Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Koleksi otomatis dari Skripsi/Tugas Akhir

579 item publik

Publikasi

Halaman 18 dari 29

HUBUNGAN LEVEL AKTIVITAS FISIK DENGAN KEJADIAN LOW BACK PAIN PADA TENAGA KEPENDIDIKAN DI PERGURUAN TINGGI SEKOLAH ILMU KESEHATAN CIREBON TAHUN 2024

ENENG RAHMAWATI
2024 · Thesis · Open Access

Low Back Pain (LBP) adalah gangguan nyeri yang bersumber dari tulang belakang, saraf dan otot pada punggung bagian bawah. Terdapat 60 – 80% populasi di dunia terdampak LBP selama hidupnya. Penderita low back pain juga mengalami gangguan kemampuan fungsional. Beberapa faktor yang berhubungan dengan kejadian LBP meliputi karakteristik individu misal usia, jenis kelamin, Indeks Massa Tubuh (IMT), Level aktifitas Fisik dan Durasi duduk, tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan karakteristik responden, Akatifitas fisik, Durasi duduk, IMT, dengan kejadian LBP pada tenaga kependidikan di Sekolah tinggi ilmu kesehatan cirebon. Metode Penelitian merupakan penelitian analitik deskriptif dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada tenaga kependidikan di Sekolah tinggi ilmu kesehatan cirebon dengan cara melakukan wawancara dan pengisian kuesioner. Teknik pengambilan sampel menggunakan rumus cross sectional dengan jumlah sampel 68 orang. Data dianalisis menggunakan uji chi square. Penelitian yang telah dilakukan pada bulan november 2023 sampai maret 2024 diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan jenis kelamin dengan kejadian LBP (0,014), terdapat hubungan usia dengan kejadian LBP (0,044), terdapat hubungan IMT dengan kejadian LBP (0,033), terdapat hubungan level aktifitas fisik dengan kejadian LBP (0,020), terdapat hubungan durasi duduk dengan kejadian LBP (0,034) Simpulan dalam penelitian ini terdapat hubungan yang bermakna meliputi karakteristik individu, Indeks Massa Tubuh (IMT), Aktifitas Fisik dan Durasi duduk dengan kejadian LBP pada tenaga kependidikan di Sekolah tinggi ilmu kesehatan cirebon. Saran bagi Perguruan Tinggi STIKes Cirebon, diharapkan dapat rutin mengadakan senam pagi sekali seminggu pada karyawan untuk meningkatkan kualitas produktivitas karyawan serta upaya meminimalisir risiko terjadinya keluhan Low Back Pain (Nyeri Punggung Bawah).

PENGARUH PEMBERIAN AEROBIC EXERCISE TERHADAP KEMAMPUAN AKTIFITAS FUNGSIONAL PADA LANSIA STROKE

ASEP SAEPUDIN
2024 · Thesis · Open Access

Proses penuaan adalah hal yang normal, namun bisa saja diiringi dengan masalah medis seperti terkenanya stroke salah satu masalah stroke yaitu terganggunya aktifitas fungsional pada lansia stroke. Faktor-faktor utama stroke pada lansia adalah usia semakin menua akan semakin rentan terkena hipertensi, penyakit jantung, obesitas, diabetes mellitus, stress emosional, merokok, peminum alcohol dan kurangnya berolahraga. Gangguan aktifitas fungsional pada lansia disebabkan oleh lamanya menderita stroke transisi dari ketergantungan aktivitas hidup sehari-hari menjadi independen terjadi terutama pada tahun pertama pacsa stroke sampai 5 tahun pasca stroke dan gangguan kognisi menunjukkan gangguan kognisi termasuk gangguan memori kerja memiliki korelasi yang signifikan dengan kemandirian aktivitas hidup sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aerobic exercise terhadap kemampuan aktifitas fungsioanal pada lansia stroke. Metode penelitian quasi experiment menggunakan desain penelitian one group pre-test and post-test. Jumlah responden 20 orang lansia yang berusia 60 tahun keatas yang di kunjungi ke rumah – rumah di pasien nya di bawah Yayasan Senyum Sehat Home Care yang dipilih dengan satu kelompok perlakuan dengan di berikan aerobic exercise selama 4 minggu, Teknik pengumpulan data dengan melakukan pengukuran menggunakan indexs barther pre-test dan post-test. Hasil: satu kelompok pengujian menggunakan unpaired t-test didapatkan hasil p value = 0,0314* pada pasca lansia stroke.

PENGARUH PEMBERIAN EDUKASI PRE OPERATIF TENTANG PROSEDUR ANESTESI TERHADAP KECEMASAN PADA PASIEN GENERAL ANESTESI DI RSUD KABUPATEN BEKASI

Kimberlly Zen
2024 · Thesis · Open Access

Pembedahan merupakan penanganan medis secara invasif yang menyebabkan kecemasan pada pasien. Penurunan rasa cemas sangat penting karena dapat mengurangi risiko komplikasi selama prosedur anestesi. Salah satu penanganannya dengan pemberian edukasi atau informasi yang koprehensif. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian edukasi pre operatif tentang prosedur anestesi terhadap kecemasan pada pasien general anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis pre eksperimen dengan desain pretest and posttest one group design. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling melibatkan 36 responden. Data dianalisis menggunakan uji wilcoxon. Instrumen penelitian berupa kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety And Information Scale (APAIS). Hasil: Berdasarkan jenis kelamin sebagian besar responden adalah perempuan yaitu sebanyak 22 orang (61,1%). Menurut pengalaman pembedahan sebagian besar responden yaitu dengan belum pernah operasi 22 orang (61,1 %). Berkaitan dengan pendidikan terakhir sebagian besar yaitu dengan berpendidikan SMA sebesar 10 orang (27,8 %). tingkat kecemasan sebelum diberikan edukasi mengalami kecemasan sedang dengan 21 orang (58,3 %). Uji perbedaan Tingkat Kecemasan sebelum dan sesudah intervensi didapatkan p-value 0.000. Kesimpulan: Ada pengaruh pemberian edukasi pre operatif tentang prosedur anestesi terhadap kecemasan pada pasien general anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi.

HUBUNGAN LAMA OPERASI DENGAN KEJADIAN SHIVERING PADA PEMBEDAHAN HERNIOTOMY MENGGUNAKAN SPINAL ANESTESI DI RS.MEDIROSSA CIKARANG

Muhammad Habil Ismail
2024 · Thesis · Open Access

ABSTRAK Shivering pasca anestesi dapat terjadi pada pasien dengan anestesi umum sebesar 5-65% dan sedangkan pada anestesi spinal mencapai 33-57%. Shivering pasca anestesi adalah mekanisme kompensasi dalam tubuh yang dapat menyebabkan efek samping yang merugikan, termasuk ketidaknyamanan pasien, nyeri akibat perluasan bekas luka operasi, dan peningkatan kebutuhan oksigen akibat meningkatnya aktivitas otot. TUJUAN: Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui hubungan lama operasi dengan shivering pada pembedahan herniotomy menggunakan spinal anestesi diruang operasi RS.Medirossa Cikarang. HASIL: Berdasarkan hasil penelitian yang dapat dijelaskan bahwa pasien yang telah menjalani tindakan pembedahan herniatomi dengan spinal anestesi di RS.Medirossa Cikarang mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 25 responden (80,6%). Dan perempuan 6 responden (19,4%). Berdasarkan hasil penelitian umur mayoritas yang mengalami pembedahan herniotomi dengan spinal anestesi dalam penelitian ini adalah rentang umur 43-55 tahun sebanyak 15 responden (48,4%). Dari uji statistik pearson chi-square diperoleh nilai (p-value) 0,012 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara lama operasi dan shivering pada pembedahan herniotomi menggunakan spinal anestesi di RS.Medirossa Cikarang. KESIMPULAN: Ada hubungan lama operasi dengan kejadian shivering pada pembedahan herniotomy menggunakan spinal anestesi di RS. Medirossa Cikarang.

PENGARUH INDUKSI SAAT GENERAL ANESTESI TERHADAP PERUBAHAN HEMODINAMIK DAN RESPIRASI PASIEN DI INSTALASI BEDAH SENTRAL (IBS) RSUD BAYU ASIH KABUPATEN PURWAKARTA

Siti Umaroh
2024 · Thesis · Open Access

Induksi pada general anestesi merupakan tindakan membuat pasien sadar menjadi tidak sadar yang terjadi pada stadium 1 atau stadium analgesia. Pada awal induksi hemodinamik dan respirasi mengalami perubahan yang signifikan. Tujuan : Mengetahui pengaruh induksi saat general anestesi terhadap perubahan hemodinamik dan respirasi pasien di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode : Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Dengan teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dengan jumlah total 36 responden. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi. Teknik analisis data dengan analisis Regresi Linier Sederhana dengan P0,050. Hasil Penelitian : Didapatkan nilai Probabilitas 0,667 > 0,050 artinya tidak ada pengaruh induksi terhadap perubahan hemodinamik, uji regresi linier kedua nilai probabilitas 0,018 0,050 artinya terdapat pengaruh induksi terhadap perubahan respirasi. Hasil analisa bivariat setiap komponen hemodinamik diantaranya: Tekanan Darah Sistolik (P-value : 0,890; R2 : 0,001); Tekanan Darah Diastolik (P-value : 0,040; R2 : 0,119); Mean Arterial Pressure (P-value : 0,149 ; R2 : 0,060); Heart Rate (P-value : 0,283 ; R2 : 0,034). Hasil analisa bivariat setiap komponen respirasi diantaranya : Saturasi Oksigen (P-value : 0,920 ; R2 : 0,000) ; Minute Volume (P-value : 0,019 ; R2 : 0,151) ; Waktu Capai Napas Spontan (P-value : 0,050 ; R2 : 0,108). Kesimpulan : dari penelitian ini dapat disimpulkan dari uji regresi linier sederhana induksi tidak berpengaruh terhadap perubahan hemodinamik, sedangkan uji regresi linier sederhana induksi berpengaruh terhadap respirasi.

Pengaruh Teknik Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Dengan Teknik General Anestesi Di Ruang IBS RSUD Kabupaten Bekasi

Helmi Setiyadi
2024 · Thesis · Open Access

Teknik relaksasi nafas dalam adalah teknik yang digunakan untuk menghilangkan nyeri dengan cara menarik nafas melalui hidung, dan menghembuskan nafas secara perlahan melalui mulut. Hasil studi yang dilakukan oleh Basri, (2019) menunjukkan 90% pasien pre operasi mengalami kecemasan. Kecemasan mengakibatkan peningkatan denyut jantung, peningkatan frekuensi nafas, peningkatan tekanan darah. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi nafas dalam terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi. Metode: Desain penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pre experimental design yang diperluas dengan rancangan one group pretest- posttest. Pengambilan sample adalah purposive sampling melibatkan 37 responden. Data dianalisis menggunakan uji wilcoxon, instrumen penelitian berupa kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety And Information Scale (APAIS). Hasil: Karakteristik responden pre operasi yang mengalami kecemasan lebih tinggi pada usia lansia (24,3%), sebagian besar jenis kelamin perempuan (59,5%), menurut tingkat pengetahuan pasien kecemasan lebih tinggi pada pasien yang belum pernah operasi (67,6%) dan mayoritas responden lulusan SMA (29,8%). Uji perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah intervensi didapatkan P-Value 0,001. Kesimpulan: Ada pengaruh pemberian teknik relaksasi nafas dalam terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi, dengan nilai p-value 0,001 dan mean 0,8108

PENGARUH PEMBERIAN TERAPI MUSIK TERHADAP PENURUNAN STRES PADA PASIEN GENERAL ANESTESI PRE OPERATIF DIRUMAH SAKIT MEDIROSSA CIKARANG

Fahmi Novaldi
2024 · Thesis · Open Access

Latar belakang: Tindakan anestesi adalah hilangnya seluruh modalitas dari sensasi yang meliputi sensasi/nyeri, rabaan, suhu, posisi. Anestesi dibagi menjadi dua teknik, yaitu general anestesi atau regional anestesi. Anestesi umum membuat pasien tidak sadar sedangkan anestesi regional pasien masih sadar, tetapi tidak merasakan nyeri. Pemberian anestesi pada pasien diberikan sebagai upaya untuk menghilangkan nyeri dengan sadar (regional anestesi) atau tanpa sadar (general anestesi) guna menciptakan kondisi optimal bagi pelaksanaan operasi. Tujuan Penelitian: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh terapi musik yang diberikan untuk mengurangi stres pada pasien pre operatif general anestesi. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, desain penelitian yang digunakan adalah Pre Eksperimental dengan perancangan yang digunakan adalah One Group pre-post test yaitu melakukan satu kali pengukuran di depan (Pre- Test) sebelum adanya perlakuan dan setelah itu dilakukan pengukuran kembali (Post-Test). Populasi dalam penelitian ini yaitu semua pasien yang akan melakukan pembedahan mayor dengan general anestesi di ruang pre operatif Rumah Sakit Medirossa Cikarang dan yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 37 responden. Hasil Penelitian: Karakteristik responden pre operatif yang mengalami stres lebih tinggi pada 46-55 tahun (43,2%) sebagian besar jenis kelamin perempuan 20 (54,1), menurut tingkat pengetahuan pasien stres lebih tinggi pada pasien yang belum pernah operasi 31 responden (83,8%) dan mayoritas responden lulusan SMA 36 responden (83,8%). Tingkat skor stres sebelum diberikan intervensi sebagian besar mendapatkan skor 19 - 25 stres sedang (54,1%). Tingkat skor stres setelah diberikan intervensi sebagian besar menurun menjadi 15 - 18 stres ringan (64,9%). Ada pengaruh pemberian terapi musik terhadap peningkatan stres pada pasien general anestesi pre operatif. Dengan p-value 0,8108 tidak signfikan. Kesimpulan: Ada pengaruh pemberian terapi musik terhadap penurunan stres pada pasien general anestesi pre operatif di ruang operasi Rumah Sakit Medirossa Cikarang. Kata Kunci: Terapi Musik, Stres, Pre Operatif.

HUBUNGAN USIA DENGAN WAKTU PENCAPAIAN BROMAGE SCORE 2 PASCA SPINAL ANESTESI DI RUANG RECOVERY ROOM (RR) RS.MEDIROSSA CIKARANG

Heri Agus Kurniawan
2024 · Thesis · Open Access

ABSTRAK Bromage score satu indikator respon motorik pasca spinal anastesi. spinal anastesi adalah metode anestesi dengan cara menyuntikkan obat analgetik lokal kedalam ruang subarachnoid di daerah lumbal. Kekuatan motorik individu dapat diukur dengan menunjukkan derajat pergerakan melawan hambatan. Setiap ekstremitas harus diukur kekuatannya. Salah satu indikator respons motorik pasca anestesi spinal adalah Bromage score, yang dapat digunakan untuk mengukur kekuatan otot kaki. TUJUAN :Untuk Mengetahui Status Fisik Pasien Regional Anastesi Subarachnoid Spinal Block Regional Berkorelasi Dengan Bromage Score di RS Medirosa Cikarang. HASIL: Berdasarkan distribusi frekuensi variabel usia pasien bahwa mayoritas pasien memiliki usia 19-25 sebanyak 13 responden (43,3%) dan 26-35 sebanyak 11 responden (36,7%) dan 36-45 sebayak 6 responden (20.0%) memiliki frekuensi yang paling rendah. Dari uji Chi Square Faktor usia sangat berpengaruh dalam pencapaian Bromage Score 2 di karnakan cairan serebrospinal di ruang subarachoud melambat. KESIMPULAN: ada hubungan antara usia dengan waktu pencapaian Bromage Score 2 dikarenakan pada usia tua ada penurunan fungsi organ seperti ginjal dan hepar, sehingga semakin bertambahnya usia maka akan semakin lama waktu pencapain Bromage Score 2.

HUBUNGAN EGRI SCORE DENGAN TINGKAT KEBERHASILAN INTUBASI ENDOTRACHEAL TUBE PADA PASIEN GENERAL ANESTESI DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN BEKASI

Endang Suprianti
2024 · Thesis · Open Access

Latar Belakang: Salah satu prosedur anestesi umum adalah intubasi trakea melalui pemasangan tabung endotrakeal (ETT).Kesulitan dalam intubasi sering dikaitkan dengan komplikasi serius, terutama jika petugas gagal melakukan intubasi selama anestesi. Untuk mencegah terjadinya kegagalan dalam tindakan intubasi perlu dilakukan penilaian jalan nafas salah satunya dengan menggunakan penilaian EGRI Score. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan EGRI Score dengan tingkat keberhasilan intubasi pada pasien general anestesi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif analitik dengan jenis penelitian korelasional menggunakan rancangan cross sectional study. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 35 responden dengan teknik sampling non-probability sampling (consecutive sampling). Dengan menggunakan instrumen EGRI Score yang dikutip dari penelitian Norlailiyah (2022). Analisis data menggunakan uji chi square. Hasil: Hasil penelitian ini adalah responden yang memiliki prediksi mudah intubasi sebanyak 30 responden (85,7%) dan berhasil dilakukan intubasi sebanyak 30 responden (85,7). Dari hasil analisis chi square didapatkan nilai p-value 0,001 (p-value 0,05) dengan nilai OR 5,33. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara EGRI Score dengan tingkat keberhasilan intubasi pada pasien general anestesi.

Analisis Faktor -Faktor Waktu Pulih Sadar Pasca Operasi Dengan General Anestesi Pada Pasien Bedah Mayor Di RSUD Kabupaten Bekasi

Alifa Kusuma Mulia
2024 · Thesis · Open Access

ABSTRAK Latar Belakang : Bedah mayor akan memengaruhi waktu proses pemulihan kesadaran pasien pasca menjalani pembedahan. Umumnya pasien akan sadar kurang dari 15 menit. Faktor yang mempengaruhi waktu pulih sadar diantaranya ,indeks massa tubuh, durasi operasi dan status respon fisik. Tujuan : Diketahui faktor – faktor yang berhubungan dengan waktu pulih sadar pasca operasi dengan general anestesi pada pasien bedah mayor. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional dengan rancangan cross-sectional. Responden pada penelitian ini berjumlah 34. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling dengan skala ukur interval dan ordinal . Yang berarti bahwa. Hasil: Hasil analisis sperman pada indeks massa tubuh dengan waktu pulih sabar didapatkan nilai (r) 0.498 dan p-value yaitu 0.003. Hasil analisis sperman durasi operasi dengan waktu pulih sadar didapatkan nilai (r) 0.487 dan p-value 0.004. Hasil analisis Mann Whitney didapatkan nilai p-value yaitu 0.011. Kesimpulan : Terdapat hubungan antara indeks massa tubuh, durasi operasi dan status respon fisik dengan waktu pulih sadar .

PENGARUH PEMBERIAN BLANKET WARMER TERHADAP HIPOTERMIA PADA PASIEN POST OPERATIF SECTIO CAESAREA DENGAN SPINAL ANESTESI DI PACU RS. SENTRA MEDIKA CIKARANG

Farrel Bintang Irene Sukandar
2024 · Thesis · Open Access

Pada periode post operatif sectio caesarea, tubuh pasien mengalami pemulihan dari anestesi dan paparan lingkungan dingin sehingga membuat sebagian besar pasien mengalami hipotermia. Hipotermia merupakan suatu kedaruratan medis yang muncul ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada produksi panas (suhu inti tubuh 36◦C) akibat respon dari induksi anestesi serta prosedur pembedahan yang harus ditangani sebagai prioritas. Pemberian blanket warmer merupakan terapi non farmakologis yang dilakukan penata anestesi di PACU untuk memberikan penghangatan dari luar tubuh guna mengurangi kehilangan panas. Tujuan: mengetahui pengaruh pemberian blanket warmer terhadap hipotermia pada pasien post operatif sectio caesarea dengan spinal anestesi di PACU RS. Sentra Medika Cikarang. Metode: penelitian kuantitatif menggunakan survei analitik dengan pendekatan cross sectional dan desain penelitian Quasi Experiment dengan rancangan One Group Pretest Posttest. Jumlah sampel 30 responden dengan teknik purposive sampling. Uji statistik menggunakan uji Chi Square dan binary logistic regressio. Hasil Penelitian: berdasarkan suhu tubuh pasien sebelum diberikan blanket warmer mangalami hipotermia kategori ringan 17 responden (56,7%), sedang 13 responden (43,3%), berdasarkan usia kategori remaja akhir 6 (20,0%), dewasa awal 14 (46,7%), dewasa akhir 10 (33,3%), berdasarkan lama operasi kategori cepat 17 (56,7%), sedang 13 (43,3%), berdasarkan klasifikasi ASA kategori ASA II 22 (73,3%), ASA III 8 (26,7%). Hasil uji chi square, p-value suhu sebelum diberikan blanket warmer (0,042), usia (0,002), lama operasi (0,003), ASA (1,000), artinya pada alpha 5% terdapat perbedaan bermakna antara suhu tubuh sebelum dan sesudah diberikan blanket warmer dipengaruhi usia dan lama operasi. Hasil akhir OR uji binary logistic regression bernilai 12,675 maka pemberian blanket warmer berpengaruh untuk mengatasi hipotermia pasien post operatif sectio caesarea setelah dikontrol oleh variabel lama operasi. Kesimpulan: ada pengaruh pemberian blanket warmer terhadap hipotermia pada pasien post operatif sectio caesarea di PACU RS Sentra Medika Cikarang (90,63%).

FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEJADIAN MUAL MUNTAH PADA PASIEN POST OPERASI SECTIO CAESAREA MENGGUNAKAN TEKNIK SPINAL ANESTESI DI RUANG PACU RUMAH SAKIT MEDIROSSA CIKARANG

Priyo Satrio Wibowo
2024 · Thesis · Open Access

Latar belakang: Spinal anestesi menjadi pilihan utama yang paling sering digunakan dibandingkan dengan anestesi general, karena efek anestesi general terhadap ibu dan bayi lebih besar dibandingkan dengan spinal anestesi. Sedangkan General anestesi dikaitkan dengan peristiwa depresi neonatus yang membutuhkan resusitasi, karena obat anestesi general dapat menembus sawar plasenta, sementara itu spinal anestesi memiliki keuntungan seperti, pasien tetap sadar, kemungkinan terjadi aspirasi dan depresi neonatus juga berkurang. Tujuan Penelitian : Untuk Mengetahui Faktor yang memengaruhi kejadian mual muntah pasien pada pasien Post Operasi Sectio Caesarea menggunakan teknik spinal anestesi di ruang PACU Rumah sakit Medirossa Cikarang. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan (rancangan cross sectional). Responden dalam penelitian ini adalah pasien yang menjalani operasi bedah mayor menggunakan teknik spinal anestesi berjumlah 30 responden menggunakan teknik accidental sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi dan analisa data menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil Penelitian: Berdasarkan lama puasa responden, sebanyak 1 responden (3,3%) puasa ≥ 8 jam. Dari hasil penelitian, responden dengan puasa ≤6-8 jam lebih banyak mengalami mual muntah sebanyak 29 responden (96,7%). hasil analisis didapatkan Usia kategori 20-35 tahun dengan kejadin tidak mual sebanyak 14 dari 27 responden (90%), sedangkan usia >35 tahun dengan kejadian tidak mual sebanyak 2 dari 3 responden (10%). hasil analisis didapatkan Paritas Persalinan dengan kategori Primipara dengan kejadin tidak mual sebanyak 5 dari 27 responden (90%), sedangkan Paritas persalinan dengan kejadian mual sebanyak 3 dari 3 responden (10%). Hasil uji statistic diperoleh nilai p-value 0,023 (p-value a0,05), sehingga hipotesis H0 ditolak berarti ada hubungan yang signifikan antara lama puasa dengan kejadian mual muntah. Kesimpulan: Ada pengaruh lama puasa dengan kejadian mual pada pasien post operasi sectio caesarea di ruang operasi Rumah Sakit Medirossa Cikarang

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE GENERAL ANESTESI DI RSUD KABUPATEN BEKASI

Saskia Apri Fransisca
2024 · Thesis · Open Access

Tindakan Operasi yang dilakukan secara elektif maupun kedaruratan merupakan suatu peristiwa yang mencemaskan bagi pasien. Salah satu cara untuk mengatasi kecemasan pada pasien yaitu dengan adanya dukungan keluarga. Tujuan : Mengidentifikasi apakah ada hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre general anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: penelitian ini menggunakan kuantitatif non eksperimental dengan metode korelasi dan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling melibatkan 44 responden. Data dianalisis menggunakan spearman Rank. Instrument penelitian berupa kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) dan Blue Print Quetiont. Hasil : Responden yang mendapatkan dukungan keluarga dengan kategori sedang sebanyak 4 orang (9,1%), 3 diantaranya mengalami kecemasan sedang dan 1 orang lainnya mengalami kecemasan berat. Sedangkan responden yang mendapatkan dukungan keluarga tinggi berjumlah 40 orang (90,9%). 32 orang (72,8%) diantaranya mengalami kecemasan rendah. Dan 8 orang (18,2%) lainnya mengalami kecemasan sedang. Berdasarkan hasil uji statistic spearman rank didapatkan hasil P value 0,001 dan terlihat nilai r = 0,498 artinya korelasi sempurna. pada nilai korelasi menjelaskan bahwa semakin tinggi dukungan keluarga maka semakin rendah tingkat kecemasan pasien. Kesimpulan : ada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre general anestesi di RSUD kabupaten Bekasi.

HUBUNGAN FAKTOR LANJUT USIA DENGAN KEJADIAN HIPOTERMI PASCAANESTESI UMUM MENGGUNAKAN ALAT TERMOMETER INFRARED DI RUANG PEMULIHAN RSUD BAYU ASIH KABUPATEN PURWAKARTA

Alisa Salsabilla
2024 · Thesis · Open Access

Pembedahan adalah prosedur medis yang dimulai dengan sayatan untuk membuka area tubuh dan diakhiri dengan penjahitan untuk menutup luka, Hipotermi merupakan salah satu efek yang sering terjadi setelah pembedahan di ruang pemulihan. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hipotermi setelah operasi yaitu usia. Tujuan Penelitian : Diketahui hubungan faktor lanjut usia dengan kejadian hipotermi pasca anestesi umum dengan teknik termometer infrared di ruang pemulihan RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode Penelitian : Penelitian kuantitatif deskriptif korelasi dengan desain penelitian studi potong lintang (cross sectional). Jumlah sampel 36 responden dengan teknik pengambilan sampel Non Probability sampling (Purposive Sampling). Uji statistik menggunakan uji Spearman’s rho. Hasil Penelitian : Lansia awal 46 - 55 tahun berjumlah 20 responden (55,6%), lansia akhir 56 - 65 tahun berjumlah 12 responden (33,3%), sedangkan di manula >65 tahun berjumlah 4 responden (11,1%). diketahui yang mengalami hipotermi sedang sebanyak 18 responden (50.0%), dan hipotermi ringan sebanyak 11 responden (30.6%), sedangkan hipotermi berat sebanyak 7 responden (19.4%). Hasil korelasi Spearman Rank (rho) dengan hasil P = 0,001, berarti P 0,05 hal tersebut menunjukkan ada hubungan faktor lanjut usia dengan kejadian hipotermi pasca operasi dengan anestesi umum. Nilai Correlation coefficient 0,719 menunjukkan bahwa ada korelasi yang kuat antara variabel usia lanjut dengan variabel hipotermi pasca operasi dengan anestesi umum. Kesimpulan : Ada hubungan bermakna antara hubungan faktor lanjut usia dengan kejadian hipotermi pada pasien pasca anestesi umum dengan alat termometer infrared diruang pemulihan RSUD Bayu Asih Purwakarta.

PENGARUH PEMBERIAN COLOADING CAIRAN KRISTALOID TERHADAP KEJADIAN HIPOTENSI PADA PASIEN DENGAN TINDAKAN SPINAL ANESTESI DI RUMAH SAKIT KASIH INSANI SUKATANI PERIODE NOVEMBER - DESEMBER TAHUN 2023

Wahdatul Apriani
2024 · Thesis · Open Access

PENGARUH PEMBERIAN COLOADING CAIRAN KRISTALOID TERHADAP KEJADIAN HIPOTENSI PADA PASIEN DENGAN TINDAKAN SPINAL ANESTESI DI RUMAH SAKIT KASIH INSANI SUKATANI Wahdatul Apriani Fakultas Ilmu Kesehatan Program Studi D-IV Keperawatan Anestesiologi Universitas Medika Suherman Email : [email protected] ABSTRAK Latar Belakang : Hipotensi adalah suatu komplikasi yang sering terjadi pada pasien spinal anestesi. Penanganan hipotensi dapat di atasi dengan pemberian coloading cairan kristaloid. Tujuan : Mengidentifikasi gambaran kejadian hipotensi sebelum dan setelah pemberian coloading cairan kristaloid pada pasien dengan spinal anestesi. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan metode pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 74 responden. Pengambilan sampel dengan purposive sampling. Alat pengumpulan data menggunakan lembar observasi, bed side monitor. Hasil : Dalam penelitian ini seluruh responden sebelum pemberian coloading cairan kristaloid mengalami kejadian hipotensi, dimana mayoritas responden mengalami hipotensi sebesar (100%), dan responden setelah pemberian coloading cairan kristaloid mayoritas responden yang mengalami hipotensi sebanyak (89,2%) dan (10,8%) responden yang tidak mengalami hipotensi. Kesimpulan : Kejadian hipotensi pasca anestesi spinal sebelum pemberian coloading cairan kristaloid di temukan bahwa seluruh responden mengalami hipotensi, dan setelah pemberian coloading cairan kristaloid sebanyak delapan responden tidak hipotensi dan 66 (89,2%) masih mengalami hipotensi .

HUBUNGAN LAMA OPERASI DENGAN KEJADIAN SHIVERING PADA PASIEN PASCA OPERASI DENGAN GENERAL ANESTESI DI IBS RSUD KABUPATEN BEKASI

D. Billy Kussasanto
2024 · Thesis · Open Access

Latar Belakang : General anestesi merupakan salah satu teknik prosedur pembedahan yang banyak digunakan untuk pasien bedah mayor. Pasien yang menjalani operasi lebih dari 60 menit dengan teknik general anestesi memiliki resiko terjadinya shivering. Kejadian Post Anesthesia Shivering (PAS) dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan meningkatkan komplikasi pada luka bedah. Tujuan : Mengetahui adanya hubungan lama operasi dengan kejadian shivering pada pasien pasca operasi dengan general anestesi di IBS RSUD Kabupaten Bekasi. Metode : Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif korelasional dengan (rancangan cross sectional). Responden dalam penelitian ini adalah pasien yang menjalani operasi bedah mayor menggunakan teknik general anestesi berjumlah 33 menggunakan teknik stratified random sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi shivering scale Crossley dan Maharjan. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil Penelitian : Lama operasi yang dijalani pasien adalah > 2 jam sebanyak 21 responden (63,3%) dan pasien pasca operasi dengan general anestesi mayoritas mengalami shivering sebanyak 19 orang (57,6%). Hasil analisis statistik Chi-Square menunjukan ada hubungan antara lama operasi dengan shivering p-value 0,004. Kesimpulan : Ada hubungan yang signifikan antara lama operasi terhadap kejadian shivering pada pasien pasca operasi dengan general anestesi.

HUBUNGAN KECERDASAN SPIRITUAL DENGAN TINGKAT KECEMASAN PRE OPERASI GENERAL ANESTESI DI IBS RSUD KABUPATEN BEKASI

Meti Martiani Lestari
2024 · Thesis · Open Access

Tindakan operasi ialah terapi yang dilakukan secara invasive pada pasien. Rasa cemas sangat berpengaruh pada tindakan anestesi yang akan dilakukan. Ada beberapa cara untuk mengatasi kecemasan salah satu nya yaitu dengan pemenuhan kecerdasan spiritual. Tujuan : Mengidentifikasi apakah ada hubungan kecerdasan spirual dengan tingkat kecemasan pre operasi general anestesi di IBS RSUD Kabupaten Bekasi. Metode : penelitian ini menggunakan kuantitatif non eksperimental dengan metode korelasi dan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling melibatkan 44 responden. Data dianalisis menggunakan spearman Rank. Instrument penelitian berupa kuesioner Zung self-rating anxiety scale (SAS) dan Spiritual Quetiont. Hasil : mayoritas responden adalah yang berusia 36 – 45 tahun yaitu 13 orang (29,5%), yang berjenis kelamin Perempuan (54,5%), yang beragama islam yaitu 42 orang (95,5%), yang berpendidikan SMP 17 orang (38,6%), yang berpenghasilan 1jt – 2 jt sebanyak 17 orang (38,6%), dan responden yang menjalani jenis operasi bedah umum sebanyak 15 orang (34,1%). Tingkat spiritual sedang sebanyak 30 orang (68,2%). Tingkat kecemasan yang tidak mengalami kecemasan sebanyak 25 orang (56,8%) dan 16 orang mengalami Tingkat kecemsan ringan sebanyak 16 orang (36,4%). pada ujian statistic Spearman Rank diperoleh nilai Signifikansi 0,038. Kesimpulan : ada hubungan antara kecerdasan spiritual dengan tingkat kecemasan pre operasi general anestesi di IBS RSUD kabupaten Bekasi.

PERBEDAAN SKOR POST OPERATIVE NAUSEA AND VOMITING (PONV) PASCA PEMBERIAN AROMATERAPI PEPPERMINT INHALASI PADA PASIEN POST OPERASI DENGAN GENERAL ANESTESI DI RUANG PACU RSUD BAYU ASIH KABUPATEN PURWAKARTA

Nadila Riana Putri
2024 · Thesis · Open Access

Salah satu komplikasi dari general anestesi adalah Post Operative Nausea and Vomiting (PONV). Insiden PONV mencapai 30% dari 100 juta lebih pasien bedah dunia mengalami kejadian mual muntah. Penanganan PONV dapat menggunakan terapi farmakologi dan nonfarmakologi. Salah satu terapi non farmalkologi yaitu pemberian aromaterapi peppermint secara inhalasi. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui perbedaan skor Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) pasca pemberian aromaterapi peppermint inhalasi pada pasien post operasi dengan general anestesi di ruang PACU RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode dalam penelitian ini penulis menggunakan analisis kuantitatif. Desain penelitian adalah Pra-eksperimen dengan pendekatan one grup pretest postest design. Sampel dalam peneltian ini adalah 36 responden. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Instrument penelitian menggunakan lembar observasi. Analisa data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test 0,05. Hasil penelitian didapatkan nilai p-value 0,001 0,05 yang artinya ada perbedaan skor PONV sebelum dan sesudah pemberian aromaterapi peppermint inhalasi pada pasien post operasi dengan general anestesi. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat perbedaan skor PONV pasca pemberian aromaterapi peppermint inhalasi pada pasien post operasi dengan general anestesi di ruang PACU RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta.

PENGARUH ANESTESI SPINAL TERHADAP KEJADIAN HIPOTENSI INTRA OPERASI PADA PEMBEDAHAN SECTIO CAESAREA DI RUANG OPERASI RSUD KABUPATEN BEKASI

Wirdiyan Naufal Ramdhan
2024 · Thesis · Open Access

Anestesi spinal (subaraknoid) adalah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan obat anestetik lokal ke dalam cairan serebrospinal di dalam ruang subaraknoid di daerah vertebra L2-L3 atau L3-L4 dengan tujuan untuk mendapatkan anelgesi setinggi dermatom tertentu dan relaksasi otot rangka. Hipotensi merupakan salah satu efek samping anestesia spinal yang dilakukan pada wanita hamil dengan angka kejadian sekitar 80%. Efek kardiovaskular akibat tindakan anestesia spinal berhubungan erat dengan level blockade simpatis yang mencapai persarafan setinggi torakal 1 sampai lumbal 2 (T1–L2). Blokade simpati akibat anestesia spinal menyebabkan dilatasi pembuluh darah sehingga menurunkan resistensi pembuluh darah sistemik yang akan menyebabkan hipotensi. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui pengaruh anestesi spinal terhadap kejadian hipotensi intra operasi pada pembedahan sectio caesarea di ruang maternal RSUD Kabupaten Bekasi. Metode Penelitian: Penelitian kuantitatif menggunakan survei analitik dengan pendekatan cross sectional dan desain penelitian eksperimen semu (Quasi Experiment Design) dengan rancangan Separate Sample Pretest-Posttest atau One Group Pretest Posttest. Jumlah sampel 30 responden dengan teknik pengambilan sampel non probability sampling dengan teknik accidental sampling (convenience sampling). Uji statistik menggunakan uji Chi Square. Hasil Penelitian: Berdasarkan tekanan darah pasien sebelum tindakan anestesi spinal didapatkan hasil bahwa 21 responden dengan tekanan darah normal (70,0%), 9 responden mengalami hipertensi (30,0%), berdasarkan kategori usia didapatkan hasil bahwa pasien kategori remaja akhir sebanyak 8 (26,7%), usia dewasa awal sebanyak 18 (60,0%), dan usia dewasa akhir sebanyak 4 (13,3%), berdasarkan klasifikasi ASA didapatkan hasil bahwa pasien kategori ASA II sebanyak 23 (76,7%) dan ASA III sebanyak 7 (23,3%). Berdasarkan hasil uji Chi Square, diperoleh nilai probabilitas (p-value) tekanan darah sebelum tindakan anestesi spinal (0,035), usia (0,061), ASA (0,176). Artinya pada alpha 5% terdapat pengaruh yang bermakna antara tekanan darah sebelum tindakan anestesi spinal dengan tekanan darah setelah tindakan anestesi spinal di ruang maternal RSUD Kabupaten Bekasi. Kesimpulan: Ada pengaruh anestesi spinal terhadap kejadian hipotensi pada pasien intra operasi sectio caesarea di ruang maternal RSUD Kabupaten Bekasi.