Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Koleksi Perpustakaan

Koleksi otomatis dari Perpustakaan

10.661 item publik

Publikasi

Halaman 80 dari 534

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Antenatal Care Pada Ibu Hamil di Puskesmas Kalangsari Karawang Tahun 2025

Devi Laila Putri; Ida Widaningsih
2025 · Book · Open Access

Pada dasarnya, semua kehamilan memiliki risiko. Ibu hamil yang tidak menjalani Antenatal Care (ANC) secara teratur, dapat mengakibatkan masalah seperti tidak terpantau dengan baiknya kondisi ibu dan janin, meningkatnya risiko komplikasi kehamilan karena lambatnya akses ke pelayanan kesehatan saat ada tanda bahaya kehamilan, dan kurangnya persiapan untuk proses kehamilan. Untuk menghindari terjadinya angka kematian ibu termasuk resiko tinggi akan kejadian pre eklamsia pada ibu hamil maka diwajibkan melakukan pemeriksaan Antenatal Care (ANC) yang baik dan teratur. Untuk mengetahui faktor-faktor apa aja yang berhubungan dengan kepatuhan antenatal care pada ibu hamil di Puskesmas Kalangsari Karawang tahun 2025. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini menggunakan data sekunder pada pasien ibu hamil di Puskesmas Kalangsari sebanyak 177 responden. Dimana peneliti menentukan ukuran sampel dengan metode purposive random sampling. menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan faktor-faktor apa aja yang berhubungan dengan kepatuhan antenatal care pada ibu hamil di Puskesmas Kalangsari Karawang tahun 2025 yaitu usia, pendidikan, paritas, dukungan suami, dan dukungan tenaga kesehatan. Teridentifikasi distribusi frekuensi pada ibu hamil dalam melakukan antenatal care di Puskesmas Kalangsari Tahun 2025, dimana sebagian besar memiliki usia 26-35 tahun sebanyak 59,9%, pendidikan menengah sebanyak 72,9%, paritas multipara sebanyak 59,9%, dukungan suami yang tinggi sebanyak 65,0%, serta memiliki dukungan tenanga kesehatan yang tinggi sebanyak 66,1%. Didapatkan p-value < 0,05 dengan urutan (0,001, 0,002, 0,005, 0,000, 0,000). Untuk meningkatkan kepatuhan ibu hamil dalam melakukan ANC maka perlu adanya dukungan suami, pendidikan yang tinggi, serta dukungan tenaga kesehatan yang baik.

Pengaruh Jus Kurma Dalam Meningkatkan Kadar Hemoglobin Pada Ibu Hamil Dengan Anemia di Puskesmas Kalangsari Karawang 2025

Della Mutiara; Ida Widaningsih
2025 · Book · Open Access

Latar Belakang : Anemia pada kehamilan merupakan masalah kesehatan yang umum di Indonesia dan menjadi faktor risiko berbagai komplikasi, seperti persalinan prematur, berat badan lahir rendah, hingga kematian ibu. Kekurangan hemoglobin pada ibu hamil dapat dipengaruhi oleh asupan gizi yang kurang, kondisi fisiologis, dan faktor sosial ekonomi. Salah satu intervensi non-farmakologis yang potensial adalah konsumsi jus kurma, karena kandungannya kaya zat besi, vitamin C, dan asam folat yang berperan dalam pembentukan hemoglobin dan sel darah merah.Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian jus kurma terhadap kadar hemoglobin pada ibu hamil dengan anemia di Puskesmas Kalangsari Karawang tahun 2025. Subyek dan Metode: Penelitian menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel terdiri dari 30 ibu hamil anemia yang diambil dengan teknik purposive sampling. Kadar hemoglobin diukur sebelum dan sesudah pemberian jus kurma selama 7 hari berturut-turut. Uji normalitas dilakukan dengan Shapiro-Wilk, sedangkan analisis perbedaan rata-rata menggunakan paired sample t-test dengan taraf signifikansi 0,05 Hasil : Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar hemoglobin sebelum intervensi adalah 8,87 g/dL dan meningkat menjadi 10,13 g/dL setelah intervensi. Hasil uji paired sample t-test menghasilkan p = 0,000 (<0,05), menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kadar hemoglobin sebelum dan sesudah konsumsi jus kurma. Kesimpulannya: jus kurma efektif meningkatkan kadar hemoglobin pada ibu hamil dengan anemia. Disarankan tenaga kesehatan mempertimbangkan jus kurma sebagai intervensi tambahan dalam program penanggulangan anemia, sedangkan penelitian lanjutan diharapkan melibatkan jumlah sampel lebih besar, durasi intervensi lebih panjang, serta mempertimbangkan variabel lain seperti pola makan dan aktivitas fisik.

Pengaruh Konsumsi Telur Ayam Ras Rebus Terhadap Peningkatan Berat Badan Ibu Hamil Dengan KEK di Wilayah Kerja Puskesmas Cipayung Kecamatan Cikarang Timur Kabupaten Bekasi Tahun 2025

Rohani Siregar; Syifa Salsabila
2025 · Book · Open Access

Latar Belakang : Kekurangan energi kronis (KEK) pada wanita hamil adalah isu kesehatan yang sangat penting di Indonesia. Angka prevalensinya mencapai 16,9% pada tahun 2023, dengan sebagian besar kejadian terjadi di Kabupaten Bekasi. KEK dapat menambah kemungkinan terjadinya komplikasi selama kehamilan, termasuk bayi yang lahir dengan berat badan rendah. Salah satu solusi untuk menangani KEK adalah melalui program gizi seperti pemberian makanan tambahan (PMT). Telur ayam yang direbus adalah sumber protein hewani yang kaya akan nutrisi dan dapat membantu meningkatkan berat badan ibu hamil yang mengalami KEK. Tujuan : Menganalisa pengaruh konsumsi telur ayam rebus terhadap peningkatan berat badan pada ibu hamil dengan KEK yang tinggal di Puskesmas Cipayung. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan studi quasi eksperimen One grup pre-post test Sampel terdiri dari 30 wanita hamil yang mengalami KEK, yang dipilih dengan metode purposive sampling. Intervensi dilakukan dengan memberikan tiga butir telur ayam rebus setiap hari selama 14 hari. Data dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji-t berpasangan. Hasil : Sebelum dilakukan intervensi, rata-rata berat badan wanita hamil tercatat 46,28 kg. Setelah mengonsumsi telur ayam rebus selama 14 hari, berat badan rata-rata meningkat menjadi 47,33 kg. Uji tersebut menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya pengaruh signifikan konsumsi telur ayam rebus terhadap pertambahan berat badan pada ibu hamil dengan KEK. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan pengaruh positif protein hewani dari telur terhadap status gizi ibu hamil. Kesimpulan : Konsumsi telur ayam rebus dapat meningkatkan berat badan secara signifikan pada perempuan hamil dengan kekurangan energi kronik di Puskesmas Cipayung. Tindakan ini menjadi pilihan yang efisien dan hemat biaya untuk memperbaiki status gizi ibu, mendukung perkembangan janin, dan mengurangi risiko komplikasi selama kehamilan.

Pengaruh Terapi Tui Na Terhadap Perubahan Kembung di Ulu Hati (Epigastrium) Akibat Sindrom Stagnasi Q1 Hati

Aryaprana Nanda; Herman
2025 · Book · Open Access

Latar Belakang: Kembung merupakan suatu kondisi medis yang ditandai dengan adanya perasaan penuh, rasa tekanan, atau rasa tidak nyaman di perut yang bisa dikarenakan penumpukan gas dalam saluran pencernaan. Data dari World Gastroenterology Organisation (WGO) menunjukkan bahwa sekitar 16-30% populasi dunia mengalami gejala kembung secara teratur. Di Indonesia, survei kesehatan rumah tangga yang dilakukan pada tahun 2022 mencatat bahwa 20% responden mengeluhkan gejala kembung setidaknya satu kali dalam sebulan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi Tui Na terhadap perubahan Kembung Di Ulu Hati (Epigastrium) Akibat Sindrom Stagnasi Qi Hati. Metode: Penelitian menggunakan kuasi-eksperimen dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan mei-juni 2025 di Living Clinic, Kota Medan, Sumatera Utara. Sampel berusia 20-60 tahun dengan terapi Tui Na 3 kali seminggu dengan jeda sehari selama 2 minggu. Tingkat kembung di ulu hati akan dievaluasi sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: Berdasarkan uji analisis data menggunakan uji Wilcoxon didapatkan nilai p value adalah 0,000. Karena nilai p-value < 0,05, maka Ha diterima dan H0 ditolak, sehingga kesimpulannya adalah ada pengaruh terapi Tui Na terhadap perubahan kembung di ulu hati (epigastrium) akibat sindrom stagnasi qi hati. Kesimpulan: Terapi Tui Na memberikan pengaruh terhadap kadar Kembung di Ulu Hati (Epigastrium) Akibat Sindrom Stagnasi Qi Hati Di Living Clinic.

Pengaruh Pemberian Temulawak (Shu Gu Jiang Huang) Terhadap Nyeri Lambung Dengan Sindrom Panas Lambung di LKP Duan Mas

Marjati Tjuatja; Muslihatin Khuril Rosyida
2025 · Book · Open Access

Latar Belakang: Gangguan lambung dengan sindrom panas lambung merupakan keluhan pencernaan yang umum dijumpai dalam praktik klinis (World Gastroenterology Organization, 2021). Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) mengandung senyawa aktif seperti kurkuminoid, xanthorrhizol, dan seskuiterpen yang memiliki sifat antiinflamasi, gastroprotektif, antimikroba, dan analgesik (Ariyani et al., 2020; Riswanti et al., 2021). Metode: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Temulawak (Shu Gu Jiang Huang) terhadap nyeri lambung dengan sindrom panas lambung. Penelitian menggunakan desain pra-eksperimen dengan pendekatan one-group pre-test post-test (Sugiyono, 2021). Sebanyak 30 pasien di LKP Daun Mas dipilih menggunakan teknik simple random sampling (Sugiyono, 2020). Intensitas nyeri diukur menggunakan Visual Analogue Scale (VAS) (Notoatmodjo, 2020) sebelum dan sesudah intervensi. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan nyeri yang signifikan (p = 0.000), dari sebagian besar kasus nyeri sedang sebelum intervensi (63,3%) menjadi nyeri ringan setelah intervensi (93,3%). Temuan ini menunjukkan bahwa Shu Gu Jiang Huang efektif dalam mengurangi nyeri lambung yang berhubungan dengan sindrom panas lambung. Kesimpulan: Shu Gu Jiang Huang terbukti secara signifikan efektif dalam meredakan nyeri lambung pada pasien dengan sindrom panas lambung, sehingga mendukung penggunaannya sebagai bagian dari terapi integratif dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok.

Pengaruh Akupunktur Terhadap Penurunan Rasa Cemas Pada Penderita Fobia Gelap (Nyctophobia) Dengan Berbagai Sindrom

Aryaprana Nanda; Valdi Haris
2025 · Book · Open Access

Latar Belakang: Manusia secara alami membutuhkan rasa aman, namun ketakutan berlebihan seperti Nyctophobia (fobia gelap) dapat mengganggu keseimbangan fisik dan emosional. Data dari NP Istanbul Hospital (2023) menunjukkan 11% populasi global mengalami nyctophobia, yang berdampak pada aktivitas sehari-hari dan kualitas hidup melalui respons cemas irasional terhadap kegelapan. Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT), nyctophobia dikaitkan dengan ketidakseimbangan energi vital (Qi), terutama pada sistem Limpa dan Hati, memicu gejala kecemasan, kelelahan, dan gangguan pencernaan. Akupunktur telah terbukti efektif mengurangi kecemasan, seperti pada studi Boucher et al. (2011) dan Luo et al. (2021). Namun, penelitian tentang akupunktur untuk nyctophobia, khususnya yang mempertimbangkan variasi pola ketidakseimbangan PTT, masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh akupunktur pada nyctophobia dan menganalisis respons terapi berdasarkan pola ketidakseimbangan PTT. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap penurunan rasa cemas pada penderita nyctophobia (fobia gelap) dengan berbagai sindrom. Tujuan khusus meliputi mendeskripsikan karakteristik usia, jenis kelamin, dan sindrom subjek penelitian; mendeskripsikan tingkat kecemasan sebelum dan setelah terapi akupunktur; serta menganalisis perbedaan tingkat kecemasan pada penderita nyctophobia sebelum dan setelah menjalani terapi akupunktur. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain kuasi-eksperimen (one group pre-test post-test design). Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah 7 orang subjek penelitian. Lokasi penelitian dilakukan di Klinik Akupunktur PMA, Kota DKI Jakarta, Jawa Barat, pada bulan Mei-Juni 2025. Intervensi berupa terapi akupunktur dilakukan sebanyak tujuh kali setiap hari selama 1 minggu. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian angket Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) sebelum dan sesudah intervensi, serta wawancara singkat setelah pengisian HARS tiap sesi dan wawancara mendalam pada sesi terakhir. Hasil: Diperoleh data dari 7 subjek penelitian, menunjukkan 5 subjek (71%) mengalami penurunan kecemasan dari rentang sedang ke tidak ada kecemasan, 1 subjek (14%) dari sedang ke ringan, dan 1 subjek (14%) dari berat ke sedang, mengindikasikan penurunan tingkat kecemasan setelah intervensi akupunktur. Kesimpulan: Terapi akupunktur memberikan pengaruh terhadap penurunan rasa cemas pada penderita fobia gelap (Nyctophobia) dengan berbagai sindrom.

Pengaruh Pemberian Rebusan Jahe Gula Merah Terhadap Penurunan Tingkat Nyeri Dismenore Premier Dengan Sindrom Defisiensi Yang

Aryaprana Nanda; Erna Setiyawati
2025 · Book · Open Access

Latar Belakang: Nyeri menstruasi (dismenore) dialami oleh sekitar 45–95% perempuan usia produktif di Indonesia dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Dismenore merupakan keluhan ginekologi yang muncul akibat adanya ketidakseimbangan hormon progesterone di dalam darah, sehingga menyebabkan timbulnya rasa nyeri. Dalam perspektif Pengobatan Tradisional Tiongkok, dismenore disebut dengan tongjing. Dismenore diantaranya diakibatkan oleh sindrom defisiensi yang. Pemberian rebusan jahe gula merah memiliki efek antiinflamasi dan analgesik alami untuk mengatasi nyeri haid dingin karena sifat menghangatkan yang sesuai dengan prinsip pengobatan sindrom defisiensi yang. Tujuan: Mengetahui pengaruh rebusan jahe dan gula merah terhadap penurunan nyeri dismenore primer pada remaja dengan sindrom defisiensi yang. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain pretest-posttest satu kelompok tanpa kontrol. Sampel sebanyak 20 remaja berusia 10–18 tahun diberi rebusan jahe dan gula merah tiga kali sehari selama dua hari. Lokasi penelitian di Ponpes Mitshaqul Ummah, Kabupaten Cianjur. Hasil: Berdasarkan hasil uji Paired Sample T-Test, skor nyeri menurun dari rata-rata 4,10 menjadi 1,75 setelah intervensi. Nilai t hitung = 14,104 dengan derajat kebebasan (df) sebesar 19, dan nilai signifikansi (p-value) < 0,001 yang berarti bahwa terdapat perbedaan signifikan secara statistik antara sebelum dan sesudah intervensi. Data ini didukung hasil kuesioner gejala konstitusi fisik sindrom defisiensi yang. Penurunan yang sangat signifikan sebesar 50% dalam tujuh indikator utama dalam perspektif Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT). Kesimpulan: Rebusan jahe dan gula merah memiliki pengaruh signifikan terhadap penurunan Tingkat nyeri dismenore primer. Penurunan nyeri disertai dengan penurunan gejala-gejala khas defisiensi yang secara konsisten pada seluruh responden. Efektivitas ini juga sejalan dengan prinsip Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT) yang menekankan pentingnya menghangatkan tubuh, memperkuat energi yang untuk mengatasi nyeri.

Pengaruh Terapi Formulasi Tianma Gouteng Yin Pada Penderita Vertigo Dengan Sindrom Hiperaktivitas Yang Hati

Hari Iskandar Kang; Heriyanto
2025 · Book · Open Access

Latar Belakang: Menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2019 vertigo umumnya diderita oleh pasien berumur 18-79 tahun sebesar 7,4% di seluruh dunia, sedangkan menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2023 prevalensi penderita vertigo di Indonesia sangat tinggi dan juga merupakan keluhan nomor tiga paling sering dikeluhkan pada saat datang ke rumah sakit. Prevalensi penderita vertigo di Indonesia termasuk penyakit yang memiliki prevalensi sebesar 50% pada usia 40- 50 tahun (Kemenkes, 2022). Hal ini diperkuat dengan survei awal pendahuluan yang dilakukan di Pusat Kesehatan Divine Nature menunjukkan bahwa vertigo merupakan penyakit dengan penderita terbanyak pada tahun 2024 dimana mencapai rata rata 500 penderita per 3 bulannya. Dimana sindrom hiperaktivitas Yang hati merupakan yang tertinggi dengan mencapai 300 penderita per 3 bulannya. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Mengetahui pengaruh terapi formulasi Tianma gouteng yin pada penderita vertigo dengan sindrom hiperaktivitas Yang hati. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre- eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 50 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Pusat Kesehatan Divine Nature, Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Sampel berusia 40-50 tahun dengan terapi formulasi Tianma gouteng yin sehari 2 kali sebanyak 2gram per kali konsumsi selama 1 minggu dan dilakukan pengukuran menggunakan kuesioner VSS – SF sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: vertigo dapat diderita oleh laki laki maupun Perempuan, namun pada penelitian ini didapatkan jumlah penderita vertigo laki laki lebih sedikit daripada Perempuan. Sedangkan rata rata penderita vertigo di penelitian ini berusia 45 tahun. Dengan responden terbanyak yakni berusia 50 tahun. Rata-rata skor VSS – SF sebelum terapi yaitu 10,6 dan rata-rata skor VSS - SF setelah terapi adalah 2,96 yang memiliki arti terapi formulasi Tianma Gouteng yin memberikan pengaruh terjadinya penurunan skor VSS – SF. Hasil asymp sig adalah 0,000 yang memiliki arti lebih kecil dari α 0,05, maka Ho ditolak dan HA diterima yang memiliki arti bahwa intervensi pemberian terapi formulasi Tianma Gouteng Yin berpengaruh signifikan terhadap penurunan skor VSS – SF. Hasil uji Effect Size yang didapatkan bahwa nilai r adalah -0,869 yang dimana mendekati -1 yang memiliki arti menunjukan efek yang kuat atau besar. Kesimpulan: pengaruh terapi formulasi tianma gouteng yin pada penderita vertigo dengan sindrom hiperaktifitas yang hati memiliki pengaruh signifikan kuat.

Pengaruh Terapi Akupuntur Terhadap Nyeri Epigastrium Pada Penderita Gerd Sindrom Disharmoni Hati dan Lambung

Akhmad Rofiqi; Aryaprana Nanda
2025 · Book · Open Access

Latar Belakang : Pada era modern ini kejadian Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) atau penyakit refluks asam lambung terus meningkat. Prevalensi GERD di dunia sebesar 8-33%. Prevalensi GERD di Indonesia bervariasi berada disekitaran 9,35%. Studi pada kelompok penderita dispesia yang melakukan pemeriksaan endoskopi menunjukan peningkatan prevalensi GERD 53%. GERD merupakan kondisi di mana asam lambung secara berulang naik ke esofagus, sehingga memunculkan gejala seperti rasa terbakar di dada (heartburn), regurgitasi, dan nyeri uluhati. Kondisi ini bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti stres dan pola makan. Tujuan : Penelitan ini bertujuan untunk mengetahui pengaruh terapi akupuntur terhadap nyeri epigastrium pada penderita GERD sindrom disharmoni hati dan lambung. Metode : Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain eksperimen semu. Peneliti menggunakan Desain pre-test dan post-test serta intervensi tanpa terdapat kelompok pembanding dan efektiitas perlakuan diukur dengan membandingkan hasil post-test dengan pre-test. penelitian ini dilaksanakan sejak Mei 2025 hingga Juni 2025 dengan partisipan dengan keluhan nyeri epigastrium pada penderita sindrom disharmoni hati dan lambung di klinik P, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Intervensi terapi dengan penusukan jarum akupuntur selama 6 hari berturut-turut. Hasil : Rata-rata usia partisipan 33,8 tahun. Dengan status yang bekerja mayoritas sebanyak 23 orang, sedangkan yang tidak bekerja sebanyak 2 orang. Rata-rata skor skala nyeri sebelum terapi sebesar 7,96 dan rata-rata skor skala nyeri setelah terapi sebesar 2,2. Hasil uji Wilcoxon menunjukan p value 0,000 yang berarti lebih kecil dari 0,05. Uji ukuran dampak dengan r sebesar -0,887 sehingga lebih mendekati -1 memeliki makna efek yang kuat. Kesimpulan : Pengaruh terapi akupuntur terhadap nyeri epigastrium pada penderita GERD sindrom disharmoni hati dan lambung menunjukan efek yang besar.

Pengaruh Terapi Akupunktur Terhadap Kualitas Hidup Penderita Pasca Stroke

Hari Iskandar Kang; Ony Susita
2025 · Book · Open Access

Latar Belakang: Stroke merupakan salah satu penyebab utama disabilitas jangka panjang yang berdampak besar terhadap kualitas hidup penderitanya. Terapi akupunktur, sebagai bagian dari pengobatan tradisional Tiongkok, telah digunakan secara luas sebagai terapi komplementer dalam rehabilitasi pasca stroke. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meninjau secara sistematis literatur ilmiah mengenai pengaruh terapi akupunktur terhadap kualitas hidup pasien pasca stroke. Metode: Studi ini menggunakan metode literatur review terhadap 15 jurnal nasional dan internasional yang dipublikasikan antara tahun 2015 hingga 2024. Data dikumpulkan dari berbagai basis data online seperti National Center of Biotechnology Information (NCBI), Frointiers in Neurology, Google Scholar, dan Garuda Ristekbrin. Hasil: Mayoritas studi menunjukkan bahwa akupunktur memberikan dampak positif terhadap aspek fisik, psikologis, dan sosial pasien pasca stroke. Terapi ini terbukti efektif dalam meningkatkan fungsi motorik, mengurangi nyeri, memperbaiki kualitas tidur, dan menurunkan kelelahan serta depresi. Kesimpulan: Akupunktur merupakan terapi komplementer yang efektif dan aman untuk meningkatkan kualitas hidup penderita pasca stroke, terutama bila dikombinasikan dengan rehabilitasi konvensional.

Pengaruh Konsumsi Ziziphus Jujuba Terhadap Kelelahan Akut Pada Remaja Dengan Sindrom Defisiensi Q1 di Ponpes Mitsaqul Ummah

Aryaprana Nanda; Embang Supangkat
2025 · Book · Open Access

Kelelahan akut pada remaja merupakan permasalahan yang kian meningkat, terutama pada lingkungan berasrama seperti pondok pesantren yang memiliki aktivitas padat. Dalam perspektif Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT), kondisi ini banyak dikaitkan dengan sindrom defisiensi Qi, yakni ketidakseimbangan energi vital tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi secara objektif pengaruh konsumsi Ziziphus jujuba terhadap tingkat kelelahan akut pada remaja dengan sindrom defisiensi Qi di Pondok Pesantren Mitsaqul Ummah, Cianjur. Tujuan lainnya yaitu mengetahui perubahan tingkat kelelahan sebelum dan sesudah intervensi serta mengukur efektivitas Zizipus jujuba dalam menurunkan gejala kelelahan dalam konteks kehidupan pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi experimental tipe one group pre-post test. Subjek penelitian berjumlah 20 remaja yang memenuhi kriteria sindrom defisiensi Qi. Intervensi berupa konsumsi Zizipus jujuba dalam bentuk seduhan sebanyak tiga kali sehari sebelum makan selama enam hari berturut-turut. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner skala konstitusi tubuh TCM. Teknik analisis data meliputi uji statistik deskriptif, uji normalitas (Shapiro-Wilk), uji homogenitas (Levene), serta uji hipotesis menggunakan paired sample t-test dan Wilcoxon Signed Rank Test untuk membandingkan tingkat kelelahan sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan yang signifikan pada tingkat kelelahan setelah intervensi konsumsi Zizipus jujuba. Berdasarkan uji paired t-test, terdapat perbedaan yang bermakna antara skor pre-test dan post-test (p < 0.05), yang didukung pula oleh hasil uji Wilcoxon. Temuan ini menyimpulkan bahwa konsumsi Ziziphus jujuba efektif dalam mengurangi kelelahan akut pada remaja dengan sindrom defisiensi Qi. Oleh karena itu, Zizipus jujuba dapat dijadikan sebagai alternatif terapi herbal berbasis bukti yang aman, alami, dan sesuai dengan pendekatan PTT dalam konteks pendidikan berasrama.

Efektivitas Kencur dan Kunyit Untuk Mengurangi Batuk Dengan Sindrom Dahak Lembab Pada Anak Secara TCM

Muslihatin Khuril Rosyida; Widaya Imam Sukarno
2025 · Book · Open Access

Latar Belakang: Batuk persisten dengan dahak lembab merupakan masalah kesehatan umum di daerah tropis seperti Indonesia, terkait faktor lingkungan dan infeksi saluran napas. Dalam pengobatan Tiongkok, kondisi ini dikenal sebagai sindrom dahak lembab, ditandai batuk berulang, produksi dahak berlebihan, nafsu makan menurun, serta lidah pucat/normal dengan lapisan putih. Penelitian ini mengevaluasi keamanan dan efektivitas kombinasi herbal Kencur dan Kunyit pada anak-anak dengan sindrom tersebut. Tujuan: Mengetahui efektivitas kombinasi herbal Kencur dan Kunyit dalam mengurangi gejala batuk sindrom dahak lembab pada anak usia 2–17 tahun. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan desain one group pretest-posttest melibatkan 22 anak usia 2-17 tahun yang dipilih secara purposif. Studi dilakukan di Klinik Griya Sehat Alami, Bekasi selama Maret-Juni 2025. Responden menerima terapi kombinasi Kencur (1-3g/hari) dan Kunyit (1-3g/hari) disesuaikan usia selama 7 hari. Evaluasi gejala sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi herbal ini berhasil meredakan gejala batuk, menurunkan frekuensi batuk, dan meningkatkan nafsu makan, tanpa laporan efek samping serius. Temuan ini menawarkan terapi yang aman dan efektif untuk batuk pada anak dengan sindrom dahak lembab. Kesimpulan: Hasil penelitian membuktikan ramuan Kencur dan Kunyit dengan takaran tepat bisa mengatasi batuk lembab dahak pada anak. Ramuan ini aman digunakan dan bisa menjadi pilihan pengobatan alami. Temuan ini memberikan solusi praktis untuk mengobati batuk berlendir pada anak dengan bahan alami yang minim efek samping.

Pengaruh Terapi Akunpuktur Terhadap Fungsi Gerak Pada Pasien Stroke Dengan Sindrom Hiperaktif Yang Hati

Clarisa Margareta Chandra; Muslihatin Khuril Rosyida
2025 · Book · Open Access

Latar Belakang: Stroke merupakan kondisi medis yang disebabkan oleh gangguan aliran darah ke otak, yang dapat mengakibatkan kerusakan permanen pada jaringan otak dan gangguan fungsi tubuh, terutama fungsi gerak. Stroke dapat menyebabkan kelumpuhan atau gangguan motorik pada satu sisi tubuh (hemiparesis), kesulitan berbicara, dan penurunan kemampuan sensorik. Gangguan motorik yang terjadi setelah stroke adalah salah satu penyebab utama kecacatan pada pasien stroke dan memerlukan penanganan rehabilitasi untuk memperbaiki kualitas hidup pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Terapi Akupunktur terhadap fungsi gerak pada pasien stroke dengan sindrom Hiperaktif Yang Hati. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan Quasi experimental design atau desain eksperimen semu, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 responden penelitian dari bulan maret-juni 2025 di , Kota Bekasi, Jawa Barat. Sampel berusia 41-75 tahun dengan terapi Akupunktur secara teratur 2 kali seminggu selama 8 kali. Hasil: Subjek penelitian ini terbanyak berada pada usia 46-50 tahun (4 responden = 20%) dan 66-70 tahun (4 responden = 20%), dan terendah pada usia 71-75 tahun (1 responden = 5 %). Distribusi frekuensi dari keseluruhan 20 responden penelitian menunjukkan bahwa skala gerak dari pasien sebelum diberikan perlakuan paling banyak pada skala 2 dengan persentase 55% (11 responden), lalu distribusi frekuensi skala gerak pada pasien stroke setelah diberikan perlakuan adalah paling banyak pada skala 4 dengan persentase sebesar 40% (8 responden) Kenaikan perubahan skala gerak pada pasien stroke sebelum dan setelah diberikan perlakuan mengalami kenaikan paling banyak pada skala angka 2 dengan persentase sebesar 45% (9 responden). Hasil dari uji normalitas dengan shapiro-wilk mendapatkan nilai pre-test 0,001 dan nilai post-test 0,001 berarti nilai signifikansi nilai <0.05, sehingga data diatas tidak berdistribusi normal. Oleh karena itu selanjutnya dilakukan uji Wilcoxon . Hasil Uji Wilcoxon didapat hasil berupa nilai Z dari data skala gerak pada pasien stroke yang diberi perlakuan akupunktur memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000 atau +0,001, yang artinya bahwa terdapat pengaruh pemberian perlakuan akupunktur terhadap perubahan skala gerak pada pasien stroke. Kesimpulan: Terapi Akupunktur memberikan pengaruh terhadap perubahan fungsi skala gerak pada pasien stroke dengan sindrom Hiperaktif Yang hati, dengan rata-rata skala gerak sebelum intervensi pada skala 2 dan skala gerak rata-rata setelah intervensi pada skala 4, maka terdapat perbedaan kenaikan skala perubahan sebesar skala 2 setelah diberikan intervensi.

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Perilaku Wanita Usia Subur Dalam Melakukan Pemeriksaan IVA Tes di Desa Sukamanah Wilayah Kerja Puskesmas Sukatani

Rohani Siregar; Yohana Puspitarani
2025 · Book · Open Access

Kanker serviks merupakan salah satu penyebab utama kematian pada wanita, yang umumnya disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV). IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) merupakan metode deteksi dini yang efektif untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas akibat kanker serviks. Namun, cakupan pemeriksaan IVA di Indonesia masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku wanita usia reproduksi (WUS) dalam melakukan tes IVA di Desa Sukamanah, Kecamatan Sukatani. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang dan melibatkan 82 WUS melalui consecutive sampling. Variabel independen meliputi pendidikan, pengetahuan, sikap, sumber informasi, dan dukungan suami. Hasil menunjukkan bahwa 61% responden belum pernah melakukan tes IVA. Terdapat hubungan signifikan antara perilaku tes IVA dengan pengetahuan (p=0,003), sikap (p=0,021; OR=3,3), dan dukungan suami (p=0,003; OR=5,087). Pendidikan dan sumber informasi tidak berhubungan secara signifikan.

Hubungan Kepatuhan Terhadap Terapi Antihipertensi Dengan Risiko Kardiovaskular Pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Telaga Murni - Cikarang

Destya Antarini; Marselina
2025 · Book · Open Access

Latar Belakang: Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular yang prevalensinya terus meningkat. Kepatuhan terhadap terapi antihipertensi sangat penting untuk mencegah komplikasi. Tujuan: Mengetahui hubungan antara kepatuhan terapi antihipertensi dengan risiko kardiovaskular pada pasien hipertensi. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional pada 85 pasien hipertensi di Puskesmas Telaga Murni. Instrumen yang digunakan yaitu MARS-5 dan MPR untuk menilai kepatuhan, serta ASCVD Risk Estimator untuk menilai risiko kardiovaskular. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square. Hasil: Mayoritas responden memiliki kepatuhan baik (MARS-5: 91,8%; MPR: 75,3%) dan risiko ASCVD rendah (52,9%). Uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara kepatuhan MPR dan risiko ASCVD (p=0,049), sedangkan kepatuhan MARS-5 juga menunjukkan nilai p=0,041. Namun, pada kedua pengukuran tidak ditemukan pola hubungan linier antara tingkat kepatuhan dan kategori risiko ASCVD. Kesimpulan: Kepatuhan pasien terhadap terapi antihipertensi belum terbukti berhubungan secara signifikan dengan risiko kardiovaskular. Diperlukan edukasi dan pemantauan berkala untuk menurunkan risiko secara menyeluruh.

Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Kepatuhan Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Mekarmukti Kecamatan Cikarang Utara

Evellia Priastuti; Masita Sari Dewi
2025 · Book · Open Access

Latar Belakang : Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu tantangan utama dalam bidang kesehatan masyarakat baik secara global maupun nasional, dan menjadi indikator penting dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Indonesia menempati posisi kedua terbanyak di dunia dalam jumlah kasus TBC setelah India, dengan estimasi 10,6 juta kasus secara global pada tahun 2022. Meskipun terdapat peningkatan pelaporan kasus selama pandemi COVID-19, tingkat keberhasilan pengobatan nasional pada tahun 2023 masih berada di angka 86,5%, di bawah target 90%. Provinsi Jawa Barat menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak, termasuk Kabupaten Bekasi yang mencatat 13.515 kasus hingga Februari 2024, dan Kecamatan Cikarang Utara menjadi salah satu wilayah dengan kasus tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan pasien TBC di Puskesmas Mekarmukti, Kecamatan Cikarang Utara. Metode : Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan metode observasional. Cara pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dan menentukan jumlah sampel menggunakan rumus slovin sehingga didapatkan sampel pada penelitian ini sebanyak 95 responden. Alat ukur yang digunakan adalah berupa kuesioner dan analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil : Hasil analisis korelasi antara variabel usia terhadap tingkat pengetahuan menunjukkan hasil p = 0,000. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai p < 0,05, sehingga ada hubungan antara usia terhadap tingkat pengetahuan pasien tuberkulosis paru. Pendidikan terhadap tingkat pengetahuan menunjukkan hasil p = 0,041, sehingga ada hubungan antara pendidikan terhadap tingkat pengetahuan pasien, kategori pengobatan terhadap tingkat pengetahuan menunjukkan hasil p = 0,028, sehingga ada hubungan antara kategori pengobatan terhadap tingkat pengetahuan pasien tuberkulosis paru. Hasil analisis korelasi antara variabel usia terhadap tingkat kepatuhan menunjukkan hasil p = 0,002, sehingga ada hubungan antara usia terhadap tingkat kepatuhan pasien tuberkulosis paru. variabel tingkat pengetahuan dengan tingkat kepatuhan mendapatkan nilai p-value sebesar 0,337 dan nilai signifikan yang digunakan pada penelitian ini yaitu 0,05.

Hubungan Terapi Pengobatan Pasien Rawat Inap Diare Anak Dengan Analisis Biaya di RS Sentra Medika Cibinong Tahun 2024

Adam Nur Rasyid; Rosiana
2025 · Book · Open Access

Diare merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak, khususnya di negara berkembang, yang memerlukan penanganan tepat dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya dan gambaran pengobatan pasien diare anak rawat inap di RS Sentra Medika Cibinong tahun 2024. Desain penelitian menggunakan metode deskriptif retrospektif dengan pengambilan data sekunder dari rekam medis dan billing pasien. Sampel penelitian mencakup seluruh pasien anak yang didiagnosis diare dan menjalani perawatan inap pada periode Januari– Desember 2024, dengan teknik purposive sampling. Data dianalisis secara univariat untuk distribusi karakteristik pasien, jenis terapi, dan komponen biaya, serta bivariat untuk melihat hubungan antara jenis terapi dengan total biaya pengobatan. Hasil penelitian menunjukkan variasi jenis terapi meliputi terapi farmakologis (antibiotik, probiotik, suplemen) dan non-farmakologis (rehidrasi oral/intravena). Komponen biaya terbesar berasal dari biaya obat dan rawat inap. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara jenis terapi tertentu dengan total biaya pengobatan (p<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pemilihan terapi yang tepat tidak hanya berpengaruh terhadap efektivitas klinis, tetapi juga dapat mempengaruhi efisiensi biaya, sehingga dapat menjadi pertimbangan dalam kebijakan pengobatan rasional di rumah sakit.

Pengaruh Teknik Relaksasi Otot Progresif Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Dengan Teknik Anestesi Umum di RS Amanda Cikarang Selatan

Alvin Arvela; Amelia Wulandari; Neng Imas Susanti
2025 · Book · Open Access

Latar belakang: Keadaan seseorang yang mengalami kecemasan pre operasi dapat diartikan sebagai perasaan takut atau gelisah yang ditandai dengan peningkatan detak jantung, tekanan darah, pernapasan cepat, sesak dada, serta ketegangan otot. Kecemasan pre operasi yang tidak dikelola dengan baik dapat berdampak pada gangguan hemodinamik. Salah satu metode non-farmakologis yang dapat membantu mengurangi kecemasan adalah teknik relaksasi otot progresif. Teknik ini bekerja dengan mengendurkan otot-otot yang tegang secara sistematis, sehingga dapat memberikan efek menenangkan dan kenyamanan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik anestesi umum. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian Quasy eksperiment dengan desain pre and post test without control. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yang melibatkan 33 responden dengan kriteria inklusi dan eklusi yang telah ditentukan oleh peneliti. Data dianalisis menggunakan uji paired t-test. Instrumen penelitian berupa kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety And Information Scale (APAIS). Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik responden sebagian besar berusia 26 – 35 (33,3%) dengan jumlah 11 responden, jenis kelamin dengan jumlah 22 responden (66,7%) sebagian besar adalah perempuan, pengalaman pembedahan menunjukkan karakteristik responden sebagian besar belum pernah operasi sebanyak 20 responden (60,6%), dan berdasarkan tingkat kecemasan sebelum dilakukan teknik relaksasi otot progresif lebih banyak responden mengalami cemas sedang (48,5%) dengan jumlah 16 responden, sedangkan sesudah dilakukan teknik relaksasi otot progresif didapatkan hasil tingkat kecemasan responden sebagian besar menurun menjadi cemas ringan dengan jumlah 24 responden (72.7%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya penurunan tingkat kecemasan setelah dilakukan teknik relaksasi otot progresif dengan nilai p-value 0,000. Kesimpulan: Maka disimpulkan bahwa ada pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik anestesi umum di RS Amanda Cikarang Selatan.

Hubungan Lama Operasi dan Indeks Massa Tubuh Dengan Kejadian Shivering Pasca Spinal Anestesi di Recovery Room RSUD Kabupaten Bekasi

Anas Kiki Anugrah; Bunga Nadzmuhawa; Sal Sabilah
2025 · Book · Open Access

Anestesi spinal (Subarakhnoid) adalah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan obat anestetik lokal ke dalam cairan serebrospinal di dalam ruang subaraknoid di daerah vetebra L2-L3 atau L3-L4. tindakan anestesi spinal dapat menyebabkan gangguan fungsi dari pengaturan suhu tubuh yang akan menyebabkan penurunan suhu inti tubuh sehingga menyebabkan shivering yang berdampak pada penurunan batas pemicu vasokontriksi dan shivering sekitar 0,6°C. Insiden kejadian shivering biasanya mencapai sekitar 65% pasca anestesi. Tujuan Peneliti : Tujuan umum peneliti ini adalah untuk mengetahui hubungan lama operasi dan indeks massa tubuh dengan kejadian shivering pada pasien pasca spinal anestesi di Ruang Recovery Room di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan corss sectional. Tehnik pengambilan sampel penelitian ini dengan purposive sampling sebanyak 40 responden. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan observasi yang berisi tentang lama operasi, indeks massa tubuh (IMT) dan shivering. Analisis data dilakukan secara univariat dan menggunakan uji-spearman rank. Hasil: Dari hasil penelitian didaptkan sebagian besar dengan lama operasi kejadian shivering pada derajat 4 sebanyak 34 (85%), sedangkan IMT kategori kurus kejadian shivering sebanyak 28 responden (70%). Hasil uji sperman rank menunjukan bahawa ada hubungan antara IMT dengan kejadian shivering dengan nilai p-value (0,001), sedangkan lama operasi dengan kejadian shivering tidak signifikan dengan p-value (0,48). Kesimpulan: Ada hubungan antara IMT dengan kejadian shivering. Namun, pada penelitian ini tidak didapatkan hubungan antara lama operasi dengan kejadian shivering.