Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Koleksi Perpustakaan

Koleksi otomatis dari Perpustakaan

10.665 item publik

Publikasi

Halaman 81 dari 534

Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Kepatuhan Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Mekarmukti Kecamatan Cikarang Utara

Evellia Priastuti; Masita Sari Dewi
2025 · Book · Open Access

Latar Belakang : Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu tantangan utama dalam bidang kesehatan masyarakat baik secara global maupun nasional, dan menjadi indikator penting dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Indonesia menempati posisi kedua terbanyak di dunia dalam jumlah kasus TBC setelah India, dengan estimasi 10,6 juta kasus secara global pada tahun 2022. Meskipun terdapat peningkatan pelaporan kasus selama pandemi COVID-19, tingkat keberhasilan pengobatan nasional pada tahun 2023 masih berada di angka 86,5%, di bawah target 90%. Provinsi Jawa Barat menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak, termasuk Kabupaten Bekasi yang mencatat 13.515 kasus hingga Februari 2024, dan Kecamatan Cikarang Utara menjadi salah satu wilayah dengan kasus tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan pasien TBC di Puskesmas Mekarmukti, Kecamatan Cikarang Utara. Metode : Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan metode observasional. Cara pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dan menentukan jumlah sampel menggunakan rumus slovin sehingga didapatkan sampel pada penelitian ini sebanyak 95 responden. Alat ukur yang digunakan adalah berupa kuesioner dan analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil : Hasil analisis korelasi antara variabel usia terhadap tingkat pengetahuan menunjukkan hasil p = 0,000. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai p < 0,05, sehingga ada hubungan antara usia terhadap tingkat pengetahuan pasien tuberkulosis paru. Pendidikan terhadap tingkat pengetahuan menunjukkan hasil p = 0,041, sehingga ada hubungan antara pendidikan terhadap tingkat pengetahuan pasien, kategori pengobatan terhadap tingkat pengetahuan menunjukkan hasil p = 0,028, sehingga ada hubungan antara kategori pengobatan terhadap tingkat pengetahuan pasien tuberkulosis paru. Hasil analisis korelasi antara variabel usia terhadap tingkat kepatuhan menunjukkan hasil p = 0,002, sehingga ada hubungan antara usia terhadap tingkat kepatuhan pasien tuberkulosis paru. variabel tingkat pengetahuan dengan tingkat kepatuhan mendapatkan nilai p-value sebesar 0,337 dan nilai signifikan yang digunakan pada penelitian ini yaitu 0,05.

Hubungan Terapi Pengobatan Pasien Rawat Inap Diare Anak Dengan Analisis Biaya di RS Sentra Medika Cibinong Tahun 2024

Adam Nur Rasyid; Rosiana
2025 · Book · Open Access

Diare merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak, khususnya di negara berkembang, yang memerlukan penanganan tepat dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya dan gambaran pengobatan pasien diare anak rawat inap di RS Sentra Medika Cibinong tahun 2024. Desain penelitian menggunakan metode deskriptif retrospektif dengan pengambilan data sekunder dari rekam medis dan billing pasien. Sampel penelitian mencakup seluruh pasien anak yang didiagnosis diare dan menjalani perawatan inap pada periode Januari– Desember 2024, dengan teknik purposive sampling. Data dianalisis secara univariat untuk distribusi karakteristik pasien, jenis terapi, dan komponen biaya, serta bivariat untuk melihat hubungan antara jenis terapi dengan total biaya pengobatan. Hasil penelitian menunjukkan variasi jenis terapi meliputi terapi farmakologis (antibiotik, probiotik, suplemen) dan non-farmakologis (rehidrasi oral/intravena). Komponen biaya terbesar berasal dari biaya obat dan rawat inap. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara jenis terapi tertentu dengan total biaya pengobatan (p<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pemilihan terapi yang tepat tidak hanya berpengaruh terhadap efektivitas klinis, tetapi juga dapat mempengaruhi efisiensi biaya, sehingga dapat menjadi pertimbangan dalam kebijakan pengobatan rasional di rumah sakit.

Pengaruh Teknik Relaksasi Otot Progresif Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Dengan Teknik Anestesi Umum di RS Amanda Cikarang Selatan

Alvin Arvela; Amelia Wulandari; Neng Imas Susanti
2025 · Book · Open Access

Latar belakang: Keadaan seseorang yang mengalami kecemasan pre operasi dapat diartikan sebagai perasaan takut atau gelisah yang ditandai dengan peningkatan detak jantung, tekanan darah, pernapasan cepat, sesak dada, serta ketegangan otot. Kecemasan pre operasi yang tidak dikelola dengan baik dapat berdampak pada gangguan hemodinamik. Salah satu metode non-farmakologis yang dapat membantu mengurangi kecemasan adalah teknik relaksasi otot progresif. Teknik ini bekerja dengan mengendurkan otot-otot yang tegang secara sistematis, sehingga dapat memberikan efek menenangkan dan kenyamanan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik anestesi umum. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian Quasy eksperiment dengan desain pre and post test without control. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yang melibatkan 33 responden dengan kriteria inklusi dan eklusi yang telah ditentukan oleh peneliti. Data dianalisis menggunakan uji paired t-test. Instrumen penelitian berupa kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety And Information Scale (APAIS). Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik responden sebagian besar berusia 26 – 35 (33,3%) dengan jumlah 11 responden, jenis kelamin dengan jumlah 22 responden (66,7%) sebagian besar adalah perempuan, pengalaman pembedahan menunjukkan karakteristik responden sebagian besar belum pernah operasi sebanyak 20 responden (60,6%), dan berdasarkan tingkat kecemasan sebelum dilakukan teknik relaksasi otot progresif lebih banyak responden mengalami cemas sedang (48,5%) dengan jumlah 16 responden, sedangkan sesudah dilakukan teknik relaksasi otot progresif didapatkan hasil tingkat kecemasan responden sebagian besar menurun menjadi cemas ringan dengan jumlah 24 responden (72.7%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya penurunan tingkat kecemasan setelah dilakukan teknik relaksasi otot progresif dengan nilai p-value 0,000. Kesimpulan: Maka disimpulkan bahwa ada pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik anestesi umum di RS Amanda Cikarang Selatan.

Hubungan Lama Operasi dan Indeks Massa Tubuh Dengan Kejadian Shivering Pasca Spinal Anestesi di Recovery Room RSUD Kabupaten Bekasi

Anas Kiki Anugrah; Bunga Nadzmuhawa; Sal Sabilah
2025 · Book · Open Access

Anestesi spinal (Subarakhnoid) adalah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan obat anestetik lokal ke dalam cairan serebrospinal di dalam ruang subaraknoid di daerah vetebra L2-L3 atau L3-L4. tindakan anestesi spinal dapat menyebabkan gangguan fungsi dari pengaturan suhu tubuh yang akan menyebabkan penurunan suhu inti tubuh sehingga menyebabkan shivering yang berdampak pada penurunan batas pemicu vasokontriksi dan shivering sekitar 0,6°C. Insiden kejadian shivering biasanya mencapai sekitar 65% pasca anestesi. Tujuan Peneliti : Tujuan umum peneliti ini adalah untuk mengetahui hubungan lama operasi dan indeks massa tubuh dengan kejadian shivering pada pasien pasca spinal anestesi di Ruang Recovery Room di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan corss sectional. Tehnik pengambilan sampel penelitian ini dengan purposive sampling sebanyak 40 responden. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan observasi yang berisi tentang lama operasi, indeks massa tubuh (IMT) dan shivering. Analisis data dilakukan secara univariat dan menggunakan uji-spearman rank. Hasil: Dari hasil penelitian didaptkan sebagian besar dengan lama operasi kejadian shivering pada derajat 4 sebanyak 34 (85%), sedangkan IMT kategori kurus kejadian shivering sebanyak 28 responden (70%). Hasil uji sperman rank menunjukan bahawa ada hubungan antara IMT dengan kejadian shivering dengan nilai p-value (0,001), sedangkan lama operasi dengan kejadian shivering tidak signifikan dengan p-value (0,48). Kesimpulan: Ada hubungan antara IMT dengan kejadian shivering. Namun, pada penelitian ini tidak didapatkan hubungan antara lama operasi dengan kejadian shivering.

Hubungan Lama Operasi Dengan Hipotermi Pada Pasien Pasca Spinal Anestesi di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Bekasi

Robin Ardian; Severiana Maria Vinsensia; Suanda Saputra
2025 · Book · Open Access

Latar Belakang: Hipotermi adalah masalah yang terjadi setelah pembedahan, hipotermi terjadi karena agen dari obat anestesi menekan laju metabolisme oksidatif yang menghasilkan panas tubuh sehinga mengganggu regulasi panas tubuh, komplikasinya dapat muncul selama penyembuhan pasca anestesi umum maupun regional. Pembedahan dengan anestesi tulang belakang yang berkepanjangan akan meningkatkan terpaparnya tubuh dengan suhu dingin sehingga menyebabkan perubahan temperatur tubuh.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama operasi dengan hipotermi pasca spinal anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode:Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional yang melibatkan sebanyak 36 responden pasca anestesi spinal dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Uji statistik yang digunakan adalah analisis univariat yaitu deskriptif dan analisis bivariat yang digunakan adalah Spearman Rank. Hasil: Karaktristik responden yang menjalani operasi menggunakan spinal anestesi dengan durasi sedang lebih didominasi, dengan total 30 responden (83.3%), penelitian ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami hipotermi ringan setelah menjalani anestesi spinal, dengan total 22 responden (61.1%), terdapat keeratan hubungan lama operasi dengan hipotermi pasca spinal anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi dengan uji korelasi Spearman Rank menujukkan nilai sig (2-tailed) atau P-Value adalah 0.000 <0.05 dengan nilai korelasi koefisien -0.795. Kesimpulan: Temuan ini mendukung teori yang mana lama operasi berhubungan dengan hipotermi pasca anestesi spinal di RSUD Kabupaten Bekasi.

Analisis Perbedaan Aktivitas Antioksidan dan Nilai Sun Protection Factor (SPF) Antara Ekstrak dan Ekstrak Terpurifikasi Daun Mangga (Mangifera indica L.)

Audrie Agustini Widiawati; Salma Hilmy Rusydi Hashim
2025 · Book · Open Access

Perubahan iklim global dan meningkatnya tingkat polusi di kawasan industri seperti Cikarang telah memperparah paparan radikal bebas dan sinar ultraviolet (UV) yang dapat membahayakan kesehatan kulit. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pemanfaatan bahan alam yang memiliki kandungan antioksidan serta efek fotoprotektif menjadi solusi potensial. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antioksidan dan nilai Sun Protection Factor (SPF) antara ekstrak dan ekstrak terpurifikasi daun mangga (Mangifera indica L.). Ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%, kemudian dilanjutkan dengan proses pemurnian menggunakan pelarut n-heksana. Aktivitas antioksidan dianalisis menggunakan metode DPPH untuk memperoleh nilai IC₅₀, sedangkan pengujian SPF dilakukan secara in vitro dengan spektrofotometer UV-Vis melalui metode Mansur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak terpurifikasi memiliki nilai IC₅₀ sebesar 23,11 ± 0,39 ppm, lebih rendah dibandingkan ekstrak tanpa pemurnian yang mencapai 48,28 ± 0,61 ppm, yang keduanya termasuk dalam kategori aktivitas antioksidan sangat kuat. Nilai SPF tertinggi juga diperoleh pada ekstrak terpurifikasi, yaitu 44,89 ± 0,063 pada konsentrasi 12000 ppm, dan tergolong sebagai proteksi tinggi, sedangkan ekstrak biasa memiliki nilai SPF sebesar 30,23 ± 0,056. Berdasarkan hasil tersebut, pemurnian ekstrak terbukti mampu meningkatkan efektivitas antioksidan dan kemampuan perlindungan terhadap sinar UV. Dengan demikian, ekstrak terpurifikasi daun mangga berpotensi dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan aktif alami dalam formulasi produk kosmetik dan farmasi yang berfungsi sebagai antioksidan sekaligus tabir surya.

Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Peningkatan Tekanan Darah Pada Pasien Pre Operasi yang Akan Menjalani General Anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi

Ratno; Suanda Saputra; Zerin Mercillia Adisti
2025 · Book · Open Access

Latar Belakang: Kecemasan adalah reaksi psikologis yang umum terjadi pada pasien pre operasi, terutama sebelum menjalani general anestesi. Kecemasan yang berlebihan dapat memengaruhi kondisi fisiologis pasien, salah satunya adalah peningkatan tekanan darah. Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan peningkatan tekanan darah pada pasien pre operasi yang akan menjalani general anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan teknik purposive sampling yang melibatkan 36 responden. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS), dan data dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Hasil menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kecemasan dengan tekanan darah sistolik (P- Value 0,002) dan diastolik (P-Value 0,003). Sebagian besar responden mengalami peningkatan tekanan darah sistolik (69,4%) dan diastolik (58,3%). Kesimpulan: bahwa adanya korelasi¹ atau hubungan tingkat kecemasan dengan peningkatan tekanan darah pada Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan peningkatan tekanan darah pada pasien pre operasi yang menjalani general anestesi. Penatalaksanaan kecemasan pre operasi menjadi penting untuk menjaga kestabilan kondisi hemodinamik pasien demi keberhasilan tindakan operasi.

Pengaruh Media Edukasi Food Model Dua Dimensi Terhadap Pengetahuan Penggunaan dan Konsumsi Gula Pada Remaja

Santy Anjelyna Br Siregar; Widya Lestari Nurpratama
2025 · Book · Open Access

Latar belakang: Remaja cenderung mengonsumsi gula dalam jumlah lebih tinggi dibandingkan kelompok usia dewasa yaitu usia remaja rerata mengonsumsi gula lebih dari 50 gram, dan usia dewasa sebesar 39,1 gram per hari. Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi diabetes mellitus pada usia remaja mengalami peningkatan dari 10,9% tahun 2018 menjadi 11,7% tahun 2023, dan prevalensi obesitas tahun 2018 sebesar 16,2%, sedangkan tahun 2023 sebesar 16%. Penelitian ini mengembangkan sebuah inovasi berupa food model dua dimensi yaitu gambar-gambar berbagai bahan makanan, minuman, dan produk pangan kemasan yang disajikan dalam bentuk datar. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh media edukasi food model dua dimensi terhadap pengetahuan penggunaan dan konsumsi gula pada remaja. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuasi eksperimen dengan desain one group pre-test and post-test. Sampel dalam penelitian ini sebesar 94 responden. Pemilihan sampel dalam penelitian ini dilakukan melalui teknik purposive sampling. Data pengetahuan responden dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan pre-test dan post-test yang terdiri atas 15 butir pertanyaan. Analisis data menggunakan uji statistik non-parametrik, yaitu Uji Wilcoxon Rank Test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari intervensi edukasi menggunakan food model dua dimensi terhadap pengetahuan penggunaan dan konsumsi gula pada remaja dengan nilai signifikansi (2-tailed) sebesar 0,000. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh media edukasi food model dua dimensi terhadap pengetahuan penggunaan dan konsumsi gula pada remaja.

Pengaruh Gas Inhalasi Sevoflurane Terhadap Status Hemodinamik Pada Pasien General Anesthesia di RSUD Kabupaten Bekasi

Desi Permata Al Zahri; Nur Rochma Putri Utami; Zuhrah Giatamah
2025 · Book · Open Access

Latar belakang : Anestesi inhalasi merupakan obat dalam bentuk gas atau cairan yang mudah menguap, yang diberikan melalui pernapasan pasien. Salah satu jenis obat anestesi inhalasi antara lain sevoflurane. Sevoflurane adalah halogenasi eter yang memiliki proses induksi dan pemeliharaan yang lebih cepat dibandingkan dengan obat anestesi inhalasi lainnya. Sevoflurane tergolong stabil dan tidak menyebabkan aritmia selama prosedur anestesi. Efek pada tahanan vaskuler dan curah jantung relatif kecil, sehingga tekanan darah juga mengalami penurunan yang minimal. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gas agen inhalasi sevoflurane terhadap status hemodinamik pada pasien general anesthesia di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode : Desain penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pre experimental design yang diperluas dengan rancangan one grup pretest-posttest. Besar sampel dalam penelitian ini 21 responden. Lembar observasi yang digunakan adalah lembar observasi intra anestesi yang mengadopsi dari RSUD Kabupaten Bekasi. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh gas inhalasi sevoflurane terhadap status hemodinamik paling banyak pada responden yang mengalami perubahan status hemodinamik pada TD sistolik dimenit ke-15, TD diastolik pada menit ke-5, MAP pada menit ke-5 dan Nadi pada menit ke-15. Kesimpulan : ada pengaruh gas inalasi sevoflurane terhadap status hemodinamik pada TD sistolik menit ke-15, TD diastolik pada menit ke-5, MAP pada menit ke-5 dan Nadi pada menit ke-15.

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kinerja Pegawai di Puskesmas Sirnajaya

Lyliana Endang Setianingsih; Nur Kholifah
2025 · Book · Open Access

Kinerja pegawai merupakan faktor penting dalam menentukan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas, di mana rendahnya kinerja dapat berdampak pada kepercayaan masyarakat dan pencapaian program kesehatan. Namun, di Puskesmas Sirnajaya masih ditemukan beberapa masalah seperti keterbatasan jumlah pegawai, kedisiplinan yang belum optimal, serta beban kerja yang tidak seimbang, sehingga dikhawatirkan dapat memengaruhi mutu pelayanan. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja pegawai di Puskesmas Sirnajaya. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional pada 41 responden (PNS dan PTT) yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner skala Likert dan data dianalisis dengan uji Chi-Square pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pegawai memiliki kinerja baik (75,6%), sikap positif (70,7%), motivasi tinggi (80,5%), serta kepemimpinan mendukung (82,9%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara sikap (p=0,047), motivasi (p=0,047), dan kepemimpinan (p=0,031) dengan kinerja pegawai, sedangkan kemampuan (p=0,059) tidak berhubungan secara signifikan. Disimpulkan bahwa kinerja pegawai lebih banyak berhubungan dengan faktor sikap, motivasi, dan kepemimpinan, sehingga diperlukan pembinaan berkelanjutan, kepemimpinan partisipatif, serta evaluasi untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.

Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Tingkat Kepatuhan Terhadap Gambaran Kualitas Hidup Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Cikarang Utara

Masita Sari Dewi; Nanda Damayanti
2025 · Book · Open Access

Latar Belakang: Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular yang berdampak signifikan terhadap kualitas hidup penderitanya. Pengetahuan dan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi berperan penting dalam proses penyembuhan dan peningkatan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan terhadap gambaran kualitas hidup pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Cikarang Utara. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari pasien TB paru rawat jalan yang memenuhi kriteria inklusi, diambil menggunakan metode purposive sampling selama periode Juni–Juli 2025. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan, Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) untuk kepatuhan, dan kuesioner Short-from-36 (SF-36) untuk kualitas hidup. Hasil: Analisis menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan baik, tingkat kepatuhan tinggi, dan kualitas hidup yang tinggi. Uji bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan (p = 0,519), tingkat pengetahuan dengan kualitas hidup (p = 0,468), maupun tingkat kepatuhan dengan kualitas hidup (p = 0,962). Kesimpulan: Bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan dan kepatuhan pasien, maka semakin baik kualitas hidup yang dimiliki. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam peningkatan edukasi dan strategi kepatuhan pasien guna memperbaiki outcome pengobatan tuberkulosis.

Evaluasi Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Pneumonia di Instalasi Rawat Inap RS Sentra Medika Cibinong Tahun 2024

Rosiana; Wulan Septiani
2025 · Book · Open Access

Latar Belakang: Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional berisiko meningkatkan resistensi antimikroba. Evaluasi rasionalitas dengan metode Gyssens diperlukan untuk memastikan ketepatan terapi. Tujuan: Mengetahui karakteristik pasien pneumonia, pola peresepan antibiotik, dan rasionalitas penggunaannya di Instalasi Rawat Inap RS Sentra Medika Cibinong tahun 2024. Metode: Penelitian deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medis 83 pasien pneumonia periode Januari–Desember 2024. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat dengan penilaian rasionalitas metode Gyssens berdasarkan Permenkes No. 28 Tahun 2021. Hasil: Mayoritas pasien berusia ≥60 tahun (41,0%) dan laki-laki (51,8%), Lama rawat inap terbanyak 1–7 hari (84,3%). Antibiotik yang paling banyak digunakan adalah ceftriaxone (57,9%) dan levofloxacin (20,0%). Rasionalitas kategori 0 (tepat) ditemukan pada (55,6%) peresepan, sedangkan (44,4%) tidak rasional, terutama kategori IVa ada antibiotik lebih efektif, (23,3%) dan IIIb durasi terlalu singkat, (10,0%). Kesimpulan: Rasionalitas penggunaan antibiotik masih perlu ditingkatkan, khususnya pemilihan jenis dan durasi terapi, melalui evaluasi berkala, clinical pathway, dan PPRA.

Hubungan Konsumsi Protein, Aktivitas Fisik dan Ketahanan Pangan Keluarga Dengan Kadar Hemoglobin Pada Remaja Putri

Nur Fauzia Asmi; Putri Nur Hidayah
2025 · Book · Open Access

Latar belakang : Hemoglobin berperan penting dalam transportasi oksigen ke seluruh tubuh. Penurunan kadar hemoglobin dapat mengakibatkan defisiensi oksigen pada jaringan, yang berpotensi menyebabkan anemia. Anemia ditandai dengan gejala seperti kelelahan, pusing, dan penurunan konsentrasi, dan merupakan masalah kesehatan yang harus diselesaikan, terutama di kalangan remaja putri. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi protein, tingkat aktivitas fisik, dan ketahanan pangan keluarga dengan kadar hemoglobin pada remaja putri. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode studi observasional analitik dengan desain cross-sectional. Populasi yang diteliti terdiri dari 516 siswi berusia 15–18 tahun di SMAN 3 Cikarang Utara, dengan 92 siswi terpilih sebagai sampel melalui teknik purposive sampling. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2025. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji chi-square. Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa 33 siswi (35,9%) mengalami anemia dari total 92 siswi yang menjadi sampel penelitian. Selain itu, ditemukan 45 siswi (48,9%) memiliki asupan protein yang kurang, 39 siswi (42,4%) melakukan aktivitas fisik berat, dan 37 siswi (40,2%) berada dalam kategori rawan pangan. Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi protein (p = 0,000), aktivitas fisik (p = 0,000), dan ketahanan pangan keluarga (p = 0,047) dengan kadar hemoglobin pada remaja putri. Saran : Disarankan agar instansi kesehatan melakukan pemeriksaan kadar hemoglobin secara rutin dan memberikan penyuluhan gizi secara berkala di sekolah-sekolah. Langkah ini penting untuk mendeteksi anemia secara dini serta meningkatkan pemahaman mengenai pola makan dan gaya hidup sehat.

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Praktik Pelaporan Efek Samping Obat Oleh Perawat di RS Sentra Medika Cikarang

Ike Maya Permanasari; Zahra Kurnia Putri
2025 · Book · Open Access

Latar Belakang dan Tujuan: Pelaporan efek samping obat merupakan bagian penting dalam menjaga keselamatan pasien di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik pelaporan efek samping obat oleh perawat di RS Sentra Medika Cikarang. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif. Sampel sebanyak 58 perawat ruang rawat inap RS Sentra Medika Cikarang dipilih dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, terdiri dari variabel pengetahuan, sikap, lingkungan, kebijakan, dan praktik pelaporan ESO. Analisis data menggunakan uji statistik Spearman untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil: Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara variabel pengetahuan (r=0,400; p=0,002), sikap (r=0,467; p=0,000), lingkungan (r=0,602; p=0,000), serta kebijakan (r=0,312; p=0,017) terhadap praktik pelaporan ESO. Saran: Peningkatan pelatihan dan sosialisasi kebijakan serta penciptaan lingkungan kerja yang mendukung diperlukan untuk meningkatkan kualitas pelaporan ESO guna menjaga keselamatan pasien.

Pengembangan Serbuk Liofilisasi Umbi Bit (Beta vulgaris L) Dengan Kombinasi Apel Hijau (Malus sylvestris Mill) Sebagai Antianemia

Cindy Junita Romli; Nuzul Gyanata Adiwisastra; Sindi Suryamin
2025 · Book · Open Access

Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan global yang ditandai oleh rendahnya kadar hemoglobin dalam darah. Penanganan anemia umumnya menggunakan suplementasi zat besi, namun konsumsi makanan fungsional seperti kombinasi serbuk umbi bit dan apel hijau juga berpotensi sebagai alternatif alami. Umbi bit kaya akan zat besi dan senyawa betasianin, sedangkan apel hijau mengandung vitamin C yang berperan meningkatkan penyerapan zat besi. Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan desain pretest-posttest control group design. Sebanyak 25 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) diinduksi anemia menggunakan phenylhidrazine 60 mg/KgBB lalu dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kontrol negatif, kelompok positif dan tiga kelompok perlakuan yang diberi kombinasi serbuk umbi bit dan apel hijau dengan dosis 200 mg/KgBB dengan konsentrasi masing-masing 10%, 15%, dan 20% selama 7 hari. Kadar hemoglobin diukur sebelum dan sesudah perlakuan menggunakan. Sampel dipilih berdasarkan kriteria inklusi yaitu tikus putih betina, sehat, berusia 2-3 bulan, berat badan 150-200 g. Hasil analisis data menggunakan one-way ANOVA. Hasil menunjukkan peningkatan kadar hemoglobin secara signifikan pada semua kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol negatif. Kombinasi serbuk pada konsentrasi 20% menunjukkan efek paling optimal dalam meningkatkan kadar hemoglobin, disusul konsentrasi 15% dan 10%. Kombinasi serbuk umbi bit mengandung kadar zat besi (Fe) 48,392 mg/20 g dan apel hijau mengandung persen kadar vitamin C sebanyak 61,4052 mg/10 g pada pola linier kuat (R² = 0,9674) yang efektif dalam meningkatkan kadar hemoglobin pada tikus anemia. Konsentrasi 20% merupakan dosis yang paling optimal dengan nilai P-Value < 0,05 yaitu 0,0081. Pemberian kombinasi serbuk umbi bit dengan apel hijau kepada tikus putih betina yang menderita anemia dinilai dapat meningkatkan kadar hemoglobin.

Imunomodulator Fraksi Biji Jintan Hitam (Nigella sativa L.) Terhadap Sel Limfosit T (CD4+ dan CD8+) dan Imunoglobulin G (IgG)

Deslia Putri Nurhakim; Felly Olivia Setya Putri; La Ode Muhammad Anwar; Nina Nurjanah; Salsa Billa Ananda; Zam Zam Zainatul Jannah
2025 · Book · Open Access

Latar belakang: Biji jintan hitam (Nigella sativa L.) merupakan tanaman herbal yang dikenal memiliki aktivitas sebagai imunomodulator, khususnya dalam meningkatkan fungsi sel imun dan produksi antibodi. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui perbedaan aktivitas fraksi etil asetat biji jintan hitam pada konsentrasi 10%, 15%, dan 20% terhadap sel limfosit T (CD4+ dan CD8+) serta kadar imunoglobulin G (IgG). Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain eksperimental dilakukan secara in vivo menggunakan 18 ekor tikus jantan yang dibagi 6 kelompok dengan 3 kelompok uji dan 3 kelompok kontrol. Analisis senyawa dilakukan dengan GC-MS, nilai sel limfosit T diukur dengan Flow Cytometry, sedangkan nilai imunoglobulin G (IgG) diukur menggunakan ELISA Reader. Hasil Penelitian: Menunjukkan bahwa fraksi etil asetat biji jintan hitam mengandung 79 senyawa metabolit. Nilai sel limfosit T (CD4+ dan CD8+) menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan, akan tetapi kelompok 3 fraksi etil asetat konsentrasi 20% memiliki aktivitas tertinggi dengan nilai sebesar 97,06%. Adapun nilai imunoglobulin G (IgG) menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan aktivitas tertinggi dan fraksi yang paling baik terdapat pada kelompok 3 fraksi etil asetat konsentrasi 20% sebesar 278,740 ng/mL. Saran: Pada penelitian selanjutnya diperlukan untuk uji toksisitas dilanjutkan dengan uji klinik untuk menilai efektivitas dan keamanan fraksi biji jintan hitam (Nigella sativa L.) sebagai imunomodulator.

Monitoring Evaluasi Efek Samping Obat Pada Pasien Hipertensi di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang

Ike Maya Permanasari; Mahesa
2025 · Book · Open Access

Pendahuluan: Hipertensi adalah penyakit kronis dengan prevalensi tinggi yang memerlukan terapi jangka panjang. Obat antihipertensi berisiko menimbulkan Efek Samping Obat (ESO) yang dapat memengaruhi kepatuhan dan kualitas terapi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi dugaan ESO pada pasien hipertensi di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang, meliputi obat penyebab, manifestasi, penanganan, riwayat, dan kesudahannya. Metode: Penelitian menggunakan desain non eksperimental deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Populasi penelitian adalah seluruh pasien hipertensi periode Januari–Desember 2024, dengan sampel sebanyak 20 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan dari rekam medis kemudian dianalisis secara deskriptif univariat untuk menggambarkan karakteristik pasien dan distribusi ESO. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan ESO paling banyak dikaitkan dengan Amlodipin (40%), diikuti Ramipril (15%), Spironolactone (15%), Lisinopril (10%), dan Captopril (10%). Manifestasi ESO yang sering muncul adalah pusing dan sakit kepala (35%), diikuti keluhan sesak napas, nyeri dada, batuk, dan reaksi kulit. Sebagian besar pasien (80%) tidak diberikan terapi tambahan untuk mengatasi ESO, sementara sebagian kecil memperoleh Paracetamol (15%) atau Ondansetron (5%). Riwayat ESO sebelumnya hanya ditemukan pada 20% pasien, dan seluruh kasus (100%) dinyatakan sembuh. Simpulan: Amlodipin merupakan obat yang paling sering dikaitkan dengan ESO pada pasien hipertensi di rumah sakit ini. Monitoring efek samping obat perlu ditingkatkan melalui pencatatan.

Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Tingkat Kepatuhan Terhadap Kualitas Hidup Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Cabang Bungin

Destie Elmi Mufidah; Masita Sari Dewi
2025 · Book · Open Access

Latar Belakang : Tuberkulosis disebut juga TB, merupakan penyakit yang menyerang paru-paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis sering terjadi akibat masukya bakteri ke dalam jaringan paru-paru melalui udara sehingga menimbulkan penyakit yang disebut tuberkulosis primer. Tujuan : Untuk mengetahui deskripsi hubungan tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan terhadap kualitas hidup pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Cabang Bungin. Metode : Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik observasional yang dilakukan secara cross-sectional dengan pengambilan data secara prospektif pada periode Juni-Juli tahun 2025 di Puskesmas Cabang Bungin. Hasil : penelitian berdasarkan hasil penelitian di Puskesmas Cabang Bungin, dari 52 responden yang bersedia berpartisipasi, paling banyak responden berjenis kelamin laki-laki (55,8%), usia palimg banyak antara 26-35 tahun (28,8%), paling banyak memiliki tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) (55,8%), responden paling banyak bekerja (73,1%), responden paling banyak yang telah memasuki fase lanjutan pengobatan (61,5%) dan responden paling banyak dalam kategori 1 (pasien baru) (86,5%). Berdasarkan hasil penelitian tingkat pengetahuan paling banyak yaitu 40 responden (76,9%) memiliki tingkat pengetahuan yang baik, sementara 5 responden (9,6%) memiliki tingkat pengetahuan yang cukup, dan 7 responden (13,5%) memiliki tingkat pengetahuan yang kurang. Berdasarkan hasil penelitian tingkat kepatuhan sebanyak 25 responden (48,1%), memiliki tingkat kepatuhan yang baik, 8 responden (15,4%) memiliki tingkat kepatuhan yang cukup, dan 19 responden (36,5%) menunjukkan tingkat kepatuhan yang kurang baik. Berdasarkan hasil penelitian di Puskesmas Cabang Bungin, dari 52 responden yang berpartisipasi, sebagian besar yaitu 46 responden (88,5%), memiliki tingkat kualitas hidup tinggi, 6 responden (11,5%) memiliki tingkat kualitas hidup rendah. Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian di Puskesmas Cabang Bungin, terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan dengan nilai p=0,048 (p<α). Sedangkan terdapat tidak adanya hubungan tingkat pengetahuan terhadap kualitas hidup dengan nilai p=0,255. Dan terdapat adanya hubungan antara tingkat kepatuhan terhadap kualitas hidup dengan nilai p=0,026.

Aktivitas Antibakteri Deodorant Spary Ekstrak Terpurifikasi Kombinasi Daun Jambu Air dan Daun Mangga Terhadap Staphylococcus Aureus dan Pseudomonas Aeruginosa

Isnawati; Salma Hilmy Rusydi Hashim
2025 · Book · Open Access

Keringat berlebih dapat menimbulkan masalah bau badan karena bercampur dengan metabolisme bakteri di kulit seperti Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Daun jambu air (Syzygium aqueum) dan daun mangga (Mangifera indica L.) mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, fenol, tanin dan saponin yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya penghambatan antibakteri pada ekstrak serta sediaan deodorant spray dengan kombinasi ekstrak terpurifikasi daun jambu air dan daun mangga pada perbandingan 1:1, 1:2, 2:1 dan formula sediaan deodorant spray dengan konsentrasi 5% (F1), 7,5% (F2), dan 10% (F3) melalui metode difusi cakram. Hasil penelitian menunjukan zona hambat ekstrak terhadap Staphylococcus aureus berurutan yaitu 8,24±0,09 mm, 12,34±0,12 mm, dan 10,31±0,06 mm dan pada Pseudomonas aeruginosa yaitu 7,25±0,15 mm, 8,36±0,13 mm, dan 7,36±1,00 mm. Zona hambat sediaan deodorant spray terhadap Staphylococcus aureus sebesar F1 10,32±0,09 mm, F2 11,64±0,10 mm, dan F3 13,70±0,09 mm, terhadap Pseudomonas aeruginosa yaitu F1 7,34±0,12 mm, F2 9,32±0,09 mm, dan F3 10,68±0,05 mm. Kesimpulan daya hambat ekstrak kombinasi terbaik pada 1:2 yaitu 8,36±0,13 dan 12,34±0,12 mm, dan deodorant spray pada formula F3 13,70±0,09 dan 10,68±0,05 dalam kategori kuat.

Hubungan Kejadian Hipotermi Dengan Nadi dan Tekanan Darah Pasca Operasi di Recovery Room RSUD Kabupaten Bekasi

Neng Imas Susanti; Rizma Anggraeni Deliana Putri; Stella Marie Degracia Igva
2025 · Book · Open Access

Periode pemulihan setelah operasi dikenal sebagai waktu dengan resiko tinggi untuk terjadinya komplikasi di recovery room. Hipotermi adalah komplikasi pasca anestesi yang sering ditemukan di ruang recovery room, baik general anestesi maupun spinal anestesi. Hipotermi pasca operasi memiliki dampak signifikan pada hemodinamik, terutama terkait perubahan tekanan darah dan respons kardiovaskular pasien. Tujuan: Mengetahui hubungan kejadian hipotermi dengan nadi dan tekanan darah pasca operasi di recovery room RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan kuantitatif non exsperimental dengan metode korelasi dan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling melibatkan 50 responden. Data dianalisis menggunakan spearman rank. Instrument penelitian berupa pendekatan studi observational analytic dengan pendekatan (cross sectional). Hasil: Berdasarkan klasifikasi ASA kategori ASA II 38 orang (76%), berdasarkan lama operasi sebagian besar responden menjalankan operasi dengan durasi sedang 1-3 jam sebanyak 44 orang (88%), berdasarkan suhu ruangan kamar operasi sebagian besar responden menjalani operasi dengan suhu ruangan normal 18-24 18-24°C yaitu 36 orang (72%), berdasarkan jenis anestesi sebagian besar responden menjalani pembedahan dengan General anestesi yaitu dilakukan sebanyak 33orang (66%), berdasarkan jenis kelamin sebagian besar responden adalah berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 32 orang (64%), brdasarkan sebagian besar usia responden dewasa awal sebanyak 12 orang (24%). Pada uji statistic spearman rank diperoleh nilai Signifikansi 0.000. Kesimpulan: Ada hubungan kejadian hipotermi dengan nadi dan tekanan darah di recovery room pasca operasi RSUD Kabupaten Bekasi.