· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
HUBUNGAN TINGKAT STRES DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KEJADIAN DISMINORE PRIMER PADA REMAJA PUTRIDI SMP MEKAR MURNI Vii + 51 Hal + 6 Tabel + 2 Gambar + 15 Lampiran ABSTRAK Latar Belakang: Dismenore primer adalah nyeri saat menstruasi dengan tidak adanya kelainan patologik pada pelvis yang biasa muncul pada umur 15-25 tahun dan dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Tingkat stress dan aktivitas fisik dapat menjadi faktor kejadian dismenore primer. Tujuan: Mengetahui hubungan tingkat stress dan aktivitas fisik dengan kejadian dismenore primer. Metodologi: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah populasi 40 dan sampel sebanyak 40 siswi SMP Mekar Murni. Variabel pada penelitian ini adalah dismenore primer, tingkat stress dan aktivitas fisik. Pengumpulan data menggunakan Numering Rating Scale, Kessler Psychological Distress Scale Questionnaire and Global Physical Activity Questionnaire. Hasil: responden dengan dismenore primer sebesar 77,5%, responden dengan tingkat stres ringan sebesar 35,0%, responden dengan tingkat aktivitas fisik ringan sebesar 35,0%. Hasil statistik antara dismenore primer dengan tingkat stres (p=0,000) dan tingkat aktivitas fisik (p=0,004). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat stres dan aktivitas fisik dengan kejadian dismenore primer pada SMP Mekar Murni. Saran : Diharapkan kepada peneliti selanjutnya untuk menggunakan metode lain dan melakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor resiko lain yang dapat mempengaruhi kejadian dismenore primer, seperti usia, lama siklus menstruasi. Kata Kunci: Aktivitas fisik, dismenore primer, dan tingkat stres Daftar Pustaka : 2 buku dan 15 jurnal (2019 – 2022)
2023 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Dismenore primer adalah nyeri saat menstruasi dengan tidak adanya kelainan patologik pada pelvis yang biasa muncul pada umur 15-25 tahun dan dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Tingkat stress dan aktivitas fisik dapat menjadi faktor kejadian dismenore primer. Tujuan: Mengetahui hubungan tingkat stress dan aktivitas fisik dengan kejadian dismenore primer. Metodologi: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah populasi 40 dan sampel sebanyak 40 siswi SMP Mekar Murni. Variabel pada penelitian ini adalah dismenore primer, tingkat stress dan aktivitas fisik. Pengumpulan data menggunakan Numering Rating Scale, Kessler Psychological Distress Scale Questionnaire and Global Physical Activity Questionnaire. Hasil: responden dengan dismenore primer sebesar 77,5%, responden dengan tingkat stres ringan sebesar 35,0%, responden dengan tingkat aktivitas fisik ringan sebesar 35,0%. Hasil statistik antara dismenore primer dengan tingkat stres (p=0,000) dan tingkat aktivitas fisik (p=0,004). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat stres dan aktivitas fisik dengan kejadian dismenore primer pada SMP Mekar Murni. Saran : Diharapkan kepada peneliti selanjutnya untuk menggunakan metode lain dan melakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor resiko lain yang dapat mempengaruhi kejadian dismenore primer, seperti usia, lama siklus menstruasi.
2023 · Book · Koleksi Perpustakaan
Abstrak : Prevalensi Diabetes Melitus mengalami peningkatan setiap tahunnya hingga menjadikan Indonesia sebagai
salah satu negara penyumbang Diabetes Melitus terbanyak di dunia. Aktivitas fisik dan pengaturan diet konsumsi gula
menjadi hal yang perlu diperhatikan sebagai upaya penatalaksanaan masalah kesehatan global tersebut. Tujuan
penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan aktivitas fisik dan diet konsumsi gula dengan nilai pengukuran kadar
glukosa darah pada penderita Diabetes Melitus di Puskesmas Cibatu Cikarang Selatan. Jenis penelitian ini adalah
observasional analitik dengan teknik pengambilan sampel total sampling sebanyak 34 responden. Pengumpulan data
dilaksanakan sejak 07-25 Juni 2022 dengan menggunakan kuesioner Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ)
dan Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat.
Hasil penelitian ini menyatakan bahwa adanya hubungan yang bermakna dengan p-value 0,000 < 0,05 sehingga H0
gagal ditolak. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi lahan penelitian guna meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan masyarakat pada program pencegahan penyakit tidak menular.