Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Koleksi Perpustakaan

Koleksi otomatis dari Perpustakaan

10.659 item publik

Publikasi

Halaman 44 dari 533

Penerang: Pemberdayaan Remaja Putri Melalui Edukasi Kesehatan dan Pemberian Hemoping (Hemoglobin Doping) Sebagai Upaya Mewujudkan Zero New Stunting Generasi Mendatang

Gustav Stevano; Muhamad Rifai; Mutya Faisa Antarini; Raisa Sabira; Yulta Kadang
2026 · Book · Open Access

Latar Belakang: Stunting merupakan masalah gizi yang berdampak jangka panjang terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Salah satu faktor yang berperan adalah anemia pada remaja putri sebagai calon ibu di masa depan. Oleh karena itu, diperlukan intervensi non farmakologis untuk mencegah anemia sejak remaja. Intervensi yang dapat dilakukan adalah edukasi kesehatan mengenai stunting, anemia, gizi seimbang, dan kesehatan reproduksi sebagai upaya mempersiapkan remaja putri memasuki masa kehamilan dan peran sebagai ibu, sehingga risiko stunting dapat dicegah. Selain edukasi, intervensi nonfarmakologis lainnya adalah pemberian makanan tambahan berupa HEMOPING yang kaya zat besi, dari buah naga dan daun kelor. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan menggunakan media audiovisual dan buku saku terhadap peningkatan pengetahuan, serta pengaruh pemberian HEMOPING terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMAN 1 Babelan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre-eksperimental one group pre-test post-test dan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 34 responden yang mendapatkan intervensi edukasi kesehatan dan 24 responden yang mendapatkan intervensi HEMOPING, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Sign Rank. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pengetahuan remaja putri setelah diberikan edukasi kesehatan dengan hasil signifikan (0,003 < 0,05). Intervensi HEMOPING juga menunjukkan pengaruh signifikan terhadap peningkatan kadar hemoglobin (0,000 < 0,05). Kesimpulan: Edukasi kesehatan berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan, dan pemberian HEMOPING berpengaruh terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada remaja putri anemia. Program PENERANG yang mengkombinasikan edukasi kesehatan dan pangan lokal berkontribusi dalam upaya mewujudkan Zero New Stunting pada generasi mendatang.

Efektivitas Isometric Handgrip Exercise Terhadap Penurunan Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik Pada Lansia Dengan Hipertensi di Posyandu Lansia Kemuning Desa Sukahati

Aprilina Sartika; Oktavia Saffitri
2026 · Book · Open Access

Latar Belakang: Lanjut usia merupakan tahap akhir kehidupan yang ditandai dengan penurunan fungsi fisiologis tubuh yang meningkatkan risiko hipertensi akibat berkurangnya elastisitas pembuluh darah. Hipertensi sering kali tidak bergejala, namun berisiko menyebabkan komplikasi serius. Penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan melalui terapi farmakologis dan nonfarmakologis. Namun, terapi farmakologis dalam jangka panjang berisiko menimbulkan efek samping, sehingga diperlukan alternatif terapi nonfarmakologis. Isometrik Handgrip Exercise merupakan salah satu jenis terapi nonfarmakologis yang bekerja melalui kontraksi otot statis untuk meningkatkan shear stress dan merangsang pelepasan nitric oxide (NO), sehingga menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah dan penurunan tekanan darah. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas Isometrik Handgrip Exercise terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik pada lansia dengan hipertensi di Posyandu Lansia Kemuning Desa Sukahati. Metode: Penelitian ini menggunakan Quasi eksperimental designs dengan rancangan one group pre-post pada 20 lansia hipertensi berusia 60–74 tahun (lansia awal). Hasil: Uji Wilcoxon menunjukan nilai (p = 0,001 < 0,05) baik tekanan darah sistolik maupun diastolik. Kesimpulan: Isometrik Handgrip Exercise efektif dalam menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada lansia dengan hipertensi di Posyandu Lansia Kemuning Desa Sukahati.

Hubungan Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kepuasan Pasien di Ruang Gladiol Rawat Inap Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang Kabupaten Bekasi

Prasista Oktavia; Retno Anggraeni Puspita Sari
2026 · Book · Open Access

Latar Belakang: Rumah sakit dituntut untuk memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas sesuai standar minimal kepuasan pasien di atas 95%. Komunikasi terapeutik merupakan instrumen krusial bagi perawat dalam membangun hubungan saling percaya, menyampaikan informasi medis, dan memberikan dukungan emosional yang berdampak langsung pada kenyamanan pasien. Fenomena di Ruang Gladiol RS Sentra Medika Cikarang menunjukkan adanya kesenjangan, di mana skor kepuasan pasien baru mencapai 75,37% dan masih ditemukan keluhan terkait kurangnya penjelasan tindakan oleh perawat. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi gambaran pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat, mengidentifikasi gambaran tingkat kepuasan pasien, serta menganalisis hubungan antara kedua variabel tersebut di Ruang Gladiol Rawat Inap Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang. Metode: Studi ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif analitik menggunakan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan melalui teknik total sampling terhadap 30 responden yang menjalani rawat inap pada Februari 2026. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner komunikasi terapeutik yang telah diuji validitasnya serta kuesioner kepuasan pasien standar rumah sakit. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Analisis univariat menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai komunikasi terapeutik perawat dalam kategori baik (50%) dan memiliki tingkat kepuasan yang tinggi (63,3%). Hasil uji bivariat mengungkapkan adanya hubungan yang signifikan antara pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kepuasan pasien, dengan nilai signifikansi p = 0,001 (p < 0,05$) dan koefisien korelasi (r) sebesar 0,588. Kesimpulan: Terdapat hubungan positif dengan kekuatan korelasi sedang antara komunikasi terapeutik dan kepuasan pasien. Hal ini menginterpretasikan bahwa semakin optimal perawat dalam menjalankan tahapan komunikasi terapeutik—mulai dari prainteraksi hingga terminasi—maka persepsi kepuasan pasien terhadap mutu pelayanan rumah sakit akan semakin meningkat.

Hubungan Faktor Risiko Pola Makan dan Aktivitas Olahraga Dengan Angka Kejadian Penyakit Jantung Koroner di Klinik Jantung RSUD Bayu Asih Purwakarta Tahun 2021

Wisnu Reza Sabara; Yana Setiawan
2026 · Book · Open Access

Penyakit jantung koroner merupakan salah satu penyakit kardiovaskuler yang disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah ateri yang mengalirkan darah ke otot jantung. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor risiko pola makan dan aktivitas olahraga yang berhubungan dengan kejadian penyakit jantung koroner di klinik jantung RSUD Bayu Asih Purwakarta tahun 2021. Metode penelitian yang digunakan deskriptif analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 62 responden, teknik pengumpulan data dengan cara accidental sampling dan alat ukur menggunakan kuesioner. Analisa data yang digunakan adalah uji chi square. Hasil uji statistik pola makan dengan kejadian penyakit jantung koroner diperoleh P value = 0,000 dengan OR 13,750, 95% CI (2696-70.118). Hasil uji statistik aktivitas olahraga dengan kejadian penyakit jantung koroner diperoleh P value = 0,799 dengan OR 1,152, 95% CI (413-3.281). Dari hasil diatas menunjukan bahwa ada hubungan signifikan antara pola makan dengan kejadian PJK di Klinik Jantung RSUD Bayu Asih Purwakarta dan tidak ada hubungan signifikan aktivitas olahraga dengan kejadian PJK di Klinik Jantung RSUD Bayu Asih. Saran bagi perawat untuk meberikan penyuluhan kesahatan tentang pola makan dan aktivitas olahraga pada pasien jantung koroner dengan menggunakan leaflet dan lembar balik, sehingga pasien mengetahui bahwa kebiasaan pola makan yang baik dan aktivitas olahraga rutin dapat mencegah terjadinya PJK.

Pengaruh Kebiasaan Sarapan Pagi Telur Ayam Rebus Terhadap Kejadian Anemia Pada Siswi di MAN 1 Kabupaten Bekasi

Aditya Kusuma Wijaya Satya Pratama; Mila Sartika
2026 · Book · Open Access

Latar Belakang: Anemia merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin berada di bawah nilai normal dan menjadi masalah kesehatan yang masih banyak ditemukan pada remaja putri. Kondisi ini dipengaruhi oleh kehilangan darah saat menstruasi, pola makan yang tidak seimbang, serta kebiasaan melewatkan sarapan pagi. Data Puskesmas Cikarang Utara tahun 2025 menunjukkan bahwa 114 dari 482 siswi di MAN 1 Kabupaten Bekasi mengalami anemia. Salah satu upaya nonfarmakologis yang mudah diterapkan adalah pembiasaan sarapan pagi dengan telur ayam rebus yang mengandung protein, zat besi, vitamin B12, dan asam folat yang berperan penting dalam proses pembentukan hemoglobin. Tujuan: Mengetahui pengaruh kebiasaan sarapan pagi telur ayam rebus terhadap kejadian anemia pada siswi di MAN 1 Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretest–posttest. Sampel berjumlah 64 siswi yang memenuhi kriteria inklusi. Intervensi berupa sarapan pagi telur ayam rebus diberikan selama tujuh hari berturut-turut. Pengukuran kadar hemoglobin dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan alat pemeriksaan Hb. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Universitas Medika Suherman dengan Nomor Surat NO.005220/UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN/2025. Hasil: Sebelum intervensi, 41 siswi (64,1%) berada pada kategori anemia dan 23 siswi (35,9%) tidak anemia. Setelah intervensi, jumlah siswi tidak anemia meningkat menjadi 53 orang (82,8%), sedangkan 11 siswi (17,2%) masih anemia. Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan kadar hemoglobin yang bermakna secara statistik (Z = –6,192; p = 0,000). Kesimpulan: Sarapan pagi telur ayam rebus berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kadar hemoglobin dan penurunan kejadian anemia pada siswi di MAN 1 Kabupaten Bekasi.

Pengaruh Mengonsumsi Jus Bayam Merah dan Kurma Terhadap Kadar Hemoglobin Pada Siswi yang Mengalami Anemia di MAN 1 Kabupaten Bekasi Tahun 2025

Maulida Fatimah Lestari; Mila Sartika
2026 · Book · Open Access

Latar Belakang: Anemia merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin berada di bawah batas normal dan sering dialami remaja putri akibat menstruasi, kurangnya asupan zat besi, serta pola makan tidak seimbang. Data Puskesmas Cikarang tahun 2025 menunjukkan bahwa 114 dari 482 siswi di MAN 1 Kabupaten Bekasi mengalami anemia. Upaya penanganan dapat dilakukan melalui intervensi nonfarmakologis berbasis pangan lokal. Bayam merah dan kurma mengandung zat besi, folat, dan vitamin C yang berperan dalam pembentukan hemoglobin. Tujuan: Mengetahui pengaruh konsumsi jus bayam merah dan kurma terhadap kadar hemoglobin pada siswi anemia. Metode: Penelitian menggunakan desain preeksperimental dengan pendekatan one group pretest–posttest. Sampel berjumlah 53 siswi dengan kadar hemoglobin <12 g/dL. Intervensi jus bayam merah dan kurma diberikan sekali sehari selama tujuh hari berturut-turut. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dan penelitian telah memperoleh persetujuan etik. Hasil: Sebelum intervensi seluruh responden (100%) mengalami anemia. Setelah intervensi, 47 siswi (88,7%) mencapai kategori tidak anemia dan 6 siswi (11,3%) masih anemia. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p<0,05 sehingga terdapat peningkatan kadar hemoglobin yang signifikan. Kesimpulan: Konsumsi jus bayam merah dan kurma berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada siswi anemia. Saran: Sekolah dan tenaga kesehatan diharapkan meningkatkan edukasi gizi serta mendorong konsumsi pangan kaya zat besi pada remaja putri.

Hubungan Perilaku Self-Management Dengan Kadar Gula Darah Pada Pasien Rawat Jalan Diabetes Melitus Tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas Sukatani Kabupaten Purwakarta Tahun 2021

Aprilina Sartika; Bachtiar Rizal Nuralim
2026 · Book · Open Access

Prevalensi Diabetes Melitus (DM) didiagnosis dokter penduduk umur > 15 tahun di Provinsi Jawa Barat sebanyak 1,7 %, sedangkan di Kabupaten Purwakarta sebanyak 1,81 % (Riskesdas Prov. Jawa Barat, 2018). Berapa masalah yang dapat timbul pada pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 ini dapat dikendalikan apabila pasien dapat menerapkan perilaku manajemen diri (self management) pada penyakitnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku self management dengan kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus Tipe 2. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien rawat jalan DM tipe 2 di Wilayah Puskesmas Sukatani pada Bulan Desember tahun 2020 sebanyak 92 orang. Jumlah sampel yang didapatkan dari hasil perhitungan adalah 48 pasien. Instrumen yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data variabel adalah kuesioner SDSCA (The Summary of Diabates Self-Care Activities. Analisis yang digunakan adalah uji statistik uji Chi-Square dengan derajat kepercayaan 95% ( α =0,05). Hasil penelitian membuktikan terdapat hubungan antara pola makan (p value = 0,003), aktifitas fisik (p value = 0,01), perawatan kaki (p value = 0,015), dan minum obat(p value = 0,02). Aktivitas self manajement secara rutin maka hal ini mampu memelihara kadar glukosa darah dalam rentang normal dan juga dapat mencegah untuk terjadinya komplikasi seperti penyakit jantung, gagal ginjal, stroke, kebutaan dan lain-lain, sehingga memang benar bahwa aktivitas self manajement ini memang mempunyai peranan yang sangat penting dalam pengelolaan penyakit diabetes.

Hubungan Dukungan Ibu Dengan Kesiapan Remaja Putri Menghadapi Menarche Pada Siswi Kelas VI di SDN Cileduk 03 Kabupaten Bekasi

Laeli Sabita; Yulidian Nurpratiwi
2026 · Book · Open Access

Masa remaja adalah periode transisi perkembangan dari masa anak-anak menuju dewasa,.yang ditandai dengan mulai berfungsinya organ reproduksi. Pada remaja putri, salah satu tandanya adalah menstruasi. Ketidaksiapan remaja.putri ketika menghadapi.menarche dapat dipengaruhi.oleh beberapa faktor, diantaranya keterbatasan informasi serta kurangnya dukungan dari ibu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui.hubungan dukungan ibu dengan kesiapan remaja putri menghadapi menarche pada siswi di SDN Ciledug 03. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif dengan pendekatan crossectional menggunakan desain penelitian korelasional. sampel pada penelitian ini sebanyak 72 siswi yang dihitung menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu kuesioner dukungan ibu dan kesiapan remaja menghadapi menarche. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Universitas Medika Suherman (No;005215/UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN/2025). Data dianalisis menggunakan uji spearman rank test didapatkan hasil signifikansi atau sig-2 tailed 0,000<0,05 yang berarti adanya hubungan antara Dukungan Ibu Dengan Kesiapan Remaja Putri Menghadapi Menarche dengan arah hubungan positif serta kekuatan hubungan 0,699 yang dapat diartikan hubungan kuat. Diharapkan remaja putri dapat meningkatkan kesiapan dalam menghadapi menarche, sementara ibu diharapkan memberikan dukungan dan informasi yang tepat guna mendukung kesiapan remaja.

Hubungan Tingkat Stres Dengan Keparahan Gejala Premenstrual Syndrome (PMS) Pada Siswi SMA Negeri 1 Cikarang Utara

Afina Ahshaina Nuri; Yulidian Nurpratiwi
2026 · Book · Open Access

Latar Belakang: Premenstrual syndrome (PMS) merupakan kumpulan gejala yang muncul 2–14 hari sebelum menstruasi dan dialami sekitar 90% perempuan usia reproduktif. Salah satu faktor yang memengaruhi PMS adalah stres, terutama pada remaja putri SMA yang rentan mengalami tekanan akademik. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan keparahan gejala PMS pada siswi SMA Negeri 1 Cikarang Utara. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dan desain penelitian analitik korelasional. Sampel penelitian ini sebanyak 282 siswi dihitung menggunakan rumus slovin dengan teknik sampling proportionate stratified random sampling. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner DASS-Y dan SPAF. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Universitas Medika Suherman (No: 005143/UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN/2025). Hasil: Uji korelasi Spearman diperoleh nilai sig. (2-tailed) = 0,000 < 0,05 dan correlation coeffisien sebesar 0,555. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat stres dengan keparahan gejala PMS pada siswi SMA Negeri 1 Cikarang Utara dengan kategori kekuatan hubungan kuat dan arah positif. Saran: Remaja putri diharapkan dapat memahami hubungan tingkat stres dengan keparahan gelaja PMS, sehingga mampu mengendalikan stres dan mengatur gaya hidup sehat, sedangkan peneliti selanjutnya dapat menambahkan variabel kondisi fisik dan gaya hidup dengan metode lebih beragam untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam.