COLLECTION
Koleksi Perpustakaan
Koleksi otomatis dari Perpustakaan
Publikasi
Herb-Medicine Journal
Herb-Medicine Journal
Herb-Medicine Journal
Herb-Medicine Journal
Herb-Medicine Journal
Herb-Medicine Journal
Herb-Medicine Journal
Herb-Medicine Journal
Herb-Medicine Journal
Herb-Medicine Journal
Majalah Obat Tradisional
Efektivitas Titik-titik Akupunktur LI4 (Hesgu), LI11 (Quchi), ST36 (Zusanli), SP10 (Xuehai) dan BL17 (Geshu) Terhadap Penderita Stroke Sindrom Darah Sattis di Acupuncture Center DB
Latar Belakang: Stroke iskemik merupakan salah satu penyebab utama kecacatan dengan angka kejadian yang terus meningkat. Dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT), banyak kasus stroke iskemik diklasifikasikan sebagai sindrom darah stasis, yang ditandai dengan sumbatan aliran Qi dan darah pada meridian otak. Akupunktur dipercaya dapat membantu memulihkan fungsi motorik dengan melancarkan sirkulasi darah dan energi vital. Tujuan: Mengetahui efektivitas kombinasi titik akupunktur LI4 (Hegu), LI11 (Quchi), ST36 (Zusanli), SP10 (Xuehai), dan BL17 (Geshu) terhadap peningkatan fungsi motorik pada klien stroke dengan sindrom darah stasis. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimen dengan pendekatan one-group pretest-posttest. Sebanyak 30 klien stroke iskemik dari populasi 58 klien dengan sindrom darah stasis di Acupuncture Center DB Bandung diberikan terapi akupunktur dua kali per minggu selama empat minggu. Fungsi motorik dinilai menggunakan Indeks Barthel sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data dilakukan dengan uji normalitas, uji T berpasangan, dan uji Wilcoxon.
Efektivitas Akupunktur Pada Penderita Gangguan Menstruasi Sindroma Qi Xu di Klinik Akupunktur Darma Bakti, Bandung
Latar Belakang: Menstruasi merupakan proses fisiologis alami yang dialami oleh setiap wanita sebagai tanda kematangan seksual. Namun, gangguan menstruasi seperti siklus tidak teratur, perdarahan berlebihan, atau nyeri haid sering terjadi dan dapat memengaruhi kualitas hidup wanita secara fisik, psikologis, dan sosial. Dalam pendekatan TCM, gangguan menstruasi dipandang sebagai ketidakseimbangan Qi dan darah, yang salah satunya dapat disebabkan oleh sindrom defisiensi Qi (Qi Xu). Salah satu terapi yang digunakan dalam TCM untuk mengatasi gangguan ini adalah akupunktur. Dimana akupunktur bekerja dengan menstimulasi titik-titik tertentu untuk menyeimbangkan aliran energi tubuh, meningkatkan sirkulasi darah, dan mengatur fungsi hormonal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas terapi akupunktur pada penderita gangguan menstruasi dengan sindroma Qi Xu di Klinik Akupunktur Darma Bakti, Bandung. Metode: penelitian menggunakan metode penelitian eksperimen, jenis kuantitatif dengan populasi sebanyak 40 dan sampling sebanyak 30 dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Subjek penelitian dari bulan april-juni 2025 di Klinik Akupunktur Darma Bakti, Bandung, Jawa Barat. Sampel Wanita berusia 17-55 tahun dengan terapi akupunktur sebanyak 10x dengan periode 2x minggu. Hasil: Hasil Uji-t Berpasangan menunjukkan nilai t-statistik adalah 7,097 dengan derajat kebebasan (df) 29. Nilai p (two-tailed) yang diperoleh adalah 0,0000000828. jauh lebih kecil dari tingkat signifikansi yang ditetapkan, yakni α=0.05. Kesimpulan: terapi akupunktur efektif dalam mengurangi volume perdarahan menstruasi pada penderita gangguan menstruasi dengan sindrom Qi Xu.
Efektivitas Terapi Akupunktur Terhadap Perubahan Kadar Kolesterol Darah Pada Penderita Dislipidemia Sindrom Dahak dan Retensi Lembab
Latar Belakang: Peningkatan penyakit tidak menular (PTM), khususnya dislipidemia, menjadi tantangan kesehatan serius di Indonesia. Dislipidemia berkontribusi pada risiko penyakit kardiovaskular melalui akumulasi lipid dalam darah. Pengobatan konvensional umumnya menggunakan terapi farmakologis, namun pendekatan komplementer seperti akupunktur dari pengobatan tradisional Tiongkok (TCM) mulai dilirik sebagai alternatif yang efektif. Akupunktur dipercaya dapat menyeimbangkan energi tubuh dan meningkatkan metabolisme lipid. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas terapi akupunktur terhadap penurunan kadar kolesterol darah pada pasien dislipidemia sebagai upaya pengelolaan PTM yang lebih holistik.. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Efektivitas Terapi Akupunktur Terhadap Perubahan Kadar Kolesterol Darah Pada Penderita dislipidemia sindrom dahak dan retensi lembab. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain preeksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 30 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di klinik akupunktur, Kota Sidoarjo, Jawa Timur. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi Akupunktur dua kali seminggu sebanyak 6 kali dan dilakukan cek total kolesterol darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: Rata-rata kadar kolesterol sebelum terapi adalah 255,50 mg/dL dan menurun menjadi 251,37 mg/dL setelah terapi, dengan rata-rata penurunan 4,13 mg/dL. Uji Paired Sample t-Test menunjukkan p-value < 0,001, menandakan perbedaan signifikan secara statistik. Hasil ini mendukung efektivitas akupunktur dalam membantu menurunkan kadar kolesterol darah sesuai prinsip TCM. Kesimpulan: Terapi akupunktur secara teratur pada titik ST36, ST40, LI4, LI11, SP6, CV4, CV6, CV12, LV3, dan ST25 efektif membantu menurunkan kadar kolesterol darah pada penderita dislipidemia sindrom dahak dan retensi lembab.
Pengaruh Terapi Akunpuktur Terhadap Perubahan Kadar Gula Darah Penderita Diabetes (Xiao Ke) Sindrom Panas Lambung
Latar Belakang: Diabetes Mellitus (DM) termasuk salah satu penyakit tidak menular (PTM). Diabetes Mellitus (DM) menurut American Diabetes Association adalah sutau kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Diabetes dikenal sebagai Xiāo Kĕ dalam pengobatan tradisional tiongkok. Xiāo Kĕ ditandai dengan kondisi peningkatan asupan makanan dan minuman, peningkatan diuresis, penurunan berat badan, dan urin berbau manis keruh. Kondisi ini terjadi karena kekurangan yin, pola makan tidak teratur, serta kegagalan dalam mengatur emosi dan kelelahan Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes (xiāo kĕ) sindrom panas lambung. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Ndalem PUIN Daun Mas, kota Bekasi, Jawab Barat. Sampel berusia 30-40 tahun dengan terapi akupunktur setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek kadar gula darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: jumlah responden perempuan sebanyak 15 subjek (75 %) dan laki-laki sebanyak 5 subjek (25 %). Mayoritas responden terbanyak adalah perempuan sebanyak 4 subjek (20 %) pada usia 29 tahun. Frekuensi pekerjaan responden 9 karyawan (45 %), 5 wiraswasta (25 %), 5 ibu rumah tangga (25 %), dan 1 mahasiswa (5%). Sebelum dilakukan intervensi mengalami kadar gula darah sebesar 142 mg/dl dan paling rendah sebesar 131 mg/dl dengan rata-rata sebesar 128.00 mg/dl. Setelah dilakukan intervensi mengalami kadar gula darah sebesar 121 mg/dl dan paling rendah sebesar 131 mg/dl dengan rata-rata sebesar 106.00 mg/dl. Kesimpulan: terapi Akupunktur memberikan pengaruh terhadap kadar gula darah pada penderita diabetes (xiāo kĕ) sindrom panas lambung dengan angka penurunan kadar gula darah sebelum intervensi dengan rata-rata 135 mg/dl dan setelah intervensi rata-rata 114.75 mg/dl dengan perbedaan penurunan sebesar 20.30 mg/dl. Hasil uji Paired Sample T-Test dengan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0.000, yang jauh lebih kecil dari ambang batas 0.005. Artinya, hipotesis nol (H₀) ditolak dan hipotesis alternatif (Hₐ) diterima, menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna secara statistik antara kondisi sebelum dan sesudah intervensi.
Efektifitas Akupunktur Pada Penderita Nyeri Punggung Bawah di Klinik Akupunktur Kebun Rumput Cimahi
Latar Belakang: Data WHO (2019) menunjukan bahwa 33% penduduk di negara berkembang mengalami nyeri persisten. Warga negara Inggris yang mengalami nyeri punggung bawah sekitar 17,6 juta orang dan sekitar 1,1 juta mengalami kelumpuhan tungkai bawah akibat nyeri punggung bawah. Sekitar 7,6% sampai 37% keluhan nyeri punggung bawah terjadi di Indonesia. Kondisi yang menurut fungsinya tanpa adanya keluhan sangat memperngaruhi produktivitas. Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT) menyatakan bahwa rasa sakit nyeri punggung bawah disebabkan oleh ketidakharmonisan internal antara yin dan yang, qi dan darah, dan perbedaan dalam lima elemen. Akupunktur dilaksanakan untuk menyeimbangkan antara yin dan yang pada tubuh yang tidak seimbang dari sakit nyeri punggung bawah. Terapi dari akupunktur dapat meningkatkan kualitas hidup individu. Tujuan: penelitian untuk mengetahui manfaat asuhan akupunktur pada penderita nyeri punggung bawah di klinik akupunktur Kebun Rumput, Cimahi, Jawa Barat. Metode: Penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 30 subjek penelitian dari bulan Mei-juni 2025 di klinik Akupunktur Kebun Rumput Cimahi Jawa Barat. Sampel berusia 30-50 tahun dengan terapi Akupunktur seminggu 2 kali sebanyak 6 kali dilakukan test nyeri setelah di lakukan terapi. Hasil: dari 20 responden terpilih mengalami penurunan skala nyeri setelah dilakukan terapi akupunktur selama 6 kali sebanyak 1 subjek (60 %), 1 subjek (66,66 %), 1 subjek (75 %), 1 subjek (80 %), 4 subjek (83,33 %), 1 subjek (85,71 %) 2 subjek (87,5 %), 5 subjek (100 %). Rata-rata mengalami penurunan skala nyeri sebesar 82,35 %. Mekanisme kerja akupunktur terhadap nyeri punggung bawah melibatkan beberapa aspek, termasuk: akupunktur dilakukan dengan memasukkan jarum ke dalam titik-titik tertentu pada tubuh, yang dapat merangsang respons fisiologis, terjadi pelepasan neurotransmitter. Dalam konteks nyeri punggung bawah, akupunktur dapat membantu mengurangi nyeri dan kekakuan dengan cara, yaitu: mengurangi tekanan pada saraf, mengurangi inflamasi dan peradangan, meningkatkan fleksibilitas dan mobilitas, dan mengurangi stres dan kecemasanan. Kesimpulan: Responden mengalami penurunan skala nyeri rata-rata sebesar 82,35 %. Hal ini menunjukkan bahwa akupunktur sangat efektif menurunkan skala nyeri punggung bawah. Penurunan skala nyeri setelah dilakukan terapi akupuntur membuat kualitas hidup penderita meningkat.
Pengaruh Terapi Tui Na Terhadap Perubahan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Tipe-2 (Xiao Ke) Sindrom Panas Lambung
Latar Belakang: Penyakit Diabetes ini merupakan pintu masuk bagi penyakit- penyakit lainnya seperti stroke, penyakit jantung, infeksi kaki, kerusakan kulit atau gangrene yang dapat mengakibatkan amputasi, gagal ginjal dan bahkan disfungsi seksual sekalipun. Terapi tuina merupakan pilihan pengobatan yang aman dan efektif untuk neuropati perifer diabetik. Terapi tuina menunjukkan perbaikan dibandingkan pengobatan rutin, yang menunjukkan manfaat dalam meredakan gejala secara keseluruhan. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi tuina terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (xiāo kĕ) sindrom panas lambung. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre- eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di Yayasan Akupunktur Sumber Sehat, Kota Bandung, Jawa Barat. Sampel berusia 20-30 tahun dengan terapi tuina setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek kadar gula darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: Frekuensi responden paling banyak sebanyak 4 responden (20 %) pada usia 29 tahun. Frekuensi responden paling sedikit sebanyak 1 responden (5%) pada usia 20, 21, 23, 30 tahun. Mayoritas responden merupakan perempuan sebanyak 12 responden (60%) dan berada pada rentang usia produktif, dengan usia terbanyak 29 tahun (20%). Karakteristik subjek sebagai karyawan sebanyak 8 orang (40%) dan pekerjaan paling sedikit sebagai petugas Rumah Sakit sebanyak 2 orang (10 %). Kadar gula darah berkisar antara 131–163 mg/dL sebelum dilakukan intervensi tuina. Frekuensi paling banyak pada ukuran 138, 142, 144, 148 mg/dl (10 %). Sedangkan frekuensi paling sedikit pada penelitian responden. Setelah dilakukan intervensi terdapat perbedaan kadar gula antara 120-149 mg/dl. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Paired Sample T-Test diperoleh hasil terapi akupuntur memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe-2 (xiāo kĕ) dengan sindrom panas lambung dengan nilai signifikansi sebesar 0.000. Kesimpulan: Terapi tuina memberikan pengaruh terhadap kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (xiāo kĕ) sindrom panas lambung dengan angka penurunan kadar gula darah sebelum intervensi dengan rata-rata 145 mg/dl dan setelah intervensi rata-rata 131.30 dengan perbedaan penurunan sebesar 14.00 mg/dl (9.6%).
Pengaruh Terapi Akupunktur Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Sindrom Yang Hati Naik
Latar Belakang: Prevalensi hipertensi di Indonesia sangat besar yaitu sebesar 34,1% berdasarkan survei nasional di 2018 dengan perkiraan menderita hipertensi sekitar 70 juta lebih penduduk Indonesia. Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan suatu keadaan patofisiologis tubuh di mana tekanan darah suatu individu melebihi ambang normal yaitu 120 mmHg tekanan sistolik dan 80 mmHg tekanan diastolik. Hipertensi sindrom yang hati terjadi karena manisfestasi tekanan darah tinggi, sakit kepala di pelipis, mata atau sisi lateral kepala, pusing, tinnitus, tuli, tekanan darah sistolik tinggi, penglihatan kabur, mulut dan tenggorokan kering, insomnia, iritabilitas, mudah lelah, mudah emosi marah, pinggang dan lutut lemah, mudah lupa dan leher kaku. Akupunktur dipercaya dapat menurunkan tekanan darah dengan menyeimbangkan energi Yin dan Yang dalam tubuh. Tujuan: Mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom yang hati naik. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan model one group pre-post test. Sebanyak 30 subjek penderita hipertensi dengan sindrom yang hati naik menjalani terapi akupunktur selama enam hari berturut-turut. Lokasi penelitian di Pusat Kesehatan Devine Healing, Kota Jakarta Pusar selama bulan Januari- Mei 2025.Terapi akupunktur selama 30 menit/sesi selama 6 kali terapi. Titik akupunktur yang digunakan adalah LR 3, GV 20, KI 3, SP 6, dan ST 36. Tekanan darah diukur sebelum dan sesudah terapi. Hasil: Seluruh responden (30 orang) mengalami penurunan tekanan darah sistolik dengan rata-rata sebesar 30,53 mmHg (19.38 %), dari 157,53 mmHg menjadi 127,00 mmHg. Tekanan darah diastolik menurun rata-rata sebesar 8,5 mmHg (8.68%), dari 97,83 mmHg menjadi 89,33 mmHg. Penurunan tekanan darah sistolik lebih besar terjadi pada laki-laki (36 mmHg) dibandingkan perempuan (25,75 mmHg), sedangkan penurunan diastolik lebih tinggi pada perempuan (9,38 mmHg) dibandingkan laki-laki (7,5 mmHg). Berdasarkan usia, penurunan tekanan darah diastolik tertinggi terjadi pada kelompok usia 30–39 tahun (30 mmHg), sedangkan penurunan tekanan darah sistolik terbesar terjadi pada kelompok usia 40–49 tahun (34,11 mmHg). Kesimpulan: ada pengaruh terapi akupunktur terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi sindrom yang hati naik. Terapi akupunktur bisa dijadikan sebagai pendekatan integratif antara ilmu pengobatan kesehatan modern dan tradisional terutama pada penatalaksanaan pengaruh terapi akupunktur terhadap hipertensi sindrom yang hati naik.
Pengaruh Terapi Akunpuktur Terhadap Perubahan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Tipe 2 (Xiao Ke) Sindrom Defisiensi Yin Ginjal
Latar Belakang: Diabetes Melitus (DM) adalah sebuah penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan kadar gula darah tinggi. Hal ini dapat disebabkan oleh karena kekurangan insulin atau resistensi terhadap insulin. Penyakit DM termasuk salah satu penyakit tidak menular. Penyakit ini termasuk kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia. Hiperglikemia yang terjadi akibat dari kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (Xiāo Kĕ) sindrom defisiensi yin ginjal. Metode: penelitian menggunakan jenis kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, one group pre-post test design, teknik purposive sampling sebanyak 20 subjek penelitian dari bulan maret-juni 2025 di , Kota Bekasi, Jawa Barat. Sampel berusia 20-30 tahun dengan terapi Akupunktur setiap hari selama 6 hari dan dilakukan cek kadar gula darah sebelum dan setelah di lakukan terapi. Hasil: subjek penelitian terbanyak berada pada usia 27 tahun (6 subjek = 30 %), terrendah pada usia 22 tahun (1 subjek = 5 %). Distribusi frekuensi dari keseluruhan 20 subjek penelitian menunjukkan bahwa jumlah subjek penelitian perempuan lebih tinggi (13 subjek = 65 %) dibandingkan dengan laki – laki (7 subjek = 35 %). Subjek penelitian terbanyak adalah wiraswasta (11 Subjek = 55 %), karyawan ( subjek = 25 %) dan ibu rumah tangga (4 subjek = 20 %). Kadar gula tertinggi sebelum dilakukan intervensi sebesar 142 mg/dl (2 subjek =10 %) dan paling rendah 128 mg/dl (1 subjek = 5 %). Kadar gula tertinggi setelah dilakukan intervensi sebesar 121 mg/dl (2 subjek =10 %) dan paling rendah 110 mg/dl (2 subjek = 10 %). Penurunan kadar gula terbanyak sebesar 115 mg/dl (4 subjek = 20 %). Kadar gula darah yang mengalami penurunan tertinggi di angka 23 mg/dl sebanyak 3 subjek dengan presentase (15 %), sedangkan terendah diangka 18 mg/dl sebanyak 2 subjek dengan presentase (10 %). Hasil dari uji normalitas dengan shapiro-wilk nilai > dari 0.05 sehingga data diatas berdistribusi normal. Oleh karena itu selanjutnya dilakukan uji t-test. Hasil paired sample t-test terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil sebelum dan setelah dilakukan intervensi yaitu nilai sig. (2-tailed) 0.000 < 0.005. Kesimpulan: Terapi Akupunktur memberikan pengaruh terhadap perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 (Xiāo Kĕ) sindrom defisiensi yin ginjal dengan angka rata-rata penurunan kadar gula darah sebelum intervensi sebesar 136.25 mg/dl dan setelah intervensi sebesar 115.80 mg/dl dengan perbedaan penurunan sebesar 24.45 mg/dl (17.94 %).