antara kedua kelompok perlakuan. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa penambahan TENS pada McKenzie Exercise maupun Neural Mobilization efektif dalam menurunkan intensitas nyeri pada lansia dengan ischialgia, dengan perbedaan tingkat efektivitas antara kedua intervensi tersebut.