COLLECTION
Koleksi Perpustakaan
Koleksi otomatis dari Perpustakaan
Publikasi
Jurnal Gizi dan Pangan
Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Perilaku Perawatan Kaki Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II yang Memiliki Ulkus Diabetikum di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang
Latar Belakang : Diabetes Melitus tipe II merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia dan dapat menyebabkan berbagai komplikasi, salah satunya adalah ulkus diabetikum. Perawatan kaki yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko ulkus diabetikum, yang berpotensi menyebabkan amputasi dan penurunan kualitas hidup pasien. Tujuan Penelitian : Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku perawatan kaki pada pasien Diabetes Melitus tipe II dengan ulkus diabetikum di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 60 pasien Diabetes Melitus tipe II yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner Nottingham Assessment of Functional Footcare (NAFF), kuesioner Hensarling Diabetes Family Support Scale (HDFSS), dan kuesioner Diabetic Foot Care Knowledge Scale (DFKS). Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara penghasilan, dukungan keluarga, edukasi, dan perilaku perawatan kaki pasien Diabetes Melitus Tipe II dengan ulkus diabetikum (p-value <0.05). Pasien dengan tingkat penghasilan tinggi, dukungan keluarga yang baik, dan edukasi yang memadai cenderung memiliki perilaku perawatan kaki yang lebih baik. Simpulan : Perilaku perawatan kaki yang baik memiliki peran penting dalam mencegah ulkus diabetikum pada pasien Diabetes Melitus Tipe II. Edukasi dan intervensi mengenai perawatan kaki perlu ditingkatkan untuk mengurangi risiko komplikasi ulkus diabetikum dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Hubungan Kepatuhan Tranfusi Darah Terhadap Peningkatan Feritin Pada Pasien Thalasemia Mayor di Unit Thalasemia RS Sentra Medika Cikarang
Permasalahan: Thalasemia mayor adalah penyakit kronis yang mempunyai kelainan perkembangan sel darah merah yang menyebabkan usia sel darah merah kurang dari 120 hari. Penderita thalasemia mayor harus melakukan tranfusi darah secara rutin namun akan berakibat meningkatnya zat besi dalam tubuh di tandai dengan hasil pemeriksaan feritin yang tinggi. Kadar feritin kurang dari 1000 ng/ml tidak beresiko dibanding kadar feritin lebih dari 1000 ng/ml yang beresiko terjadinya siderosis pada hati. Tujuan: untuk menganalisa hubungan kepatuhan tranfusi darah terhadap peningkatan feritin pada pasien thalasemia mayor di unit thalasemia RS Sentra Medika Cikarang. Metode: yang digunakan adalah perhitungan kuantitatif dengan dengan pendekatan metode cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Unit Thalasemia RS Sentra Medika Cikarang dengan populasi dalam penelitian ini pada anak dan remaja sebanyak 64 responden menggunakan tekhnik total sampling. Dengan menggunakan lembar observasi data rekam medis hasil pemeriksaan feritin dan kunjungan tranfusi darah. Hasil: Hasil analisa data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi square didapatkan bahwa terdapat hubungan antara kepatuhan tranfusi darah terhadap peningkatan feritin pada pasien thalasemia mayor didapat p-value = 0,039 ( < nilai a = 0,05 ). Kesimpulan: terdapat hubungan yang signifikan terhadap kepatuhan tranfusi darah terhadap peningkatan feritin pada pasien thalasemia mayor di unit thalassemia RS Sentra Medika Cikarang. Saran : Untuk pelayanan diharapkan hasil penelitian ini dapat menngkatkan pelayanan kepada pasien dan orang tua penderita thalasemia.
Jurnal Gizi Indonesia
Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) Dengan Aktivitas Fisik Pada Anak Sekolah Dasar Negeri Suka Asih 02 di Wilayah Ceger Kabupaten Bekasi
Kenaikan Indeks Massa Tubuh (IMT) disebabkan oleh ketidakseimbangan antara jumlah energi yang masuk melalui makanan dan energi yang dikeluarkan, yang akhirnya menyebabkan penumpukan energi dalam bentuk lemak. Kondisi ini dapat berujung pada obesitas atau peningkatan IMT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan hubungan antara IMT dan aktivitas fisik pada siswa di Sekolah Dasar Negeri Suka Asih 02, Ceger, Kabupaten Bekasi. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian observasional analitik menggunakan metode cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 40 siswa yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara dan kuesioner aktivitas fisik (PAQ-C), dan dianalisis dengan Uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 65% responden masuk dalam kategori underweight, sementara 82,5% memiliki tingkat aktivitas fisik yang baik. Uji Spearman menghasilkan nilai p = 0,001, yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara aktivitas fisik dan IMT dan memiliki hubungan korelasi rho yang cukup dengan nilai -0,496. Kesimpulan penelitian ini bahwa sebagian besar anak di SDN Suka Asih 02 tergolong underweight, meskipun aktivitas fisik mereka baik. Oleh karena itu, disarankan orang tua untuk memperhatikan pola makan dan mendorong aktivitas fisik anak, pendidik untuk mengedukasi siswa tentang kesehatan dan peneliti melakukan studi lebih lanjut dengan variabel dan responden yang lebih bervariasi.
Hubungan Antara Paparan Cahaya Biru Pada Perangkat Elektronik dan Tingkat Stres Dengan Kualitas Tidur Pada Remaja di SMA Negeri 1 Pebayuran Kabupaten Bekasi
Pendahuluan: Penggunaan gadget sebelum tidur dapat mengganggu siklus tidur yang dimana ini berdampak negatif pada kualitas tidur bahkan dapat menyebabkan gangguan tidur. Stres juga adalah salah satu faktor yang berkontribusi terhadap gangguan tidur individu, di mana peningkatan hormon dapat memengaruhi sistem saraf pusat. Metode: Metode kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain observasional analitik yang menggunakan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel non-probability menggunakan pendekatan purposive. Hasil: Hasil uji kualitas tidur buruk sebanyak 120 (63,5%), kualitas tidur baik 69 (36,5%), paparan cahaya biru tingkat rendah 59 (31,2%), paparan cahaya biru tingkat tinggi 130 (68,8%), tingkat stres berat 102 (54 %), tingkat stres ringan 7 (3,7 %) dan tingkat stres sedang 80 (42,3 %). Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara paparan cahaya biru dan tingkat stres dengan kualitas tidur (p-value < 0,05). Diskusi: Kualitas tidur remaja dapat terganggu karena banyaknya faktor yang mempengaruhi, seperti paparan cahaya biru dari layar smartphone dan tingkat stres, dimana faktor tersebut sangat berpengaruh dalam kualitas tidur menjadi tidak optimal. Kesimpulan: Penggunaan perangkat elektronik yang terlalu lama dapat meningkatkan tingkat stres dan menurunkan kualitas tidur remaja sehingga pentingnya pengelolaan paparan cahaya biru serta pengurangan faktor stres untuk menjaga kualitas tidur yang baik pada remaja.
Pengaruh Terapi Bermain Paper Toys Terhadap Peningkatan Perkembangan Motorik Halus Anak Retardasi Mental di SDLB Ananda Mandiri Tambun Kabupaten Bekasi
Latar Belakang : Retardasi mental adalah kondisi di mana individu memiliki tingkat intelegensi di bawah ratarata, yang berdampak pada berbagai aspek perkembangan, termasuk kemampuan motorik halus. Penelitian ini penting karena gangguan perkembangan motorik sering disebabkan oleh hambatan dalam proses belajar, yang dapat membuat anak malas menulis, kurang minat belajar, dan mengalami dampak negatif pada kepribadian mereka. Untuk merangsang perkembangan motorik halus, terapi bermain dengan paper toys dipilih sebagai intervensi. Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre-eksperimental one group pretest-posttest, melibatkan 37 anak dengan retardasi mental dari SDLB Ananda Mandiri Tambun, Kabupaten Bekasi. Perkembangan motorik halus diukur sebelum dan sesudah intervensi. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor meningkat dari 20,16 menjadi 26,43, dengan uji Wilcoxon Signed-Rank menghasilkan nilai p < 0,001. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa terapi bermain dengan paper toys terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan motorik halus anak-anak dengan retardasi mental.
Hubungan Stunting Dengan Perkembangan Motorik Kasar, Motorik Halus, Bahasa dan Bicara, Sosialisasi dan Kemandirian Usia Batita di Puskesmas Cikarang Utara Kabupaten Bekasi
Kejadian stunting merupakan permaslash perkembangan yang di sebabkan oleh kekurangan gizi kronis atau malnutrisi, di tandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dari anak seusianya, kondisi ini menjadi permaslah serius karena berkaitan dengan peningkatan resiko penyakit dan tingginya angka kemantian. Dampak jangka Panjang dapat berpengaruh negatif terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara stunting dengan perkembangan motorik kasar, motorik halus, bahasa dan bicara, sosialisasi dan kemandirian pada anak usia batita di wilayah kerja Puskesmas Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional serta pendekatan cross-sectional. Adapun populasi dalam penelitian ini mencakup anak batita dengan total sebanyak 1.945 anak batita. Berdasakan penerapan rumus slovin jumlah sampel yang di tentukan dalam penelitian ini adalah 96 anak batita, yang diambil melalui metode non-probabilitasdengan Teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner KPSP. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Dari hasil analisis uji statistik chi-square variabel perkembangan motorik kasar dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,028, PR 1483, CI 1,042-2.109, CC 0.240. Variabel perkembangan morotik halus dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,020, PR 1.580. CI 1.070-2.335, CC 0,251. Variabel perkembangan bahasa dan bicara dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,022, PR 1.435. CI 1.048-1.996, CC 0,248. Variabel perkembangan sosialisasi dan kemandirian dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,044, PR 1.448. CI 1.015-2.066, CC 0,222. Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara variabel stunting dengan perkembangan motorik halus, motorik kasar, Bahasa dan bicara, sosialisasi dan kemandirian.
Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Perilaku SADARI Sebagai Deteksi Dini Kanker Payudara Pada Remaja Putri di SMA Nurul Yaqin Kabupaten Bekasi
Latar Belakang: Kanker payudara, sejenis tumor ganas yang bermula di jaringan payudara, merupakan pembunuh utama wanita di seluruh dunia. Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) merupakan cara yang mudah, murah, dan non-invasif untuk menemukan tanda-tanda kanker payudara sejak dini. Meskipun demikian, hanya sedikit wanita muda yang mengetahui atau menggunakan SADARI. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku SADARI pada remaja putri di SMA Nurul Yaqin Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif desain cross-sectional dengan teknik total sampling, melibatkan 35 siswi kelas X hingga XII sebagai responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang mengukur pengetahuan, sikap, paparan informasi, dukungan keluarga, dan dukungan tenaga kesehatan terkait SADARI. Hasil Penelitian: Pengetahuan (nilai-p = 0,003, OR = 13,500), sikap (nilai-p = 0,005, OR = 8,250), paparan terhadap informasi (nilai-p = 0,027, OR = 6,476), dukungan keluarga (nilai-p = 0,008, OR = 10,286), dan dukungan layanan kesehatan (nilai-p = 0,046) semuanya berhubungan secara signifikan dengan perilaku BSE, menurut data tersebut. Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-Square untuk tujuan statistik. Tidak ada korelasi yang signifikan secara statistik antara usia dan perilaku BSE (nilai-p = 0,565, OR = 2,923), menurut tinjauan tersebut. Kesimpulan: Hasil penelitian ini menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap, keterpaparan informasi, dukungan keluarga, dan dukungan tenaga kesehatan dengan perilaku SADARI pada remaja putri. Saran: Peneliti selanjutnya diharapkan bisa meningkatkan populasi yang lebih luas, dan dapat memperbanyak faktor yang akan diteliti.
Hubungan Pola Asuh dan Pola Komunikasi Verbal Orang Tua Dengan Risiko Keterlambatan Perkembangan Bahasa Pada Anak Prasekolah Usia 3-6 Tahun di RA Bustanul Aulad Bekasi
Latar belakang kesulitan anak saat berbicara, kerap dikaitkan terhadap pola pengasuhan yang diterapkan orang tuanya sebagai pendukung utama tumbuh kembang anak, orang tua yang konsisten berkomunikasi menciptakan peluang belajar bagi anak melalui interaksi yang penuh perhatian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara pola asuh serta pola komunikasi verbal orang tua dengan risiko keterlambatan perkembangan bahasa pada anak prasekolah berusia 3-6 tahun di RA Bustanul Aulad Bekasi. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Teknik pengambilan sampel yang diterapkan yakni total sampling, sejumlah 39 responden. Adapun populasi penelitian ini meliputi seluruh orang tua di RA Bustanul Aulad. Hasil penelitian dari uji Chi-Square untuk variabel pola asuh dengan nilai p-value 0.019 (p<0.05) dan variabel pola komunikasi verbal dengan nilai p-value 0.000 (p<0.05). Hasil penelitian ini memperlihatkan keterkaitan antara pola asuh serta pola komunikasi verbal orang tua dengan risiko keterlambatan perkembangan bahasa pada anak prasekolah berusia 3-6 tahun di RA Bustanul Aulad Bekasi. Saran dari penelitian ini yaitu pentingnya stimulasi bahasa anak melalui interaksi sehari-hari, penggunaan materi visual, dan metode bermain dalam pembelajaran. Pendekatan ini dapat membantu meningkatkan perkembangan bahasa anak secara lebih efektif dan menyenangkan.
Pengaruh Penggunaan Media Platform Tik Tok Sebagai Edukasi Terhadap Pengetahuan dan Sikap Tentang Pencegahan Anemia Pada Remaja Putri di SMPN 8 Cibitung Kabupaten Bekasi
Anemia adalah kondisi saat sel darah merah dan hemoglobin kurang dari normal, yang sering terjadi pada remaja putri, akibat kurangnya pengetahuan dan sikap yang mendukung pencegahannya. Edukasi yang efektif melalui platform populer seperti Tik Tok dipilih sebagai pendekatan menarik untuk meningkatkan kesadaran pencegahan anemia. Tujuan penelitian guna mengetahui pengaruh media platform Tik Tok pada pengetahuan dan sikap pencegahan anemia. Metode penelitian ini quasi-experiment, serta populasi adalah siswi SMPN 8 Cibitung berjumlah 130 dengan sampel 60 siswi kelas 8 yang dibagi masing-masing untuk setiap kelompok 30 orang. Variabel independen adalah media edukasi Tik Tok (audio-visual & visual), sedangkan variabel dependen adalah pengetahuan dan sikap tentang pencegahan anemia. Pengukuran menggunakan kuesioner pre-test dan post-test. Hasil analisis data kuantitatif menggunakan Paired Sample T-test menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan terhadap peningkatan tingkat pengetahuan dan sikap tentang pencegahan anemia ρ-value (0,000) < 0,05. Independent Sample T-test menunjukkan perbedaan signifikan ρ-value (0,000) < 0,05 antara kelompok yang diberikan edukasi video dan poster. Kesimpulan terdapat pengaruh penggunaan media platform Tik Tok sebagai edukasi terhadap pengetahuan dan sikap tentang pencegahan anemia pada remaja putri. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan bagi remaja putri di SMPN 8 Cibitung dan dijadikan acuan untuk menangani penanggulangan dan pencegahan anemia.
Efektivitas Edukasi Menggunakan Pamflet dan Media Video Terhadap Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang SADARI di SMAN 3 Tambun Selatan Tahun 2024
Remaja adalah periode transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa, di mana mereka sering menghadapi berbagai isu kesehatan, termasuk risiko kanker payudara. Minimnya pengetahuan remaja mengenai pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) menjadi fokus utama penelitian ini. Edukasi tentang SADARI sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja dalam deteksi dini kanker payudara. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi efektivitas edukasi menggunakan pamflet dan media video terhadap tingkat pengetahuan remaja putri tentang SADARI di SMAN 3 Tambun Selatan. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan quasi-experimental dan desain two-group pre-post test. Populasi penelitian terdiri dari 598 remaja putri, dengan teknik total sampling yang melibatkan 592 responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner pengetahuan. Hasil uji non-parametrik Wilcoxon menunjukkan nilai signifikansi (sig.) sebesar 0.000, yang mengindikasikan adanya efektivitas edukasi SADARI menggunakan pamflet dan media video terhadap tingkat pengetahuan remaja. Sebagian besar remaja kurang peduli terhadap kesehatan payudara. Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk menjadikan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) sebagai kebiasaan rutin dalam memantau kesehatan payudara mereka. Dengan demikian, edukasi yang tepat dapat meningkatkan kesadaran dan tindakan preventif di kalangan remaja
Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Remaja Terhadap Kejadian Merokok Pada Siswa SMA Negeri 3 Tambun Selatan Tahun 2025
prevalensi kebiasaan merokok perhatian serius pada perokok laki – laki dewasa didunia sebesar 35,7% didunia, sedangkan di Indonesia mencapai 62,9%. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan pengetahuan dan perilaku remaja terhadap kejadian merokok pada siswa SMA Negeri 3 Tambun Selatan 2025. Penelitian ini berjenis kuantitatif dengan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan coss sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa Laki – laki SMAN 3 Tambun Selatan yang berjumlah 452 siswa, ditentukan sampel siswa sebanyak 440 responden. Penelitian ini dilaksanakan tanggal 31 Januari 2025. Hasil penelitian ini dianalisis menggunakan uji Chi square dengan menunjukan terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kejadian merokok dengan p-value = 0,005 (<0,05), dan terdapat hubungan antara Perilaku dengan kejadian merokok dengan p-value = 0,000 (<0,05). Kesimpulannya, pengetahuan dan perilaku remaja berpengaruh terhadap kebiasaan merokok. Oleh karena itu, edukasi mengenai bahaya merokok perlu ditingkatkan di sekolah guna menekan angka merokok di kalangan remaja.
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Dengan Metode Audio Visual Terhadap Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pencegahan Ketuban Pecah Dini (KPD) di Puskesmas Tambelang
Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dari pendidikan kesehatan metode audio visual tentang pencegahan KPD terhadap pengetahuan Ibu Hamil. Metode penelitian yang digunakan ialah pre eksperimen dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Populasi dalam penelitian ini adalah 135 responden pada ibu hamil, sampel yang digunakan sebanyak 57 responden pada ibu hamil, menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner. Hasil penelitian pre test menunjukan bahwa ibu hamil yang memiliki pengetahuan baik 57,9%, Sedangkan hasil post test ibu hamil yang memiliki pengetahuan baik 93%, dengan nilai P value 0,000 < 0,05, menunjukan bahwa terdapat pengaruh pendidikan kesehatan metode audio visual terhadap pengetahuan ibu hamil tentang pencegahan KPD. Dengan adanya penelitian ini diharapkan berkembangnya tingkat pelayanan dibidang keperawatan maternitas khususnya dalam mencegah terjadinya KPD pada ibu hamil secara dini.
Pengaruh Jalan Kaki Terhadap Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik Pada Pasien Lansia Penderita Hipertensi di Sentra Terpadu Pangudi Luhur Bekasi Tahun 2025
Hipertensi merupakan kondisi kronis yang umum terjadi pada kelompok lanjut usia dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius seperti gangguan jantung, stroke, penyakit pembuluh darah tepi, serta kerusakan retina mata yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan (Kemenkes, 2022). Aktivitas jalan kaki secara rutin terbukti mampu membantu mencegah, mengontrol, dan menstabilkan tekanan darah, baik sistolik maupun diastolik, pada lansia pengidap hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh aktivitas jalan kaki terhadap tekanan darah lansia penderita hipertensi di Sentra Terpadu Pangudi Luhur, Bekasi, pada tahun 2025. Pendekatan penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan quasi experimental model one group pre-test and post-test. Sampel terdiri dari 80 orang lansia yang memiliki riwayat hipertensi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon, yang menampilkan adanya perbedaan signifikan antara nilai tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi, dengan hasil p = 0,002 untuk sistolik dan p = 0,000 untuk diastolik (p < 0,05), sehingga hipotesis dinyatakan diterima. Dari temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa jalan kaki secara teratur memberikan dampak positif terhadap penurunan tekanan darah pada lansia. Disarankan agar lansia melakukan jalan kaki minimal tiga kali seminggu selama 30 menit untuk membantu menjaga kestabilan tekanan darah mereka.
Hubungan Komunikasi Terapeutik Dengan Tingkat Kepuasan Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Ruang Rawat Interna Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang
Angka kejadian diabetes melitus tipe 2 (DMT2), suatu kondisi kronis, terus meningkat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana keterampilan komunikasi terapeutik perawat di Unit Perawatan Internal RS Sentra Medika memengaruhi kebahagiaan pasien diabetes tipe 2. Enam puluh pasien dipilih secara acak dari sekumpulan calon partisipan dalam penelitian kuantitatif ini yang menggunakan pendekatan cross-sectional. Kuesioner digunakan untuk pengumpulan data, dan uji chi-square digunakan untuk analisis. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara komunikasi terapeutik dan kepuasan pasien (p = 0,029), dengan Prevalence Ratio (PR) 2,045 (Confidence Interval (CI) 1,143–3,660) serta Correlation Coefficient (CC) 0,301, yang mengindikasikan hubungan rendah. Kesimpulannya, komunikasi terapeutik yang efektif berkontribusi secara positif terhadap peningkatan kepuasan pasien DMT2.
Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang Stunting Dengan Perilaku Pencegahan Stunting Pada Anak (0-5 Tahun) di Posyandu Wilayah Puskesmas Cikarang
Stunting adalah kondisi pertumbuhan anak terhambat sehingga menyebabkan tinggi badan lebih rendah disandingkan dengan umurnya. WHO (2022) menyatakan 148,1 juta (22,3%) balita mengalami stunting. Prevalensi stunting tahun 2022 pada balita di Indonesia 21,6%, di Jawa Barat 20,2%, dan tahun 2024 di Posyandu Wilayah Puskemas Cikarang 3,6%. Pengetahuan seorang ibu mengenai stunting memiliki pengaruh dalam membentuk perilaku yang mendukung pencegahan stunting dan memastikan anak mendapatkan asupan nutrisi yang seimbang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan ibu mengenai stunting dengan perilaku pencegahannya di anak usia 0-5 tahun di Posyandu wilayah Puskesmas Cikarang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 99 ibu dengan anak usia 0-5 tahun, yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner guna mengukur tingkat pengetahuan dan perilaku pencegahan. Analisis data dilaksanakan menggunakan uji Chi square. Hasil penelitian mengindikasikan adanya hubungan antara pengetahuan ibu mengenai stunting dan upaya pencegahannya, bernilai p = 0,018 (p≤0,05) dan Odds Ratio 2,935. Temuan ini menemukan bahwa tingkat pengetahuan ibu berpengaruh terhadap perilaku pencegahan stunting anak usia 0-5 tahun di Posyandu wilayah Puskesmas Cikarang.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Berhenti Merokok Pada Remaja di RW 02 Desa Pantai Sederhana Kabupaten Bekasi
Merokok merupakan kebiasaan yang berisiko tinggi bagi kesehatan dan menjadi salah satu penyebab utama penyakit serius seperti kanker dan gangguan kardiovaskular. Remaja menjadi kelompok yang rentan terhadap perilaku merokok akibat pengaruh lingkungan dan kurangnya kesadaran akan dampaknya. Tujuan penelitian: Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi motivasi berhenti merokok pada remaja Pesisir Pantai Sederhana, Kabupaten Bekasi. Metodologi penelitian: Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan deskriptif korelasi dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 81 remaja laki-laki perokok yang dipilih melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian: Menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p=0,334) dan persepsi (p=1,000) dengan motivasi berhenti merokok (p>0,05). Namun terdapat hubungan yang signifikan antara orang terdekat (keluarga) (p=0,001) dan lingkungan teman sebaya (p=0,000) dengan motivasi berhenti merokok (p<0,05). Saran: Dari penelitian ini menegaskan bahwa dukungan sosial dari orang-orang terdekat, terutama keluarga dan teman sebaya, memiliki peran penting dalam meningkatkan motivasi remaja untuk berhenti merokok. Oleh karena itu, intervensi berbasis dukungan sosial dapat menjadi strategi efektif dalam upaya pencegahan dan penghentian merokok dikalangan remaja Pesisir Pantai Sederhana.
Hubungan Aktivitas Fisik Terhadap Nyeri Kepala Pada Pasien Lansia Dengan Hipertensi di Puskesmas Kecamatan Kedung Waringin
Latar belakang : Aktivitas fisik dengan nyeri kepala pada hipertensi yang menyebabkan pembuluh darah menyempit akibatnya jaringan mengalami penurunan kadar oksigen (O2) dan peningkatan karbon dioksida (CO2) terjadinya proses metabolisme anaerob. Tujuan : Mengetahui Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Nyeri Kepala Pada Pasien Lansia Hipertensi Di Puskesmas Kecamatan Kedungwaringin. Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik sampling yang digunakan teknik total sampling dengan jumlah 91 responden pada lansia 55-90 tahun. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner aktivitas dengan nyeri pada pasien lansia. Hasil Penelitian : Berdasarkan aktivitas fisik dan intensitas nyeri paling banyak yaitu aktivitas fisik sedang 31 responden (88,6%) mengalami nyeri sedang. Tidak ada aktivitas fisik sedang mengalami nyeri berat. Selanjutnya aktivitas fisik berat yakni 25 responden (100%) mengalami nyeri ringan. Hasil penelitian dari uji Chi-Square didapatkan adanya Hubungan Aktivitas Fisik Terhadap Nyeri Kepala Pada Pasien Lansia dengan nilai p-value 0,000 (p<0,05). Kesimpulan : Adanya Hubungan Aktivitas Fisik Terhadap Nyeri kepala Pada Pasien Lansia di Puskesmas Kecamatan Kedungwaringin.