COLLECTION
Koleksi Perpustakaan
Koleksi otomatis dari Perpustakaan
Publikasi
Jurnal Media Gizi Indonesia
Jurnal Media Gizi Indonesia
Jurnal Media Gizi Indonesia
Media Gizi Kesmas
Jurnal Media Gizi Indonesia
Jurnal Gizi dan Pangan
Jurnal Gizi Klinik Indonesia
Jurnal Gizi Klinik Indonesia
Jurnal Gizi Klinik Indonesia
Hubungan Kepatuhan Transfusi Darah Dengan Kualitas Hidup Pada Pasien Anak Thalasemia Mayor di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong
Thalasemia Mayor merupakan penyakit kronis yang umum di negara Mediterania dan Asia Tenggara, dengan prevalensinya yang semakin meningkat. Kepatuhan merupakan penanganan utama dalam menjalani rutinitas transfusi pada penderita Thalasemia. Penderita Thalasemia dianjurkan rutin menjalankan transfusi darah, menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh sehingga penderita tetap bisa beraktivitas seperti biasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepatuhan transfusi darah dan kualitas hidup pada pasien Thalasemia Mayor. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain korelasional dan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini mengunakan non probability sampling dengan cara pendekatan purposive sampling. Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner untuk kepatuhan Transfusi darah dan kualitas hidup dengan kuesioner PedsQL. Populasi dalam penelitian ini yaitu 50 populasi pasien yang berkunjung di unit Thalasemia RS Sentra Medika Cibinong. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 45 orang. Data diolah dan dianalisa secara bertahap sesuai dengan tujuan penelitian menggunakan komputerisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, hasil uji Gamma, didapatkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,570 hasil p value = 0,006 atau < 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan korelasi positif sedang dan signifikan antara kepatuhan transfusi darah dengan kualitas hidup pasien, sehingga jika pasien memiliki tingkat kepatuhan transfusi darah yang tinggi maka akan mempunyai kualitas hidup yang baik.
Jurnal Gizi dan Pangan
Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Kadar Gula Darah Sewaktu Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II di Poli Klinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Harapan Bunda Jakarta Timur
Latar Belakang: Diabetes Melitus Tipe II merupakan kondisi kronis akibat gangguan metabolik yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula darah karena aktivitas atau sekresi insulin yang tidak adekuat. Aktivitas fisik secara teratur diketahui dapat meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin dan membantu mengontrol kadar glukosa darah. Namun, banyak penderita DM Tipe II memiliki tingkat aktivitas fisik yang rendah, yang berdampak pada buruknya pengendalian glikemik.Tujuan: Mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dan kadar gula darah sewaktu pada pasien DM Tipe II di Klinik Penyakit Dalam RS Harapan Bunda. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain potong lintang (cross-sectional). Sebanyak 107 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui kuesioner aktivitas fisik dan pemeriksaan kadar gula darah sewaktu. Analisis hubungan antar variabel dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Sebanyak 43,0% responden memiliki aktivitas fisik rendah dengan kadar gula darah sewaktu yang tinggi. Hasil analisis menunjukkan hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dan kadar gula darah sewaktu (p = 0,000). Pasien yang lebih aktif secara fisik cenderung memiliki kontrol glikemik yang lebih baik. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan kadar gula darah sewaktu pada pasien DM Tipe II. Peningkatan aktivitas fisik perlu dipromosikan sebagai bagian penting dalam pengelolaan diabetes.
Pengaruh Terapi Rendam Air Hangat Terhadap Penurunan Derajat Edema Pasien Gagal Ginjal Kronik Post Hemodialisis Rumah Sakit Harapan Bunda Jakarta Tahun 2024
Latar Belakang: Gagal ginjal menimbulkan tanda dan gejala pada tubuh penderitanya seperti sesak nafas, pusing, lemas, mual dan muntah, gelisah, sering haus, sulit buang air kecil, dan edema anasarka (Nurbadriyah, 2021). Menurut Ryski dan Guyton dalam Isroin (2016), edema pada jaringan mempengaruhi kekuatan otot. Hal ini karena hingga setengah jumlah cairan bebas menembus ke dalam interstitium, meningkatkan jarak difusi nutrisi dan oksigen dari kapiler ke jaringan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi rendam air hangat terhadap penurunan derajat edema pasien gagal ginjal kronik post hemodialisis. Metode: Penelitian ini menggunakan metode Quasy Experiment. Hasil: Penelitian ini menunjukkan ada 18 (72%) orang yang mengalami penurunan derajat edema dengan nilai p-value dari uji Wilcoxon sebesar 0,000. Kesimpulan: Ada pengaruh terapi rendam air hangat terhadap penurunan derajat edema pasien gagal ginjal kronik post hemodialisis Rumah Sakit Harapan Bunda Jakarta Tahun 2024. Saran untuk pasien agar dapat dapat menerapkan latihan yang sudah diajarkan dalam penelitian ini secara berkelanjutan untuk membantu mengontrol derajat edema selama periode interdialitik.
Hubungan Antara Tingkat Kepatuhan Pengobatan Antiretroviral Dengan Kualitas Hidup Pasien HIV/AIDS di RSUD Kabupaten Bekasi
Latar Belakang : Peningkatan kasus HIV/AIDS di Indonesia menuntut penanganan yang optimal melalui terapi Antiretroviral (ARV) untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Kepatuhan dalam minum obat ARV menjadi faktor penentu keberhasilan terapi dan kualitas hidup yang optimal pada pasien HIV/AIDS (Kemenkes RI, 2024). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat kepatuhan pengobatan ARV dengan kualitas hidup pasien HIV/AIDS di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode : penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 133 orang dengan HIV/AIDS yang menjalani terapi ARV, dipilih menggunakan teknik total sampling (Sugiyono, 2020). Hasil : penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara tingkat kepatuhan pengobatan ARV dengan kualitas hidup pasien HIV/AIDS (p = 0,001 < 0,05). Kesimpulan : nilai Korelasi Koefisien sebesar 0,558 menunjukkan hubungan sedang (moderat), di mana kepatuhan tinggi berpengaruh positif terhadap kualitas hidup, terutama pada kesehatan fisik dan tingkat kemandirian pasien. Distribusi frekuensi menunjukkan 56,7% responden memiliki kepatuhan rendah, 40% sedang, dan 3,3% tinggi, dengan kualitas hidup kategori kurang baik sebanyak 43,4%, cukup baik 46,7%, dan baik 10%. Saran : hasil ini menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap pengobatan ARV berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien HIV/AIDS. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi dan dukungan berkelanjutan untuk meningkatkan kepatuhan pasien.
Jurnal Gizi dan Pangan
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Emosional Pada Usia Remaja di Sekolah SMP X Cikarang Utara
Latar Belakang Perilaku emosional remaja menjadi isu yang semakin penting karena masa ini ditandai dengan perubahan fisik, sosial, dan emosional yang signifikan untuk membentuk karakter dan kepribadian remaja di masa depan. Menurut data WHO (2019), 8% anak – anak dan 15% usia remaja mengalami gangguan mental, dengan kelompok usia 15 – 29 tahun, ditemukan kasus bunuh diri sebagai penyebab ketiga kematian. Sedangkan menurut data Riskesdas (2021), 40% remaja yang mengalami gangguan kesehatan mental, berpengaruh terhadap hasil belajarnya. Masalah kesehatan mental remaja yang tidak ditangani sedari dini menjadi penyebab masalah mental yang berawal dari gangguan belajar, juga dapat menjadi berkelanjutan terhadap masalah mental yang mempengaruhi keberlangsungan kehidupan sehari-hari. Maka dari itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini, dengan menghubungkan faktor-faktor yang memengaruhi perilaku emosional remaja, seperti usia, jenis kelamin, pola asuh orang tua, dan lingkungan social. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, menggunakan kuesioner Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) dan kuesioner pola asuh orang tua, dengan jumlah responden sebanyak 81 siswa/i kelas 7.dimana uji validitas dan reliabilitas sudah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai P- Value 0.031, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara usia dan perilaku emosional. Uji Chi-Square menunjukkan nilai P- Value 0.012, untuk jenis kelamin yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan perilaku emosional. Uji Chi-Square menunjukkan nilai P- Value 0.004 pada pola asuh, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara Pola Asuh dan perilaku emosional. Uji Chi-Square juga menunjukkan nilai P- Value 0.032 untuk lingkungan sosial, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara Lingkungan Sosial dan perilaku emosional. Kesimpulan Perilaku emosional remaja dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Maka diperlukan pendekatan holistik dalam memahami dan mengelola perkembangan emosional remaja. Studi lanjutan diperlukan untuk mengeksplorasi lebih dalam faktor faktor lain yang bisa mempengaruhi perilaku emosional pada usia remaja.
Hubungan Dukungan Keluarga Dalam Kepatuhan Perawatan Pada Pasien Diabetes Melitus di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong Tahun 2024
Diabetes Melitus merupakan penyakit metabolik dengan ditandai peningkatan kadar glukosa dalam darah, yang dikenal sebagai hiperglikemia yang dikarenakan gangguan dalam sekresi insulin dan ketidakcukupan fungsi insulin itu sendiri dan dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan, serta berdampak signifikan pada kualitas hidup penderita. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik responden dan memberikan gambaran demografi mengenai hubungan antara dukungan keluarga dalam kepatuhan perawatan pada pasien Diabetes Melitus di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif cross-sectional dan menekankan pada waktu yang dihabiskan untuk mengukur atau mengamati data variabel dependen dan independen satu per satu terhadap 62 sample dari 160 populasi dibulan Oktober sampai November di RS Sentra Medika Cibinong. Berdasarkan Uji Normalitas data Kolmogrov-Smirnov dan penelitian diperoleh asymp.sig (2-tailed) sebesar 0,576 atau > 0,05 artinya data terdistribusi dengan normal dan berdasarkan analisis statistik uji chi-square menunjukkan bahwa P-Value = 0,005 (P<alpa 0,05), maka Ha diterima yang berarti bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga tinggi dengan peningkatan kepatuhan perawatan di RS Sentra Medika Cibinong. Dari hasil penelitian ini, analisis data dan pembahasan maka tujuan penelitian telah terjawab yakni ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan perawatan pada pasien diabetes melitus di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong Tahun 2024. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi RS Sentra Medika Cibinong dalam upaya memberikan promosi kepada pasien diabetes melitus mengenai pentingnya menjaga kepatuhan dalam melaksanakan aktivitas perawatan diri.
Hubungan Karakteristik Ibu dan Budaya Pola Pemberian Makan Balita Dengan Kejadian Stunting di RS Sentra Medika Cikarang Kabupaten Bekasi
Stunting merupakan masalah yang berdampak pada pertumbuhan, perkembangan kognitif, dan kesehatan anak (WHO, 2020). Stunting bisa disebabkan oleh, pendidikan ibu, sosial ekonomi, serta pola pemberian makan (UNICEF, 2020). Berdasarkan prevalensi stunting di Indonesia mencapai 24,4%, dengan angka di Kabupaten Bekasi sebesar 21,5% pada tahun 2021 dan menurun menjadi 13,8% pada tahun 2023 (Kemenkes RI, 2023).Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik ibu dan budaya pola pemberian makan balita dengan kejadian stunting di RS Sentra Medika Cikarang Kabupaten Bekasi.Penelitian ini menggunakan desain crosssectional dengan sampel sebanyak 40 ibu yang memiliki balita stunting di RS Sentra Medika Cikarang. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan diolah menggunakan uji chi-square untuk menganalisis hubungan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik ibu, seperti tingkat pendidikan dan sosial ekonomi, dengan kejadian stunting (p = 0,013. Selain itu, budaya pola pemberian makan juga berhubungan dengan kejadian stunting (p = 0,024). Temuan ini sejalan dengan penelitian Auliani et al. (2021) yang menunjukkan bahwa ibu dengan tingkat pendidikan rendah lebih berisiko memiliki anak stunting (p = 0,001). Kesimpulan pada penelitian ini adalah terdapat hubungan antara karakteristik ibu dengan kejadian stunting dengan nilai P value 0,002 (p<0,05) dan ada hubungan antara budaya pola pemberian makan dengan kejadian stunting dengan nilai p value 0,028 (p<0,05). Karakteristik ibu dan budaya pola pemberian makan berperan dalam kejadian stunting. Oleh karena itu, edukasi mengenai pola pemberian makan perlu ditingkatkan untuk mencegah stunting.