Anis Lupita Ningrum; Pahri Syarief
2025 · Book · Open Access
Latar Belakang: Hipertensi atau yang biasa dikenal dengan darah tinggi sangat perlu mendapatkan perhatian dari setiap individu karena merupakan salah satu penyakit yang cukup berbahaya hingga mendapatkan julukan The Silent Killer. Hal ini dikarenakan hipertensi dapat menyerang setiap orang tanpa adanya tanda yang muncul pada tubuh. Hipertensi diklasifikasikan penyakit tidak menular (PTM) yang dapat disebabkan gaya hidup tidak sehat maupun faktor keturunan. Hipertensi dalam ilmu Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT) disebut Gāoxuěyā, Ganfeng (Liver Wind), Ganyang (Liver Yang), Taotong (headache), Xuangyu (dizziness), Zhongfeng (Stroke).
Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi tui na terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom hiperaktivitas yang hati.
Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Griya Pahri, Kota Depok, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi Tuina setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek tekanan darah sebelum dan setelah di lakukan terapi.
Hasil: Frekuensi dari keseluruhan 20 subjek penelitian menunjukkan bahwa jumlah laki-laki lebih tinggi (12 subjek = 60 %) dibandingkan dengan perempuan (8 subjek = 40 %). Subjek penelitian terbanyak berada pada usia 33 tahun (3 subjek = 15 %), terrendah pada usia 30 tahun (2 subjek = 10 %). Pekerjaan subjek penelitian terbanyak adalah karyawan (10 subjek = 50 %), wiraswasta (7 subjek = 35 %) dan IRT (3 subjek = 15 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 139 mmHg (1 subjek = 5 %) dan paling rendah sebesar 130 mmHg (1 subjek = 5 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 89 mmHg (2 subjek = 10%) dan paling rendah sebesar 80 mmHg (1 subjek = 5 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 123 mmHg (1 subjek = 5 %) dan paling rendah sebesar 112 mmHg (2 subjek = 10 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 84 mmHg (1 subjek = 5 %) dan paling rendah sebesar 72 mmHg (1 subjek = 5 %). Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Paired Sample T-Test diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.000.
Kesimpulan: Terapi tui na memberikan pengaruh terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom hiperaktivitas yang hati dengan rata-rata angka penurunan tekanan darah sistolik 135.00 mmHg dan diastolik 84.80 mmHg sebelum intervensi. Angka rata-rata setelah intervensi sebesar 116.45 mmHg (sistolik) dan 77.75 mmHg (diastolik). Perbedaan penurunan sistolik sebesar 18.65 mmHg (13.79%) dan diastolik 7.05 mmHg (8.31%).
Anis Lupita Ningrum; Siem Kho Tjin
2025 · Book · Open Access
Latar Belakang: Diabetes melitus (DM) adalah penyakit tidak menular yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Penyakit ini menjadi salah satu masalah kesehatan global yang signifikan, dengan prevalensi yang terus meningkat, terutama di negara-negara berkembang.
Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi tuina terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (Xiāo Kĕ) sindrom defisiensi Qi dan Yin.
Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi Tuina setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek kadar gula darah sebelum dan setelah di lakukan terapi.
Hasil: Kelompok usia 30-40 tahun dari keseluruhan 20 subjek penelitian menunjukkan bahwa jumlah perempuan lebih tinggi, yaitu 12 orang (60 %) dibandingkan dengan jumlah laki – laki, yaitu 8 orang (40 %). Data subjek penelitian terbanyak berada pada usia 38 tahun sejumlah 4 orang (20 %), dan data usia terendah pada usia 30 tahun berjumlah 1 orang (5 %). Data subjek penelitian terbanyak bekerja sebagai karyawan yaitu berjumlah 11 orang (55 %), bekerja sebagai pedagang sebanyak 5 orang (25 %) dan paling sedikit bekerja sebagai petugas rumah sakit sebanyak 4 orang (20 %). Jumlah total 20 subjek penelitian menunjukkan data kadar gula tertinggi sebelum dilakukan intervensi ada 1 subjek (5 %) dengan kadar 141 mg/dl dan paling rendah ada 1 subjek (5 %) dengan kadar 126 mg/dl. Data kadar gula tertinggi setelah dilakukan intervnesi ada 2 subjek (10 %) dengan kadar 115 mg/dl dan paling rendah ada 1 subjek (5 %) dengan kadar 98 mg/dl. Data kadar gula darah yang mengalami penurunan tertinggi di angka 32 mg/dl sebanyak 1 subjek (5 %), sedangkan terrendah diangka 21 mg/dl sebanyak 1 subjek (5 %). Hasil dari uji normalitas dengan Shapiro-Wilk nilai > dari 0.05 sehingga data diatas berdistribusi normal. Hasil Paired Sample T-Test terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil sebelum dan setelah dilakukan intervensi yaitu nilai Sig. (2-tailed) 0.000 < 0.005.
Kesimpulan: Terapi Tuina memberikan pengaruh penurunan terhadap kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (Xiāo Kĕ) sindrom defisien Qi dan Yin dengan angka penurunan sebesar 25.9 mg/dl dari angka sebelum intervensi dengan rata-rata 133.45 mg/dl dan setelah intervensi rata-rata 107.55 mg/dl.
Anis Lupita Ningrum; Saniwati Hermawan
2025 · Book · Open Access
Latar Belakang: Hipertensi adalah terjadinya peningkatan tekanan darah dalam tubuh. Hipertensi termasuk penyakit tidak menular yang menjadi salah satu penyebab utama kematian prematur di dunia. Penyakit hipertensi menjadi ancaman kesehatan masyarakat karena potensinya yang mampu mengakibatkan berbagai kondisi komplikasi, diantaranya seperti stroke, penyakit jantung koroner, dan gagal ginjal. Hipertensi dalam ilmu Pengobatan Tradisional Tiongkok disebut Gāoxuěyā, pusing (Xuànyūn), sakit kepala (tóutòng) dan angin hati (gānfēng).
Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi tuina terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom retensi dahak lembab.
Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi tuina setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek tekanan darah sebelum dan setelah di lakukan terapi.
Hasil: jumlah responden laki - laki lebih tinggi (12 subjek = 60 %) dibandingkan dengan perempuan (8 subjek =40 %). Usia responden terbanyak 31, 34 dan 37 tahun (3 subjek = 15 %), usia responden terendah pada usia 30 tahun (2 subjek = 10 %). Responden terbanyak bekerja sebagai karyawan (7 subjek = 35 %), wiraswasta (5 subjek = 25 %), Ibu Rumah Tangga (5 subjek = 25 %) dan paling sedikit Guru (3 subjek = 15 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 139 mg/dl (5 subjek = 25 %) dan paling rendah sebesar 130 mg/dl (1 subjek = 5 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 89 mg/dl (2 subjek = 10%) dan paling rendah sebesar 81 mg/dl (2 subjek = 10 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 130 mg/dl (2 subjek = 10 %) dan paling rendah sebesar 120 mg/dl (1 subjek = 5 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 85 mg/dl (1 subjek = 5 %) dan paling rendah sebesar 76 mg/dl (2 subjek = 10 %). Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Paired Sample T-Test diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.000.
Kesimpulan: Terapi tuina memberikan pengaruh terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom retensi dahak lembab. Angka rata-rata tekanan darah sistolik 135.25 mmHg dan diastolik 84.75 mmHg sebelum intervensi. Angka rata-rata setelah intervensi sebesar 125.85 mmHg (sistolik) dan 80.20 mmHg (diastolik). Penurunan sistolik sebesar 9.50 mmHg (7.02%) dan diastolik 4.55 mmHg (5.36%).
Anis Lupita Ningrum; Tan Mie Lien
2025 · Book · Open Access
Latar Belakang: Hipertensi merupakan Penyakit Tidak Menular (PTM) yang menjadi salah satu penyebab utama kematian prematur di dunia. Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, adalah kondisi medis di mana tekanan darah dalam arteri meningkat secara abnormal. Ini diukur dengan dua angka: tekanan sistolik (tekanan saat jantung berkontraksi) dan tekanan diastolik (tekanan saat jantung beristirahat antara detak). Ilmu Pengobatan Tradisioinal Tiongkok (PTT) menyebut Gāoxuěyā, pusing (Xuànyūn), sakit kepala (tóutòng) dan angin hati (gānfēng) sebagai penyakit yang mirip dengan gejala hipertensi.
Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi tui na terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom defisiensi yin hiperaktivitas yang.
Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi tui na setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek tekanan darah sebelum dan setelah di lakukan terapi.
Hasil: jumlah responden laki - laki lebih tinggi (11 subjek = 55 %) dibandingkan dengan perempuan (9 subjek =45 %). Usia responden terbanyak 33, dan 37 tahun (@3 subjek = 15 %), usia responden terendah pada usia 30 tahun (1 subjek = 5 %). Responden terbanyak bekerja sebagai pedagang (8 subjek = 40 %), karyawan (5 subjek = 25 %), IRT (4 subjek = 20 %) dan paling sedikit Guru (3 subjek = 15 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 139 mmHg (2 subjek = 10 %) dan paling rendah sebesar 130 mmHg (1 subjek = 5 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 89 mmHg (3 subjek = 15 %) dan paling rendah sebesar 81 mmHg (3 subjek = 15 %). Kadar tekanan darah sistolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 126 mmHg (1 subjek = 5 %) dan paling rendah sebesar 115 mmHg (1 subjek = 5 %). Sedangkan data kadar tekanan darah diastolik tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 83 mmHg (3 subjek = 15 %) dan paling rendah sebesar 75 mmHg (3 subjek = 15 %). Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Paired Sample T-Test diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.000.
Kesimpulan: Terapi tui na memberikan pengaruh terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom defisiensi yin hiperaktivitas yang. Angka rata-rata tekanan darah sistolik 135.15 mmHg dan diastolik 85.55 mmHg sebelum intervensi. Angka rata-rata setelah intervensi sebesar 120.75 mmHg (sistolik) dan 79.45 mmHg (diastolik). Penurunan sistolik sebesar 14.40 mmHg (10.65%) dan diastolik 6.10 mmHg (7.13%).
Hamidah; Stefanus Aditya
2025 · Book · Open Access
Latar Belakang: Nyeri haid (dismenore) merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami wanita usia reproduksi. Hal ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan tingkat produktivitas, serta mengganggu kualitas hidup wanita. Salah satu metode alternatif yang digunakan untuk mengurangi nyeri haid adalah akupunktur, terutama untuk kasus dismenore akibat sindrom stagnasi qi dan xue menurut konsep pengobatan tradisional Tiongkok (PTT).
Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi akupunktur Titik SP 6 (Sanyinjiao), CV 4 (Guanyuan), LI 4 (Hegu), LR 3 (Taichong), dan ST 36 (Zusanli) terhadap penuruan intensitas nyeri pada penderita nyeri haid sindrom stagnasi qi dan xue di klinik bidan “S” Bandung.
Metode: penelitian menggunakan desain kuantitatif quasi-eksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Sampel terdiri dari 30 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi selama januari-juni 2025. Intervensi berupa terapi akupunktur dilakukan 3–5 hari sebelum menstruasi. Intensitas nyeri diukur menggunakan NRS (Numeric Rating Scale) sebelum dan sesudah terapi. Analisis data menggunakan uji wilcoxon signed-rank test karena data tidak berdistribusi normal.
Hasil: penelitian terhadap 30 subjek, diperoleh sebanyak 15 subjek berusia 21 tahun (50 %), 7 subjek berusia 18 tahun (23.3 %), 7 subjek berusia 22 tahun (23.3 %) dan 1 subjek berusia 24 tahun (3,3%). Responden terdiri dari 18 mahasiswa (60%), 5 karyawan swasta (16.7 %) dan 7 pelajar (23.3 %). Skor skala nyeri minimum diangka 4 dan maksimum diangka 8 sebelum dilakukan terapi akupunktur. Skor nyeri terbanyak 10 responden (33.3 %) diangka 6, 9 responden (30 %) diangka 7, 9 responden (30 %) diangka 5, 1 responden ( 3.3 %) diangka 8 dan 1 responden (3.3 %) diangka 1. Skor skala nyeri minimum diangka 1 dan maksimum diangka 6 setelah dilakukan terapi akupunktur. Skor nyeri terbanyak 13 responden (43.3 %) diangka 1, 8 responden (26.7 %) diangka 2, 6 responden (20 %) diangka 3, 1 responden ( 3.3 %) diangka 4, 1 responden (3.3 %) diangka 5, dan 1 responden (3.3 %) diangka 6.
Kesimpulan: skor skala nyeri rata-rata angka sebelum terapi sebesar 6.00 dan sesudah terapi sebesar 2.06. Perbedaan rata-rata skor skala nyeri sebelum dan setelah sebesar 3.94 (65%) yang berarti terapi akupunktur efektif terhadap penuruan intensitas nyeri pada penderita nyeri haid sindrom stagnasi qi dan xue. Perbedaan signifikan antara intensitas nyeri sebelum dan sesudah terapi akupuntur diperoleh dari hasil uji wilcoxon signed rank test, diperoleh nilai p = 0,000 (< 0,05)
Anis Lupita Ningrum; Teddy Irawan
2025 · Book · Open Access
Latar Belakang: Hipertensi menjadi salah satu faktor utama penyebab kematian di dunia, dengan angka kematian mencapai sekitar 7,5 juta jiwa setiap tahunnya. Di Indonesia sendiri, prevalensi hipertensi menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, tercatat bahwa sebanyak 34,1% penduduk Indonesia mengalami hipertensi. Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan kondisi patofisiologis yang ditandai dengan meningkatnya tekanan darah melebihi batas normal, yaitu di atas 120/80 mmHg. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai gejala, seperti sakit kepala di pelipis atau sisi kepala, pusing, telinga berdenging, gangguan pendengaran, pandangan kabur, mulut dan tenggorokan kering, gangguan tidur, mudah lelah, mudah marah, gangguan ingatan, kelemahan pada pinggang dan lutut, serta kekakuan pada leher. Terapi Akupunktur dapat menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada penyakit hipertensi sindrom hiperaktivitas yang hati.
Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom hiperaktivitas yang hati.
Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan Maret-Juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat Bandung. Sampel berusia 40-60 tahun dengan terapi akupunktur sebanyak 4 sesi terapi selama 4 hari berturut-turut dan dilakukan cek tekanan darah sebelum dan setelah di lakukan terapi.
Hasil: Hasil uji statistik menunjukkan adanya penurunan signifikan tekanan darah sistolik dari rata-rata 153 mmHg menjadi 130 mmHg (p = 0,000) dan tekanan darah diastolik dari 87 mmHg menjadi 75 mmHg (p = 0,000) setelah terapi akupunktur.
Kesimpulan: Pengobatan Tradisional Tiongkok khususnya terapi akupunktur terbukti secara statistik signifikan menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi. Akupunktur dapat dijadikan alternatif untuk pengelolaan hipertensi.
Anis Lupita Ningrum; Nike Dewi Sartika
2025 · Book · Open Access
Latar Belakang: Diantara penyakit tidak menular (PTM), salah satunya termasuk diabetes mellitus (DM). Diabetes adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Diabetes merupakan penyakit metabolik kronik sehingga apabila terlambat dideteksi atau tidak ditangani dengan tepat, maka akan dapat mengakibatkan kerusakan serius dan mengancam jiwa. Ancamannya bisa pada jantung, pembuluh darah, mata, ginjal, dan saraf (WHO, 2025).
Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes (xiāo kĕ) sindrom defisiensi yin yang.
Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi Akupunktur setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek kadar gula darah sebelum dan setelah di lakukan terapi.
Hasil: mayoritas responden merupakan perempuan (70%) dan berada pada rentang usia produktif, dengan usia terbanyak 38 tahun (20%). Kadar gula darah berkisar antara 126–140 mg/dL sebelum dilakukan intervensi akupunktur. Intervensi yang diberikan berhasil menurunkan kadar gula darah secara signifikan pada seluruh subjek, ditandai dengan penurunan kadar tertinggi menjadi 119 mg/dL dan kadar terendah mencapai 104 mg/dL. 4. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Paired Sample T-Test diperoleh hasil terapi akupunktur memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe-2 (xiāo Kĕ) dengan sindrom defisiensi yin yang dengan nilai signifikansi sebesar 0.000.
Kesimpulan: Terapi Akupunktur memberikan pengaruh terhadap kadar gula darah pada penderita diabetes (xiāo Kĕ) sindrom defisien yin yang dengan angka penurunan kadar gula darah sebelum intervensi dengan rata-rata 134.25 mg/dl dan setelah intervensi rata-rata 111.90 dengan perbedaan rata-rata penurunan sebesar 22.35 mg/dl.
Anis Lupita Ningrum; Emma
2025 · Book · Open Access
Latar Belakang: Diabetes mellitus adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah akibat gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Penyakit ini menjadi masalah kesehatan global yang signifikan, termasuk di Indonesia. Dengan meningkatnya prevalensi diabetes, penting untuk memahami faktor-faktor yang berkontribusi dan dampaknya terhadap masyarakat.
Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (xiāo kĕ) sindrom panas paru.
Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi Akupunktur setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek kadar gula darah sebelum dan setelah di lakukan terapi.
Hasil: distribusi frekuensi dari keseluruhan 20 subjek penelitian menunjukkan bahwa jumlah perempuan lebih tinggi (14 subjek = 70 %) dibandingkan dengan laki – laki (6 subjek = 30 %). Subjek penelitian terbanyak berada pada usia 38 tahun (4 subjek = 20 %), terrendah pada usia 30 tahun (1 subjek = 5 %). Subjek penelitian terbanyak adalah buruh pabrik (9 subjek = 45 %), pedagang ( 6 subjek = 30 %) dan IRT (5 subjek = 25 %). Sebelum dilakukan intervensi terdapat subjek penelitian dengan angka tertinggi sebesar 141 mg/dl (1 subjek =5 %) dan paling rendah 127 mg/dl (1 subjek = 5 %) dengan rata-rata 135.60 mg/dl. Kadar gula tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 121 mg/dl (2 subjek =10 %) dan paling rendah 110 mg/dl (2 subjek = 10 %) dengan rata-rata 110.45 mg/dl. Penurunan kadar gula tertinggi di angka 24 mg/dl sebanyak 4 subjek (20 %), sedangkan terendah diangka 19 mg/dl sebanyak 1 subjek (5 %). Hasil dari uji normalitas dengan shapiro-wilk nilai > dari 0.05 sehingga data diatas berdistribusi normal. Oleh karena itu selanjutnya dilakukan uji t-test. Hasil paired sample t-test terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil sebelum dan setelah dilakukan intervensi yaitu nilai sig. (2-tailed) 0.000 < 0.005.
Kesimpulan: Terapi Akupunktur memberikan pengaruh terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (xiāo kĕ) sindrom panas paru dengan angka rata-rata penurunan kadar gula darah sebelum intervensi sebesar 135.60 mg/dl dan setelah intervensi sebesar 110.45 mg/dl dengan perbedaan penurunan sebesar 25.15 mg/dl (18.54 %).
Dani Adiawan; Muslihatin Khuril Rosyida
2025 · Book · Open Access
Latar Belakang : Sindrom angin dingin merupakan gangguan kesehatan umum pada anak yang ditandai dengan batuk, hidung tersumbat, dan produksi dahak encer. Kencur (Shā Jiāng) sebagai herbal tradisional Tiongkok diketahui memiliki sifat hangat dan pedas yang berpotensi meredakan gejala tersebut.
Tujuan: Mengetahui efektivitas kencur dalam mengurangi frekuensi dan intensitas batuk pada anak dengan sindrom angin dingin berdasarkan parameter Traditional Tiongkok dan penilaian klinis. Metode: Penelitian menggunakan kuesioner observasional dengan skala penilaian frekuensi batuk (0-5) dan intensitas batuk (0-10). Partisipan terdiri dari 30 anak usia 2-12 tahun yang diberikan terapi kencur selama 7 hari. Data dianalisis secara deskriptif dan uji statistik parametrik. Hasil:Terdapat penurunan signifikan pada frekuensi batuk (rerata dari skala 4 menjadi 2) dan intensitas batuk (rerata dari skala 7 menjadi 3). Gejala penyerta seperti hidung tersumbat dan produksi dahak juga menunjukkan perbaikan. Tidak dilaporkan efek samping serius. Kesimpulan: Kencur efektif meredakan gejala batuk pada anak dengan sindrom angin dingin berdasarkan kriteria tradisional chinese medice. Penelitian lanjutan dengan desain lebih ketat dan sampel lebih besar diperlukan untuk memvalidasi temuan ini.
Marlina; Neneng Julianti
2025 · Book · Open Access
Latar Belakang: Luka perineum merupakan salah satu masalah yang sering dialami ibu nifas setelah persalinan pervaginam. Luka ini terjadi akibat adanya robekan jaringan perineum atau tindakan episiotomi, yang dapat menimbulkan nyeri, perdarahan, hingga risiko infeksi bila penyembuhannya tidak optimal. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), hampir 90% persalinan normal mengalami robekan perineum, dengan insiden global sebanyak 2,7 juta kasus pada tahun 2020 dan diperkirakan meningkat menjadi 6,3 juta kasus pada tahun 2050. Di Indonesia, sekitar 75% ibu nifas mengalami luka perineum pascapersalinan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian putih telur ayam terhadap penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di TPMB Jayanti, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi Tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimen dengan pendekatan satu kelompok pretest–posttest. Sampel terdiri dari 30 ibu nifas yang dipilih menggunakan purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Instrumen penelitian berupa lembar observasi menggunakan skor REEDA (Redness, Edema, Ecchymosis, Discharge, Approximation) untuk menilai kondisi luka perineum. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan distribusi frekuensi, dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon signed-rank. Uji ini dipilih karena data bersifat berpasangan (skor REEDA sebelum dan sesudah intervensi pada responden yang sama), diukur pada skala ordinal, dan uji normalitas Shapiro–Wilk menunjukkan bahwa data tidak terdistribusi normal (p < 0,05). Oleh karena itu, uji nonparametrik Wilcoxon dianggap sebagai analisis statistik yang paling tepat untuk penelitian ini.Hasil : Hasil uji Wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara skor REEDA sebelum dan sesudah pemberian putih telur ayam, dengan nilai Z = -5,396 dan p-value = 0,000 (p < 0,05). Sebanyak 96,7% responden mengalami penyembuhan luka perineum secara normal (≤ 7 hari). Kesimpulan : Pemberian putih telur ayam secara rutin berpengaruh signifikan dalam mempercepat penyembuhan luka perineum pada ibu nifas. Putih telur dapat menjadi alternatif intervensi nutrisi yang aman dan efektif dalam perawatan pasca persalinan.
Caci Nurhalimah; Herlina Simanjuntak
2025 · Book · Open Access
Latar Belakang: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak balita di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2021, prevalensi ISPA tertinggi terjadi pada kelompok umur 1–4 tahun. Di Klinik Cahaya Medika, kasus ISPA pada bayi dan balita cukup tinggi, sehingga perlu dilakukan analisis faktor yang berhubungan.
Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada bayi dan balita di Klinik Cahaya Medika Desa Pasirgombong, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian adalah bayi dan balita yang berkunjung ke Klinik Cahaya Medika periode Januari–Desember 2025 sebanyak 300 orang. Sampel sebanyak 70 responden diambil menggunakan simple random sampling dengan rumus Slovin. Analisis data dilakukan secara statistik untuk menguji hubungan variabel independen (usia, status gizi, ASI eksklusif, imunisasi, pendidikan orang tua) dengan kejadian ISPA. Hasil: Prevalensi ISPA sebesar 72,9%. Faktor yang berhubungan signifikan dengan kejadian ISPA adalah usia anak (<12 bulan), status gizi, dan pemberian ASI eksklusif (p<0,05). Sementara itu, pendidikan orang tua dan imunisasi tidak menunjukkan hubungan yang bermakna.
Kesimpulan: Faktor dominan yang berhubungan dengan ISPA pada balita adalah usia, status gizi, dan ASI eksklusif. Upaya pencegahan melalui pemantauan gizi, edukasi orang tua, dan perbaikan pola asuh sangat diperlukan.
Anggun Wulandari; Herlina Simanjuntak
2025 · Book · Open Access
Latar Belakang: Program triple eliminasi merupakan upaya pemerintah untuk mencegah penularan vertikal penyakit HIV, sifilis, dan hepatitis B dari ibu hamil ke bayinya. Namun, pelaksanaan program ini masih menghadapi tantangan terutama dalam hal kepatuhan ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan. Beberapa faktor seperti usia, pengetahuan, sikap, dukungan suami, dan peran tenaga kesehatan diduga berpengaruh terhadap kepatuhan tersebut. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan ibu hamil dalam menjalani program triple eliminasi di Posyandu Desa Sukamanah tahun 2025. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif analitik melalui metode cross sectional. Sampel berjumlah 83 ibu hamil yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Sebagian besar responden memiliki usia reproduksi sehat (73,5%), pengetahuan baik (61,4%), sikap positif (60,2%), dukungan suami baik (61,4%), dan menilai peran tenaga kesehatan baik (86,7%). Kepatuhan ibu hamil terhadap pemeriksaan triple eliminasi sebesar 72,3%. Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan (p=0,001), sikap (p=0,007), dukungan suami (p=0,020), dan peran tenaga kesehatan (p=0,009) dengan kepatuhan ibu hamil. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia dengan kepatuhan (p=0,059). Kesimpulan: Faktor pengetahuan, sikap, dukungan suami, dan peran tenaga kesehatan memiliki hubungan signifikan terhadap kepatuhan ibu hamil dalam pemeriksaan triple eliminasi. Upaya peningkatan edukasi, dukungan keluarga, dan peran aktif tenaga kesehatan sangat diperlukan untuk meningkatkan cakupan program ini.
Musmundiroh; Nuramiati
2025 · Book · Open Access
Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak – anak ke masa dewasa yang ditandai dengan perubahan fisik dan emosional serta penyesuaian sosial di masa dewasa. Pengetahuan remaja tentang seks bebas sangat penting, karena menyangkut kesehatan reproduksi, kesehatan mental dan juga masa depan mereka. Salah satu upaya mengatasi masalah kurangnya pengetahuan remaja terhadap seks bebas adalah dengan meningkatkan Pendidikan Kesehatan Reproduksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan remaja tentang seks bebas di SMAN 1 Cikarang Pusat Tahun 2025. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas X dan XI di SMAN 1 Cikarang Pusat, populasi sebanyak 864 responden, sample sebanyak 100 responden, data yang didapat berupa data primer, sedangkan pengumpulan data menggunakan kuesioner, analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil analisis responden yang usia beresiko yaitu remaja tengah (usia 15 – 17 tahun) sebanyak 41,5% (P - value 0,000) OR 73,750 (CI 95%: 18,227 – 298,412) pada responden dengan jenis kelamin yang beresiko yaitu pada perempuan sebanyak 36,8 % (P - value 0,000) OR 9,383 (CI 95%: 3,489 – 25,236) pada responden yang memiliki kurangnya sumber informasi sebanyak 39,5 % (P - value 0,000) OR 6,261 (CI 95%: 2,500 – 15,682) pada responden yang memiliki lingkungan yang buruk sebanyak 41,5 % (P - value 0,000) OR 5,147 (CI 95%: 2,097 – 12,630) dan pada responden yang memiliki teman sebaya negatif sebanyak 44,9 % (P - value 0,000) OR 6,391 (CI 95%: 2,536 – 16, 104). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara usia remaja, jenis kelamin, sumber informasi/media massa, lingkungan dan teman sebaya terhadap pengetahuan remaja tentang seks bebas di SMAN 1 Cikarang Pusat, remaja di harapkan untuk memilih lingkungan serta media informasi yang baik bagi perkembangan perilaku seksual untuk menghindari penyimpangan atau perilaku seks di luar nikah.
Wawang Putri; Yulianti
2025 · Book · Open Access
Latar Belakang: Ibu bekerja menjalankan peran ganda sebagai pencari nafkah dan pengasuh anak, yang sering kali menghadapi kendala dalam mempertahankan produksi ASI secara optimal. Tantangan seperti stres kerja, kurangnya waktu menyusui, dan minimnya fasilitas laktasi dapat menghambat keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Salah satu upaya yang mulai dimanfaatkan untuk mengatasi hal tersebut adalah konsumsi sari kacang hijau, karena kandungan nutrisinya yang dipercaya mampu meningkatkan produksi ASI. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian sari kacang hijau terhadap produksi ASI pada ibu bekerja di TPMB Wawang Putri tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Sampel berjumlah 30 ibu bekerja dengan bayi usia 0–6 bulan, yang dipilih melalui teknik total sampling. Intervensi berupa pemberian 250 ml sari kacang hijau dua kali sehari selama tujuh hari. Volume ASI diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan gelas ukur, lalu dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil: Terdapat peningkatan produksi ASI yang signifikan secara statistik (p < 0,05) setelah intervensi konsumsi sari kacang hijau selama tujuh hari. Kesimpulan: Sari kacang hijau efektif meningkatkan produksi ASI pada ibu bekerja, serta memiliki potensi sebagai intervensi gizi berbasis pangan lokal yang murah dan mudah diakses untuk mendukung keberhasilan laktasi eksklusif.
Tita Afiatun Nafsih; Yulianti
2025 · Book · Open Access
Latar Belakang : Morning sickness merupakan gejala umum yang dialami ibu hamil trimester pertama, ditandai dengan mual dan muntah, dan dapat mengganggu aktivitas serta asupan nutrisi. Salah satu bentuk penanganan non-farmakologis yang umum digunakan adalah pemberian jahe hangat dan aromaterapi peppermint. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas pemberian jahe hangat dengan aromaterapi peppermint terhadap frekuensi morning sickness pada ibu hamil trimester I di Klinik Cahaya Medika tahun 2025. Metode : Penelitian ini menggunakan desain quasi experimental dengan pendekatan pretest-posttest one group. Sampel berjumlah 32 ibu hamil trimester I yang dipilih dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian meliputi SOP intervensi dan lembar observasi PUQE-24. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney.
Hasil : Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa sebelum diberikan jahe hangat, sebagian besar responden mengalami morning sickness kategori sedang (90,6%) dan berat (9,4%), sedangkan setelah intervensi menjadi ringan (68,8%) dan sedang (31,3%). Pada kelompok aromaterapi peppermint, sebelum intervensi sebagian besar mengalami kategori sedang (84,4%) dan berat (15,6%), setelah intervensi masih didominasi kategori sedang (96,9%) dan hanya 3,1% yang ringan. Uji Wilcoxon menunjukkan p-value = 0,000 pada kedua intervensi, dengan hasil Mann-Whitney menunjukkan jahe hangat lebih efektif dalam menurunkan frekuensi morning sickness. Simpulan: Jahe hangat terbukti lebih efektif dibandingkan aromaterapi peppermint dalam mengurangi frekuensi morning sickness.
Saran: Jahe hangat dapat direkomendasikan sebagai pilihan intervensi non-farmakologis bagi ibu hamil trimester I.
Prasti Yoningsih; Rohani Siregar
2025 · Book · Open Access
Ruam popok (diaper rash) merupakan masalah kulit yang sering terjadi pada bay
akibat iritasi urine, feses, kelembaban, dan gesekan popok. Prevalensi globa
mencapai 65% (WHO, 2022), sementara di Indonesia dilaporkan 7–35% dan d
Kabupaten Bekasi sebesar 10,28%. Pengetahuan ibu yang kurang tentang persona
hygiene bayi menjadi faktor penting yang dapat meningkatkan risiko terjadiny
ruam popok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yan
berhubungan dengan kejadian ruam popok pada bayi di Desa Karang Bar
Kecamatan Cikarang Utara Kabupaten Bekasi Tahun 2025.Penelitian merupaka
jenis penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional melibatkan 88 responden
dipilih dengan rumus Slovin. Data dikumpulkan melalui angket kepada ibu yan
memiliki bayi usia 0–6 bulan. Analisis menggunakan uji chi-square denga
perhitungan odds ratio (OR). Dari penelitian ini diperoleh hasil yaitu tidak terdapa
hubungan signifikan antara pendidikan dengan ruam popok (p=0,249; OR=0,552
maupun sikap (p=0,067; OR=2,565). Namun terdapat hubungan signifikan antar
pekerjaan dengan ruam popok (p=0,047; OR=2,644) serta pengetahuan (p=0,018
OR=3,246). Responden dengan pengetahuan kurang memiliki peluang tiga kal
lebih besar memiliki bayi yang terkena ruam popok dibandingkan dengan ib
berpengetahuan baik. Pengetahuan ibu sangat erat kaitannya dengan pendidika
dan memengaruhi perilaku dalam menjaga kesehatan kulit bayi. Ketepata
perawatan perianal memerlukan perilaku ibu yang baik dalam menjaga kebersiha
kulit bayi.
Cinta Sari; Herlina Simanjuntak
2025 · Book · Open Access
Latar Belakang: Nyeri punggung merupakan salah satu keluhan yang paling sering dialami ibu hamil, terutama pada trimester III. Perubahan postur tubuh akibat membesarnya rahim, peningkatan kadar hormon relaksin, serta bertambahnya beban kehamilan menyebabkan peregangan pada otot dan ligamen yang berujung pada rasa tidak nyaman. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan kualitas hidup, serta memengaruhi kesiapan ibu menghadapi persalinan. Upaya penanganan nyeri dapat dilakukan secara farmakologis maupun nonfarmakologis. Salah satu metode nonfarmakologis yang relatif aman, murah, mudah diterapkan, serta tanpa efek samping adalah pijat endorphin. Pijat ini merupakan teknik sentuhan lembut yang berfungsi merangsang pelepasan endorphin. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pijat endorphin terhadap nyeri punggung pada ibu hamil trimester III di TPMB X Kabupaten Bekasi tahun 2025. Metode: Penelitian menggunakan desain pra-eksperimen dengan rancangan one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 30 ibu hamil trimester III yang dipilih dengan teknik total sampling. Tingkat nyeri diukur menggunakan instrumen Visual Analog Scale (VAS) sebelum dan sesudah intervensi pijat endorphin. Analisis data dilakukan secara univariat untuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Sebelum diberikan pijat endorphin, ibu hamil tanpa nyeri sebesar 16,7%, nyeri ringan 43,3%, nyeri sedang 30,0%, dan nyeri berat 10,0%. Setelah intervensi, proporsi tanpa nyeri meningkat menjadi 60,0%, nyeri ringan 30,0%, nyeri sedang 10,0%, dan tidak ditemukan nyeri berat. Uji statistik menunjukkan nilai Z = -4,434 dengan p-value < 0,01, yang menandakan adanya perbedaan signifikan sebelum dan sesudah pijat endorphin. Kesimpulan: Pijat endorphin terbukti efektif menurunkan nyeri punggung pada ibu hamil trimester III, sehingga layak direkomendasikan sebagai salah satu metode terapi nonfarmakologis dalam pelayanan antenatal
Dhonal Handayani; Herlina Simanjuntak
2025 · Book · Open Access
Latar Belakang: Kunjungan bayi dan balita ke Posyandu merupakan indikator penting dalam pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak. Namun, masih banyak balita yang tidak memperoleh layanan secara optimal akibat rendahnya tingkat kunjungan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi rendahnya kunjungan bayi dan balita ke Posyandu RW 011 Perumahan Permata Cikarang Timur tahun 2025. Subyek dan Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain analitik cross sectional yang dilaksanakan di Posyandu RW 011. Sampel berjumlah 51 responden dipilih dengan teknik purposive sampling. Variabel dependen adalah kunjungan ke Posyandu, sedangkan variabel independen meliputi pengetahuan ibu, ekonomi, pendidikan, dukungan keluarga, dan pelayanan kesehatan. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji Chi-Square serta perhitungan Odds Ratio (OR). Hasil: Sebagian besar balita (54,9%) tidak melakukan kunjungan teratur ke Posyandu. Pengetahuan ibu berhubungan signifikan dengan kunjungan ke Posyandu (OR=6,70; 95% CI=1,32–34,91; p=0,022). Namun, faktor ekonomi (p=0,620), pendidikan ibu (p=0,683), dukungan keluarga (p=0,538), dan pelayanan kesehatan (p=0,481) tidak berhubungan signifikan. Kesimpulan: Pengetahuan ibu merupakan faktor paling berpengaruh terhadap keteraturan kunjungan balita ke Posyandu
Rohani Siregar; Siska Arianti
2025 · Book · Open Access
Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber gizi utama sekaligus terbaik bagi bayi, terutama
pada enam bulan pertama kehidupannya. Namun, banyak ibu postpartum masih menghadapi
hambatan dalam produksi ASI yang dipengaruhi oleh faktor fisiologis maupun psikologis. Kondisi
ini menegaskan pentingnya penelitian mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan
pengetahuan ibu dalam meningkatkan produksi ASI. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
hubungan antara paritas, usia, status gizi, dukungan keluarga, serta keterpaparan informasi dengan
tingkat pengetahuan ibu postpartum mengenai peningkatan produksi ASI di TPMB Bidan Jayanti
Kecamatan Cikarang Utara tahun 2025. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif
dengan desain cross-sectional. Sebanyak 50 responden dipilih melalui teknik purposive sampling.
Data dikumpulkan dengan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square, odds ratio (OR),
serta confidence interval (CI) 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel paritas
(p=0,274), status gizi (p=1,000), usia (p=0,157), dan keterpaparan informasi (p=0,338) tidak
memiliki hubungan bermakna dengan pengetahuan ibu. Sebaliknya, dukungan keluarga
berpengaruh signifikan (p=0,001), di mana ibu tanpa dukungan keluarga berisiko 43 kali lebih
besar memiliki pengetahuan rendah (OR=43,000; CI 95%: 3,365–549,547). Dapat disimpulkan
bahwa dukungan keluarga merupakan faktor dominan dalam meningkatkan pengetahuan ibu
postpartum tentang produksi ASI. Temuan ini menekankan pentingnya melibatkan keluarga dalam
program edukasi laktasi guna mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Penelitian
lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi intervensi berbasis keluarga sebagai strategi
peningkatan kualitas kesehatan ibu dan bayi.
Ika Kania Fatdo Wardani; Suhayati
2025 · Book · Open Access