Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Koleksi Perpustakaan

Koleksi otomatis dari Perpustakaan

10.640 item publik

Publikasi

Halaman 10 dari 532

Analisis Tingkat Stress, Kualitas Tidur dan Frekuensi Konsumsi Ultra Processed Food dengan Status Gizi Remaja Putri di SMAN 1 Cikarang Selatan

Annur Anisatul Fitroh; Utami Putri Kinayungan
2026 · Book · Open Access

Latar Belakang: Masa remaja merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan yang membutuhkan perhatian terhadap status gizi. Kondisi psikologis, kualitas tidur, dan kebiasaan konsumsi makanan dapat menjadi bagian dari faktor yang berkaitan dengan status gizi remaja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat stress, kualitas tidur, dan frekuensi konsumsi ultra-processed food (UPF) dengan status gizi pada remaja putri. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 74 remaja putri. Pengambilan sampel dilakukan pada remaja putri di SMA Negeri 1 Cikarang Selatan. Data tingkat stress diperoleh menggunakan kuesioner Perceived Stress Scale PSS-10, kualitas tidur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), frekuensi konsumsi UPF menggunakan FFQ UPF, sedangkan status gizi ditentukan berdasarkan indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Uji hubungan menggunakan Chi-Square dengan tingkat signifikasi p-value (p<0,05). Hasil: Sebagian besar responden memiliki tingkat stress berat sebesar 66 responden atau (88,2%), responden berada dikategori kualitas tidur buruk, yaitu sebesar 68 responden atau (91,9%), responden berada dikategori konsumsi rendah , yaitu sebesar 40 responden atau (53,6%), responden berada dikategori status gizi normal, yaitu sebesar 59 responden atau (78,7%). Hasil uji chi-square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stress dengan status gizi (p = 0,347), kualitas tidur dengan status gizi dengan uji chi-square (p = 1,000), serta konsumsi UPF dengan status gizi dengan uji chi-square (p = 0,773). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan pada penelitian ini antara tingkat stress, kualitas tidur, dan frekuensi konsumsi UPF dengan status gizi pada remaja putri dalam penelitian ini.

Uji Daya Terima dan Analisis Kandungan Protein Smoothie Berbasis Putih Telur dan Pisang Ambon sebagai Sumber Protein Pasca Latihan Beban

Chealse Salvina Maharani; Dandi Sanjaya
2026 · Book · Open Access

Latar belakang: Pemenuhan protein merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung pemulihan dan adaptasi otot setelah latihan beban. Putih telur merupakan sumber protein hewani yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan minuman pasca latihan, sedangkan pisang ambon dapat memberikan karakteristik sensori pada produk. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya terima dan kandungan protein smoothie berbasis putih telur dan pisang ambon sebagai sumber protein pasca latihan beban. Metode: Penelitian ini merupakan eksperimen laboratorium dengan pendekatan kuantitatif menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga formulasi, yaitu F1, F2, dan F3. Uji daya terima dilakukan terhadap 30 panelis semi-terlatih menggunakan uji hedonik dengan skala 1–6 berdasarkan warna, aroma, rasa, dan tekstur. Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney, sedangkan kandungan protein dianalisis menggunakan metode Kjeldahl. Hasil: Terdapat perbedaan daya terima pada warna (p=0,008), aroma (p<0,001), dan rasa (p<0,001), sedangkan tekstur tidak berbeda signifikan (p=0,830). Kandungan protein rata-rata F1 sebesar 5,18%, F2 5,77%, dan F3 6,66%, dengan F3 memiliki kandungan protein tertinggi. Kesimpulan: Variasi formulasi memengaruhi daya terima warna, aroma, dan rasa, tetapi tidak pada tekstur. F3 memiliki kandungan protein tertinggi, namun F1 menunjukkan penerimaan yang lebih baik pada beberapa parameter sensori.

Analisis Hubungan Karakteristik Responden, Screen Time, dan Kebiasaan Jajan dengan Status Gizi Remaja

Mutiara Latuconsina; Widya Lestari Nurpratama
2026 · Book · Open Access

Latar belakang : Masa remaja merupakan periode pertumbuhan pesat yang meningkatkan kebutuhan gizi, sehingga rentan mengalami masalah status gizi seperti gizi lebih maupun gizi kurang. Perubahan gaya hidup di era digital, khususnya peningkatan screen time dan kebiasaan jajan yang tidak terkendali, diduga berkontribusi terhadap permasalahan tersebut. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik responden, screen time, dan kebiasaan jajan dengan status gizi remaja di MAN 1 Bekasi. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 86 siswa kelas XI yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner karakteristik responden, kuesioner screen time, kuesioner kebiasaan jajan (FFQ), serta pengukuran antropometri (berat dan tinggi badan) untuk menentukan status gizi berdasarkan IMT/U. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (61,6%), memiliki uang saku kategori sedang (51,2%), dan jarang sarapan (45,3%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara screen time dengan status gizi remaja (p = 0,752), sedangkan kebiasaan jajan menunjukkan hubungan yang signifikan dengan status gizi remaja (p = 0,009; OR = 6,487), di mana remaja dengan kebiasaan jajan sering memiliki peluang sekitar 6,5 kali lebih besar mengalami status gizi tidak normal dibandingkan remaja dengan kebiasaan jajan jarang. Kesimpulan : Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kebiasaan jajan merupakan faktor yang berhubungan signifikan dengan status gizi remaja, sedangkan screen time tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik.

Pelaksanaan Jaminan Halal dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada SPPG di Kecamatan Sukawangi

Deni Alamsah; Rani Nuraini
2026 · Book · Open Access

Latar Belakang: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga perlu memperhatikan keamanan dan kehalalan makanan. Jaminan halal menjadi aspek penting dalam penyelenggaraan makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mulai dari pemilihan bahan, penyimpanan, pengolahan, hingga pendistribusian makanan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui pelaksanaan jaminan halal dalam Program MBG pada SPPG di Kecamatan Sukawangi, mengidentifikasi kendala, mengetahui pemahaman pelaksana terhadap prosedur halal, serta menggambarkan pengawasan terhadap pelaksanaan jaminan halal. Metode: Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan lapangan dan model induktif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Informan terdiri dari kepala SPPG, pengawas gizi, bagian akuntansi, serta tim logistik dan dapur. Hasil: Pelaksanaan jaminan halal telah berjalan cukup baik dan terintegrasi dalam penyelenggaraan makanan. Penerapannya meliputi pemeriksaan bahan, pengecekan label atau sertifikat halal, pemeriksaan pemasok, penyimpanan, kebersihan dan sanitasi, pengolahan, penyajian, serta distribusi makanan. Pemahaman pelaksana tergolong cukup baik melalui arahan, sosialisasi, pelatihan, briefing, dan penerapan SOP. Kendala yang ditemukan meliputi proses penerbitan sertifikat halal, keterbatasan pemasok yang memenuhi persyaratan halal, dan keterbatasan ruang penyimpanan. Pengawasan dilakukan melalui monitoring harian, pemeriksaan bahan, pemantauan proses produksi, evaluasi SOP, dan audit eksternal. Kesimpulan: Pelaksanaan jaminan halal pada SPPG Kecamatan Sukawangi telah berjalan cukup baik dan terintegrasi, namun masih diperlukan penguatan edukasi, pendampingan sertifikasi, pengawasan, serta kerja sama dengan pemasok untuk meningkatkan penerapan jaminan halal secara berkelanjutan. Upaya tersebut penting untuk memastikan setiap tahapan penyelenggaraan makanan tetap sesuai ketentuan halal dan mendukung kepercayaan penerima manfaat terhadap kualitas makanan yang diberikan oleh SPPG secara konsisten.

Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Pola Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak (GGL) pada Remaja MAN 1 Kabupaten Bekasi

Siti Nailal Ghinah; Widya Lestari Nurpratama
2026 · Book · Open Access

Latar belakang : Konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) yang berlebihan pada remaja merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit tidak menular di masa mendatang. Pengetahuan dan sikap diduga berperan dalam membentuk pola konsumsi remaja, namun hasil penelitian sebelumnya masih menunjukkan temuan yang beragam. Tujuan penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap dengan pola konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) pada remaja MAN 1 Kabupaten Bekasi. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 86 responden yang dipilih menggunakan teknik incidental sampling. Data pengetahuan dan sikap diperoleh melalui kuesioner, sedangkan pola konsumsi gula, garam, dan lemak diukur menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil analisis penelitian, sebagian besar responden berusia 17 tahun, yaitu sebanyak 80 responden (93,0%), sedangkan responden yang berusia 16 tahun sebanyak 6 responden (7,0%). Mayoritas berjenis kelamin perempuan (72,1%) dan memiliki uang saku kategori sedang (91,9%). Sebagian besar responden memiliki pengetahuan kategori baik (70,9%), sikap kategori baik (73,3%), serta pola konsumsi gula (75,6%), garam (73,3%), dan lemak (72,1%) pada kategori cukup. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan pola konsumsi gula (p=0,621), garam (p=0,866), maupun lemak (p=0,588). Selain itu, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap dengan pola konsumsi gula (p=0,433), garam (p=0,640), maupun lemak (p=0,390). Kesimpulan : Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan sikap tidak berhubungan secara signifikan dengan pola konsumsi gula, garam, dan lemak pada remaja MAN 1 Kabupaten Bekasi. Perilaku konsumsi GGL kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain, seperti kebiasaan makan, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, ketersediaan pangan, dan pengaruh teman sebaya. Oleh karena itu, upaya perbaikan pola konsumsi GGL pada remaja perlu dilakukan secara komprehensif melalui edukasi gizi yang didukung oleh lingkungan pangan yang sehat.

Hubungan Intensitas Penggunaan Media Sosial dan Kualitas Diet dengan Status Gizi pada Mahasiswa Program Studi Sarjana Gizi Universitas Medika Suherman

Deni Alamsah; Suci Safariah
2026 · Book · Open Access

Latar Belakang: Penggunaan media sosial yang semakin meningkat dan pola konsumsi yang kurang sesuai dapat menjadi bagian dari gaya hidup mahasiswa dan berpotensi berkaitan dengan status gizi. Mahasiswa memiliki berbagai aktivitas akademik dan sosial yang dapat memengaruhi kebiasaan penggunaan media sosial serta pola makan sehari-hari. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas penggunaan media sosial dan kualitas diet dengan status gizi pada mahasiswa Program Studi Sarjana Gizi Universitas Medika Suherman. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian terdiri dari 33 mahasiswa dan seluruh populasi dijadikan responden menggunakan teknik total sampling. Intensitas penggunaan media sosial diukur menggunakan Social Networking Time Use Scale (SONTUS), kualitas diet diperoleh melalui Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) dan dinilai menggunakan Diet Quality Index-International (DQI-I), sedangkan status gizi ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher Exact dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil: Sebanyak 18 mahasiswa (54,5%) memiliki intensitas penggunaan media sosial kategori rendah dan 15 mahasiswa (45,5%) kategori tinggi. Sebanyak 27 mahasiswa (81,8%) memiliki kualitas diet rendah dan 6 mahasiswa (18,2%) memiliki kualitas diet tinggi. Berdasarkan status gizi, 21 mahasiswa (63,6%) tergolong kurus, 5 mahasiswa (15,2%) normal, dan 7 mahasiswa (21,2%) gemuk. Hasil uji Fisher Exact menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan media sosial dengan status gizi (p = 0,540) dan antara kualitas diet dengan status gizi (p = 0,556).Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan media sosial maupun kualitas diet dengan status gizi pada mahasiswa Program Studi Sarjana Gizi Universitas Medika Suherman. Status gizi kemungkinan dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti aktivitas fisik, pola makan, pola tidur, lingkungan, dan faktor gaya hidup lainnya.

Hubungan Body Image dengan Frekuensi Konsumsi Minuman Manis, Sayur dan Buah pada Remaja Putri SMAN 1 Cikarang Selatan

Almadhiya Mujahidah; Nur Fauzia Asmi
2026 · Book · Open Access

Latar belakang : Remaja Indonesia menghadapi masalah gizi ganda, yaitu gizi kurang dan gizi lebih secara bersamaan. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi remaja putri usia 16–18 tahun di Jawa Barat yang sangat kurus 1,9%, kurus 6,3%, gemuk 8,9%, dan obesitas 4,2%. Di Kabupaten Bekasi, data Riskesdas 2018 mencatat prevalensi sangat kurus 3,80%, kurus 10,45%, gemuk 9,06%, dan obesitas 4,11%. Selain itu, 47,5% penduduk masih rutin mengonsumsi minuman manis dan 96,7% kurang mengonsumsi sayur dan buah sesuai anjuran. Faktor psikologis seperti body image turut meningkatkan risiko masalah gizi ganda pada remaja putri. Tujuan Penelitian : mengetahui hubungan antara body image dengan frekuensi konsumsi minuman manis, sayur, dan buah pada remaja putri di SMAN 1 Cikarang Selatan. Metode Penelitian : penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional menggunakan teknik quota sampling pada 81 siswi kelas XI. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil Penelitian: Responden memiliki body image positif (80,2%) dan negatif (19,8%). Frekuensi konsumsi minuman manis, sayur, dan buah sebagian besar tergolong jarang. Terdapat hubungan signifikan antara body image dengan konsumsi minuman manis (p<0,001) dan sayur (p=0,027), namun tidak dengan konsumsi buah (p=0,869). Kesimpulan dan Saran : Body image berhubungan dengan pola konsumsi minuman manis dan sayur pada remaja putri. Disarankan pihak sekolah dapat mendorong ketersediaan pilihan minuman rendah gula dan menu sayur serta buah yang lebih beragam dan menarik di kantin sekolah

Hubungan Kebiasaan Sarapan dan Kadar Hemoglobin (Hb) dengan Prestasi Akademik Pada Siswi di SMAN 3 Cikarang Utara

Dania Ramadani; Utami Putri Kinayungan
2026 · Book · Open Access

Latar Belakang: Prestasi akademik pada remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya kebiasaan sarapan dan kadar hemoglobin (Hb). Sarapan berperan sebagai sumber energi utama bagi otak sehingga mendukung konsentrasi dan kemampuan belajar, sedangkan kadar Hb yang rendah dapat mengurangi suplai oksigen ke otak dan berpotensi mengganggu fungsi kognitif. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebiasaan sarapan dan kadar hemoglobin (Hb) dengan prestasi akademik pada siswi di SMAN 3 Cikarang Utara. Metode Penelitian: Penelitian menggunakan desain kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah 247 siswi kelas XI SMAN 3 Cikarang Utara, dengan sampel sebanyak 71 responden yang dipilih menggunakan teknik kuota sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mengenai kebiasaan sarapan, pengukuran kadar Hb menggunakan alat Easy Touch GCHb, pengukuran status gizi berdasarkan IMT/U, serta pengambilan data prestasi akademik berdasarkan peringkat kelas. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil Penelitian: Mayoritas responden berusia 17 tahun (62,0%), memiliki status gizi baik (66,2%), dan orang tua berpendidikan terakhir SMA (73,2%). Sebagian besar responden memiliki kebiasaan sarapan ≥4x/minggu (62,0%), kadar Hb normal (≥12 g/dl) 87,3%, dan yang belum kategori prestasi akademik (54,9%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan sarapan dengan prestasi akademik (p=0,011; OR=73,4%;95%CI=0,093–0,758). Sebaliknya, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar hemoglobin dengan prestasi akademik (p=0,140; OR=69,5%;95% CI=0,059–1,585). Kesimpulan: Kebiasaan sarapan berhubungan dengan prestasi akademik pada siswi SMAN 3 Cikarang Utara, sedangkan tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara kadar Hb dan prestasi akademik pada sampel penelitian. Saran: Sekolah diharapkan meningkatkan edukasi mengenai pentingnya sarapan bergizi seimbang serta bekerja sama dengan puskesmas dalam pelaksanaan pemeriksaan kadar hemoglobin secara berkala sebagai upaya pencegahan anemia pada remaja putri.

Status Gizi, Riwayat Menstruasi, Konsumsi Makanan Sumber Zat Besi dan Protein dengan Kadar Hemoglobin Remaja Putri SMAN 3 Cikarang Utara

Sylaa Putri Dhiyaa Fauziyyah; Utami Putri Kinayungan
2026 · Book · Open Access

Latar Belakang: Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat terjadi pada remaja putri. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain status gizi, kondisi menstruasi, serta kebiasaan mengonsumsi makanan yang menjadi sumber zat besi dan protein. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis keterkaitan status gizi, riwayat menstruasi, frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi, dan frekuensi konsumsi makanan sumber protein dengan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMAN 3 Cikarang Utara. Metode: Penelitian menggunakan rancangan observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah responden yang terlibat sebanyak 71 remaja putri. Penilaian status gizi dilakukan berdasarkan IMT/U, sedangkan informasi mengenai riwayat menstruasi diperoleh melalui kuesioner. Frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi dan protein dikumpulkan menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ). Pemeriksaan kadar hemoglobin dilakukan dengan alat Hb digital. Analisis data mencakup analisis univariat dan bivariat dengan uji statistik yang disesuaikan dengan karakteristik data. Hasil: Dari 71 responden, sebanyak 47 orang (66,2%) mempunyai status gizi normal. Frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi paling banyak termasuk kategori cukup, yaitu 32 orang (45,1%), sedangkan konsumsi makanan sumber protein kategori cukup berjumlah 34 orang (47,9%). Berdasarkan pemeriksaan hemoglobin, 62 responden (87,3%) berada pada kategori normal dan 9 responden (12,7%) mengalami anemia. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kadar hemoglobin (p=0,975), riwayat menstruasi dengan kadar hemoglobin (p=0,193), frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi dengan kadar hemoglobin (Fisher’s Exact p=1,000), serta frekuensi konsumsi makanan sumber protein dengan kadar hemoglobin (Fisher’s Exact p=1,000). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa status gizi, riwayat menstruasi, frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi, dan frekuensi konsumsi makanan sumber protein tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMAN 3 Cikarang Utara.

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Aplikasi Mobile JKN oleh Pasien Rawat Jalan Peserta JKN di Puskesmas Sukaraya Tahun 2026

Hilda Septia; Lyliana Endang Setianingsih
2026 · Book · Open Access

Aplikasi Mobile JKN merupakan salah satu bentuk digitalisasi pelayanan kesehatan yang dapat mempermudah peserta JKN dalam mengakses layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan aplikasi Mobile JKN oleh pasien rawat jalan peserta JKN di Puskesmas Sukaraya Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 97 responden yang dipilih menggunakan purposive sampling. Variabel independen meliputi ekspektasi kinerja (Performance Expectancy), ekspektasi usaha (Effort Expectancy), pengaruh sosial (Social Influence), dan kondisi yang memfasilitasi (Facilitating Conditions), sedangkan variabel dependen adalah pemanfaatan aplikasi Mobile JKN. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62 responden (63.9%) memanfaatkan aplikasi Mobile JKN dan 35 responden (36.1%) tidak memanfaatkan. Terdapat hubungan yang signifikan antara ekspektasi kinerja (p < 0.001), ekspektasi usaha (p < 0.001), pengaruh sosial (p=0.007), dan kondisi yang memfasilitasi (p < 0.001) dengan pemanfaatan aplikasi Mobile JKN. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa keempat variabel yang diteliti berhubungan signifikan dengan pemanfaatan aplikasi Mobile JKN pada pasien rawat jalan peserta JKN di Puskesmas Sukaraya Tahun 2026.

Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan Dukungan Petugas Kesehatan dengan Perilaku Kader Kesehatan dalam Upaya Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Wilayah Kerja Puskesmas Mekarmukti Tahun 2026

Althea Tugap Buambitun; Emmelia Kristina Hutagaol
2026 · Book · Open Access

Demam Berdarah Dengue (DBD) memerlukan keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahannya. Kader kesehatan berperan dalam mendorong masyarakat melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan, sikap, dan dukungan petugas kesehatan dengan perilaku kader dalam pencegahan DBD di wilayah kerja Puskesmas Mekarmukti tahun 2026. Penelitian menggunakan metode mixed methods dengan desain Sequential Explanatory. Tahap kuantitatif melibatkan 82 kader aktif dan dianalisis menggunakan uji Spearman Rank dengan α = 0,05, sedangkan data kualitatif dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan 64,6% kader memiliki pengetahuan baik, 57,3% memiliki sikap positif, 78,0% memperoleh dukungan petugas kesehatan yang baik, dan 56,1% memiliki perilaku pencegahan yang baik. Terdapat hubungan positif dan signifikan antara pengetahuan dengan perilaku (r = 0,307; p = 0,005), sikap dengan perilaku (r = 0,460; p = 0,001), serta dukungan petugas kesehatan dengan perilaku (r = 0,453; p = 0,001). Hasil kualitatif menunjukkan kader melakukan edukasi 3M Plus, mengingatkan masyarakat, dan mengikuti kegiatan kebersihan lingkungan. Disimpulkan bahwa pengetahuan, sikap, dan dukungan petugas kesehatan berhubungan dengan perilaku kader dalam pencegahan DBD.

Hubungan Kepemimpinan, Disiplin Kerja, dan Motivasi Kerja dengan Kinerja Pegawai di Puskesmas Mekarmukti Tahun 2026

Afif Wahyudi Hidayat; Shella Oktavitania
2026 · Book · Open Access

Kinerja pegawai merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung optimalisasi pelayanan kesehatan di Puskesmas. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kepemimpinan, disiplin kerja, dan motivasi kerja dengan kinerja pegawai di Puskesmas Mekarmukti Tahun 2026. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain survei analitik dan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 63 responden dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan kepemimpinan baik sebesar 65,1%, disiplin kerja baik 60,3%, motivasi kerja baik 57,1%, dan kinerja pegawai baik 61,9%. Terdapat hubungan signifikan antara kepemimpinan dengan kinerja pegawai (p=0,034; r=0,267), disiplin kerja dengan kinerja pegawai (p<0,001; r=0,508), dan motivasi kerja dengan kinerja pegawai (p<0,001; r=0,500). Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik kepemimpinan, disiplin kerja, dan motivasi kerja, semakin baik pula kecenderungan kinerja pegawai.

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Fitur Antrean Online Mobile JKN pada Pasien Puskesmas Mekarmukti

Anom Dwi Prakoso; Indah Azahra Fauliza
2026 · Book · Open Access

Pemanfaatan fitur antrean online Mobile JKN di Puskesmas Mekarmukti masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kemudahan penggunaan, pengetahuan pengguna, dan dukungan petugas kesehatan dengan pemanfaatan fitur antrean online Mobile JKN. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 64 responden yang dipilih menggunakan accidental sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan pemanfaatan fitur antrean online sebagian besar berada pada kategori rendah (53,1%). Terdapat hubungan antara kemudahan penggunaan dengan pemanfaatan (p-value = 0,006; OR = 12,083; CI 95% = 1,44–101,23) dan dukungan petugas kesehatan dengan pemanfaatan (p-value = 0,024; OR = 4,024; CI 95% = 1,14–14,18). Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan pengguna dengan pemanfaatan (p-value = 0,511; OR = 0,713; CI 95% = 0,26–1,95). Disimpulkan bahwa kemudahan penggunaan dan dukungan petugas kesehatan berhubungan dengan pemanfaatan fitur antrean online Mobile JKN, sedangkan pengetahuan pengguna tidak berhubungan

Efektivitas Tuina Pediatrik untuk Meningkatkan Nafsu Makan pada Anak dengan Sindrom Defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah

Anis Lupita Ningrum; Wabusima
2026 · Book · Open Access

Latar Belakang :Masalah kurang nafsu makan pada anak merupakan salah satu tantangan kesehatan yang sering dihadapi, terutama pada anak dengan sindrom defisiensi Qi Limpa. Menurut teori Pengobatan Tradisional China (TCM), limpa berperan vital dalam proses pencernaan dan transportasi sari makanan. Defisiensi Qi Limpa menyebabkan gangguan fungsi transportasi dan transformasi limpa, yang bermanifestasi sebagai penurunan nafsu makan, rasa cepat kenyang, perut kembung, dan gangguan pertumbuhan. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berdampak pada status gizi, daya tahan tubuh, dan perkembangan anak secara keseluruhan. Tujuan : Berbagai upaya non-farmakologis telah dikembangkan untuk mengatasi masalah ini, salah satunya adalah terapi pijat Tuina pediatrik. Tuina merupakan teknik pemijatan yang menstimulasi titik-titik meridian untuk melancarkan peredaran darah dan memperbaiki fungsi pencernaan pada limpa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas Tuina pediatrik dalam meningkatkan nafsu makan pada anak dengan sindrom defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah. Metode : Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental One Group Pretest-Posttest, yaitu mengukur nafsu makan anak sebelum dan sesudah pemberian intervensi Tuina. Sampel penelitian adalah anak-anak yang didiagnosis mengalami sindrom defisiensi Qi Limpa di Griya Sehat Rauhiyyah, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Intervensi Tuina pediatrik diberikan selama beberapa sesi dengan durasi 10–15 menit setiap kali perawatan, dengan menstimulasi titik-titik meridian yang berhubungan dengan sistem pencernaan dan limpa, seperti titik limpa), titik lambung, dan titik-titik lainnya yang berfungsi memperkuat limpa dan meningkatkan nafsu makan. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner penilaian nafsu makan yang telah tervalidasi, diisi sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon karena data tidak terdistribusi normal. Hasil :Penelitian menunjukkan adanya peningkatan nafsu makan yang signifikan pada anak setelah diberikan intervensi Tuina pediatrik. Rata-rata skor nafsu makan meningkat dari kategori cukup pada pretest menjadi kategori baik pada posttest. Hasil uji statistik Wilcoxon menunjukkan nilai *p* = 0,003 (*p* < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan dari pijat Tuina terhadap peningkatan nafsu makan anak. Secara fisiologis, stimulasi titik meridian pada terapi Tuina meningkatkan gerakan peristaltik usus, mempercepat proses pengosongan lambung, serta mengoptimalkan sirkulasi darah dan fungsi organ pencernaan untuk penyerapan nutrisi yang lebih baik. Kesimpulan: Pijat Tuina pediatrik terbukti efektif secara signifikan dalam meningkatkan nafsu makan pada anak dengan sindrom defisiensi Qi Limpa. Terapi ini mampu menstimulasi titik-titik meridian yang berhubungan dengan sistem pencernaan dan limpa, sehingga memperbaiki fungsi transportasi dan transformasi limpa yang terganggu. Implikasi: Tuina pediatrik dapat direkomendasikan sebagai terapi non-farmakologis yang aman, efektif, dan tanpa efek samping untuk mengatasi masalah kurang nafsu makan pada anak dengan defisiensi Qi Limpa. Griya Sehat Rauhiyyah dan fasilitas kesehatan lainnya dapat mengadopsi terapi ini sebagai bagian dari pelayanan komprehensif untuk anak-anak dengan gangguan nafsu makan. Penelitian lebih lanjut dengan desain randomized controlled trial (RCT) dan jumlah sampel yang lebih besar disarankan untuk memperkuat bukti ilmiah.

Efektivitas Kombinasi Tuina Titik Li 11, Li 4, dan Gv 14 Terhadap Penurunan Suhu Tubuh pada Demam Anak Usia 10-16 Tahun

Anis Lupita Ningrum; Debby Yulitasari
2026 · Book · Open Access

Demam merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami anak usia sekolah dan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas terapi kombinasi Tuina pada titik LI 11 (Quchi), LI 4 (Hegu), dan GV 14 (Dazhui) dalam menurunkan suhu tubuh anak usia 10–16 tahun dengan hipertermia. Desain penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan pre–post test tanpa kelompok kontrol. Sampel penelitian berjumlah 30 anak yang memenuhi kriteria inklusi. Intervensi dilakukan selama ±10 menit (2 menit per titik dengan kecepatan 100–120 rotasi per menit), kemudian suhu tubuh diukur pada menit ke 15, ke 30, dan ke 60 pasca-intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi, rata-rata suhu tubuh partisipan adalah 38,5°C dengan mayoritas berada pada rentang 38,0–38,4°C. Setelah intervensi, terjadi penurunan suhu tubuh yang signifikan dan progresif: 0,25°C pada menit ke 15, 0,60°C pada menit ke 30, dan 0,85°C pada menit ke 60. Mayoritas subjek mencapai suhu akhir 37,0–37,4°C yang mendekati normal. Uji Paired T-Test menghasilkan nilai p = 0,000 (< 0,05) pada seluruh perbandingan, menandakan adanya perbedaan signifikan antara suhu tubuh sebelum dan sesudah intervensi. Secara fisiologis, stimulasi titik Tuina ini bekerja melalui mekanisme neuroimunologis dengan menurunkan sitokin pro inflamasi, meningkatkan vasodilatasi, dan menginduksi diaforesis. Kesimpulannya, kombinasi Tuina pada titik LI 11, LI 4, dan GV 14 terbukti efektif, aman, dan dapat dijadikan terapi komplementer non farmakologis dalam pengelolaan hipertermia pada anak usia sekolah dan remaja. Penelitian ini diharapkan menjadi dasar pengembangan protokol terapi komplementer berbasis bukti di bidang Traditional Chinese Medicine (TCM) dan pelayanan kesehatan pediatri.

Efektifitas Teknik Tuina pada Titik Shenmen dan Titik Baihui Terhadap Kualitas Tidur Pasien Insomnia Kronis di Griya Sehat Rauhiyyah

Anis Lupita Ningrum; Rina Herlina
2026 · Book · Open Access

Latar Belakang: Insomnia kronis merupakan gangguan tidur yang ditandai dengan kesulitan memulai tidur, mempertahankan tidur, atau bangun terlalu dini yang berlangsung minimal tiga kali dalam seminggu selama lebih dari tiga bulan. Prevalensi insomnia kronis terus meningkat secara global, termasuk di Indonesia, dan berdampak pada kualitas hidup, produktivitas, serta kesehatan fisik dan mental. Pengobatan farmakologis sering menimbulkan efek samping dan ketergantungan, sehingga diperlukan terapi nonfarmakologis yang aman dan efektif. Teknik Tuina dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok pada titik Shenmen (HT7) dan Baihui (GV20) dipercaya dapat menenangkan Shen, melancarkan sirkulasi Qi dan darah, serta meningkatkan kualitas tidur. Tujuan: Mengetahui efektivitas teknik Tuina pada titik Shenmen (HT7) dan Baihui (GV20) terhadap peningkatan kualitas tidur pasien insomnia kronis di Griya Sehat Rauhiyyah. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Sampel penelitian berjumlah 30 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Intervensi berupa teknik Tuina pada titik Shenmen (HT7) dan Baihui (GV20) yang diberikan sebanyak 8 sesi selama 4 minggu dengan frekuensi 2 kali per minggu. Kualitas tidur diukur menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) intervensi. Analisis data menggunakan uji Paired Sample t-test setelah data dinyatakan berdistribusi normal melalui uji Shapiro-Wilk. Hasil: Rata-rata skor PSQI sebelum intervensi adalah 9,17 ± 2,08 dan setelah intervensi menurun menjadi 7,50 ± 1,58. Seluruh 30 responden mengalami penurunan skor PSQI dengan rata-rata penurunan sebesar 1,67 poin. Hasil uji Paired Sample t-test menunjukkan nilai t = 11,378 dengan derajat kebebasan (df) = 29 dan nilai signifikansi p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara skor PSQI sebelum dan sesudah terapi Tuina. Kesimpulan: Teknik Tuina pada titik Shenmen (HT7) dan Baihui (GV20) efektif dalam meningkatkan kualitas tidur pasien insomnia kronis di Griya Sehat Rauhiyyah. Terapi ini dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif terapi nonfarmakologis yang aman dan berbasis bukti dalam penatalaksanaan insomnia kronis.

Pengaruh Terapi Tuina Pada Titik Neiguan (PC6) dan Taichong (LR3) Terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi dengan Sindrom Yang Hati Naik

Andi Sriyono S; Stefanus Aditya
2026 · Book · Open Access

Hipertensi merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat dan menjadi faktor risiko utama terjadinya penyakit kardiovaskular. Dalam perspektif Traditional Chinese Medicine (TCM), hipertensi sering dikaitkan dengan ketidakseimbangan energi tubuh, salah satunya adalah Sindrom Yang hati naik (Gan Yang Shang Kang). Terapi Tuina sebagai salah satu modalitas TCM diyakini mampu melancarkan aliran Qi dan darah serta menyeimbangkan fungsi organ melalui stimulasi titik-titik akupunktur tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi Tuina pada titik Neiguan (PC6) dan Taichong (LR3) terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi dengan Sindrom Yang hati naik. Penelitian menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretest–posttest. Subjek penelitian adalah pasien hipertensi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental one group pretest–posttest dengan 30 responden hipertensi Sindrom Yang Hati Naik yang dipilih secara purposive sampling. Terapi Tuina pada titik Neiguan (PC6) dan Taichong (LR3) diberikan selama 15 menit, 2 kali seminggu. Tekanan darah diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan tensimeter, kemudian dianalisis dengan Paired Sample T-Test atau Wilcoxon Signed Rank Test pada α = 0,05. Penelitian menunjukkan bahwa terapi Tuina pada titik Neiguan (PC6) dan Taichong (LR3) berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi dengan Sindrom Yang Hati Naik. Rata-rata tekanan darah sistolik menurun dari 162,47 menjadi 150,53 mmHg, sedangkan diastolik dari 98,23 menjadi 91,13 mmHg. Terapi Tuina dapat menjadi terapi komplementer pendamping dalam penatalaksanaan hipertensi. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan sampel lebih besar, kelompok kontrol, serta waktu intervensi dan pengamatan yang lebih panjang.

Pengaruh Qigong Terhadap Perubahan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi (Gao Xue Ya) di Ciledug

Muslihatin Khuril Rosyida; Ni Made Suratini
2026 · Book · Open Access

Hipertensi masih menjadi ancaman kesehatan global yang berdampak langsung pada peningkatan angka mortalitas dan morbiditas di berbagai negara. Dikenal sebagai kondisi tanpa gejala awal yang jelas, penyakit ini berpotensi memicu kerusakan organ vital, seperti gagal ginjal, serangan stroke, hingga penyakit jantung koroner. Selain intervensi farmakologis, tata laksana hipertensi membutuhkan pendekatan nonfarmakologis, salah satunya melalui olah tubuh Qigong. Terapi ini memadukan teknik olah napas, olah gerak fisik terstruktur, dan meditasi guna merangsang respons relaksasi, meredakan ketegangan saraf, serta mengoptimalkan sirkulasi darah dalam mengontrol tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas latihan Qigong terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen semu (quasi-experiment) melalui rancangan one-group pretest-posttest design. Populasi penelitian mencakup seluruh warga yang terdiagnosis hipertensi di kawasan Villa Japos Blok N1 RW 014, Ciledug, Kota Tangerang, Banten. Pemilihan sampel dilakukan mengacu pada kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan melalui teknik purposive sampling. Intervensi Qigong diterapkan secara berkala dengan durasi 15 hingga 30 menit per sesi dan frekuensi 3 sampai 5 kali seminggu selama periode penelitian. Pengukuran tekanan darah sistolik dan diastolik dilakukan sebelum serta sesudah pemberian intervensi menggunakan alat tensimeter yang telah terkalibrasi dan terstandarisasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik yang bermakna setelah diberikan intervensi latihan Qigong. Analisis data dilakukan menggunakan uji paired t-test apabila data berdistribusi normal, atau uji Wilcoxon signed-rank test apabila data tidak berdistribusi normal, dengan tingkat signifikansi (α) 0,05. Hasil analisis membuktikan terdapat pengaruh yang signifikan dari latihan Qigong terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah latihan Qigong efektif dalam menurunkan tekanan darah sehingga dapat dimanfaatkan sebagai terapi komplementer dalam pengelolaan hipertensi. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat dalam memanfaatkan terapi nonfarmakologis sebagai upaya pengendalian hipertensi.

Pengaruh Terapi Akupunktur Nei Guan Kombinasi Herbal Wedang Pala untuk Pasien Insomnia Berbagai Sindrom

Domingo Amadeus Savatore; Efa Yusfi Asrifa
2026 · Book · Open Access

Latar Belakang: Insomnia adalah gangguan tidur tersering dalam praktik klinis yang menurunkan kualitas hidup dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif. Obat sedatif-hipnotik konvensional memiliki efek samping seperti ketergantungan dan gangguan kognitif, sehingga diperlukan terapi alternatif yang aman. Akupunktur titik PC 6 (Nei Guan) dan herbal wedang pala berpotensi memberikan efek sinergis untuk mengatasi insomnia. Tujuan: Menganalisis pengaruh akupunktur PC 6 kombinasi wedang pala terhadap peningkatan kualitas tidur pasien insomnia. Metode: Penelitian pretest-posttest control group design dengan pendekatan kuantitatif ini melibatkan 30 pasien insomnia di Klinik Velda, Tanjung Priuk, Jakarta Utara, yang dibagi menjadi dua kelompok: akupunktur PC 6 + wedang pala (n=15) dan akupunktur PC 6 saja (n=15). Intervensi dilakukan 8 kali (2 kali/minggu). Kualitas tidur diukur dengan Insomnia Severity Index (ISI) saat pre-test dan post-test. Analisis menggunakan uji Shapiro-Wilk (normalitas) dan Paired T-Test (hipotesis). Hasil: Seluruh data berdistribusi normal (p > 0,05). Kelompok kombinasi menunjukkan penurunan skor ISI yang sangat signifikan dari 15,20 ± 4,98 menjadi 7,00 ± 2,72 (t(14) = -17,85; p < 0,001). Kelompok akupunktur saja menurun dari 16,20 ± 4,24 menjadi 8,73 ± 2,60 (t(14) = -18,63; p < 0,001). Kedua kelompok mengalami perbaikan yang sangat signifikan secara statistik (p < 0,001). Kesimpulan: Akupunktur PC 6, baik tunggal maupun kombinasi dengan wedang pala, efektif menurunkan skor ISI (meningkatkan kualitas tidur) pada pasien insomnia moderat. Kombinasi menunjukkan kecenderungan efek lebih besar, mengindikasikan efek sinergis antara kedua terapi.

Pengaruh Terapi Tuina Teknik Rou Fa Titik Akupunktur Bl 23, Bl 25, Dan Bl 40 Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pinggang pada Pasien Dewasa

Efa Yusfi Asrifa; Muhammad Sutisna
2026 · Book · Open Access

Latar Belakang: Nyeri punggung bawah (low back pain) merupakan keluhan muskuloskeletal yang sering ditemukan, dengan prevalensi global mencapai 619 juta kasus pada 2020. Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi gangguan muskuloskeletal sebesar 7,30%. Penatalaksanaan konvensional menggunakan OAINS bersifat simtomatik dan kurang efektif mengatasi penyebab mendasar nyeri pinggang kronis, sehingga dibutuhkan alternatif terapi komplementer seperti Tuina. Tujuan: Menganalisis pengaruh terapi Tuina teknik Rou Fa pada titik akupunktur BL 23, BL 25, dan BL 40 terhadap penurunan intensitas nyeri pinggang pada pasien dewasa. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental one-group pretestposttest kuantitatif. Sampel penelitian sebanyak 30 responden di Klinik Velda, Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang memenuhi kriteria inklusi. Intervensi Tuina teknik Rou Fa diberikan sebanyak 8 kali pertemuan (2 kali per minggu selama 4 minggu). Intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) saat pre-test dan post-test. Analisis data menggunakan Shapiro-Wilk dan pairedsamples t-test. Hasil: Rata-rata skor NRS menurun signifikan dari 4,83 (SD = 1,949) sebelum intervensi menjadi 1,03 (SD = 1,273) setelah intervensi. Penurunan rata-rata sebesar 3,800 poin (SD = 1,064) atau setara dengan 78,7% dari skor awal. Uji statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan (t = -19,571; df = 29; p < 0,001). Kesimpulan: Terapi Tuina teknik Rou Fa pada titik akupunktur BL 23, BL 25, dan BL 40 berpengaruh signifikan terhadap penurunan intensitas nyeri pinggang pada pasien dewasa di Klinik Velda.